Entah apakah Roni terlalu lelah karena berlari, atau karena ketakutan. Kaki dan tangan Roni menjadi lemas tak bertenaga. Dia bahkan tidak bisa menggendong Odelina.“Jangan sembarang menyentuh Bu Odelina!”Pengawal keluarga Adhitama mendorong Roni menjauh, tidak membiarkan Roni sembarangan menyentuh Odelina. Daripada salah tindakan membuat Odelina mengeluarkan lebih banyak darah.Pengawal itu telah menelepon ambulans, dia juga berusaha membantu menghentikan darah di luka Odelina. Pada saat yang sama, dia juga menghubungi Stefan dan yang lainnya.Setelah mengetahui kakak iparnya ditikam beberapa kali, Stefan langsung membentak, “Begitu banyak orang yang awasi mereka, begitu banyak orang yang ikuti mereka, tapi kakak iparku masih saja terluka!”Bagaimana caranya Stefan menjelaskan hal ini pada Olivia?Pengawal itu tidak berani menjawab. Jumlah mereka banyak, tapi jumlah lawan juga banyak. Hal itu yang menyebabkan mereka terlambat beberapa menit saat mengejar Odelina. Hanya dalam beberapa
“Kak.”Pada saat Olivia mengangkat telepon, dia masih sedang memeriksa kemajuan proyeknya di desa dekat kampung halamannya.Odelina mengira kakaknya yang menelepon, dia pun mengangkat telepon dan memanggil kakaknya sambil tersenyum.Stefan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia juga mencoba menelepon Odelina. Namun, Russel satu langkah lebih cepat, karena itu telepon Stefan tidak masuk.“Tante ....”Russel langsung menangis ketika dia mendengar suara tantenya.Odelina cepat-cepat menghibur keponakannya, “Russel kenapa? Kenapa menangis? Karena Russel capek latihan bela diri? Jangan menangis, Russel. Russel anak yang kuat, anak kuat nggak boleh menangis. Russel jangan menangis lagi, ya. Nanti kalau Tante sudah pulang, Tante bawa Russel pergi jalan-jalan. Tante akan belikan semua yang Russel mau.”“Tante, Mama berdarah, ada banyak darah .... Tante cepat ke sini. Mama sekarat .... huuuuu!”Russel berkata sambil menangis. Oleh karena itu, kata-kata yang dia ucapkan terputus-putus. Seme
Stefan yang berada di ujung teleponnya mendengar teriakan Junia. Dia juga terus berteriak, “Oliv, Oliv!”Amelia mengambil ponsel Olivia dan berteriak pada Stefan di telepon, “Stefan, kamu ngomong apa sama Olivia? Ada apa dengan Kak Odelina?”“Amelia, tolong antar Oliv pulang dulu. Kak Odelina terluka, sekarang masih ditangani sama dokter. Setelah kalian ke sini kita baru bicarakan lagi.”“Bagaimana dengan luka Kak Odelina?”Ekspresi wajah Amelia juga berubah. Dia tahu pasti terjadi sesuatu pada Odelina, makanya Olivia bisa syok seperti ini. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang terjadi pada kakak sepupunya itu.Setelah mendengar perkataan Stefan, Amelia juga menjadi tegang dan takut. Ibunya sangat menyayangi kedua saudara sepupunya itu. Jika terjadi sesuatu pada Odelina, ibunya pasti akan sangat sedih.“Aku juga nggak tahu, katanya ditusuk beberapa kali. Sekarang masih ditangani sama dokter, dokter belum ada yang keluar. Kami sudah berada di rumah sakit. Amelia, kamu dan Junia tolong cep
Pada saat Russel diculik, sekalipun Odelina dan Roni tidak mengejar penculik itu, para pengawal tetap bisa menyelamatkan Russel. Mereka telah memasang jaring untuk menangkap semua orang-orang itu.Namun, mereka telah mengabaikan hati seorang ibu yang senantiasa akan melindungi anaknya. Demi anaknya, seorang ibu bahkan rela menyerahkan nyawanya sendiri.Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa tidak mengejar ketika melihat anaknya diculik orang lain. Mereka mungkin telah memikirkan hal ini, tapi mereka sama sekali tidak menyangka Odelina bisa mengejar penculik itu. Kekuatan fisiknya menjadi begitu luar biasa. Dari awal hingga akhir tidak pernah sekali pun Odelina menyerah.Setelah ditendang, ditikam dengan pisau oleh orang jahat, Odelina tetap tidak melepaskan anaknya. Hingga dia melihat pengawal keluarga Adhitama tiba, dia tahu kalau mereka sudah aman. Setelah itu, dia baru melepaskan Russel. Dia telah terluka parah, tapi Russel baik-baik saja.Daniel berbalik dan meninju dinding di depanny
Kata-kata Olivia membuat Yuna juga ikut menangis. Dia memikirkan kejadian yang menimpa dirinya sendiri. Saat itu, Yuna dan adiknya dibawa ke panti asuhan, mereka masih berdua.Namun, setelah Yuna mendapat kabar tentang adiknya, ternyata tinggal dirinya sendirian. Dia bahkan tidak bisa melihat adik satu-satunya untuk terakhir kalinya.Stefan memeluk Olivia erat-erat, memberinya sandaran dan penghiburan.“Oliv, Kak Odelina akan baik-baik saja. Dia akan segera sadar, semua akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, kita masih harus bantu Kak Odelina jaga Russel. Russel juga syok berat.”Olivia sangat ketakutan, air matanya tidak berhenti mengalir. Semua penghiburan Stefan tidak berhasil menghentikan tangisnya. Namun, begitu mendengar nama Russel, suara tangisan Olivia seketika menjadi lebih pelan.Benar, Olivia harus membantu kakaknya menjaga Russel. Setelah menangis begitu lama, Olivia baru menata kembali emosinya. Dia mengambil tisu yang diberikan Stefan untuk menyeka air matanya. Kemud
Odelina masuk ke ruang ICU. Anggota keluarga tidak perlu tinggal di rumah sakit untuk menjaganya. Keluarga pasien hanya diperbolehkan menjenguk sebentar setiap hari.Meskipun tidak bisa menjaga sang kakak, Olivia juga tidak ingin meninggalkan di rumah sakit. Dia ingin menunggu di luar sampai kakaknya bangun. Kakaknya pasti akan bangun.Sesaat kemudian, polisi datang ke rumah sakit. Semua orang melihat beberapa petugas polisi berjalan mendekat.“Maaf, siapa yang bernama Yenny di sini?” tanya salah satu polisi.Semua orang serentak melihat ke arah Yenny.Yenny pun menjawab dengan panik, “Saya Yenny.”Setelah polisi itu mengatakan sesuatu, dia langsung meminta dua polwan untuk membawa Yenny pergi.“Pak Polisi.”Roni cepat-cepat menghentikan dua polwan yang hendak membawa Yenny pergi. Ayah dan ibu Roni juga ikut di belakang Roni. Mereka semua menatap petugas polisi itu.“Pak Polisi, kalau boleh tahu kesalahan apa yang istri saya lakukan? Kenapa kalian membawanya pergi?” tanya Roni.“Kami m
“Dia ingin membuat keluarga Pamungkas nggak punya keturunan! Dia ingin membunuh Russel, ingin membunuh Odelina! Dasar kamu perempuan jahat! Perempuan jahat!”Rita membentak Yenny hingga suaranya menjadi serak. Jika kejadian kali ini merupakan ulah Yenny, maka kejadian terakhir kali saat mereka sekeluarga pergi ke kebun binatang bukanlah kecelakaan. Semua itu perbuatan Yenny.Bagaimana perempuan itu bisa begitu kejam! Yenny ingin menculik anak Shella, sekarang ingin menculik anak Roni lagi.Begitu Olivia mendengar bahwa Yenny terlibat dalam kejadian ini, dia langsung menyerahkan Russel kepada Stefan lalu hendak pergi memukul Yenny.“Oliv.”Stefan mencekal tangan Olivia dan berkata, “Biarkan hukum yang menghukumnya, kamu jangan lakukan apa pun.”Polisi sudah datang, jadi mereka tidak perlu memberi pelajaran pada Yenny. Bram sudah memiliki bukti kuat, Yenny tidak akan bisa melarikan diri lagi. Setidaknya dia akan mendekam di penjara selama beberapa tahun.Jika mantan anak buah ayah angkat
Olivia yang telah menyinggung orang itu, dan orang itu ingin membalas dendam pada Olivia. Makanya orang itu mencari Yenny dan memaksanya untuk memanfaatkan Russel.Perempuan itu bilang sekalipun Russel jatuh ke tangannya, selama Russel patuh, tidak menangis dan tidak berulah, maka perempuan itu tidak akan melakukan apa pun pada Russel. Asalkan Olivia pergi menemui perempuan itu, Russel bisa pulang dengan aman. Russel tidak akan kehilangan sehelai rambut pun.Namun, bagaimana Yenny tahu kalau Odelina akan terluka demi melindungi Russel? Padahal Russel akan baik-baik saja.Roni berdiri mematung sambil bergumam sendiri, “Kenapa Yenny yang jadi pelakunya, bagaimana mungkin Yenny pelakunya .... Bagaimana mungkin?”“Roni!” bentak Andi, ayah Roni. Kemudian, dia tiba-tiba menampar Roni. Tamparan itu sangat keras hingga semua orang bisa mendengar suara tamparan itu. Semua orang melihat mereka berdua, tapi tidak ada yang menghentikan Andi.“Kamu, kamu yang bawa perempuan jahat itu ke rumah kita
Keluarga Junaidi tidak akan pernah mempersulit pekerja mereka sendiri. Mereka selalu memperlakukan pekerja dengan sangat baik.“Pagi, iya aku sudah bangun. Semalaman aku nggak bisa tidur, jadi aku jalan-jalan keluar. Sekarang aku masih belum lapar, nanti kalau Mulan sudah bangun saja baru aku sarapan bareng dia,” kata Olivia.Sembari tetap memasang senyum di wajah, pelayan itu berkata, “Bu Olivia jangan lupa pakai jaket yang tebal. Pagi-pagi embunnya masih tebal, udaranya jadi lebih dingin.”“Iya, aku sudah pakai jaket satu lapis lagi.”“Bu Olivia hati-hati di jalan. Ingat untuk pulang begitu matahari terbit. Bu Mulan begitu liat matahari terbit langsung terbangun,” kata si pelayan.Jam biologis Mulan sangat tepat waktu. Dia akan selalu terbangun di jam yang sama, ketika matahari mulai bersinar di pagi hari.“Oke,” sahut Olivia tersenyum.Si pelayan pun mengantar Olivia ke depan pintu dan baru masuk ke dalam setelah Olivia menuruni tangga rumah. Suasana di dalam vila masih sangat sunyi
Sewaktu Mulan baru mengadopsi Liam, Liam masih belum bisa bicara dan sehari-hari dirawat oleh pengasuh. Alhasil Liam tidak punya kesan yang mendalam terhadap orang tuanya. Tak lama dia sudah diadopsi oleh Mulan, sampai-sampai Liam bahkan tidak ingat dengan pengasuh yang dulu paling dekat dengannya. Orang yang paling dekat dengan Liam sekarang adalah keluarga Junaidi. Kebanyakan anak-anak akan dekat dengan siapa pun yang merawat mereka saat masih balita.“Tante Olivia, Russel benar akan baik-baik saja?” tanya Liam, seraya memiringkan badan dan mengelus-elus kepala Russel. Kemudian Liam meraba kepalanya sendiri untuk merasakan perbedaan suhu tubuh antara mereka berdua.“Russel baik-baik saja, kok. Badan dia juga kuat,” sahut Olivia.“Kalau Russel kena flu, aku bisa cek nadinya atau kasih dia obat.”“... kamu juga bisa cek nadi sama obat-obatan?”“Belum, tapi aku pernah lihat guruku cek nadi dan kasih obat ke pasiennya. Aku juga sering kena flu waktu baru sampai di Lembah Obat, aku tahu o
Sesaat kemudian, Olivia keluar dari kamar mandi dan duduk kembali ke kasurnya. Dia sudah tidak bisa tidur lagi karena bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya. Apakah mereka di sana sudah berkumpul dengan Kakek Nenek? Apakah mereka semua bahagia di alam sana? Apa di alam sana mereka dapat mengetahui seperti apa situasi yang Odelina dan Stefan alami saat ini?Seketika Olivia tersenyum pahit. Orang yang sudah mati ibarat lampu yang padam, mana mungkin mereka masih bisa mengetahui apa saja yang terjadi di dunia? Kalaupun mereka di sana tahu Odelina dan Stefan sedang menghadapi bahaya yang serius, mereka juga tidak bisa membantu apa-apa.Alasan mengapa Olivia memimpikan kedua orang tua dan kakek neneknya adalah mungkin karena disiang harinya, dia selalu memikirkan tentang apa yang terjadi di Cianter, memikirkan bagaimana nasib tragis kakek neneknya, serta kecelakan mobil yang dialami kedua orang tuanya. Dua kejadian itu terus terngiang-ngiang di kepala Olivia sampai terbawa ke dalam mimp
Olivia mengikuti kedua bocah kecil itu, memastikan mereka masuk ke kamar, melihat mereka naik ke tempat tidur, lalu membantu menyelimuti mereka. Dia menyalakan lampu kecil, mematikan lampu besar di kamar, dan berkata, "Tidurlah dengan baik. Jangan bangun lagi untuk bermain, dan jangan mengobrol sampai tengah malam." "Kalau aku mendengar kalian masih berbicara, rencana pergi ke taman bermain anak-anak besok akan dibatalkan." Jangan lihat mereka masih anak-anak berusia tiga atau empat tahun. Kalau sudah berkumpul, mereka bisa mengobrol seperti orang dewasa, membahas berbagai hal tanpa henti. Olivia berpikir, jika mereka sudah besar nanti, dua mulut pintar ini pasti bisa menipu banyak orang dengan kata-kata manis mereka. Russel dan Liam saling berpandangan, lalu berkata serempak, "Kami akan tidur. Nggak akan mengobrol lagi." Meskipun mereka suka berbicara, pergi bermain besok lebih menarik bagi mereka. Olivia lalu membungkuk dan memberi ciuman selamat malam kepada kedua bocah kecil it
Olivia mencubit pipi keponakannya dengan ringan dan berkata, "Jelas-jelas kamu sudah ingin datang bermain sejak awal, tapi malah menyalahkan om kamu." Russel tertawa cengengesan. Olivia mendekat ke kamera dan bertanya kepada kakaknya, "Kak, semuanya berjalan lancar, 'kan?" Ada makna tersirat dalam kata-katanya. "Hmm, masih dalam kendali. Nggak ada masalah, jadi kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja menemani Russel menikmati liburan musim dinginnya. Dia suka pergi ke kebun binatang dan taman hiburan, ajaklah dia jalan-jalan." Olivia menjawab, "Kebun binatang di sini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Mambera. Sementara itu, di taman hiburan, banyak wahana yang belum bisa dimainkan Russel. Dia masih terlalu kecil, tinggi dan usianya belum cukup. Jadi, kalau ke sana, dia hanya bisa melihat orang lain bermain." "Aku sudah janjian dengan Mulan. Besok, kami akan membawa mereka ke taman bermain anak-anak. Katanya di sana ada banyak fasilitas yang cocok untuk mereka berdua." Odelina
Odelina keluar dari kamar mandi dan segera melakukan panggilan video kepada adiknya. Olivia dengan cepat menerima panggilan tersebut. Begitu panggilan tersambung, wajah kecil putranya, Russel, langsung muncul di layar. “Mama.” Awalnya, Russel sudah mengantuk dan bersiap untuk tidur. Namun, ketika ponsel bibinya berbunyi dan ia diberitahu bahwa ibunya menelepon, ia langsung bertahan. Ia tahu bahwa ibunya hanya punya waktu luang di larut malam. Karena rindu, ia sengaja menunggu agar bisa berbicara sebentar dengan ibunya sebelum tidur. “Russel, sudah malam sekali, kenapa belum tidur?” Odelina bertanya dengan lembut, senyumnya penuh kasih sayang. Sejak dia datang ke Cianter, satu-satunya kesempatan bertemu langsung dengan putranya adalah ketika Daniel membawanya ke sana. Selain itu, mereka hanya bisa bertatap muka lewat panggilan video. “Aku menunggu Mama selesai bekerja, supaya bisa telepon video sama Mama. Mama, apa Mama sudah selesai bekerja? Di sana turun salju, nggak? Dingin, ng
“Cuma main gim sebentar. Aku sudah lama sekali nggak bermain.” Rika mengerutkan kening. Ronald buru-buru berkata, “Kak, aku benar-benar sudah lama nggak main. Sekarang pekerjaan sangat sibuk. Malam ini kebetulan pulang lebih awal, jadi aku main sebentar buat mengisi waktu. Kalau nggak main, aku pasti sudah keluar minum-minum dengan teman sampai mabuk. Nanti Kakak juga pasti akan menghajarku habis-habisan.” Dulu, orang yang paling ditakutinya adalah kakak kembarnya sendiri. Dia merasa kakaknya lebih galak daripada orang tua mereka. Kakaknya selalu mengawasinya dengan ketat dan tidak memberinya banyak kebebasan. Setelah tahu bahwa kakaknya sebenarnya seorang perempuan, orang yang paling ditakutinya tetaplah kakak itu. Satu-satunya yang berubah hanyalah gendernya, tetapi kepribadiannya masih sama seperti dulu. Ronald sering bertanya-tanya, mereka kembar, hanya selisih sepuluh menit saat lahir, tetapi mengapa kakaknya jauh lebih hebat darinya? Padahal mereka tumbuh bersama dan mendapa
Begitu Rika mengangkat kepalanya, Ricky langsung menunduk dan menutup mulutnya dengan ciuman. Rika awalnya tidak bereaksi, tetapi ketika Ricky semakin menggoda dan membangkitkan emosinya, barulah ia memberikan sedikit balasan. Begitu mendapat tanggapan darinya, Ricky langsung menjadi lebih agresif, seolah tidak mau memberi celah sedikit pun. Rika berpikir, pada malam pernikahan mereka nanti, pria ini pasti akan berubah menjadi serigala yang tidak sabar melahapnya sampai tidak bersisa. Setelah ciuman panjang itu, Ricky akhirnya menahan diri dan perlahan melepaskannya, meski masih enggan berpisah. Rika yang masih setengah terpejam membuka matanya dan bertemu dengan tatapan penuh perasaan dari Ricky. Ia mengangkat tangannya, dengan lembut membelai wajah pria itu, lalu berkata dengan suara lembut yang jarang terdengar darinya.“Cepat pulang dan istirahat, semoga mimpi indah. Selamat malam.” “Kamu juga. Besok pagi aku datang menjemputmu untuk sarapan bersama.” Ricky kembali menempelkan
Ricky diam-diam mengeluh dalam hati. Para pengawal keluarga Arahan pasti belum pernah melihat betapa gilanya kakaknya saat jatuh cinta. Dalam hal memanjakan istri, mereka semua masih harus belajar dengan kakaknya. Dalam hal tidak tahu malu, mereka juga harus mencontoh kakaknya. Kakaknya selalu menjadi panutan bagi mereka, baik dalam urusan pribadi maupun bisnis. “Perusahaan kalian sebentar lagi libur, 'kan? Bagaimana kalau Tahun Baru nanti kamu merayakannya di rumahku?” tanya Ricky dengan suara lembut . “Tahun ini mungkin aku nggak akan merayakan Tahun Baru di rumahmu, tapi tiga hari setelah tahun baru, keluargaku akan datang ke rumahmu untuk mengucapkan selamat secara langsung. Hari kedua tahun baru ibuku akan pulang ke rumah kakek nenek, jadi kami semua harus ikut.” Kedua keluarga sudah saling berkunjung seperti keluarga besan. Ricky tersenyum dan berkata, “Itu juga bisa. Setelah Tahun Baru, saat kantor sipil sudah buka, kita akan pergi mendaftarkan pernikahan. Persiapan pernika