Home / Young Adult / Ratu Indigo VS Bad Boy / Bab 94. Terlanjur Terjebak

Share

Bab 94. Terlanjur Terjebak

Author: Dewiluna
last update Last Updated: 2024-12-19 02:21:43

Di sudut ruang meeting departemen pengembangan, ada Alex yang berdiri di sudut. Pria itu menatap Amira dengan tatapan khawatir. Dia tentu saja mendengar apa yang Heri katakan, dan dia tidak menyukainya. Alex merasa jika Heri sudah menyinggung Amira. Alex tahu jika dirinya tidak setara dengan Raga, karena dia memang hanya pengawal.

Namun, Amira berbeda. Amira adalah teman Raga, harusnya status Raga dan Amira bisa setara. Meski begitu, Heri dengan sengaja menyamakan Amira dengan Alex.

“Kakek akan minta ayah dan ibumu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka juga. Kamu juga bersiap. Kita pulang sama-sama.”

Raga mengangguk. “Raga akan pulang bersama Amira. Kakek duluan aja sama ayah dan ibu.”

Jawaban Raga membuat Amira mempertanyakan eksistensi otak Raga. Apakah organ tubuh cowok itu sedang menghilang sementara? Karena Raga tiba-tiba menjadi bodoh begitu saja.

Di luar dugaan, Heri malah tersenyum. Dia kemudian berpamitan pada Raga, berjalan keluar ruangan.

“Kita ketemu lagi di rumah,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 95. Panggung Keluarga Wijaya

    Alex mengamati langkah Raga dan Amira dari belakang. Sebelumnya, dia sempat berinisiatif ingin menenangkan Amira. Alex berniat berucap jika dirinya tidak akan membiarkan Amira sendirian, tapi sepertinya semua itu tidak diperlukan sekarang. Lihat saja bagaimana Tuan Mudanya itu sudah melindungi Amira sampai seperti itu. “Tuan Besar mengatakan jika Tuan Muda bisa langsung ke ruang makan,” ucap salah satu pelayan. Raga langsung mengiyakan. Dia menyempatkan diri untuk melirik Alex sebentar, sebelum kembali pada Amira. Raga menunggu sampai kaki Amira melangkah lebih dulu. Keadaan saat ini sangat sulit bagi Amira. Padahal dia berjalan biasa, tapi kakinya terasa sangat berat. Amira merasa jika kedua kakinya terikat beban ratusan kilo, sampai dia kesulitan bergerak. “Raga!” Suara panggilan dari seorang wanita terdengar, membuat Raga dan Amira menoleh bersamaan. “Ibu sudah menunggu kamu dari tadi.” Andini menyambut Raga hangat, tapi tatapan wanita itu berubah saat melihat Amira.

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 96. Status Sosial

    Dulu, Amira pernah mendengar bahwa orang miskin tidak akan pernah bisa membayangkan kehidupan orang kaya, begitu pula sebaliknya. Saat di Laveire, Amira meragukan ungkapan itu. Bersekolah selama setahun di sana, Amira masih bisa beradaptasi dengan baik. Namun sekarang, Amira bisa merasakan perbedaan itu. Perbedaan antara dirinya, dan Raga. Semakin Amira mengenal Raga, semakin dia membandingkan kehidupan mereka. Rumah kontrakan Amira, berbeda dengan rumah mewah Raga. Apa yang Amira makan, tak sama dengan apa yang Raga makan. Seorang Amira tidak pernah bermain piano, sama seperti seorang Raga yang tidak pernah berkebun. Mereka, berbeda. “Terima kasih untuk makanannya, Bapak, Ibu, Kakek,” ucap Amira akhirnya. Amira memilih untuk menuruti apa yang Raga mau. “Terima kasih, Tuan Besar, Tuan, dan Nyonya,” ucap Alex menyusul. Heri hanya mengangguk sekilas tanpa repot untuk mengucapkan apapun. Amira sadar dengan tatapan Heri. Tatapan mendominasi yang membuat Amira merasa tidak nyaman. H

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 97. Pikiran yang Mengganggu

    Amira melamun sesaat setelah dia bangun. Otaknya melayang pada kejadian kemarin, saat Amira menghabiskan waktu seharian penuh bersama Raga. “Yang kemarin kayak mimpi,” gumam Amira pelan. Semua tentang permainan piano, pernyataan cinta, bahkan makan malam bersama dengan keluarga Wijaya. Bagi Amira, semua masih tak terasa nyata. “Semoga hari ini lebih baik dari kemarin,” ucap Amira, berdoa. Karena hari semakin siang, Amira memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya. Amira tak mau jika Raga sampai menunggu lama. Dia tak mau Raga datang menggedor pintunya lagi. Setelah selesai mandi, Amira menyiapkan sarapan dan memakannya lahap. Saat dia sudah siap sempurna, Amira mengecek ponsel. Tidak ada pesan masuk dari Raga sama sekali. “Tumben?” Amira bertanya-tanya sendiri. “Apa Raga udah nunggu di luar?” Karena tidak ada waktu lagi, Amira memutuskan berjalan keluar gang tanpa menunggu pesan. Namun, sesampainya di sana, mobil Raga masih belum datang. “Mungkin sebentar lagi,” ucap Ami

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 98. Bukan Pelarian

    Di kantin Laveire yang ramai pada jam istirahat, Evan membuat keributan. Dia bahkan lebih berisik daripada murid-murid yang sedang mengantri makanan. “Amira, lo suka makanan apa?” Tanya Evan bersemangat. Evan dengan sengaja duduk di samping Amira. Dia memanfaatkan semua kesempatan yang dia miliki saat ini. “Apa aja,” jawab Amira singkat. Sedikit pun Amira tidak tertarik dengan pertanyaan dari Evan. Apa pun yang ditanyakan oleh Evan, jawaban Amira sama. “Kalau minuman? Lo suka apa?” Evan masih berusaha. Meskipun Amira menjawab dengan enggan, Evan tidak menyerah. Selama Amira masih menjawab, dia akan terus bertanya. “Apa aja,” jawab Amira lagi. Sebenarnya, secara teknis, jawaban Amira pun tidak salah. Dia memang tidak pilih-pilih dalam hal makanan atau minuman. Bahkan mungkin hampir dalam segala hal. Karena pada dasarnya, memang Amira tidak memiliki pilihan karena keterbatasan hidupnya sejak dulu. “Kalau ke cafe bareng gue, mau enggak?” Tanya Evan cepat. Dia mencoba meng

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 99. Sama yang Lain

    Bel pulang sekolah berdering nyaring. Amira sedang merapikan bukunya, saat Evan datang menghampiri. “Yuk,” ajak Evan sambil mengulurkan tangan. Amira hanya memberikan senyum tipis. Dia merapikan bukunya cepat, lalu beranjak. “Yuk,” jawab Amira tanpa menyambut uluran tangan Evan. Evan hanya bisa menatap tangannya yang terabaikan. Dia menghela sesaat, sebelum memutuskan untuk tidak menyerah. Evan memilih untuk mengejar Amira saja. Mereka pun berjalan bersisian menuju tempat parkir. “Mobil gue di sebelah sana,” ucap Evan sambil menunjuk ke sudut. Amira memicing, mencari mobil Evan. Dia sedikit terkejut mendapati cowok itu membawa mobil sport berwarna merah yang terlihat sangat keren. Jauh berbeda dengan mobil standar Raga, sedan berwarna hitam polos. “Ayo masuk,” ucap Evan saat mereka sudah sampai di dekat mobil. Tangan Evan terulur membukakan pintu untuk Amira, sebelum dia menyusul masuk ke dalam mobil. “Lo nyetir sendiri?” Evan terkekeh mendapati pertanyaan Amira. Dia lang

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 100. Perasaan yang Masih Ada.

    Amira tertegun menatap pintu kamarnya yang sepi. Dia jadi ingat kalau kemarin-kemarin pintu itu sering digedor oleh Raga. “Kenapa gue mikirin dia terus, sih?” Amira berseru kesal. Bahkan kemarin, saat Amira berpikir jika dirinya menikmati kencan dengan Evan, ternyata dia malah terus mengingat Raga. “Evan baik, tapi Raga itu beda.” Evan bersikap manis dan sopan selama mereka berkencan. Bahkan cowok itu selalu membantu Amira dan menanyakan apa yang Amira inginkan. Jauh berbeda dari Raga yang seringnya memaksa dan menyuruh. “Cuma enggak ada rasanya aja ….” Amira memang senang bersama Evan, tapi tidak ada perasaan lain lagi. Jika bersama Raga, Amira bisa merasa kesal, keki, canggung, emosi, atau bahkan malu dan salah tingkah brutal. “Sama Raga itu kayak makan permen banyak rasa. Enggak pernah ngebosenin.” Sial sekali. Amira mengutuk dirinya sendiri. Dia bukannya rindu, apalagi kehilangan. Pokoknya tidak. “Ck! Mending mandi! Nanti gue telat lagi!” Amira melemparkan bantal kes

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 101. Seseorang yang Dirindukan

    Kemarin, teman-teman Amira menatapnya khawatir. Setelah Amira menolak ajakan Evan, Michelle dan Febby langsung menginterogasi dirinya. “Lo enggak apa-apa?” Itulah pertanyaan yang diulang terus oleh Michelle dan Febby. Mereka ingin memastikan jika Amira baik-baik saja. Amira pun terpaksa berbohong agar mereka tidak khawatir. Amira mengatakan jika dia sedang tidak enak badan, dan ingin cepat pulang. “Apa ini yang orang-orang sebut dengan galau berat?” Amira memandang dirinya sendiri di cermin. Dia melihat kantong matanya yang menghitam. “Gue sampe enggak bisa tidur semalem!” Amira ingat lagi dengan pesan Sonya. Kalau hari ini Raga masih tidak masuk, berarti dia harus menjenguknya besok. “Apa gue bilang aja kalau Raga udah pindah sekolah? Biasanya juga apa yang gue liat itu bener.” Saat ini, Amira sedang menimbang kemungkinan. Seberapa banyak dia yakin dengan bayangan yang dilihatnya itu. Namun, bukannya mendapatkan jawaban, Amira malah semakin bingung. “Ah!” Amira menggerutu

    Last Updated : 2024-12-19
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 102. Dua Arah, Satu Waktu

    Suasana lorong Laveire cukup sepi karena jam pelajaran masih berlangsung. Amira berjalan santai di sana. Barusan Amira melihat guru yang akan mengajar di kelasnya, masih ada di dalam ruang guru. Amira jadi tidak perlu terburu-buru. “Nanti makan apa, ya?” Amira berjalan sambil melamun. Dia menunduk membayangkan waktu istirahat yang menyenangkan seperti kemarin. Setidaknya tanpa Raga, Amira masih memiliki teman. Kaki Amira sampai di tempat duduknya. Dia langsung duduk dan menatap ke depan. Amira melamun lagi, menunggu guru yang belum datang. “Lihat apa?” Pertanyaan yang sering Amira dengar. Suaranya juga tidak asing di telinga Amira. Bukankah itu seperti suara Raga? “Pasti karena ngantuk gue jadi berhalusinasi,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Raga kan udah enggak di sini. Ngapain juga gue pikirin dia terus. Orangnya enggak bakal balik juga.” Amira menguap beberapa kali sebelum memilih untuk menyandarkan kepalanya di atas meja. Dia menggunakan kedua tangan sebagai bantalan.

    Last Updated : 2024-12-19

Latest chapter

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 237. Melodi Persahabatan

    “Jangan ingkar janji.” Senyum Raga melebar sempurna. Dia mengangguk bersemangat sebelum membiarkan Amira pergi menjauh darinya. “Ayo kita berikan tepuk tangan yang meriah!” Sorak-sorai bersahutan saat Amira naik ke panggung. “Amira!” Hal itu membuat Amira cukup tertekan. Apalagi saat Amira mengingat kenyataan tentang skill menyanyi pas-pasan miliknya. “Gue harus coba.” Amira meyakinkan dirinya sendiri. “Karena kesempatan ini mungkin cuma datang sekali, yang pertama juga yang terakhir.” Amira tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi. “Come on! Sing with me!” Ketukan ceria terdengar. Amira pun mulai menyanyikan baris pertama dari “Price Tag” dengan penuh percaya diri. Saat itu juga, Raga tersenyum. Dia memandang Amira lekat. Harusnya Raga tahu kalau lagu yang dipilih Amira pasti yang seperti ini. “Lagu yang elo banget,” gumamnya pelan. Amira turun dari panggung setelah mendapatkan banyak tepuk tangan. Dia berjalan mendekat pada Raga. Mereka punya waktu k

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 236. Nada untuk Satu Nama

    “Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 235. Pertaruhan

    “Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 234. Mau Jawaban Apa?

    “Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 233. Suara yang Sengau

    “Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 232. Retak

    “Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 231. Rasa yang Berubah?

    “Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 230. Jarak yang Terasa

    “Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 229. Temenan Aja

    “Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status