BERSAMBUNG
Bryan tak tahu berapa lama ia pingsan, saat sadar dengan kepala pusing, Bryan kaget dia berada di sebuah ruangan mirip sel.Yang bikin dia kaget lagi, di ruangan yang sempit ini terdapat tiga orang lainnya, sehingga sempit ini terasa sesak dan panas.Bryan pun hela nafas dan mengingat-ingat apa yang terjadi padanya, ini seolah mimpi saja baginya, niat healing berubah jadi mimpi buruk baginya.“Darimana kah asal kamu anak muda?” tiba-tiba ada suara yang bertanya padanya dalam bahasa Inggris, agak kurang dan logatnya seperti logat Arab asli.Bryan menoleh dan orang itu seorang pria kurus yang belum terlalu tua. Namun brewoknya terlihat mulai bercampur putih.“Aku dari Indonesia tuan, aku tak paham apa yang terjadi, saat jalan-jalan usai syuting film, tiba-tiba saja aku di todong dan di bawa ke sini oleh 5 orang berpakaian militer Israel,” sahut Bryan.Bryan lalu cerita singkat kenapa ia di tahan dan sama sekali tak tahu kalau dia sudah masuk wilayah zionis, di pikirnya ini masih wilayah
Ketiga serdadu ini lalu panggil dua orang yang sepertinya dokter dan satunya perawat.Begitu ruangan ini di buka dan 3 serdadu yang tetap siaga, dokter wanita dan perawat ini memeriksa, mereka pun beri tanda, kalau dua tahanan ini sudah tewas.Tak lama datang lagi satu tentara dan membawa dua kantong mayat dan memasukan kedua jasad ini ke dalam kantong mayat tersebut.Lalu di letakan begitu saja dipojokan, agaknya mereka memanggil petugas lainnya yang khusus akan mengangkat dua kantong mayat tersebut. Bryan dan Abu Amir saling pandang.“Cepat Abu Amir, inilah saatnya dan satu-satunya jalan kita kabur, sebelum para serdadu balik lagi ke sini,” bisik Bryan dengan langkah cepat, bangkit dari tempatnya.Dengan tergesa-gesa karena berpacu dengan waktu, Bryan dan Abu Amir buru-buru buka kantong mayat tersebut dan keluarkan kedua jasad tadi.Lalu keduanya copot pakaian di jasad itu dan menukar dengan pakaian mereka.Bryan tak peduli baju itu bau apek, setelah itu pakaian mereka yang di lepas
“Anda orang Palestina juga?” sahut orang ini sambil menatap Abu Amir dan Bryan.“Iya..!” Lalu Abu Amir secara ringkas menceritakan kaburnya mereka dari tahanan zionis, Bryan tentu saja paham bahasa ini, karena masih masih gunakan bahasa Arab dialek Palestina.Keduanya lalu di ajak ke desa tersebut, yang terlihat porak poranda, seperti habis kena gempa bumi 9 skala richter saja, luluh lantak tak ada bangunan yang utuh lagi. “Tempat ini dua minggu yang lalu di bom pesawat-pesawat zionis,” kata orang tadi sambil serahkan air mineral buat Abu Amir dan Bryan.Tak lama kemudian mereka di kenalkan dengan Abu Shekar, dia adalah pemimpin perlawanan di daerah ini, yang berafiliasi dengan sebuah kelompok di Lebanon dan Iran.Begitu tahu Bryan dari Indonesia, Abu Shekar senang bukan main, dia langsung sebut rakyat Indonesia adalah saudara seperjuangan.Bryan tak paham apa maksudnya, karena dia memang tak paham soal politik, apalagi soal perang, dia berada di sini karena di culik pasukan zionis.
“Sebelum berangkat, kita akan menemui seorang pejuang senior, selain minta restu juga minta petunjuk. Tuan Bryan jangan kaget yaa, beliau itu asli Indonesia, tapi sejak masih remaja sudah jadi warna negara Palestina, beliau bernama Syekh Mat Bani, asalnya dari Madura!” cerita Abu Shekar.Abu Shekar juga cerita latar belakang Syekh Mat Bani, yang di katakan sangat berpengalaman berperang, tapi kini menyepi alias pensiun di medan laga, karena faktor usia."Beliau bahkan di katakan kebal peluru, makanya sampai kini pasukan zionis sangat menginginkan kepala beliau, sampai ada sayembara segala." cerita Abu Shekar.Mendengar asalnya Madura, Bryan otomatis teringat masa-masa kecilnya, sekaligus teringat kenakalannya bersama dua sahabat dekatnya, Cholil dan Kadir.“Entah di mana mereka kini,” batin Bryan, yang baru sadar, sudah lama tak kontak kedua sahabatnya, gara-gara sibuk ngartis.Tuan Shekar hanya di temani Abu Amir dan dua pejuang lainnya, tapi kali ini Bryan di ajak serta.Tempat tingg
“Ingat kita mulai menyerang pukul 2 dinihari, jadi manfaatkan waktu ini untuk istirahat lalu menuju ke sasaran, kita juga akan rampas 15 buah jeep itu dan hancurkan 10 buah tank tersebut,” perintah Abu Shekar pada 80 orang pejuang plus Bryan.Tanpa setahu Abu Shekar, kalau pasukan yang lain istirahat untuk pulihkan stamina setelah berjalan hampir 4 jam, Bryan diam-diam malah menyusup mendekati pos ini.Bryan sebelumnya sudah tahu gambaran letak amunisi di pos pasukan zionis ini, maka ke sinilah dia menuju.Bryan di temani Suhail, orang yang selama ini mengajari dirinya menembak sekaligus jadi sahabat dekatnya.Ternyata ide masuk ke gudang amunisi ini justru dari Suhail dan Bryan tanpa ragu setuju.“Kalau gunakan senjata jadul ini, yang ada akan kita akan mati konyol, sementara pasukan musuh semuanya pakai senjata hebat dan modern,” alasan Suhail dan Bryan mengangguk setuju.Bryan aslinya tak ada beban, selain beranggapan dia sebatang kara, kalau pun nasibnya apes tertembak dan tewas, m
“Aku pernah kursus militer selama 3 minggu, untuk keperluan syuting film,” sahut Bryan kalem.“Pantas kamu cepat sekali beradaptasi, latihan menembak juga kamu oke.” Suhail tak sungkan memuji Bryan.“Sudahlah Suhail, sekarang kita harus buktikan perjuangan ini tak sia-sia…!” potong Bryan lagi, sambil liat arlojinya…yang lagi-lagi sengaja Bryan ambil dari salah satu serdadu tadi, selain rokok yang di ambil sebelumnya.“Tinggal 15 menitan lagi…!” bisik Bryan, dadanya mulai bergemuruh, antara gugup, senang dan cemas jadi satu…!Inilah perang yang sesungguhnya, bukan di adegan film, tapi di alam nyata. Diam-diam Bryan aslinya sangat antusias.Jiwa petualangnya terbangkit saat ini, padahal dia bukan serdadu.Tepat pukul 2 dinihari, terdengarlah rentetan suara tembakan, Bryan dan Suhail pun kini bergerak maju dan mereka duluan menyerbu pos ini.5 orang yang jaga di pos depan langsung terjengkang terkena tembakan senjata otomatis curian yang di lepaskan Bryan ini.Kalau Suhail lebih banyak be
Sebelum pagi, mereka kini sudah sampai di markas kembali, Abu Shekar bahagia dan puas bukan kepalang.Tak ada pasukannya tewas bahkan terluka, yang paling bikin dia senang bukan main, 10 jeep berhasil di curi juga puluhan senjata berikut amunisinya.Tentu saja yang paling jadi sorotan dan dianggap man of the match malam tadi adalah Bryan.Aksinya yang nekat dan berani mati membuat semua anggota pasukan kini salut dan kagum dengan keberaniannya.Hampir tak ada yang percaya, Bryan baru pertama kali ikut berperang.“Punya anggota pasukan macam si Bryan, aku yakin seradadu zionis makin banyak yang pasang popok,” gumam Abu Shekar sambil tertawa bersama Abu Amir, yang kini jadi tangan kanannya.Orang yang di puji…malah duduk santai sambil menikmat kopi khas Arab di temani Suhail, sambil nge-rokok yang tadi malam Bryan ambil dari 3 serdadu yang di tewaskannya.“Hmm…enak juga rokok ini…astagaa…ini rokok buatan Indonesia?”Bryan baru nyadar saat menatap bungkusnya. Rokok ber filter black ini me
Ternyata aksi Ryan makin menjadi-jadi, sudah 3X dia terlibat perang dan julukan Desert Ghost makin melekat di dirinya.Keberanian dan kenekatannya serbu musuh tak ada anak buah Abu Shekar yang sanggup menandinginya. Ryan dianggap anggota pasukan yang cari mati saja kalau lagi perang.Akibat asyik berperang Ryan sampai lupa untuk segera cari jalan pulang kembali ke Indnesia. Produser film dan sang sutrada termasu Mami Latini sampai stress karena tak ada kabar apapun tentang Bryan atau Ryan ini.Namun saat teringat dompet dan ponselnya yang di rampas serdadu zionis, Ryan pun tak urung termenung juga.“Aku harus ambil kembali ponsel dan dompetku itu!” batin Ryan sambil duduk termenung menatap gurun pasir.“Mikir apa Bang..?”Tiba-tiba Fareeha sudah duduk di dekatnya walaupun masih ada jarak, Fareeha tetap jaga kesopanan.Kaget juga Ryan, si cantik bak bidadari yang sempat jadi pikirannya, tanpa di duga nongol dan kini malah duduk berdampingan dengannya.“Fareeha….aku ingin menyeludup ke t
Si Mamang ini makin lebar senyumnya saat melihat jalan Sofia dikit berubah, kayak ada sesuatu yang mengganjal di antara pahanya.“Lagi bulan madu agaknya, tancap gas terusss. Maklum masih penganten baru. Bakalan punya adik anak si Sofia itu. Sofia janda cantik dan bahenol, antre pria yang mau jadiin bini, hi-hi..!” batin Mang Kulik sambil menerima depe dari Sofia, lalu menelpon toko bangunan, agar mengantar material.Mang Kulik aslinya masih kerabat jauh Sofia dari jalur ayahnya, suka bercanda dan pastinya malah suka Sofia kini punya ‘suami’.“Mending dia punya suami, daripada janda, kasian sekali dia banyak yang nge-goda,” batin Mang Kulik lagi seolah lega.Pagi itu Mang Kulik serta 3 anak buahnya langsung kerja, target 3 Minggu selesai, estimasi paling lama 1,5 bulan.Hagu pun hari ini manfaatkan waktu untuk jalan-jalan di Cicangi, sekaligus hilangkan nafsunya yang tak tuntas tadi pagi dengan Sofia. Entah kenapa dia seolah punya ikatan batin dengan tempat ini.Sebelumnya, keduanya k
“Ihh…!” Sofia baru nyadar dan pelan-pelan menutupi dadanya dengan jarinya.“Nggak usah di tutup, wajarkan namanya netek bayi!”Tapi suara Hagu agak bergetar, diam-diam pemandangan indah ini mulai mengusik alam bawah nafsunya. “Malu mas,” bisik Sofia dengan sikap salting, tapi makin membuat saliva Hagu naik tak beraturan.Hagu yang malah pelan-pelan menarik tangan Sofia, anehnya Sofia diam saja, Hagu lalu mendekatkan wajahnya dan kagetlah Sofia, saat bibirnya di lumat Hagu.Dari kaget Sofia malah hanyut dan tak ragu membalas ciuman Hagu dengan membelit lidah pria tampan ini.Tanpa sadar suara Sofia berubah jadi lenguhan lembut.“Mas…tunggu!” Sofia menarik wajahnya dia lalu menggeser tubuh bayinya yang kembali nyenyak dan memindahkannya ke sisi kanannya.Kini tidak ada lagi penghalang di antara keduanya. Hagu tersenyum, Sofia ternyata sudah mulai ‘kerjasama’.Kini keduanya tak ragu lanjutkan saling melumat dan Sofia makin melenguh semakin nyaring, saat dadanya yang masih mengeluarkan A
Sofia heran melihat Hagu yang pulang naik taksi sambil bawa dua karung besar, yang dia tak tahu apa isinya dan di letakan begitu saja di kamar.Hagu diam saja melihat keheranan Sofia, dia malah membaca sertifikat milik Sofia itu. Kaget juga Hagu, di sertifikat itu tertulis nama…Radin Hasim Zailani, nama ini persis sama dengan nama kakeknya Balanara.“Jangan-jangan Radin yang di maksdu kakeknya Abang Nara ini?” batin Hagu masih terheran-heran.“Astagaa…iya tak salah lagi, Sofia kan cerita, mantan kekasih neneknya bernama Radin? Pasti Radin Hasim Zailani!”Kembali Hagu membatin lalu senyum sendiri. “Gimana Mas, loh kok senyum-senyum sendiri,” Sofia kini duduk di depan Hagu.“Semua sudah beres Sofia, ini sertifikat rumah kamu!”Hagu serahkan sertifikat ini juga kwitansi tanda lunas, yang di terima Sofia dengan wajah ceria, sambil ceritakan mulai besok tukang bangunan akan mulai rehab rumahnya ini.“Mereka minta upahnya 35 juta bang, di luar material, jadi bagaimana?”“Oke kan saja,” sahu
“Bunga apalagi Aguan, kamu jangan main-main!” dengus Hagu menahan sabar sakaligus amarahnya. Karena si rentiner ini sekehendak hati menerapkan bunga hutang.“Bunga keterlambatan bayar!” kaat Aguan lagi sinis.Brakkkk….meja di depan Aguan pecah berantakan kacanya, Hagu yang terlanjur marah menggebrak meja kaca ini.Wajah Aguan kontan memucat. Anak buahnya 3 orang bermunculan, termasuk yang tadi terpincang-pincang.“Kamu jangan macam-macam Aguan!”“Hehh kamu mengancam aku?” Aguan tak mau kalah gertak dan inilah kesalahannya, tiba-tiba kaki kiri Hagu bergerak cepat.Bukkkk…ngekkkk!Sebuah tendangan keras menyamping membuat Aguan terjengkang dan setengah koit saking kerasnya tendangan ini. Hagu akhirnya tak bisa menahan sabar lagi, kakinya bergerakk cepat dan Aguan pun meringis menahan yang terasa nyiut-nyiut sampai ke kepala. Dua orang maju menubruk Hagu, tapi pemuda yang terlanjur marah ini sudah bangkit dan dia justru yang menyongsong dan duluan menyerang ke duanya.Plakk…plakk…bukkk
Hagu jambak rambut si begal ini setelah tadi ia copot helmnya. Wajah Hagu langsung mengeras, karena wajah si begal ini adalah…salah satu centeng si Aguan.Bukkk…bukkk…krakkkk!Saking kesalnya Hagu langsung patahkan kedua tangan si begal ini.“Biar kamu tak lagi membegal,” desis Hagu, lalu sekali tendang, si begal ini pingsan seketika, kemudian Hagu pergi begitu saja dan mendekati si ojek tadi.Kontan aksi heroik Hagu bikin semua orang melongo dan Hagu pun dengan santainya meminta si tukang ojek tadi lanjutkan perjalanan kembali ke rumah Sofia.Warga pun beramai-ramai angkat tubuh si begal dan sebagian menelpon polisi. Andai tak pingsan, bisa jadi si begal ini akan di permak habis-habisan dan nasibnya mungkin lebih buruk lagi.Wajah si tukang ojek berseri-seri, Hagu tanpa ragu beri dia satu juta, padahal tadi ‘sewanya’ hanya 50 ribu. “Kalau mau jalan lagi, jangan sungkan cari saya di pangkalan Om Jagoan,” seloroh si ojek, Hagu hanya angkat jempol.“Loh Mas Hagu, kenapa lengan bajumu co
Hagu tak mau menunda, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun tanya di mana ada bank terdekat.Sofia lalu sebutkan bank yang dimaksud dan Hagu permisi. “Kamu jangan khawatir aku pasti balik lagi ke sini. Pokoknya rumah ini tetap milikmu dan sertifikatnya akan aku ambil,” janji Hagu.Sofia yang awalnya was-was lega, dia juga yang beri Hagu petunjuk gunakan ‘ojek’ menuju bank tersebut agar cepat.Apalagi saat dia melihat di kamar depan, tas ransel Hagu masih ada, yang artinya si pemuda yang tak sengaja ia temui ini tak bakal berbohong.Hagu juga melakukan ini karena ‘ucapan’ Datuk Hasim Zailani yang secara ajaib menemuinya dan minta dirinya segera bantu Sofia, terlebih ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Brandon dan Radin, ini yang bikin Hagu sangat penasaran.“Bikin bulu kudukku merinding saja, selain di mimpi, Datuk juga bisa muncul terang-terangan di depanku, ni orang pakai ilmu apa sih…? Terus kenapa aku selalu di kait-kaitkan sebagai salah satu keturunannya…? Masa iya
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge