Amira memandang batu nisan di hadapannya lama, sebelum air matanya mengalir perlahan. Rasa rindu menguasai diri Amira, membuatnya tak bisa menahan isak yang keluar. “Duh, harusnya gue enggak begini,” ucap Amira sambil menghapus air matanya di pipi. Selama ini, Amira sudah berusaha tegar. Dia berjanji tidak akan menangis lagi, seberapa pun beratnya hal yang harus dihadapi. Amira telah mengucapkan hal itu. Air mata, tidak akan menghasilkan apa pun selain keputusasaan.“Enggak apa-apa, kok. Nangis itu ngebuktiin kalau lo masih manusia.” Febby menepuk lengan Amira pelan. Dia duduk di samping teman, sekaligus adik kelasnya itu. “Kehilangan itu emang akan selalu jadi hal yang berat.” Raga membelai puncak kepala Amira lembut. “Dan enggak semua orang bisa sekuat lo.”Amira menahan tangisnya. Dia menarik napas dalam, tapi air mata itu terus keluar. “Cup, Amira. Enggak apa-apa, ada kita sama lo sekarang.” Michelle ikut berkaca-kaca melihat Amira yang menangis. “Iya,” sahut Evan menambahka
Amira menatap Raga lama. Dia memandang pacarnya itu. Tidak terlihat kebohongan sama sekali di kedua mata Raga. “Lo … liat gue dalam mimpi?” Raga menghela pelan. Dia mengangguk. “Pasti lo enggak percaya, tapi gue beneran ketemu lo di mimpi itu.”Raga mengangkat kedua tangannya sendiri, menatapnya, menggerakkan keduanya, lalu mendekat pada Amira.“Kayak liat kenyataan.” Tangan Raga membelai pipi Amira lembut, lalu mencubitnya pelan. “Terasa. Enggak ada bedanya sama sekarang.”Amira inginnya tidak percaya. Namun, dia mengalami hal yang sama. Apakah mungkin, mereka benar-benar bertemu? Dalam mimpi?“Gue juga!” Evan berteriak tiba-tiba. Dia menepis tangan Raga dari pipi Amira. “Gue juga mau lihat rumah Amira.”Evan kembali mengangkat tema yang sebelumnya sedang mereka bicarakan. Dia tak mau melihat Raga dan Amira yang berbincang berdua saja. “Gue juga mau liat!” Michelle ikut menghampiri. Dia berdiri di sebelah Evan. “Boleh, kan, Amira?”Amira tidak langsung menjawab. Dia … bukannya t
Entah kenapa suasana menjadi tidak nyaman. Di depan rumah lama Amira, mereka saling tatap. Dika masih kukuh ingin Amira merespon. Namun, Amira malah enggan dan memalingkan wajah. “Bilang ke Dina makasih udah bersihin makam keluarga gue,” ucap Amira singkat.Amira hendak berbalik. Dia tak ingin bicara lagi. Namun, tangan Dika menahannya. “Kak, minta nomor Kakak, dong. Biar kita bisa kontakan.”Seketika, tangan Dika ditepis. Raga, yang sejak tadi ada di samping Amira, tak bisa bersabar. “Siapa lo?” Tanya Raga, dingin. Berani-beraninya cowok itu memegang tangan Amira?Dika memicing sekilas. Dia menatap penampilan rapi Raga. Meski memakai kemeja, Raga tampak masih muda. Mungkin seumuran dengan Amira. "Lo enggak punya nama?" Sindir Raga, lagi. Kali ini tatapannya semakin tajam. Raga menunjukkan rasa tidak sukanya dengan sangat, sangat jelas. Dika menghela. “Nama aku Dika,” jawabnya. Seketika, Raga tertawa keras. Pandangannya mencemooh, menghina meski tanpa kata. Nama Dika sungguh men
“Tadi siapa?” Raga tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.Sejak tadi, Raga sudah mengomel dan meminta Amira untuk menjelaskan. Dia ingin tahu siapa cowok yang sok kenal sok akrab dengan pacarnya ini. “Nanti gue jelasin!” Seru Amira dengan tangan yang terus menarik Raga untuk berjalan. “Di mobil!”Bujukan Amira baru dituruti oleh Raga setelah gadis itu menunjuk tatapan orang-orang sekitar yang tertuju ke arah mereka. Sepertinya, Amira ingin cepat-cepat pergi dari sini karena tak mau terus ditatap. Raga pun terpaksa menekan kembali rasa ingin tahu yang sudah meledak-ledak.“Pokoknya, lo harus jelasin semuanya nanti!” Ancam Raga. Dia tidak menerima jawaban setengah-setengah. Amira dengan berat hati mengiyakan. Apa saja, yang penting mereka segera pergi dari sini. Penduduk desa semakin banyak yang lalu lalang karena baru pulang dari kebun atau sawah garapan mereka. Amira tak ingin ditatap lebih banyak, terlebih karena Amira mengenal semuanya. “Iya,” sahut Amira pelan. Di
Salah paham? Amira tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu. Sekarang dia jadi terdiam, membuat keheningan sementara di dalam mobil Evan. “Atau mungkin dulu kalian masih belum dewasa,” sahut Raga, yang tiba-tiba saja menjadi bijak. Evan sampai menoleh dan menahan tawa. Masih belum dewasa, kata Raga. Padahal selama ini sikap Raga yang jelas-jelas masih kekanakan di antara mereka semua. “Kenapa lo ketawa?” Tanya Raga, tak senang. Dia memicing tajam pada Evan yang mengejek meski tak mengucap apa-apa.Di tengah perselisihan Raga dan Evan, Amira sibuk merenung. Sekarang saat Raga dan membahasnya, Amira baru menyadari, jika kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi.“Raga bener.” Evan pun turut mengiyakan. “Tapi … bisa juga sekarang dia udah sadar. Mungkin dia baru sadar setelah kehilangan elo?”“Kehilangan, ya?” Amira menghela berat. Hal seperti itu mungkin saja terjadi. Meski Amira tidak mau banyak berharap. “Yah, jangan terlalu benci sama seseorang,” sambung Raga. Entah apa
“Secepatnya,” jawab Reynald. Reynald memasang wajah serius. Untuk sementara, Laveire memang bisa bertahan. Namun, tidak mungkin mereka kekurangan siswa terus-menerus. “Lebih cepat lebih baik, tapi kita juga butuh waktu untuk persiapan. Apalagi masalah keamanan. Berjaga saja. Jangan sampai kejadian kemarin terulang.” Raga berdecak keras. Dia merasa ada kontradiksi antara menjaga keamanan dengan acara besar-besaran. “Ya kalau mau aman enggak usah bikin acara terbuka, lah! Gimana, sih?!" Protes dari Raga membuat Reynald terdiam sesaat. Reynald bukannya tidak pernah memikirkan hal itu, tapi keadaan yang memaksanya menjalani keputusan ini. "Kita butuh keduanya, siswa juga keamanan. Menarik banyak orang, juga membuktikan jika Laveire masih sama berkualitasnya seperti dulu." Tangan Reynald menepuk bahu Raga pelan. Dia mengajak semua muridnya mendekat. Bibirnya membisikkan satu hal
Dahi Amira mengernyit. Dia terpaksa harus mencari tempat duduk untuk membaca ulang pesan mengejutkan dari Raga.“Putus?” Tanya Amira, bingung. Raga sepertinya marah karena Amira memaksa untuk membantu. Semua karena Amira tidak bisa bersabar. Amira hanya merasa jika dia perlu bertindak sebelum semuanya terlambat. Mereka bisa selamat di kejadian kemarin berkat keajaiban. Tidak ada korban jiwa. Itu pastinya sebuah mukjizat. Hanya saja, Amira tidak yakin akan ada keberuntungan untuk kedua kalinya. “Kita pacaran bahkan belum ada sebulan.” Amira berdecih sinis. “Dia beneran mau putus?”Ibu jari Amira mengirimkan pesan balasan. Dia mengeja setiap huruf. “Yakin?”Sedetik setelah pesan Amira terbaca, handphone miliknya langsung berdering. Amira melihat nama penelepon. Raga. “Amira, jangan gitu.” Raga memulai kalimatnya dengan nada memelas sesaat setelah panggilan mereka tersambung. Raga pastinya tidak ingin putus. Pacar Amira itu hanya menggertak saja agar Amira menurut. Raga seolah lupa,
“Dasar.” Amira menggeleng tak percaya. “Genit,” ucapnya dengan sengaja.Amira suka menggoda Raga dengan julukan yang dia berikan saat mereka pertama kali bertemu. Panggilan yang mampu membuat Raga mendelik kesal padanya. Amira tidak akan pernah mengaku pada Raga jika dia menyukai tatapan keki sang pacar.“Berhenti bilang gue genit!” Raga berucap sambil menunjuk. “Gue enggak genit, ya! Yang barusan itu memuji. Dan itu cuma gue lakuin ke lo.”Amira terkekeh pelan. Dia tidak menjawab. Hanya tangannya yang bergerak meraih tangan Raga, menarik pacarnya itu agar terus berjalan. “Ayo cepet jalannya. Ini udah siang.”Raga tidak tahu saja. Apa yang Amira lakukan barusan, juga hanya untuk Raga. Mana pernah Amira memuji cowok lain tampan? Baru Raga saja. Sebelumnya, Amira tidak pernah tertarik pada cowok atau pacaran. “Emangnya kita mau ke mana, sih?” Raga menggerutu karena Amira menarik tangannya cepat. “Harusnya dari pagi? Kenapa enggak bilang?”Pertanyaan Raga dijawab oleh tatapan sinis dar
“Jangan ingkar janji.” Senyum Raga melebar sempurna. Dia mengangguk bersemangat sebelum membiarkan Amira pergi menjauh darinya. “Ayo kita berikan tepuk tangan yang meriah!” Sorak-sorai bersahutan saat Amira naik ke panggung. “Amira!” Hal itu membuat Amira cukup tertekan. Apalagi saat Amira mengingat kenyataan tentang skill menyanyi pas-pasan miliknya. “Gue harus coba.” Amira meyakinkan dirinya sendiri. “Karena kesempatan ini mungkin cuma datang sekali, yang pertama juga yang terakhir.” Amira tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi. “Come on! Sing with me!” Ketukan ceria terdengar. Amira pun mulai menyanyikan baris pertama dari “Price Tag” dengan penuh percaya diri. Saat itu juga, Raga tersenyum. Dia memandang Amira lekat. Harusnya Raga tahu kalau lagu yang dipilih Amira pasti yang seperti ini. “Lagu yang elo banget,” gumamnya pelan. Amira turun dari panggung setelah mendapatkan banyak tepuk tangan. Dia berjalan mendekat pada Raga. Mereka punya waktu k
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.