Bagaimanapun juga, Liane adalah ibu kandungnya.Sekretaris Liane merasa lega.Namun, Syena malah menyahut dengan kesal, "Reina, kenapa sih kamu ngotot tetap tinggal? Kamu khawatir ya nggak dapat warisan kalau ibu kenapa-kenapa?"Reina tidak ingin berdebat dengan Syena, tapi Syena menuduhnya dengan agresif.Reina pun tidak berdiam diri."Ya, Bu Liane itu ibu kandungku. Wajar bukan aku dapat warisannya? Lagian Bu Liane sudah bilang, dia sudah bikin surat wasiat dan aku dapat setengah hartanya."Reina terdiam sesaat, lalu melanjutkan, "Gimana kalau sekarang dia kenapa-kenapa, terus ada orang yang mengubah isi surat wasiat karena aku nggak di sini?""Kamu!"Syena mengangkat tangannya untuk menampar Reina.Deron yang berjaga tentu tidak akan membiarkan Syena mengambil tindakan. Deron meraih pergelangan tangan Syena.Deron mengibas tangan Syena sampai membuatnya mundur beberapa langkah dan hampir jatuh ke tanah."Kamu! Reina, kamu berharap ibumu mati ya!" Syena berkata dengan penuh amarah.R
Tiga ... empat jam pun berlalu.Liane tidak menunjukkan tanda-tanda sadar, sekretaris Liane pun menyuruh bawahannya membawa camilan tengah malam."Nona Syena, Nona Reina, silakan makan sedikit, lalu istirahat. Biar aku yang berjaga."Syena sudah dari tadi mengantuk, dia sudah tidak tahan lagi.Dia melirik makanan yang disiapkan, lalu melambai. "Aku nggak makan deh, sudah kemalaman, nanti gampang gemuk, lagian nggak sehat makan malam-malam."Kemudian, Syena berdiri dan berkata, "Aku istirahat dulu, kamu dan Reina silakan jaga ibu dulu.""Aku nggak tenang kalau kamu jaga sendirian."Syena pandai mengatur orang.Reina tidak tersinggung, dia belum mengantuk dan Maxime bilang nanti akan datang.Sekretaris Liane memperhatikan Syena pergi, setelah itu menarik napas lega.Padahal harusnya anak yang sudah dibesarkan selama lebih dari 20 tahun harusnya lebih sayang orangtua daripada anak kandung yang tidak dibesarkan sehari pun. Namun, sekretaris Liane tidak melihat sikap ini sedikit pun pada Sy
Reina tertegun untuk waktu yang lama melihat Liane mengulurkan tangannya, namun dia tidak mundur menjauh.Tangan Liane menyentuh pipi Liane dan sentuhan hangat membuatnya sadar ini bukan mimpi.Ujung matanya memerah dan dia bergumam, "Nana, Nana ....""Ya, aku di sini," jawab Reina lembut."Aku nggak mimpi, kamu sungguh ada di sampingku, kupikir kamu ... kamu menghilang lagi." Liane memang bermimpi panjang, dalam mimpinya putrinya lagi-lagi dibawa kabur dan Reina tidak mau memaafkan dirinya.Melihat Liane seperti ini, Reina pun tidak tahu harus bilang apa.Tiba-tiba, Maxime datang sambil membawakan segelas air.Reina membantu Liane untuk minum. Setelah itu dokter datang dan melakukan serangkaian pemeriksaan pada Liane.Setelahnya, dokter mendiskusikan sesuatu.Pergerakan di dalam kamar rawat membuat sekretaris Liane sadar ada yang terjadi."Bu Liane sudah sadar?" tanyanya pada Reina.Reina mengangguk, "Ya."Syena langsung mengambil ponselnya sambil berkata, "Aku kabarin Nona Syena dulu
Maxime yang dikunci di luar pun hanya bisa menatap ke pintu yang terkunci dengan pasrah.Kapan dia benar-benar bisa tinggal bersama istrinya?Mereka bukan pasangan yang baru menikah, tapi kedekatan mereka bahkan lebih sedikit dari pasangan yang baru menikah.Sekitar jam sembilan pagi Syena dapat kabar kalau Liane sudah sadar.Dia langsung datang ke kamar rawat dan melihat Liane mengobrol dengan dokter. Dia merasa sangat gugup, "Ibu sudah sadar? Kok sekretarismu nggak ngasih tahu aku?"Liane menatap Syena dengan dingin. Liane meminta dokter keluar dulu, lalu berkata, "Sekretarisku bilang sepanjang malam kamu dan Nana nemenin aku, aku nggak mau ganggu istirahatmu."Syena berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah dengan hati yang gugup."Bu, aku 'kan putrimu, aku nggak mungkin merasa terganggu lah."Setelah itu, Syena bertanya dengan prihatin, "Gimana kondisi Ibu sekarang? Apa kata dokter?""Sudah mendingan." Liane terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Dokter bilang, aku mungkin kerac
Semua orang di Grup Yinandar tahu betul betapa Syena disukai oleh Liane.Mereka sama sekali tidak berani menyinggung Syena.Kondisi fisik Liane memang sudah ada di ujung tombak, begitu Liane meninggal, wajar kalau Grup Yinandar kembali ke tangan Syena.Semua orang sebenarnya tidak suka dengan Syena, tapi tidak berani angkat bicara.Oleh karena itu, Liane yang sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit, tidak mengetahui apa yang terjadi di perusahaan.Saat mengambil alih perusahaan, Syena melenyapkan para pembangkang.Rizki, yang dibebaskan oleh Maxime beberapa hari lalu pun tak luput.Rizki langsung meninggalkan Grup Yinandar tanpa berdebat.Belakangan ini dia sering datang ke rumah sakit, menjaga Liane dari kejauhan, berharap Liane selamat dan sehat.Sekretaris pribadi Liane langsung memanggil Rizki begitu melihatnya, "Pak Rizki, kok ada di sini? Kamu datang menemui Bu Liane?"Rizki tersenyum malu-malu."Oh, aku ... aku cuma kebetulan lewat."Mana mungkin sekretaris Liane bisa dibohon
Ucapan Liane tidak hanya membuat Reina terkejut, sekretaris di sampingnya juga terkejut.Begitu Reina sadar dari lamunannya, dia langsung menolak, "Maaf, aku nggak bisa.""Nggak apa-apa, anggap saja latihan," jawab Liane."Untuk masalah sebesar ini, sebaiknya Anda minta Syena aja," kata Reina.Liane tahu Reina tidak akan setuju, satu-satunya jalan adalah memakai cara yang diajarkan adiknya."Nana, kondisiku hari demi hari makin memburuk, aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa hidup. Apa boleh kabulkan permintaanku yang sedang sekarat ini? Syena nggak cocok mengelola perusahaan, kalau aku memberikan posisi itu padanya, Grup Yinandar akan bangkrut.""Lagian kamu itu putri kandungku. Apa pun yang terjadi, kamu harus jadi pengelola perusahaan."Reina terdiam mendengarkan ucapan Liane di telepon.Dia saja tidak bisa mengelola perusahaannya sendiri dengan baik, bagaimana dia bisa mengelola Grup Yinandar yang begitu besar?"Nggak, aku benar-benar nggak bisa. Kalau Anda nggak percaya Syena,
Reina tiba-tiba tercerahkan oleh ucapan Revin."Oke, kalau begitu aku akan mencobanya."Reina juga ingin melatih dirinya, menggunakan kesempatan ini untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Liane."Ya."Reina pun merasa jauh lebih baik.Revin pun pergi setelah melihat Reina tidak lagi gundah.Reina menelepon Liane balik dan menyetujui permintaan Liane.Liane memintanya datang ke rumah sakit sore ini, lalu besok ke Grup Yinandar.Reina menyetujuinya.Dia mengirim pesan pada Maxime dan memberitahunya tidak perlu datang menjemputnya.Maxime langsung menelepon dan menanyakan alasannya.Reina menceritakan semuanya pada Maxime.Maxime terkejut, bukan karena Liane meminta Reina untuk bekerja di perusahaan, tapi karena Reina setuju.Reina memberitahunya kalau ini semua keputusan setelah bicara dengan Revin yang mengatakan padanya untuk menyelesaikan masalahnya secara langsung.Maxime tidak bicara apa-apa meski merasa cemburu."Oke, cepat pulang ya," ucap Maxime.Reina mematikan teleponnya
Reina menatap Maxime dan berkata, "Terus harusnya aku baca apa?""Sekarang, harusnya kamu isi ulang tenagamu, jangan sampai ketiduran di rapat. Terus kamu harus paham posisimu, jangan mudah ditindas. Sudah deh, sisanya pasti akan ada yang bantu kamu."Sekarang, Reina jadi mengantuk.Dia mematikan komputer, "Kalau begitu aku tidur dulu, kamu juga tidur aja.""Ya."Maxime menunggu Reina pergi dan mematikan komputer untuknya.Setelah itu, Maxime menelepon seseorang."Besok Nana akan mulai kerja di Grup Yinandar, kalau dia kesulitan, langsung kasih tahu aku."Maxime juga sudah menempatkan orang-orangnya di Grup Yinandar....Belakangan ini Syena sedang bersenang-senang. Padahal pihak rumah sakit sudah memberi tahu kalau anaknya kembali kritis beberapa kali, tetapi dia selalu mengabaikannya.Tanu juga ditarik Syena masuk ke perusahaan, mereka berdua membuat perusahaan berantakan.Mereka belum tahu Liane sudah mengatur agar Reina datang dan mengambil alih posisinya sebagai CEO.Keesokan hari
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba