"Iya, aku bawa saja dia." Odelina memutuskan membawa Russel bersamanya. Tidak ada orang lain yang bisa menjaga Russel, jadi lebih baik membawanya ke rumah sakit. Odelina segera menutup telepon, lalu menggendong anaknya sambil berkata, “Russel, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang. Om Daniel kecelakaan, kita mau lihat keadaannya.”“Om Daniel gimana, Mah? Dia nggak akan kenapa-kenapa,'kan?" tanya Russel. Ketika mendengar kabar tentang kecelakaan, Russel langsung teringat tentang darah. Wajahnya pucat. Ingatan tentang kecelakaan Odelina yang berdarah-darah dulu, telah meninggalkan trauma pada Russel. Kini Russel selalu akan pingsan bila melihat banyak darah.“Om Daniel pasti nggak akan kenapa-kenapa, kok,” Odelina berusaha menenangkan anaknya dan dirinya sendiri. Russel memeluk erat leher ibunya, berharap Om Daniel baik-baik saja dan tidak mengalami luka berat seperti ibunya saat itu.Di rumah sakit, jumlah orang yang menunggu di luar ruang gawat darurat semakin bertambah. Saat
Tubuh Yanti bergetar. Kedua menantunya segera menopangnya. "Mama,” panggil mereka dengan penuh kekhawatiran. “Daniel sudah lepas dari bahaya kematian, ini kabar baik. Dia akan pulih perlahan-lahan.”Dengan penuh penyesalan, Yanti memukul-mukul dadanya. Dia berkata dengan kesal, “Ini semua salahku. Aku yang membuat Daniel seperti ini. Kenapa bukan aku yang mengalami kecelakaan? Aku lebih rela jika orang yang kecelakaan itu adalah aku.” Pikiran tentang anak bungsunya yang mungkin cacat membuat Yanti takut untuk membayangkannya.“Ma, Daniel pasti akan baik-baik saja. Dokter juga sudah bilang dia bisa pulih,” Erik mencoba menghibur ibunya. Darius dengan wajah serius berkata kepada anak dan menantunya, “Bawa Mamamu pulang untuk istirahat. Papa yang jaga Daniel di sini.”"Aku nggak mau pergi. Aku mau tunggu Daniel keluar. Aku ingin merawat Daniel,” tolak Yanti. Dia tidak mau meninggalkan tempat itu. Meskipun operasi anaknya telah selesai, tapi Daniel belum juga dibawa keluar. Bagaimana
“Om Darius, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Tante Yanti bilang dia yang membuat Daniel seperti ini?” tanya Stefan. Reiki juga menatap Darius, menunggu penjelasannya.“Ah, ini semua salah kami,” ujar Darius. “Kemarin Daniel minum sampai mabuk, setelah kalian mengantarnya pulang, Mamanya telepon, tapi dia nggak menjawab. Akhirnya dia menelepon pelayan dan baru tahu bahwa Daniel mabuk. Pagi ini, mamanya ngotot ingin datang, jadi saya temani dia kesana.”“Daniel baru bangun tengah hari. Begitu melihat kami, belum sempat bicara banyak, mereka sudah bertengkar lagi. Daniel nggak mau bertengkar dengan mamanya lagi, makanya dia bangun dan pergi,” kenang Darius. Jika Darius tahu hal ini akan berujung pada kecelakaan, dia rela mengorbankan nyawanya untuk menghentikan istrinya.Darius merasa bersalah sebagai ayah karena tidak bisa menenangkan istrinya, yang menyebabkan pertengkaran antara ibu dan anak semakin memanas. “Mamanya tanya apa Daniel mau menemui Odelina lagi? Dia melarang Daniel
Setelah mereka menyadari perasaan Daniel, mereka sebenarnya juga mendukungnya. Namun, saat ini Odelina benar-benar tidak mempertimbangkan untuk menikah lagi. Dia juga tidak memiliki perasaan khusus terhadap Daniel. Ditambah lagi, dengan penentangan keras dari Yanti, Stefan akhirnya berpikir untuk membujuk Daniel agar menyerah.Stefan merasa, bahkan jika Odelina menerima lamaran Daniel pun, kebahagiaan mereka akan sulit tercapai karena Yanti. Stefan terhimpit. Di satu sisi, ada teman baiknya, dan di sisi lain, ada kakak iparnya. Jika dia membujuk Daniel untuk menyerah, Daniel mungkin akan merasa Stefan tidak cukup baik sebagai teman. Namun, jika dia membujuk kakak iparnya untuk menerima, justru seolah-olah Stefan sedang mendorong Odelina ke dalam jurang kesulitan.Stefan merasa masalah cintanya dengan Olivia dulu tidak sekompleks masalah Odelina dan Daniel saat ini. Daniel menyadari perasaannya terhadap Odelina saat Odelina mengalami kecelakaan. Baru dua atau tiga bulan setelah Ode
Odelina menurunkan Russel. Russel kemudian mendekati tempat tidur Daniel, berkata, "Om Daniel pasti akan baik-baik saja, akan pulih seperti mamaku." Daniel hanya tersenyum lemah, tidak berkata apa-apa.Setelah dokter dan perawat datang memeriksa, mereka tidak mengatakan apa-apa. Dokter hanya menyarankan agar tidak terlalu banyak orang di ruang perawatan. Pasien perlu beristirahat dengan baik. Sekarang karena Daniel sudah sadar, semua orang bisa pulang untuk beristirahat. Tidak perlu ada terlalu banyak orang yang berkerumun di ruang perawatan karena malah akan mengganggu pasien.Akhirnya, hanya orang tua Daniel yang bersikeras tinggal untuk berjaga. Setelah semua yang lain selesai mengunjungi Daniel, mereka pergi satu demi satu dari rumah sakit. Malam semakin larut. Karena kecelakaan Daniel, suasana hati semua orang terasa tak nyaman.Odelina, bersama dengan adiknya dan suami adiknya, membawa Russel kembali ke Villa Puncak Bukit. Di sepanjang perjalanan, Olivia memegang tangan
Yanti masih berjaga di sisi tempat tidur Daniel, seperti kemarin. Ketika melihat Odelina datang, dia segera berdiri dan berkata dengan suara pelan, "Odelina, kamu datang.""Bu, saya datang buat jenguk Pak Daniel," jawab Odelina dengan suara pelan juga, takut mengganggu Daniel yang sedang tidur.Odelina memberikan seikat bunga kepada Yanti. Yanti menerimanya dan meletakkan bunga itu di samping anaknya. Yanti berharap ketika Daniel bangun, dia bisa melihat bunga dari Odelina dan akan membuat suasana hatinya lebih baik. Dan semoga hal itu bisa memberi Daniel kepercayaan diri untuk memulihkan kakinya.Baru saja Yanti meletakkan bunga di samping anaknya, Daniel terbangun. Daniel membuka matanya dan melihat Odelina yang berdiri di depan tempat tidurnya. Dia awalnya diam, lalu kemudian berkata dengan nada yang dingin, "Mama, usir dia pergi, aku nggak mau lihat dia!"Mendengar hal itu, ketiga orang yang berdiri di depan tempat tidur terkejut. Yanti melihat Daniel, lalu melihat Odelina. Di
Sekarang Yanti memang belum melakukannya, tapi ketika nanti Daniel keluar dari rumah sakit dan sudah tidak tahan melakukan rehabilitasi, Daniel yakin Yanti pasti akan mencari Odelina. Daniel ingin menghalangi niat ibunya itu sejak awal.Setelah pintu kamar ditutup, Yanti melepaskan tangan Odelina. Yanti kemudian berbalik badan, lalu menutupi wajah dengan tangannya. Yanti menangis tersedu.Odelina diam sejenak. Dia mendekat kemudian menepuk-nepuk bahu Yanti.Odelina menghibur, "Bu, Pak Daniel akan baik-baik saja, jangan khawatir."Odelina menyodorkan tisu kepada Yanti. Yanti menerimanya, kemudian berbalik menghadap Odelina sambil mengusap air matanya dan meminta maaf kepada Odelina, "Odelina, ini bukan salahmu, ini salahku. Tante yang menghalangi Daniel menemui kamu sampai bikin dia kecelakaan. Ini semua salahku.""Pas Daniel tahu tentang kondisi kakinya tadi malam, dia sepertinya nggak bisa menerima kenyataan. Mungkin itu sebabnya Daniel jadi bersikap seperti itu sama kamu. Jangan a
Odelina meninggalkan rumah sakit dan kembali ke restoran sarapannya. "Sudah datang, Bu?” sapa dua pegawai saat melihat Odelina datang. Mereka ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu. Odelina yang sedari tadi tidak fokus, tidak menyadari hal ini. Toko sedang ramai. Kedua pegawai itu sibuk bekerja. Mereka berpikir untuk berbicara dengan Odelina nanti saja. Namun dari sikap Odelina yang sedari tadi tampak tak fokus, sepertinya dia sudah tahu tentang masalah berita viral di medsos itu.Adik Odelina adalah istri orang kaya. Informasi apa pun pasti akan sampai ke padanya lebih cepat.Odelina duduk di depan kasir, pikirannya masih dipenuhi kata-kata Daniel. Odelina khawatir tentang kecelakaan mobil yang menimpa Daniel. Tapi, kenapa Daniel malah menyalahkan semua yang terjadi padanya? Memangnya Odelina yang menyuruh Daniel datang? Tidak, bukan dia. "Kak," panggil sebuah suara yang terdengar familiar.Odelina menoleh dan melihat adik perempuannya, Olivia, duduk di depannya.Dia tidak m
"Nggak ada, sangat baik." Keluarga suaminya menunjukkan tingkat perhatian yang berlebihan terhadapnya, tetapi itu juga menandakan betapa mereka peduli padanya dan tentu saja pada bayi kecil yang ada di dalam perutnya. "Bagus kalau begitu. Mama sekarang paling takut mendengar kabar bahwa kamu mengalami sesuatu." Dewi akhirnya merasa lega, lalu berkata, "Ada seorang teman Mama, menantunya juga lagi hamil lima bulan. Tapi dua hari yang lalu, bayinya nggak berkembang lagi. Dia menangis sampai seperti kehilangan akal. Bayinya laki-laki dan sudah terbentuk, tapi entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba janinnya nggak berkembang." "Ah, Cih! Olivia sehat, dan bayi kita juga sangat sehat." Kekhawatiran Dewi terhadap Olivia memang dipicu oleh kejadian yang menimpa menantu temannya itu. "Hamil lima bulan masih bisa mengalami janin nggak berkembang?" Dewi menggandeng tangan menantunya dengan hangat. Keduanya masuk ke dalam rumah dengan akrab layaknya ibu dan anak kandung. Sedangkan Stefan? Di
Olivia berkata, "Aku hanya mau bilang, kamu sekarang sudah setegang ini, nanti saat aku melahirkan, apakah kamu akan seperti Amelia, langsung mengemudi sendiri ke rumah sakit?" Stefan menjawab dengan serius, "Jangan bandingkan aku dengan Amelia. Aku nggak akan seperti itu. Memang aku pasti akan tegang, tapi nggak sampai lupa padamu. Aku akan menemanimu masuk ke ruang bersalin." "Kamu mau masuk ke ruang bersalin bersamaku?" "Iya, aku akan menemanimu. Nggak peduli kapan dan apa yang terjadi, aku harus ada di sisimu." Olivia tersenyum, senyumnya begitu manis. "Stefan, terima kasih. Terima kasih karena sangat mencintaiku dan memperlakukanku dengan begitu baik!"Stefan kembali mengoreksinya, "Panggil aku "Sayang". Aku suka mendengar kamu memanggilku begitu. Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu karena mau melahirkan anak untukku. Kamu adalah pahlawan besar di keluarga kita." "Kita nggak perlu saling berterima kasih terus." Olivia tertawa kecil sambil menyandarkan dirinya ke p
Terutama sejak Olivia hamil, Stefan berharap bisa menemani istrinya selama 24 jam sehari. Namun, Olivia tidak mengizinkannya untuk terus menempel padanya. “Aku masih harus kerja,” katanya sambil tersenyum. Melihat istrinya yang sedang hamil tetap bekerja, Stefan merasa tidak enak jika dirinya sendiri bermalas-malasan. “Harus kerja juga, cari uang buat beli susu bayi,” katanya sambil bercanda. Russel bilang, bayinya nanti laki-laki. Kalau benar anak laki-laki, Stefan mulai berpikir tentang masa depannya. “Harus cari uang buat beli rumah, mobil, dan biaya menikah. Itu semua butuh banyak uang.” Namun, kemudian dia tersenyum lega. Sebagai pewaris keluarga Adhitama, dia memiliki kekayaan melimpah. “Bisa dibilang, aku kekurangan segalanya kecuali uang. Uangku cukup untuk anakku hidup nyaman seumur hidup. Kelak ada cucu dan cicit, harus tetap menjaga keluarga Adhitama sebagai keluarga terkaya di Mambera, dari generasi ke generasi.” “Nicho mulai kerja tahun depan, ya?” Olivia merasa s
"Olivia, mari kita kembali ke rumah lama sebentar dan beri tahu Nenek. Dia pasti ingin bertemu dengan para tetua itu," kata Stefan. Mereka adalah orang-orang dari masa yang sama. Di zamannya, Nenek adalah sosok yang cukup terkenal di Mambera. Kemungkinan besar, para tetua itu juga mengenal neneknya. Namun, memikirkan bahwa Olivia sudah bangun pagi-pagi, Stefan mengubah keputusannya. Dia berkata, "Kamu pulang saja untuk istirahat. Aku sendiri yang akan pergi ke rumah lama. Kalau Nenek ingin datang, aku akan mengantarnya ke sini." Olivia menjawab, "Aku nggak lelah. Aku akan menemanimu pergi." "Sudah lama kita nggak pulang ke sana. Akhir pekan ini, kita bawa Russel untuk menginap dua hari. Sekalian beri tahu keluarga, setelah libur musim dingin minggu depan, aku mau bawa Russel ke Kota Aldimo untuk bermain beberapa hari." Stefan dengan perhatian bertanya, "Apa kamu nggak akan merasa terlalu capek? Kalau lelah, sebaiknya istirahat saja, jangan memaksakan diri." Olivia menepuk ringan
Yuna mengangguk."Sore nanti ajak Russel bersama ke sini." Setelah berpikir sejenak, Yuna menambahkan, "Dokter Panca bilang, waktu Kakek Setya nggak banyak lagi. Biarkan dia bertemu dengan anak-anak satu per satu." Semua orang saling memandang. Olivia dengan cemas bertanya, "Penyakit apa yang diderita Kakek Setya?" "Mungkin karena luka lama yang meninggalkan efek samping, ditambah usia lanjut. Orang tua pasti punya penyakit kecil di sana-sini," jawab Yuna sambil menghela napas, dia tidak melanjutkan lebih jauh. Dokter Panca sudah menyuruh mereka bersiap secara mental. "Sore nanti, aku akan menjemput Russel, lalu kita akan datang bersama." Olivia juga memahami bahwa usia Setya yang sudah sangat tua, ditambah keinginannya yang sudah terpenuhi, mungkin tidak akan bertahan lama lagi. "Apakah perlu memberi tahu Kak Odelina agar pulang?" "Untuk sementara nggak perlu. Kakek Setya belum menyerahkan bukti-buktinya ke aku, jadi dalam waktu dekat sepertinya nggak akan ada apa-apa. Saat dia
Wajah Yuna berubah drastis. “Dokter Panca, apakah nggak ada cara agar Om Setya bisa hidup beberapa tahun lagi?” Dokter Panca berkata, “Saya dan murid-murid saya sudah pakai semua obat terbaik yang kami tanam untuknya. Kami sudah melakukan yang terbaik. Dia bisa bertahan sampai sejauh ini, pertama karena kami membantu memulihkan tubuhnya, dan kedua karena obsesi yang ada di hatinya.” “Meski dendam besar mamamu belum terbalaskan, melihat kalian hidup dengan baik, memiliki kekuatan dan dukungan, Om Setya merasa lebih tenang. Dia percaya bahwa balas dendam untuk ibumu bisa diserahkan sama kalian, jadi dia bisa pergi menemui majikannya dengan hati lega.” “Begitu obsesi itu hilang, seperti yang saya katakan sebelumnya, semangatnya akan turun. Ketika itu terjadi, dia nggak akan bertahan lama lagi. Apalagi, usianya sudah hampir seratus tahun. Bahkan kalua hari itu tiba, kalian harus menerimanya dengan tenang.” Hidup hingga seratus tahun, meski sering diucapkan, berapa banyak orang yang be
Sama seperti para lelaki di keluarga menantunya. Tidak heran kedua keluarga itu bisa memiliki hubungan yang erat. Mereka adalah orang-orang yang sejenis. “Dokter Panca,” sapa Stefan dengan hormat. Lelaki tua itu mengangguk lagi. Kemudian, dia memperkenalkan beberapa teman lamanya kepada pasangan itu. Terakhir, dia menunjuk Setya dan berkata kepada Olivia, “Bu Olivia, kakakku ini adalah orang yang selama ini kalian cari. Tantemu memanggilnya Om Setya.” “Dokter Panca, panggil aku Olivia saja,” kata Olivia dengan sopan. Dia menoleh ke Setya dan menyapanya, “Kakek Setya.” Sebagai generasi muda, Olivia belum pernah bertemu dengan asisten tua itu, dan begitu pula sebaliknya. Karena itu, baik Olivia maupun Setya, tidak memiliki perasaan emosional yang sama seperti Yuna. Setya tersenyum dan mengangguk, lalu berkata, “Kamu pasti Olivia, 'kan?” Bu Yuna benar, Olivia tidak begitu mirip dengan Reni. Sekilas terlihat sedikit mirip, tapi kalau diperhatikan lebih saksama, ternyata nggak. Keli
“Om Setya, putri sulung Reni sudah pergi ke Cianter untuk berkarier. Anda untuk sementara nggak bisa bertemu dengannya,” kata Yuna dengan suara lembut.Dia tahu alasan Setya sering memandang Amelia. Mungkin lelaki itu khawatir bahwa keluarga ibunya tidak ada yang mampu mengambil alih keluarga Gatara. Setya sangat setia, dan menganggap keluarga Gatara itu adalah milik keturunan majikannya.Meskipun Patricia telah duduk di posisi kepala keluarga selama lebih dari 40 tahun, Setya tetap tidak mengakui kedudukan Patricia yang sah. Perempuan itu tidak ingin Setya hidup, karena selama dia masih hidup, Patricia selalu merasa posisinya tidak kokoh. Tanpa Setya, dengan semua saudaranya ang telah tiada, mengambil alih keluarga Gatara menjadi hal yang wajar baginya, sehingga dia akan merasa lebih percaya diri. “Olivia sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi Anda bisa bertemu dengannya,” “Olivia lebih mirip ayahnya, sedangkan Odelina lebih mirip Reni. Anak laki-laki Odelina, Russel, sangat mirip
Yuna menangis sejadi-jadinya di depan nisan adiknya. Namun, tidak peduli seberapa keras tangisnya, dia tidak dapat menghidupkan kembali adiknya. Satu hal yang bisa dia lakukan hanyalah menjadi sosok ibu bagi kedua keponakannya dan memberikan mereka lebih banyak kasih sayang.Yuna dan adiknya mengalami masa kecil yang tragis. Kemudian, keduanya dipisahkan oleh dua alam yang berbeda. Setelah mengetahui penyebab kematian orang tuanya, Yuna sangat membenci Patricia.“Kalau nggak ingin orang tahu apa yang kamu lakukan, lebih baik nggak usah lakukan. Dia akan membayar harga atas semua perbuatannya,” ujar Setya dengan penuh kebencian.“Benar, Om. Dia akan bayar harga atas semua yang telah dia lakukan.”“Aku yang nggak berguna. Aku nggak punya banyak bukti. Hanya ada sedikit. Karena orang-orang yang tahu masalah ini sudah mati semua, jadi sulit untuk memberatkannya dengan bukti yang sedikit ini.” Usai berkata, Setya kembali menyalahkan dirinya sendiri dan menangis.“Aku nggak peduli ada bukti