“Iya, besok sudah pulang. Odelina juga sibuk, aku nggak bisa terlalu banyak menyita waktunya. Aku pulang dan jaga Russel biar Odelina nggak perlu khawatir dan bisa menghidupi aku dan Russel.”Setelah itu dia terbahak.Odelina yang mendengarnya langsung terbahak dan berkata, “Yang paling aku takutkan pada akhirnya berakhir dengan utang yang menumpuk."Daniel berkata, “Kenapa takut? Ada aku. Selama bukan utang ratusan triliun, aku bisa membantumu bayar. Kamu bisa mencobanya dengan bebas. Bahkan jika langit runtuh, aku yang akan membantumu menahannya. Nggak perlu takut rugi, nggak perlu takut terlilit utang.”Stefan mengirimkan pesan suara lagi, “Selama kakakku ada kamu, dia nggak perlu khawatir. Dia pasti bisa sukses di Cianter.”Daniel membiarkan Odelina mendengarkan kalimat itu dan berkata, “Dengar, adik iparmu begitu percaya padamu.”“Kalian semua terlalu percaya sama aku, aku harus lebih giat lagi biar nggak buat kalian kecewa.”“Kamu juga jangan kelelahan. Kalau ada yang sulit, lang
Odelina tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa memeluk lelaki itu dalam diam. Sesaat kemudian, Daniel mendorongnya dengan perlahan dan berkata, “Istirahatlah, sudah sangat larut. Selamat malam.”“Selamat malam, kamu juga istirahatlah. Besok masih harus kembali ke Mambera.”Setelah itu, Odelina keluar dari kamar dengan diantar oleh tatapan Daniel yang duduk di kursi roda. Lelaki itu menutup pintu setelah melihat Odelina menghilang di kamar seberang.Keesokan harinya, setelah Daniel sarapan, dia meninggalkan Blanche Hotel. Odelina tidak mengantarnya hingga ke bandara dan berdiri di depan pintu hotel melihat kepergian lelaki itu. Sebersit perasaan tidak rela melintas dalam benaknya.Hingga mobil Daniel menghilang, Odelina membawa para pengawalnya menuju mobil yang sementara dia gunakan. Daniel sudah kembali, dia juga harus melanjutkan urusannya. Ketika sedang sibuk, waktu menjadi berlalu dengan cepat.Rasanya baru saja pagi hari, mendadak sudah malam. Ricky tidak tahu jika Rika tid
Ronald masih lumayan karena masih sering berinteraksi dengan wanita. Sedangkan Pak Riko sudah dihancurkan oleh Ricky. Meski Ricky sangat luar biasa dan berasal dari keluarga terkaya di Mambera, lalu kenapa?Di dalam negeri, hubungan sesama jenis masih belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.“Jangan bermimpi! Bunga ini bukan untukmu. Kakakmu nggak ada di kantor? Dia keluar?” tanya Ricky.Ronald yang tangannya dipukul juga tidak marah. Dia sengaja berkata, “Sepertinya kamu setiap hari datang mengusik kakakku, tapi masih nggak cukup dekat, ya? Bahkan kamu nggak tahu dia ke mana. Kakakku siang tadi nggak balik ke kantor, dan kamu nggak tahu.”Ricky memang tidak tahu tentang itu. Dia hanya tahu jika Rika memintanya menjemput perempuan itu di sore hari, kemudian menemaninya ke pesta. Acara malam ini diadakan di salah satu rumah keluarga kaya di Cianter, dan bukan di hotel. Oleh karena itu, begitu Ricky selesai kerja, dia langsung datang.Bahkan pakaiannya juga tidak diganti dan tidak perl
Telepon dari Ricky membuatnya bisa berhenti sejenak untuk istirahat. Dengan suara pelan, dia berkata pada ibunya, “Ma, Ricky telepon.”Cathy berdeham dan Rika bergegas melangkah ke arah sofa dan duduk di sana. Langkah perempuan itu membuat kening ibunya berkerut dan ikut melangkah ke sofa dengan tidak berdaya. Rika yang sudah terbiasa berdandan seperti lelaki tiba-tiba harus berubah menjadi perempuan pasti akan tidak terbiasa. Baik dari cara berjalan serta sikap.Cathy benar-benar merasa tidak puas dengan cara putrinya berjalan dengan sepatu hak.Rika duduk dan langsung melepaskan sepatu hak yang terpasang di kakinya. Ibunya langsung membelikan hak yang sangat tinggi dan memintanya berlatih jalan. Meski dia harus mengenakan sepatu hak, bukan berarti harus hak paling tinggi.“Ricky,” panggil Rika dengan lembut. Dia belum pernah mengharapkan telepon dari Ricky seperti saat ini. Dia juga belum pernah memanggil nama lelaki itu dengan begitu lembut.Sifatnya yang dingin membuatnya tidak bis
“Tenang saja, aku sudah berpengalaman. Kamu siap-siap, setelah aku tiba kita bisa langsung berangkat.”Rika menjawab, “Aku tunggu kamu di rumah.”Rika bilang lelaki itu akan tahu kenapa dia tidak ke kantor setelah datang ke rumahSetelah sambungan terputus, Rika yang awalnya ingin meletakkan ponsel kembali mengurungkan niatnya ketika melihat ibunya ada di hadapannya. Dia berpura-pura tengah mengirimkan pesan pada Ricky.“Jangan pura-pura lagi.”Cathy bangkit dan berjalan menghampirinya kemudian mengambil ponsel perempuan itu. Dia meletakkan ponsel tersebut di atas meja.“Ma, ponselku nggak boleh jauh dari aku. Kalau ada urusan kantor, mereka akan menghubungiku.”Rika ingin mengambil ponselnya sebagai alasan.“Bukannya kamu mau serahkan semua urusan kantor ke Ronald dan biarkan dia yang urus? Dia malam ini juga nggak perlu ke acara. Dia nggak jauh lebih kecil darimu, hanya sepuluh menit saja. Tapi dia anak lelaki, seharusnya dia yang mengemban tanggung jawab lebih berat.”Rika tertawa d
Sesaat kemudian, Cathy berkata, “Sudahlah, Mama nggak mau urus kamu lagi. Semua terserah kamu saja. Mama masih mau hidup lebih lama lagi.”“Ma, aku anak yang berbakti.”“Mama nggak bilang kalau kamu nggak berbakti. Tapi kalau Mama mengurus tentang kamu yang berubah jadi perempuan lagi, Mama bisa dibuat marah sampai mati. Biar kamu masih ada Mama dan Mama bisa hidup lebih lama untuk melihatmu menikah dan melahirkan, Mama putuskan nggak mau mengaturmu.”“Kamu mau jadi perempuan juga boleh, mau jadi lelaki juga boleh, kalian juga nggak peduli pandangan orang lain. Untuk apa Mama mengaturmu begitu banyak? Kamu juga akan jadi milik orang lain.”Setelah itu, ibunya bangkit dan berjalan keluar.“Ma, Mama mau ke mana?”“Keluar buat cari angin dan ngobrol sedikit dengan papamu.”Rhoma sedang menyiram bunga di luar. Rika hanya menjawab, “Kalau begitu Mama cari Papa saja, setelah itu Mama pasti akan merasa aku lebih baik.”Cathy tampak kesal dan juga ingin tertawa. Dia berjalan keluar dan mengham
Ketika dia sedang memarkirkan mobilnya, dia melihat mobil yang biasanya digunakan oleh Rika.“Di dalam, kamu masuk saja.”Awalnya Cathy ingin bantu membawa barangnya masuk. Setelah dipikirkan kembali, dia memberikannya lagi pada Ricky dan berkata, “Tante mau bantu Om siram tanaman karena sudah mendung. Kamu masuk sendiri saja.”Lagi pula Ricky sudah sering datang dan akan menjadi rumah keduanya. Lelaki itu masuk seorang diri. Begitu masuk, dia melihat seorang perempuan yang tengah duduk di sofa sambil mengirim pesan di ponselnya. Perempuan itu sangat mirip dengan Rika dan bahkan sama persis!Jika Rika mengenakan pakaian perempuan dan pakai rambut palsu, pasti akan seperti itu. Rika memang tidak ingin mengenakan rambut palsu, ketika mendengar suara Ricky dia putuskan untuk mengenakannya karena ingin melihat reaksi lelaki itu.Dia pernah mengenakan pakaian di hadapan Ricky, Rika pikir itu adalah pertama kali dan terakhir kalinya. Namun ternyata sekarang dia mengenakan pakaian perempuan l
“Kalau kamu nggak tahu malu, aku masih tahu malu.”Ricky terkekeh dan berkata, “Aku memang nggak tahu malu, kalau aku malu, aku nggak bisa dapat istri. Aku belajar dari Kak Stefan, aslinya dia nggak pernah mengejar istrinya. Setelah ada kakak iparku, dia jadi nggak tahu malu.”Ketika kakaknya baru menikah, mereka sering ribut dan perang dingin. Ricky tahu, tetapi dia tidak berani banyak mencari tahu. Terkadang ketika mereka perang dingin, bahkan harus neneknya yang turun tangan.Rika tertawa dan berkata, “Kalau Pak Stefan mendengar kamu bilang dia nggak tahu malu, kamu pasti akan dihabisi.”Dari yang dia tahu, semua saudara Ricky takut dengan Stefan dan juga menghormatinya. Sifatnya di hadapan semua orang adalah dingin dan misterius, hanya di hadapan Olivia saja baru berubah. Mereka tinggal bersama di Vila Permai dan memiliki hubungan yang sangat dekat. Oleh karena itu, Stefan memiliki kuasa yang cukup untuk membuat saudaranya takut.“Kakakku nggak ada di sini. Lagi pula, yang aku kata