"Apa sebenarnya yang sedang kamu bicarakan?"Oki dengan bingung menatap Shaka tersenyum sinis.Jangan-jangan otak Shaka bermasalah setelah tidak lulus ujian?Setiap tahun setelah ujian musim semi, beberapa siswa yang tidak lulus bisa menjadi gila."Shaka, meskipun kamu gagal tahun ini, peringkat tiga teratas dalam ujian daerah juga tidak buruk. Jangan menyerah. Berusahalah lebih keras tahun depan, kamu pasti akan lulus."Shaka tidak lulus ujian memang membuat Oki sangat kecewa, tetapi Oki juga tidak ingin melihat Shaka menjadi gila.Selain itu ....Oki masih yakin bahwa calon bangsawan Keluarga Kusumo yang dikatakan oleh begawan dari Kuil Yamuna adalah Shaka, bukan Arjuna.Karena begawan dari Kuil Yamuna juga mengatakan bahwa bangsawan Keluarga Kusumo ini memiliki banyak anak dan rezeki.Shaka memiliki anak laki-laki, sedangkan Arjuna tidak.Saat ini, melahirkan seorang putra lebih sulit daripada lulus ujian.Alsava bersaudari sudah menikah setahun lebih, tetapi perut mereka masih saja
"Ibu benar. Hari ini adalah hari yang bagus. Kamu salah karena mengungkit hal-hal yang tidak menyenangkan, Naura.""Benar sekali. Soal hamil, ada yang cepat, ada yang lambat. Ada orang yang telat hamil, tapi tetap bisa melahirkan anak laki-laki. Lihatlah istrinya Pak Agus. Dia sudah menikah selama sepuluh tahun, bulan lalu akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki."Beberapa tante tua dari Keluarga Kusumo pun menyalahkan Naura.Setelah Naura melahirkan anak laki-laki, dia menjadi sombong dan mendominasi. Setiap kali ada acara kumpul keluarga seperti itu, Naura sengaja menyindir para istri muda yang belum melahirkan anak laki-laki.Bukan hanya para istri muda yang tak senang, tante-tante tua ini juga sudah lama memendam kekesalan. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk memberi pelajaran kepada Naura.Karena mereka sudah terlalu lama tidak senang terhadap Naura, para tante tua itu makin bicara, makin kasar."Jangan pikir kamu melahirkan anak laki-laki, lalu boleh bicara seenaknya.""Ti
Melihat banyaknya orang dan kuda, orang-orang pun tercengang.Bahkan seorang tuan yang sudah banyak makan garam pun belum pernah melihat kejadian seperti itu di perjamuan.Para prajurit berbaju besi berbaris di kedua sisi."Tak, tak, tak!"Seekor kuda resmi yang gemuk dan kuat berjalan dari belakang para prajurit.Pemuda yang ada di atas kuda pejabat itu berusia awal dua puluhan. Dia mengenakan seragam biru dan topi tinggi. Latar belakangnya jelas tidak biasa.Dari seragam pejabat biru yang dia kenakan dan topi di kepalanya, orang-orang bisa tahu bahwa pangkatnya jauh lebih tinggi daripada kepala daerah.Ketika Arjuna menatap pemuda itu, kebetulan pemuda itu juga menatapnya.Ketika tatapan mereka bertemu, pemuda yang ada di atas kuda itu bereaksi terlebih dahulu. Ekspresinya kaku sejenak.Seorang warga biasa menatapnya tanpa rasa panik, takut atau bingung.Ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal semacam ini sejak menjabat.Semua orang bertanya-tanya, siapakah orang yang datang ini
Arjuna teringat akan "Kronik Dinasti Bratajaya" yang baru selesai dia baca beberapa hari yang lalu.Sederhananya, "Kronik Dinasti Bratajaya" adalah kombinasi buku geografi dan sejarah di sekolah menengah zaman modern.Buku tersebut memperkenalkan kaisar-kaisar di Dinasti Bratajaya, serta kondisi dasar berbagai tempat di Dinasti Bratajaya.Dinasti Bratajaya memiliki total sepuluh kota dan satu ibu kota.Kota mereka mirip dengan provinsi bila di zaman modern.Pejabat tertinggi di kota disebut gubernur.Di bawah gubernur terdapat pejabat seperti wali kota, asisten wali kota, kepala pengadilan tinggi.Wali kota yang menunggang kuda itu adalah pejabat berpangkat tertinggi di Kota Perai setelah gubernur.Di usianya yang masih sangat muda, bila dia meraih kesuksesannya dengan usaha sendiri tanpa mengandalkan koneksi, maka dia pasti memiliki kemampuan yang luar biasa."Eshan!"Wali kota itu melirik kepala daerah Kabupaten Damai, Eshan, dengan dingin. Dia mengangkat tangannya untuk menunjuk Arj
"!!!""???"Semua orang yang datang ke perjamuan itu, termasuk Eshan, memperlihatkan ekspresi terkejut.Tentu saja, Shaka adalah pengecualian. Dia berlutut di tanah dengan sudut bibir melengkung lebar. Matanya dipenuhi dengan kepuasan dan ketajaman saat dia menatap Arjuna.Akhirnya momen ini tiba.Ingin menjadi bangsawan Keluarga Kusumo? Sungguh angan-angan belaka dan tidak tahu diri."Tuan." Naura yang menggendong anak diam-diam bergerak ke sisi Shaka. Dia begitu gembira. "Bagaimana Tuan tahu kalau Arjuna akan mendapat masalah?"Ketiga Alsava bersaudari ingin melampauinya?Bermimpilah! Mereka ditakdirkan untuk merangkak di bawah kakinya selamanya.Huh!" Shaka menunjukkan ekspresi mengejek. "Mungkinkah orang yang mengandalkan jalan samping tidak celaka?""Tapi ...." Shaka berpura-pura serius. Dia terdiam sejenak sebelum lanjut berkata, "Arjuna mungkin tidak akan menyangka siapa yang mengkhianatinya.""Mengkhianati?" Wajah Naura penuh dengan kebingungan. "Maksud Tuan, Arjuna mengalami m
"Marvin, biarpun Arjuna pernah menyelamatkan putramu, kamu tidak boleh membohongi diri sendiri seperti ini."Marvin tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Situasinya memang agak serius.Tampaknya Arjuna akan melawan para prajurit.Wajah Marvin penuh dengan kecemasan. "Arjuna, Arjuna, cepat berhenti. Kita bersikap koorperatif saja. Kamu tidak melakukan kesalahan, jadi pasti bisa ...."Kata-kata Marvin sudah terlambat, Arjuna dan para prajurit sudah sangat dekat.Bukan hanya Marvin dan orang-orang di sekitar yang tercengang, bahkan sekelompok prajurit yang ingin menangkap Arjuna pun tercengang dan tidak bisa berkata-kata.Sedangkan Arjuna ....Dia menggendong Daisha dari lantai."Tuan ....""Kenapa kamu begitu panik? Apakah kamu tidak tahu kalau tubuhmu lemah? Tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Apakah kamu tidak percaya padaku?"Arjuna menundukkan kepalanya, kemudian mulai menceramahi Daisha dengan cepat. Dia benar-benar marah.Melihat para prajurit hendak menangkapnya, Daisha sangat cem
Mereka tidak sengaja membiarkan Arjuna melewati mereka.Sampai sekarang, mereka masih tidak tahu bagaimana Arjuna bisa melewati mereka.Gerakan Arjuna sangat unik dan sangat cepat. Dalam sekejap mata, Arjuna telah melampaui mereka."Siu!"Sebuah toples anggur tiba-tiba melayang ke arah para prajurit yang bergegas menuju Arjuna. Para prajurit secara naluriah mengangkat pedang mereka untuk menghancurkan toples tersebut.Akan tetapi ....Mereka segera menyadari bahwa mereka salah memperkirakan tinggi toples anggur.Toples anggur itu melayang melewati atas kepala mereka menuju ...."Lindungi Yang Mulia! Lindungi Yang Mulia!"Di tengah kepanikan, para prajurit tiba-tiba berbalik, lalu bergegas kembali ke sisi Fauzi.Pada saat ini, Arjuna sedang duduk dengan tenang sambil minum.Melihat sekelompok orang yang panik, Arjuna sedikit mengernyit.Apa yang dia lihat mungkin hanya yang lebih buruk. Para prajurit Bratajaya seharusnya tidak separah ini.Jika begitu, maka dia masih bisa bertarung deng
"Kalau aku tidak salah ingat, klausul pertama Pasal 6 Undang-Undang Bratajaya dengan jelas menyatakan: 'Pengkhianatan dapat ditangkap secara langsung tanpa surat perintah. Kejahatan lainnya dapat ditangkap setelah ada surat perintah.'"Maksudnya, selain kasus pengkhianatan, untuk kejahatan lain butuh dijelaskan alasan penangkapan.Seperti di zaman modern, kalau polisi datang menangkap, mereka akan mengatakan tindakan pidana yang kamu lakukan, baru mulai menangkap orang."Yang Mulia Wali Kota lulus ujian pada usia tujuh belas tahun. Kurasa aku tidak perlu mengingatkan Yang Mulia tentang hukum ini, 'kan?""Aku hanya rakyat biasa dari Desa Embun, Kabupaten Damai. Seharusnya aku tidak melanggar hukum seperti mengkhianati negara, 'kan?""Tidak mungkin, tidak mungkin."Eshan terus tersenyum, ada sedikit kepuasan dalam tatapannya.Fauzi terkenal dan mencapai pangkat empat setengah di usia yang begitu muda. Dalam beberapa tahun terakhir, dia mulai menjadi sombong. Ketika menghadapi para pejaba
"Yang Mulia Mois." Arjuna tersenyum, dia tampak bodoh lagi. "Masih terlalu awal untuk mengatakan mengalahkan Lujain, hasilnya masih belum diputuskan.""Ayolah, Nak, kamu ini memang sudah menipu orang dengan penampilan bodohmu ini."Suara Eshan terdengar, tubuh besarnya menyelip di antara Arjuna dan Mois."Yang Mulia, bagaimana boleh Anda berkata seperti itu? Hasilnya memang belum diputuskan." Arjuna mengungkapkan keluhannya."Sudah, sudah."Eshan sedikit bersemangat, tetapi karena dia tinggi, gerakannya terlihat sedikit lucu.Dia lanjut berkata, "Setelah selesai mengambil lapisan bawah cake, aku keluar untuk melihat. Ternyata kereta kuda yang datang untuk membeli cake bertambah banyak."Eshan sudah meminta semua istri dan putri petugas pemerintah, termasuk istri dan putrinya sendiri, untuk datang membantu. Namun, sekarang sudah mau kewalahan juga."Ngomong-ngomong ...." Eshan melirik antrean tak berujung di luar toko. "Arjuna, bagaimana pedagang dari daerah lain tahu kamu membuat cake?
"Bagus!" Sugi segera berkata kepada penasihat yang ada di sampingnya. "Cepat tulis pengumuman, kemudian minta pelayan di restoran untuk menempelkannya."Lujain berbalik, lalu berjalan kembali ke Restoran Kebon Sirih."Tuan Penasihat, tadi kamu bilang, cake-nya Arjuna dibuat dengan dipanggang?" Lujain, yang sudah melangkah ke Restoran Kebon Sirih, tiba-tiba berbalik."Benar." Penasihat Sugi mengangguk cepat. "Ternyata sebelumnya mereka bermain lumpur untuk membuat tungku. Mereka membuat banyak tungku pemanggangan, cake-cake itu ....""Sudah!" Lujain mengibaskan tangannya. "Aku sudah tahu caranya, kamu tidak perlu memberitahuku."Menggoreng, merebus, mengukus, merebus dan memanggang. Tidak peduli metode masak mana pun, Lujain telah menguasainya sepenuhnya saat dia berusia sepuluh tahun.Sugi pernah menyelidiki Arjuna.Sebelumnya Arjuna tidak bisa memasak apa pun, tetapi setengah tahun yang lalu dia tiba-tiba menguasainya, kemudian membuat ikan bakar.Bagaimana mungkin seorang pecundang b
"Tungku pemanggangan!" Petugas tersebut membuat gerakan lagi. "Kue-kue itu dibuat secara massal di dalam beberapa tungku pemanggangan itu."Sugi menjadi makin bingung mendengar kata-kata petugas tersebut.Tungku pemanggangan?Tungku pemanggang yang bisa membuat kue?"Yang Mulia!" Jika penasihat Sugi tidak muncul tepat waktu, petugas pemerintah itu pasti sudah disiram teh panas lagi.Setelah sang penasihat membisikkan sesuatu kepada Sugi, ekspresi Sugi tiba-tiba menjadi gelap dan muram."Apakah kue bisa dijual semudah itu?" tanya Lujain yang sedari tadi diam.Akan tetapi, pertanyaannya terdengar agak malas.Apa itu tungku pemanggangan?Apa itu produksi massal?Sebagai calon koki istana kaisar, Lujain tidak peduli dengan hal-hal itu. Hal yang dia pedulikan hanya rasa makanan.Intinya, dia masih tidak percaya bahwa Arjuna bisa mengalahkannya dengan kue."Lujain, ayo kita lihat."Begitu keluar dari Restoran Kebon Sirih, Sugi melihat bagian luar toko Arjuna penuh dengan kereta kuda.Banyak
"Toko Arjuna sudah menjual sesuatu!"Mata Sugi membelalak marah. "Bukankah dia membuka toko untuk berjualan? Apa masalahnya?"Kehilangan harga diri di depan orang lain barulah merupakan masalah besar."Yang Mulia, toko Arjuna penuh dengan pedagang yang datang untuk membeli barang. Kue-kuenya laku keras!""Apa katamu?" Sugi menyipitkan matanya, menatap petugas yang berlutut di depannya dengan bingung.Lujain pun meletakkan cangkir tehnya, kemudian menatap juru sita dengan heran."Yang Mulia, Arjuna itu membuat semacam ...." Si pelayan membuat gerakan ketika menjelaskan. "Kue yang sangat istimewa. Kuenya tidak terlalu besar, kira-kira seukuran telapak tangan. Ada dua lapis, dengan buah di atasnya, lalu ....""Sudah, sudah!"Begitu mendengar kata "kue," ekspresi Sugi langsung menjadi rileks. Dia tidak ingin mendengarkan sisa kata-kata petugas itu. Dia mengibaskan tangannya dengan tidak sabar untuk menyela petugas itu."Bukankah itu hanya kue? Berapa harganya? Dia baru membuka toko hari in
"Apakah camilan yang aku buat tadi malam enak?" Arjuna menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain."Enak!"Suara jernih terdengar dari belakang Arjuna, kemudian wajah tembam Dinda muncul di depan mata Arjuna."Rasanya manis dan harum. Aku belum pernah makan makanan yang seenak itu."Ketika Dinda tersenyum, matanya seperti bulan sabit. Dia memiliki sepasang lesung pipit di wajahnya. Dia tampak seperti kucing kecil yang rakus.Lucu sekali sampai membuat hati orang meleleh."Hmm!" Arjuna dengan pelan mencubit wajah tembam Dinda.Saat pertama kali menemukannya, Dinda kurus kering seperti anak kucing. Sekarang dia gemuk sehingga Arjuna merasa sangat puas."Apakah teman-temanmu menyukainya?" Maksud Arjuna adalah gadis-gadis kecil yang dikurung bersama Dinda, yang telah dikirim ke Rumah Bordil Prianka untuk pelatihan setelah diselamatkan."Mereka juga sangat menyukainya. Bukan hanya mereka, tapi kakak-kakak mereka juga menyukainya."Suara Dinda yang jernih dan tajam terdengar lagi. Kakak-
"Enak sekali, pantas dia akan menjadi koki istana."Arjuna memakan daging dengan suapan besar sambil memuji."Apakah benar-benar enak?" Mois yang khawatir tidak menggerakkan alat makannya."Hmm!" Arjuna mengambil sepotong daging bakar lagi. "Enak sekali!"Dia sama sekali tidak berlebihan. Masakan Lujain memang lezat. Jangankan di zaman kuno, bahkan di zaman modern, Lujain akan menjadi koki kelas atas."Kalau begitu kenapa kamu ...." Mois ragu sejenak sebelum bertanya, "Masih bisa makan?"Tangan Arjuna yang sedang mengambil makanan berhenti sejenak, lalu dia lanjut mengambil makanan. "Makanannya begitu enak, kenapa aku harus tidak bisa makan? Yang Mulia Mois, cepat makan juga. Makanannya tidak enak kalau sudah dingin."Atas desakan Arjuna, Mois akhirnya mulai makan.Makin makan, Mois makin khawatir.Makanan di dalam mulutnya memang enak sekali.Arjuna yang duduk di seberangnya masih makan dengan lahap. Dia menghabiskan dua piring nasi sekaligus.Setelah makan dua piring nasi, Arjuna mas
Ekspresi semua orang hampir sama, mulut mereka ternganga lebar menatap sang penasihat."Bam!"Sugi meletakkan gelas anggurnya dengan keras di atas meja. "Meskipun aku sangat senang hari ini, aku tidak mengizinkanmu untuk mempermainkanku seperti ini.""Tuan Penasihat, kamu benar-benar keterlaluan. Meskipun kutu buku itu terlihat bodoh, dia tidak benar-benar bodoh!"Para pedagang juga merasa bahwa candaan sang penasihat sudah keterlaluan."Yang Mulia." Penasihat tampak sedih karena disalahkan. "Aku benar-benar tidak bercanda. Arjuna memang bermain lumpur dengan istri-istrinya."Ketika penasihat mendengar laporan dari petugas, reaksinya bahkan lebih marah daripada Sugi. Dia bahkan menampar petugas itu dengan keras.Petugas bersikeras mengatakan bahwa Arjuna bermain lumpur. Penasihat tidak memercayainya, jadi dia pergi memeriksanya sendiri. Kemudian dia menemukan bahwa Arjuna benar-benar sedang bermain lumpur.Dia mengobrol sambil tertawa bersama istri-istrinya, bahkan mengolesi lumpur di
Sebelum pertandingan dimulai, untuk menghindari insiden sejenis pemakaman amal, Sugi sekali lagi menekankan aturan babak kedua.Sebenarnya, dia hanya ingin mengingatkan Arjuna untuk mematuhi peraturan dengan ketat.Karena ini adalah kompetisi makanan, pastilah tentang membuat makanan. Jika Arjuna membuat yang lain, sekalipun Arjuna menjual lebih banyak daripada Lujain, itu tidak akan dihitung.Kompetisi belum resmi dimulai, tetapi kabar bahwa Lujain akan menjadi kepala koki di Restoran Kebon Sirih selama tiga hari telah menyebar ke seluruh Kabupaten Damai.Orang-orang di setiap jalan dan gang Kabupaten Damai membicarakan hal ini."Lujain? Apakah itu Lujain yang akan memasak untuk Kaisar di istana setelah masa berkabungnya berakhir?""Benar, itu dia!""Kalau begitu bukankah dia koki istana? Kenapa dia ada di Restoran Kebon Sirih? Apakah kamu salah dengar?""Tidak mungkin salah. Pengumumannya sudah dipajang di Restoran Kebon Sirih.""Kalau begitu kita harus pergi! Itu koki istana kaisar,
Arjuna berdiri lalu membungkuk pada Eshan. Setelah itu, dia tersenyum sambil berkata kepada orang-orang yang menertawakannya. "Terima kasih atas pujian kalian.""Terima kasih? Dia tidak benar-benar menganggap kita sedang memujinya saat kita mengatakan bahwa dia merawat istri-istrinya menjadi cantik, 'kan?""Lihatlah ekspresi konyolnya itu, mungkin saja benar.""Dasar kutu buku.""Yang Mulia, masakan yang aku masak sering dipuji oleh istriku, aku juga merasa masakanku cukup enak. Aku bersedia untuk bertanding dengan calon koki istana kaisar ini."Arjuna menoleh untuk melihat Lujain, tetapi Lujain malah membuang muka dengan jijik. Ada sedikit ekspresi kesal di wajahnya.Jika dia tahu bahwa orang yang maju dari Kabupaten Damai adalah Arjuna, dia tidak akan turun tangan.Arjuna tidak layak bersaing dengannya.Sering mendapat pujian dari istrinya? Dengan beberapa pujian dari para wanita rendahan itu, Arjuna pikir dirinya sangat hebat memasak?Bodoh sekali.Dia sering mendengar orang mengata