Share

Bab 1003

Penulis: Arif
Yudha memperhatikan semua reaksi dan sikap Kumar. Raut wajahnya tampak sangat dingin saat menegur, "Jangan bicara omong kosong! Beraninya kamu mengatakan hal lancang seperti itu! Kumar, kamu benar-benar sewenang-wenang!"

Kumar tersenyum dingin saat mendengar ini. Sorot matanya tampak suram, bahkan terlihat niat membunuh yang jelas. Saking geramnya, dia mengepalkan tangannya sampai terdengar suara kertak tulang.

"Hehehe. Jenderal, kenapa kamu nggak bisa berpikir dengan jernih? Meskipun Ratu mengurus negara atas permintaan mendiang Raja, dia hanya seorang wanita! Apa wanita sanggup melindungi Kerajaan Nuala dengan baik?" sahut Kumar.

"Diam! Kamu sengaja menghasut orang-orang untuk melawan Ratu!" hardik Yudha dengan galak.

"Hehehe. Lihatlah dirimu, kamu marah karena nggak bisa menerima kenyataan," ejek Kumar sembari terkekeh-kekeh sinis. Kemudian, dia meneruskan, "Yudha, sejak zaman dulu, nggak ada wanita yang menduduki takhta. Masa kamu ingin melihat Kerajaan Nuala binasa?"

Wajah Kumar d
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Wa Dena
ceritanya menarik cuma isi cerita setiap bab nya terlalu pendek dan singkat.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1004

    Kesenjangan antara kedua belah pihak terlalu besar sehingga Yudha tidak mungkin bisa menang. Makin dipikirkan, Kumar merasa makin bangga. Dia sungguh menantikan kekalahan Yudha!Kumar tidak bisa menahan tawa. Dia berucap dengan nada menghina, "Yudha, aku menghormatimu sebagai seorang jenderal. Aku mengagumi keberanian dan karaktermu. Meskipun kita berdiri di pihak yang berbeda, bukan berarti kita nggak bisa menjadi teman.""Kalau kamu bersedia, kamu boleh bergabung dengan Keluarga Juwanto. Kamu akan menjadi jenderal kepercayaanku yang membantuku menaklukkan dunia. Aku juga bisa menyerahkan pasukan padamu. Gimana?" tanya Kumar.Ucapan Kumar membuat wajah Yudha menjadi sangat masam dan dingin. Dia tertawa dengan sinis, tatapannya penuh penghinaan."Hehe, haha! Lucu, lucu sekali!" Yudha berusaha menahan amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Dengan wajah murung dan dingin, dia membentak dengan galak, "Kumar, jangan mimpi! Kamu nggak punya status apa pun. Kalau terus bersikeras, kamu akan d

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1005

    Yudha merasa makin ragu saat memikirkannya. Tiba-tiba, terlihat salah satu bawahan Kumar yang menunggang kuda menghampiri dengan terburu-buru. Dia melaporkan, "Tuan, gawat, gawat sekali!"Tentara itu memperlihatkan ekspresi panik. Dia berkata dengan lantang, "Persediaan makanan kita dibakar seseorang!""Apa?" Begitu mendengarnya, Kumar seketika merasa cemas. Dia menelan ludah, merasakan keringat dingin bercucuran di punggungnya.Ketakutan terus menyerang pikirannya, membuat napasnya mulai memburu. Ketika berperang, hal paling penting yang harus disiapkan adalah makanan. Jika tentara kelaparan, mereka pasti akan kalah dalam pertempuran.Sekarang, persediaan makanan mereka malah terbakar. Perasaan cemas dan takut mulai menyelimuti hati seluruh orang. Mereka mulai berdiskusi dengan lirih. Apabila tidak ada makanan setelah perang, bukankah mereka akan mati kelaparan?"Berapa banyak yang terbakar? Apa apinya sempat dipadamkan?" tanya Kumar dengan khawatir."Se ... semuanya habis terbakar ..

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1006

    Ancaman ini sontak membuat raut wajah Kumar menjadi makin murung. Namun, yang dikatakan Yudha tidak salah. Kalau Kumar bersikeras melawan, bagaimana dia bisa mengurus masalah lainnya? Saat ini, Kumar benar-benar dilema.Ekspresi Yudha dipenuhi penghinaan. Dia menatap Kumar dengan angkuh, lalu bertanya lagi dengan lirih, "Jadi, Tuan Kumar, kamu mau kembali menjaga Provinsi Sebra atau bersikeras melawanku?"Yudha terkekeh-kekeh dengan sombong dan meneruskan, "Kamu sendiri yang bilang aku ini jenderal tak terkalahkan. Semua pertempuran di dunia ini pasti bisa kumenangkan!"Yudha mengayunkan tangannya, lalu menunjuk pasukan di belakang sambil berucap dengan bangga, "Kamu lihat itu? Mereka semua pasukan elite. Meskipun selisih jumlah kita cukup banyak, mudah saja bagiku untuk mengalahkan kalian!"Orang yang sudah berpengalaman di medan perang memang memiliki karisma yang berbeda. Kumar mempertimbangkan dengan ekspresi masam. Langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya?"Tuan Kumar, waktumu

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1007

    "Benar, Yang Mulia!" Ekspresi para menteri itu tampak sangat gelisah.Salah satu yang memimpin pun berucap dengan serius, "Masalah ini benar-benar gawat. Mohon Yang Mulia segera membuat keputusan supaya para rakyat bisa tenang."Mendengar ini, ekspresi Jihan tampak serius. Dia merenung sejenak, lalu menyahut dengan tenang, "Sebenarnya, aku juga sangat mengkhawatirkan masalah ini selama ini. Aku nggak nyangka akan terjadi hari ini ....""Yang Mulia, invasi perbatasan ini sangat berbahaya!""Perang menimbulkan masalah bagi rakyat, kita juga akan rugi besar. Kita harus segera memilih orang untuk mengatasi pemberontakan ini!""Kalian benar," balas Jihan saat mendengar usulan para menteri itu. Tatapannya dipenuhi kecemasan saat meneruskan, "Tapi, Jenderal Yudha sedang bertugas memusnahkan pasukan Keluarga Juwanto. Dia yang memiliki kekuatan tempur terbesar di Atrana. Bagaimana bisa dia melaksanakan kedua tugas ini sekaligus?"Jihan sungguh gelisah sekarang. Dia tanpa sadar meremas lengan ba

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1008

    Yudha tertawa terbahak-bahak. Dia menatap Kumar dengan tatapan meledek, seolah-olah tengah menatap orang idiot."Kenapa kamu tertawa? Kamu kira aku akan mengalah begitu saja?" tanya Kumar yang tanpa sadar menggenggam pedang di tangannya."Hehe, aku hanya merasa lucu. Kamu kira ada gunanya kalau terus melawan? Makin kamu menunda waktu, teman dan kerabatmu hanya akan makin menderita," sahut Yudha."Kalau kamu menolak kembali ke Provinsi Sebra, aku akan bertarung denganmu. Mari kita lihat, siapa yang akan mati nanti," lanjut Yuda dengan tatapan suram.Begitu ucapan ini dilontarkan, para tentara di belakang Yudha berseru dengan serempak. Mereka terlihat sangat bersemangat!Pemandangan ini pun membuat ekspresi Kumar berubah drastis. Kepercayaan dirinya memerosot karena aura yang diperlihatkan sekelompok tentara itu sangatlah kuat.Kini, Kumar ketakutan hingga kegelisahan dan kepanikan mulai terlihat di wajahnya. Pada saat yang sama, seorang tentara yang menunggang kuda menghampiri lagi unt

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1009

    Yudha tidak mengatakan apa pun, tetapi ekspresinya sangat masam. Makin melihatnya seperti ini, Kumar menjadi makin sombong.Kumar tersenyum bangga. Dia mengejek, "Jadi, begitu kamu pergi, aku bisa langsung merebut kedua provinsi ini."Penampilan Kumar yang sombong dan terus tersenyum ini seakan-akan ingin membuat Yudha murka hingga mati."Kamu ...." Yudha yang murung tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan erat. Napasnya tampak memburu karena cemas.Yang dikatakan Kumar memang benar. Kalau dia pergi untuk menyerang bangsa Monoma sekarang, Kumar akan berkesempatan untuk merebut Provinsi Hanula dan Provinsi Nasaka.Namun, kalau Yudha tidak pergi, perbatasan akan terus diserang dan Kerajaan Nuala akan kacau. Apa yang haus dilakukannya untuk sekarang?Kini, mereka benar-benar dalam dilema. Sepertinya, hanya Ratu yang bisa membuat keputusan untuk sekarang!Meskipun merasa enggan, Yudha tetap melambaikan tangannya kepada tentara di belakang. Sesudah itu, dia berseru dengan lantang, "Semuany

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1010

    Di saat-saat genting seperti ini, Jihan justru tidak tahu harus membuat keputusan apa. Tatapannya tampak ragu dan rumit. Setelah merenung beberapa saat, dia masih tidak tahu harus bagaimana.Jihan akhirnya menginstruksi dengan ekspresi tegas, "Saiqa, panggilkan kedua penasihat kemari. Ada yang ingin kubahas dengan mereka."Perang di perbatasan sangat serius, begitu juga dengan urusan Keluarga Juwanto. Saiqa tidak memberi tahu alasan keduanya dipanggil, tetapi mereka kira-kira sudah tahu apa yang terjadi.Tidak berselang lama, Saiqa membawa kedua penasihat itu masuk. Mereka langsung berlutut di depan Jihan, lalu berkata dengan serempak, "Salam, Yang Mulia!""Berdiri saja," sahut Jihan sembari melambaikan tangannya. Kemudian, dia berucap dengan khawatir, "Kalian seharusnya sudah tahu alasanku memanggil kalian."Kedua penasihat itu mengangguk mendengarnya. Tatapan mereka tampak gelisah. Kemudian, Kemal berkata, "Yang Mulia, saya sudah mendengar bahwa bangsa Monoma menyerang perbatasan. Ko

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 1011

    Ucapan penasihat kanan memang masuk akal. Saat ini, saran dari kedua penasihat itu sebenarnya tidak terlalu membantu bagi keputusan Ratu. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memilih salah satu yang kerugiannya paling minimal untuk diselesaikan terlebih dahulu. Setelah merenung sejenak, Ratu akhirnya membuat keputusan."Kirimkan surat pada Jenderal Yudha, suruh dia cepat pergi ke perbatasan untuk membunuh pasukan dari Monoma dan Agrel. Kerajaan Nuala tidak boleh diusik!" Ratu membuat keputusan ini karena dia tidak ingin dikritik di masa awal pemerintahannya. Tidak mungkin dia membiarkan perbatasan kehilangan pertahanan saat dia baru saja menjabat.Jika hal ini sampai tersebar, dia akan dikritik oleh banyak orang. Lagi pula, masalah Kumar bisa ditangani kapan saja. Namun jika perbatasan Nuala kehilangan pertahanan, mereka akan gawat. Setelah mempertimbangkan berulang kali, Ratu memutuskan untuk menyuruh Yudha menyelesaikan masalah di perbatasan terlebih dahulu.Tak lama kemudian, Yud

Bab terbaru

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3002

    Meskipun Dahlan sangat membenci Wira dan ingin membunuhnya, dia tetap mempertimbangkan untung rugi dengan baik.Menyatakan perang terhadap Wira memang mudah. Namun setelah itu, akan ada banyak reaksi berantai yang harus dihadapi.Jika semua reaksi berantai itu tidak dipertimbangkan dengan matang, di masa depan hal ini bisa membawa masalah yang tidak perlu bagi mereka. Inilah poin paling sulit.Sudut bibir Senia agak berkedut. Dia melangkah ke depan Dahlan, mencengkeram kerah bajunya dengan erat. Jika tatapan mata bisa membunuh, Dahlan pasti sudah mati berkali-kali.Tatapan yang begitu menakutkan, seperti dua pedang tajam yang siap menusuk. Tidak ada yang berani menatapnya langsung."Ibu, kenapa?" Dalam pandangan Dahlan, Senia selalu tampak bijaksana. Jika tidak, mustahil bagi seorang wanita bisa mencapai posisi seperti ini, bahkan menjadi sosok yang berada di atas semua orang.Pencapaiannya sudah cukup untuk membuat semua wanita di dunia ini merasa bangga. Lagi pula, wanita yang menjad

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3001

    Keesokan pagi, Wira dan rombongannya berangkat. Osman memimpin para pejabat untuk mengantar kepergian mereka. Terlihat jelas bahwa Osman sangat menghormati Wira.Selain itu, seluruh rakyat turut mengantar saat tahu Wira akan pergi. Harus diakui bahwa Wira sangat dicintai oleh rakyat.Bukan hanya di Provinsi Yonggu dan Provinsi Lowala, bahkan di wilayah lain pun Wira sangat dihormati. Bagaimanapun, pengorbanan Wira memang tidak kecil. Namun, semuanya membuahkan hasil yang sepadan.Saat Wira dalam perjalanan kembali ke Provinsi Yonggu, situasi di Kerajaan Agrel kurang baik.Saat ini, Senia duduk di singgasananya dengan wajah suram. "Apa kabar ini benar?"Senia baru mendapat kabar bahwa semua orang yang diutusnya ke wilayah barat tewas. Bahkan, Panji juga tidak bisa kembali lagi. Padahal, Panji adalah kartu trufnya yang terpenting.Karena ucapan Panji, Senia baru bersedia mengeluarkan 5 miliar gabak untuk berdamai dengan Wira. Jika tidak, dia lebih memilih untuk mengorbankan putranya dari

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3000

    Di wilayah dua provinsi yang damai tanpa konflik ataupun perang, tentu tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Namun anehnya, meskipun bisa tinggal di rumah besar di luar, ada yang memilih rumah sederhana di Dusun Darmadi. Hal ini memang sulit dimengerti. Mungkin, Dusun Darmadi memberikan rasa aman bagi Ramath."Hasil terbesar yang kami capai dalam perjalanan kali ini adalah membunuh Jaran. Selain itu, Caraka yang selalu mengikuti Senia, juga tewas di tangan kami. Dengan kematian mereka berdua, kekuatan Senia jelas berkurang banyak," ucap Wira dengan puas.Ini adalah pencapaian terbesar dari perjalanan kali ini, wajar jika Wira merasa senang.Para hadirin di sekitar mengangguk setuju. Mereka juga tidak menyukai orang-orang dari Kerajaan Agrel. Ketika perang besar empat kelompok terjadi, Kerajaan Agrel adalah pihak yang menekan mereka paling keras.Meskipun sekarang situasi sudah damai, orang-orang dari Kerajaan Nuala tetap menyimpan dendam dan menjaga jarak dengan Kerajaan Agrel. Konfl

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2999

    "Tuan Wira, kamu sangat senang dengan kesembuhan Lucy sampai melupakan temanmu ini. Aku ini raja lho. Aku sampai datang ke gerbang kota untuk menyambutmu. Setidaknya, kamu harus menjaga harga diriku sedikit.""Kalau terus membuatku berdiri di sini, apa yang akan dikatakan para menteriku nanti? Kelak gimana aku bisa mempertahankan wibawaku di depan mereka?"Osman berkata sambil tertawa. Jelas, itu hanya candaan tanpa maksud serius. Dia tidak mungkin benar-benar menyimpan dendam terhadap Wira.Wira tersenyum sambil menggeleng. Pemuda ini memang nakal. Para menteri yang hadir pun ikut tersenyum."Sudah, sudah, sejak kapan kamu jadi orang yang suka cemburu? Sekarang kamu seorang raja. Kamu seharusnya bicara yang bijak. Kalau nggak, kelak kamu benaran sulit mempertahankan takhtamu!" Wira ikut bercanda.Di tengah tawa dan obrolan santai, Wira dan rombongan memasuki ibu kota. Karena sebelumnya sudah mengetahui kepulangan Wira, Osman telah menyiapkan perjamuan.Ketika Wira tiba bersama rombong

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2998

    Bisa dikatakan, hampir tidak ada pemimpin seperti Wira di dunia ini."Semuanya sudah beres. Raja kami mengikuti saran darimu dan mengeluarkan banyak dana untuk bantuan bencana. Sekarang keadaan sudah stabil dan rakyat sudah tenang. Kami benar-benar berterima kasih kepadamu."Sambil tersenyum, Trenggi meneruskan, "Kalau bukan karena saranmu, mungkin Kerajaan Nuala sudah jatuh dalam kekacauan sekarang ...."Ketika membahas hal ini, Trenggi tidak bisa menahan diri untuk menggeleng. Seperti yang Wira perkirakan sebelumnya, karena tidak ada bantuan bencana, banyak rakyat menderita dan masalah terus bermunculan.Ketika rakyat tidak bisa makan, mereka tentu bisa melakukan apa saja. Untungnya, bantuan segera diberikan sehingga masalah teratasi dan tidak terjadi kekacauan yang lebih besar.Namun, pada awalnya Osman tidak berniat menggunakan kas kerajaan untuk menghemat uang. Meskipun ingin membantu rakyat, dia tidak berani mengambil risiko itu demi melindungi dirinya sendiri.Bagaimanapun, jika

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2997

    "Sepertinya orang-orang dari wilayah barat nggak akan melepaskanmu begitu saja. Jadi, apa rencana selanjutnya?""Menurutku, kita bisa mencoba cara lain, yaitu dengan menyerang wilayah barat terlebih dahulu. Wilayah barat cuma sebuah negara kecil di perbatasan. Alasan mereka bisa bertahan sampai sekarang cuma karena punya gurun sebagai pelindung alami.""Kamu sudah menjelajahi gurun itu sekali, jadi pasti sudah tahu jalannya. Kalau kamu memimpin, ditambah pasukan dari kedua belah pihak, kita pasti bisa menghancurkan mereka. Ketika saat itu tiba, jangankan penguasa kecil di Provinsi Tengah, bahkan seluruh wilayah barat pun akan tunduk kepada kita."Trenggi menjelaskan dengan perlahan. Sejak dia menjadi Jenderal Besar Kerajaan Nuala, dia selalu memikirkan cara untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaan.Di masa kekacauan, yang kuat yang berkuasa. Untuk menjadi penguasa di tengah kekacauan, hal pertama yang dibutuhkan adalah tanah yang cukup luas dan rakyat yang banyak. Hanya dengan itu,

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2996

    Pihak Wira hanya ada empat orang, sementara mereka memobilisasi puluhan ribu orang dan masih gagal menghentikan Wira. Jika sampai berita ini tersebar, bukankah mereka akan menjadi bahan tertawaan? Sungguh memalukan."Jenderal, kami sudah berusaha sekuat tenaga. Dalam perjalanan kembali, kami sudah menghitung jumlah korban. Ada lebih dari 800 orang yang tewas.""Bahkan, Caraka juga tewas di tangan Wira. Kami gagal menjalankan tugas. Mohon Jenderal dapat memaafkan kami ...."Seorang wakil jenderal perlahan-lahan maju, lalu segera membungkukkan tubuhnya dan berbicara. Dia merasa sangat gelisah.Saka terkenal tegas dan ketat. Kegagalan dalam menjalankan tugas tentu sulit untuk dimaafkan. Dia menatap dingin wakil jenderal itu, lalu mengerutkan alis dan berkata, "Mereka sudah pergi. Nggak ada gunanya dibahas lagi.""Segera cari orang yang lebih dapat diandalkan dan kejar rombongan Wira. Aku nggak peduli siapa mereka atau sejauh apa mereka melarikan diri. Intinya, orang yang berani menentangk

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2995

    Setelah mengatakan itu, Caraka memandang orang-orang di belakangnya. Meskipun mereka berasal dari wilayah barat, mereka juga mematuhi perintahnya karena sekarang dia sudah memegang kekuasaan besar. Apalagi sekarang dia juga sudah mendapat informasi yang tepat dari Wira.Sebelum datang ke sini, Saka sudah menyerahkan tugas penting ini pada Caraka dan semua pasukan yang berada di sana harus tunduk pada perintah Caraka. Meskipun Wendi sudah menyiapkan formasi racun di sekitar, mereka tetap terus menerjang ke arah Wira dan yang lainnya dengan kekuatan yang luar biasa saat Caraka memberikan perintahnya."Agha, bunuh dia," kata Wira yang sudah mulai kesal karena Caraka terus mendesaknya sambil menatap Agha di sampingnya."Kak Wira, kamu harus hati-hati. Aku akan pergi memenggal kepala orang itu sekarang juga," kata Agha, lalu langsung melompat dan segera menerjang ke arah Caraka. Darah mengalir dengan deras di semua tempat yang dilewatinya.Melihat Agha begitu berani, para pasukan di sekitar

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 2994

    "Jaran sudah bertemu dengan kami. Tapi, sekarang dia bukan hanya nggak muncul di hadapanmu, dia juga nggak ada di sampingku. Jadi, kamu rasa dia pasti ada di mana sekarang?" kata Wira sambil terus memikirkan langkah selanjutnya karena dia tidak bisa terus terjebak di sana.Jumlah di pihak lawannya begitu banyak, Wira merasa dia pasti akan rugi jika bertarung dengan mereka di sana. Ditambah dengan banyaknya orang di sekitarnya, satu-satunya caranya untuk keluar dari sana adalah menggunakan taktik melarikan diri.Pada saat itu, pandangan Wira pun tertuju pada Wendi. Saat mereka dikepung Saka sebelumnya, Wendi mengeluarkan dua tabung bambu dari sakunya. Setelah menyebarkan isi tabungnya, bahkan orang-orang yang berdiri jauh dari mereka pun merasa matanya sakit. Sementara itu, orang yang berdiri lebih dekat dengan mereka, kebanyakan yang langsung kehilangan nyawanya.Jika bukan karena begitu, Wira juga tidak akan membiarkan Wendi ikut bersamanya. Wanita ini jauh lebih mengerikan dari yang

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status