Share

Bab 101.

Penulis: BayS
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-26 19:39:45

‘Degghh!’

Jantung Brian sontak berdetak kencang. Karena uang yang dikumpulkannya masih kurang separuh, dari angsuran yang harus di bayarnya.

Bergegas Brian menuju kamarnya, dan mengambil sejumlah uang yang masih kurang itu, untuk membayar tagihan Kamal.

Dia pun melangkah menuju ke ruang tamu, dan menemui Kamal. Nampak saat itu Kamal sudah duduk angker di sana, dengan dikawal oleh 2 penjaga di belakangnya.

“Bagaimana Pak Brian, sudah kamu siapkan uang angsurannya?” Kamal bertanya serius.

Sesungguhnya dia tak berharap Brian bisa membayar angsurannya. Karena dia mengharapkan ‘sesuatu’ yang lain, sebagai kompensasinya.

Dia sudah menenggak satu setengah sloki ‘madu lanang’ sebelum berangkat ke rumah Brian ini. Sungguh ‘niat’ buaya bangkotan berusia 55 tahun ini.

“Mohon maaf sebelumnya Pak Kamal. Saya baru bisa membayar separuh dulu, dari angsuran hari ini.

Sisanya akan saya bayarkan dua hari lagi Pak,” Brian berkata sambil menyerahkan uang sebesar 1,25 miliar rupiah dalam koper, ya
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 102.

    “Ahks..” lenguh kegelian Meta mulai terdengar. Ini hal yang menggembirakan bagi Kamal. Langsung saja dia menarik lepas bra krem milik Meta dengan lembut, ‘Ahh! Kenapa bajingan tua ini lembut sekali permainannya? Aku takkan tergoda!’ bathin Meta, memaki perlakuan lembut Kamal pada tubuhnya. Kamal mulai mencucupi kedua ‘puncak’ buah kembar Meta bergantian, dengan hisapan lembut dan sapuan-sapuan lidahnya di sana. Sementara tangan kanan Kamal mulai bergerilya, ke arah pusat lembah di pangkal paha Meta. Tangan Kamal lincah menyusup ke dalam celana dalam Meta. Jari Kamal pun mulai beraksi, menelusuri lembut di sekitar ‘belahan surga' milik Meta. Sekuat-kuat pertahanan wanita ‘dipastikan’ akan jebol..! Jika dirinya dijelajahi dan dimainkan dengan lembut dan penuh perasaan. Hal yang kini sedang dilakoni oleh Kamal, ‘si tuyul beruban’ itu. Secara perlahan, tubuh Meta memberikan reaksi yang berlawanan dengan nalarnya. Karena nalarnya memaki, namun tubuhnya menghendaki..! Inilah miste

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 001. TRAGISNYA TAKDIR

    Sebuah mobil sedan yang membawa sepasang suami istri, dan seorang anak lelaki berusia 3 tahun nampak meluncur tak terkendali. Di depan mobil itu, terpampang sebuah kelokkan tajam lembah Cipanas yang curam dan dalam. Ya, akibat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan di jalan. Rupanya Sukanta tak bisa melihat, bahwa di depannya terdapat tikungan tajam,“Awas Pahhh..!!” teriak panik dan ketakutan Wulandari sang istri. Sang suami berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng. Dan tak sengaja dalam kepanikkannya melihat lembah curam di depannya, Sukanta malah menginjak gas dan rem bersamaan. Brrrmm...!! Ciitttt..!!“Huhuhuuu..! Elang takut Mahh, Pahh,” tangis sang anak, yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.“Pahh..! Innalillahi ...!!” teriak sang istri, wajahnya pucat pasi.“Astaghfirullahaladzim ....!!” seru sang suami keras. Dan tak ayal mobilnya menabrak pagar besi di bibir lembah. Braagghhh !! Pagar besi pun roboh. Sadar akan jatuh ke lembah curam yang tinggi, Wuland

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 002. MIMPI ANEH

    Malam itu Elang tidur dengan nyenyak. Setelah dia membantu Bu Sati mencuci piring di dapur, dan menyapu aula panti. Bu Sati memang terbiasa mencuci piring di malam hari, saat anak panti rata-rata sudah tertidur pulas. Elang yang melihatnya saat lewat dapur merasa kasihan. Dia lalu menyuruh Bu Sati untuk istirahat saja lebih awal, dan membiarkan Elang yang mencuci piring. Akhirnya Bu Sati beranjak ke kamarnya untuk tidur lebih awal. ‘Kasihan Bu Sati. Usianya sudah 57 tahun, namun masih harus bekerja keras di panti’, ujar bathin Elang, sambil menatap sosok bu Sati, yang sedang melangkah ke arah kamarnya. Elang mulai mencuci piring, benaknya teringat pembicaraannya dulu dengan Bu Sati, “Bekerja di sini adalah panggilan hati ibu, Elang. Ibu hanyalah janda tanpa anak, saat mulai bekerja di sini. Dan ibu merasa disinilah tempat ibu, bersama anak-anak yang tak tahu harus berlindung ke mana. Melihat anak-anak tersenyum merasakan kebahagiaan dan kehangatan di panti ini. Adalah sebuah k

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 003. LOKER DAN SANTET

    ‘Ahhh..! Andai mimpi semalam benar-benar bisa jadi nyata. Aku pasti akan menyetujuinya saja. Semoga nanti malam Aki Buyut benar-benar hadir lagi dalam mimpiku’, bathin Elang bertekad. Elang sangat menyesali kebimbangannya, dalam mimpi semalam. Elang bertekad akan menyetujui tawaran mempelajari ilmu turunan keluarganya itu. Jika memang benar mimpi itu bisa jadi kenyataan. “Mas Elang..! Mas..! Dito nakal tuh..!" seorang anak kecil perempuan usia 6 tahunan berlari kecil, dan menubruk Elang sambil mengadu.“Aduh..! Hati-hati Nindi, kamu bisa jatuh nanti,” ujar Elang, sambil memegang tubuh Nindi yang merapat di belakangnya. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki kecil seusia Nindi datang menyusul, “Nah ya..! Kamu di sini Nindi pelit..!” seru bocah itu, sambil berusaha mendekati Nindi, seolah hendak memukulnya. “Hei..hei, Dito..! Nggak boleh begitu ya, sama anak perempuan,” ucap Elang menengahi mereka. “Habis Nindi pelit sih Mas Elang..! Masa suruh gantian main ayunan gak mau..!”

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 004. WEDAR DAN MULAI KERJA

    “Nah Elang. Apakah sekarang kamu sudah siap buyut wedar..? Lalu buyut akan isi tenaga dasar ilmu turunan keluarga kita Elang ?” tanya Ki Sandaka tenang. “Siap Ki Buyut,” sahut Elang mantap. “Kalau begitu naiklah ke balai ini, dan duduklah bersila seperti buyut,” perintah Ki Sandaka. Elang pun naik ke atas balai bambu itu, dan duduk bersila seperti posisi Ki Sandaka. Sementara itu Ki Sandaka terlihat berdiri. Namun Elang spontan bergidik ngeri. Karena dia melihat kaki Ki Buyutnya itu mengambang di udara, tak menapak di atas balai. “Hehehee. Jangan takut cicitku. Ini karena buyut sudah berbeda alam denganmu, Elang,” Ki Sandaka terkekeh, melihat kengerian Elang. “Sekarang bersiaplah Elang. Pejamkan matamu dan bertahanlah, jika ada sesuatu yang dingin dan hangat mengalir di dalam tubuhmu,” ucap Ki Sandaka. “Baik Ki Buyut,” ucap Elang tanpa ragu lagi. Elang langsung memejamkan matanya, seperti yang di arahkan oleh Ki Buyut. Nafasnya pun mulai teratur tenang, dalam posisi bersila.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-27
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 005. PEMBUKTIAN MIMPI

    “Bagaimana kalau kita ke rumah Pak Baskoro, setelah kamu pulang interview dari Betamart saja Elang..?" usul Bu Nunik. Hatinya jadi ikut tergerak dengan ucapan Elang. “Baik Bu,” ucap Elang, menyetujui usul Bu Nunik. “Elang masuk dulu ya Bu. Elang mau bersiap ke Betamart," ujar Elang, seraya undur diri.“Iya Elang, bersiaplah sebaik mungkin ya. Ajaklah Wulan untuk berangkat bersama ke sana,” ucap Bu Nunik. “Baik Bu,” sahut Elang, sambil beranjak menuju ke dalam panti. *** Pak Baskoro tengah terpekur di teras rumahnya. Sementara pikirannya menerawang, pada kenangan indahnya bersama sang istri. Istri yang kini terbaring lemah di pembaringannya. Ya, kenangan indah, rasa cinta, dan kesetiaan itulah. Hal yang mampu membuat Baskoro tetap bertahan, dan tegar merawat istrinya. Dia kembali menghisap rokoknya, dan menghembuskannya dengan nafas lepas menghela. Seolah ingin menghela jauh-jauh masalah pelik, yang selama bertahun-tahun ini menyelimutinya. Sudah hampir satu setengah tahun i

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-29
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 006. KEMBALINYA KIRIMAN JAHAT

    “Hahh..?! B-benda apa..?! Maksudmu ada orang yang mengirim ‘bala’ ke istri saya, dengan menanam ‘sesuatu’ di rumah saya ?!” seru kaget pak Baskoro. Ya, Baskoro pernah menerima seorang paranormal dan ajengan ke rumahnya. Dan mereka semua hanya mengatakan, jika istrinya mungkin ‘dikerjai’ seseorang. Tapi tak ada yang dengan ‘jelas’ mengatakan, bahwa ada sesuatu yang di tanam di rumahnya. “Benar Pak Baskoro. Apakah di belakang rumah Bapak ada pohon pepaya, yang letaknya tepat berhadapan dengan pintu belakang rumah bapak ?” tanya Elang. “I..iya benar Elang..! Bagaimana kau bisa tahu..?!” ucap pak Baskoro kaget. 'Bagaimana dia bisa tahu..? Padahal dia belum pernah ke rumahku’, gumam bathinnya. “Bolehkah saya melihatnya Pak Baskoro..?” tanya Elang sopan, langsung ke poin. “Tentu saja boleh. Mari Elang, Bu Nunik, kita ke sana,” sahut pak Baskoro cepat. Ya, kini mulai ada setitik harapan di hati Baskoro. Bu Nunik yang ikut penasaran langsung beranjak mengikuti mereka di belakang. Ses

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 007. DENDAM MASA LALU

    “Satu tahun lebih Mas..?!” seru Halimah terkaget. Benak Halimah langsung membayangkan suaminya, yang pasti sangat repot mengurusnya selama masa sakitnya itu. Dia pun beranjak dan memeluk suaminya, “Terimakasih Mas, telah merawatku selama itu dan tak meninggalkanku. Tsk, tsk!” ucap Halimah serak dan terisak. Lalu Halimah mendekati Elang dan Bu Nunik, “Terimakasih tak terhingga kuucapkan buat kalian. Kalian telah menyelamatkan rumah tangga kami,” ucap Halimah sambil menyalami Elang , lalu memeluk Bu Nunik. “Maaf, apakah ini Bu Nunik dari panti itu..?” tanya Halimah, yang rupanya masih mengenali Bu Nunik. Dulu memang ia pernah beberapa kali menemani suaminya berkunjung ke panti. “Benar Bu Baskoro,” ucap bu Nunik, yang ikut terharu melihat pulihnya istri pak Baskoro ini. ‘Mereka adalah orang-orang yang baik’, bathinnya. “Ahh. Sebaiknya mulai saat ini Ibu memanggil saya Halimah saja. Karena Ibu lebih berumur dari pada saya,” ucap Halimah merasa rikuh, dipanggil bu oleh orang yang le

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01

Bab terbaru

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 102.

    “Ahks..” lenguh kegelian Meta mulai terdengar. Ini hal yang menggembirakan bagi Kamal. Langsung saja dia menarik lepas bra krem milik Meta dengan lembut, ‘Ahh! Kenapa bajingan tua ini lembut sekali permainannya? Aku takkan tergoda!’ bathin Meta, memaki perlakuan lembut Kamal pada tubuhnya. Kamal mulai mencucupi kedua ‘puncak’ buah kembar Meta bergantian, dengan hisapan lembut dan sapuan-sapuan lidahnya di sana. Sementara tangan kanan Kamal mulai bergerilya, ke arah pusat lembah di pangkal paha Meta. Tangan Kamal lincah menyusup ke dalam celana dalam Meta. Jari Kamal pun mulai beraksi, menelusuri lembut di sekitar ‘belahan surga' milik Meta. Sekuat-kuat pertahanan wanita ‘dipastikan’ akan jebol..! Jika dirinya dijelajahi dan dimainkan dengan lembut dan penuh perasaan. Hal yang kini sedang dilakoni oleh Kamal, ‘si tuyul beruban’ itu. Secara perlahan, tubuh Meta memberikan reaksi yang berlawanan dengan nalarnya. Karena nalarnya memaki, namun tubuhnya menghendaki..! Inilah miste

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 101.

    ‘Degghh!’ Jantung Brian sontak berdetak kencang. Karena uang yang dikumpulkannya masih kurang separuh, dari angsuran yang harus di bayarnya. Bergegas Brian menuju kamarnya, dan mengambil sejumlah uang yang masih kurang itu, untuk membayar tagihan Kamal. Dia pun melangkah menuju ke ruang tamu, dan menemui Kamal. Nampak saat itu Kamal sudah duduk angker di sana, dengan dikawal oleh 2 penjaga di belakangnya. “Bagaimana Pak Brian, sudah kamu siapkan uang angsurannya?” Kamal bertanya serius. Sesungguhnya dia tak berharap Brian bisa membayar angsurannya. Karena dia mengharapkan ‘sesuatu’ yang lain, sebagai kompensasinya. Dia sudah menenggak satu setengah sloki ‘madu lanang’ sebelum berangkat ke rumah Brian ini. Sungguh ‘niat’ buaya bangkotan berusia 55 tahun ini. “Mohon maaf sebelumnya Pak Kamal. Saya baru bisa membayar separuh dulu, dari angsuran hari ini. Sisanya akan saya bayarkan dua hari lagi Pak,” Brian berkata sambil menyerahkan uang sebesar 1,25 miliar rupiah dalam koper, ya

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 100.

    Tatapan mata Kamal pun sontak “berubah ‘hijau’. Saat dia melihat wajah cantik, serta tubuh ramping padat milik Ayu. Ayu yang saat itu kebetulan menggunakan kaos lengan panjang krem muda ketat, serta celana legging sebatas betis, cukup membuat mata Kamal nanar. Ayu, gadis berusia 19 tahun lebih, dan memasuki semester 4 kuliahnya di UNS. Gadis itu memang terhitung sebagai salah satu ‘primadona’ di kampusnya. Maka tak heran jika mata Kamal menjadi berminyak dan liar, menyusuri lekuk tubuh putri Brian ini. “Siapa namamu cah ayu?” tanya Kamal menyeringai. Nampak mata liarnya bergantian melirik ke arah bokong padat, dan buah kembar mencuat di tubuh Ayu. “Saya Ayu, Pak,” Ayu menyahut singkat. Ya, hati Ayu merasa muak bukan main, melihat pandangan ‘liar’ dari tamu ayahnya itu. Bahkan tamu itu terlihat lebih tua dari ayahnya sendiri. “Hmm. Cah ayu yang Ayu,” gumam Kamal, dengan mata menyeringai penuh hasrat. Ayu bergegas kembali ke belakang. Dia enggan menanggapi gumaman tamu ayahnya

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 099.

    “Wahh! cincin ini bagus sekali Mas Elang. Nadya suka sekali Mas,” seru Nadya dengan mata berbinar gembira. Ya, Nadya merasa bahagia sekali, menerima pemberian teromantis dari seorang pria, sebuah cincin! Elang memandang tercengang ke wajah Nadya, yang auranya kini nampak hijau ke emasan bagai seorang ratu. ‘Jelita sekali kau Nadya, rupanya kharisma cincin Mustika Nagandini itu memang berjodoh denganmu’, bathin Elang. Nagandini adalah nama Ratu dari sekalian ratu para naga di tanah Jawa berabad lampau. “Kamu cantik sekali Nadya. Jaga dirimu baik-baik ya," Elang berkata sambil meremas lembut tangan Nadya. “Terimakasih Mas Elang. Mmfh,” tak disangka oleh Elang, Nadya mengucap terimakasih sambil berjinjit mencium pipinya. Lalu langsung beranjak menuju kamar ibunya. Elang meneruskan langkahnya ke teras rumah. Dilihatnya Bambang sudah duduk di sana seolah menunggunya. “Sudah mau berangkat Elang?” tanya Bambang tersenyum. “Iya Pak, saya hendak menuju ke arah Surabaya Pak Bambang,” s

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 098.

    "Hahahaa..! Keina, saya sudah terbiasa hidup dalam kekurangan sejak kecil.” “Jangan berkata begitu Mas Elang, bukankah Mas yang mengajarkan Keina untuk berbagi kehidupan. Jadi anggap saja Keina titip uang itu untuk di bagikan pada yang membutuhkan, kalau perlu Keina akan mengisi rekening Mas Elang setiap minggu ya.” “Waduh, jangan Keina. Cukup. Terimakasih ya. Baiklah Mas terima pemberian Keina, tapi jangan kirim lagi ya. Jumlah ini sudah terlalu banyak buat saya,” suara Elang terdengar panik, dia paling anti berhutang budi terlalu banyak pada orang. “Hihihi..! Mas Elang lucu. Mau dikirimkan uang malah ketakutan, Mas Elang orang baik. Keina makin sayang sama Mas Elang. O iya Mas Elang, Keina baru saja tiba di hotel. Keina istirahat dulu ya Mas Elang.” “Iya Keina, beristirahatlah. Kamu pasti lelah sekali, selamat tidur Keina.”Klik.! Tak lama Elang pun tertidur pulas, karena tubuhnya memang membutuhkan itu. *** “Nadya, sampai kapan kau akan menyendiri begini Nak?” tanya Sunda

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 097.

    “Ayah dan Ibu bercerai Om,” sahut Bimo. Sementara suara rintihan kesakitan ketiga pemuda begajulan itu, seakan menjadi ‘sound back’ pembicaraan antara Elang dan Bimo. Sungguh aransemen yang sempurnah! “Baiklah Bimo, kamu ikut Om saja. Sementara kamu bisa tinggal di rumah nenek Om dulu. Sampai nanti kamu bertemu Ibu dan Kk Nina ya,” akhirnya Elang mengambil keputusan yang dirasanya tepat. Dia bisa melihat sifat kejujuran dan ketabahan hati, dari bocah yang satu ini. “Terimakasih Om, nama Om siapa ya?” ucap Bimo terharu, baru kali ini dia menemukan orang sebaik om ini dalam hidupnya. Matanya pun beriak basah. Padahal saat dia di pukuli dan di aniaya oleh ke tiga pemuda tadi, sama sekali tak ada air mata di pipinya. Bocah yang tegar! “Elang, itu nama Om, Bimo.” “Terimakasih Om Elang,” titik air mata bergulir jatuh, saat Bimo mengucapkan rasa terimakasihnya pada Elang. Elang langsung membawa Bimo ke toko pakaian. Disuruhnya Bimo berganti pakaian langsung di toko itu. Lalu Elang m

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 096.

    "Ok honey," sahut Keina, sambil menutup pintu kamar mandi. Tepat jam 7:55 Keina checkout dari hotel dan langsung menuju stasiun Tugu Yogyakarta, yang berada di jalan Pasar Kembang yang tak jauh dari Hotel Asri. Tak sampai 10 menit mereka sudah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta. Elang tak ikut masuk ke dalam peron, dia hanya memberikan tas dorong Keina pada seorang porter yang agak sepuh. Porter itu pun dengan senang hati menerima order jasanya pagi itu. Keina menatap Elang lama sekali, sebelum masuk ke dalam stasiun. Tiba-tiba saja Keina memeluk Elang erat sekali. Keina membenamkan wajahnya di dada Elang, mata indahnya terlihat beriak basah. “Berjanjilah kau akan datang ke negaraku Mas Elang,” Keina berkata serak. “Iya Keina, saya akan menyempatkan waktu membuat pasport nantinya,” sahut Elang meyakinkan Keina. Di kecupnya kening Keina, yang nampak resah di saat perpisahan mereka ini. “Aku menunggumu Mas Elang, selalu menunggumu..” Keina pun membalikkan badannya, memasuki sta

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 095.

    Padahal dahulunya, Bimo adalah putra dari orang berkecukupan di kota Jogja. Hingga akhirnya kedua orangtuanya sering cekcok dan bercerai, lantaran ayah si Bimo yang mulai senang berjudi. Ayah Bimo yang tadinya adalah seorang pegawai swasta, di sebuah perusahaan bonafide. Tiba-tiba saja dia dipecat dari perusahaannya. Karena ayah Bimo terlibat dalam menggelapkan uang perusahaan, demi memuaskan kegemarannya berjudi. Bimo baru berusia 9 tahun dan masih duduk di kelas 3 SD saat itu. Sedangkan kakaknya Nina, berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Akibat perceraian kedua orangtua mereka, maka Bimo dan Nina pun terpisah. Bimo ikut sang ayah, sedangkan Nina ikut ibunya kembali ke rumah neneknya di Madiun. Kegemaran berjudi sang ayah tidak berhenti sampai di situ. Sejak perceraiannya dengan sang Ibu. Maka kegemaran berjudi sang Ayah malah semakin menggila.! Ayahnya menjual semua harta berharga yang ada di rumah, untuk melanjutkan hobinya berjudi. Bimolah yang akhirnya harus mengal

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 094. BUBAR DAN SISI LAIN KOTA

    "Kejarr..! Bangsat kowe..! Asu..!!” seru Projo, pemimpin gank Streets Bat, pada rombongan motor ganknya yang turun malam itu. Bagai serombongan ‘nyamuk gila’, maka ke-14 motor gank Streets Bat mengejar motor Elang, yang telah agak jauh di depan mereka. Mobil dan motor yang melalui jalan Parang Tritis saat itu, serentak mereka menepikan kendaraannya. Mereka merasa lebih baik mengalah, daripada jadi bulan-bulanan gank Streets Bat yang terkenal ganas itu. Di sebuah pertigaan agak besar, Elang melihat ada jalur kekiri (Tegalsari-Donotirto). Jalur yang merupakan area persawahan dan perkebunan, yang masih asri dan agak gelap. Elang menghentikan motornya, di tengah jalan yang belum sepenuhnya di aspal itu, “Keina, tetaplah di dalam lingkaran yang saya buat ya. Tenanglah kamu akan aman di dalamnya,” ucap Elang sambil, menerapkan aji ‘Perisai Sukma’ miliknya. Perlahan sosok Elang di selimuti cahaya kehijauan. Lalu Elang berkelebat memutari Keina dan motornya, sebanyak 7 kali putaran. Na

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status