Maxime yang terus mencium Reina membuat Reina yang sedang tidur nyenyak pun terbangun karena kesulitan bernapas.Reina pun berjuang membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, setelah itu dia mulai memukul Maxime sambil berkata, "Kamu ngapain?"Dada Maxime terasa panas, dia pun menjawab dengan suaranya serak."Kapan kamu pulang?"Reina yang masih mengantuk, tidak bisa berpikir jernih dan menjawab dengan linglung, "Ya nggak tahu lah.""Aku nggak tahu cideranya parah apa nggak, kalau parah banget ya aku bakal tinggal lebih lama."Tatapan Maxime menjadi dingin, "Dia sepenting itu buat kamu?"Reina sangat mengantuk dan mengira dia bosan, jadi dia menanyakan pertanyaan ini kali ini."Ya iyalah penting, kami 'kan tumbuh besar bareng. Enam tahun yang lalu, aku pasti sudah mati kalau bukan karena dia.""Dia dan Lyann sudah menyelamatkan hidupku.""Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku pasti akan minta kamu ...."Reina tidak melanjutkan perkataannya.Tiba-tiba hati Maxime menegang, "K
Banyak penumpang yang keluar silih berganti di pintu keluar bandara.Tanpa banyak pikir, Revin turun dari mobil.Erik ragu-ragu sesaat, lalu ikut turun menyusul Revin.Dua pria jangkung dan tampan berdiri di samping sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar tentu menarik perhatian banyak orang.Revin mengirim pesan pada Reina, "Nana, sudah mendarat belum?"Reina langsung membalas, "Ya, bentar lagi keluar.""Oke, aku tunggu di pintu keluar."Revin spontan tersenyum kecil dan mematikan ponselnya.Tidak lama kemudian, dia melihat sosok Reina yang begitu menonjol di tengah kerumunan. Reina mengenakan gaun berwarna begonia, rambut panjang sebahunya dibiarkan tergerai dan kulitnya terlihat putih bersih.Erik pernah bertemu Reina di sebuah pesta, tapi sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, sekilas Erik bisa mengenalinya. Dulu Reina masih seorang gadis kecil, sekarang sudah jadi wanita yang cantik.Tapi wajahnya ... Kok kelihatan agak aneh ya?Reina menggunakan bedak tipis untuk menutupi be
Ekki agak terkejut, "Pantas saja Revin nggak mati walau sudah disiksa habis-habisan begitu. Ternyata dia teman Erik."Keluarga Casco juga cukup terkenal di lingkaran bisnis, tapi mereka suka bermain aman sehingga tidak terlalu mencolok.Dulu waktu Maxime menekan bisnis Revin, entah mengapa Revin selalu bisa menemukan celah. Mungkin ini semua karena bantuan Erik.Maxime memejamkan mata untuk beristirahat dan nggak menjawab.Ekki hendak meminta sopir mengikuti mobil Revin saat Maxime berkata, "Suruh orang lain aja yang buntutin mereka. Kita pulang istirahat dulu."Belakangan ini Maxime sering sakit kepala, dia juga tidak paham kenapa."Baik."Sesampainya di hotel, Ekki menuntun Maxime ke sofa. Setelah itu Maxime memijit pelipisnya dan mengernyit."Bos nggak apa-apa? Apa perlu kupanggilkan dokter?""Nggak usah, mungkin aku kurang istirahat."Setelah Maxime menolak, dia meminta Ekki meninggalkannya sendiri.Begitu Ekki pergi, ruangan jadi sunyi senyap. Dia nggak bisa melihat dan sekeliling
Padahal Riki hendak kembali ke kamar dan mulai siaran langsung, dia sudah tidak sabar bertingkah manja dengan om tante online-nya. Perkataan Joanna seperti sambaran petir di telinganya.Dia berhenti melangkah dan berkata, "Nenek pulang aja nggak apa-apa. Mama, Papa juga sebentar lagi pulang.""Nenek nggak capek kok, Nenek nggak akan pulang, Nenek temani main ya?"Joanna juga tidak ada kerjaan di rumah.Riki tiba-tiba teringat sesuatu, "Nenek suka jadi terkenal 'kan ya?"Joanna tidak mengerti maksud Riki.Sepuluh menit kemudian, ruang siaran langsung Riko jadi sangat terkenal. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah karena kehadiran Joanna sebagai bintang tamu.Joanna pernah menjadi sosok wanita pebisnis yang cukup kuat di Kota Simaliki dan banyak orang yang mengenalnya.Padahal Joanna hanya menunjukkan wajahnya sebentar, tapi beberapa pengusaha juga masuk ke ruang siaran langsung itu. Dalam setengah jam saja Riki langsung mendapat puluhan miliar.Riki tidak menyangka sosok neneknya beg
Reina ikut Revin pulang ke tempat tinggal Revin.Vila yang begitu besar dan luas itu penuh dengan bunga warna warni, entah mengapa agak tidak sesuai dengan pribadi Revin.Erik tidak ikut masuk.Para pelayan langsung serentak membungkuk pada Reina dan Revin."Tuan Muda."Revin meminta para pelayan untuk undur diri.Sesampainya di ruang tamu, Reina pun mengajaknya mengobrol, "Sekarang gimana kondisimu?"Kemarin di telepon, Revin bilang kalau dia baru sadar dan masih belum benar-benar sehat.Tadinya Reina pikir begitu sampai, dia akan melihat Revin terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Reina tidak menyangka Revin sanggup menjemputnya di bandara bahkan menemaninya makan di luar.Revin memunggungi Reina dan tidak berkata apa-apa saat mendengar pertanyaan Reina. Hanya saja, dia mulai membuka kancing kemejanya.Sebelum Reina sempat bereaksi, Revin sudah selesai menanggalkan kemejanya."Kamu ngapain?"Setelah itu, Revin melemparkan bajunya ke atas sofa dan balik badan.Reina spontan balik ba
Reina pun tidak menolak dan memutuskan untuk tinggal di rumah Revin untuk merawatnya.Sore harinya, dokter pribadi datang memeriksa kondisi Revin sekaligus mengganti perban.Reina duduk di samping sambil menelepon Riki. Begitu panggilan video itu tersambung, muncullah wajah putih imut Riki, "Ma, kok tumben telepon? Kenapa?"Karena ada Joanna, Riki tidak bertanya apa Reina sudah ketemu Revin atau belum."Oh nggak apa-apa, Mama cuma mau cek kondisimu ... " di rumah ....Sebelum Reina selesai bicara, tiba-tiba dia mendengar suara familier dari ujung telepon, "Riki sayang, kamu lagi nelpon siapa?"Riki hendak mematikan teleponnya saat Joanna ternyata sudah datang menghampiri dan melihat Reina di layar ponselnya.Di depan cucunya, Joanna tidak berani menyalahkan Reina yang sudah meninggalkan Riki sendirian. Dia pun berkata dengan ramah."Oh Nana, kamu ke mana Na? Kok jam segini belum pulang?"Reina yang tidak mau cari masalah pun berbohong, "Ah, perusahaan pribadiku ada masalah, jadi aku ke
"Oke, aku berangkat sekarang." Revin pun menutup telepon.Maxime hampir membunuhnya. Orang sebaik apa pun tidak mungkin akan tinggal diam.Sekarang karena Maxime sendiri yang datang menyerahkan diri, Revin tentu tidak akan melepaskannya.Saat duduk di dalam mobil, Revin bahkan bertanya-tanya apa Reina akan mempertimbangkan untuk bersamanya kalau Maxime meninggal.Begitu ide itu terbersit di benaknya, Maxime langsung menggeleng kuat-kuat.Maxime adalah ayah dari anak-anak Reina. Kalau pria itu sampai meninggal di tangannya, bisa jadi Reina tidak akan memaafkan Revin selamanya.Kali ini Revin hanya ingin balas dendam, dia tidak menginginkan nyawa Maxime.Erik masih terus bicara dengannya di telepon, "Kak, pengawal Maxime itu lumayan hebat. Tapi, aku sudah punya cara menyuruhnya keluar.""Apa caranya?"Rahasia."Erik menutup telepon.Dia tidak memberi tahu Revin kalau dia sudah meretas ponsel Reina sehingga dia bisa memakai nomor Reina untuk mengirim pesan ke ponsel Maxime. Dalam pesan it
Teleponnya tidak tersambung.Revin tidak meneleponnya lagi. Tadi lukanya memang terbuka lagi dan sekarang dokter sedang menjahit lukanya.Setelah selesai, Revin pun keluar.Reina menunggunya dengan berdiri dan bersandar di dinding koridor rumah sakit.Melihat Reina seperti ini, Revin tiba-tiba menjadi sangat ketakutan. Dia takut Reina akan marah dan menyalahkannya."Nana, aku mau bilang sesuatu."Reina menatapnya dengan bingung, "Ada apa?""Tadi aku ... pergi ketemu Maxime." Jeda sejenak, lalu Revin melanjutkan, "Aku balas dendam."Tiba-tiba hati Reina bergetar.Meski dia tidak lagi mencintai Maxime seperti dulu, bagaimanapun juga Maxime adalah ayah dari anak-anaknya."Dia ada di sini?" Reina bertanya lebih dulu."Ya."Kalau Maxime tidak datang ke sini, Revin tidak mungkin sukses balas dendam."Lalu, di mana dia sekarang?"Reina tidak bisa menjelaskan perasaannya, yang satu adalah teman yang sudah menyelamatkan hidupnya dan yang seorang lain adalah ayah dari anak-anaknya. Reina harus b
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba