Tubuh Gibran masih gemetaran, sebelum hari ini terjadi ia masih mampu untuk menyombongkan diri. Di matanya Arfeen masih sama seperti dulu, seorang menantu yang tidak berguna. Tapi sekarang nyalinya tiba-tiba saja menciut, bahkan untuk bertanya pun tenggorokannya terasa sangat sakit. Seperti ada sebongkah batu besar yang mengganjalnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Gibran. Apa yang kau lakukan di sini?” ulang Arfeen degan nada lebih tegas. “Aku … aku ….” Gibran tidak melanjutkan kalimatnya. Iaa justru menjatuhkan diri di atas lutut. "Kak Arfeen, tolong maafkan aku. Jika selama ini aku kurang sopan terhadapmu!” Arfeen menyipitkan mata, bocah ini datang mengendap dan tiba-tiba saja berlutut padanya. Jadi apakah dia mendengar semua karyawan di sini memanggilnya, Presdir?Jadi Gibran berniat mencari muka padanya? Tapi tentu saja ia tidak akan memberi muka pada bocah brengsek seperti Gibran. “Kenapa kou giba-tiba saja bersikap sopan padaku, ini sangat aneh!”"Kak Arfeen, tolong ja
Larena cukup puas dengan ekspresi seluruh anggota keluaganya. Bukannya ia tak peduli dengan mereka tapi ia hanya ingin meminta pertanggungjawaban mereka selama ini. Ketika dulu papanya harus tersingkir, tak ada satu pun dari mereka yang membela atau paling tidak menyelidiki lebih dulu apakah benar papanya bersalah atau tidak! Mereka juga membuang papanya, membuang keluarganya, membuat mereka hidup menderita selama bertahun-tahun dan harus mampu berdiri sendiri untuk bisa kembali bangkit.Larena masih bisa merasakan sakitnya. Meskipun setelah La Viva mulai menunjukkan akan menjadi salah satu penghasilan yang luar biasa sang kakek menawarkan investasi dana. Ia terpaksa menerima karena memang saat itu sangat susah untuk mencari investor, sementara untuk bisa berkembang pesat La Viva membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan ketika identitas Arfeen sebagai seorang tukang sapu jalan ketika menikahinya terungkap sang kakek langsung mencabut semua dana investasi di La Viva. Membuatnya haru
"Bella, apa yang kau lakukan di ruanganku?" tanya Arfeen denga keterkejutannya mendapati wanita itu ada di ruangannya. Bella yang tengah duduk di sofa sambil memainkan gawainya pun bangkit berdiri dengan senyum."Menunggumu!""Diana!" teriak Arfeen membuat wanita yang duduk di meja depan tergopoh menghampiri. "I-iya, Presdir!" Pantas saja wanita itu ketakutan setengah mati saat dirinya kembali dari ruang meeting. Rupanya karena ada penyusup. "Kenapa dia bisa ada di ruangaku?""Maaf, Presdir. Nona Bella memaksa untuk masuk ke ruangan Anda!""Seharusnya kau tahu siapa saja yang boleh memasuki ruangan ini!"Diana sekarang memang menjabat menjadi asisten sekretaris. Meski tidak sesuai dengan keinginannya untuk menjadi sekretaris Arfeen tapi asisten sekretaris masih lebih baik daripada hanya menjadi manager atau staf biasa. Setidaknya ia masih bisa lebih dekat dengan Arfeen. Ia juga tahu apa saja kegiatan pria itu selama setidaknya 12 jam yang bahkan mungkin istrinya pun tidak tahu."
Arfeen memungut tangan sang istri, menggengamnya erat. "Wife, aku bicara jujur padamu. Sejak kita bersama, kau satu-satunya wanita dalam hidupku. Dan aku tidak peenah menginginkan wanita lain selain dirimu!"Ucapan Arfeen terdengar meyakinkan, tentu saja ia ingin percaya. Tapi mengetahui di masa lalu Arfeen seringnya berganti wanita membuat hati Larena ragu. Arfeen juga tahu tak semudah itu membuat sang istri percaya. Ia akan memberi waktu daripada wanita itu tertekan lalu berpengaruh pada kesehatan dirinya dan juga bayinya. "Ok, membuktikan dengan ucapan itu tak mudah. Tapi aku pasti akan membuktikan bahwa aku tidak berbohong! Kau bisa memeriksa pakaian dan tubuhku, apakah ada parfum wanita yang menempel selain parfummu?"Larena terkesiap. Ketika Bella melewatinya tadi ia sempat mencium aroma parfumnya. Tentu ia bisa mengenali. Jika memang tak ada aroma paefum Bella pada tubuh Arfeen berarti suaminya tidak berbohong. Akhirnya Larena mendekatkan wajah ke tubuh sang suami. Menghidu
Arfeen terpaku mendapati sang mertua ada di kantornya. Vano bangit dari duduk, menghampirinya bersama Viera. "Sedang apa kau di sini?" tanya Arfeen sedikit dingin. Ia ingin memangil Vano denbgan sebutan papa seperti biasanya. Tapi tenggorokannya terasa sangat sakit. "Aku ingin menemui putriku, aku masih papanya!" ucap Vano dengan ekspresi yang sama dinginnya. "Lagipula katamu ... kita harus bicara!"Semua mata yang melihat bisa merasakan ketegangan di antara mertua dan menantu itu. Ada aura permusuhan yang jelas kentara. Arfeen bukannya membenci Vano, tapi ia terlanjur menyayangi pria itu seperti papanya sendiri. Dan kenyataan pahit yang ia temukan jelas menggoreskan luka di hatinya. Vano juga merasakan hal yang sama. Ia mulai menyukai Arfen sebagai menantu, dan ketika ia tahu bahwa Arfeen adalah putra Malik. Hatinya juga hancur. Saat Malik masih hidup, Arfeen jarang tampil di muka umum. Anak itu sengaja disembunyikan karena dialah yang akan menjadi penerus klan Mahesvara yang h
Semua mata mengarah pada Larena. "Kapan? Kapan Gibran berkata seperti itu?" tanya Viera tidak sabaran. "Tadi, di kediaman Kakek. Saat aku hendak pulang dia mengirimiku pesan singkat dan memberitahu tentang hal itu!"Baik Fano maupun Viera melotot pada putrinya. "Kau pergi ke kediaman kakekmu dan tidak memberitahukan kami sama sekali!" seru Viera dengan nada tinggi."Maafkan aku, Ma, Pa. Tapi saat aku sedang dalam perjalanan ke La Viva tiba-tiba saja Larissa menelponku. Katanya Kakek menyuruhnya untuk meneleponku. Kakek memintaku datang ke rumahnya, jadi aku bertanya kepada Arfeen apakah sebaiknya aku datang dan akhirnya aku datang."Vierra tersenyum sinis, "Kenapa kakekmu tiba-tiba saja mengundangmu datang? Apa yang dia inginkan? Apakah dia tahu sekarang Arfeen memiliki kedudukan penting di Mahesvara Group, itu sebabnya dia mulai bersikap baik kepadamu!""Awalnya memang begitu, Ma. Kakek ingin memanfaatkan kedudukan Arfeen di Mahesvara Group untuk mempertemukannya dengan Tuan Muda M
"Kali ini apa yang harus saya lakukan?" tanya Rohan pada si penelepon. "Habisi bayinya!""Dia sedang hamil?" tubuh Rohan menegang. "Kau dibayar bukan untuk banyak bertanya, lakukan saja tugasmu!""Bukankah Anda bilang hanya menerornya saja? Tapi kenapa sekarang saya harus membunuh bayinya?""Itu bukan urusanmu!""Saya tidak bisa membunuh bayi yang tidak berdosa!""Cih! Jangan sok suci. Tanganmu itu sudah berlumuran darah.""Saya tahu, tapi bukan darah dari bayi suci yang bahkan belum berwujud!""Kau pikir aku tak bisa mendapatkan orang lain. Tugas seperti ini sangat mudah, tapi tidak semua orang bisa memberikan harga yang tinggi!"Rohan menggerutu. Ia membutuhkan uang itu. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Membunuh bayi yang tidak berdosa itu sama sekali bukan prinsipnya. Ia sudah melakukan banyak dosa selama hidupnya tapi tidak dengan membunuh bayi yang bahkan masih belum berwujud. "Maaf, Tuan Jaya. Tapi saya tidak bisa melakukan tugas ini!" tolaknya lalu menutup sambungan telepo
Sesampainya di klub Arfeen mengajak sang istri untuk memasuki ruang kantornya. Ia bahkan menyuruh sang istri untuk duduk di kursinya kemudian ia memanggil Steve, manajer yang menangani semua masalah klub."Ada apa, Bos?""Aku ingin kau mengumpulkan semua para gadis di ruangan ini!" pintanya membuat Steve melotot. Tumben sekali Bosnya itu ingin mengumpulkan para gadis di sini. Ada apa? apakah mereka akan mendapatkan bonus. Steve pun meminta beberapa anak buahnya untuk memanggil semua para gadis.Mereka semua memang sudah datang sejak jam 08.00 meskipun klub mulai beroperasi jam 09.00. karena selama ini Bosnya itu jarang sekali murka jika mengenai pekerjaan. Maka mereka pun tidak merasa khawatir ketika dikumpulkan seperti itu. Semua para gadis pun berkumpul di ruangan. Mereka berdiri berjejer dengan perasaan yang tidak menentu apalagi rupanya bosnya membawa sang istri.Nyaris dari mereka semua mengidolakan Larena sebagai wanita tercantik di Kota meski dulu sempat muncul rumor yang menga