Malam itu, tak seorang pun tahu apa yang terjadi. Namun, keesokan harinya, sebuah amplop telah diletakkan di atas meja kerja Raja Ararya.Saat itu, Raja Ararya baru kembali ke ruang kerjanya. Begitu masuk, dia mendapati sebuah amplop di atas mejanya. Raut wajahnya tampak sedikit berubah. Dia keluar dari ruangan untuk bertanya pada pengawal di pintu masuk, "Apa kalian melihat ada orang yang masuk ke ruang kerjaku?""Yang Mulia, kami tidak melihat siapa pun," jawab pengawal di pintu. Setelah mendengar itu, Raja Ararya kembali ke ruang kerjanya dan mengambil surat tersebut. Setelah ragu sejenak, dia pun membuka amplopnya. Saat melihat isi surat itu, ekspresinya langsung berubah.[ Biantara berkhianat, dia berkomplot dengan Ibu Suri. Harap berhati-hati, Yang Mulia! ]Surat ini hanya berisi satu kalimat, tetapi kata-kata itu membuat Raja Ararya terkejut. Dia mengernyit dan segera berkata, "Trik yang amat buruk!" Usai berkata demikian, Raja Ararya segera membakar surat tersebut, lalu berseru
Usai mendengar itu, Gilang pun mengangguk seraya berkata, "Perkataan Ayah benar. Meskipun sangat percaya pada Biantara, kita tetap harus waspada!"Kemudian, pada saat itu, pengawal di luar melaporkan, "Yang Mulia, Tuan Biantara ingin bertemu dengan Anda."Raja Ararya dan putranya saling memandang. Setelah itu, Raja Ararya pun mengangguk seraya berkata, "Biarkan dia masuk."Biantara tidak tahu apa yang sedang terjadi. Begitu masuk ke ruang kerja dan melihat Raja Ararya dan Gilang, dia segera menyapa dengan hormat, "Yang Mulia, Pangeran."Raja Ararya berkata sambil tersenyum, "Biantara, kamu datang pagi-pagi sekali. Ada apa?"Biantara segera menjawab, "Yang Mulia, hari ini ada kabar dari istana bahwa hari pemujaan leluhur akan segera tiba. Ibu Suri berharap pasukan Kerajaan Agrel bisa menangani acara tersebut."Raja Ararya mengangguk sembari berkata, "Benar, biasanya urusan semacam ini memang ditangani oleh pasukan Kerajaan Agrel."Biantara berkata sambil tersenyum, "Kalau begitu, hamba
Gilang menyipitkan matanya. Setelah melihat semua ini, dia menoleh dan melirik Biantara sekilas. Biantara tampak gugup. Mereka berdua menyadari masalahnya.Hanya saja, Gilang merasa marah, sedangkan Biantara malah merasa khawatir. Penyebabnya adalah trik kecil Ibu Suri ini. Pemberian sebuah kotak hadiah mengungkapkan banyak masalah.Poin pertama adalah hadiah ini khusus dipersiapkan oleh Ibu Suri untuk Biantara. Bahkan, barang ini sudah dibungkus dengan kotak. Poin pertama ini merupakan yang paling sederhana dan memang tidak bisa menjelaskan semua masalahnya, tetapi masih ada poin kedua.Poin kedua adalah Ibu Suri memang sudah mempersiapkan hadiah dan Gilang merupakan putra Raja Ararya, jadi seharusnya status Gilang lebih tinggi dari Biantara. Namun, Ibu Suri malah menyerahkan hadiah kepada Biantara terlebih dahulu, lalu menyerahkannya kepada Gilang. Tindakan ini sudah cukup menunjukkan banyak masalah.Raut wajah Biantara sangat masam. Jika Gilang bisa menyadarinya, tentu saja Biantara
Gilang melanjutkan, "Waktu ayahku memberimu posisi kepala eksekutor, bukannya dia juga bilang itu hanya hadiah?"Setelah itu, Gilang langsung berjalan masuk ke kediaman Raja Ararya. Ekspresi Biantara menjadi masam begitu mendengar ucapan Gilang. Biantara tahu dirinya telah menjadi target siasat mematikan. Tujuannya adalah memicu kecurigaan Raja Ararya kepada Biantara.Jika kecurigaan itu makin mendalam, Biantara pasti akan mati. Biantara menarik napas dalam-dalam dan menyipitkan matanya. Dia diam-diam menebak apa yang sedang terjadi.Tiba-tiba, Biantara teringat seseorang, Wira! Pasti Wira yang memikirkan ide ini.Biantara pun membatin, 'Menghasut memang cara paling efektif untuk mengadu majikan dan bawahan. Tapi, Raja Ararya nggak akan berbuat apa-apa kepadaku hanya karena merasa curiga. Bagaimanapun, aku sudah mengabdi kepada Raja Ararya selama bertahun-tahun dan kesetiaanku nggak perlu diragukan lagi.'Biantara menarik napas dalam-dalam. Setelah mempertimbangkannya, dia baru merasa
Jika Wira sudah bertindak, Biantara juga tidak akan mengaku kalah begitu saja. Wira ingin menghasut Raja Ararya, jadi yang harus dilakukan Biantara adalah membuat Raja Ararya percaya sepenuhnya kepada dirinya. Ini adalah taktik Biantara dan juga serangan balik untuk Wira.Kala ini, Biantara sudah sampai di kediaman Raja Ararya. Kemudian, dia menyerahkan buku catatan itu. Raja Ararya tertegun sesaat, lalu memandang Biantara dengan kaget seraya bertanya, "Biantara, apa maksudmu?"Biantara langsung menjawab, "Raja Ararya, aku sama sekali nggak ada hubungan dengan kubu Ibu Suri, ini semua siasat Wira. Buku catatan ini berisi daftar nama semua kapten pasukan Kerajaan Agrel, mata-mata yang kutempatkan di berbagai kediaman, dan nama-nama anggota lainnya."Buku catatan ini tidak sederhana karena berisi semua rahasia Biantara. Dengan memiliki buku ini, seseorang bisa mengendalikan seluruh pasukan Kerajaan Agrel. Meskipun pasukan Kerajaan Agrel berada di bawah pimpinan Raja Ararya, tidak mungkin
Saat ini, hanya ada Raja Kresna, Dewina, dan Wira di ruang kerja. Pada saat bersamaan, kabar ini pun tersebar.Raja Ararya langsung mendapatkan informasi bahwa Raja Kresna, Wira, dan Dewina berbincang secara rahasia di ruang kerja. Namun, tidak ada yang tahu topik pembicaraan mereka. Raja Ararya yang mendengar kabar ini sama sekali tidak terkejut, dia hanya tersenyum.Sementara itu, di ruang kerja, Raja Kresna memandang Wira dan berucap dengan datar, "Kenapa kamu datang secara terang-terangan? Bukankah tindakanmu ini agak sembrono?"Wira tersenyum dan menyahut, "Nggak masalah. Kalaupun aku nggak datang, orang lain tetap menganggap aku dan Raja Kresna berhubungan. Karena hubungan ini sudah terekspos, lebih baik aku langsung menunjukkannya."Raja Kresna mengernyit dan menimpali, "Tapi, nggak ada yang tahu aku memihak Ibu Suri. Bahkan, nggak ada yang tahu aku bekerja sama denganmu."Awalnya, Raja Kresna dan Wira bekerja sama secara diam-diam. Namun, tindakan Wira yang menghebohkan ini pas
Raja Kresna tidak mengerti alasan Wira berkata seperti ini. Namun, Wira malah tertawa dan berujar, "Sekarang, dia pasti nggak akan bilang. Tapi ... aku akan memaksanya dan aku harus bertemu dengan orang ini secara diam-diam."Raja Kresna menarik napas dalam-dalam setelah mendengar ucapan Wira. Dia memang tidak tahu apa rencana Wira, tetapi dia tetap mengangguk dan menyanggupi permintaan Wira, "Oke, aku akan mengaturnya."Kemudian, Wira pun pulang. Setelah malam ini, Biantara pasti akan celaka. Ini adalah taktik Wira dan dia sudah memperkirakan hal ini.Dewina yang mengantar Wira keluar. Dia tersenyum dan berucap, "Tuan Wira, kapan kita akan menikah?"Wira merasa canggung mendengar ucapan Dewina, lalu menyahut, "Ini ... semua ini idenya Ibu Suri ...."Wira memang berbual di aula istana, tetapi sebenarnya dia tidak terlalu tertarik kepada Dewina. Wira menjadi gugup sesudah mendengar perkataan Dewina.Dewina menggoda Wira, "Huh, waktu di aula, kamu bilang kita pernah melakukan hubungan su
Hangga sangat gugup. Orang yang bisa masuk ke sini secara diam-diam pasti memiliki kemampuan yang hebat.Wira yang memegang senapan tersenyum dan menyahut, "Jangan panik. Tuan Hangga, aku datang untuk menyelamatkanmu." Sambil bicara, Wira duduk di kursi seraya memandang Hangga.Hangga menyipitkan matanya dan mendengus, lalu menimpali, "Menyelamatkanku? Atas dasar apa kamu menyelamatkanku? Hidupku baik-baik saja. Katakan, siapa kamu?"Wira menjawab, "Namaku Wira, seharusnya kamu pernah mendengar namaku, 'kan?"Hangga tertegun begitu mendengar jawaban Wira. Dia berseru, "Wira?"Meskipun terkejut, Hangga tetap berujar, "Kebetulan Raja Kresna mau menyingkirkanmu. Kamu menerobos masuk ke rumahku malam-malam begini dan berniat membunuhku. Jadi, sudah semestinya aku menghabisimu!" Kemudian, Hangga hendak menyerang Wira.Namun, Wira mengeluarkan senapan dan menodongkannya ke arah Hangga. Wira mengancam, "Kalau kamu maju lagi, aku akan menembak mati kamu!""Selain itu, Tuan Hangga, kamu pandai
Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela
Zaki ikut tertawa. Setelah dua kali mengalami kekalahan besar di tangan Wira, kini dia sangat ingin mengulitinya hidup-hidup.Namun, Joko yang berdiri di sampingnya mengernyit dan berkata dengan suara berat, "Sekarang ini, kita belum boleh terlalu senang."Zaki hendak membantah, tetapi ketika melihat wajah Darsa juga tampak serius, dia merasa bingung. Sambil mengernyit, dia bertanya, "Kenapa? Bukankah mendapat tambahan 10.000 pasukan dari Jenderal Besar adalah kabar baik?"Darsa tersenyum pahit, sementara Joko langsung menjawab, "Itu memang kabar baik, tapi jangan lupa kalau di belakang Wira masih ada Trenggi. Sekarang, Trenggi telah menguasai kota-kota di selatan. Tentu saja, dia juga bisa mengirim lebih banyak pasukan."Semua orang yang mendengar itu mengangguk ringan.Zaki yang awalnya bersemangat menjadi termangu. Setelah terdiam beberapa saat, dia bergumam, "Aku nggak memikirkan itu sebelumnya. Kalau begitu, kita dalam masalah."Darsa mengernyit dan berujar, "Sekarang situasinya s
Di pihak pasukan utara, Joko dan yang lainnya telah kembali bersama pasukan mereka. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa situasi akan menjadi serumit ini.Melihat Zaki, Joko, dan Kahlil yang kembali untuk melapor, Darsa berkata dengan suara rendah, "Kalian bertiga tetap di sini, yang lainnya keluar dulu."Mendengar itu, semua orang memberi hormat, lalu berbalik dan keluar dari tenda. Setelah hanya tersisa tiga orang di dalam, Zaki mengerutkan alis dan bertanya, "Tuan, kita mengalami kerugian besar kali ini. Kenapa kita harus mundur?"Yang mengusulkan mundur adalah Joko. Joko pun sudah lebih dulu mengirim kabar kepada Darsa melalui merpati pos saat perjalanan pulang.Setelah mengetahui situasinya, Darsa memang langsung memerintahkan mereka untuk mundur. Karena itu, begitu kembali, Zaki segera menanyakan alasannya.Darsa memberi isyarat agar mereka duduk, lalu berkata, "Kali ini kita mengalami kerugian besar di tangan musuh. Kita kehilangan lebih dari 10.000 prajurit. Kalau kita teru
Mendengar itu, Trenggi segera meraih surat dari tangan mata-mata. Setelah membaca isinya, dia mengerutkan alis. Dia tidak menyangka situasi menjadi begitu rumit, hingga kedua belah pihak kini terjebak dalam pertempuran sengit.Memikirkan hal itu, dia langsung merobek surat itu dan berucap, "Segera panggil semua wakil jenderal! Kumpul di kediaman wali kota sekarang juga!"Pengawal pribadi di samping Trenggi segera memberi hormat, lalu bergegas membawa orang-orang menuju kediaman wali kota.Setelah semua berkumpul, Trenggi berjalan ke depan dengan langkah besar. Melihatnya, semua orang langsung menangkupkan tangan memberi hormat."Nggak perlu basa-basi! Buka peta perang sekarang juga!" Dengan suara lantang, Trenggi memberi perintah agar peta dibentangkan.Setelah melihat lokasinya, dia mengetukkan jarinya 2 kali pada Pulau Hulu, lalu menunjuk arah lain sambil berkata dengan suara rendah, "Gunung Sembilan Naga .... Jadi, pasukan Tuan Wira terjebak di sana. Kita harus segera mengirim bala
Melihat Hayam dan Adjie telah setuju, Wira mengangguk pelan. Dia menatap keduanya sambil berkata, "Kalau begitu, tugas ini kuserahkan kepada kalian berdua. Kalian harus sangat berhati-hati! Segalanya harus dilakukan sesuai dengan rencana Adjie!"Hayam mengangguk tanpa ragu. Namun, Wira masih merasa sedikit khawatir. Dia bertanya, "Adjie, 500 orang cukup? Perlu kutambahkan pasukan untukmu?"Mendengar ini, Adjie segera menjawab dengan suara tegas, "Jangan khawatir! Lima ratus orang sudah lebih dari cukup!"Wira pun mengangguk setuju setelah mendengar jawaban itu. Setelah rencana mereka diputuskan, Wira berujar lagi, "Hari ini semua orang telah berjuang seharian. Lebih baik sekarang kita istirahat. Adjie dan Hayam, besok kalian jalankan rencana seperti yang telah disepakati!"Semua orang mengangguk, memberi hormat, lalu mundur untuk beristirahat.Setelah mereka pergi, Wira menoleh ke arah wakil jenderalnya dan berucap dengan suara rendah, "Rencana sudah ditetapkan. Sebelumnya aku menyuruh
Wira mengangguk pelan. Jumlah ini memang kurang lebih sesuai dengan yang dia bayangkan. Lagi pula, 500 orang bukanlah jumlah yang besar. Karena pasukan musuh adalah kavaleri, logistik mereka pasti dibawa menggunakan kereta kecil.Dengan begitu, saat musuh melakukan perpindahan dengan teratur, mereka bisa langsung menarik kereta logistik tersebut sehingga memudahkan pergerakan mereka.Setelah memahami semuanya, Wira tersenyum dan menatap orang-orang yang duduk di hadapannya. Dia bertanya dengan suara pelan, "Semua, apa ada pendapat lain? Kalau ada ide tambahan, silakan sampaikan."Mendengar itu, Hayam segera bangkit dan berkata, "Tuan, aku rasa rencana ini bisa dijalankan. Memang sedikit menyimpang, tapi jika dijalankan dengan baik, pasti bisa berhasil.""Yang terpenting adalah mengeksekusinya dengan benar. Selain itu, satu-satunya risiko yang kulihat hanyalah kemungkinan ketahuan oleh musuh. Menurutku, waktu terbaik untuk bergerak adalah saat malam hari."Semua orang mengangguk setuju
Mendengar itu, Adjie mengangguk pelan, lalu maju selangkah dan menangkupkan tangan sambil berkata, "Tuan, rencanaku ini bisa dibilang cukup berisiko dan sedikit menyimpang dari cara biasa.""Memang benar jumlah musuh lebih banyak dari kita dan mereka pasti memiliki bala bantuan. Tapi, semakin banyak orang, semakin besar pula pangan yang mereka butuhkan, 'kan?"Mendengar itu, Wira langsung teringat sesuatu dan matanya berbinar. Ide Adjie langsung mengingatkannya akan sesuatu yang sangat penting.Sebagian besar pasukan utara terdiri dari pasukan kavaleri, yang berarti mereka bukan hanya perlu makanan untuk bertahan hidup, tetapi kuda-kuda mereka juga demikian. Itu artinya, kebutuhan logistik pasukan utara jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan pasukan mereka.Setelah menyadari hal ini, Wira menatap Adjie dan tersenyum. "Aku mengerti. Jadi, maksudmu adalah menghancurkan persediaan pangan mereka agar mereka sendiri yang jatuh dalam kekacauan?"Adjie tersenyum tipis, lalu berdiri di dekat
Wakil jenderal itu mengangguk, lalu segera membawa pasukan untuk membersihkan medan perang. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Hayam pun bangkit dan berjalan pergi.....Di dalam kemah, Wira menatap orang-orang yang mulai kembali satu per satu. Dia menoleh sedikit ke arah wakil jenderalnya dan bertanya, "Kalian sudah mengabari Jenderal Hayam?"Wakil jenderal itu segera menjawab, "Sudah kami sampaikan, Tuan. Sepertinya beliau sedang dalam perjalanan kembali."Wira mengangguk pelan, lalu menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya sambil berucap, "Laporkan kondisi pasukan kita. Seberapa besar kerugian yang kita alami? Berapa banyak pasukan yang masih bisa bertempur?"Mendengar pertanyaan itu, semua orang bertatapan. Kemudian, Adjie yang pertama kali berkata, "Aku dan Agha membawa total 10.000 pasukan. Sejauh ini, sekitar sepertiga pasukan terluka dan gugur."Tingkat kerugian ini masih bisa dianggap cukup baik. Bagaimanapun, korban jiwa di pasukan Joko mencapai sepertiga dan tot
Zaki menatap mata-mata itu, lalu bertanya dengan suara rendah, "Jadi, sekarang bisa dipastikan bahwa Jenderal Joko dan pasukannya sudah mundur?"Mata-mata itu mengangguk pelan, lalu berkata lagi, "Bukan hanya Jenderal Joko, bahkan Jenderal Kahlil juga sedang mundur saat ini."Kahlil? Zaki tertegun sejenak. Dia langsung teringat pada orang itu, bawahan Joko sekaligus orang yang memiliki hubungan baik dengannya.Dalam sekejap, Zaki menyadari bahwa Kahlil datang untuk memberi bantuan. Namun, melihat keadaan saat ini, Zaki mengerutkan alisnya. Setelah berpikir beberapa saat, dia bertanya, "Tadi Jenderal Kahlil datang untuk membantu kita? Kenapa aku nggak melihat mereka bertempur?"Zaki tahu seperti apa kemampuan Kahlil. Dia naik pangkat dari prajurit biasa menjadi seorang jenderal kavaleri yang tangguh. Meskipun pangkatnya tidak terlalu tinggi, kecepatannya dalam bertempur tidak bisa diremehkan.Joko mengirim Kahlil untuk membantunya, yang membuktikan betapa besar kepercayaan Joko terhadap