KEPUTUSAN LUKAS!
"Tuan Lukas, dia tahu alamat rumah. Tapi demi Tuhan bukan aku yang memberi tahunya. Entah dari mana dia mendapatkannya, tapi rasanya bukanlah hal sulit menemukan rumah pengantin baru dari keluarga konglomerat sepertimu. Itu yang dia katakan," terang Davina."Lalu apalagi yang terjadi? Ceritakan semuanya, aku tak ingin kau berbohong. Aku sangat tak suka di bohongi dan kau tahu itu, Davina," tegas Lukas."Tuhan, semoga Tuan Lukas akan percaya padaku," batin Davina dalam hati. Dia meneguk ludahnya dengan kasar."Dia juga mengancam ku, Tuan Lukas," gumam Davina lirih."LIHAT MATAKU, DAVINA! JANGAN MENUNDUK DAN ULANGI DENGAN TEGAS APA YANG KAU KATAKAN TADI!" bentak Lukas. Lukas tahu Davina berkata jujur, namun yang di sayangkan Lukas adalah sikap Davina. Wanita itu terkadang tak percaya diri dan sering ketakutan. Hal yang membuat Lukas sangat membenci sisi lemah itu dari Davina."Dia mengancam ku, Tuan," jawab Davina dengan nada suara bergetPERINTAH TUAN LIEM DAN SEMUA PRASANGKA LUKAS!"Jika memang suatu saat pernikahan Ini harus selesai, maka aku harap itu akan menghabiskan kontrak bukan karena perdebatan di antara kita. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan hubungan kita, Tuan Lukas. Aku sangat mencintaimu," kata Davina dan Lukas pun tersenyum. Dia mencium dan melumat bibir Davina lagi. Mereka melakukan hubungan penuh gairah setelah melakukan perdebatan. Rasanya begitu lebih menggairahkan dan nikmat."Apa ini yang namanya bumbu dalam hubungan percintaan?" batin Lukas dalam hati setelah kuat bercinta bersama Davina. Lukas pun tertidur sejenak. Tiba-tiba dia merasa tangannya keram sekali, dia menoleh pantas saja tangannya sakit itu karena Davina terlalu lama tidur di atas lengannya. Dengan perlahan Lukas menggeser kepala Davina agar tidak membangunkan wanita itu, dia memandangi Davina dan berkata lirih."Ya, aku sangat tahu bagaimana dirimu dan aku tak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Maaf Da
PERINTAH TUAN LIEM DAN SEMUA PRASANGKA LUKAS!"Jika memang suatu saat pernikahan Ini harus selesai, maka aku harap itu akan menghabiskan kontrak bukan karena perdebatan di antara kita. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan hubungan kita, Tuan Lukas. Aku sangat mencintaimu," kata Davina dan Lukas pun tersenyum. Dia mencium dan melumat bibir Davina lagi. Mereka melakukan hubungan penuh gairah setelah melakukan perdebatan. Rasanya begitu lebih menggairahkan dan nikmat."Apa ini yang namanya bumbu dalam hubungan percintaan?" batin Lukas dalam hati setelah kuat bercinta bersama Davina. Lukas pun tertidur sejenak. Tiba-tiba dia merasa tangannya keram sekali, dia menoleh pantas saja tangannya sakit itu karena Davina terlalu lama tidur di atas lengannya. Dengan perlahan Lukas menggeser kepala Davina agar tidak membangunkan wanita itu, dia memandangi Davina dan berkata lirih."Ya, aku sangat tahu bagaimana dirimu dan aku tak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Maaf Da
MENDAFTARKAN PERNIKAHAN?"Thomas sudah mengatakan kepadaku Davina menyusulmu ke sana. Ada apa?" tanya Tuan Liem."Tidak, Pa. Dia hanya merindukanku saja, maklum lah kami pengantin baru. Dia belum terbiasa di rumah sendiri, jadi tidak ada masalah besar kok," ujar Lukas berkilah."Apa kau mau mencoba melawanku sekarang? Apa kau berbuat macam-macam di belakangku?" sahut Liem."Apakah mungkin aku melakukannya, Pa? Aku sangat tahu rasa terima kasih, apalagi selama ini kau membesarkanku dengan sangat baik," ujar Lukas. "Bagus jika kau masih memiliki pemikiran seperti itu. Kau harus tahu diri dari mana asalmu dan kau harus sadar diri, bagaimana kalau tidak ada. Aku dan Mamamu sekarang ini pasti kau akan terlunta-lunta di jalanan," ujar Tuan Liem."Iya, Pa. Aku sangat tahu itu jadi aku akan mengucapkan terima kasih sekali karena kau telah mengasuhku selama ini," ucap Lukas dengan senyum dinginnya."Apa ada sesuatu yang akan Papa bicarakan kepadaku? Mengapa Papa memanggilku begitu mendadak? A
PERCERAIAN DI DEPAN MATA?"Aku akan memikirkannya lagi. Untuk hari ini aku merasa cukup. Jadi pergilah! Kau bisa keluar sekarang, aku masih ada beberapa pekerjaan," tegasnya."Baiklah kalau begitu, Pa. Permisi," pamit Lukas, setelah itu dia keluar ruangan. Dia menutup pintu dengan perlahan, saat itu sepersekian detik dia menyadari sesuatu hal yang sangat penting. Lukas langsung terdiam, jantungnya berdetak. Dia menggelengkan kepalanya perlahan."Tak mungkin. Tak akan mungkin Papa bertindak sejauh ini. Tapi, kenapa? Kenapa mendadak dia mengusirku seperti ini jika bukan itu alasannya. Tadi dia bertanya kepadaku apakah aku sudah mendaftarkan pernikahan kami atau belum. Apakah ini tanda bahwa dia menginginkan aku dan Davina bercerai? Apalagi ucapan itu di katakan setelah dia mendapatkan telepon dari Mama Davina," batin Lukas dalam hati. Sedikit banyak dia sudah sangat hafal dengan watak Papa angkatnya itu. Berbeda dengan ibu angkatnya atau Mama angkatnya yang memang dari keluarga Luka
DIANTARA PILIHAN BERTAHAN ATAU LEPASKAN! Davina dan memeluknya dengan erat. Terbesit rasa kasihan di dalam hatinya, dia tak tahu lagi bagaimana nasib wanita ini jika memang papanya sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Davina. Sungguh perasaan Lukas merasa sangat bersalah sekali, entah bagaimana hancurnya hati Davina nanti."Bagaimana? Bagaimana jika saat aku akan menceraikannya tanpa pernah mendaftarkan pernikahan kami. Apakah adil? Rasanya bukankah itu lebih baik dari pada aku mendaftarkan pernikahan kami? Statusnya akan kembali menjadi seorang yang lajang, bukanlah seorang janda. Tapi di mana nuraniku?" kata Lukas dalam hati sambil mengelus rambut Davina perlahan."Padahal aku sudah merusaknya dengan sangat kejam. Maaf Davina, maaf. Bukan aku tak mencintaimu tapi bagaimana lagi? Keadaan lah yang harus membuat kita seperti ini. Jika memang perpisahan itu terjadi tentu itu bukan mau dan inginku, Davina. Dan aku harap semoga suatu saat kau mengerti," lanjutnya sambil memandang
THOMAS SAHABAT TULUS? ATAU MODUS? Keesokan harinya tepat pukul 07.00 setelah Lukas berolahraga, Thomas pun sudah datang. Dia melihat keadaa rumah yang rapi, bahkan yang mengejutkan Thomas beberapa perabot nampak asing. Berwarna gold dan beberapa bunga berwarna pink."Pasti ulah Davina," batin Thomas, dia tak menyangka pernikahan CEO dan Davina berjalan selancar ini. Padahal awalnya Thomas sempat berburuk sangka dan mengira pernikahan Davina serta Lukas hanya sandiwara saja. Dia melihat sekeliling nampak sepi, tak ada suara Davina."Dimana Davina, Tuan Lukas?" tanya Thomas."Sepertinya dia sudah berangkat lebih pagi ke kantor. Dia tahu jika kau akan ke sini," jawab Lukas."Mengapa dia langsung peka sekali dan pergi? Sungguh au tak mengira dia seperti itu," gumam Thomas yang masih bisa di dengar oleh Lukas."Ya, memang begitulah dia. Dia adalah wanita yang baik dan sangat peka, dia yang selalu mengertiku," ujar Lukas memuji Davina."Ada apa? Mengapa kau ke sini? Kata Davina ada sesua
SEBUAH KEPUTUSAN MENENTANG KELUARGA. APAKAH DEMI DAVINA?"Tuan, jika memang suatu saat kau memutuskan dengan keputusanmu sendiri, apalagi dewan komisaris juga sudah melihat betapa kerasnya kinerjamu selama ini. Rasanya aku yakin kau mampu bersaing dengan Tuan Sean secara sehat," terang Thomas."Apa maksudmu?" selidik Lukas."Apakah kau mau menghianati Papaku?" sambungnya setengah menyindir. Terdengar Thomas menghela nafasnya panjang, dia tersenyum kecut."Aku bukan mengkhianatinya, Tuan Lukas. Hanya saja aku berkata apa yang sebenarnya aku lihat. Tidak munafik Tuan, di dunia ini kita bekerja untuk mendapatkan uang apalagi keadaan orang tuaku sudah tua dan sakit-sakitan. Bukankah kau sendiri juga tahu bagaimana keadaanku? Kau yang selalu mendukungku sejak dulu. Saat ini aku bekerja dan aku pun harus mengirim banyak uang untuk mereka setiap bulan untuk ke rumah sakit dan makan," jelas Thomas."Mau kemana arah pembicaraanmu? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Lukas belum paham
Kedatangan Lukas di Jamuan Makan Malam "Ck! Memang tak bisa rasanya menyimpan rahasia barang sebentar saja di sini ya," sahut Tuan Liem. "Lalu apa masalahnya? Jika itu benar kau akan di pindah? Apa ada hal yang membuatmu tak suka? Kau jangan bertingkah, Lukas. Bukankah selama ini tugasmu memang berpindah-pindah? Kau berharap apa dari perusahaan ini?" tanya Tuan Liem. "Kau harus ingat statusmu," ucap Tuan Liem. Hal itu membuat Lukas tersenyum pahit, padahal selama ini dia tak pernah menuntut apa-apa dari kedua orang tuanya angkat itu. Bahkan dia sangat bersyukur sekali bisa ada di posisi ini. Tapi entah mengapa ucapan Tuan Liem kali ini membuatnya sedikit sakit hati. Apalagi dengan nada bicara Tuan Liem seperti itu, berkata seolah-olah Lukas bukanlah keluarga dan orang lain. "Pa, apa Papa lupa statusku? Bagaimanapun juga aku ini masih bisa dikatakan sebagai pewaris karena memiliki garis keturunan langsung dengan Eyang. Sedangkan Papa adalah menantunya," jelas Lukas. "Apa maksud
EXTRA PART"Tuhan terima kasih! Terimakasih!" pekik Lukas sambil terus memeluk Davina, dia menciumi Davina kemudian mengelus perlahan Davina ya memang sedikit menggendut."Aku pikir kau gendut karena terlalu banyak makan, ternyata kalau hamil," gumam Lukas. Davina langsung mendelikkan matanya ke arah Lukas."Oh kalau aku gendut aku tak cantik lagi? Begitu?" protes Davina. Lukas langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menyadari kesalahannya."Tidak Sayang, tidak. Kau mau gendut atau kurus tetap cantik, kau makin montoq dan menggairahkan saat gendut. Apalagi saat ini, kau sedang mengandung buah cinta. Mari kita periksa, kita harus segera memeriksakan kehamilanmu, Davina," jawab Lukas."Tapi benar ka, Tuan Lukas? Aku masih cantikkan?""Tentu dong. Cantikmu bertambah berkali kali lipat saat hamil, jadi jangan sampai bayi ini kenapa-kenapa ya, Sayang. Dia akan menjadi seorang yang hebat kelak karena memiliki orang tua seperti kita. Aku pastikan itu, jika dia wanita akan cantik se
KEHAMILAN MEMBAWA BERKAH!TAMAT!"Aku takut kecewa, Bu. Bagaimana kalau ini hanya sakit biasa" tanya Davina."Kalau memang kau tak hamil maka tak masalah. Toh kalian masih punya banyak waktu yang penting, kita tespek dulu agar jelas semuanya. Ibu yakin kau hamil," jawab"Entahlah, Bu. Aku takut," kata Davina."Aku takut banyak berharap. Karena selama ini aku juga tak kunjung hamil," sambungnya lagi.Tak lama Bi Sun pun kembali dengan membawa tespek yang sudah dipesan oleh Nyonya Rita. Davina ingin mengetesnya, dia sudah tak sabar sekali."Bu, bolehkah aku mengetesnya sekarang?" tanya Davina."Sebenarnya yang paling valid adalah besok pagi, Nak. Pipis pertamamu setelah bangun tidur. Tapi jika kau memang penasaran dan jujur Ibu pun juga sangat penasaran sekali. Bagaimana kalau kita cek kali ini saja? Kalau memang haslnya samar kau bisa mengulang lagi besok pagi," usulnya. Davina mengangguk setuju dengan usul Nyonya Rita."Baik, Bu," kata Davina.Untung saja Davina belum terlalu banya
Pergi membeli tespek "Kau kenapa?" tanya Ibu Davina melihat putrinya sedikit berubah. "Kau nampak tak sehat, Sayang? Kau sakit ya? Pucat sekali," sambungnya. "Benarkah aku nampak pucat, Bu?" sahut Davina. Nyonya Rita menganggukkan kepalanya. "Pantas saja Tuan Lukas khawatir," batinnya lagi. "Aku merasa tidak enak badan dari semam, Ma. Sudah beberapa hari mungkin namun aku terus menahannya. Aku rasanya seperti terkena terus-terusan masuk angin. Karena beberapa malam ini aku selalu lembur malam. Aku setiap pagi akan selalu berkali-kali muntah, entah mengapa aku merasa akhir-akhir ini begitu parah," jelas Davina. "Apa kau sudah periksa? Jangan-jangan kau terkena asam lambung. Kau setres karena pekerjaan? Apakah kau juga bekerja berat akhir-akhir ini?" tanya Nyonya Rita sambil menghampiri putrinya yang berada di sofa ruang tamu. Davina menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak, Ma. Aku tidak pernah punya riwayat sakit maa
KAU KENAPA, DAVINA? "Lalu? Kenapa kok diam begitu tiba-tiba? Aku kira aku tak menginginkan anak dariku," kata Lukas sambil cemberut. "Tentu itu tidak mungkin, Tuan Lukas. Aku juga sangat mencintaimu dan memiliki anak darimu juga adalah salah satu impianku. Tapi bukankah ini aneh sekali, Tuan Lukas?" tanya Davina menoleh ke arah Lukas dengan wajah yang susah di artikan. "Aneh? Apanya yang aneh?" sahut Lukas. "Jika dipikir-pikir kita hampir melakukannya setiap hari. Bahkan kau tak pernah melakukan itu menggunakan pelindung kan? Tapi kenapa aku belum hamil juga ya?" gumam Davina. Lukas mengelus kepala Davina. Bukan tanpa alasan dia sangat yakin jika Tuhan pastilah tahu mana yang terbaik dan kapan waktu yang tepat untuk mereka memiliki anak. Karena kalau di pikir lagi memang benar apa yang dikatakan Davina itu. "Waktu Tuhan pasti yang terbaik, Davina. Apakah itu berarti kau mau kan memiliki anak dariku?" tanya Lukas.
ANAK DARI DAVINA? "Sekarang urusan kita sudah selesai kan? Ayo kita cepat masuk dan selesaikan apa yang kita lakukan di pagi hari lagi," aja Lukas. "Lagi?" tanya Davina. Lukas langsung mengangguk denga semangat. "Tentu! Kenapa kau terlihat seperti tidak tahu apa-apa dan meragukan kemampuanku begitu. Sudah aku bilang padamu untuk menyelesaikannya sekali di pagi hari tapi kau menundanya, aku baru keluar sekali. Kurang dua kali," bisik lukas sambil memeluk Davina. "Ck! Baiklah. Karena itu permintaanmu maka aku akan lakukan dengan senang hati, Tuan Lukas. Andai Ibu tahu apa alasan ku terlambat tadi dua puluh menit adalah kau harus melayani Tuan Lukas, akankah dia mengomel?" gumam Davina. "Tak akan berani," sahut Lukas mengecupnya. Ya, kini Lukas memang memiliki kebiasaan baru jika badannya pegal maka dia akan meminta Davina untuk memijatnya setelah bercumbu mesra. Mereka pun segera mengendarai mobil itu pulang ke rumah. Davina
AYO KITA SELESAIKAN LAGI"Aku tidak bisa merasa lebih baik tentang hal itu, kau akan menjadi Ibu suatu saat nanti. Jadi kau tak akan pernah mengerti bagaimana sakitnya hatiku. Tidak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya, aku hanya ingin kau tahu saja apa alasanku memperlakukanmu," sambungnya. Davina tersenyum sinis."Tunggu saja sampai aku merasa kasihan padamu," ujar Davina kekeh.Jujur saja, sebenarnya hatinya sudah terusik sekali ingin segera membantu Mama angkatnya tapi mengingat lagi semua perlakuan lama angkat yang selama ini membuatnya cukup sakit hati. Apalagi Mama angkatnya juga tak pernah mengatakan maaf sekalipun, baru kali ini dia mendengar ucapan maaf dari mama nya.Tnpa diduga tiba-tiba mama angkat Davina berdiri dari kursinya. Kemudian di langsung menjatuhkan dirinya, dia terduduk di lantai bersimpuh. Ini adalah hal yang mustahil dilakukan oleh mama angkat Davina jika tidak dalam situasi yang sangat mendesak dan itu sempat membuat Davina terpe
PERTEMUAN DENGAN MAMA ANGKAT!"Kau tahu karena ulahmu buku tabungan barang-barang rumah tangga dan semuanya disita! DAN ITU ULAHMU, KAN?" cerca Mama Davina."Ulahku?" tanya Davina heran."Ya. Ka kan yang membuaat semuanya?" tuduh Mama Angkat Davina."Hahaha. Kau koyol sekali, Tante. Menduhku tanpa bukti. Baiklah kalau begitu, tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap di sini sambil mendengar hal-hal yang menggangguku. Sepertinya kau belum mengerti jika ada kata-kata yang mengganggu telingaku. Sekali lagi aku akan pergi dan aku tidak berkenan mendengarkan umpatan dari mulutmu," tegas Davina."Jadi sebaiknya kau hati-hati!" lanjutnya. 'Glek' mama angkat Davina langsung meneguk ludahnya dengan kasar. Dia tak menyangka anak angkatnya sekarang kini sudah berani berbicara kepadanya seperti itu. Mama angkat Davina terdiam dan memperhatikan Putri angkatnya itu. Dia melihat semua yang dipakai putri angkatnya adalah barang-barang branded salah satu desainer ternama. Bahkan dia mengenakan tas
DAVINA DAN TITIK BALIKNYA! "Pokoknya tidak, Tuan Lukas! Tidak ada acara bercinta siang atau sore hari. Pokoknya bercinta hanya akan dilakukan pada malam hari. Karena aku akan keluar untuk bermain di siang hari. Asal kau tahu saja, Tuan Lukas. Aku sudah menyiapkan banyak baju untuk outfit beitupun dengan bajumu. Seperti layaknya pengantin baru! Ini sangat tidak adil jika kita pergi ke sana dan tidak melakukan apa-apa," protes Davina. "Ya, ini tidak adil. Aku juga merasa sama sekali tidak adil, Davina. Karena aku lebih suka memelukmu seharian dari pada harus berlarian di tepi pantai," sahut Lukas mengeratkan pelukannya sampai dada Davina menempel di badannya. "Kau kan bisa melakukannya kapanpun, Tuan Lukas," jawab Davina. "Ya, tapi aku selalu merasa kurang. Bahkan rasanya satu juta kali lebih banyak daripada waktu luang yang bisa aku lakukan di sana akan ku habiskan untuk memelukmu seperti ini," kata Lukas. "Tapi itu tidak akan berhasi
PERGI BULAN MADU KE MALDIVES LAGI! "Sekarang, makanlah! Aku sudah menyiapkannya," perintah Davina. "Kau tidak berencana memberi aku makan ini lagi kan?" tanya Lukas. "Kenapa memangnya?" sahutnya. "Apa kau lupa, Davina? Kau pernah memberiku makanan ini, kau berkata memasaknya dengan spesial. Kau juga bilang melakukan semua untuk melayaniku dengan sempurna. Tapi apa nyatanya? Kemudian kau menghilang dan pergi begitu saja kan? Kau ingat tidak terakhir kali kau memberi makanan apa? Ini kan?" cerca Lukas. "Kau mengatakan makanan ini penuh kenangan dan memorial. Dan benar, makanan ini juga yang membuatku trauma kehilanganmu, Davina. Karena apa yang kau katakan saat itu sangat membekas dalam benak dan ingatanku. Dimana aku menjadi frustasi dan hampir gila karena kau meninggalkanku setahun lalu dari rumah ini," sambung Lukas. "Sungguh aku takut itu akan terulang lagi, Davina. Aku tak ingin itu terjadi, Davina. Pertama kau merayuku