Bab 72. MATA TEMBUS PANDANG Dan tanpa sepengetahuan Jaka Kelud, sebenarnya dia baru saja bertemu dengan ayah kandungnya. Akan tetapi karena Jaka Kelud maupun Rustam Buwono juga tidak tahu kalau mereka sebenarnya adalah ayah dan anak yang terpisahkan oleh sebuah kecelakaan maut, membuat mereka berdua menganggap pertemuan itu hanya seperti sebuah figuran dalam sebuah sinetron. Malam ini Jaka tidur dengan nyenyak di atas kasurnya yang empuk, dan saat tidur tiba-tiba saja dia bermimpi sebuah pemandangan kejadian kecelakaan lalu lintas yang sangat mengerikan. Dalam mimpinya Jaka melihat ada anak kecil yang terlempar dari dalam mobil yang jatuh kedalam sungai yang sedang sangat deras arusnya. “Astagfirullah Hal ‘adzim….” ucap Jaka yang tiba-tiba terbangun dan duduk di atas kasur dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. “Mimpi apa saya barusan? Kenapa mimpinya sangat mengerikan seperti ini? Anak siapa yang jatuh ke sungai itu?” gumam Jaka sambil memikirkan mimpi
Bab 73. WIDURI INDO RUSIA Seketika suasana yang sebelumnya sedikit tegang, kini berubah menjadi cair dan terlihat senyuman di wajah Jaka serta wanita cantik itu. “Perkenalkan saya Jaka Kelud,” sapa Jaka memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya mengajak wanita cantik itu berjabat tangan. “Saya Widuri, oh iya, apa kamu sering jogging?” sahut wanita cantik itu yang ternyata bernama Widuri. “Kak Widuri sudah bertemu dengan rumah pak Subagyo?” “Iya, kemarin saya bertanya kepada satpam komplek. Apakah kamu mau jogging bersama saya?” tiba-tiba saja Widuri mengajak Jaka untuk lari pagi bersama. Tentu saja Jaka tidak menolaknya, apa lagi diajak lari pagi bersama seorang wanita dewasa yang sangat cantik seperti Widuri. Selain cantik, aroma Widuri sangatlah harum dengan aroma khas yang sangat lembut serta sangat enak saat memasuki hidungnya. Sambil berlari kecil Widuri membuka percakapan, “Jaka, apa kamu tinggal bersama keluargamu?” “Tidak
Bab 74. JERITAN KESAKITAN Tentu saja pedagang bubur ayam tidak berani mengusir kelima preman yang memang sengaja sedang membuat masalah dengan salah satu pelanggannya. Melihat ada orang yang berani membuat masalah dengannya, dengan cepat Jaka segera mengambil sendok bubur yang sebelumnya digunakan untuk makan. Cep…! “Argh…!” Jeritan kesakitan seketika keluar dari mulut preman yang berani menggebrak meja di depan Jaka. Mana mungkin dia tidak berteriak kesakitan, karena tangannya yang digunakan untuk menggebrak meja telah terpaku dengan sendok stainless menembus tangannya hingga menancap di meja kayu. Pemandangan mengerikan ini tentu saja langsung mengejutkan semua orang, demikian juga dengan Widuri, dia sampai tidak percaya kalau Jaka bisa melakukan perbuatan seperti itu yang terlihat sangat sadis dengan begitu mudahnya. Pemimpin preman yang sebelumnya sedang menggoda Widuri langsung emosi, begitu melihat salah satu anak buahnya terluka oleh pe
Bab 75. DI SERANG RATUSAN GENG KALAJENGKING HITAM Mendengar teriakan Widuri, Jaka sama sekali tidak panik. Dia mendorong tubuh Widuri agar menjauhi jalanan, sedangkan tubuhnya tiba-tiba saja melakukan sebuah tendangan yang sangat cepat. Wusss…. Bugh… Brum….!! Tendangan Jaka sangatlah cepat dan sama sekali tidak pernah disangka oleh geng motor yang melakukan serangan kepada Jaka. Geng motor ini merupakan bagian dari geng Kalajengking hitam yang salah satu anggota sudah diberi pelajaran oleh Jaka. Saking cepatnya tendangan Jaka, begitu tendangan itu mengenai bagian depan sepeda motor, seketika itu juga sepeda motor itu terbang sangat jauh. Secara otomatis, pengendara sepeda motor yang sedang mengayunkan pedangnya ikut terlempar dan menghantam sepeda motor lain yang ada di belakangnya. Pemandangan ini tentu saja mengejutkan semua geng motor yang sedang konvoi mengejar Jaka, bagaimana tidak terkejut semua geng motor melihat sendiri bagaimana seped
Bab 76. MENAKLUKKAN BANG GONDO Wusss…. Sekali gerakan langkah kakinya, tubuh Jaka melesat bagai kilat ke arah bang Gondo. Kemudian tangan Jaka terlihat sedang mencengkram leher bang Gondo dengan kuat. Wajah bang Gondo langsung memerah dengan cepat dan perlahan mulai kehitaman karena dia tidak bisa bernafas dengan leluasa. Bahkan saat tangan dan kakinya ingin digerakkan, keempat anggota tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Entah kenapa tiba-tiba saja sarafnya menjadi lemas dan otak tidak bisa memerintahkan sepasang kaki dan sepasang tangannya untuk menyerang Jaka. Belum juga satu menit leher bang Gondo di cengkeram Jaka, wajahnya sudah mulai sehitam tinta dan ada darah yang mulai merembes di sepasang matanya. Ekspresi ketakutan serta ketidak berdayaan terlihat jelas di raut wajahnya. Begitu melihat wajah bang Gondo yang sudah menghitam dan tidak lama lagi akan mati. Jaka merasa tidak tega melakukannya, jika dia tidak melepaskan cengkraman tangannya
Bab 77. CAHAYA KECEMBURUAN Setelah mempelajari semua artikel mengenai PT Cahaya Nusantara dan menyimpan nomor kontak direktur perusahaan, Jaka segera menutup laptopnya. “Perusahaan ini mempunyai lima hotel bintang lima yang tersebar di lima kota besar, pastilah harga perusahaan ini tidak sedikit, apa sebaiknya saya menarik dana yang tersimpan di Bank Internasional ke Bank dalam negeri ataukah langsung mentransfer ke rekening perusahaan yang akan saya beli?” gumam Jaka dalam hatinya, otaknya berpikir cepat untuk mengatasi masalah keuangan ini, meskipun dia mempunyai uang yang sangat banyak di Bank Internasional. Bang…. bang… bang…! Begitu menutup laptopnya, terdengar suara pintu gerbang rumahnya ada yang mengetuk. Segera saja Jaka berjalan ke pintu utama untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu gerbang rumahnya. Dari balik pintu gerbang yang terbuat dari besi setinggi tiga meter, bisa terlihat dengan jelas sosok wanita dengan celana jeans biru di padu
Bab 78. KETEMU KELUARGA INTAN WARSITO Mata Intan tiada lepas dari sosok Jaka dan Widuri yang terlihat sangat akrab berjalan memasuki Cafe dan duduk di sebuah meja yang ada di sudut dan terlihat sangat romantis untuk berkencan. Akibat sangat serius menatap kearah Jaka, sehingga tingkah lakunya menimbulkan curiga dari keluarganya yang sedang ngobrol sambil makan siang. “Intan, kamu sedang menatap siapa? Kenapa kamu tidak segera makan?” tegur Rustam Warsito atau ayahnya intan Warsito yang melihat anak gadisnya tampak tidak fokus makan siangnya. “Eh, ndak apa-apa ayah. Hanya tadi seperti melihat teman yang baru saja masuk kedalam Cafe ini,” balas Intan sambil menundukkan wajahnya dan mulai fokus ke makanan di depannya. “Teman? Teman siapa yang bisa membuatmu tampak sangat penasaran?” kata Rustam Warsito sambil mengarahkan pandangannya ke arah pandangan Intan sebelumnya. Dahi Rustam Warsito langsung mengernyit begitu melihat pasangan muda-mudi yang terliha
Bab 79. DUO R Kata Rustam Warsito menjelaskan siapa sahabatnya yang sedang sakit, seketika itu juga Camelia Widodo ingat dengan sahabat suaminya yang dia kenal.. “Maksudmu pak Rustam Buwono CEO Panorama Group yang teman kuliahmu dulu?” kata Camelia Widodo dengan ekspresi penuh dengan rasa khawatir. “Iya, itu maksudku. Saya ingin menengok sahabatku siang ini, bagaimana kalau sepulang dari makan siang ini kita menengok ke Rumah Sakit?” kata Rustam Warsito sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh dengan permohonan. Sebenarnya siang ini mereka ada acara untuk pergi ke sebuah Mall bersama saudaranya yang baru saja datang ke luar kota. Camelia Widodo tidak langsung menjawab permintaan Rustam Warsito, akan tetapi dia malah memandangi saudaranya yang baru saja datang dari luar kota. Keluarga Widodo yang satu meja dengan mereka tampak tidak senang dengan percakapan antara Camelia dengan Rustam. Tentu saja mereka tidak senang, karena mereka tidak mengenal
Bab 129. PEMBUNUH BAYARAN HANTU HITAM Perlahan Jaka memasuki gudang tua yang sudah dipenuhi dengan mayat pembunuh bayaran, dan mendekati sopir truk tronton yang sedang meringkuk seperti udang sambil merintih kesakitan, setelah dilempar oleh Jaka sejauh sepuluh meter. “Argh… ampun….” Dengan tubuh gemetaran dan jeritan kesakitan, karena tubuhnya diinjak kaki Jaka Kelud, sopir truk tronton yang sudah kehilangan keberaniannya memohon ampun sambil tetap berbaring di atas lantai. “Sekarang kamu mau mengganti mobil saya yang rusak atau tidak?” “Ampun, ampun Boss. Saya tidak punya uang untuk mengganti mobil anda yang rusak,” kata sopir truk tronton dengan wajah ketakutan menatap Jaka yang sedang memandangnya dengan ekspresi kejam terbayang di tatapan wajahnya. Sampai saat ini Jaka masih diselimuti euforia kekuatan dari Siluman Naga jaman Majapahit, sehingga dia belum sadar, kalau dia baru saja membunuh puluhan nyawa manusia dengan begitu mudah. Sesungguh
Bab 128. MENGHADAPI PULUHAN PELURU TAJAM Bugh… bugh… bugh… bugh….! “Argh…!!” Lolongan jerit kesakitan menggema saling susul menyusul, ketika tubuh puluhan pembunuh bayaran yang menyerangnya di terbangkan oleh tendangan tanpa bayangannya yang seperti baling-baling melemparkan tubuh mereka. Dalam sekejap puluhan pembunuh bayaran itu sudah bergelimpangan sejauh sepuluh meter di dalam gudang tua. Jaka menatap semua orang dengan tatapan sinis, dimata Jaka semua orang bertubuh kekar itu hanyalah boneka kayu yang tidak perlu di waspadai sedikitpun. Sementara itu sopir tronton yang masih diangkat tubuhnya oleh Jaka, wajahnya memucat melihat betapa tangguhnya pemuda kurus yang sedang menyandera dirinya. Tubuhnya gemetar ketakutan, bahkan di bagian bawah perutnya sudah ingin keluar mengeluarkan cairan berbau asam. Hanya saja sopir truk tronton masih berusaha menahannya, andai dia tidak bisa menahan keluarnya cairan pesing dari bagian bawah p
Bab 127. DIKEPUNG PULUHAN PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang mendengar perkataan sopir truk tronton itu segera bergerak, bagaimanapun juga dia tidak akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap jika mereka sudah pergi meninggalkan gudang tua ini. Dalam sekejap sosok Jaka sudah berdiri di tengah pintu gudang, begitu pintu gudang terbuka puluhan pria yang ada di dalam gudang tua tampak terkejut melihat kehadirannya. “Siapa kamu? Kenapa kamu berada di tempat ini?” Salah seorang pembunuh bayaran menegur Jaka dengan suaranya yang menggelegar dan penuh dengan aura intimidasi. Jaka tidak menghiraukan pria yang menegurnya, dia menatap sopir truk tronton yang ada di dalam kerumunan dengan tatapan tajam, kemudian berkata, “Kamu, kemarilah.” Semua orang langsung saling pandang mendengar perkataan Jaka Kelud, mereka cukup terkejut melihat ada seorang pemuda yang cukup berani berada di markas mereka. Keterkejutan mereka semakin bertambah, ketika mendengar perkataan
Bab 126. MENYELESAIKAN MISI Jaka yang sedang melayang diatas langit segera mengikuti pergerakan mobil van yang ditumpangi sopir truk tronton yang menghilang di jalan kampung. Sementara itu bang Sapto yang mengikuti mobil Jaka tampak tersenyum gembira melihat mobil Jaka sudah gepeng seperti papan triplek di hantam truk tronton bermuatan pasir seberat tiga puluh ton. “Bagus, rencanaku sukses. Saya harus melaporkan keberhasilan ini kepada Boss muda Ridwan. Ha ha ha ha…. mana tuh yang namanya orang kebal? Sekebal apapun dia pasti akan menjadi peyek manusia setelah ditabrak truk tronton…” Tawa bahagia keluar dari bibir bang Sapto yang kemudian dia segera mengabadikan kecelakaan itu menggunakan ponselnya. Setelah merekam mobil Jaka yang sudah gepeng seperti lembaran papan kayu, terhimpit truk tronton bermuatan pasir, segera saja dia mengirimkan video serta foto itu ke ponsel Ridwan. Sementara itu Ridwan yang masih berada di Cafe Bintang bersama Intan, tampak s
Bab 125. AKSI BANG SAPTO PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang tidak tahu kalau bahaya sedang menantinya, masih asik menikmati makan malamnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Intan dan Ridwan yang sedang kencan di Cafe yang sama dengannya. Bagi Jaka, Intan hanya teman satu kampusnya saja, sehingga perasaannya tidak lebih dari perasaan seorang teman saja. Tak lama kemudian Jaka menyudahi makan malamnya dan meninggalkan Cafe tanpa berpamitan dengan Intan. Tentu saja Intan tidak tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe, karena dia duduk memunggungi meja Jaka. Berbeda dengan Ridwan, dia yang duduk menghadap ke arah meja Jaka, tentu saja tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe. Diam-diam Ridwan juga memberi kabar kepada bang Sapto, kalau Target sudah meninggalkan Cafe. Jauh diluar Cafe, lebih tepatnya di pinggir jalan, terlihat dua mobil hitam yang berisi tujuh orang sedang mengawasi Cafe Bintang. “Semua bersiap, target sudah keluar da
Bab 124. SAINGAN CINTA Ekspresi wajah sopir bajaj langsung buruk ketika mendengar alasan Jaka menemuinya. harapan yang sebelumnya muncul di binar matanya, seketika menghilang setelah mendengar perkataan pemuda di depannya. Jaka tersenyum malu mendengar perkataan sopir bajaj, kemudian Jaka berkata lagi, “Saya mau minta tolong kepada abang untuk mengganti roda mobil ku yang kempes. Abang jangan khawatir, saya akan memberi anda uang jasa atas pertolongan abang.” Begitu mendengar perkataan Jaka, sopir bajaj menatapnya dengan tatapan aneh. Siapa juga yang tidak merasa aneh, melihat ada seorang pemuda yang terlihat begitu bugar tidak bisa mengganti roda mobilnya yang kempes. Setelah menghela nafas sebentar, sopir bajaj kembali berkata sambil tersenyum penuh arti, “Apa? Mengganti roda mobil yang kempes? Memangnya anda tidak bisa mengganti sendiri?” “Maaf, saya memang tidak bisa mengganti rodanya.” “Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa saya bantu,” ucap
Bab 123. SIALAN “Hallo Boss muda, ada apa nih Boss muda menghubungi saya?” Terdengar suara seorang pria dengan suara serak dari seberang panggilan. “Gini Bang, saya sedang ada masalah sedikit. Karena itulah saya menghubungi abang,” jawab Ridwan dengan nada serius. “Ha ha ha ha… Boss muda ternyata masih mengenalku. Saya merasa tersanjung Boss muda sudi menghubungi saya. Oh iya, ada pekerjaan apa nih? Apakah saya perlu menghabisi seseorang tanpa jejak, atau cukup memberi pelajaran saja?” Suara telepon langsung hening ketika bang Sapto menebak apa yang diinginkan Ridwan dengan menghubunginya. Setelah menghela nafas berat, Ridwan melanjutkan percakapannya dengan sambil tetap fokus mengemudi. “Saya ingin abang menghabisi seseorang, kalau bisa abang mencari orang yang bisa membunuh seseorang yang mempunyai ilmu kebal.” “Apa? Ilmu kebal?” Terdengar suara bang Sapto sangat terkejut ketika mendengar perkataan Ridwan. “Maksud Boss Ridwan, sasaran kali i
Bab 122. BERTEMU MUSUH LAMA “Jaka, kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru kelihatan?” kata salah satu teman kuliah Jaka yang melihat Jaka memasuki ruang kelas semester tiga. “Saya sedang cuti sebentar, jadi tidak bisa mengikuti pelajaran,” jawab Jaka berusaha memberi alasan yang logis. “Tapi, bagaimana kamu bisa gabung bersama kita di semester tiga? Bukankah kamu tidak mengikuti ujian kenaikan semester?” “Sudah, tentu saja saya sudah mengikuti ujian susulan untuk kenaikan semester. Karena itulah sekarang saya bisa berkumpul dengan kalian.” Teman-teman Jaka masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya, bagaimanapun juga Jaka sudah tidak mengikuti kegiatan belajar selama enam bulan lamanya. Kebingungan mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, mereka berpikir apakah bisa dengan mengikuti ujian susulan, mahasiswa yang lama cuti bisa naik semester. Hari-hari berlalu dengan tenang sejak Jaka mulai mengikuti jam kuliah di Universitas Matri
Bab 121. ANAK YANG MENGAGUMKAN “Tidak ada apa-apa, ayo kita ngobrol yang lainnya saja,” sanggah Melati Sugiri menghindari percakapan tentang pemuda yang membuatnya penasaran. “Ha ha ha ha… sepertinya Melati sedang puber kedua, lihatlah Brondong yang duduk sendirian di sana,” sahut Caroline sambil memberi tanda ke arah meja Jaka. Semua wanita seketika menoleh ke arah meja Jaka Kelud, hal ini tentu saja membuat wajah Melati langsung memerah menahan malu. “Ha ha ha ha… kamu memang mempunyai mata yang tajam, lihatlah wajah pemuda itu memang cukup ganteng,” canda salah satu teman Melati. “Kalian membuatku malu saja. Sepertinya kalian salah menerka apa yang bikin saya penasaran,” bela Melati mencoba meluruskan apa yang ada di dalam pikirannya. “Salah? Sepertinya kami tidak salah menebak isi hatimu. Sepertinya kamu memang sudah seperti yang lainnya, suka dengan pria muda, ha ha ha ha…” Bibir Melati cemberut mendengar ejekan teman-temannya, kemudian Melati