"Semua orang kini menghujatku, karena Melani."Anindya menutup layar ponselnya dengan malas. Semua berita masih dipenuhi oleh skandal Lingga dan Melani. Namun, kali ini lebih panas karena perkataan Melani saat diwawancarai tadi. Anindya sangat kesal, bahkan marah pada Lingga dan Melani. Tapi, untuk kali ini dia ingin diam terlebih dahulu. Seolah apa yang terjadi hari ini tidak mempengaruhi Anindya sama sekali. Anindya juga tidak peduli saat orang-orang menghujatnya di sosial media. Beruntung, akun sosial media milik Anindya terkunci sehingga tidak ada yang bisa sembarang mengirim pesan atau mengomentari postingannya. "Daripada memikirkan berita ini, lebih baik aku bersiap untuk menemui Lingga." Anindya kembali membuka ponselnya untuk mengirim pesan singkat pada Ivander. Pesan itu berisi lokasi restoran untuk makan malam mereka nanti. "Sayang, Mama masuk, ya?" Setelah mendengar teriakan Kanaya, wanita itu membuka pintu kamar Anindya. Dia kembali menutup pintu kamarnya, lalu melang
"Pak Ivander, saya nerima pernikahan ini." Anindya menatap pantulan diri di depan cermin, di mana tubuhnya yang terbalut dress merah ceri dengan wajah yang terpoles make up tipis.Dia sedang mencoba berbicara di depan cermin seorang diri. Agar nanti ketika di depan Ivander, dia tidak begitu gugup. Sejak awal Ivander ingin menikahinya, Anindya bersikeras menolak meskipun berakhir menerima dengan sangat terpaksa. "Ah, sial! Seharusnya kamu nggak usah gugup, Nindy!" Anindya kembali menarik kursi di depan meja rias, dan mendudukkan diri di sana. Anindya hanya takut Ivander akan berubah pikiran nanti setelah Anindya mengatakan itu. Ivander pasti akan menertawainya melihat Anindya menerima pernikahan ini pada akhirnya. "Ma—" Bibir Anindya terkatup kembali mendengar suara ketukan pintu kamarnya, disusul teriakan Kanaya dari luar pintu. "Anindya, buka pintunya. Ivander udah nunggu kamu di ruang tamu!" Teriakan Kanaya mengejutkan Anindya. Dia reflek bangkit dari posisi duduknya dan ber
"Saya nggak ada minta buat kamu jemput, Pak Ivander." Anindya menoleh pada Ivander yang sedang fokus menyetir. Ivander bukan orang yang suka menggunakan sopir pribadinya untuk pergi kemanapun. Pria itu lebih suka mengendarai mobil seorang diri. Terkecuali, bersama Anindya malam ini dan beberapa hari yang lalu."Saya inisiatif buat jemput kamu." Ivander menghentikan laju mobilnya di dekat lampu merah. Dia menoleh pada Anindya yang duduk di sampingnya memasang ekspresi masam. Sejak awal, pertemuan mereka setelah melewati malam panjang bersama. Anindya tidak pernah senang jika bersamanya, ekspresi wanita itu selalu suram.'Apakah aku terlalu memaksanya?' batin Ivander mulai berpikir. Sedikit rasa bersalah mulai muncul saat mengingat perlakuan dirinya yang begitu mendesak Anindya untuk menerima pernikahan ini. Ivander bersama kedua orang tua Anindya, mengabaikan keinginan Anindya yang meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Mereka mengambil keputusan secara sepihak, tanpa memikir
"Saya nggak butuh uang ini!" Dengan emosi memuncak, Ivander mengantamkan tinju pada dashboard mobil. Membuat beberapa lembar uang yang diberikan oleh Anindya tadi bertebrangan. Beberapa lembaran uang itu tidak berarti untuk Ivander. Anindya sangat keterlaluan, dia berhasil membuat Ivander merasa terhina karena perbuatan Anindya. "Kamu terlalu berani, Anindya."Ivander mendesis penuh emosi. Garis rahangnya mengetat sempurna, urat-urat pada lehernya menonjol. Ivander segera keluar dari mobilnya untuk mengejar Anindya yang belum terlalu jauh. Ivander tidak akan pernah melepaskan Anindya begitu saja. Wanita kurang ajar seperti Anindya harus mendapatkan pelajaran agar tidak kurang ajar lagi ke depannya.Dengan kemarahan yang berada di puncak kepalanya, Ivander berlari menyusuri trotoar jalanan kota Pandora untuk mencari keberadaan Anindya. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang, jalanan kota saat ini tampak sepi. Di ujung sana terdapat sebuah jembatan besar yang tampak gelap.
"Lepasin saya, Ivander!" Anindya berontak saat Ivander mencekal pergelangan tangannya. Dia berusaha untuk kabur saat ini melihat ekspresi menyeramkan yang tergambar pada wajah Ivander. Anindya begitu ketakutan melihat Ivander yang seperti ini. Ivander yang dia kenal sebelumnya tampak dingin, misterius, dan sedikit hangat. Tidak seperti Ivander yang berada di depannya saat ini, tampak menyeramkan dengan seringai yang menghiasi wajah tampannya. Pria itu tampak seperti predator yang sudah siap memangsa targetnya yang sudah dia intai sejak tadi. Sungguh mengerikan, sehingga Anindya ingin segera berlari menghindari Ivander. "Lepas, Anindya?" Ivander terkekeh samar di tengah kesunyian malam. "Saya udah pernah lepasin kamu sebelumnya, tapi jalan yang kamu pilih salah." Anindya mengerutkan dahinya dengan bingung, dia tidak memahami sedikitpun apa yang Ivander ucapkan. "Maksud kamu apa?" tanya Anindya menuntut penjelasan pada Ivander. Tangan Ivander terulur mengusap pipi kanan
"Pak Faisal, liat sendiri. Semua masalah ini ada sama Anindya, dia yang ngerusak rumah tangga saya sama Lingga."Pagi-pagi sekali, Melani sudah datang di rumah produksi milik Faisal Borneo. Tentunya dia tidak datang sendiri melainkan bersama Lingga. Wartawan sudah tidak lagi datang ke rumahnya, setelah kemarin Melani menemui mereka untuk klarifikasi yang merupakan karangannya sendiri. Kini para wartawan itu sedang menyerbu Anindya, tapi mereka tidak berani menerobos kediaman Danendra yang penjagaannya begitu ketat. "Anindya yang nuduh saya ngerusak hubungannya dia sama Lingga. Kenyataannya, dia yang jadi pelakor di rumah tangga saya sama Lingga!"Melani sejak tadi mencerocos panjang lebar di depan Faisal. Dia datang ke rumah produksi milik Faisal Borneo sejak jam 6 pagi. Namun, dia baru bisa bertemu Faisal tepat pada jam 08.10 pagi kota Pandora. "Sekarang, saya mau tanya Pak Faisal. Yakin masih mau mempertahankan hama kaya dia?" Melani menarik sudut bibirnya membentuk senyum licik.
"Jangan macem-macem, Nindy!" Melani menatap panik pada Anindya. Karena, dalam satu tindakan Anindya nasib Melani dan Lingga akan kembali hancur. Sia-sia usaha mereka kemarin memberikan skenario palsu pada wartawan. Melani melirik Faisal yang duduk tenang sambil menyesap kopi hitam miliknya. "Pak Faisal, jangan percaya video itu editan!" Otak Melani sangat dangkal. Orang bodoh juga tahu kalau video itu asli, tapi Melani mengatakan pada Faisal jika video itu editan. Faisal hanya bisa tertawa pelan melihat kebodohannya. "Mela! Mela! Aku nggak nyangka kalo kamu sebodoh ini. Video asli kaya gini kamu bilang editan." Anindya tertawa mengejek pada Melani. "Kamu pikir aku sekurang kerjaan itu sampe ngedit video buat nuduh kamu gitu?" Anindya menggeleng miris melihat kelakuan Melani yang kemarin-kemarin masih digadang-gadang oleh penggemarnya sebagai aktris papan atas yang memiliki kehidupan mulus. Nyatanya, aktris yang mereka puja-puja itu simpanan suami orang. "Nindy, kamu hapus nggak
"Nggak mungkin kamu jadi pemeran utama, Nindy! Kamu nggak layak buat jadi pemeran utama!" Melani nyaris gila mendengar Anindya yang menggantikan dirinya sebagai pemeran utama dalam film ini. Hanya dirinya yang pantas mendapatkan posisi itu, karena Anindya tidak memiliki pengalaman di dunia entertainment. Berbeda dengan dirinya yang sudah bertahun-tahun syuting film."Kamu nggak ada bakat, Nindy! Kamu ikut syuting cuma jadi beban aja!"Melani kembali bersuara dengan berapi-api. Melani sangat tidak terima dengan ini semua. Dia merasa semua ini tidak adil untuknya. Melani mendapatkan masalah setelah Anindya menyebarkan skandal dirinya dengan Lingga. Nama Melani hancur, tapi nama Anindya naik karena dia seorang penulis novel dan juga menggantikan posisi dirinya sebagai pemeran utama.Ya, semua orang sudah tahu bahwa Anindya Prameswari merupakan penulis dengan nama pena Daizy. Penulis novel yang namanya sudah terkenal, karena selalu menghasilkan karya terbaik. "Terus yang cuma layak kamu
"Tutup mulut, dengan begitu hidup kalian berdua aman." Ivander menatap mereka berdua yang telah bebas dari rantai besi yang selama ini membelenggu. "Saya bisa menghancurkan hidup kalian kapan saja jika hal ini bocor. Paham?" Lingga dan Rizhar berdiri di depan Ivander, tubuh mereka lemah dan gemetar. Keduanya tampak kehilangan kekuatan setelah seminggu menerima siksaan fisik tanpa henti. Kaki mereka terasa seperti jelly, nyaris tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri setelah terbelenggu dan tak bergerak terlalu lama. Rizhar mengangguk ketakutan. Wajah pria bertato itu terlihat pucat, mencerminkan rasa takut yang mendalam terhadap Ivander. Pria itu, dengan tatapan dingin tanpa emosi, telah menunjukkan bahwa ia tak memiliki rasa iba sedikit pun. Semua siksaan, dari pukulan hingga tendangan, dilakukan tanpa ekspresi—seolah teriakan mereka adalah sesuatu yang tak pernah sampai ke telinganya. "Saya berjanji tidak akan bicara tentang ini. Tolong lepaskan saya," suara Rizhar bergetar, me
"Dengar, ya, Lingga. Saya akan lepasin kamu malam ini juga, tapi jangan pernah katakan apa yang telah terjadi padamu selama hampir satu minggu ini." Ivander melipatkan kedua tangan di depan dada. Di samping pria itu, Bima berdiri dengan jaket kulit berwarna hitam menggunakan topi hitam, kaca mata hitam, dan juga masker berwarna hitam. Bima selalu menggunakan pakaian serba hitam selama hampir seminggu menyiksa Lingga dan juga Rizhar, dia rela menginap di gudang eksekusi milik Ivander.Saat menyiksa Lingga, Bima tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Mulutnya diam, tapi tangan dan kakinya tidak. Rasanya begitu puas setiap kali mendengar teriakan penuh kesakitan dari Lingga, tubuh kekar pria itu dipenuhi oleh luka-luka dan juga memar bekas pukulan besi yang dilayangkan oleh dirinya. "Nggak bisa kaya gini! Apa yang kamu dan anak buahmu lakukan itu udsh keterlaluan. Kamu nyulik dan nyiksa saya sama Rizhar, saya nggak mungkin diem aja." Lingga dengan suara lemah melayan
"Bajingan kaya kamu nggak layak untuk hidup." Ivander dengan tak berperasaan menendang Lingga yang tengah memejamkan kedua matanya di sisi Rizhar. Lingga dan juga Rizhar lagi dan lagi mendapatkan pukulan dari anak buah Ivander, serangan yang diberikan oleh anak buah Ivander membuat Lingga pingsan. Sedangkan Rizhar masih menahan kesadarannya sambil menahan sakit. Lingga yang terkejut dengan tendangan keras Ivander, reflek membuka matanya. Dinding yang catnya sudah pudar dilapisi oleh jamur menjadi hal pertama kali yang Lingga lihat selama beberapa hari terakhir berada di tempat ini. Ivander mendorong dada bidang Ivander, kaki Ivander yang terbalut sneakers itu menekan dada Lingga sampai pria itu terdorong ke belakang. Punggungnya menempel pada tiang besi yang terpasang rantai yang melingkar di kedua tangan Lingga. Napas Lingga terasa sesak, dia mencoba meraup udara segar untuk mengurangi rasa sesak pada rongga dadanya yang penuh. Tangan Lingga mencengkeram kaki Ivander yang
"Pak Ivander, gawat. Marisa mau lapor ke polisi atas kehilangan Lingga!" Suara Bima terdengar panik di sebrang sana. Membuat pergerakan Ivander yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk. Ponselnya dia letakan di atas nakas dengan mengeraskan suaranya. Ivander meletakan handuknya di atas kasur, lalu dia mengambil ponselnya mendekatkan pada telinganya. "Bagaimana ini, Pak?" Suara Bima kembali terdengar panik. "Tunggu dua puluh menit, saya ke sana sekarang." Tanpa menunggu respon dari Bima di sebrang sana. Ivander segera memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Dia melempar asal ponselnya di atas kasur, Ivander segera mengenakan kaos polo untuk menutupi tubuh atletisnya. Ivander terpaksa harus pergi meninggalkan Anindya di villa seorang diri. Padahal ini hari pernikahan dirinya dengan Anindya, Ivander sangat ingin makan malam bersama Anindya dengan status mereka yang sudah menjadi sepasang suami istri. Ivander menyambar ponselnya kembali dan memasukkannya k
"Aku nggak tau harus bersikap kaya gimana di depan Ivander!" Anindya menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gusar. Dia termakan omongan wanita semalam yang mengatakan Ivander hanya ingin membalas dendam padanya saja. Itu yang membuat Anindya terus meragukan perasaan Ivander, di sisi lain dia dapat melihat ketulusan hati dan sikap Ivander padanya. Namun, bisa saja apa yang dilakukan Ivander padanya hanyalah akting. Namun, jika benar itu akting kenapa terlihat sangat natural? Ah, sial rasanya Anindya ingin berteriak untuk melampiaskan rasa stressnya. Kepalanya terasa penuh, dia tidak pernah bisa merasakan tenang sedikitpun. Ada saja hal yang harus dia pikirkan. "Sebenarnya motif kamu buat nikahin aku itu apa?" Anindya menatap penuh keseriusan pada cermin di depannya. Seolah sosok Ivander berada tepat di depannya. "Bukannya niat kamu cuma tanggung jawab aja, kan?" Anindya menggeleng miris dengan tatapan sendu. "Seminggu yang lalu aku baru aja keguguran, bayi dalam kandung
"Yang kamu maksud sampah itu Melani?" Anindya menutup mulutnya menahan tawa. Ternyata suaminya yang kaku ini bisa membuat dirinya tertawa juga, karena merasa lucu dengan ucapannya. Sekedar menyebut Melani dengan sebutan sampah, Anindya ingin tertawa detik ini juga. Ivander mengangguk membenarkan tebakan Anindya. "Ketawa aja, Sayang. Nggak usah ditahan!" Akhirnya Anindya melepaskan tawanya dengan tangan yang menutupi mulutnya dengan anggun. Membuat Ivander ikut terkekeh pelan melihat Anindya yang sempat murung kembali ceria lagi. Mudah sekali Anindya merubah ekspresinya. "Ivan, maaf ya aku mau ngomong sesuatu. Kamu jangan marah sama aku, ya?" Anindya menghentikan tawanya. Kini tatapannya terlihat begitu serius berhasil mengundang kerutan pada dahi Ivander yang kini merasa bingung. "Mau ngomong apa? Aku janji nggak bakal marah!" Ivander tidak bisa marah pada Anindya, bahkan saat Anindya menolak dirinya tiga tahun yang lalu dan lebih memilih menikah dengan Lingga. Dia hanya b
"Pemandangannya sangat indah. Aku jadi terinspirasi buat bikin novel baru dengan latar tempat di dekat pantai. Mungkin, kedua pemeran utama nanti selalu menikmati keindahan senja di sore hari dengan nuansa romantis." Binar penuh kekaguman terlihat jelas pada tatapan Anindya saat menatap langit sore. Langit yang semula biru tenang kini berubah warna menjadi perpaduan antara warna merah, oranye dan juga ungu yang mulai menyatu dalam sebuah keindahan yang tak bisa diabaikan. Mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, setelah menyelesaikan tugasnya hari ini. Seolah memberi salam perpisahan yang menyinari laut dengan cahaya keemasan yang berkilau. "Setelah project film Dalam Jejak Cinta selesai. Apa rencana kamu nantinya, Anindya?" Ivander sejak tadi tak melepaskan pandang sedetikpun dari wajah cantik Anindya. Melihat senyum indah pada wajah Anindya, tanpa sadar menular pada Ivander yang kini ikut mengukir sebuah senyuman tipis. Kebahagiaan Anindya sangat sederhana, hanya meli
"Nindy, aku pulang dulu, ya." Daren menutup pintu bagasi mobilnya setelah memasukkan semua barang-barang miliknuya ke dalam sana. Dia berjalan mendekati Anindya yang berada di sisi Ivander. Sejak tadi Kakaknya itu tak berhenti menatap dirinya dengan tajam. Pasalnya, Daren selalu mengajak Anindya mengobrol. Pria itu cemburu saat atensi Anindya beralih padanya. "Hati-hati, ya, Daren! Sampai jumpa di lokasi syuting nanti!" Anindya menatap Daren dengan senyuman manis yang terpatri pada wajah cantiknya. Tangan wanita itu sejak tadi mencoba melepaskan tangan kekar Ivander yang bertengger manis di pinggangnya. Posesif. Pria kaku yang berdiri begitu dekat di sampingnya ini tidak berbicara sejak tadi, hanya diam bak patung yang diberi nyawa. "Aku tunggu akting kamu yang luar biasa itu!" Anindya tersenyum malu mendapatkan pujian dari sutradara yang merupakan adik iparnya sekarang. Dia tidak sehebat itu dalam akting, semuanya masih tahap pembelajaran. Anindya masih banyak yang salah dal
"Kamu itu sengaja, ya buat aku malu di depan Papa kamu?" Ivander mengerutkan dahinya bingung, menatap Anindya yang kini mengambil duduk di sampingnya. Kemudian, Ivander tergelak pelan melihat wajah cantik Anindya yang tertekuk seperti ini. Anindya menoleh pada Ivander saat mendengar tawa pria itu yang begitu menyebalkan. Anindya yang kesal mengambil bantal sofa dan melempar pelan pada Ivander membuat pria itu menghentikan tawanya karena terkejut dengan serangan tiba-tiba Anindya. "Oh, jadi bener kamu sengaja buat aku malu, ya? Maksud kamu apa, Ivan?"Ivander meletakan bantal sofa yang dilempar oleh Anindya mengenai perutnya di sisi tubuhnya. Tidak sakit, Ivander hanya terkejut saja. "Kok, nuduh aku kaya gitu?" Ivander menjawab dengan santai. Dari raut wajahnya sedikitpun rasa bersalah tidak ada. "Kamu keterlaluan banget, Ivan. Kenapa kamu harus ngomong langsung di depan Papa kamu, sih?" Anindya masih terasa kesal saja rasanya. Meskipun kejadian di meja makan pagi tadi sudah lew