"Ada bagusnya juga. Bukankah mereka yang ingin menyatukan kita? Saat itu, mereka juga nggak bisa memaksa kita berpisah lagi.""Benar juga, sepertinya istriku sudah bertekad untuk bersamaku.""Siapa yang ingin bersamamu? Aku hanya, hanya ...."Sebelum Widia menyelesaikan kata-katanya, Tobi memeluknya lagi dan berkata, "Kamu hanya memikirkanku setiap hari, berharap aku bisa sukses dan membiarkan semua rintangan yang menghalangi kita musnah seluruhnya.""Sebenarnya kamu nggak perlu berjuang sekeras itu. Meski suamimu bukanlah Kaisar Langit, aku juga termasuk pemimpin di bumi.""Membual lagi."Kali ini, Widia tidak lagi melepaskan dirinya. Dia hanya bersandar dalam pelukan Tobi. Walau dia sedang beradu mulut dengan Tobi, tetapi hatinya tetap merasa bahagia.Dia yakin Tobi pasti akan memiliki pencapaian di masa depan.Meski Tobi tidak memiliki latar belakang, berdasarkan penampilannya akhir-akhir ini sudah cukup membuktikan keunggulan dan kekuatannya.Asalkan memberinya waktu, dia pasti aka
"Jangan khawatir, Bibi, aku pasti akan menjaganya. Aku hanya khawatir kamu akan berubah pikiran." Tobi teringat dengan apa yang dikatakan Widia tadi malam. Andai mereka tahu kebenarannya, entah reaksi seperti apa yang akan mereka berikan."Mana mungkin. Kamu lupa? Bukannya aku sudah bersumpah kemarin?""Benar juga. Sumpah seperti ini nggak bisa dianggap main-main. Bagaimana kalau menjadi kenyataan?" kata Tobi sambil tersenyum.Mendengar kata-kata itu, ibunya Widia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, mungkin itu karena dirinya selalu bersikap kasar kepada Tobi sebelumnya, jadi wajar saja sekarang dia balas menyerangnya.Jadi, ibunya Widia hanya bisa menahan diri. Dia buru-buru menyuruh Tobi duduk untuk menikmati hidangan mewah.Tak lama kemudian, Widia juga keluar dari kamar.Melihat keluarganya yang begitu perhatian kepada Tobi, dia diam-diam menahan senyum pahit.Dia hanya berharap keluarganya tidak begitu cepat mengetahui identitas palsu Tobi.Setelah menyelesaikan sarapan, m
Bukankah markas besar Sekte Suganda berada di sana? Apa yang ingin dilakukan bocah itu? Jangan-jangan dia ingin menyerang markas besar Sekte Suganda?Tidak mungkin!Tidak masuk akal sekali.Namun, tak peduli apa yang direncanakan bocah ini, berdasarkan alamat, pelat mobil dan tujuannya, mereka bisa dengan mudah melacak lokasinya.Dia hanya khawatir bocah ini sedang menipunya.Namun, rekan yang bersamanya mengatakan Tobi pasti tidak berbohong. Jadi rekan itu segera mengantar Bahri untuk mengejar Tobi.Tobi juga tidak bermaksud mempersulit Bahri. Bagaimanapun, dia sudah jauh-jauh datang ke sini, apalagi jaraknya tidak dekat. Terlebih lagi, dia termasuk ahli bela diri yang hebat.Namun, dia ingin menghemat waktu.Dia berencana untuk menyelesaikan Sekte Suganda hari ini dan berusaha secepat mungkin kembali ke kediaman Lianto dan menemani istrinya.Biasanya, Tobi akan mengemudi dengan cepat. Namun, untuk mengejar Tobi, Bahri bahkan menyuruh rekannya untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi d
"Omong kosong!"Bahri tidak terima dihina seperti itu, apalagi kekuatannya dipertanyakan oleh seorang bocah? Sebenarnya, dia sudah mengamati dengan cermat situasi di sekitar sana. Memang tidak ada penyergapan, tetapi kalau itu kenyataannya, mengapa bocah ini masih begitu tenang?Ya sudah, buat apa peduli begitu banyak? Bisa-bisanya dia diperdaya oleh bajingan ini. Dia langsung berkata, "Tak perlu omong kosong lagi. Beraninya mempermalukan Sekte Suganda kami, kamu pasti akan mati hari ini."Begitu selesai berbicara, dia langsung meluncur ke depan dengan gesit. Dalam sekejap, dia telah muncul tepat di hadapan Tobi dan bersiap-siap mendaratkan pukulan dengan telapak tangannya.Dalam serangan ini, dia hanya menggunakan 20 hingga 30 persen kekuatannya.Dia sengaja melakukan itu untuk menguji kekuatan Tobi lebih dulu. Dia tidak percaya, mana mungkin kekuatan anak semuda itu telah mencapai tingkat Guru Besar?Tobi mengangkat bahu tak berdaya. Dia melambaikan tangannya dan bergegas maju ke dep
Bahri terlihat emosi. Bocah ini mengira dia bisa menahan serangannya. Dia tersenyum sinis, "Bocah, kamu sungguh cari mati. Baiklah, akan kutunjukkan kekuatanku yang sebenarnya."Selesai berbicara, tubuhnya langsung melayang ke udara. Ada enam pisau gelap yang mendadak muncul di depannya. Masing-masing pisau itu memancarkan energi yang menakutkan.Dia kemudian merentangkan tangannya. Seketika, kekuatannya langsung meledak.Enam pisau itu meluncur dengan kecepatan tinggi, membawa kekuatan yang begitu dahsyat,Setidaknya serangannya kali ini dua kali lebih kuat dari serangan sebelumnya.Ada sedikit kilatan keterkejutan di mata Tobi. Benar saja, Bahri memang sangat hebat. Andai dia belum berhasil mencapai tingkat puncak Guru Besar, kemungkinan besar dia tidak akan bisa menghadapi lawan dengan tenang.Tobi kemudian melambaikan tangan kanannya. Kekuatan dahsyat langsung menyelimuti tangannya. Beberapa gelombang kekuatan dari telapak tangannya langsung meluncur dan tepat mengenai pisau-pisau
Beraninya dia mengatakan kekuatan ahli bela diri Guru Besar tingkat akhir sepertinya terlalu lemah?Apa itu masuk akal?Andai orang lain yang mendengar kekuatan ahli bela diri Guru Besar tingkat akhir dinilai terlalu lemah, mereka pasti akan kebingungan seperti yang dirasakan Bahri sekarang."Benar, itu semua karena kekuatanmu terlalu lemah."Tobi menegaskan dan kembali menambahkan, "Andai teknik ini digunakan oleh tetua utama Keluarga Suganda, mungkin akan menjadi sedikit ancaman bagiku.""Arogan sekali! Kamu pikir hanya karena berhasil memblokir teknik ini, kamu sudah menjadi tak terkalahkan?""Tahukah kamu betapa menakutkan tetua utama dari Sekte Suganda kami? Bahkan saat berhadapan dengan tetua utama lami, aku hanya bisa mengeluarkan paling banyak belasan hingga dua puluh gerakan saja. Kamu sadar sudah berapa lama kamu menghadapiku barusan?" balas Bahri dengan kesal."Huft!"Tobi menghela napas tak berdaya dan berkata, "Pak Tua, kamu kira pikir kamu bisa bertarung denganku begitu l
Ekspresi Bahri terlihat kusut. Dia masih sangat terkejut."Se ... sebenarnya berapa usiamu?"Tobi tertegun sejenak. Dia mengira tetua itu akan menanyakan tingkat kekuatannya. Tak disangka, dia malah menanyakan usianya. Tobi tersenyum dan berkata, "Dua puluh enam, kenapa?""Nggak mungkin!"Respons Bahri wajar-wajar saja. Dia kemudian paham lawan begitu kuat, mana mungkin dia akan membodohi dirinya. "Mengapa kamu nggak membunuhku?""Kenapa harus membunuhmu?" tanya Tobi balik."Karena aku datang ke sini untuk membunuhmu. Sekalipun kamu membunuhku, aku juga menerimanya." Bahri sudah bersiap-siap untuk mati."Kamu nggak berkemampuan makanya nggak bisa membunuhku, tapi ada dua alasan mengapa aku nggak membunuhmu.""Pertama, terus terang saja, meski aku dan Keluarga Suganda berselisih saat ini, kami juga nggak punya dendam, jadi kami nggak perlu berperang dengan mempertaruhkan hidup mati.""Kedua, tingkat kultivasimu sudah termasuk tinggi, apalagi Guru Besar sudah jarang ditemukan di Harlanda
Wajah Bahri berubah pucat. Dia kembali bertanya, "Bolehkah aku menelepon Keluarga Suganda?""Tentu saja!"Tapi kamu harus menerima tawaran yang barusan kukatakan. Selain itu, mulai sekarang, kamu nggak boleh mencampuri urusan Keluarga Suganda lagi. Kamu harus fokus menjadi rekan latihan bawahanku. Kamu juga nggak boleh memberi tahu orang lain mengenai masalah ini.""Nggak masalah, akan kuturuti perkataanmu," ucap Bahri dengan cepat."Oke, nanti kamu telepon nomor ini saja. Oh ya, namanya Pandu.""Aku pergi dulu. Kuharap saat tiba di Sekte Suganda nanti, aku nggak disambut dengan senjata, melainkan dengan makanan dan anggur."Hanya bergerak sedikit, Tobi kini telah duduk di dalam mobil. Dia langsung menyalakan mesin dan meluncur ke Silinos.Tanpa perlu berpikir panjang lagi, Bahri segera menelepon Rama, kepala Keluarga Suganda. Setelah beberapa saat, barulah Rama mengangkat telepon."Tetua Bahri, bagaimana situasinya? Apa sudah selesai? Oh ya, kamu nggak membunuhnya, 'kan?" tanya Rama.
Dia juga harus membiarkan Negara Amderika mereka dipuji.Selain itu, makin menakjubkan hasilnya, tentunya masalah ini akan makin menarik perhatian banyak orang. Dengan begitu, maka akan berdampak lebih besar pada prestise Negara Harlanda.Jadi, Luniver pun menampakkan dirinya dan tertawa, "Haha, dasar sekumpulan sampah. Nggak seru sama sekali. Hirawan, biarlah aku, Luniver, pemimpin Takhta Suci Barat di Amderika, bertarung denganmu."Tubuh Luniver melayang di udara. Dia juga memperlihatkan dua belas sayap, yang seketika mengejutkan semua orang.Apalagi, dia barusan bilang apa. Orang Amderika?Di saat bersamaan, semua penonton yang berasal dari Negara Amderika langsung menjadi bersemangat.Komentar yang masuk juga makin banyak.Hirawan juga tertegun sejenak. Kemudian, dia segera memahami pemikiran Luniver. Dia merasa tertekan, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Lagi pula, dia masih harus menuruti perkataan Luniver.Bahkan, bisa dikatakan dia juga antek-anteknya Luniver.Dia hanya b
"Tobi, aku mengerti niatmu, tapi ...." Raja Naga Tua masih ingin membujuk.Namun, Tobi langsung menyela, "Guru, kamu nggak mengerti. Aku akan segera pergi ke bandara. Kalian harus tunggu aku datang ke sana. Ingat, jangan sampai ada korban lagi."Usai berbicara, Tobi langsung menutup telepon. Alih-alih banyak bicara, lebih baik dia langsung menangani masalah penting. Di saat bersamaan, dia juga segera membuat pengaturan dan meminta tiket penerbangan paling awal ke Jatra.Meski pesawat akan lepas landas dalam waktu setengah jam, ataupun harus membeli tiket orang lain dengan harga mahal, Tobi juga tidak keberatan.Meski hari sudah malam, siapa yang bisa memastikan bahwa Hirawan tidak akan melakukan pergerakan apa pun? Jika dia tidak berhenti, entah berapa banyak master Harlanda yang akan menjadi korban.Saat ini, Tobi juga memperhatikan kata-kata Hirawan di siaran langsung. Ada niat membunuh yang dingin di matanya. Dia akan membuat lawan merasakan apa namanya keputusasaan.Setelah berhasi
Kecuali ada orang yang melarang mereka memberitahunya.Mungkinkah Luniver dan yang lainnya telah kembali? Master Vamil dan Raja Naga Tua takut Tobi tidak mampu mengalahkan mereka dan tidak ingin dirinya mati di tangan lawan, jadi mereka sengaja menyembunyikan hal itu.Tidak dimungkiri, tebakan Tobi memang benar.Tobi membuka pintu ruang VIP. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan ingin menanyakan masalah itu.Widia buru-buru berkata, "Tobi, kamu lihat ini. Terjadi masalah besar!""Hirawan sudah datang ke Harlanda. Entah Luniver bersamanya atau nggak."Saat Tobi keluar barusan, Widia mengeluarkan ponselnya sambil menunggu. Tak disangka, dia akan menemukan berita itu.Tobi bergegas mengeluarkan ponselnya dan melihat sekilas. Ada kilatan dingin yang muncul di matanya. Tak disangka, dia dan Widia baru saja meninggalkan Jatra belum lama, tetapi musuh sudah muncul.Namun, Tobi harus segera memberi tahu Master Vamil dan lainnya lebih dulu agar menghindari pengorbanan yang tidak diperlukan.Jad
Di saat Damar bersiap meninggalkan ruang VIP, Tobi tiba-tiba berkata, "Tunggu sebentar!"Damar langsung menghentikan langkahnya dan bertanya, "Apa Raja Naga masih punya instruksi lain?""Apa kamu masih ingat janjiku sebelumnya? Kalau kamu menangani masalah ini dengan baik, aku akan beri kamu imbalan besar. Kamu sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik kali ini," ucap Tobi dengan tegas."Raja Naga terlalu sungkan. Ini semua sudah seharusnya aku lakukan." Damar sangat antusias. Dia mulai menerka-nerka, apa imbalan besar yang akan diberikan Raja Naga padanya?Tobi berkata dengan nada datar, "Cari sebuah ruang VIP dan jangan biarkan siapa pun mengganggumu.""Baik!"Mendengar itu, Damar sangat bersemangat. Dia bergegas pergi untuk membuat pengaturan.Lagi pula, restoran ini milik Keluarga Yusnuwa. Jadi, dia segera mengaturnya dan tidak akan ada orang yang mengganggunya."Aku keluar sebentar. Setelah lima menit, aku akan kembali." Tobi segera berpesan pada Widia."Ya, pergilah." Widia mengang
Namun saat mengetahui tentang siaran langsung global, dia segera memikirkan cara sempurna untuk menemukan ibu kandungnya Widia."Ya. Untunglah ada kamu yang menemaniku selama ini!"Widia mengangguk. Sekarang dia sudah tahu betapa menakutkan kemampuan yang dimiliki Tobi. Jika Tobi pun tidak bisa menemukan ibu kandungnya, mungkin tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.Damar mengantar keduanya ke ruang VIP restoran, lalu bangkit dan pergi.Dia tidak ingin menjadi 'obat nyamuk' dan mengganggu kencan mereka berdua.Tobi juga memusatkan perhatiannya pada masalah Widia. Dia takut hal ini akan berdampak besar pada Widia, jadi dia juga tidak memedulikan hal lainnya lagi.Apalagi, kejadian ini terjadi terlalu cepat dan tiba-tiba.Saat ini, di area terlarang Jatra, akhirnya Harita berdiri di atas arena pertarungan dan ingin melawan Hirawan. Dia melakukan semua ini bukan untuk hal lain, tetapi demi martabat Negara Harlanda.Perlu diakui, setelah berhasil membuat terobosan, kekuatan Harita memang sa
Melihat keduanya pergi, Yesa buru-buru bangkit. Dia tampak marah besar. Dia tak henti-hentinya mengumpati Widia dan Tobi.Kata-katanya begitu tidak enak didengar. Selanjutnya, saat memikirkan hidup mereka yang akan sulit ke depannya, dia juga kembali memarahi Herman.Dia bilang Herman tidak berguna dan membuatnya menjalani hidup yang menyedihkan. Herman tidak bisa memberinya kehidupan mewah, bahkan Grup Lianto pun jatuh di tangan orang luar.Yesa juga bilang, apa yang harus dia lakukan ke depannya? Jika tidak memberinya ratusan miliar atau membiarkannya menjadi orang terpandang di Kota Tawuna, bagaimana dia bisa hidup?Dia sudah kehilangan harga diri. Dia meminta Herman untuk memikirkan cara agar mendapatkan kembali Grup Lianto. Setidaknya, perusahaan itu sekarang bernilai triliunan atau bahkan mencapai puluhan triliun.Jika tidak, Yesa akan bercerai dengan pria tidak berguna sepertinya.Makin berbicara, dia makin emosi. Pada akhirnya, dia pingsan karena terlalu emosi dan sedih.Herman
Wajah Widia berubah muram. Ekspresinya juga terlihat kusut. Namun, dia akhirnya mengangguk dan berkata, "Kuserahkan masalah ini padamu."Mendengar itu, Yesa langsung panik.Kali ini yang hilang bukan hanya kejayaan dan kekayaan, tetapi dia juga tidak punya harapan untuk menjadi nyonya kaya yang dikagumi semua orang. Bahkan, dia mungkin juga akan masuk penjara.Tidak bisa.Dia masih ingin meningkatkan prestisenya dan menjadi wanita bangsawan.Dia panik, lalu berlutut di depan mereka berdua sambil menangis. "Widia, ini salahku. Aku minta maaf padamu. Aku mengakui kesalahanku.""Apa yang kamu lakukan. Cepat berdiri dulu."Widia terkejut dan segera menjauh. Tidak peduli apa pun masalahnya, dia juga telah menganggap mereka sebagai orang tuanya selama ini.Menyadari hal itu, Yesa merasa masih ada harapan. Tangisnya makin menjadi-jadi. Dia juga memperlihatkan tampang memelas sambil berkata, "Nggak. Aku nggak akan berdiri, kecuali kamu memaafkanku.""Aku menyesali perbuatanku. Mengingat Keluar
Begitu mendengar putrinya mencurigai mereka berdua bukanlah orang tuanya, Yesa tampak terkejut. Mungkinkah Tobi telah mengatakan yang sebenarnya kepada Widia? Seharusnya tidak mungkin, 'kan?Berdasarkan sifat Tobi, pria itu tidak mungkin mengatakan pada Widia bahwa dirinya dicampakkan oleh ibu kandungnya sendiri. Namun, setelah mendengar kata-kata selanjutnya, sepertinya itu karena Widia merasa Yesa tidak memperlakukannya dengan baik selama ini. Oleh karena itu, Widia bisa menyalahkan dirinya.Meski Yesa merasa tidak senang, dia segera berkata, "Widia, kami memang nggak memperlakukanmu dengan baik sebelumnya, tapi bagaimanapun juga, kami adalah orang tuamu.""Orang tuaku?" Widia berkata dengan dingin, "Kamu kira aku nggak tahu apa-apa? Tobi sudah memberitahuku segalanya!"Setelah mendengar itu, wajah Yesa berubah drastis. Dia tidak menyangka Tobi akan mengatakan yang sebenarnya kepada Widia. Dia pun buru-buru berkata, "Ka ... kamu sudah tahu semuanya?""Jangan salahkan aku. Kami takut
Seiring berjalannya waktu, Negara Harlanda kini makin kuat dalam segala aspek. Termasuk teknologi, militer, dan lain sebagainya, meski menghadapi blokade gila-gilaan mereka.Mereka bahkan tidak peduli dengan kredibilitas negara, memberikan sanksi yang tidak masuk akal dan juga melanggar berbagai aturan seenaknya.Meski begitu, mereka tetap tidak bisa menghentikan perkembangan Negara Harlanda.Namun, saat ini Luniver tampak mengerutkan kening. Lantaran mereka mendapat kabar bahwa Tobi masih berada di Gunung Simeru dan belum turun. Jadi, mereka memikirkan cara untuk memaksa Negara Harlanda dan juga Tobi.Bagaimanapun, Negara Harlanda seharusnyanya tahu bahwa target mereka adalah Tobi. Selain itu, bocah itu sudah mulai memahami hukum langit dan bumi. Jika tidak menghabisinya sekarang, entah ancaman seperti apa yang akan mereka hadapi kelak.Walau Tobi masih tidak bisa menandinginya saat ini.Namun, dia baru saja menerima kabar. Katanya Tobi telah diam-diam meninggalkan Gunung Simeru. Tamp