Sebuah mobil sedan keluaran tahun 2020 dengan kelir cokelat berbelok ke pelataran sebuah rumah besar. Bangunan itu mengaplikasikan arsitektur melayu yang begitu kental. Sebagian besar bangunan tersusun dari kayu yang tertata rapi dan penuh nuansa etnik. Beberapa pohon besar juga sengaja ditanam di sekitar rumah untuk menambahkan kesan asri.
Airel telah memarkirkan mobilnya tepat di bawah naungan salah satu pohon yang besar. Ia keluar dari kereta besinya itu diikuti oleh Airen dan Mira. Seperti biasa, mata Airel pasti menyisir daerah sekitarnya. Entah apa yang ia cari. Setiap berada di tempat yang pertama kali ia kunjungi, sikapnya begitu mengerikan. Ia berjalan perlahan dengan pandangan yang tajam, muka tanpa ekspresi dan kedua tangan yang saling menggenggam.
Airen yang sudah terbiasa dengan sikap kakaknya memilih untuk mencari kesibukan sendiri. Ia mengeluarkan kamera dari tasnya dan mencari objek yang bisa difoto. Ia sangat gemar hunting foto di pagi hari. Apalagi pagi itu cuacanya begitu cerah.
"Kenapa kita tidak langsung masuk saja?" tanya Mira ke Airen.
"Kita harus menunggunya," jawab Airen sambil menjelingkan matanya ke Airel yang masih mengamati sekeliling rumah.
"Apa ia selalu begitu?"
Airen mencebikkan bibirnya, "Ya, begitulah."
Mira pun menghampiri Airel. "Apa tidak sebaiknya kita langsung masuk saja?" tanya Mira setengah ragu.
Airel menoleh ke arah Mira. Konsentrasinya teralih karena pertanyaan tersebut.
"Bukankah kita masih punya banyak waktu?"
"Aku hanya merasa kita tak perlu bertele-tele," bela Mira.
"Bukan berarti harus segegabah dirimu, kan?" sanggah Airel.
"Lalu kenapa kita harus berlama-lama di sini?"
Airel terlihat tak sepaham dengan Mira. Ia berjalan mendekati dan mencondongkan tubuhnya ke Mira. Tatapan tajamnya membuat Mira sedikit terintimidasi. Lalu Airel bergerak perlahan mengitari tubuh Mira yang mendadak seperti kaku.
"Kau berbeda denganku. Kau melihat segala sesuatu secara umum. Sedangkan aku melihat segala sesuatu dari sisi detilnya. Kau tahu kenapa?" tanya Airel dengan nada lirih ke kuping Mira.
Mira tak bisa menjawab. Bibirnya mendadak kering. Ia juga tidak tau kenapa keberaniannya tiba-tiba hilang dan didominasi oleh Airel.
"Itu karena hal-hal detil akan selalu memberikan hasil dan penjelasan yang maksimal," Airel menjawab pertanyaannya sendiri.
Airel langsung berdiri tegak. Ia sadar sikapnya membuat Mira sedikit takut. Kini ia merubah air mukanya menjadi berseri-seri. Mira heran melihat perubahan sikap Airel yang mendadak dari seram menjadi ceria.
"Ayo kita masuk!" ajak Airel sambil menggerakkan tangannya untuk mengisyaratkan bergerak mendekati rumah.
Airen bergerak mendekati Airel dan menyejajarkan langkahnya. Sedangkan Mira berjalan menunduk di belakang mereka.
"Oh, ya. Bagaimana kau bisa mendapatkan kunci rumah Anggi, Mir?" tanya Airen sambil memotret rumah besar itu.
"Oh itu, aku... Aku mendapatkannya dari Kak Maher." Mira terlihat menjadi kikuk, "Kak Edi memberikan kunci cadangan rumahnya kepada Kak Maher. Seperti yang kubilang, mereka memang sangat dekat apalagi selalu mendapatkan kerjaan bareng."
"Saat ini kita seperti masuk rumah sendiri dengan cara sembunyi-sembunyi," Airel tertawa pelan.
"Kau tak mencurinya, kan?" ledek Airen ke Mira.
"Tentu saja tidak. Aku meminjamnya," jawab Mira gugup.
"Apa kau yakin mereka tidak akan pulang sebelum kita selesai mencari petunjuk di rumah ini?" tanya Airen untuk memastikan.
"Kak Edi ada pertemuan dengan klien nanti siang. Kak Maher sudah memastikan kalau Kak Edi akan terus bersama dengannya hari ini. Sedangkan Anggi, ia ada kelas hari ini sampai sore. Aku juga telah meminta salah satu teman sekelasnya untuk memantaunya."
"Lumayan juga rencanamu," ledek Airen lagi.
Mereka pun memasuki rumah besar itu. Pandangan Airel dan Airen menyisir seisi ruangan. Berbeda dengan Mira yang hanya terlihat biasa saja. Setidaknya ia bukan pertama kali masuk ke rumah itu.
Rumah besar yang berantakan. Itu kesan pertama yang ada di kepala Si Kembar. Di ruang tengah masih banyak makanan dan snack yang masih berserakan, beberapa botol minuman keras berbagai merek juga masih terisi meskipun sudah terbuka. Sebuah seloki tergeletak begitu saja di atas karpet dan televisi juga masih menyala.
Beberapa saat kemudian Airel mematung di dekat dinding yang terdapat pajangan foto keluarga. Ia begitu heran dengan orang-orang yang ada dalam gambar tersebut. Ada tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Airel mengenal dua di antaranya.
“Itu pasti Anggi dan Edi," Airen mendekati Airel dan menunjuk orang yang ia maksudkan.
"Mungkin," jawab Airel ketus.
"Apa ini keluarga mereka? Lalu siapa anak kecil itu?” tanya Airen.
“Iya. Itu keluarga mereka," jawab Mira, "Anak yang paling kecil bernama Chandra. Itu adik mereka.”
"Di mana Chandra sekarang?” tanya Airel.
"Sudah meninggal," jawab Mira singkat.
"Ada yang kau ketahui tentang Chandra?" selidik Airel.
Mira menatap ke arah Si Kembar hingga pandangan mereka beradu. “Chandra mengalami kelainan mental, ia sulit berkomunikasi dan mengekspresikan kemauannya. Saat ia menginginkan sesuatu, maka harus dituruti. Bila tak terpenuhi, ia selalu menyiksa dirinya sendiri. Ia akan berguling-guling, menggigit jarinya, bahkan memukul-mukul kepalanya sendiri," urai Mira.
"Apakah keluarga ini menerima kehadiran Chandra dengan baik?" tanya Airel lagi.
"Setauku Anggi sangat menyayanginya. Ia sangat terpukul saat kehilangan Chandra untuk selamanya. Berbeda dengan Kak Edi, ia merasa Chandra adalah penyebab awal rusaknya keluarga ini. Pertengkaran kedua orang tua mereka sering terjadi karena saling menyalahkan tentang kelainan yang dialami Chandra. Namun setelah Chandra meninggal karena kecelakaan, pertengkaran pun bukannya reda malah semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya kedua orang tua mereka memilih bercerai.”
Airen berjalan pelan sambil memegang dagunya. Ia menuju ke arah Mira lalu berbalik lagi. "Kasihan juga Anggi. Namun ada yang menggelitik bagiku. Jika Edi membenci Chandra, kenapa masih ada foto ini di rumahnya?"
"Aku tidak tau," jawab Mira.
"Penjelasan yang masuk akal adalah Anggi yang mempertahankan foto ini. Lagi pula jika kita melihat letaknya, foto ini tidak akan mudah terlihat dari ruangan depan atau tengah. Edi memang seorang Arsitek, tapi ia tak mementingkan detil letak foto ini. Itu artinya cerita Mira mungkin saja benar," jelas Airel.
"Kenapa aku harus mengatakan hal yang salah?" protes Mira.
"Kau tak perlu tersinggung," sela Airel.
Mira terdiam.
Mira dan Si Kembar pun memutuskan untuk menyusuri kamar Edi. Mereka melihat kunci masih tergantung di pintu kamar. Mereka pun masuk dan mendapati kamar bak kapal pecah. Bau apak menguar memenuhi kamar. Banyak barang tidak terletak pada tempatnya. Mereka juga menemui beberapa majalah dewasa di atas tempat tidur dan beberapa kaset porno produksi Prancis di atas nakas.
"Ternyata masih ada orang yang menggunakan barang seperti ini di era digital," cibir Airen.
“Aku tidak peduli mengenai itu. Dia memang lelaki mesum, jadi bukan hal yang aneh," sanggah Mira. Ia menutup mulutnya dengan sapu tangan, "Aku hanya heran bagaimana bisa ada seorang Arsitek sejorok ini? Padahal penampilannya sangat necis."
Airel tersenyum tipis. “Dia terbiasa dengan kehidupan enaknya dulu."
"Sebentar!" Mira seperti mengingat-ingat. "Seingatku mereka memiliki asisten rumah tangga tidak tetap. Semacam jasa tukang bersih online. Ia hanya akan kemari jika Kak Edi menyuruhnya datang."
"Menarik!" seru Airel.
Mereka pun memutuskan untuk memeriksa kamar Anggi di lantai dua. Berharap kamar tersebut juga tidak dikunci. Sesampainya di atas, tak terlihat ada kunci tergantung di pintu kamar. Mira berinisiatif untuk mengeceknya. Barangkali hanya tertutup rapat. Prediksinya tak keliru. Kamar itu tidak terkunci.
"Tunggu!" perintah Airel saat Mira sudah membuka sedikit pintu kamar itu.
"Kenapa?" tanya Mira heran.
"Kunci pintu itu rusak. Pintu ini pernah dibuka paksa. Lihatlah lubang kuncinya!"
Mira mendengus pelan, "Itu tidak penting, Rel. Isi dalamnya jauh lebih penting." Mira langsung membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
Saat pintu kamar terbuka, Mira tampak syok. Roman ngeri kentara di wajahnya. Ia perlahan berjalan mundur sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Si Kembar mengerti mengapa sikap Mira demikian.
Airel dan Airen saling bertatapan sambil mengeluarkan sarung tangan dari tasnya.
"Kita tak boleh merusaknya," ujar Airel tersenyum sambil mengenakan sarung tangannya.
Si Kembar melangkahkan kaki masuk ke kamar Anggi. Mira yang terlihat masih gugup memberanikan diri masuk mengekori mereka. Tampak kamar yang berantakan untuk ukuran seorang perempuan. Bantal dan guling berserakan di lantai, seprai tempat tidur juga acak-acakan.Ada yang menarik perhatian Airel. Matanya melihat selembar bed cover berwarna putih. Pada bagian tengahnya terdapat bercak bekas cairan yang sudah mengering dan agak pudar kekuningan. Ia memegang sisi lain kain itu untuk memastikan pandangannya lebih dekat. Kini arah netranya beralih ke Airen.“Sepertinya ini bekas sperma,” ucap Airel.Airen mengangguk pelan seperti paham maksud kakaknya. Sedangkan Mira yang mendengar kalimat itu tak bisa menyembunyikan wajah tak percayanya.Airen melangkah ke sisi lain kamar sambil memotret, berharap objek jepretannya bisa dijadikan sebagai petunjuk. Ia menemukan sebuah silet di lantai. Bagian sisi silet itu ada darah yang mengering. Tak
Airen mengakhiri pembicaraannya dengan Nuella. Dahinya sedikit berkerut sembari memasukkan ponsel pintarnya ke dalam tas. "Apa kita perlu menemuinya?" tanya Airen kepada Airel. Airel menyibakkan rambut dan matanya lekat menatap Airen. "Kurasa tidak. Dia hanya sebatas informan pelengkap untuk menyinergikan analisis kita. Aku yakin dia sama sekali tak terlibat dalam kasus ini. Lalu, informasi apa yang kau dapat dari Nuella?" Airen seperti menghindari tatapan saudara kembarnya. Kini wajahnya beralih ke arah lain dengan pandangan yang kosong. Ia melepaskan napas beratnya dan mulai bercerita. "Dulu Anggi adalah gadis yang ceria dan pintar. Beberapa bulan terakhir perubahan sikapnya begitu drastis. Ia tak lagi mau bergaul dengan siapa pun." Airen terdiam sejenak seperti ada hal lain yang mucul di pikirannya. Ia lalu melanjutkan lagi ceritanya. "Kata Nuella, dia tak lagi melihat ketertarikan Anggi saat kuliah. Anggi sering dimarahi dosen karena tidak fokus dalam kelas. Sela
Airel menghidupkan mobil dan menyalakan mesinnya. Ia harus segera menemui Inspektur Yoga dan menyelesaikan kasus Anggi secepat mungkin. Namun saat Airen masuk ke dalam mobil, ia mengisyaratkan untuk tidak langsung pergi. Airen meletakkan buku merah ke pangkuan Airel. "Coba kau lihat halaman selanjutnya, kemudian hubungkan dengan cerita Mbok Ina dan Mira. Bagaimana pendapatmu?" Airen melontar tanya pada kembarannya. Airel pun membuka buku tersebut dengan raut sedikit heran. Matanya lekat menatap kata per kata dari isi halaman itu. Gadis yang apik dalam memainkan perannya sebagai manusia bodoh. Bodoh karena memendam rasa dan tak berani mengakuinya. Bodoh karena menutup mata dari peduli orang lain padanya. Berusaha mengaku kokoh dan berpijak pada kaki sendiri. Padahal ia hanya mengalah dengan keadaan tanpa pernah berusaha. Benar-benar BODOH!! Aku ben
"Sebaiknya kita menunggu hasil penyelidikan TKP terlebih dahulu. Aku sebenarnya tidak tertarik untuk berdeduksi dengan bukti yang belum terkonfirmasi," ujar Airel. Inspektur Yoga tersenyum simpul. "Kurasa bukan jadi masalah jika sekedar beranalisa. Kalian juga bukan bagian dari penyidik resmi, tapi hanya pembuka kasus ini. Jawaban kalian tidak langsung jadi sebuah keputusan." Airen menatap sinis ke Inspektur Yoga. Rasa tersinggung terukir di wajahnya. "Apakah itu pernyataan untuk menguji?" tanya Airen dengan menaikkan salah satu ujung bibirnya. Inspektur Yoga tertawa pelan dan berdiri dari duduknya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan meletakkannya di meja. "Ini beberapa gambar yang ditangkap oleh juru foto penyidik. Aku meminta salinannya untuk kalian." Airen membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Ia melihat setumpuk foto barang bukti dan bagian-bagian TKP yang telah diabadikan. Senyuman sinis lagi-lagi lancang tercipta di bibirnya. Ia menyodo
Inspektur Yoga heran melihat foto yang ada di kamera Airen. "Apa maksudmu dengan sebuah foto keluarga?""Jangan bilang pelakunya adalah Kak Edi?" cecar Mira lagi."Tepat, memang dialah pelakunya," jawab Airen tegas.Mata Mira terbelalak sempurna. "Apa? Jadi Kak Edi yang ...." Wajahnya menjadi lesu. Lehernya pun seperti tersekat dan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia masih tak percaya Edi tega melakukan pelecehan itu.Airel berdiri sambil saling melipatkan kedua tangannya di dada. "Ya, dia yang melakukannya. Hanya dia yang memiliki peluang besar berbuat demikian. Jika prediksiku tidak keliru, maka sperma itu adalah miliknya. Sidik jarinya juga akan bertebaran di kamar Anggi."Inspektur Yoga setengah mengacungkan telunjuk—bukan untuk menunjuk tapi seperti berpikir—dan menggerakkannya pelan sambil menyipitkan mata. "Kenapa kalian bisa memastikan Edi adalah pelaku pelecehan itu? Bukankah orang lain juga memiliki peluang yang sama untuk mel
Mira sudah tak kuat lagi membendung air mata. Bibirnya juga ikut bergetar hebat. Ia seperti merasakan apa yang sedang Anggi alami. Susah payah ia berusaha berbicara melawan takutnya. "A-apa Anggi benar-benar diperkosa saudaranya?" tanyanya dengan suara gemetar. Airel menangkap kesedihan yang begitu mendalam dari suara Mira. "Berusahalah tenang. Kau harus menerimanya. Jika kau tak bisa mengendalikan dirimu maka bagaimana kau bisa menolong sahabatmu," ujar Airel menenangkan. "Kita harus sadar segala kejahatan bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk diri kita sendiri. Kita hanya manusia yang tak bisa memastikan bagaimana suatu kejadian bisa tercipta. Itulah sebuah misteri," timpal Inspektur Yoga. "Begitu juga Edi, ia hanyalah manusia biasa." "Andai bisa memilih, kurasa tak ada yang mau seperti ini. Namun kehidupan tak pernah bisa ditebak. Kita harus pahami itu," ujar Airen. Mira mengusap air mata. Ucapan tiga orang di hadapannya membuat ia berusaha tegar
Airen merebahkan tubuh ke sofa. Matanya lekat menatap langit-langit. "Sudah lama rasanya aku tidak meregangkan tulang punggungku seperti ini. Omong-omong, apa yang akan kita lakukan dalam waktu dekat ini?" tanya Airen pada kembarannya.Airel duduk dan melipatkan kaki. "Aku ingin menemui Anggi. Entah bagaimana kabarnya seminggu ini. Kau mau ikut?""Tentu saja aku ikut. Tak perlu basa-basi seperti itu.""Aku lupa kau tidak bisa jauh dariku. Maaf telah menanyakan pertanyaan tidak penting.""Ah, menyebalkan," gerutu Airen yang disusul senyum kakaknya. "Kapan kita akan pergi?""Bagaimana kalau besok?" Airel balik bertanya.Airen memetikkan jari. "Sempurna.""Berbicara tentang Anggi sejujurnya aku masih kasihan dengan apa yang dialaminya. Meski dia dan kita sama-sama ditinggal oleh orang tua, setidaknya nasib kita tak semalang dia.""Apa sebaiknya kita lebih peduli saja padanya?"Airen melontar tanya lagi."Apa aku tidak salah
Anggi menjauhkan selimut dari tubuhnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan duduk di depan meja rias. Wajah ovalnya tampak sendu. Tanpa sadar ia menitikkan air mata melihat pantulan dirinya di cermin. Ada rasa sesal dan sedih yang masih tersisa di hatinya. Ia merasa kecewa kepada dirinya karena gagal menjaga diri hingga terjerumus dalam nasib yang sial. Ia juga masih merasa sedih dan jijik dengan dirinya sendiri. Tapi sisi lain dirinya berkata beda. Ada secerca harapan yang membuatnya bangkit yaitu sahabatnya Mira. Orang yang berupaya selalu ada dan tak pernah melihat rendah atau menganggap dirinya sampah.Dari arah belakang, pintu kamar terbuka. Mira masuk dengan membawa nampan kayu berisi semangkuk sup ayam dan segelas air putih. Anggi melihat senyuman Mira mengembang dari bayangan cermin. Ia merasa beruntung. Berapa kali pun ia menghindari sahabatnya itu, maka sebanyak itu juga Mira berusaha merangkulnya. Meski baru tujuh tahunan mereka kenal, tapi Mira menganggapnya sudah l
Ingin rasanya Hardian mengelak dari tuduhan Airel, tetapi ia tidak punya alasan untuk membantah. Membunuh Yofi memang bukan kemauannya. Itu adalah permintaan dari Juno. Seharusnya ia menargetkan Sukma terlebih dahulu. Namun, Juno memaksanya untuk merubah target dan ia pun harus melakukan hal tersebut. Saat itu Juno mengatakan bahwa Yofi akan mempersulit pergerakan mereka. Selain itu karakteristik yang dimiliki Yofi juga memiliki kemiripan dengan tulisan Hardian yang ada di buku merah—ahli menyamar dan penggemar Lupin—sehingga itu tidak akan terlihat berbeda dari rencana awal. Oleh karena itu, selain dari tekanan yang diberikan Juno, Hardian pun terpaksa setuju. Jika memang perkataan Juno benar, maka ia tidak ingin Yofi menjadi penghalang dalam eksekusi rencananya. "Kenapa kau bisa berkata demikian?" selidik Hardian sekaligus mencari celah untuk mengelak. "Karena aku tahu kau tidak bergerak sendirian.""Apa buktinya?" tantangnya lagi. "Kau bicara seperti itu seakan aku tidak mempers
Airel mengadu pandangan Hardian tanpa gentar sedikit pun. Meskipun lelaki itu mulai terselimuti amarah, Airel berusaha tetap tenang agar bisa mengontrol keadaan. Ia pun menegakkan tubuhnya dengan duduk setengah menyandar, kemudian berkata, "Mungkin kau akan merasa puas setelah menyingkirkan mereka, tapi tidakkah kau sadar akibat dari yang telah kau lakukan? Ayah angkatmu hampir saja mendekam di penjara atas tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Lalu apa bedanya kau dengan orang-orang yang pernah jahat padamu?" tutur Airel. Kata-kata Airel seketika membuat ingatan Hardian kembali pada masa kecilnya. Sejak kecil ia memang sudah terlihat berbeda dengan anak seusianya. Ia lebih tertarik dengan hal yang dilakukan oleh orang dewasa, bahkan sangat senang mempelajari sesuatu yang rumit. Tak heran jika ia tergolong sebagai anak yang cerdas di lingkungannya. Kurniawan—ayah angkat Hardian—bukanlah tipe orang tua yang akrab dengan anak-anaknya, tetapi ia tidak juga membenci mereka. Alasan i
"Apa maksudmu menunjukkan gambar itu?" tanya Hardian. "Kau memang lupa atau sedang berpura-pura," sindir Airel. "Bagaimana mungkin kau tidak ingat sama sekali dengan tempat itu."Tempat yang dimaksudkan Airel adalah gambar sebuah panti asuhan yang sedang ditampilkan oleh proyektor. Panti asuhan itu pernah berdiri lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Sayangnya, tempat penampungan yatim piatu tersebut terpaksa ditutup sepuluh tahun belakangan ini dikarenakan kurangnya donatur. Berdasarkan hasil penelusuran yang didapatkan Ethereal, mereka yakin panti asuhan tersebut merupakan tempat yang pernah membesarkan Hardian. "Aku tidak paham maksudmu," elaknya lagi. "Kau yakin tidak paham?" pancing Airel. Hardian menyengir. "Usaha yang cukup bagus untuk mendesakku, tetapi aku tetap tidak mengerti arah pembicaraanmu.""Jadi, kau tidak mau mengaku?" desak Airel lagi. "Pengakuan seperti apa yang kau mau? Jangan terlalu membuang waktu dengan gambar semacam itu."Airel sadar Hardian sedang beru
Setelah Alfie menjelaskan rencananya pada Inspektur Yoga. Akhirnya polisi muda itu pun setuju untuk melakukannya. Sebagai langkah awal, Alfie memercayakan Airel untuk melakukan interogasi kembali terhadap Hardian. Kini gadis bersurai hitam itu telah menunggu di ruangan yang ukurannya tidak lebih dari dua belas meter persegi. Ruangan itu tidak tampak seperti ruangan interogasi. Suasananya begitu hangat dan tenang yang didominasi oleh warna hijau pastel. Airel duduk di atas kursi kayu dengan kaki menyilang. Tepat di hadapannya ada sebuah meja persegi kecil dan kursi lain yang sengaja disediakan untuk Hardian. Ruangan itu terhubung dengan ruangan lain yang dipisahkan oleh cermin satu arah. Sehingga ruangan tersebut bisa diamati dari ruangan sebelahnya di mana telah ada Airen dan Alfie yang turut mengawasi.Selang beberapa menit kemudian, daun pintu di ruangan Airel terbuka. Tampak seorang sipir dan Hardian berdiri di bibir pintu. Sipir itu langsung melangkah masuk dan menuntun Hardian du
Belum genap pukul sepuluh pagi, Alfie dan si Kembar sudah menghadap Inspektur Yoga. Kali ini suasana tidak seperti biasanya yang lebih santai. Raut Inspektur Yoga jelas sedang menuntut penjelasan. "Terima kasih sudah mau datang memenuhi permintaanku. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, aku hanya ingin melanjutkan pembicaraan di telepon kemarin," ujar Inspektur Yoga memulai pembicaraan. "Tentu saja," timpal Alfie sambil mengangguk samar. "Memang untuk itu kami datang kemari."Inspektur Yoga menegakkan tubuh diikuti tatapan serius. Kedua tangannya tertumpu di meja. "Jujur saja aku tidak bermaksud menuduh kalian di sini. Kami—pihak kepolisian—hanya menemukan banyak ketimpangan setelah menginterogasi Hardian. Jadi, aku harap kalian bisa mengerti dan mau membantu." Kata-kata itu membuat Alfie mengukir senyuman tipis di bibir. "Sangat halus sekali pernyataanmu barusan, tetapi penuh keyakinan bahwa kami memang menyembunyikan sesuatu dari kepolisian. Aku suka cara seperti itu.""Saya tidak
Alfie buru-buru keluar dari kamar sambil membawa laptop. Ia berjalan menuju ruang tengah dan menghampiri si Kembar yang sedang bercengkerama. "Kalian sedang sibuk?" tanyanya basa-basi sembari menatap si Kembar bergantian. "Tidak," sahut Airen dengan mulut masih mengunyah makanan. "Sepertinya Paman ingin membicarakan hal yang penting.""Ya, kurang lebih begitu."Mendengar balasan itu, Airel langsung beringsut ke samping untuk memberikan ruang agar Alfie bisa duduk di sampingnya. "Apa yang ingin Paman bicarakan?" tanyanya setelah Alfie duduk. Lelaki berambut putih itu meletakkan laptop di meja. Roman wajahnya tampak serius. "Paman sudah mendapatkan hasil pemeriksaan ponsel yang Airel berikan kemarin. Hasilnya sesuai dengan apa yang Paman perkirakan."Airen langsung menyudahi makannya. Seketika ia menjadi penasaran. Ia taruh bantal kursi ke pangkuan dan memasang kuping lebar-lebar. Tampangnya jelas sudah tidak sabar menunggu penuturan lanjutan dari Alfie. "Aku coba tebak," sela Aire
Setelah beberapa saat, Inspektur Yoga tetap tak kunjung bicara. Bripka Adi mulai merasa terintimidasi dengan tatapan tajam itu. "Maaf, Pak. Kenapa saya dilihat seperti itu?" tanya Bripka Adi ragu-ragu. Inspektur Yoga langsung mengalihkan pandangan. "Maaf, jika membuatmu jadi tidak nyaman. Aku hanya ingin memastikan kau sudah yakin dengan seluruh deduksimu.""Yakin? Saya tidak mengerti maksud Bapak.""Begini," ucapnya sepatah seraya menarik napas dalam-dalam. "Penjelasanmu sejauh ini sudah sangat logis. Namun, coba pikirkan baik-baik tentang pernyataanmu mengenai Hardian yang memanfaatkan pelecehan Anggi untuk menjerat Edi ke penjara. Kalau memang demikian, maka bagaimana cara Hardian memunculkan kasus itu ke publik? Apa yang sudah dilakukannya?" lanjutnya lagi. Pertanyaan itu membuat Bripka Adi terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Memang terkesan sepele, tetapi bisa menjadi petunjuk. Seketika otaknya mulai berpikir mengapa kasus pelecehan itu bisa tersebar. Sejau
Inspektur Yoga sudah duduk tersandar di kursi kerjanya. Ia sedang menunggu laporan dari Bripka Adi. Setelah melihat jam tangan sekilas, seharusnya Bripka Adi akan tiba dalam waktu lima menit. Entah kenapa hari itu ia tidak sabar menunggu. Padahal biasanya ia lebih santai karena merasa segala kejadian pasti akan dilaporkan. Apa mungkin karena Bripka Adi membawa laporan penyidikan tentang Hardian? Ya, mungkin memang karena itu. Sehari sebelumnya ia telah memercayakan kepada Bripka Adi untuk melakukan interogasi terhadap Hardian. Sebenarnya ia ingin melakukan itu sendiri. Namun, karena adanya pekerjaan lain yang tidak bisa ditunda, ia pun terpaksa meminta Bripka Adi menggantikannya. Belum sampai lima menit menunggu, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. Itu pasti Bripka Adi pikirnya. "Masuk!" titahnya tanpa melepaskan pandangan dari pintu ruangan kerja. Benar saja, Bripka Adilah yang datang. Pria itu berjalan dengan langkah tegap menghampiri meja Inspektur Yoga sembari membawa se
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit saat mobil Alfie dan Airel memasuki halaman rumah. Seharusnya mereka bisa tiba lebih cepat kalau saja Alfie tidak mengajak Airel mampir ke sebuah kedai kopi. Katanya ingin bertemu dengan teman lama. Airel tentu saja tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Di kedai itu, mereka duduk di meja yang terpisah. Alfie dan temannya duduk di pinggir, sedangkan Airel duduk di sudut ruangan. Airel bisa memaklumi itu, mungkin saja ada pembicaraan yang tidak seharusnya ia boleh dengar. Saat berdiri di depan rumah, mereka bisa melihat ruangan tamu dan lantai atas tampak terang. Itu artinya Airen sudah tiba duluan. Biasanya kalau rumah itu kosong, mereka hanya menyalakan lampu teras saja. Setelah masuk ke rumah. Ternyata Airen sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya sedikit cemberut. "Kemana saja kalian?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Inspektur Yoga bilang kalian sudah pulang sore tadi, harusnya kalian sudah sampai di rumah tidak s