Begitu mendengar ucapan ini, Giandra hanya mendengus dingin. Sementara itu, Senia tersenyum dan menimpali, "Nggak apa-apa. Lagi pula, ini hanya untuk bersenang-senang saja."Saat ini, ada seseorang yang tiba-tiba berkata, "Ibu Suri, adu teknik perang sudah selesai. Bagaimana kalau kita bersenang-senang dengan berpuisi? Lagi pula, tidak baik untuk mengangkat senjata di perayaan besar ini."Senia tersenyum saat mendengar saran ini. Dia mengangguk sembari berucap, "Boleh juga, tapi sepertinya kurang menarik. Bagaimana kalau adu berpuisi? Pemenang akan mendapatkan hadiah. Rakyat yang terkasih, bagaimana menurut kalian?"Begitu ucapan ini dilontarkan, para pegawai sipil seketika sangat bersemangat. "Ide Ibu Suri sangat bagus!"Senia tersenyum sembari berkata, "Baiklah, mari kita mulai."Mendengar ini, Wira mengedip-ngedipkan matanya. Sepertinya ini adalah kesempatan yang tepat bagi dirinya untuk melakukan lamaran. Senia benar-benar percaya pada Wira. Dia membiarkan Wira untuk melakukan lam
Begitu Wira selesai berbicara, dia tersenyum dan segera duduk di tempatnya. Mereka bebas menulis puisi. Apabila bisa menulis sesuatu yang lebih baik dari ini sedikit pun, Wira akan mengaku kalah! Saat ini, semua orang amat tercengang. Puisi Wira benar-benar ... luar biasa!Kamu bagaikan angsa putih, yang berenang di tengah danau. Oh wanita cantik, dambaan hatiku. Terutama kedua kalimat ini, penggunaan diksinya sungguh luar biasa."Oh wanita cantik, dambaan hatiku ... puisi yang bagus .... Wira, kamu benar-benar berbakat dalam sastra!" puji Senia. Saat ini, dia benar-benar terkesan dengan puisi Wira, terutama kedua kalimat ini yang memicu kehebohan.Wira buru-buru menggeleng, lalu menangkupkan tangan seraya berkata, "Yang Mulia, Anda sudah terlalu memuji hamba!"Akan tetapi, Senia yang mendengar perkataannya malah tertawa. Kemudian, dia memandang para pejabat yang hadir dan berkata, "Para menteri sekalian, apakah ada di antara kalian yang ingin menandingi puisi Wira?"Begitu Senia melon
Senia memberitahunya bahwa dia perlu berperan seolah-olah sangat membenci Wira. Itu sebabnya, Giandra langsung menjawab, "Yang Mulia, bagaimana mungkin hamba bisa memaafkan pembunuh ayah hamba! Kalau hamba melakukannya, bukankah hamba akan menjadi anak paling durhaka?"Suara Giandra memang terdengar pelan, tetapi setelah dia selesai berbicara, semua orang langsung tercengang. Ini adalah kedua kalinya Giandra berani membantah Senia. Apakah pemuda ini ... memiliki jiwa pemberontak?Mereka semua tampak terkejut, tetapi Raja Ararya dan Raja Byakta hanya tersenyum dan memandang Giandra dalam diam. Mereka tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Senia mendengus dingin dan tidak lagi bersuara.Perkataan Giandra memang benar. Dendam atas pembunuhan orang tua memang sulit untuk dimaafkan. Itu sebabnya, Senia juga tidak ingin berbicara lebih banyak dan memicu kritik dari orang lain."Yang Mulia, karena Giandra tidak bersedia, kalau begitu ... hamba akan mengajukan permintaan yang lain," ucap Wira.
Untuk mencapai hasil yang diinginkan, Wira hanya bisa mengatakan hal tersebut. Namun, begitu kata-kata ini dilontarkan, Dewina merasa sangat tertekan. Hanya saja ... sebenarnya dia tidak pernah membenci Wira. Pada malam saat mereka berjalan-jalan di tepi danau, apabila Wira benar-benar menginginkan tubuhnya, Dewina tidak akan ragu untuk mengorbankan dirinya.Sebab, saat itu perintah dari Senia adalah untuk menarik Wira ke pihak mereka dengan segala cara yang memungkinkan. Jadi ... kalaupun harus melibatkan dirinya secara fisik, Dewina tetap akan melakukannya demi misi tersebut.Saat ini, ketika Senia dan para pejabat mendengar pernyataan Wira, mereka semua tampak terkejut. Wira terlalu berani. Banyak di antara mereka yang memilih untuk tetap tenang. Bagaimanapun, ini adalah urusan pribadi orang lain.Banyak orang telah mendengar tentang apa yang dilakukan oleh Dewina di Kerajaan Nuala. Dia memang menjadi diva di Rumah Bordil Fion, tetapi bukankah itu hanya sebuah posisi? Justru aneh ap
Begitu mendengar perkataan Wira, Raja Kresna sontak menjawab seraya mengangguk, "Benar, itu memang sangat rahasia. Kadang kala, bahkan aku sendiri nggak tahu siapa saja yang merupakan anggota Pasukan Bayangan.""Inilah aturan dari Pasukan Bayangan, nggak akan ada satu orang pun yang tahu daftar lengkap semua anggota Pasukan Bayangan. Jadi, Pasukan Bayangan akan selalu aman dan selalu ada orang yang melakukan tugasnya!" jelas Raja Kresna. Perkataannya membuat Wira terkejut. Setelah itu, Wira pun mengeluarkan tujuh lencana yang melambangkan Pasukan Bayangan."Tujuh orang ini mencoba untuk membunuhku. Aku ingin tahu ... apakah ada anggota lain di Pasukan Bayangan yang mengetahui identitas mereka?" tanya Wira.Begitu mendengar pertanyaannya, Raja Kresna menjawab dengan yakin, "Nggak ada. Aku bahkan nggak mengenali ketujuh orang ini."Wira mengedipkan mata seraya bertanya, "Seharusnya ... wajar kalau kamu nggak tahu, 'kan? Bukannya kamu mengatakan bahwa identitas anggota Pasukan Bayangan su
Malam itu, tak seorang pun tahu apa yang terjadi. Namun, keesokan harinya, sebuah amplop telah diletakkan di atas meja kerja Raja Ararya.Saat itu, Raja Ararya baru kembali ke ruang kerjanya. Begitu masuk, dia mendapati sebuah amplop di atas mejanya. Raut wajahnya tampak sedikit berubah. Dia keluar dari ruangan untuk bertanya pada pengawal di pintu masuk, "Apa kalian melihat ada orang yang masuk ke ruang kerjaku?""Yang Mulia, kami tidak melihat siapa pun," jawab pengawal di pintu. Setelah mendengar itu, Raja Ararya kembali ke ruang kerjanya dan mengambil surat tersebut. Setelah ragu sejenak, dia pun membuka amplopnya. Saat melihat isi surat itu, ekspresinya langsung berubah.[ Biantara berkhianat, dia berkomplot dengan Ibu Suri. Harap berhati-hati, Yang Mulia! ]Surat ini hanya berisi satu kalimat, tetapi kata-kata itu membuat Raja Ararya terkejut. Dia mengernyit dan segera berkata, "Trik yang amat buruk!" Usai berkata demikian, Raja Ararya segera membakar surat tersebut, lalu berseru
Usai mendengar itu, Gilang pun mengangguk seraya berkata, "Perkataan Ayah benar. Meskipun sangat percaya pada Biantara, kita tetap harus waspada!"Kemudian, pada saat itu, pengawal di luar melaporkan, "Yang Mulia, Tuan Biantara ingin bertemu dengan Anda."Raja Ararya dan putranya saling memandang. Setelah itu, Raja Ararya pun mengangguk seraya berkata, "Biarkan dia masuk."Biantara tidak tahu apa yang sedang terjadi. Begitu masuk ke ruang kerja dan melihat Raja Ararya dan Gilang, dia segera menyapa dengan hormat, "Yang Mulia, Pangeran."Raja Ararya berkata sambil tersenyum, "Biantara, kamu datang pagi-pagi sekali. Ada apa?"Biantara segera menjawab, "Yang Mulia, hari ini ada kabar dari istana bahwa hari pemujaan leluhur akan segera tiba. Ibu Suri berharap pasukan Kerajaan Agrel bisa menangani acara tersebut."Raja Ararya mengangguk sembari berkata, "Benar, biasanya urusan semacam ini memang ditangani oleh pasukan Kerajaan Agrel."Biantara berkata sambil tersenyum, "Kalau begitu, hamba
Gilang menyipitkan matanya. Setelah melihat semua ini, dia menoleh dan melirik Biantara sekilas. Biantara tampak gugup. Mereka berdua menyadari masalahnya.Hanya saja, Gilang merasa marah, sedangkan Biantara malah merasa khawatir. Penyebabnya adalah trik kecil Ibu Suri ini. Pemberian sebuah kotak hadiah mengungkapkan banyak masalah.Poin pertama adalah hadiah ini khusus dipersiapkan oleh Ibu Suri untuk Biantara. Bahkan, barang ini sudah dibungkus dengan kotak. Poin pertama ini merupakan yang paling sederhana dan memang tidak bisa menjelaskan semua masalahnya, tetapi masih ada poin kedua.Poin kedua adalah Ibu Suri memang sudah mempersiapkan hadiah dan Gilang merupakan putra Raja Ararya, jadi seharusnya status Gilang lebih tinggi dari Biantara. Namun, Ibu Suri malah menyerahkan hadiah kepada Biantara terlebih dahulu, lalu menyerahkannya kepada Gilang. Tindakan ini sudah cukup menunjukkan banyak masalah.Raut wajah Biantara sangat masam. Jika Gilang bisa menyadarinya, tentu saja Biantara
Melihat para prajurit yang sedang memindahkan logistik, Joko dan Zaki segera bertanya, "Masih ada berapa banyak logistik yang belum dipindahkan?"Seorang perwira pembawa bendera mendekat. Setelah melihat Joko, dia memberi hormat dan berkata, "Jenderal, saat ini masih ada sisa dua gerobak logistik. Kalau dilihat dari kecepatan kita, mungkin butuh waktu sekitar sepuluh menit lagi sudah selesai."Mendengar jawaban itu, Joko langsung menganggukkan kepala dengan puas. Setelah terdiam sejenak, dia menatap Zaki yang berdiri di sampingnya berkata dengan pelan, "Ada kabar dari para mata-mata?"Zaki menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak ada kabar sama sekali dari mata-mata, mungkin mereka belum menemukan apa-apa. Kalau ada informasi, mereka pasti akan langsung melapor."Mendengar jawaban itu, Joko juga tidak berpikir terlalu banyak lagi karena dia merasa memang belum ada hal yang mencurigakan juga.Tepat pada saat itu, Adjie dan rombongan yang sedang bergegas menuju ke saluran air juga sudah
Mendengar laporan itu, Adjie dan Hayam langsung tertegun. Mereka berpikir mengapa musuh bisa tiba-tiba memindahkan logistik mereka di saat seperti ini, seolah-olah mereka sudah mengetahui rencana mereka terlebih dahulu.Tepat pada saat itu, Adjie yang memperhatikan situasinya sejak tadi pun mengernyitkan alis dan berkata, "Mereka memindahkan logistiknya ke mana?"Mata-mata itu mengernyitkan alis dan perlahan-lahan berkata, "Sepertinya dipindahkan ke arah saluran air. Selain itu, mereka juga memasang banyak jebakan di tempat logistik mereka yang lama, seolah-olah mereka sudah tahu kita akan menyerang logistik mereka."Adjie menganggukkan kepala dan berkata dengan pelan, "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Beri tahu para prajurit untuk jangan bergerak dulu."Mata-mata itu memberi hormat, lalu berbalik dan pergi.Hayam langsung bertanya dengan bingung, "Adjie, apa yang harus kita lakukan sekarang?"Adjie tersenyum dan perlahan-lahan berkata, "Hehe. Karena musuh sudah memindahkan logistik
Adjie dan Hayam langsung duduk di tanah untuk beristirahat. Menurut mereka, saat ini yang paling penting adalah menyelidiki situasi musuh di depan terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan selanjutnya. Mengetahui situasi sendiri dan musuh baru bisa menang dalam setiap pertempuran.Beberapa saat kemudian, Adjie mengeluarkan peta dan perlahan-lahan membukanya. Peta ini adalah peta rute di sekitar saluran air yang dibuatnya sendiri dengan sangat teliti.Melihat peta itu, Hayam juga tertegun sejenak.Adjie pun tersenyum dan menjelaskan, "Hehe. Aku menggambar peta ini saat aku masih di Desa Riwut. Saat itu aku nggak tahu peta ini akan berguna, tapi sekarang kelihatannya memang berguna."Mendengar penjelasan Adjie, Hayam tersenyum. Tidak ada yang menyangka hal yang dilakukan tanpa maksud ternyata akan sangat berguna sekarang. Setelah terdiam sejenak, dia memberi hormat dan berkata, "Kalau kamu memang sudah persiapan seperti ini, kita nggak mungkin akan kalah dalam pertempuran ini."Adjie
Joko segera memberikan perintah, "Sekarang aku akan mengatur semuanya. Kalian bawa orang-orang untuk memindahkan persediaan ke saluran air, sementara sisakan sebagian di sini sebagai kamuflase. Mengerti?"Mendengar perintah itu, beberapa orang sempat termangu. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, "Jenderal, cara ini memang nggak ada salah, tapi memindahkan persediaan ke saluran air agak merepotkan."Sebelum Joko sempat berbicara, Zaki langsung menyela, "Begini saja, kita gunakan gerobak untuk membawa semua persediaan ke sana. Setelah semuanya siap, kita bisa mengembalikan gerobaknya agar nggak menimbulkan kecurigaan."Saat ini, semua persediaan disimpan dalam gerobak untuk memudahkan pengangkutan. Joko mengangguk setuju dan mengiakan, "Ya sudah, kita lakukan seperti itu!"Mendengar perintah itu, para komandan bendera segera memberi hormat. Kemudian, mereka bergegas pergi untuk melaksanakan tugas mereka.Melihat semuanya sudah diatur, Joko akhirnya bisa bernapas lega. Setelah beber
Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi
Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka
Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap
Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it
Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela