Share

140. Lentera Abadi

Author: Rai Seika
last update Last Updated: 2024-11-02 20:41:54

“Tunggu, bukankah seharusnya lewat sana?” Pengawal mereka merasa jalan yang diambil Rafael tidak benar. Setelah keluar dari Hutan Onyx seharusnya mereka menuju ke pelabuhan. Kerajaan Silverstone lebih mudah dijangkau dengan jalur laut. Seharusnya menggunakan kapal daripada melewati pegunungan yang akan memakan waktu lebih lama.

“Siapa yang memimpin? Kalian tidak perlu protes!” Rafael tidak butuh koreksi dari mereka. Dia menghentikan kudanya kemudian mendekati kedua pengawal. “Kalau kalian punya jalan sendiri pergilah!”

Kedua pengawal saling pandang, “Tuan Rafael, bukan seperti itu, yang kami tahu lebih cepat ke Silverstone dengan jalur laut,” balas salah satu pengawal tersebut. Suaranya bergetar, mereka masuk ke wilayah pegunungan antara Avari dan perbatasan Kota Onyx.

“Kalian tunggu saja di sini jika takut, kabut akan semakin tebal.” Mata Rafael menatap kedua pengawal dengan seringai menyeramkan. “Aku tidak bertanggungjawab atas keselamatan kalian.”

Kedua pengawal bergidik, bulu ku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   141. Serangan Mendadak

    Yui memasang barrier pelindung kepada semua orang. Pelindung terkuat dengan kekuatan genbu. Selanjutnya Rafael meminta Yui dan Yuan membuat jalinan tali, akar tanaman dengan kekuatan Seiryu diperkuat dengan kekuatan Gnome. Jalinan itu mengikat semua orang seperti tali yang saling bersambung, hanya saja tidak benar-benar tersambung secara nyata. “Tali ini cukup kuat, kalian tidak perlu takut terpisah. Meskipun kita tidak terikat sesungguhnya, Yui dan Yuan akan bisa mengetahui keberadaan kalian.” Rafael kemudian mulai memimpin. Seperti yang sudah diduga semua orang kabut semakin tebal hingga jarak pandang hanya satu meter saja. “Yui jangan jauh dariku!” Tangan Rafael menarik tangan Yui, menggenggamnya begitu erat. Dalam kabut yang begitu tebal, Rafael tidak perlu takut Yui akan memperhatikan wajahnya yang kini bersemu kemerahan. “Sebenarnya kenapa kita harus ke Kota Yueliang?” tanya Yui. Dalam kabut yang begitu tebal dia tidak jelas melihat wajah Rafael juga wajah yang lain. “Benar,

    Last Updated : 2024-11-03
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   142. Serigala Petir

    “Graaarr!”Gigi-gigi tajam serta air liur makhluk itu tampak mengerikan. Cakarnya terlihat begitu tajam dan kuat. Mereka menelan ludahnya dengan berat, membayangkan cakar itu menyentuh kulit tubuh mereka, pastilah akan terkoyak begitu mudah. “Bukankah ini ilusi!” Eirlys berusaha menguatkan dirinya. Kakinya gemetar dan hampir lumpuh melihat makhluk yang begitu menakutkan. “Ya, itu ilusi. Ilusi yang mendekati nyata dan bisa melukai. Jika kita mendapatkan batu bintang ilusi untuk harpamu maka kau bisa melakukan hal yang sama,” balas Rafael. Pria itu memasukkan kembali pedang besarnya kemudian mulai mengulurkan tangan, api hitam membara di tangannya. “Api hitam!” Rafael berlari ke arah serigala yang besarnya sepuluh kali serigala normal. Dia menghindari terkaman serigala tersebut dan melompat ke atas. “Rasakan apiku!” seru Rafael melemparkan api hitam tersebut. Api hitam Rafael menembus serigala berbulu abu-abu. Makhluk itu meraung dan dari mulutnya melemparkan tembakan bola petir. Me

    Last Updated : 2024-11-04
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   143. Perasaan Eirlys

    Aroma manis pohon wisteria begitu menenangkan hati. Gerbang Kota Yueliang terlihat seperti gerbang ke negeri impian. Dua pintu gerbang yang tinggi menjulang seakan mereka hanyalah kurcaci. “Yuan!” Yui menangkap Yuan yang tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri. Spirit yang mengelilinginya sudah tidak ada lagi. “Yuan ada apa denganmu!” Yui panik. Rafael dan juga Rainsword segera mendekati Yui dan memeriksa Yuan. “Tuan Rafael?” Rainsword menatap pria di sebelahnya yang sedang mengecek kondisi Yuan. Eirlys pun ingin berlari ke arah Yuan, tetapi di tahan Lixue. “Tidak ada yang bisa kau lakukan.” Lixue menarik lengan tangan Eirlys. Gadis itu berhenti dan menggelengkan kepalanya. “Lepaskan, Kak,” pinta Eirlys lembut. Dia juga melepaskan tangan Lixue perlahan. “Yuan memerlukanku.” Eirlys duduk di dekat Yuan, tanpa kata. Dia mengeluarkan harpanya. Suara petikan senar mulai mengalun. Perlahan-lahan spirit kembali mengelilingi Yuan. Setiap spirit seperti sedang membagikan energin

    Last Updated : 2024-11-08
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   144. Gerbang Kota Yueliang

    Yuan hampir membalas pelukan Eirlys. Tangannya kembali ke posisi semula saat dia menyadari semua mata sedang menatapnya. “Eirlys, aku tidak apa-apa,” bisik lembut Yuan dan berharap gadis itu melepaskan pelukannya. Jika lebih lama lagi mungkin saja dia akan pingsan kembali karena malu. Wajahnya sudah memerah hingga ke telinga dengan rasa panas menjalar ke dada. Gadis itu tersentak dan langsung melepaskan pelukannya. Keduanya tampak salah tingkat. Merona dan terlihat saling melirik malu-malu. “Gerbang sudah ada di depan mata, ayo berangkat!” Rafael mengulurkan tangan membantu Yui berdiri. Tidak ada alasan lagi baginya memegang tangan gadis ini. Dia hanya bisa berjalan di samping Yui. Mereka berjalan bersama menuju gerbang besar dengan pohon wisteria yang begitu anggun. Cabang-cabang dengan bunga yang menggantung berwarna ungu terlihat begitu indah. Aroma semerbak wangi wisteria seakan mampu menghipnotis. Gerbang Kota Yueliang ternyata lebih besar dari yang terlihat. Saat be

    Last Updated : 2024-11-08
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   145. Paviliun Yueliang

    Gerbang berat Kota Yueliang tertutup kembali saat mereka telah melintas. Tidak mungkin mereka bisa pergi begitu saja keluar dari kota ini, aura ganjil terasa begitu pekat. “Kita harus berhati-hati, tempat ini berbeda dengan tempat kita berasal.” Rafael memperingatkan yang lain untuk tetap bersama. Berjalan perlahan dengan waspada. Alunan suara seruling terdengar merdu, melodi lembut yang terasa menentramkan, tenang dan indah. “Apa ini jebakan?!” Ingatan mereka tertuju pada suara seruling beberapa saat yang lalu saat serigala petir tiba-tiba muncul. “Apakah seruling Darren?” Mata Rainsword dan Rafael menjelajah ke segala penjuru mencari sumber suara. “Kalian tidak perlu khawatir, dia tidak berniat jahat,” ucap Yuan menenangkan dan menunjuk pada jalan yang diterangi sinar rembulan. “Sepertinya dia sedang menyambut kita dengan menunjukkan jalan.” Mendengar Yuan mereka mulai tenang dan berjalan di belakang Yuan. Alunan seruling benar-benar membimbing mereka, jalan yang diterangi

    Last Updated : 2024-11-10
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   146. Pelelangan (1)

    Bagaimana ini?” Eirlys tampak bingung, matanya menatap lurus ke arah Batu Bintang Ilusi karena itu merupakan benda yang harus dia dapatkan. Namun, mereka terlambat datang dan benda itu sudah ditawar orang lain. Eirlys tidak punya pilihan lain selain memberanikan diri memberi isyarat kepada Tuan Muda Fu Kai. “Semoga dia mengerti dan datang kemari,” gumam Eirlys harap-harap cemas. Bagai gayung bersambut. Tuan Muda Fu Kai berjalan dengan elegan ke arah mereka. Tutur katanya begitu bagus dan lembut. “Apakah ada yang bisa saya bantu?” Tuan Muda Fu Kai terkejut saat Eirlys tanpa pemberitahuan menempelkan kertas kuning dari Paman Chang ke punggung tangannya. Rasa dingin menjalar dan menggelitik benak Tuan Muda Fu Kai. “Tuan Apakah benar itu Batu Bintang Ilusi?” tanya Eirlys yang matanya masih tertuju pada batu meteorit yang berada di meja lelang. “Benar sekali, Nona,” jawab Fu Kai dengan suara lembut dan ramah. “Apakah Anda tertarik untuk menawar benda tersebut?”Eirlys menggelengkan ke

    Last Updated : 2024-11-11
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   147. Pelelangan (2)

    "Apa yang dibutuhkan Chu Wang saat ini?" tanya Eirlys segera. Dia harus mempertaruhkan apapun selama bisa mendapatkan batu itu. Ucapan Eirlys hanya dimengerti Fu Kai, sementara pria berhanfu hitam dan seluruh pengunjung hanya mendengar suara Eirlys seperti seorang penyanyi bersuara merdu tanpa tahu arti nyanyiannya. Chu Wang berdiri, dia tersenyum penuh dengan teka-teki. Meskipun tidak mengerti ucapan Eirlys dia merasa gadis itu memiliki sesuatu yang dia butuhkan. “Tuan Muda Fu Kai.” Chu Wang sengaja memanggil dengan suara ramah, lembut dan elegan serta mengundang perhatian semua pengunjung. “Agar tidak menimbulkan kecurigaan di antara tamu yang lain, bagaimana kalau saya membayarnya terlebih dahulu?”Fu Kai tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Dia melihat ke arah Wei Jin, majikannya, pemilik Paviliun Yueliang. Saat wanita itu mengangguk maka Fu Kai mulai berbicara. “Baiklah jika memang itu keinginan Tuan Chu Wang,” jawab Fu Kai dengan suara tegas namun penuh rasa hormat. Chu W

    Last Updated : 2024-11-12
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   148. Kembali

    Dongfang Yu mengantar tamu asing menemui kakaknya, Qiao Yang. Sebuah gerbang dimensi yang sedang terbuka mulai menutup perlahan. “Kak!” Mendengar teriakan Dongfang Yu, wanita dengan hanfu hitam itu berbalik. Matanya menatap tak percaya melihat rombongan di belakang Dongfang Yu. Sosok mereka sangat berbeda dengan penduduk di Kekaisaran Shenguang. “Kak, mereka berasal dari dimensi lain. Sayangnya waktu mereka terbatas, biarkan mereka menggunakan gerbang dimensi untuk pulang,” ucap Dongfang Yu tetap terdengar tenang meskipun sebenarnya tergesa-gesa. Wanita itu mengangguk, “Cepatlah sebelum gerbang dimensi benar-benar tertutup!” Rombongan Yuan mengucapkan terima kasih, ternyata Qiao Yang mengerti bahasa mereka meskipun tanpa jimat. Sementara Dongfang Yu mengantar kepergian mereka dengan penghormatan terdalam. Dia menyatukan tangan dan membentuk kepalan lalu membungkuk dalam-dalam. “ Terima kasih atas buku yang Anda berikan Nona Eirlys, buku itu sangat berarti bagi kami. Semoga kit

    Last Updated : 2024-11-13

Latest chapter

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   263. Suara Harpa

    Yui dan Yuan berdiri di luar dinding istana, hembusan angin lembut membelai rambut mereka. Jemari mereka dengan hati-hati menaburkan benih-benih ajaib dari dunia atas ke tanah yang dahulu gersang. Di bawah sentuhan mereka, dunia bawah yang dulunya kelam kini dipenuhi berbagai warna—hijau rumput yang merayap, kuning keemasan bunga-bunga liar, segala macam tanaman mulai mengular dari dalam tanah. Yui menoleh, alisnya berkerut melihat saudaranya. "Yuan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memperhatikan kembarannya yang tengah memainkan harpa keemasan—benda legendaris yang diperebutkan banyak makhluk.Yuan menggeleng pelan, jemarinya masih menari di atas senar harpa. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, matanya tetap terfokus pada alat musik di tangannya.Kebangkitan Yuan beberapa waktu lalu sungguh menggemparkan seluruh kerajaan. Bukan hanya wujudnya yang telah berubah sempurna sebagai raja kegelapan, tetapi juga reaksi tidak biasa dari harpa ajaib tersebut. Harpa keemasan itu bersinar terang,

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   262. Benih Kebangkitan

    Cahaya keemasan menyusup di antara dedaunan saat Raja Arlen membimbing Yui menyusuri jalan setapak menuju area tidak jauh dari Pohon Kehidupan. Angin lembut menerbangkan helaian rambut Yui, sementara matanya menangkap sosok Rafael yang tengah berbincang serius dengan Moura di kejauhan, wajah keduanya tampak khidmat di bawah naungan cabang-cabang raksasa."Sebelah sini," ujar Raja Arlen sambil menunjuk dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Jubah kerajaannya berdesir lembut menyapu rumput saat ia memimpin Yui menuju sebuah pondok mungil yang hampir tersembunyi di balik rimbunnya aneka bunga warna-warni. Aroma manis nektar merebak di udara, menggelitik indra penciuman.Pintu pondok terbuka dengan derit pelan. Seorang pria melangkah keluar, mengenakan tunik berwarna lumut khas kaum elf yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun, tidak seperti para elf lainnya, telinga pria itu tidak meruncing dan wajahnya tidak memancarkan keanggunan abadi yang biasa dimiliki kaum elf."Yoru!" pekik Y

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   261. Undangan

    Yui mendarat dengan lincah setelah melompat dari punggung Fury, naga hitam milik Rafael. Rambut panjangnya melambai tertiup angin saat kakinya menyentuh tanah. Matanya berbinar melihat sosok yang telah menunggunya."Kakak!"Yui menghambur ke pelukan Yuasa, jemarinya mencengkeram erat jubah sang kakak sementara aroma khas dedaunan segar menguar dari tubuh Yuasa. Mata keduanya berkaca-kaca, pertemuan yang menggetarkan jiwa setelah sekian lama terpisah."Kau baik-baik saja, Yui? Bagaimana tubuhmu setelah bangkit kembali?" tanya Yuasa sambil meneliti setiap inci wajah adiknya. Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Yui, memancarkan energi keemasan yang menelusuri setiap sel dalam tubuh sang adik. "Setelah semua ini selesai, biarkan kakak menyembuhkanmu."Dahi Yuasa berkerut dalam. Sensasi dingin menjalar dari tubuh Yui—sesuatu yang sangat janggal. Api Suzaku yang seharusnya berkobar hangat kini terasa beku seperti es abadi."Tentu, untuk saat ini kakak fokus saja dengan pernikahan. Urusan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   260. Malam Berbintang

    Malam di Kota Naga. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di langit malam Kota Naga. Rafael berdiri sendirian di balkon gedung tertinggi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi yang dingin sementara matanya menelusuri konstelasi-konstelasi yang berkilauan. Hembusan angin malam meniup rambut gelapnya, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk tulang, namun Rafael tak bergeming.Suara langkah kaki lembut terdengar di belakangnya. Rafael menoleh, alisnya terangkat saat mengenali sosok yang mendekat."Yuichi?"Sosok itu tersenyum. Wajahnya merupakan versi maskulin dari Yui, garis rahang yang sama, mata yang sama, tetapi dengan ketegasan yang hanya dimiliki seorang ayah."Sendirian?" tanya Yuichi, suaranya merdu membelah keheningan malam.Rafael mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong di sampingnya. Yuichi melangkah maju dan duduk, jubah hitamnya melambai pelan tertiup angin."Malam ini indah meskipun tanpa bulan," ucap Rafael, matanya kembali menatap cakraw

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   259. Kebangkitan

    Bunga putih mungil bertebaran di aula, mirip kepingan dandelion yang rapuh. Setiap tamu berjalan perlahan, meletakkan bunga kecil tanda penghormatan terakhir. Bunga-bunga itu mencerminkan ketangguhan luar biasa, seperti kehidupan yang bertahan di balik kerasnya dunia bawah, membisu namun tak terkalahkan. Mereka menyebutnya bunga bintang roh. Eirlys menatap Yuan yang terpejam, sosoknya tenang seakan tertidur lelap. Alunan harpa mengalir lembut memenuhi aula, melukiskan kesedihan yang mencekam setiap sudut ruang. Matanya menyipit saat menyadari bunga putih di dekat Yuan mulai membeku, embun es merangkak perlahan mengubah kelopak menjadi kristal dingin. Hawa sejuk mulai merambat, menusuk tulang."Mungkinkah?!"Dalam sekejap, Eirlys bangkit dari tempatnya. Langkahnya cepat mendekati peti kaca tempat Yuan dibaringkan. Jemarinya mendorong penutup tebal dengan tekad membara. Jantungnya berdebar dengan kencang, sebuah api harapan muncul. "Putri Eirlys, relakan Yang Mulia!" Xavier bergerak c

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   258. Kepergian sang Raja

    Senar harpa emas kaum elf bergetar lembut, berbeda dari instrumen biasa. Energi yang digunakan untuk menggerakkan senar ini sangat banyak. Eirlys membiarkan jemarinya terkulai di atas senar, tenaga terampas habis. Napasnya terengah-engah, seakan udara di sekitarnya menghisap oksigen dari paru-parunya."Eirlys!" Lixue melompat mendekati, gemetar mengambil harpa keemasan dari tangan sang adik. Dengan lembut, dia meletakkan instrumen berkilau itu di meja terdekat. "Istirahatlah sekarang." Lengannya melingkari pinggang Eirlys, memapah tubuh lemah itu menuju kursi panjang. Dengan hati-hati, dia mengangkat kaki adiknya dan membiarkan Eirlys setengah berbaring."Kak, bagaimana Yuan?" bisik Eirlys, kekhawatiran menembus kelelahan yang menyelimutinya.Lixue menggenggam tangan adiknya, mencoba menenangkan. "Dia akan baik-baik saja. Ingat, Tuan Xavier dan Tuan Ernest sedang menyiapkan ramuan untuknya." Dalam hati, dia berdoa agar takdir berkata lain. “Semoga Yuan bertahan, setidaknya biarkan Eir

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   257. Liontin Lenora

    Jalanan di depan Yuan terlihat asing. Jalan dengan bebatuan hitam, meskipun itu batu, tetapi tidak terasa seperti batu biasa. Dia mengamati orang-orang yang berjalan menuju ke satu arah yang sama, sebuah gerbang besar di ujung jalan, gerbang yang tidak terlihat jelas tulisan namanya. Yuan masih sangat jauh dari gerbang itu. “Akhirnya perjalanan terakhir,” gumam Yuan yang tahu di mana dia sekarang. Dunia orang mati. Kaki Yuan berhenti melangkah saat seorang wanita dengan jubah putih berdiri di hadapannya, muncul begitu saja hingga dia hampir jatuh tersungkur karena kaget. “Lenora!”“Pangeran Yuan, apa yang Anda lakukan di sini!” Suara Lenora terdengar penuh kekesalan dan amarah seakan dia sedang memarahi seorang anak nakal. “Hah?” Reaksi Yuan mendengar ucapan Lenora. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja dia di sini karena nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya. “Kuulangi, Pangeran, ah tidak, Yang Mulia Raja Yuan, kembalilah sekarang juga!” Lenora berkata dengan nada lebih

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   256. Gunjingan

    “Apa aliran air ini sudah dimantrai?” tanya pria yang menampilkan lengan hitamnya. Dia mengambil air dan menyiramkannya ke tangan hitamnya. “Mantra Genbu dari Putri Yui. Dengan adanya mantra ini tidak akan ada pencurian air untuk kepentingan pribadi yang ingin menjual air ini.” Penjaga itu kemudian terlihat menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Sayangnya, kabar buruk terdengar di istana. Kabarnya Yang mulia saat ini dalam kondisi kritis.” Mendengar penuturan penjaga tersebut, pria yang sepanjang jalan selalu memberikan argumen tidak menyukai raja yang sekarang terlihat marah. “Apa katamu! Lalu kenapa mengundang kami jika dia sendiri dalam keadaan kritis, bukankah dia tidak akan bisa menyembuhkan kami!” suara pria itu terdengar begitu keras hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar. “Tuan tenang saja, di istana semua sudah dipersiapkan.” Penjaga gerbang berusaha menekan amarah pria itu, tetapi tidak berhasil. “Lebih baik kita pulang saja!” Pria dengan lengan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   255. Air di Jalanan Ibukota

    Dunia bawah lebih berwarna. Langit yang biru membawa semangat baru. Kepala desa dan para pemimpin wilayah lainnya menjalankan perintah yang diberikan Yuan, raja mereka untuk mendata dan membawa penduduk dengan tingkat kontaminasi 80 %. Mereka yang telah mengalami kontaminasi bertahun-tahun dipilah dan dibawa ke ibukota untuk bertemu langsung dengan sang raja. “Apa benar kontaminasi ini bisa hilang? Rasanya aku sudah pasrah dengan kondisi ini seumur hidupku.” Pria dengan tangan dan kaki yang sudah menghitam karena kontaminasi terlihat pesimis. Meskipun begitu, setelah menatap langit biru ada secercah harapan di hatinya. “Kalau sang raja bisa menghilangkan kontaminasi di dunia bawah, kurasa bisa juga menghilangkan kontaminasi di tubuhku.” Semua penduduk dengan tingkat kontaminasi parah sudah mulai berangkat menuju ibukota. Mereka menaruh harapan yang sangat besar kepada sang raja, harapan kesembuhan dari kontaminasi yang selama ini menyiksa diri mereka.“Kudengar sang raja masih belia

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status