Mereka pun makan dan lanjut bekerja. Tak ada lagi drama akan apapun yang menganggu konsentrasi keduanya. Mereka pun pulang tepat waktu dengan Zoya yang mengajak Gama singgah terlebih dulu ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Jelas rumah baru masih kosong. Persabunan saja belum lengkap. Zoya pun ingin sekalian membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas. Senangnya Gama mau menemani dan santai jalan-jalan berdua tanpa takut ketahuan ada yang melihat dan menaruh curiga akan kedekatan mereka. Sudah go public dan santai menyikapi tanggapan orang lain. Hanya saja memang kabar pernikahan itu masih tersimpan rapat. Orang-orang taunya pacaran saja dan Gama akan menyebar undangan untuk mengadakan pesta pernikahan yang megah. Gama membuntuti kemana pun langkah Zoya. Pria itu begitu sabar menunggu istri memilih apa saja yang ingin dibeli. Tidak ada keluh kesah padahal sudah memutari lorong yang ada di sana sampai dua atau tiga kali putaran.. Definisi cinta memang sepert
Suara decapan keduanya yang saling menyesap, membelit dan beradu lidah membuat panas hawa air di dalam kolam renang. Gama dan Zoya saling bercumbu penuh gairah yang menggebu. Suara lenguhan dan desahan dari Zoya pun begitu merdu hingga Gama semakin terbuai dan terus merusuh dengan sentuhan yang semakin membuat Zoya terpejam menahan nikmat. Air yang tenang mulai bergelombang seiring dengan pergerakan Gama yang tak bisa diam. Tangan pria itu mulai mengabsen tubuh milik Zoya yang selalu indah dalam pandangannya. "Mas..." "Panggil namaku Sayang!" "Ugh Gama... Hhhmmm. " Bagaimana Zoya bisa menahan jika sentuhan Gama di setiap inci tubuhnya membuat ia melayang. Tangan pria itu lincah singgah di titik sensitifnya yang sangat membangkitkan hasrat. Zoya mendongak saat Gama mulai melepaskan ciumannya dan membiarkan Gama mengabsen tubuhnya dengan lidah yang lincah. Tubuh Gama melemah jika sentuhan Gama semakin membuatnya resah. Tidak bisa dia menahan hingga Gama pun merai
Nakalnya Gama membuat Zoya kewalahan. Begini kalau sudah kembali bersuami, harus mampu mengimbangi. Apalagi kalau memiliki yang seperti Gama tapi Zoya sangat bersyukur karena Gama selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Mereka keluar dengan gaya yang bertolak belakang. Kalau Zoya terlihat lemas, tapi tidak dengan Gama yang terlihat sumringah dan semakin bertenaga. Pria kalau keturutan ya begini. Tubuh Zoya serasa ngilu semua menuruti inginnya Gama. Dia pun memilih duduk di depan meja rias dan membiarkan Gama yang mengambilkan pakaian gantinya. Biarkan sekalian dilayani oleh suami. Siapa suruh membuatnya lelah begini. Tidak cukup di kolam renang, di kamar mandi pun kembali dihajar. Cup "Pakaiannya Sayang! Sini aku bantu!" ujar Gama. Zoya pun beranjak dari sana dan berdiri di hadapan Gama. Dia membiarkan saja Gama memasangkannya. Namun Zoya dibuat tercengang saat sadar dengan apa yang ia kenakan saat ini. Kedua mata Zoya terbelalak menatap tubuhnya dari pantulan c
Gama dan Zoya segera berangkat setelah keduanya menghabiskan sarapan pagi buatan Bibi. Beruntung sekali ada beliau. Zoya jadi bisa lebih fokus pada Gama. "Sebentar Mas, jas kamu ini terlipat. Nanti jadi lusuh loh. Oh ya, kita akan ada meeting dengan klien di jam sembilan, Mas," ucap Zoya sebelum mereka masuk mobil. Lebih dulu Zoya merapikan penampilan Gama yang agak kurang enak dilihat. "Iya Sayang." Lembut suara Gama membuat Zoya mendongak menatap pria itu. "Tapi kali ini perusahaan besar loh, Mas. Pak Dito apa tidak mengatakan sesuatu sama kamu?" tanya Zoya. Dia segera masuk mobil setelah Gama membukakan pintunya dan disusul oleh Gama yang juga bergegas untuk masuk. "Belum, Dito mungkin lupa. Apa nama perusahaannya?" tanya Gama kemudian memasang safety belt sebelum melajukan mobilnya. "Namanya apa ya, sebentar aku cek dulu!" Zoya pun membuka email di ponselnya untuk mengecek nama perusahaan yang meminta kerja sama. pada mereka. Dengan teliti dia membaca satu persatu em
"Hhmm... " Gama diam mendengarkan penjelasan dari Dito. "Saya sudah menyelidiki semuanya. Benar memang anda adalah cucu laki-laki satu-satunya di keluarga Artanegara. Anda itu pewaris kekayaan setelah paman anda pun mendapatkan haknya." " Anda yang lebih memiliki wewenang akan kekayaan Artanegara dan saat ini mereka tengah membutuhkan anda karena paman anda yang sempat diberikan kesempatan, tidak bisa menjalankan perusahaan besar itu." "Nenek Anda betul-betul mengharapkan kepulangan anda, Pak Gama. Hanya anda satu-satunya yang bisa diandalkan. Maka dari itu kemarin kedatangannya memang sangat ingin bertemu dan membutuhkan pertolongan anda." "Mungkin karena perusahaan yang sudah mulai goyah semenjak dipegang paman anda. Sementara tidak ada lagi yang menggantikan beliau di sana. " Gama menarik nafas dalam setelah mendengar penjelasan dari Dito. Gama belum tau akan bertindak bagaimana untuk masalah ini karena memang dia masih sakit mengetahui nasib Ibunya. "Aku belum ing
Zoya mendongak saat Gama mulai merusuh. Tangan pria itu sudah tidak bisa diam dan lidah Gama pun mulai mengeksekusi sesuai keinginan pria itu tadi. Micu-micu yang katanya untuk menambah semangat. Tangan Zoya meraih kepala Gama dan menjambak rambut pria itu. Begini jelas Zoya tak tahan. Apa lagi Gama begitu tau titik sensitifnya. Ampun-ampunan Zoya dibuatnya. "Mas jangan digigit!" Rengekan manja diselingi nafas yang memburu dan suara yang merdu membuat Gama semakin bersemangat. Memang paling suka kalau sudah membuat sang istri kelimpungan begini karena ulahnya. Sudah bisa dipastikan Zoya basah. "Mas sudah! Nanti kita telat. Kamu buat aku berantakan," keluh Zoya yang kemudian menunduk memperhatikan Gama yang mendongak menatapnya tapi masih menahan buah ceri yang mungil miliknya di dalam mulut pria itu. "Jangan kelewat nakalnya!" ujar Zoya tapi tak digubris oleh Gama. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi untuk menikmati bagian seksi milik istri. "Mas ya ampun, nanti
Gama menoleh ke arah Dito setelah melihat siapa yang duduk di ruangan meeting saat ini. Tatapan Gama begitu tajam dan Dito hanya menunduk tanpa berani membuka suara sedangkan Zoya menatap bingung pada kedua orang yang duduk di sana. "Bodoh kamu, Dito!" umpat Gama. "Maafkan saya, Pak. Saya tadi hendak menjelaskan tapi tidak jadi karena Bu Zoya bicara," ucap Asisten Dito yang sudah pasti kena amuk oleh Gama karena lalai dalam bekerja. "Berani menyalahkan istri saya kamu? Dasar lelet!" Gama sewot sekali karena untuk memang masalah ini Dito sangat-sangat lambat dalam bekerja. Gama mendengus kesal. Tak mungkin juga akan keluar begitu saja. "Mas sudah! Kamu sapa dulu," bisik Zoya pada Gama yang berubah sikap menjadi terkesan dingin saat ini. Gama pun berdehem kemudian duduk di kursi khusus untuk pria itu dan diikuti oleh Zoya juga Asisten Dito. Mereka menduduki kursi masing-masing di meja meeting pagi ini. Di depan sana terlihat nenek yang tempo hari datang dan juga seorang
"Mas!" "Jangan bujuk aku, Sayang!" ujar Gama membuat langkah Zoya terhenti. Zoya begitu khawatir pada suaminya, bukan ingin membujuk karena sadar betul Gama masih sangat kesakitan hatinya. Namun perlahan langkah Zoya maju saat Gama terlihat menunduk di depan meja kerja dengan wajah semrawut. Gama mengusap kasar wajahnya dan meninju meja itu dengan sangat kencang. "Mas!" "Aku benci hal ini, Sayang!" sentak Gama. Pria itu terlihat sangat marah. Apa lagi adanya permintaan kerja sama dari perusahaan besar itu. Gama menganggap hanya sebagai lelucon yang mereka buat. Zoya mengangguk paham kemudian melangkah mendekati Gama. Tangannya terulur mengusap lengan Gama dan memperhatikan wajah pria itu dengan lekat. Ada secuil hati yang menyayangkan akan sikap Gama tadi tapi Zoya paham itu karena sakit hatinya Gama atas sikap keluarga sang Ayah di masa lalu. Namun mereka sekarang sudah meminta maaf dan masih menganggap Gama ada. Walaupun salah satu alasan mereka karena membutuh
Panggilan masuk ke dalam ponsel Gama tak membuat pria itu terganggu. Gama yang begitu sibuk, sama sekali tidak sadar jika ponselnya yang ada di dalam tas kerja berdering berulang kali. Yang Gama pikirkan saat ini hanya satu, perkerjaan selesai karena sudah diburu waktu. Sadar jika dirinya tengah ditunggu istri tercinta di kantor. Sementara di tempat kejadian perkara, Zoya mendapatkan pertolongan dari pihak mini market yang kini sudah memanggil tenaga medis untuk menolong Zoya. Banyak yang menghampiri tapi tak banyak yang berani menolongnya. Yang ada hanya menonton kejadian naas itu dengan wajah menahan ngeri. Apalagi kejadian ini diduga peluru nyasar tapi pihak berwajib yang datang tetap akan melanjutkan penyelidikan. Untuk mencari tau siapa yang membawa pistol tanpa ijin terlebih dahulu. Sayangnya Gama yang merupakan keluarga korban, setelah melihat panggilan keluar terakhir dari ponsel Zoya, justru tidak ada tanggapan. Hasilnya malah nihil, Gama tidak bisa dihubungi. Ya
Pekerjaan segera diselesaikan hari itu juga. Gama dan Zoya begitu giat karena memang ingin cuti. Jadi jangan sampai terlalu merepotkan Dito juga nantinya. Kasihan kalau sampai Asisten Dito dibuat repot sana sini. Sadar jika pekerjaan itu tanggung jawab mereka penuh. Khususnya Gama yang mana sebagai pemimpin di dua perusahaan. Siangnya Gama pun pergi ke perusahaan peninggalan sang Ayah. Gama meninggalkan Zoya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu pergi bersama dengan Asisten Dito tanpa mengajak Zoya. Namun sebelum pamit pada Zoya. Gama memastikan dulu kalau Zoya tidak masalah ditinggal. Gama terlihat sangat perhatian dan tidak ingin Zoya merasa tidak nyaman karena ditinggal sendirian. "Aku hanya sebentar, di sana juga harus aku bereskan. Kamu kalau sudah, tunggu aku saja di dalam. Jangan pulang sendiri! Nanti aku jemput." Gama mengusap kepala Zoya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Biasa bersama, meninggalkan Zoya begini terlihat sangat-sangat berat sekali.
Zoya menatap semua orang yang ada di sana. Mereka semua terlihat tak percaya dengan apa yang mereka dengar sedangkan sebelumnya orang-orang itu sudah memprediksi jika dirinya ada hubungan terlarang dengan kakak ipar. Apalagi video dulu yang tersebar, mereka tau akan itu. Hanya saja memang Zoya dan Gama yang menjaga jarak, sempat mematahkan apa yang menjadi pemikiran mereka. "Bapak serius? Mendadak sekali, Pak? Tidak terlihat tau-tau menikah." "Iya Pak, tapi kami doakan semoga langgeng. Sakinah, mawadah, warahmah." "Aamiin... " Zoya mengangguk ramah dan tersenyum mendengar itu. Zoya menoleh ke arah Gama yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tatapan keduanya bertemu hingga Gama gemas dan mengacak rambutnya. Lagi-lagi keharmonisan itu membuat para karyawan yang melihat mereka nampak terkesima. "Undangan akan saya berikan via online. Saya juga meminta pada kalian untuk bekerja dengan baik. Saya akan ambil cuti. Jadi saya tidak ingin ada masalah pada kalian dan per
Entah mengapa Zoya merasa curiga dengan keceriaan Sena. Wanita itu begitu mudah mengiyakan. Bukankah Sena suka dengan Gama? Harusnya tidak senang dengan apa yang akan terlaksana nanti. Usai sarapan, Zoya dan Gama pamit untuk berangkat ke kantor. Ini hari terakhir mereka bekerja sebelum besok mempersiapkan diri untuk hari pernikahan mereka. Tak ada orang tua dan sanak saudara yang sangat dekat, membuat keduanya lebih mendiri menghadapi semua ini. Gama juga tidak terlalu memusingkan karena selagi ada uang, semua bisa beres dengan cepat. Zoya pun berusaha untuk santai walaupun sebenarnya dia agak deg-degan menghadapi banyak tamu nanti yang pastinya memiliki pemikiran beragam pada mereka. "Dito, kita adakan meeting! Siapkan semua karyawan dan minta mereka berkumpul di bawah!" perintah Gama. "Baik, Tuan." Asisten Dito pun segera melaksanakan tugas. Pria itu segera mengumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali melalui para manager tiap-tiap divisi. Gama pun bersiap untuk it
Pagi ini kembali Gama dan Zoya bergabung dengan keluarga Atmanegara dalam satu meja makan untuk sarapan bersama. Mereka sudah kembali berbaur dengan percakapan dan pembahasan yang lebih santai dari pada semalam. Mungkin karena nenek pun menyadari jika semalam sudah membuat situasi tidak nyaman jadi untuk pagi ini tidak menyinggung dulu masalah perusahaan ataupun rumah. "Gama mau langsung berangkat kerja?" tanya Nenek pada Gama yang terlihat lebih cerah pagi ini. Bagaimana tidak jika Gama sudah habis top up tadi. Sudah memberikan gebrakan pada sang istri dan ternyata juga pada tetangga kamar sebelah yang begitu penasaran pada Gama sampai-sampai sekarang belum turun. "Iya, Nek. Kami akan langsung kerja. Bagaimana dengan kesehatan Nenek? Apa sudah merasa lebih baik dari sebelumnya?" tanya Gama pada Nenek yang tersenyum mengangguk. Zoya hanya diam menyimak obrolan itu begitupun dengan Santi dan juga Bara. Mereka sudah lebih dulu sarapan dan tak menunggu Sena yang memang hobi
Mendengar permintaan Zoya dengan suara yang manja tentu saja semakin membangkitkan gairah Gama yang sudah sangat memuncak. Hanya saja sebisa mungkin Gama menahannya. Zoya juga lupa padahal semalam dia merasa ragu untuk bercinta di rumah ini tapi setelah disentuh tepat pada titik sensitifnya, Zoya tak bisa menolak Gama dengan segala pesona pria itu. Awalnya menolak sekarang malah menggeliat meminta lebih. Itulah wanita ketika sudah kena titik sensitif di tubuhnya. Apalagi Gama yang tidak pernah meleset karena sudah sangat hafal mana saja tempat yang membuat Zoya membuka kedua kakinya. "Aku suka jika kamu meminta Sayang. Begini? Apa sudah nikmat? Atau kamu ingin yang lebih dari ini? Yang lebih kasar tapi membuat tubuhmu semakin menggeliat?" "Lakukan, Mas! Lakukan itu semua untukku!" sahut Zoya pasrah. Otak Zoya sudah dipenuhi dengan hal nikmat ini hingga dia tak lagi bisa mengatakan tidak. Ini sangat nikmat. Bercinta di pagi hari memang rasanya lebih gereget sekali.
Sulit memang jika sudah tidak suka dengan seseorang. Apa yang dilakukan tetap saja itu tidak baik di mata orang tersebut. Begitu juga dengan pandangan Sena pada Zoya saat ini. Setelah pertemuan mereka yang tidak baik kala itu membuat pandangan keduanya pun memburuk apa lagi Sena yang sangat tidak suka pada Zoya. "Mas jangan nakal! Ayo masuk aja! Kamu meresahkan sekali, Mas." Zoya menahan tangan Gama yang sudah mode iseng. "Masih ingin di sini Sayang. Ngadem enak, bikin pikiran tenang. Sini senderan di dada aku!" perintah Gama pada Zoya yang kemudian segera dituruti karena tangan pria itu sudah menarik tubuhnya. "Nah gini! Sekarang kita hitung Bintang!" "Nggak mau! Kamu kurang kerjaan banget sumpah. Kenapa nggak jelas banget, Mas," tolak Zoya. Ada saja Gama ini. Mana bisa terselesaikan sedangkan malam ini langit cerah bertabur bintang. "Nggak apa-apa, nanti aku bantuin, Sayang!" kata Gama gemas karena Zoya yang menolak. "Kamu bantu apa, Mas? Jangan bilang kalau kamu h
"Aku belum bisa memutuskan Nek dan istriku akan tetap ada di sampingku...." Jawaban itu terngiang di dalam ingatan Zoya. Gama dengan tegas menjawab demikian. Bukan apa, tapi Zoya sudah cukup tenang mendengar itu. Akhirnya Gama menjawab sesuai inginnya. Bukan Zoya ingin terus bersama dengan suami, mengikuti suami, menjadi satpam untuk suami. Hanya saja pengalaman mengajarkannya banyak hal. Termasuk bekerja di tempat yang berbeda. Sudah pasti akan ada saja godaannya. Entah dari Gama atau mungkin darinya. "Makannya dihabiskan, Nak! Nambah lagi!" ujar Nenek pada Zoya. Terlihat sekali jika Nenek saat ini merasa tidak enak pada Zoya. Mungkin karena sadar sudah sedikit mengatur sedangkan Gama dengan tegas tidak mau diatur. Lihat saja, mengenai harta yang banyak itu pun Gama masih berpikir puluhan kali padahal itu menguntungkan sekali bagi pria itu. Hanya saja memang Gama tidak hanya memikirkan untung saja tapi ke depannya juga. "Makasih banyak, Nek. Zoya sudah kenyang," ja
Usai Gama mandi, pria itu pun segera mengenakan pakaiannya. Sementara Zoya memperhatikan dari pantulan cermin saat Gama dengan santainya membuka handuk hingga milik pria itu terlihat jelas. "Pas loh, aku dari kemarin kemana saja? Yang aku tau hanya rasanya tanpa aku tau ukuran pembungkusnya. Oh Astaga Zoya... Otakmu lama-lama tidak beres karenanya." Zoya menggelengkan kepala sampai di tidak sadar jika Gama mendekati dan tiba-tiba mengecup pipinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" Deg Zoya terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Duh untung jantung aman meskipun seperti sedang maraton. Zoya menatap Gama dari pantulan cermin. Pria itu memeluknya dari belakang dan sesekali mengecup dengan gemas. "Kanapa Sayang? Apa kamu baru sadar jika milik suamimu besar? Aku tau kamu memperhatikannya, Sayang," tanya Gama dengan suara lirih di telinga Zoya. Seketika tubuh Zoya meremang merasakan nafas Gama yang begitu hangat menerpa kulitnya. Terlebih saat Gama yang sengaja mengusal