“Kang kita mampir ke warung itu dulu ya. Saya mau bertanya sama pemilik warungnya,” ucap Elang. “Jadi Akang belum tahu alamat yang dituju ya..?” tanya tukang ojek. “Masih mencari Kang, yuk kita ke warung dulu. Akang juga bisa ngopi di sana,” ajak Elang. Mereka pun masuk ke halaman warung, dan parkir motor di sana. Elang mendahului melangkah masuk ke dalam warung. Di dapatinya lelaki yang sudah sepuh, usianya sekitar 60 tahunan di warung itu. Namun penampakkan tubuh dan wajahnya masih terlihat bugar. Lelaki sepuh itu terus menatap Elang, dengan dahi berkerut seolah mengingat sesuatu.“Maaf Ki, saya mau pesan kopinya 2 gelas ya,” ucap Elang membuka percakapan. “Ohh, iya Jang. silahkan duduk dulu,” ucap sepuh itu ramah. “O Iya Ki, numpang tanya. Apakah Aki kenal orang bernama kakek Balawan..?” tanya Elang. Mendadak si aki pemilik warung berhenti meracik kopinya, dan berbalik menatap Elang. Dia kembali menatap Elang, sambil berusaha mengingat sesuatu. “Ki Balawan ayahnya Sukanta.
"Wah..! Asik banget Kang. Hehe,” sapa Elang terkekeh, ke arah si tukang ojek. “Iya Kang Elang. Suasana di sini damai euy, jadi ngantuk. Haha!” sahut si tukang ojek tergelak. “Ki, saya pesan mie rebus telornya ya,” ucap Elang pada aki pemilik warung. “Baik Jang. Bagaimana Elang, sudah selesai urusan di rumah Kakekmu..?” tanya si aki. “Sudah Ki, saya juga baru membersihkan sebagian semak di sekitar rumah Kakek,” sahut Elang. “Sungguh sayang sekali Elang. Sebenarnya rumah Kakekmu cukup bagus dan klasik. Sejak dulu aki menyukai model rumah dengan kayu jati, seperti rumah Kakekmu itu, Elang,” ucap sang aki, menyayangkan kondisi rumah Balawan. “Dulu saat buyutmu Ki Sandaka masih hidup. Banyak orang-orang dari luar daerah yang datang ke desa ini, untuk menyambangi buyutmu, Elang,” ucap sang aki, sambil memasukkan mie dan telur ke dalam air mendidih di panci. “Buyutmu adalah orang yang suka membantu orang yang kesusahan Elang. Bahkan tak sedikit para pamong praja, yang datang juga pad
"Argkhs..!" seru kesakitan Elang, merasakan nyeri dan ngilu yang luar biasa di jari manisnya itu. Bergegas Elang menuju ke kamar mandi, berniat mencoba melepaskan cincin itu dengan menggunakan sabun. Blaph! Tetapi sesampainya di dalam kamar mandi, cincin itu hilang dengan tiba-tiba! 'Hahh..!' kejut batin Elang. Elang langsung keluar dari kamar mandi menuju dapur. Anehnya setelah Elang berada di luar kamar mandi, cincin itu terlihat kembali. Di dapur Elang melumuri jari manisnya dengan minyak goreng, lalu kembali mencoba menarik lepas cincin itu. "Ahks..!" seru meringis Elang. Ya, selain terasa sakit sekali, cincin itu juga tak bergeser sama sekali dari posisinya. Elang pun akhirnya menyerah. ‘Ini aneh dan sepertinya ini bukan cincin biasa’ bathin Elang resah. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pasrah ! Akhirnya Elang kembali ke kamarnya. Rasa penat setelah hampir seharian bepergian keluar panti, membuat Elang cepat sekali tertidur pulas. Malam itu Elang kembali bermim
"Hahh..!" Elang sangat terkejut, saat mendapati dirinya ternyata mampu melompat lebih tinggi dari perkiraannya. Ya, lompatannya ternyata jauh melampaui tinggi tembok tersebut. Elang pun akhirnya hinggap dengan mantap, di atas rerumputan dan ilalang di lahan kosong tersebut. ‘Ternyata aku bisa melompat setinggi ini’, bathin Elang. Dan Elang pun mulai membuka isi kitab 7 jurus dasar dan menyimaknya, dengan bantuan cahaya senter yang dibawanya. Karena memang suasana yang masih gelap di pagi buta itu.Maka sejak hari itu, Elang tekun berlatih di sana. Karena hari itu libur, maka Elang berlatih hingga siang hari. Siang itu sekembalinya dari berlatih. Elang langsung masuk ke kamarnya, dan menyimpan rapih kembali Kitab 7 jurus dasar di tempatnya. Bergegas Elang mandi dan berganti pakaian dengan baju yang kering. Karena baju sebelumnya basah penuh keringat, akibat latihan kerasnya tadi di lahan kosong. Tutt..Tuutt..! Nada dering ponsel Elang pun mengalun. Elang pun terkejut mendengarny
"Ah, Elang.." desah kaget Bu Nunik. Bu Nunik terdiam agak lama, perlahan sepasang matanya beriak basah, lalu air mata pun menggulir di kedua pipinya tanpa bisa di tahannya lagi. Ya, Bu Nunik teringat saat Elang pertamakali datang ke panti, dia teringat saat Elang berbicara pertamakalinya. Dan ia juga teringat masa-masa sedih dan gembiranya saat merawat Elang. Anak yang sudah dianggapnya bagai anak kandungnya sendiri. Namun Bu Nunik juga sadar. Jika Elang kini mempunyai kehidupan yang harus dijalaninya sendiri, sebagai seorang lelaki normal. Mencari hasil penghidupan yang cukup dan layak, serta mencari jodohnya. Maka tidak bisa tidak, dia harus merelakan Elang pergi dari panti. Dan dia tak berhak melarangnya. Elang yang melihat buliran air mata berlinang dari kedua pipi ibu asuhnya itu, segera mendekat dan memeluknya dengan mata yang ikut memerah. Tak bisa tidak, di lubuk hatinya Elang sudah menganggap Bu Nunik sebagai ibunya sendiri. Wanita yang dengan sabar dan telaten meraw
"Tante dan Mas Bas sudah pasrah Elang. Kami ikhlas, jika takdir mengharuskan kami hidup tanpa anak,” ucap Halimah. “O iya, sebentar Elang. Tante ke kamar dulu,” ucap Halimah. Halimah lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya, ia membuka lemari kamarnya dan menarik laci dalam lemarinya. Nampaklah beberapa tumpukkan uang merah, yang terikat berjajar rapih di sana. Diambilnya 2 buah ikatan uang merah dan dimasukkannya ke dalam sebuah amplop warna coklat, yang juga tersedia di laci itu. Halimah pun bergegas kembali keluar dari kamarnya, lalu duduk kembali di kursinya.“Elang. Tante dan Mas Bas akan merasa sedih sekali, jika membiarkan kamu pergi merantau tanpa memberikan sedikit bekal. Terimalah ini Elang, dan jangan menolak pemberian Tante yang satu ini,” ucap Halimah dengan setengah memaksa Elang, untuk menerima amplop coklat dari tangannya. Halimah tahu, Elang pasti akan menolak pemberiannya, jika diberikan tanpa kata-kata yang tepat. Benar saja. Elang yang tadinya bersiap hendak me
"Mengapa harus malu Elang. Memang harus begini caranya membuat anak,” ucap Halimah yang terlihat mulai lupa diri. Terhanyut oleh hasrat jiwanya. Elang pun kembali terdiam dengan hati yang semakin berdebar, dan jantung seolah terpompa lebih cepat. Elang memang sangat awam dalam hal itu. Bahkan menonton video vulgar, seperti rekan-rekan prianya di Betamart saja, dia enggan.“Waawh..! Besar, kokoh, dan panjang Elang..!” seru Halimah seraya terpana dan tertegun sejenak. Saat dia melihat sesuatu yang telah tegak berdiri dan mengacung, di depan wajahnya yang kini tengah berjongkok. Setelah dia baru saja melepas pakaian terakhir Elang. “Akhs..! Tanntee..!” lenguh Elang bergetar. Saat sesuatu yang hangat, basah, dan dan agak kesat, terasa mulai menyapu dan melumat miliknya yang paling pribadi.Elang berusaha menarik bokongnya ke belakang, namun kedua tangan tante Halimah menahan di belakang bokong Elang yang padat berisi itu. “Ahhh..! Tante.. g-geli...” hanya kata itu yang bisa diucapkan
“Elang. Sekarang giliranmu mandi sayang,” ucap Halimah, saat dia selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi. “Baik Tante,” sahut Elang sambil beranjak ke kamar mandi. Hati Elang masih dipenuhi rasa sesal dan bersalah pada tantenya itu. Halimah kembali membuka laci lemarinya, saat Elang masuk ke kamar mandi. Kembali dia mengambil 2 buah ikatan uang merah, dan menuju ke ruang tamu. Halimah cepat memasukkan 2 ikatan uang merah itu, ke dalam ransel milik Elang. Ya, Halimah merasa sangat puas dan berterimakasih pada Elang, yang telah coba membantu mewujudkan keinginannya memiliki anak. Namun sesungguhnya terselip juga rasa terimakasih lain di hatinya. Karena Elang telah membuatnya menjadi wanita sempurna, yang mengenal apa itu rasa dan arti sebuah ‘kenikmatan puncak’. Hal yang sama sekali tak pernah dirasakannya selama ini.!Selesai mandi, Elang segera mengenakan pakaiannya kembali, yang tadi sempat tercecer di lantai kamar. Elang ingin segera pergi dari rumah itu, karena ras
Ciitt...!! Ngunkk..!! Lalu Permadi segera memutar balik arah, dan menggas penuh motornya. Joker dan Bandrex agak terkejut dengan gerakkan yang di lakukan Permadi. Mereka cepat membalik arah motornya, dan kembali tancap gas mengejar Permadi. Namun tiba-tiba dengan senyum lega keduanya mengendurkan tarikkan gas mereka. Saat dari kejauhan mereka melihat rombongan bos mereka, yang pastinya akan menyongsong dan menghadang laju Permadi. Kini Permadi terkepung..! Di depannya nampak barisan konvoi dari teman-teman pengejarnya. Karena dilihatnya mereka mengenakan jaket dan logo yang sama. Jalanan nampak lengang di saat dini hari itu, hanya ada Permadi dan anggota genk GASStreet yang mengaspal. Permadi kembali membalikkan arah motornya, lalu dia pun tancap gas penuh dengan level gear mentok..! Ya, dia hendak menabrakkan motornya dengan dua motor pengejarnya tadi, Joker dan Bandrex. Joker dan Bandrex tak menduga Permadi akan berlaku nekat, menantang nyali mereka. Mereka pun tak mau kala
"Huuaarrghks..!!!" Permadi berteriak membahana murka, dengan mengerahkan 'power'nya.Tanah di sekitar Permadi bersila amblas melesak hingga 1 meteran, badai angin pun tercipta. Ibarat batu besar yang jatuh ke tengah danau tenang. Energi Permadi bagai riak air yang bergelombang menerjang ke sekelilingnya dalam radius ratusan meter. Aliran listrik yang berada dalam radius gelombang energi Permadi padam seketika. Beberapa kendaraan yang melintas di jalan pun ikut terhempas, hingga keluar jalan tanpa mereka tahu sebabnya. Lampu rambu lalu lintas di sekitarnya padam semua.Kekacauan dan kepanikkan massal melanda area, dalam radius gelombang energi Permadi. Inilah tingkat power dari pemuda itu, yang telah puluhan tahun mengasah kesempurnaan ilmunya. Hanya beberapa saat memang. Namun kerusakkan dan kekacauan yang di timbulkannya sungguh... Dahsyatt..! Permadi terdiam sesaat, dengan hati masih dipenuhi oleh amarah..! Dia merasa perjalanannya ke Surabaya menjadi sia-sia. Tadinya dia men
"Sa-sabar anak muda..! Kita adalah kawan. Ki Sentanu adalah tamu kehormatan kami," Dibyo berkata gugup dan ketakutan. Ya, dia sangat terkejut merasakan tubuhnya melayang, lalu terhempas di kursi teras. Bokong dan punggungnya terasa panas, nyeri, dan pegal-pegal. "Tak peduli..! Katakan padaku kemana Ayahku pergi..?!" sentak Permadi, seraya mengguncang kerah baju Dibyo dengan kedua tangannya. Kepala Dibyo sampai terguncang maju mundur dibuatnya. "Keparat..! Berani main kasar pada Bosku..!! Hiahhh..!" Wushh..! Markus tak dapat menahan amarahnya melihat bosnya di perlakukan kasar oleh Permadi. Dia langsung menerjang dengan pukulan keras bertenaga dalam, ke arah punggung Permadi yang membelakanginya. Namun punggung Permadi bagai bermata saja layaknya. Seth..! Craphk..! Dengan melepas satu cengkraman tangan kanannya, tanpa menoleh Permadi berhasil menangkap kepalan tangan Markus, yang memukul ke arah punggungnya. Secepat kilat tubuh Permadi berbalik ke belakang lalu, Kraghh..! ...
'Hmm. Aku harus bisa menemukan titik lokasi energi Ayah angkatku kali ini..!' bathin Permadi bertekad. Permadi duduk bersila dalam posisi 'teratai', perlahan dia menarik nafas panjang dan secara perlahan pula kedua matanya terpejam. Sepasang mata Permadi telah terpejam, namun mata ketiganyalah yang kini terbuka dan memancar secara 'ghaib', bak antena penangkap gelombang energi di sekitarnya. Semakin lama, daya penglihatan dan daya tangkap sinyal energi yang dipancarkan 'cakra ajna'nya makin kuat. Dan ternyata hal itu berpengaruh pada aliran energi listrik di seisi hotel. Blaph..! Petth..! Pyaarsh..! ... Blaph..! Seluruh penghuni hotel menyaksikan sendiri, saat lampu-lampu serta alat-alat elektronik yang ada di lingkup hotel menjadi error. Seluruh lampu-lampu hotel bagai berkedip nyala redup secara serentak. Banyak penghuni hotel terutama penyewa kamar yang komplain, dengan kejadian itu. Namun petugas hotel sendiri tak mengerti, karena saat di cek tak ada yang error pada jarin
"Hahh..?! I-ini ... ini cek asli kan Pak..?!" seru kaget si ibu, dengan mata terbelalak lebar. Ya, dia tercengang melihat barisan angka nol konvoi di depan matanya, di bagian kanan bawah cek itu. "Li-lima miliar..?! Cek atas nama Wulan...! Ini asli Bu..!" seru gugup dan kaget sang Ayah, yang cukup tahu soal cek. Kini kesombongan dan sikap arogan kedua mertua Wulan itu pun runtuh, luluh lantak, dan terkapar di hadapan Wulan dan Dedi. Karena mereka telah meremehkan sosok sederhana, berkharisma, dan rendah hati seperti Elang. Dan ini juga menggugurkan tuduhan dan anggapan mereka. Bahwa Wulan hanya ingin mendompleng hidup enak, pada putra mereka. Karena kini mereka mengetahui sendiri, kekayaan putra mereka bahkan berada di bawah Wulan. Wulan sendiri terkejut dan tak menyangka, jika Elang akan memberinya uang sebesar itu atas namanya. Diam-diam matanya beriak basah di dera rasa haru dan terimakasih. 'Terimakasih Elang, telah kau angkat diriku di mata mertuaku', bisik bathinnya. E
'Siapa sih pemuda yang nampak biasa-biasa saja itu..?' Demikianlah rata-rata bathin mereka bertanya-tanya. Soalnya dari sisi penampilan memang Elang terkesan sederhana saja. Bahkan ransel yang dikenakannya menambah kesan, jika Elang bukanlah orang kantoran. Sepatu yang dikenakan pun, bukanlah sepatu resmi untuk menghadiri kondangan. Tapi lebih seperti sepatu pendaki gunung atau sport. Satu-satunya aksesoris yang terlihat berharga oleh mereka di tubuh Elang, paling hanyalah jam tangannya saja. Itu pun mereka berpikir paling harganya tak sampai 2-3 juta. Demikianlah pandangan orang-orang, yang melihat sesuatu berdasar tolok ukur 'materialistis'. Mereka seperti tak melihat, bahwa banyak para konglomerat dunia, yang lebih memilih tampil sederhana dengan pertimbangan rasa nyaman. Daripada memaksakan diri tampil sesuai 'statusnya', dengan mengorbankan rasa nyaman dan kepribadian mereka. "Elang. Akhirnya kau datang adikku," Wulan menggandeng Elang, dan mengajaknya ikut naik ke atas
Slaph..!! Kedua sosok ninja merah itu segera melesat cepat dan lenyap, setelah memberi hormat setengah membungkuk pada Hiroshi. Kini halaman belakang rumah Hiroshi kembali sunyi. Hanya tinggal Hiroshi seorang di sana. Akhirnya Hiroshi pun bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya, setelah dia menghabiskan sebatang rokoknya. Keesokkan paginya, giliran kediaman Hiroshi yang 'geger'. Saat salah seorang pelayan rumah Hiroshi, menemukan dua helai pakaian berwarna merah penuh darah, yang terlipat rapih di teras rumah. Sebuah plakat perak juga diletakkan di atas tumpukkan pakaian nerah itu. Dua buah guci kecil berisi abu juga tergeletak di sana. Karuan pelayan itu langsung masuk ke dalam rumah, dan berteriak memberitahukan pada pelayan rumah yang lainnya. Hiroshi yang kebetulan sudah bangun dari tidurnya, bergegas dia menuju teras rumah. Dan sesampainya di teras dia pun terkejut, melihat dua pakaian merah serta plakat perak yang dilemparkannya semalam. Dan itu hanya berarti satu hal.
Hiroshi langsung mengumpulkan seluruh jajaran tinggi stafnya, dan menggelar meeting tertutup hari itu juga. Hiroshi memilih untuk ‘diam’ dan merahasiakan, atas hilangnya sejumlah dokumen rahasia perusahaan sementara waktu dari publik. Hal itu disampaikannya dalam meeting tertutup itu. Dia menghimbau agar semua jajaran stafnya ‘membuka’ mata dan telinga mereka, sewaspada dan secermat mungkin. Untuk menyelidiki ‘pihak mana’, yang menjadi dalang pencurian hampir seluruh dokumen penting yang sifatnya sangat rahasia. Jujur saja, bagi Hiroshi kehilangan dokumen-dokumen rahasia ini bagai kehilangan nafas dari perusahaannya. Apalagi jika dokumen-dokumen itu jatuh ke tangan ‘pesaing’, atau orang yang salah. Namun satu dugaan kuat sudah terbersit di benaknya, tentang pihak mana yang menjadi dalang semua kejadian ini. Tapi itu baru dugaan semata.Soal pelakunya, Hiroshi sudah menduga pastilah sekelompok orang bayaran, lebih tepatnya dia menduga sekelompok ninja..! Namun yang membuatnya p
“Pakailah Seruni, ini untukmu,” ujar Permadi, seraya berusaha tersenyum. Namun wajahnya malah tampak aneh seperti menyeringai, aduhh Madi..Madi..! “Wahh, terimakasih Mas Permadi. Kalung ini bagus sekali..!” Seruni berseru merasa surprise, langsung dikenakannya kalung pemberian Permadi itu. Hatinya penuh dengan bunga bermekaran. Seruni sungguh tak menyangka, Permadi bisa memberikan hadiah seromantis itu. Ingin rasanya dia mencium Permadi dengan hangat. Namun dia sadar kondisi mereka di tempat terbuka, tak memungkinnya melakukan itu. “Berangkatlah Seruni, nanti kau terlambat,” ucap Permadi datar. “Baik Mas Permadi, jaga diri Mas baik-baik dalam perjalanan ya,” Seruni akhirnya beranjak naik ke motornya. Matanya kini nampak basah, ‘Andai kau minta aku ikut denganmu, aku pasti ikut mas’, bisik hatinya sedih. Nngngg..! Seruni melajukan motornya, lalu menghilang di balik gerbang hotel. Air mata bergulir di pipi Seruni, tertutup oleh kaca helm yang dikenakannya. Sedih. ‘Selamat jal