“Nggak tahu nama lengkapnya Deddy itu hal yang sangat wajar,” kata Felicia. Mungkin yang masih ingat nama lengkapnya hanya ibunya saja.Felicia tidak mungkin menemui ibunya hanya untuk mencari tahu siapa nama lengkap Deddy. Ayahnya dulu pernah bilang kalau Patricia sudah memiliki orang yang selalu dia simpan di dalam hatinya, dan orang itu tidak lain tidak bukan adalah Deddy.Deddy sudah hampir menyentuh umur 100 tahun, dia lebih tua 20-an tahun dari Patricia. Saat Patricia baru beranjak dewasa, Deddy sudah masuk usia paruh baya. Namun demikian Patricia tetap mencintai Deddy apa adanya. Ini membuktikan bahwa Deddy adalah pria yang sangat tampan di masa mudanya. Mungkin juga karena Patricia sudah kehilangan sosok orang tua di masa muda sehingga dia tidak merasakan kasih sayang dari ayah, maka itu dia jadi sangat mendambakan pria yang lebih tua darinya.“Deddy sudah tua begitu masih mau datang?” tanya Felicia, tetapi dia merasa pertanyaan itu tidak ada artinya.Deddy sudah bersusah payah
Dari yang awalnya konflik internal keluarga Gatara sekarang sudah menjadi permasalahan antara beberapa keluarga konglomerat yang ada di Mambera. Inilah besarnya kekuatan dari pernikahan antar keluarga.“Hal-hal yang dilakukan oleh keluarga Gatara semuanya diatur sama Dikta. Apa ada kabar dari orang yang ditugaskan untuk memantau Dikta?” tanya Odelina kepada adik iparnya. “Tapi Dikta itu cerdik orangnya, dia nggak akan segampang itu dipantau.”Stefan menjawab, “Ya, dia memang cerdik. Dimas dan yang lain juga kehilangan jejak dia. Apa pun yang dia lakukan pasti langsung dihapus jejaknya. Tanpa bantuan Bram dan Rubah perak, mungkin kita sudah kehilangan dia. Yang sekarang kita tahu, dia punya banyak jalur untuk membeli oli dalam jumlah banyak. Kurasa mungkin dia mau membakar kita di rumah keluarga Gatara. Nanti kita berangkat jangan semuanya berkumpul di satu mobil. Pakai mobil yang terpisah. Selain itu dari banyak penyelidikan membuktikan Dikta juga membeli senjata api secara ilegal. Kal
Stefan berkata, “Kak, aku akan mengatur semuanya dengan baik, tapi tetap harus memberi tahu kalian.” Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga Gatara. Kakak iparnya kemungkinan akan mengganti marganya menjadi Gatara di kemudian hari. Itu berarti ini juga urusan keluarga istrinya yang dicintainya. Odelina berpikir bahwa Stefan mungkin terlalu berlebihan memikirkan hal ini, sehingga dia buru-buru menjelaskan, “Stefan, aku nggak bermaksud apa-apa, hanya merasa bahwa kamu dan Kakak paling tenang dan stabil. Kalau kalian sudah mengatur semuanya, aku nggak akan punya pendapat lain.” Meskipun dia cukup kuat di dunia kerja, di hadapan dua CEO besar, dia tetaplah junior. Bahkan dibandingkan dengan Rika, dia masih kalah. Meskipun Rika lebih muda darinya, dia sudah mengambil alih bisnis keluarga sejak lama dan telah mengelola Aurora Group dengan sangat sukses, dan menjadikannya makin berkembang. “Kak, aku nggak akan berpikir terlalu berlebihan. Kita semua sedang berusaha untuk hal yang sama.”
Ricky diam-diam mengeluh dalam hati. Para pengawal keluarga Arahan pasti belum pernah melihat betapa gilanya kakaknya saat jatuh cinta. Dalam hal memanjakan istri, mereka semua masih harus belajar dengan kakaknya. Dalam hal tidak tahu malu, mereka juga harus mencontoh kakaknya. Kakaknya selalu menjadi panutan bagi mereka, baik dalam urusan pribadi maupun bisnis. “Perusahaan kalian sebentar lagi libur, 'kan? Bagaimana kalau Tahun Baru nanti kamu merayakannya di rumahku?” tanya Ricky dengan suara lembut . “Tahun ini mungkin aku nggak akan merayakan Tahun Baru di rumahmu, tapi tiga hari setelah tahun baru, keluargaku akan datang ke rumahmu untuk mengucapkan selamat secara langsung. Hari kedua tahun baru ibuku akan pulang ke rumah kakek nenek, jadi kami semua harus ikut.” Kedua keluarga sudah saling berkunjung seperti keluarga besan. Ricky tersenyum dan berkata, “Itu juga bisa. Setelah Tahun Baru, saat kantor sipil sudah buka, kita akan pergi mendaftarkan pernikahan. Persiapan pernika
Begitu Rika mengangkat kepalanya, Ricky langsung menunduk dan menutup mulutnya dengan ciuman. Rika awalnya tidak bereaksi, tetapi ketika Ricky semakin menggoda dan membangkitkan emosinya, barulah ia memberikan sedikit balasan. Begitu mendapat tanggapan darinya, Ricky langsung menjadi lebih agresif, seolah tidak mau memberi celah sedikit pun. Rika berpikir, pada malam pernikahan mereka nanti, pria ini pasti akan berubah menjadi serigala yang tidak sabar melahapnya sampai tidak bersisa. Setelah ciuman panjang itu, Ricky akhirnya menahan diri dan perlahan melepaskannya, meski masih enggan berpisah. Rika yang masih setengah terpejam membuka matanya dan bertemu dengan tatapan penuh perasaan dari Ricky. Ia mengangkat tangannya, dengan lembut membelai wajah pria itu, lalu berkata dengan suara lembut yang jarang terdengar darinya.“Cepat pulang dan istirahat, semoga mimpi indah. Selamat malam.” “Kamu juga. Besok pagi aku datang menjemputmu untuk sarapan bersama.” Ricky kembali menempelkan
“Cuma main gim sebentar. Aku sudah lama sekali nggak bermain.” Rika mengerutkan kening. Ronald buru-buru berkata, “Kak, aku benar-benar sudah lama nggak main. Sekarang pekerjaan sangat sibuk. Malam ini kebetulan pulang lebih awal, jadi aku main sebentar buat mengisi waktu. Kalau nggak main, aku pasti sudah keluar minum-minum dengan teman sampai mabuk. Nanti Kakak juga pasti akan menghajarku habis-habisan.” Dulu, orang yang paling ditakutinya adalah kakak kembarnya sendiri. Dia merasa kakaknya lebih galak daripada orang tua mereka. Kakaknya selalu mengawasinya dengan ketat dan tidak memberinya banyak kebebasan. Setelah tahu bahwa kakaknya sebenarnya seorang perempuan, orang yang paling ditakutinya tetaplah kakak itu. Satu-satunya yang berubah hanyalah gendernya, tetapi kepribadiannya masih sama seperti dulu. Ronald sering bertanya-tanya, mereka kembar, hanya selisih sepuluh menit saat lahir, tetapi mengapa kakaknya jauh lebih hebat darinya? Padahal mereka tumbuh bersama dan mendapa
Odelina keluar dari kamar mandi dan segera melakukan panggilan video kepada adiknya. Olivia dengan cepat menerima panggilan tersebut. Begitu panggilan tersambung, wajah kecil putranya, Russel, langsung muncul di layar. “Mama.” Awalnya, Russel sudah mengantuk dan bersiap untuk tidur. Namun, ketika ponsel bibinya berbunyi dan ia diberitahu bahwa ibunya menelepon, ia langsung bertahan. Ia tahu bahwa ibunya hanya punya waktu luang di larut malam. Karena rindu, ia sengaja menunggu agar bisa berbicara sebentar dengan ibunya sebelum tidur. “Russel, sudah malam sekali, kenapa belum tidur?” Odelina bertanya dengan lembut, senyumnya penuh kasih sayang. Sejak dia datang ke Cianter, satu-satunya kesempatan bertemu langsung dengan putranya adalah ketika Daniel membawanya ke sana. Selain itu, mereka hanya bisa bertatap muka lewat panggilan video. “Aku menunggu Mama selesai bekerja, supaya bisa telepon video sama Mama. Mama, apa Mama sudah selesai bekerja? Di sana turun salju, nggak? Dingin, ng
Olivia mencubit pipi keponakannya dengan ringan dan berkata, "Jelas-jelas kamu sudah ingin datang bermain sejak awal, tapi malah menyalahkan om kamu." Russel tertawa cengengesan. Olivia mendekat ke kamera dan bertanya kepada kakaknya, "Kak, semuanya berjalan lancar, 'kan?" Ada makna tersirat dalam kata-katanya. "Hmm, masih dalam kendali. Nggak ada masalah, jadi kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja menemani Russel menikmati liburan musim dinginnya. Dia suka pergi ke kebun binatang dan taman hiburan, ajaklah dia jalan-jalan." Olivia menjawab, "Kebun binatang di sini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Mambera. Sementara itu, di taman hiburan, banyak wahana yang belum bisa dimainkan Russel. Dia masih terlalu kecil, tinggi dan usianya belum cukup. Jadi, kalau ke sana, dia hanya bisa melihat orang lain bermain." "Aku sudah janjian dengan Mulan. Besok, kami akan membawa mereka ke taman bermain anak-anak. Katanya di sana ada banyak fasilitas yang cocok untuk mereka berdua." Odelina
Olivia mengikuti kedua bocah kecil itu, memastikan mereka masuk ke kamar, melihat mereka naik ke tempat tidur, lalu membantu menyelimuti mereka. Dia menyalakan lampu kecil, mematikan lampu besar di kamar, dan berkata, "Tidurlah dengan baik. Jangan bangun lagi untuk bermain, dan jangan mengobrol sampai tengah malam." "Kalau aku mendengar kalian masih berbicara, rencana pergi ke taman bermain anak-anak besok akan dibatalkan." Jangan lihat mereka masih anak-anak berusia tiga atau empat tahun. Kalau sudah berkumpul, mereka bisa mengobrol seperti orang dewasa, membahas berbagai hal tanpa henti. Olivia berpikir, jika mereka sudah besar nanti, dua mulut pintar ini pasti bisa menipu banyak orang dengan kata-kata manis mereka. Russel dan Liam saling berpandangan, lalu berkata serempak, "Kami akan tidur. Nggak akan mengobrol lagi." Meskipun mereka suka berbicara, pergi bermain besok lebih menarik bagi mereka. Olivia lalu membungkuk dan memberi ciuman selamat malam kepada kedua bocah kecil it
Olivia mencubit pipi keponakannya dengan ringan dan berkata, "Jelas-jelas kamu sudah ingin datang bermain sejak awal, tapi malah menyalahkan om kamu." Russel tertawa cengengesan. Olivia mendekat ke kamera dan bertanya kepada kakaknya, "Kak, semuanya berjalan lancar, 'kan?" Ada makna tersirat dalam kata-katanya. "Hmm, masih dalam kendali. Nggak ada masalah, jadi kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja menemani Russel menikmati liburan musim dinginnya. Dia suka pergi ke kebun binatang dan taman hiburan, ajaklah dia jalan-jalan." Olivia menjawab, "Kebun binatang di sini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Mambera. Sementara itu, di taman hiburan, banyak wahana yang belum bisa dimainkan Russel. Dia masih terlalu kecil, tinggi dan usianya belum cukup. Jadi, kalau ke sana, dia hanya bisa melihat orang lain bermain." "Aku sudah janjian dengan Mulan. Besok, kami akan membawa mereka ke taman bermain anak-anak. Katanya di sana ada banyak fasilitas yang cocok untuk mereka berdua." Odelina
Odelina keluar dari kamar mandi dan segera melakukan panggilan video kepada adiknya. Olivia dengan cepat menerima panggilan tersebut. Begitu panggilan tersambung, wajah kecil putranya, Russel, langsung muncul di layar. “Mama.” Awalnya, Russel sudah mengantuk dan bersiap untuk tidur. Namun, ketika ponsel bibinya berbunyi dan ia diberitahu bahwa ibunya menelepon, ia langsung bertahan. Ia tahu bahwa ibunya hanya punya waktu luang di larut malam. Karena rindu, ia sengaja menunggu agar bisa berbicara sebentar dengan ibunya sebelum tidur. “Russel, sudah malam sekali, kenapa belum tidur?” Odelina bertanya dengan lembut, senyumnya penuh kasih sayang. Sejak dia datang ke Cianter, satu-satunya kesempatan bertemu langsung dengan putranya adalah ketika Daniel membawanya ke sana. Selain itu, mereka hanya bisa bertatap muka lewat panggilan video. “Aku menunggu Mama selesai bekerja, supaya bisa telepon video sama Mama. Mama, apa Mama sudah selesai bekerja? Di sana turun salju, nggak? Dingin, ng
“Cuma main gim sebentar. Aku sudah lama sekali nggak bermain.” Rika mengerutkan kening. Ronald buru-buru berkata, “Kak, aku benar-benar sudah lama nggak main. Sekarang pekerjaan sangat sibuk. Malam ini kebetulan pulang lebih awal, jadi aku main sebentar buat mengisi waktu. Kalau nggak main, aku pasti sudah keluar minum-minum dengan teman sampai mabuk. Nanti Kakak juga pasti akan menghajarku habis-habisan.” Dulu, orang yang paling ditakutinya adalah kakak kembarnya sendiri. Dia merasa kakaknya lebih galak daripada orang tua mereka. Kakaknya selalu mengawasinya dengan ketat dan tidak memberinya banyak kebebasan. Setelah tahu bahwa kakaknya sebenarnya seorang perempuan, orang yang paling ditakutinya tetaplah kakak itu. Satu-satunya yang berubah hanyalah gendernya, tetapi kepribadiannya masih sama seperti dulu. Ronald sering bertanya-tanya, mereka kembar, hanya selisih sepuluh menit saat lahir, tetapi mengapa kakaknya jauh lebih hebat darinya? Padahal mereka tumbuh bersama dan mendapa
Begitu Rika mengangkat kepalanya, Ricky langsung menunduk dan menutup mulutnya dengan ciuman. Rika awalnya tidak bereaksi, tetapi ketika Ricky semakin menggoda dan membangkitkan emosinya, barulah ia memberikan sedikit balasan. Begitu mendapat tanggapan darinya, Ricky langsung menjadi lebih agresif, seolah tidak mau memberi celah sedikit pun. Rika berpikir, pada malam pernikahan mereka nanti, pria ini pasti akan berubah menjadi serigala yang tidak sabar melahapnya sampai tidak bersisa. Setelah ciuman panjang itu, Ricky akhirnya menahan diri dan perlahan melepaskannya, meski masih enggan berpisah. Rika yang masih setengah terpejam membuka matanya dan bertemu dengan tatapan penuh perasaan dari Ricky. Ia mengangkat tangannya, dengan lembut membelai wajah pria itu, lalu berkata dengan suara lembut yang jarang terdengar darinya.“Cepat pulang dan istirahat, semoga mimpi indah. Selamat malam.” “Kamu juga. Besok pagi aku datang menjemputmu untuk sarapan bersama.” Ricky kembali menempelkan
Ricky diam-diam mengeluh dalam hati. Para pengawal keluarga Arahan pasti belum pernah melihat betapa gilanya kakaknya saat jatuh cinta. Dalam hal memanjakan istri, mereka semua masih harus belajar dengan kakaknya. Dalam hal tidak tahu malu, mereka juga harus mencontoh kakaknya. Kakaknya selalu menjadi panutan bagi mereka, baik dalam urusan pribadi maupun bisnis. “Perusahaan kalian sebentar lagi libur, 'kan? Bagaimana kalau Tahun Baru nanti kamu merayakannya di rumahku?” tanya Ricky dengan suara lembut . “Tahun ini mungkin aku nggak akan merayakan Tahun Baru di rumahmu, tapi tiga hari setelah tahun baru, keluargaku akan datang ke rumahmu untuk mengucapkan selamat secara langsung. Hari kedua tahun baru ibuku akan pulang ke rumah kakek nenek, jadi kami semua harus ikut.” Kedua keluarga sudah saling berkunjung seperti keluarga besan. Ricky tersenyum dan berkata, “Itu juga bisa. Setelah Tahun Baru, saat kantor sipil sudah buka, kita akan pergi mendaftarkan pernikahan. Persiapan pernika
Stefan berkata, “Kak, aku akan mengatur semuanya dengan baik, tapi tetap harus memberi tahu kalian.” Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga Gatara. Kakak iparnya kemungkinan akan mengganti marganya menjadi Gatara di kemudian hari. Itu berarti ini juga urusan keluarga istrinya yang dicintainya. Odelina berpikir bahwa Stefan mungkin terlalu berlebihan memikirkan hal ini, sehingga dia buru-buru menjelaskan, “Stefan, aku nggak bermaksud apa-apa, hanya merasa bahwa kamu dan Kakak paling tenang dan stabil. Kalau kalian sudah mengatur semuanya, aku nggak akan punya pendapat lain.” Meskipun dia cukup kuat di dunia kerja, di hadapan dua CEO besar, dia tetaplah junior. Bahkan dibandingkan dengan Rika, dia masih kalah. Meskipun Rika lebih muda darinya, dia sudah mengambil alih bisnis keluarga sejak lama dan telah mengelola Aurora Group dengan sangat sukses, dan menjadikannya makin berkembang. “Kak, aku nggak akan berpikir terlalu berlebihan. Kita semua sedang berusaha untuk hal yang sama.”
Dari yang awalnya konflik internal keluarga Gatara sekarang sudah menjadi permasalahan antara beberapa keluarga konglomerat yang ada di Mambera. Inilah besarnya kekuatan dari pernikahan antar keluarga.“Hal-hal yang dilakukan oleh keluarga Gatara semuanya diatur sama Dikta. Apa ada kabar dari orang yang ditugaskan untuk memantau Dikta?” tanya Odelina kepada adik iparnya. “Tapi Dikta itu cerdik orangnya, dia nggak akan segampang itu dipantau.”Stefan menjawab, “Ya, dia memang cerdik. Dimas dan yang lain juga kehilangan jejak dia. Apa pun yang dia lakukan pasti langsung dihapus jejaknya. Tanpa bantuan Bram dan Rubah perak, mungkin kita sudah kehilangan dia. Yang sekarang kita tahu, dia punya banyak jalur untuk membeli oli dalam jumlah banyak. Kurasa mungkin dia mau membakar kita di rumah keluarga Gatara. Nanti kita berangkat jangan semuanya berkumpul di satu mobil. Pakai mobil yang terpisah. Selain itu dari banyak penyelidikan membuktikan Dikta juga membeli senjata api secara ilegal. Kal
“Nggak tahu nama lengkapnya Deddy itu hal yang sangat wajar,” kata Felicia. Mungkin yang masih ingat nama lengkapnya hanya ibunya saja.Felicia tidak mungkin menemui ibunya hanya untuk mencari tahu siapa nama lengkap Deddy. Ayahnya dulu pernah bilang kalau Patricia sudah memiliki orang yang selalu dia simpan di dalam hatinya, dan orang itu tidak lain tidak bukan adalah Deddy.Deddy sudah hampir menyentuh umur 100 tahun, dia lebih tua 20-an tahun dari Patricia. Saat Patricia baru beranjak dewasa, Deddy sudah masuk usia paruh baya. Namun demikian Patricia tetap mencintai Deddy apa adanya. Ini membuktikan bahwa Deddy adalah pria yang sangat tampan di masa mudanya. Mungkin juga karena Patricia sudah kehilangan sosok orang tua di masa muda sehingga dia tidak merasakan kasih sayang dari ayah, maka itu dia jadi sangat mendambakan pria yang lebih tua darinya.“Deddy sudah tua begitu masih mau datang?” tanya Felicia, tetapi dia merasa pertanyaan itu tidak ada artinya.Deddy sudah bersusah payah