BERSAMBUNG
“Ingat kita mulai menyerang pukul 2 dinihari, jadi manfaatkan waktu ini untuk istirahat lalu menuju ke sasaran, kita juga akan rampas 15 buah jeep itu dan hancurkan 10 buah tank tersebut,” perintah Abu Shekar pada 80 orang pejuang plus Bryan.Tanpa setahu Abu Shekar, kalau pasukan yang lain istirahat untuk pulihkan stamina setelah berjalan hampir 4 jam, Bryan diam-diam malah menyusup mendekati pos ini.Bryan sebelumnya sudah tahu gambaran letak amunisi di pos pasukan zionis ini, maka ke sinilah dia menuju.Bryan di temani Suhail, orang yang selama ini mengajari dirinya menembak sekaligus jadi sahabat dekatnya.Ternyata ide masuk ke gudang amunisi ini justru dari Suhail dan Bryan tanpa ragu setuju.“Kalau gunakan senjata jadul ini, yang ada akan kita akan mati konyol, sementara pasukan musuh semuanya pakai senjata hebat dan modern,” alasan Suhail dan Bryan mengangguk setuju.Bryan aslinya tak ada beban, selain beranggapan dia sebatang kara, kalau pun nasibnya apes tertembak dan tewas, m
“Aku pernah kursus militer selama 3 minggu, untuk keperluan syuting film,” sahut Bryan kalem.“Pantas kamu cepat sekali beradaptasi, latihan menembak juga kamu oke.” Suhail tak sungkan memuji Bryan.“Sudahlah Suhail, sekarang kita harus buktikan perjuangan ini tak sia-sia…!” potong Bryan lagi, sambil liat arlojinya…yang lagi-lagi sengaja Bryan ambil dari salah satu serdadu tadi, selain rokok yang di ambil sebelumnya.“Tinggal 15 menitan lagi…!” bisik Bryan, dadanya mulai bergemuruh, antara gugup, senang dan cemas jadi satu…!Inilah perang yang sesungguhnya, bukan di adegan film, tapi di alam nyata. Diam-diam Bryan aslinya sangat antusias.Jiwa petualangnya terbangkit saat ini, padahal dia bukan serdadu.Tepat pukul 2 dinihari, terdengarlah rentetan suara tembakan, Bryan dan Suhail pun kini bergerak maju dan mereka duluan menyerbu pos ini.5 orang yang jaga di pos depan langsung terjengkang terkena tembakan senjata otomatis curian yang di lepaskan Bryan ini.Kalau Suhail lebih banyak be
Sebelum pagi, mereka kini sudah sampai di markas kembali, Abu Shekar bahagia dan puas bukan kepalang.Tak ada pasukannya tewas bahkan terluka, yang paling bikin dia senang bukan main, 10 jeep berhasil di curi juga puluhan senjata berikut amunisinya.Tentu saja yang paling jadi sorotan dan dianggap man of the match malam tadi adalah Bryan.Aksinya yang nekat dan berani mati membuat semua anggota pasukan kini salut dan kagum dengan keberaniannya.Hampir tak ada yang percaya, Bryan baru pertama kali ikut berperang.“Punya anggota pasukan macam si Bryan, aku yakin seradadu zionis makin banyak yang pasang popok,” gumam Abu Shekar sambil tertawa bersama Abu Amir, yang kini jadi tangan kanannya.Orang yang di puji…malah duduk santai sambil menikmat kopi khas Arab di temani Suhail, sambil nge-rokok yang tadi malam Bryan ambil dari 3 serdadu yang di tewaskannya.“Hmm…enak juga rokok ini…astagaa…ini rokok buatan Indonesia?”Bryan baru nyadar saat menatap bungkusnya. Rokok ber filter black ini me
Ternyata aksi Ryan makin menjadi-jadi, sudah 3X dia terlibat perang dan julukan Desert Ghost makin melekat di dirinya.Keberanian dan kenekatannya serbu musuh tak ada anak buah Abu Shekar yang sanggup menandinginya. Ryan dianggap anggota pasukan yang cari mati saja kalau lagi perang.Akibat asyik berperang Ryan sampai lupa untuk segera cari jalan pulang kembali ke Indnesia. Produser film dan sang sutrada termasu Mami Latini sampai stress karena tak ada kabar apapun tentang Bryan atau Ryan ini.Namun saat teringat dompet dan ponselnya yang di rampas serdadu zionis, Ryan pun tak urung termenung juga.“Aku harus ambil kembali ponsel dan dompetku itu!” batin Ryan sambil duduk termenung menatap gurun pasir.“Mikir apa Bang..?”Tiba-tiba Fareeha sudah duduk di dekatnya walaupun masih ada jarak, Fareeha tetap jaga kesopanan.Kaget juga Ryan, si cantik bak bidadari yang sempat jadi pikirannya, tanpa di duga nongol dan kini malah duduk berdampingan dengannya.“Fareeha….aku ingin menyeludup ke t
“Ini demi keselamatan kamu Suhail, kalau kamu bertahan di sini, pasti akan ketahuan para serdadu musuh. Tenang saja, aku akan baik-baik saja kok!”Ryan menenangkan hati Suhail dan pemuda yang umurnya sama dengan Ryan ini pun tak bisa lagi membantah ucapan Ryan.Ryan lalu bergerak seorang diri sambil mengendap-ngendap menuju ke sasaran, di tatap khawatir Suhail, yang terus memantau Ryan dari kejauhan, hingga tubuh sahabat nekatnya ini hilang dari pandangan.Ryan kini menatap arlojinya, sudah hampir 2,5 jam dia bersembunyi di reruntuhan bangunan sambil terus memantau tempat ini.Malam sudah menjelang, saat ini sudah hampir pukul 9 malam.“Aku harus menyergap satu orang dan mencuri pakaiannya, lalu masuk ke bangunan itu,” batin Ryan sambil lihat-lihat para serdadu yang lalu lalang.Berpikir begitu, Ryan pun nekat mendekati sasarannya. Dia bahkan kini sudah berada di parkiran dan berlindung di mobil-mobil yang berjejer.Tiba-tiba datang sebuah mobil SUV, lalu dari mobil ini keluar seorang
Ryan masih pura-pura melihat jendela dan tak mau menatap wajah Letnan Elita.“Lohh, kan ada di tempat komandan, masa lupa? Kan komandan simpan di laci meja!” sahut Letnan Elita.Mendengar ini, Ryan refleks menoleh dan saat itu pula Letnan Elita terkejut bukan kepalang, saat Ryan menodongnya dengan pistol.“Si-siapa kamu…di mana Komandan Mayor Ehud?” dengan suara tergagap Letnan Elita menatap wajah Ryan.“Jangan berteriak, atau pistol ini akan membuat kepalamu bolong, komandan kamu sudah aku kirim ke neraka!” dengus Ryan.Letnan Elita dan berkutik, apalagi saat Ryan mengunci pintu dan sang tentara wanita ini hanya bisa menatap Ryan.Letnan Elita kini di lucuti Ryan, pistolnya Ryan rampas, setelah itu dia membuka laci meja kerja Mayor Ehud dan Ryan lega, di sana memang ada ponselnya dan juga dompetnya.Saat ngecek isinya, Ryan lega, kartu-kartunya masih ada, tapi uangnya tak ada lagi.Saat menatap Letnan Elita lebih lekat, barulah Ryan kaget, wanita ini sangat cantik dengan rambut blonde
“Tuan Bryan…kalau boleh saran, sebaiknya kita cari tempat aman dulu, dengan pakaian kita begini, salah—salah kita akan di tangkap pasukan Suriah!”Mendengar usul Letnan Elita, barulah Ryan nyadar, saat ini mereka sedang kenakan seragam serdadu Israel dan mereka pun bukan berada di wilayah Israel, tapi Suriah.“Cari desa terdekat, atau rumah warga, kita beli pakaian baru atau bekas tak apa, dan ganti pakaian ini!” sahut Ryan cepat. Letnan Elita mengangguk.“Satu hal lagi, sebaiknya kartu di ponsel tuan itu di buang saja, atau matikan sekalian ponselnya. Sebab kita akan mudah terlacak, apalagi tuan masih gunakan nomor lama dari Indonesia!”Mendengar ini, Ryan baru nyadar lagi, tanpa ragu dia pun matikan ponselnya, lalu cabut kartunya dan membuangnya ke padang pasir dan Letnan Elita malah melongo, ponselnya pun di buang Ryan sekalian.“Ponsel buatan Amerika, pasti kita akan terlacak juga melalui nomor IMEI-nya atau piranti lunaknya, jadi kubuang saja sekalian,” dengus Ryan, masih kesal se
“Di mana lokasinya?” tanya Letnan Elita antusias, sambil mendekat untuk melihat peta yang ada di lembaran dokumen rahasia itu, tanpa sadar hampir saja kepala mereka beradu.Namun tak ada lanjutannya, karena sama-sama konsen menatap dokumen ini. Sehingga baik Ryan ataupun Elita nggak mikir yang aneh-aneh.“Kalau melihat peta di dokumen ini, lokasinya berada di dekat perbatasan Israel dan Suriah, nama desa-nya Cun City!” Ryan mulai membaca peta itu.“Berarti kita harus cari di mana itu Cun City, aku pernah dengar tempat itu, dulu kota memang sangat ramai…mungkin kini…jadi kota hantu,” ceplos Letna Elita tanpa sadar, lupa kalau perang ini justru di mulai ulah pemimpin bangsanya sendiri.“Akibat perang…achh sudahlah yuks kita lanjutkan perjalanan, kita cari tempat itu, kalau kamu lelah, biar aku yang bawa mobil ini,”Letnan Elita langsung mengangguk dan kini mereka bertukar posisi.Tanpa ragu Elita bahkan bisa memejamkan mata beristirahat, setelah satu malaman tegang, karena jadi sandera R
“Bunga apalagi Aguan, kamu jangan main-main!” dengus Hagu menahan sabar sakaligus amarahnya. Karena si rentiner ini sekehendak hati menerapkan bunga hutang.“Bunga keterlambatan bayar!” kaat Aguan lagi sinis.Brakkkk….meja di depan Aguan pecah berantakan kacanya, Hagu yang terlanjur marah menggebrak meja kaca ini.Wajah Aguan kontan memucat. Anak buahnya 3 orang bermunculan, termasuk yang tadi terpincang-pincang.“Kamu jangan macam-macam Aguan!”“Hehh kamu mengancam aku?” Aguan tak mau kalah gertak dan inilah kesalahannya, tiba-tiba kaki kiri Hagu bergerak cepat.Bukkkk…ngekkkk!Sebuah tendangan keras menyamping membuat Aguan terjengkang dan setengah koit saking kerasnya tendangan ini. Hagu akhirnya tak bisa menahan sabar lagi, kakinya bergerakk cepat dan Aguan pun meringis menahan yang terasa nyiut-nyiut sampai ke kepala. Dua orang maju menubruk Hagu, tapi pemuda yang terlanjur marah ini sudah bangkit dan dia justru yang menyongsong dan duluan menyerang ke duanya.Plakk…plakk…bukkk
Hagu jambak rambut si begal ini setelah tadi ia copot helmnya. Wajah Hagu langsung mengeras, karena wajah si begal ini adalah…salah satu centeng si Aguan.Bukkk…bukkk…krakkkk!Saking kesalnya Hagu langsung patahkan kedua tangan si begal ini.“Biar kamu tak lagi membegal,” desis Hagu, lalu sekali tendang, si begal ini pingsan seketika, kemudian Hagu pergi begitu saja dan mendekati si ojek tadi.Kontan aksi heroik Hagu bikin semua orang melongo dan Hagu pun dengan santainya meminta si tukang ojek tadi lanjutkan perjalanan kembali ke rumah Sofia.Warga pun beramai-ramai angkat tubuh si begal dan sebagian menelpon polisi. Andai tak pingsan, bisa jadi si begal ini akan di permak habis-habisan dan nasibnya mungkin lebih buruk lagi.Wajah si tukang ojek berseri-seri, Hagu tanpa ragu beri dia satu juta, padahal tadi ‘sewanya’ hanya 50 ribu. “Kalau mau jalan lagi, jangan sungkan cari saya di pangkalan Om Jagoan,” seloroh si ojek, Hagu hanya angkat jempol.“Loh Mas Hagu, kenapa lengan bajumu co
Hagu tak mau menunda, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun tanya di mana ada bank terdekat.Sofia lalu sebutkan bank yang dimaksud dan Hagu permisi. “Kamu jangan khawatir aku pasti balik lagi ke sini. Pokoknya rumah ini tetap milikmu dan sertifikatnya akan aku ambil,” janji Hagu.Sofia yang awalnya was-was lega, dia juga yang beri Hagu petunjuk gunakan ‘ojek’ menuju bank tersebut agar cepat.Apalagi saat dia melihat di kamar depan, tas ransel Hagu masih ada, yang artinya si pemuda yang tak sengaja ia temui ini tak bakal berbohong.Hagu juga melakukan ini karena ‘ucapan’ Datuk Hasim Zailani yang secara ajaib menemuinya dan minta dirinya segera bantu Sofia, terlebih ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Brandon dan Radin, ini yang bikin Hagu sangat penasaran.“Bikin bulu kudukku merinding saja, selain di mimpi, Datuk juga bisa muncul terang-terangan di depanku, ni orang pakai ilmu apa sih…? Terus kenapa aku selalu di kait-kaitkan sebagai salah satu keturunannya…? Masa iya
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos