Beranda / Young Adult / Pesona Istri Presdir Posesif / 056 || Peringatan Ivander

Share

056 || Peringatan Ivander

Penulis: Diva
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-02 22:57:06

"Ivander, kamu, kok, kasar banget sama aku?"

Laura nyaris saja terjatuh jika saja dirinya tidak sigap memegangi ujung meja Ivander. Ini pertama kalinya, Ivander berbuat kasar seperti ini padanya. Biasanya hanya tutur kata saja yang kasardan tatapan yang selalu tajam kala menatap dirinya.

"Laura, dengar! Ini terakhir kalinya kamu muncul di hadapan saya! Kamu paham?"

Ivander mengusap pahanya yang baru saja di duduki oleh Laura, dia menunjukan secara jelas di depan Laura bahwa dirinya jijik atas tingkah murahan Laura beberapa saat yang lalu.

"Nggak bisa, Ivan! Aku cinta sama kamu, aku nggak bakal biarin kamu nikah sama wanita lain!"

Laura tidak bisa membayangkan jika nanti Ivander bersanding dengan wanita lain. Laura yang sudah menunggu Ivander selama tiga tahun ini, lalu wanita lain yang mendapatkan Ivander. Hati Laura jelas hancur melihat Ivander menjadi milik wanita lain. Hanya Laura yang pantas bersanding dengan Ivander, hanya Laura yang bisa mendapatkan Ivander. Tidak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Pesona Istri Presdir Posesif   057 || Kelelahan Yang Berkepanjangan

    "Udah tidur, sayang?" Ivander mengetikan sebuah pesan untuk Anindya di sebrang sana. Dia segera mengirim pesan tersebut pada Anindya. Ivander tersenyum tipis kala membuka foto profil Anindya, yang tampak cantik menggunakan dress biru dengan rambut tergerai indah. Wanita itu nyaris membuat Ivander gila setiap harinya, sikapnya yang begitu cuek saat berhadapan dengannya. Lima menit kemudian, sebuah pesan balasan dari Anindya masuk. Dengan cepat Ivander membuka pesan dari Anindya, tapi senyumnya langsung luntur kala membaca pesan yang dikirimkan oleh Anindya. My Love Aku baru selesai telpon Lingga, ini baru mau tidur Lingga? Pikiran Ivander kini mendadak buruk membayangkan Anindya dan Lingga baru saja melakukan panggilan telpon. Dia sangat yakin jika Anindya masih menyimpan perasaan pada Lingga, dia takut jika Anindya kembali pada Lingga nantinya. Ivander Alessandro Ngapain telpon Lingga malem-malem? Setelah mengetikan balasan pesan untuk Anindya. Ivander melempar

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pesona Istri Presdir Posesif   058 || Mual?

    "Nindy, kamu pucat sekali." Daren tampak khawatir melihat wajah Anindya yang pucat. Dia menghampiri Anindya setelah meletakan tas ransel miliknya dengan asal. Dia baru saja menginjakan kaki di lokasi syuting langsung panik melihat Anindya yang kondisinya kurang sehat seperti ini. Anindya yang sedang menyesap teh hangat yang diberikan oleh salah satu kru. Menoleh pada Daren dengan senyum tipis yang menghiasi wajah pucatnya. Pertama kali Anindya datang ke lokasi syuting, dia langsung disambut dengan berbagai macam pertanyaan dan para kru saat melihat wajah pucatnya. Pak Antony selaku sopir kediaman keluarga Danendra yang mengantar dirinya tadi, mencegah dirinya untuk turun dan meminta Anindya untuk kembali ke rumah saat melihat kondisi Anindya yang begitu buruk. Anindya menolak permintaan Anthony, bahkan dia mencegah Antony yang ingin mengabari Kanaya di rumah. Dia tidak ingin membuat wanita yang sudah melahirkan dirinya itu panik mendengar keadaan Anindya sekarang. Kanaya tad

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Pesona Istri Presdir Posesif   059 || Pingsan

    "Sakit sekali," ringis Anindya sambil memegangi kepalanya yang terasa pening. Huek! Huek! Anindya terus memuntahkan cairan pada wastafel. Dia meletakan tangan pada pinggiran wastafel sebagai tumpuan tubuhnya agar tidak terjatuh. Pasalnya kedua kakinya begitu lemas untuk menopang kedua tubuhnya. Kepalanya pusing, perutnya terus bergejolak membuat dirinya mual dan ingin terus muntah, wajahnya pucat pasi. Rambut panjang Anindya tampak lepek terkena keringat. Keadaan wanita itu tampak kacau pagi ini. Setelah puas mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya, Anindya membasuh wajahnya dengan air menggunakan kedua tangannya. Dia membasahi sedikit rambutnya yang lepek sudah seperti orang terkena penyakit tips. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin. "Aku nggak biasanya kaya gini!" gumam Anindya sambil menutup air kerannya. Anindya memutuskan untuk keluar menemui Daren yang sejak tadi berteriak di luar kamar mandi. Menanyai keadaan Anindya dengan suara panik. Anindya be

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-05
  • Pesona Istri Presdir Posesif   060 || Positif Hamil

    "Saya suaminya. Gimana keadaan istri saya?" Ivander maju dengan cepat berhadapan dengan Dokter. Membuat Daren terkejut dan ikut bangkit. Dia tidak menyangka jika Ivander akan memperkenalkan dirinya sebagai suaminya Anindya, padahal dia hanya calon suami saja. Dokter wanita itu tersenyum bahagia menatap wajah panik Ivander. "Setelah melakukan pemeriksaan kondisi pasien atas nama Anindya Prameswari. Saya membawa kabar bahagia untuk keluarga pasien, bahwa Nyonya Anindya dinyatakan positif hamil. Selamat untuk, Tuan akan menjadi seorang Ayah." "Hamil?" Suara Ivander terdengar terkejut. Meskipun dia sudah menduga hal ini, tapi rasa terkejutnya tidak bisa dia hindari. Dokter wanita dengan name tag, Desi Nathali itu mengangguk. "Nyonya Anindya saat ini membutuhkan perawatan untuk kesehatan janin dan dirinya sendiri. Kami akan memindahkan Nyonya Anindya ke ruang rawat inap." Perasaan Ivander saat ini tidak bisa dijelaskan. Dia begitu terkejut dengan kabar bahagia yang baru

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-05
  • Pesona Istri Presdir Posesif   061 || Kemurkaan Ivander

    "Bayi dalam kandungan Nyona Anindya baru berusia satu Minggu. Kondisi janin begitu rentan, ukuran janin juga sangat kecil sekitar 0,1-0,2 mm." Dokter Desi itu menjelaskan tentang kondisi janin dan Ibu hamil. "Wanita hamil biasanya lebih sensitif, emosinya jadi tidak stabil. Dari mulai perubahan mood Seperi sedih, marah, bahagia yang tidak jelas itu disebabkan karena perubahan hormon." "Wanita hamil juga sering mengalami kecemasan mengenai keadaan dirinya, kondisi janin dalam perutnya dan memikirkan tentang proses persalinan nantinya." Ivander mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Dokter dengan begitu seksama. Dia ingin mengetahui lebih jelas tentang kondisi wanita hamil agar dirinya bisa menyesuaikan pada kondisi Anindya nantinya. Mendengar penjelasan Dokter, Ivander harus menyiapkan stok kesabaran seluas samudra dan sedalam lautan menghadapi emosi Anindya yang tidak stabil. Meskipun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia berharap Anindya tidak seperti ibu hamil pad

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Pesona Istri Presdir Posesif   062 || Rasa Kesal Anindya

    "Nindy, kamu udah sadar?" Daren yang sejak tadi memperhatikan Anindya, merasakan jari-jari wanita itu bergerak. Daren segera bangkit dari posisi duduknya, dia mendekat pada Anindya dengan tergesa-gesa.Kedua mata indah yang tertutup sejak dua jam yang lalu, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya. Cahaya dari lampu yang begitu menyilaukan pandangannya, membuat Anindya kesulitan untuk membuka mata. Dia kembali mencoba membuka kedua kelopak matanya, pandangannya yang semula buram mulai normal. Hal yang pertama kali dia lihat, langit-langit yang berwarna putih dengan dinding kamar yang bercat biru laut. Aroma obat-obatan yang pertama kali memasuki Indra penciumannya. Aroma khas rumah sakit— tunggu rumah sakit? Anindya terkejut menyadari jika dirinya sedang berada di sebuah ruang rawat inap di rumah sakit. "Anindya, gimana keadaan kamu sekarang?"Suara Daren yang tersirat kekhawatiran berhasil menarik atensi Anindya yang sibuk memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Pesona Istri Presdir Posesif   063 || Perubahan Sikap Ivander

    "Aku keluar dulu, Nindy. Kan, udah ada Kakak."Daren bangkit sambil meringis pelan. Dia sangat tidak nyaman berada di tengah antara kedua pasangan yang sejak 5 menit yang lalu hanya saling tatap setelah Ivander melemparkan pertanyaan pada Anindya. Anindya menoleh, tidak merespon hanya menatap punggung tegap Daren yang keluar dari ruangannya. Anindya bersiap merebahkan tubuhnya kembali, tapi dengan cepat tangan kekar Ivander menahan pergerakan wanita itu. "Ada yang ingin aku bicarakan, Anindya."Anindya menoleh pada Ivander dengan wajah tertekuk kesal. Anindya tidak menutupi lagi kekesalannya pada Ivander. Membuat pria itu kebingungan sejak tadi, hari ini dia baru saja bertemu Anindya. Kenapa wanita itu sudah kesal padanya? Padahal dia tidak melakukan apapun sejak pertama kali menginjakkan kaki di ruang rawat Anindya. "Apa?" Nada bicaranya terdengar ketus. Bahkan, Anindya melepaskan cekalan tangan Ivander pada pergelangan tangannya. Ivander menarik kursi yang berada di dekat ranja

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Pesona Istri Presdir Posesif   064 || Rasa Sakit Anindya

    "Proses syuting menjelang pernikahan kita diberhentikan untuk sementara. Tujuannya biar kamu bisa fokus sama pernikahan." Penjelasan Ivander membuat Anindya terkejut bukan main. Dia mencoba melepaskan pelukan Ivander dari belakang tubuhnya. Pria itu yang mengerti melepaskan pelukannya dan membawa tubuh kecil Anindya agar berhadapan dengannya. "Kenapa kamu keberatan?" Suara Ivander berhasil mengintimidasi Anindya yang kini membeku dengan bibir terkatup rapat. "Anindya, aku nggak ngerti apa yang ada dipikiran kamu. Sebentar lagi kita menikah, seharusnya kamu fokus sama pernikahan kita bukan sama syuting yang nggak penting itu." Ivander tanpa sadar meninggikan suaranya di depan Anindya. Melupakan niatnya yang ingin selalu sabar di depan Anindya. "Nggak penting kata kamu, Ivan?" Suara Anindya tampak bergetar dengan tatapan yang menyorot Ivander dengan datar. "Kata aku itu penting, aku punya impian biar novel yag aku tulis itu bisa dijadikan film. Impian itu sebentar lagi tercapa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06

Bab terbaru

  • Pesona Istri Presdir Posesif   117 || Tengah Hutan

    "Kapok aku nggak mau berurusan sama Ivander lagi!" Suara Rizhar terdengar penuh penyesalan. Seandainya hari itu dia menolak ajakan Lingga untuk menculik Anindya, bahkan dia secara tidak langsung menjadi penyebab Anindya mengalami keguguran. "Kenapa kamu nggak bilang kalo mantan istri kamu itu udah punya suami kaya iblis itu!" lanjut Rizhar menyalahkan Lingga yang sejak tadi diam berjalan tertatih di sampingnya. Dengan langkah berat keduanya terus menyusuri lahan luas yang terbentang di depan mereka. Pepohonan kering di sekitar danau menciptakan bayangan menakutkan di bawah cahaya bulan yang redup. Angin malam yang dingin menusuk kulit mereka, membawa aroma hutan yang lembap dan asing. "Aku nggak tau kalo Anindya saat itu lagi hamil." Lingga menjawab dengan napas yang memburu. "Aku pikir nggak akan terjadi apapun kalo aku merkosa Anindya saat itu. Karena, mau gimanapun Anindya itu mantan istri aku."

  • Pesona Istri Presdir Posesif   116 || Sabotase Zico

    "Tutup mulut, dengan begitu hidup kalian berdua aman." Ivander menatap mereka berdua yang telah bebas dari rantai besi yang selama ini membelenggu. "Saya bisa menghancurkan hidup kalian kapan saja jika hal ini bocor. Paham?" Lingga dan Rizhar berdiri di depan Ivander, tubuh mereka lemah dan gemetar. Keduanya tampak kehilangan kekuatan setelah seminggu menerima siksaan fisik tanpa henti. Kaki mereka terasa seperti jelly, nyaris tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri setelah terbelenggu dan tak bergerak terlalu lama. Rizhar mengangguk ketakutan. Wajah pria bertato itu terlihat pucat, mencerminkan rasa takut yang mendalam terhadap Ivander. Pria itu, dengan tatapan dingin tanpa emosi, telah menunjukkan bahwa ia tak memiliki rasa iba sedikit pun. Semua siksaan, dari pukulan hingga tendangan, dilakukan tanpa ekspresi—seolah teriakan mereka adalah sesuatu yang tak pernah sampai ke telinganya. "Saya berjanji tidak akan bicara tentang ini. Tolong lepaskan saya," suara Rizhar bergetar, me

  • Pesona Istri Presdir Posesif   115 || Bukti Kejahatan Lingga

    "Dengar, ya, Lingga. Saya akan lepasin kamu malam ini juga, tapi jangan pernah katakan apa yang telah terjadi padamu selama hampir satu minggu ini." Ivander melipatkan kedua tangan di depan dada. Di samping pria itu, Bima berdiri dengan jaket kulit berwarna hitam menggunakan topi hitam, kaca mata hitam, dan juga masker berwarna hitam. Bima selalu menggunakan pakaian serba hitam selama hampir seminggu menyiksa Lingga dan juga Rizhar, dia rela menginap di gudang eksekusi milik Ivander.Saat menyiksa Lingga, Bima tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Mulutnya diam, tapi tangan dan kakinya tidak. Rasanya begitu puas setiap kali mendengar teriakan penuh kesakitan dari Lingga, tubuh kekar pria itu dipenuhi oleh luka-luka dan juga memar bekas pukulan besi yang dilayangkan oleh dirinya. "Nggak bisa kaya gini! Apa yang kamu dan anak buahmu lakukan itu udsh keterlaluan. Kamu nyulik dan nyiksa saya sama Rizhar, saya nggak mungkin diem aja." Lingga dengan suara lemah melayan

  • Pesona Istri Presdir Posesif   114 || Pria Sampah

    "Bajingan kaya kamu nggak layak untuk hidup." Ivander dengan tak berperasaan menendang Lingga yang tengah memejamkan kedua matanya di sisi Rizhar. Lingga dan juga Rizhar lagi dan lagi mendapatkan pukulan dari anak buah Ivander, serangan yang diberikan oleh anak buah Ivander membuat Lingga pingsan. Sedangkan Rizhar masih menahan kesadarannya sambil menahan sakit. Lingga yang terkejut dengan tendangan keras Ivander, reflek membuka matanya. Dinding yang catnya sudah pudar dilapisi oleh jamur menjadi hal pertama kali yang Lingga lihat selama beberapa hari terakhir berada di tempat ini. Ivander mendorong dada bidang Ivander, kaki Ivander yang terbalut sneakers itu menekan dada Lingga sampai pria itu terdorong ke belakang. Punggungnya menempel pada tiang besi yang terpasang rantai yang melingkar di kedua tangan Lingga. Napas Lingga terasa sesak, dia mencoba meraup udara segar untuk mengurangi rasa sesak pada rongga dadanya yang penuh. Tangan Lingga mencengkeram kaki Ivander yang

  • Pesona Istri Presdir Posesif   113 || Makan Malam Yang Gagal

    "Pak Ivander, gawat. Marisa mau lapor ke polisi atas kehilangan Lingga!" Suara Bima terdengar panik di sebrang sana. Membuat pergerakan Ivander yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk. Ponselnya dia letakan di atas nakas dengan mengeraskan suaranya. Ivander meletakan handuknya di atas kasur, lalu dia mengambil ponselnya mendekatkan pada telinganya. "Bagaimana ini, Pak?" Suara Bima kembali terdengar panik. "Tunggu dua puluh menit, saya ke sana sekarang." Tanpa menunggu respon dari Bima di sebrang sana. Ivander segera memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Dia melempar asal ponselnya di atas kasur, Ivander segera mengenakan kaos polo untuk menutupi tubuh atletisnya. Ivander terpaksa harus pergi meninggalkan Anindya di villa seorang diri. Padahal ini hari pernikahan dirinya dengan Anindya, Ivander sangat ingin makan malam bersama Anindya dengan status mereka yang sudah menjadi sepasang suami istri. Ivander menyambar ponselnya kembali dan memasukkannya k

  • Pesona Istri Presdir Posesif   112 || Makan Malam

    "Aku nggak tau harus bersikap kaya gimana di depan Ivander!" Anindya menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gusar. Dia termakan omongan wanita semalam yang mengatakan Ivander hanya ingin membalas dendam padanya saja. Itu yang membuat Anindya terus meragukan perasaan Ivander, di sisi lain dia dapat melihat ketulusan hati dan sikap Ivander padanya. Namun, bisa saja apa yang dilakukan Ivander padanya hanyalah akting. Namun, jika benar itu akting kenapa terlihat sangat natural? Ah, sial rasanya Anindya ingin berteriak untuk melampiaskan rasa stressnya. Kepalanya terasa penuh, dia tidak pernah bisa merasakan tenang sedikitpun. Ada saja hal yang harus dia pikirkan. "Sebenarnya motif kamu buat nikahin aku itu apa?" Anindya menatap penuh keseriusan pada cermin di depannya. Seolah sosok Ivander berada tepat di depannya. "Bukannya niat kamu cuma tanggung jawab aja, kan?" Anindya menggeleng miris dengan tatapan sendu. "Seminggu yang lalu aku baru aja keguguran, bayi dalam kandung

  • Pesona Istri Presdir Posesif   111 || Keraguan

    "Yang kamu maksud sampah itu Melani?" Anindya menutup mulutnya menahan tawa. Ternyata suaminya yang kaku ini bisa membuat dirinya tertawa juga, karena merasa lucu dengan ucapannya. Sekedar menyebut Melani dengan sebutan sampah, Anindya ingin tertawa detik ini juga. Ivander mengangguk membenarkan tebakan Anindya. "Ketawa aja, Sayang. Nggak usah ditahan!" Akhirnya Anindya melepaskan tawanya dengan tangan yang menutupi mulutnya dengan anggun. Membuat Ivander ikut terkekeh pelan melihat Anindya yang sempat murung kembali ceria lagi. Mudah sekali Anindya merubah ekspresinya. "Ivan, maaf ya aku mau ngomong sesuatu. Kamu jangan marah sama aku, ya?" Anindya menghentikan tawanya. Kini tatapannya terlihat begitu serius berhasil mengundang kerutan pada dahi Ivander yang kini merasa bingung. "Mau ngomong apa? Aku janji nggak bakal marah!" Ivander tidak bisa marah pada Anindya, bahkan saat Anindya menolak dirinya tiga tahun yang lalu dan lebih memilih menikah dengan Lingga. Dia hanya b

  • Pesona Istri Presdir Posesif   110 || Senja Di Sore Hari

    "Pemandangannya sangat indah. Aku jadi terinspirasi buat bikin novel baru dengan latar tempat di dekat pantai. Mungkin, kedua pemeran utama nanti selalu menikmati keindahan senja di sore hari dengan nuansa romantis." Binar penuh kekaguman terlihat jelas pada tatapan Anindya saat menatap langit sore. Langit yang semula biru tenang kini berubah warna menjadi perpaduan antara warna merah, oranye dan juga ungu yang mulai menyatu dalam sebuah keindahan yang tak bisa diabaikan. Mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, setelah menyelesaikan tugasnya hari ini. Seolah memberi salam perpisahan yang menyinari laut dengan cahaya keemasan yang berkilau. "Setelah project film Dalam Jejak Cinta selesai. Apa rencana kamu nantinya, Anindya?" Ivander sejak tadi tak melepaskan pandang sedetikpun dari wajah cantik Anindya. Melihat senyum indah pada wajah Anindya, tanpa sadar menular pada Ivander yang kini ikut mengukir sebuah senyuman tipis. Kebahagiaan Anindya sangat sederhana, hanya meli

  • Pesona Istri Presdir Posesif   109 || Mengantar kepulangan Daren

    "Nindy, aku pulang dulu, ya." Daren menutup pintu bagasi mobilnya setelah memasukkan semua barang-barang miliknuya ke dalam sana. Dia berjalan mendekati Anindya yang berada di sisi Ivander. Sejak tadi Kakaknya itu tak berhenti menatap dirinya dengan tajam. Pasalnya, Daren selalu mengajak Anindya mengobrol. Pria itu cemburu saat atensi Anindya beralih padanya. "Hati-hati, ya, Daren! Sampai jumpa di lokasi syuting nanti!" Anindya menatap Daren dengan senyuman manis yang terpatri pada wajah cantiknya. Tangan wanita itu sejak tadi mencoba melepaskan tangan kekar Ivander yang bertengger manis di pinggangnya. Posesif. Pria kaku yang berdiri begitu dekat di sampingnya ini tidak berbicara sejak tadi, hanya diam bak patung yang diberi nyawa. "Aku tunggu akting kamu yang luar biasa itu!" Anindya tersenyum malu mendapatkan pujian dari sutradara yang merupakan adik iparnya sekarang. Dia tidak sehebat itu dalam akting, semuanya masih tahap pembelajaran. Anindya masih banyak yang salah dal

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status