Ritual dimulai dengan nyanyian mantra yang dalam, suara Bu Narti mengalun rendah namun penuh kekuatan. Arif dan Rendy mengamati dengan penuh perhatian, khawatir sekaligus terpesona oleh kekuatan yang mulai terasa mengalir di udara.
Beberapa menit berlalu, dan suasana mulai berubah. Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka bergetar. Wina membuka matanya, dan di dalam pandangannya, sebuah bayangan besar mulai muncul dari dalam tanah, membentuk sosok yang tinggi dan misterius, Danyang Misahan, penjaga hutan yang telah lama tidur.
Danyang berdiri tegak di hadapan mereka, tubuhnya yang transparan memancarkan cahaya yang aneh. Wajahnya yang seram kini dipenuhi dengan kedamaian yang menenangkan, seolah dia datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk memberi berkat. Semua orang terdiam, tidak ada yang berani bergerak, karena mereka tahu bahwa kehadiran Danyang bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
"Danyang," kata Bu Narti, sua
Arif tersenyum dengan penuh pengertian, meskipun ia tahu bahwa tak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu. "Takdir memang sering kali terasa penuh misteri. Mungkin itu berarti suatu hari nanti, seseorang dari keluargamu akan menjadi penjaga bukan hanya hutan ini, tetapi juga dunia yang lebih besar, sebuah dunia yang lebih luas dan penuh dengan tantangan."Wina menarik napas dalam, seakan menelan kata-kata Arif dengan penuh makna. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Arif. Tapi aku ingin menjalani hidupku dengan damai. Gibran... aku ingin menikah dengannya. Aku ingin kami berdua memiliki kehidupan yang sederhana, tanpa bayang-bayang ini."Arif menatapnya dengan penuh empati. "Dan kamu akan mendapatkan itu, Wina. Tapi jangan lupakan bahwa takdir ini bukanlah kutukan. Itu adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar. Apa pun yang terjadi, kamu sudah cukup kuat untuk menghadapinya."Di belakang mereka,
Arif Mahoni duduk di ruang tengah rumahnya yang remang. Di sudut lampu ruangan itu hanya memancarkan cahaya lemah, menciptakan bayangan yang menari di dinding. Rumah besar itu terasa kosong, dingin dan sunyi. Bekas-bekas renovasi yang belum selesai, dinding tanpa cat, lantai yang sebagian masih berupa tanah, menjadi pengingat akan kontraknya dengan kegelapan.“Kenapa ini harus terjadi padaku?” gumamnya sambil menatap foto keluarganya yang kini terasa lebih seperti bayangan masa lalu. Di sana, terlihat dirinya bersama nenek Bunyu, ibunya Sungkai, dan keponakannya, Afifah Mahoni. Afifah adalah anak dari adik bungsunya yang telah lama meninggal.Arif menggenggam bingkai foto itu erat, tangannya gemetar. Dia merasa seperti monster. Semua anggota keluarganya telah menjadi tumbal ritual pesugihan kandang bubrah.”Maafkan aku,” gumamnya lirih dalam kesendirian.Neneknya, ibunya, bahkan ayahnya. Setiap pengorbanan meninggalkan luka di hatinya, yang kini menganga semakin lebar. Tapi kali ini b
Arif kembali ke rumah dengan langkah gontai. Hari itu terasa panjang, dan lelah tidak hanya menyerang fisiknya tetapi juga batinnya. Rumah tua tempat tinggalnya berdiri angkuh di tengah malam yang kelam, dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang seperti penjaga bisu. Langit malam dipenuhi bintang, tetapi keindahannya tidak mampu menenangkan hati Arif yang resah.Arif menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Rumah itu terasa sepi sejak kepergian Orang Tuanya, dan kini hanya, Afifah, yang tinggalsatu-satunya yang masih memilik garis keturunan dengannya. Meski begitu, rasa hampa selalu menghantuinya.Ketika jam dinding berdentang dua kali, Arif mencoba memejamkan mata, tetapi suasana rumah membuatnya sulit tidur. Gelap menyelimuti setiap sudut, hanya ditemani oleh sinar bulan yang mengintip melalui celah-celah tirai jendela. Saat itulah ia mendengar suara pertama, ketukan.“Tok… tok… tok…”Arif membuka matanya perlahan. Keningnya berkerut. Siapa yang mengetuk pintu pada tengah malam?
Keesokan harinya, Arif bangkit dengan tekad baru. Ia tahu bahwa melindungi Afifah adalah prioritas utamanya, meski rasa bersalah dan ketakutan terus menghantui.”Mumpung Lila dan Jatinegara tidak ada di rumah aku haruske rumah ustadz it,” gumamnya.Tanpa pikir panjang, ia membawa keponakannya ke rumah Ustadz Harman, seorang pemuka agama yang ia percayai sebagai harapan terakhir.Setelah mendengar cerita Arif dengan seksama, Ustadz Harman terdiam cukup lama. Alisnya berkerut, dan wajahnya memancarkan keprihatinan mendalam. “Arif,” katanya akhirnya, “Kau telah bermain dengan sesuatu yang tidak kau pahami. Kontrakmu dengan Mbah Mijan bukanlah hal yang mudah diputus. Apa yang kau lakukan dulu adalah dosa besar.”“Tapi bagaimana dengan Afifah, Ustadz?” balas Arif dengan suara bergetar. “Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak bisa kehilangan dia. Aku rela melakukan apa saja untuk menyelamatkannya. Tapi, rahasiakan ni dari Lila dan Jatinegara.”Ustadz Harman mengangguk pelan. “
Desa mulai bergemuruh dengan desas-desus setelah tubuh Afifah ditemukan di hutan dalam keadaan yang mengenaskan. Penduduk desa berbisik-bisik di sudut-sudut jalan dan di pasar kecil, menciptakan suasana penuh ketegangan."Aku dengar tubuhnya ditemukan di dekat pohon besar yang katanya angker itu," bisik seorang perempuan tua pada temannya, matanya menoleh kanan-kiri memastikan tak ada yang mendengar."Ya, dan ada bekas cakar di lengannya. Kau tahu apa artinya, bukan?" balas temannya dengan suara lirih."Danyang! Sudah jelas ini ulah Danyang hutan itu. Kita sudah diperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan hutan," tambah seorang lelaki paruh baya yang bergabung dalam obrolan itu.Namun, suara seorang pemuda terdengar dengan nada serius. "Tapi... ada yang bilang ini bukan hanya soal Danyang. Kau dengar cerita tentang Arif?""Arif? Maksudmu, Pamannya Afifah?" perempuan tua itu bertanya dengan mata membesar.Pemuda itu mengangguk pelan, lalu menurunkan suaranya. "Ada yang melihat dia b
Beberapa hari setelah itu, Wina datang sendirian ke rumah Arif. Ia menemui pria itu di ruang tamu, yang kini berantakan. Foto-foto keluarga berserakan di lantai, dan bau pengap memenuhi ruangan. Wina duduk di depan Arif, mencoba menatapnya dengan penuh simpati.“Kak Arif,” katanya pelan, “Aku tahu ini berat. Tapi desas-desus di desa sudah tidak terkendali. Mereka terus menyalahkan Danyang, dan banyak yang percaya bahwa ini semua karena pesugihanmu.”Arif mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, dan wajahnya penuh kelelahan. “Apa pun yang mereka katakan… mereka benar,” katanya akhirnya, suaranya serak.Wina terkejut. “Apa maksud Kakak? Walau aku tau hal ini sejak lama. Tapi, seharusnya kakak jangan bicara seperti itu.” Protesnya dengan hati-hati.“Aku sudah melakukan dosa besar, Wina. Dosa yang tidak akan pernah bisa aku tebus.” Arif menunduk lagi, tangannya menggenggam erat lututnya. “Afifah… dia adalah tumbal terakhir. Semua ini salahku.”Wina menggeleng pelan, mencoba memproses
125Arif duduk di ruang tamu, menatap kosong ke luar jendela. Tubuhnya yang dulu gagah kini terlihat rapuh, wajahnya pucat, penuh keriput, dan jauh dari semangat hidup. Tangannya menggenggam bingkai foto Afifah, keponakannya yang telah tiada. Setiap malam, wajah Afifah menghantuinya, seperti menuntut jawaban atas semua keputusan kelamnya di masa lalu."Afifah... maafkan Om," bisiknya, suaranya serak dan hampir tak terdengar.Lila melangkah mendekat, membawa secangkir teh hangat. Ia tahu suaminya semakin larut dalam rasa bersalah, tapi tak tahu bagaimana cara menolongnya."Arif, kamu harus makan. Tubuhmu makin lemah," ucapnya lembut, meski sorot matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam.Arif hanya menggeleng pelan. "Untuk apa makan, Lila? Hidupku sudah selesai sejak Afifah pergi."Lila terdiam, menggigit bibirnya untuk menahan air mata. Ia tahu ada sesuatu yang lebih gelap dari rasa duka yang mengikat suaminya.Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Di tengah keheningan,
Lila duduk di sudut ruang tamu, matanya kosong menatap jam dinding yang berdetak pelan. Setiap detik terasa berat, menambah beban kecemasan yang sudah lama menggerogoti hatinya.’Kenapa begini, kamu janji waktu dulu akan terus bersamaku. Kenapa begini, Arif . Aku mohon kamu bisa,’ harap Lila di dalam hati.Di depannya, Arif terbaring lemah di atas sofa. Tubuhnya tampak semakin kurus, wajahnya pucat, seolah-olah hidupnya tergantung pada seutas benang. Penyakit yang menggerogoti tubuh Arif memperburuk keadaannya, membuatnya lebih mudah terperangkap dalam dunia gaib yang semakin menguasainya. Suaminya yang dulu penuh semangat kini hanya tampak seperti bayangan.Lila memandang Arif dengan hati yang penuh keraguan dan rasa sakit. Ia tahu suaminya bukanlah orang yang sama lagi. Arif berbicara tanpa arah, matanya kosong, dan kadang-kadang ia tersenyum sendiri seperti berbicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat Lila."Arif," Lila memanggil, suaranya bergetar. "Apa yang terjadi padamu? Ap
Malam itu, Lila tidak bisa tidur.Jatinegara sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat damai.Tapi Lila tidak bisa menghilangkan suara bisikan tadi dari pikirannya."Ibu… kita belum selesai…"Lila menggenggam tangannya erat.Apakah dia hanya berhalusinasi?Atau ada sesuatu yang masih terikat pada anaknya?***Pagi harinya, saat Lila turun ke dapur, Dimas sudah duduk di meja makan, wajahnya tampak tegang."Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan Jatinegara semalam," katanya pelan.Lila duduk di depannya. "Aku juga…"Ustadz Harman datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Aku sudah meneliti sesuatu sejak semalam."Dimas mengernyit. "Meneliti apa?"Ustadz Harman meletakkan secangkir teh di depan mereka, lalu berkata dengan suara serius."Kutukan ini mungkin belum benar-benar hilang."Lila langsung menegang. "Tapi kita sudah menghancu
Udara malam terasa lebih berat.Lila masih memeluk Jatinegara erat, menangis dalam diam.Anaknya selamat.Dimas berdiri di sampingnya, menatap tanah kosong tempat rumah pria tua itu berdiri beberapa menit yang lalu.Tidak ada apa-apa di sana.Hanya tanah kosong.Seolah-olah rumah itu tidak pernah ada sebelumnya.Ustadz Harman menghela napas panjang, lalu menatap mereka dengan mata yang masih dipenuhi kewaspadaan. "Kita harus pergi sekarang."Dimas mengangguk cepat. "Ya, aku juga tidak ingin berada di tempat ini lebih lama."Mereka semua berjalan cepat menuju mobil yang mereka parkir di luar desa.Namun, saat mereka melewati gerbang Desa Pagerwesi, sesuatu terasa aneh.Lila berhenti.Dimas menoleh. "Kenapa?"Lila menggigit bibirnya.Dia tidak yakin, tapi…Saat mereka pertama kali datang ke desa ini, suasananya terasa berat, penuh bisikan, dan seperti dihuni oleh sesuatu yan
Angin kencang berputar di dalam ruangan.Tangan-tangan hitam yang keluar dari lantai semakin liar, semakin banyak.Dari sudut ruangan, makhluk-makhluk tanpa wajah mulai merangkak keluar, tubuh mereka berwarna abu-abu, mata kosong, dan mulut mereka bergerak seolah-olah menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dipahami.Lila memeluk Jatinegara erat.Ustadz Harman berusaha membaca doa, tetapi suara bisikan di ruangan ini lebih keras daripada doanya.Dimas mencabut keris kecil yang masih tertancap di lantai, matanya penuh kewaspadaan. "Kita harus keluar dari sini!"Tapi pria tua itu tersenyum, tubuhnya semakin berubah, kulitnya semakin gelap, seolah-olah bayangan sedang menyatu dengan dirinya."Kalian tidak bisa pergi," bisiknya.Kemudian, dengan satu gerakan tangan, dia mengangkat Lila dan Dimas tanpa menyentuh mereka.Lila menjerit saat tubuhnya terlempar ke belakang dan menghantam dinding.Dimas juga terdorong keras, t
Pria tua itu duduk diam di tengah ruangan. Matanya hitam pekat senyumnya lebar.Dan ketika ia berbicara, suaranya nyaris seperti suara Arif."Pesugihan ini dimulai dariku… dan kalian tidak akan bisa mengakhirinya."Lila menelan ludah.Jatinegara menggenggam tangannya erat, tubuhnya gemetar.Dimas melangkah maju, ekspresinya waspada. "Siapa kau?"Pria tua itu tersenyum lebih lebar. "Kalian sudah tahu jawabannya."Ustadz Harman mengerutkan kening. "Kau bagian dari keluarga Arif?"Pria itu tertawa kecil. "Bukan bagian."Dia menatap Jatinegara dengan tatapan yang sulit dijelaskan."Aku adalah awal dari semuanya."Lila merasakan bulu kuduknya meremang.Pria itu bukan sekadar anggota keluarga Arif.Dia adalah orang yang pertama kali membuka jalan bagi pesugihan ini.Lila mencoba mengatur napasnya. "Jika kau yang memulainya, kau pasti tahu bagaimana cara mengakhirinya."
Pagi itu, Lila duduk diam di kursi kayu di teras rumah Ustadz Harman.Kopi di tangannya sudah dingin. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menyesapnya.Pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Jatinegara semalam."Ayah bilang… aku akan bertemu mereka semua… sebentar lagi."Siapa yang dia maksud?Lila mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan kegelisahan. Dia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.Jika pesugihan ini belum sepenuhnya hilang, maka mereka harus menghancurkannya sampai ke akar.Tak lama kemudian, Dimas dan Ustadz Harman keluar dari dalam rumah, wajah mereka sama seriusnya."Kita harus mulai menelusuri asal mula perjanjian ini," kata Ustadz Harman. "Tapi ini bukan sesuatu yang mudah."Dimas menyandarkan tubuhnya di dinding. "Apa kita sudah punya petunjuk?"Ustadz Harman mengangguk. "Aku ingat sesuatu. Dulu, Arif pernah bercerita bahwa keluarganya berasal dari sebuah des
Sudah tiga hari sejak mereka meninggalkan Kandang Bubrah.Lila mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Bahwa Arif telah pergi dan pesugihan itu sudah hancur.Tapi setiap kali malam tiba, perasaan aneh menyusup ke dalam dirinya.Seolah ada sesuatu yang masih mengawasi.Seolah ada mata yang terus menatap dari dalam kegelapan.***Malam itu, Lila berdiri di depan cermin di kamar tamunya di rumah Ustadz Harman.Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, mencari sesuatu yang tidak beres.Entah sejak kapan, ia merasa… berbeda.Ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa ini belum benar-benar selesai.Di atas ranjang, Jatinegara sudah tertidur pulas, wajahnya terlihat damai.Tetapi Lila tahu.Anaknya telah berubah. Bukan perubahan yang bisa dilihat orang biasa.
Lila masih berlutut di tanah, tangannya erat menggenggam Jatinegara. Air matanya mengalir deras, tetapi tidak ada suara tangisan yang keluar dari bibirnya.Di depannya, tempat yang dulunya adalah Kandang Bubrah kini hanya tanah kosong, seolah-olah tidak pernah ada apa pun di sana sebelumnya.Tidak ada rumah.Tidak ada gerbang.Tidak ada jejak keberadaan makhluk-makhluk yang pernah menguasai tempat itu.Dan tidak ada Arif.Dimas berdiri di sampingnya, napasnya masih tersengal akibat berlari. Ia menoleh ke Ustadz Harman yang berdiri diam, matanya tertuju pada tempat yang baru saja mereka tinggalkan."Sudah berakhir, kan?" tanya Dimas pelan.Ustadz Harman tidak langsung menjawab. Ia menatap tanah kosong itu lama, lalu mengangguk perlahan."Ya… tapi ada harga yang harus dibayar."
Tanah di bawah kaki mereka terus bergetar, semakin keras, seolah-olah ada sesuatu yang akan muncul dari dalam kegelapan.Sosok-sosok tak bernyawa yang mengelilingi mereka mulai bergerak lebih cepat, langkah-langkah mereka tidak menimbulkan suara, tetapi udara di sekitarnya bergetar oleh keberadaan mereka.Dimas mencengkeram bahu Lila. "Kita harus keluar dari sini, sekarang!"Tapi ke mana?Di mana jalan keluar?Arif masih berdiri di tengah kegelapan, tersenyum, seolah menikmati penderitaan mereka."Kalian tidak bisa lari," katanya, suaranya terdengar tenang, tetapi menusuk seperti pisau tajam. "Tempat ini akan tetap ada… selama dia masih hidup."Mata Arif beralih ke Jatinegara.Jatinegara menggigil dalam pelukan Lila. "Ibu… aku takut…"Lila merasakan jantungnya seperti diremas.
Gerbang kayu besar itu menutup dengan suara menggelegar, seolah ada sesuatu yang mengunci mereka di dalam.Lila menahan napas. Udara di dalam Kandang Bubrah lebih berat dibandingkan dengan di luar. Ada bau tanah basah bercampur anyir yang menusuk hidung, membuatnya hampir muntah.Jatinegara menggenggam tangan Lila lebih erat. Anak itu berbisik pelan, "Ibu… kita tidak sendiri di sini."Lila menoleh ke arah Jatinegara. Matanya.Mata Jatinegara berubah lagi, hitam pekat. Lila hampir menjerit. Tapi sebelum ia bisa bergerak, suara Arif kembali terdengar."Lila…" Mereka semua menoleh.Arif masih berdiri di depan mereka. Tapi kini, senyumnya lebih lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia."Akhirnya kau datang," bisiknya. "Aku sudah menunggumu begitu lama."Lila merasakan kakinya melemas.