"Kenapa kamu berpikir Anindya penyebabnya, Lingga?" Marisa melempar pertanyaan selepas dari rasa terkejutnya. Setahunya, Anindya tidak memiliki kekuataan untuk melawan keluarga Aditama. Karena, identitasnya sebagai wanita yang berasal dari panti asuhan. Lalu, dari mana Anindya bisa menyebarkan skandal perselingkuhan Lingga dengan Melani."Anindya yang miskin itu, dia sekarang dipungut sama keluarga kaya raya, Ma!" Jawaban Lingga membuat Marisa dan Arjuna terkejut bukan main. Terkecuali, Melani yang sudah tahu."Siapa keluarga kaya raya yang mau mungut perempuan rendahan kaya dia, Lingga?" Arjuna tampak kalap mendengar kabar ini. Dia kira,setelah di usir oleh keluarga Aditama. Anindya akan menjadi seorang gelandangan. Namun, sekarang dia justru mendengar kabar Anindya ada yang sudi mengangkatnya menjadi anak dari keluarga kaya raya."Keluarga Danendra, pemilik perusahaan Darendra Investment, Ma!" Lingga mengusap kasar wajahnya. Dia sudah memikirkan banyak cara untuk menyelesaikan m
"Maaf, Ivander udah buat kamu nunggu lama." Kanaya tersenyum tak enak pada Ivander yang kini bangkit dari duduknya. Menyambut kedatangan Kanaya, Ardiaz dan juga Anindya. "Nggak papa, saya yang datang terlalu cepat."Ivander tersenyum tipis membalas ucapan Kanaya. Mata segelap obsidian milik Ivander melirik samar pada Anindya yang berdiri di belakang Ardiaz. Ivander kembali duduk di tempat semula. Lalu, dia mempersilahkan mereka untuk duduk. "Silakan duduk." Kanaya dan Ardiaz mengambil duduk di depan Ivander. Sedangkan, Anindya masih setia berdiri. Kursi yang tersisa, adalah kursi yang berada tepat di samping Ivander. "Anindya, kamu kenapa diem aja? Cepet duduk, sayang!" Kanaya memberi kode lewat tatapannya agar Anindya segera duduk dan tidak bertingkah di depan Ivander. Dengan sangat terpaksa, Anindya menarik tungkainya mendekati kursi di samping Ivander. Dia mendudukan diri di sana dengan bibir yang setia bungkam. Bahkan, Anindya tidak melirik Ivander sedikitpun tatapannya han
"Kamu jangan kaya gitu dong, Sayang. Kamu yang mau nikah masa terserah, Mama." 'Kan, Mama yang antusias dari awal. Mama aja yang milih konsep pernikahan sekalian Mama nikah sama Ivander' Ingin sekali Anindya menjawab seperti itu, tapi dia tidak memiliki keberanian di depan Kanaya. Dia tidak ingin terlihat kurang ajar pada Kanaya. "Aku nggak bisa mikir, Mama aja yang nentuin aku pasti terima." Anindya ingin sekali pergi dari ruangan ini. Rasamya terjebak bersama orang-orang yang egois, tidak memperdulikan pendapat dirinya itu sangat menyebalkan. Namun, siapa yang peduli pada dirinya? Ivander yang sejak tadi mendengarkan perdebatan kecil dari Ibu dan anak itu mengerti. Dia tahu bahwa Anindya menolak keras pernikahan ini. Dia tahu, Animdya terus mendorong Ivander untuk segera pergi dari hidupnya. Bahkan, penolakan Anindya kemarin masih begitu jelas dipendengarannya. Ivander kali ini ingin egois, dia tidak ingin kehilangan Anindya untuk kedua kalinya. 3 tahun yang lalu, Anindya menol
"Saya udah mikirin semua ini secara matang, Anindya. Kalo kamu mikir saya bertindak terlalu terburu-buru, kamu salah besar." Kedua netra Ivander menyusuri setiap inchi wajah cantik Anindya. Mata bulat milik Anindya dengan bulu mata lentik, hidung mancung, bibir ranum berwarna merah ceri, dan terakhir pipi chuby membuat Anindya terlihat imut. Gaun putih polos selutut yang terlihat sederhana itu melekat di tubuh rampingnya. Rambut panjang yang dibiarkan tergerai indah, tampak bertebrangan saat diterpa oleh angin malam. Tangan Ivander terulur merapihkan rambut Anindya yang menutupi sebagian wajahnya, tapi Anindya dengan cepat menepisnya. "Kenapa kamu nggak mau coba dulu jalanin hubungan sama saya?" Ivander kembali mengeluarkan suara saat tidak ada respon dari Anindya. Anindya terkekeh samar mendengar pertanyaan Ivander. "Kamu pikir pernikahan sebercanda itu? Sampe kamu jadiin pernikahan ini sebagai percobaan?" Ivander tergagap seketika. Dia telah salah berbicara pada Anindya, detik
"Saya sama Lingga udah menikah selama 3 tahun, sebelum pernikahan Anindya dan Lingga terjadi. Di sini yang merusak rumah tangga orang itu Anindya bukan saya!" Penjelasan Melani di depan para wartawan membuat semua orang terkejut. "Jadi, Bu Melani yang udah bersama Pak Lingga sebelum sama Bu Anindya?" Salah seorang wartawan kembali melempar pertanyaan. Lingga mengangguk, dia ikut menanggapi pertanyaan wartawan tersebut. "Saya memang menikah dengan Melani terlebih dahulu, saya mempunyai kedua anak kembar bersama Melani. Sebelum akhirnya Anindya datang dan mulai merusak rumah tangga saya sama Melani.""Saya sama Melani menikah secara agama, alasannya karena saat itu karir Melani sedang berada di puncak. Saya menyembunyikan pernikahan saya dengan Melani di depan banyak orang," lanjut Lingga memberikan penjelasan yang sudah dia siapkan dari semalam. "Lalu, kenapa Pak Lingga menjalin hubungan dengan Bu Anindya?" Wartawan mulai mencecar Lingga dengan banyak pertanyaan. Setelah 3 hari me
"Anindya, lihat kelakuan mantan suami kamu sama wanita jalang itu!" Anindya yang sedang menuruni anak tangga terkejut mendengar teriakan Kanaya di ruang keluarga. Sambil menyentuh dadanya yang berdebar karena terkejut, dia menarik tungkai kakinya mendekat pada Kanaya. "Ada apa, Ma? Kenapa harus teriak-teriak?" Anindya mengambil duduk di samping Kanaya yang tengah fokus menatap layar televisinya. "Anindya, mantan suami kamu sama jalang itu nyebarin fitnah kalo selama ini kamu yang rebut Lingga dari Melani!" Kanaya berucap menggebu-gebu, dia tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari layar televisi. Anindya dengan cepat mengalihkan pandang dari Kanaya pada layar televisi. Kedua matanya membulat sempurna melihat berita di mana Melani dan Lingga sedang diwawancarai perihal skandalnya 3 hari yang lalu. Mereka begitu pengecut, setelah 3 hari hanya bisa berlindung di dalam rumah tidak berani menemui wartawan. Kini, Melani dan Lingga memberanikan diri untuk menemui wartawan
"Semua orang kini menghujatku, karena Melani."Anindya menutup layar ponselnya dengan malas. Semua berita masih dipenuhi oleh skandal Lingga dan Melani. Namun, kali ini lebih panas karena perkataan Melani saat diwawancarai tadi. Anindya sangat kesal, bahkan marah pada Lingga dan Melani. Tapi, untuk kali ini dia ingin diam terlebih dahulu. Seolah apa yang terjadi hari ini tidak mempengaruhi Anindya sama sekali. Anindya juga tidak peduli saat orang-orang menghujatnya di sosial media. Beruntung, akun sosial media milik Anindya terkunci sehingga tidak ada yang bisa sembarang mengirim pesan atau mengomentari postingannya. "Daripada memikirkan berita ini, lebih baik aku bersiap untuk menemui Lingga." Anindya kembali membuka ponselnya untuk mengirim pesan singkat pada Ivander. Pesan itu berisi lokasi restoran untuk makan malam mereka nanti. "Sayang, Mama masuk, ya?" Setelah mendengar teriakan Kanaya, wanita itu membuka pintu kamar Anindya. Dia kembali menutup pintu kamarnya, lalu melang
"Pak Ivander, saya nerima pernikahan ini." Anindya menatap pantulan diri di depan cermin, di mana tubuhnya yang terbalut dress merah ceri dengan wajah yang terpoles make up tipis.Dia sedang mencoba berbicara di depan cermin seorang diri. Agar nanti ketika di depan Ivander, dia tidak begitu gugup. Sejak awal Ivander ingin menikahinya, Anindya bersikeras menolak meskipun berakhir menerima dengan sangat terpaksa. "Ah, sial! Seharusnya kamu nggak usah gugup, Nindy!" Anindya kembali menarik kursi di depan meja rias, dan mendudukkan diri di sana. Anindya hanya takut Ivander akan berubah pikiran nanti setelah Anindya mengatakan itu. Ivander pasti akan menertawainya melihat Anindya menerima pernikahan ini pada akhirnya. "Ma—" Bibir Anindya terkatup kembali mendengar suara ketukan pintu kamarnya, disusul teriakan Kanaya dari luar pintu. "Anindya, buka pintunya. Ivander udah nunggu kamu di ruang tamu!" Teriakan Kanaya mengejutkan Anindya. Dia reflek bangkit dari posisi duduknya dan ber
"Dengar, ya, Lingga. Saya akan lepasin kamu malam ini juga, tapi jangan pernah katakan apa yang telah terjadi padamu selama hampir satu minggu ini." Ivander melipatkan kedua tangan di depan dada. Di samping pria itu, Bima berdiri dengan jaket kulit berwarna hitam menggunakan topi hitam, kaca mata hitam, dan juga masker berwarna hitam. Bima selalu menggunakan pakaian serba hitam selama hampir seminggu menyiksa Lingga dan juga Rizhar, dia rela menginap di gudang eksekusi milik Ivander.Saat menyiksa Lingga, Bima tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Mulutnya diam, tapi tangan dan kakinya tidak. Rasanya begitu puas setiap kali mendengar teriakan penuh kesakitan dari Lingga, tubuh kekar pria itu dipenuhi oleh luka-luka dan juga memar bekas pukulan besi yang dilayangkan oleh dirinya. "Nggak bisa kaya gini! Apa yang kamu dan anak buahmu lakukan itu udsh keterlaluan. Kamu nyulik dan nyiksa saya sama Rizhar, saya nggak mungkin diem aja." Lingga dengan suara lemah melayan
"Bajingan kaya kamu nggak layak untuk hidup." Ivander dengan tak berperasaan menendang Lingga yang tengah memejamkan kedua matanya di sisi Rizhar. Lingga dan juga Rizhar lagi dan lagi mendapatkan pukulan dari anak buah Ivander, serangan yang diberikan oleh anak buah Ivander membuat Lingga pingsan. Sedangkan Rizhar masih menahan kesadarannya sambil menahan sakit. Lingga yang terkejut dengan tendangan keras Ivander, reflek membuka matanya. Dinding yang catnya sudah pudar dilapisi oleh jamur menjadi hal pertama kali yang Lingga lihat selama beberapa hari terakhir berada di tempat ini. Ivander mendorong dada bidang Ivander, kaki Ivander yang terbalut sneakers itu menekan dada Lingga sampai pria itu terdorong ke belakang. Punggungnya menempel pada tiang besi yang terpasang rantai yang melingkar di kedua tangan Lingga. Napas Lingga terasa sesak, dia mencoba meraup udara segar untuk mengurangi rasa sesak pada rongga dadanya yang penuh. Tangan Lingga mencengkeram kaki Ivander yang
"Pak Ivander, gawat. Marisa mau lapor ke polisi atas kehilangan Lingga!" Suara Bima terdengar panik di sebrang sana. Membuat pergerakan Ivander yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk. Ponselnya dia letakan di atas nakas dengan mengeraskan suaranya. Ivander meletakan handuknya di atas kasur, lalu dia mengambil ponselnya mendekatkan pada telinganya. "Bagaimana ini, Pak?" Suara Bima kembali terdengar panik. "Tunggu dua puluh menit, saya ke sana sekarang." Tanpa menunggu respon dari Bima di sebrang sana. Ivander segera memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Dia melempar asal ponselnya di atas kasur, Ivander segera mengenakan kaos polo untuk menutupi tubuh atletisnya. Ivander terpaksa harus pergi meninggalkan Anindya di villa seorang diri. Padahal ini hari pernikahan dirinya dengan Anindya, Ivander sangat ingin makan malam bersama Anindya dengan status mereka yang sudah menjadi sepasang suami istri. Ivander menyambar ponselnya kembali dan memasukkannya k
"Aku nggak tau harus bersikap kaya gimana di depan Ivander!" Anindya menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gusar. Dia termakan omongan wanita semalam yang mengatakan Ivander hanya ingin membalas dendam padanya saja. Itu yang membuat Anindya terus meragukan perasaan Ivander, di sisi lain dia dapat melihat ketulusan hati dan sikap Ivander padanya. Namun, bisa saja apa yang dilakukan Ivander padanya hanyalah akting. Namun, jika benar itu akting kenapa terlihat sangat natural? Ah, sial rasanya Anindya ingin berteriak untuk melampiaskan rasa stressnya. Kepalanya terasa penuh, dia tidak pernah bisa merasakan tenang sedikitpun. Ada saja hal yang harus dia pikirkan. "Sebenarnya motif kamu buat nikahin aku itu apa?" Anindya menatap penuh keseriusan pada cermin di depannya. Seolah sosok Ivander berada tepat di depannya. "Bukannya niat kamu cuma tanggung jawab aja, kan?" Anindya menggeleng miris dengan tatapan sendu. "Seminggu yang lalu aku baru aja keguguran, bayi dalam kandung
"Yang kamu maksud sampah itu Melani?" Anindya menutup mulutnya menahan tawa. Ternyata suaminya yang kaku ini bisa membuat dirinya tertawa juga, karena merasa lucu dengan ucapannya. Sekedar menyebut Melani dengan sebutan sampah, Anindya ingin tertawa detik ini juga. Ivander mengangguk membenarkan tebakan Anindya. "Ketawa aja, Sayang. Nggak usah ditahan!" Akhirnya Anindya melepaskan tawanya dengan tangan yang menutupi mulutnya dengan anggun. Membuat Ivander ikut terkekeh pelan melihat Anindya yang sempat murung kembali ceria lagi. Mudah sekali Anindya merubah ekspresinya. "Ivan, maaf ya aku mau ngomong sesuatu. Kamu jangan marah sama aku, ya?" Anindya menghentikan tawanya. Kini tatapannya terlihat begitu serius berhasil mengundang kerutan pada dahi Ivander yang kini merasa bingung. "Mau ngomong apa? Aku janji nggak bakal marah!" Ivander tidak bisa marah pada Anindya, bahkan saat Anindya menolak dirinya tiga tahun yang lalu dan lebih memilih menikah dengan Lingga. Dia hanya b
"Pemandangannya sangat indah. Aku jadi terinspirasi buat bikin novel baru dengan latar tempat di dekat pantai. Mungkin, kedua pemeran utama nanti selalu menikmati keindahan senja di sore hari dengan nuansa romantis." Binar penuh kekaguman terlihat jelas pada tatapan Anindya saat menatap langit sore. Langit yang semula biru tenang kini berubah warna menjadi perpaduan antara warna merah, oranye dan juga ungu yang mulai menyatu dalam sebuah keindahan yang tak bisa diabaikan. Mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, setelah menyelesaikan tugasnya hari ini. Seolah memberi salam perpisahan yang menyinari laut dengan cahaya keemasan yang berkilau. "Setelah project film Dalam Jejak Cinta selesai. Apa rencana kamu nantinya, Anindya?" Ivander sejak tadi tak melepaskan pandang sedetikpun dari wajah cantik Anindya. Melihat senyum indah pada wajah Anindya, tanpa sadar menular pada Ivander yang kini ikut mengukir sebuah senyuman tipis. Kebahagiaan Anindya sangat sederhana, hanya meli
"Nindy, aku pulang dulu, ya." Daren menutup pintu bagasi mobilnya setelah memasukkan semua barang-barang miliknuya ke dalam sana. Dia berjalan mendekati Anindya yang berada di sisi Ivander. Sejak tadi Kakaknya itu tak berhenti menatap dirinya dengan tajam. Pasalnya, Daren selalu mengajak Anindya mengobrol. Pria itu cemburu saat atensi Anindya beralih padanya. "Hati-hati, ya, Daren! Sampai jumpa di lokasi syuting nanti!" Anindya menatap Daren dengan senyuman manis yang terpatri pada wajah cantiknya. Tangan wanita itu sejak tadi mencoba melepaskan tangan kekar Ivander yang bertengger manis di pinggangnya. Posesif. Pria kaku yang berdiri begitu dekat di sampingnya ini tidak berbicara sejak tadi, hanya diam bak patung yang diberi nyawa. "Aku tunggu akting kamu yang luar biasa itu!" Anindya tersenyum malu mendapatkan pujian dari sutradara yang merupakan adik iparnya sekarang. Dia tidak sehebat itu dalam akting, semuanya masih tahap pembelajaran. Anindya masih banyak yang salah dal
"Kamu itu sengaja, ya buat aku malu di depan Papa kamu?" Ivander mengerutkan dahinya bingung, menatap Anindya yang kini mengambil duduk di sampingnya. Kemudian, Ivander tergelak pelan melihat wajah cantik Anindya yang tertekuk seperti ini. Anindya menoleh pada Ivander saat mendengar tawa pria itu yang begitu menyebalkan. Anindya yang kesal mengambil bantal sofa dan melempar pelan pada Ivander membuat pria itu menghentikan tawanya karena terkejut dengan serangan tiba-tiba Anindya. "Oh, jadi bener kamu sengaja buat aku malu, ya? Maksud kamu apa, Ivan?"Ivander meletakan bantal sofa yang dilempar oleh Anindya mengenai perutnya di sisi tubuhnya. Tidak sakit, Ivander hanya terkejut saja. "Kok, nuduh aku kaya gitu?" Ivander menjawab dengan santai. Dari raut wajahnya sedikitpun rasa bersalah tidak ada. "Kamu keterlaluan banget, Ivan. Kenapa kamu harus ngomong langsung di depan Papa kamu, sih?" Anindya masih terasa kesal saja rasanya. Meskipun kejadian di meja makan pagi tadi sudah lew
"Ivander, setelah sarapan Papa langsung pulang ke kota Luton."Sudah dua tahun lebih William menetap di kota Luton, karena pekerjaannya di sana yang tak bisa ditinggalkan. William pulang ke kota Pandora hanya sesekali saja lamanya satu minggu, singkatnya tiga hari saja. Namun, menjelang pernikahan putranya dengan Anindya. William tinggal di kota Pandora cukup lama, selain karena dia harus menghadiri rapat penting bersama komisaris satu minggu yang lalu juga dia ingin menyaksikan pernikahan putranya secara langsung. William ingin menemani Ivander di hari yang sangat bahagia ini. Dia ingin mendampingi Ivander yang akan memulai perjaanan hidup baru yaitu pernikahan. Hal yang sangat sakral di mana kedua pasangan itu akan menjalani kehidupan sehidup semati. Dua minggu ini juga William mengetahui hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ivander yang terlihat sangat keras tak tersentuh itu bisa mencintai sosok wanita yang pernah menolaknya tiga tahun yang lalu dengan begitu tulus. I