"Aku tidak bisa pergi dari sini." "Tapi bagaimana dengan Pelangi?" Danurdara menghembuskan napas. "Aku akan memikirkannya sendiri. Kamu tidak perlu khawatir," gumamnya. Winarto berada di ambang kebimbangan. Antara melaporkan Danurdara yang berhasil ia temukan atau menolong Danurdara dan Pelangi dari Nyonya Marien? Jujur saja Winarto tidak tega melihat kondisi teman lamanya. Lelaki itu bersama ketiga anaknya harus tinggal di sebuah rumah susun sederhana. Ditambah tidak bisa bekerja karena sakit dan Pelangi-lah yang harus banting tulang untuk menafkahi Ayah dan kedua adiknya. Tidak Winarto sangka, anak Josefina harus menjalani hidup susah seperti ini. Pelangi adalah cucu Tuan Ardiyanto, berasal dari keluarga kaya raya. Andai saja Marien tidak menukar bayi Josefina dulu mungkin Pelangi tidak perlu bekerja keras seperti ini. Pelangi akan hidup mewah, bergelimang harta, tidak perlu sampai menjual bunga di sekitaran lampu merah. Winarto berdiri dengan gelisah. Ia harus mengambil
"Tolong sampaikan pesan saya kepada saudara Bu Prita, ya. Saya coba hubungi ke nomornya, tapi tidak pernah mendapat respon, Bu. Maka dari itu saya menghubunginya kemari." "Baik, saya akan sampaikan kepada Prita." Lidah Kayla sedikit kelu. Kepalanya sedang mencerna apa yang ia dengar baru saja. Kayla tidak salah mendengar, kan? Sampai telepon itu ditutup, Kayla masih terkejut mendengar penuturan yang disampaikan oleh teman arisan Prita. Bagaimana bisa Prita melakukan hal seperti ini? Kayla sudah mengatakan supaya Prita tidak perlu mengikuti teman-temannya membeli ini dan itu. Hiduplah sesuai kemampuan saja, tapi Prita memiliki gengsi setinggi langit. Kasihan sekali Akarsana memiliki Ibu seperti Prita. Tanpa sadar Akarsana telah dijadikan boneka oleh ibunya sendiri. Uang Akarsana dihabiskan cuma untuk foya-foya. Kayla menahan geram. Ia sangat kesal dengan kelakuan Prita yang seenaknya sendiri. Seharusnya Prita memikirkan Akarsana. Anak sulungnya baru saja melakukan operasi. Kal
Suasana rumah sangat sepi. Pelangi tidak kunjung pulang dari luar kota. Cuma Diana dan Hadyan saja yang tinggal di rumah sekarang. Tiba-tiba Diana memikirkan sesuatu. Sekelebat pikiran yang membuat Diana ingin mencobanya. Siapa tahu salah satu anggota keluarganya ada yang menyimpan barang berharga yang bisa Diana jual? Mampung Hadyan sedang sekolah juga. Diana lebih leluasa mengacak-acak isi kamar Kakak dan ayahnya. Jika bocah itu sampai tahu, Hadyan pasti akan mengadu kepada Pelangi saat pulang nanti. Diana beranjak dari kursi di ruang tamu. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana, lantas berjalan ke kamarnya Pelangi. Iya, kamar Pelangi tujuan utama Diana saat ini. Mengingat kakaknya selalu bekerja keras tidak kenal lelah pasti Pelangi mempunyai uang tabungan di kamarnya. Pintu kamar Pelangi tidak pernah dikunci memang. Maka dari itu Diana bisa leluasa mencari sesuatu di kamarnya. Diana membuka satu per satu pintu lemari kakaknya. Membongkar setiap susunan baju di dalam
"Jangan diam saja, dong! Jawab!" bentak Anne di telepon. Lamunan Prita buyar seketika. "Iya, Jeng! Pasti akan saya benar segera, kok!" Prita mendudukkan dirinya ke tepi ranjang. Seketika badannya lemas akibat ditagih oleh Anne. Prita menggigit ujung kukunya berusaha memutar otak agar ia bisa mendapatkan uang untuk membayar cicilan berlian yang telah menunggak selama empat bulan. Dapat dari mana Prita uang sebanyak itu? Ditambah lagi Akarsana baru saja melakukan operasi! Prita tidak mungkin meminta uang pada Akarsana. "Apa aku pinjam saja pada Kayla, ya?" gumam Prita pada dirinya sendiri. "Tapi apa dia mau meminjamiku uang? Dia saja sangat pelit padaku selama ini!" Prita menggelengkan kepalanya. Benar mustahil Kayla akan meminjami dirinya uang yang ada Kayla akan menggerutu, mengomel, tidak lupa menceramahinya kalau sampai tahu uang itu akan ia gunakan untuk apa. "Tapi aku tidak punya pilihan lain!" Prita menggaruk kulit kepalanya. "Aku pergi ke kamarnya dulu saja," katanya
Dengan cepat Prita menuruni anak tangga untuk melihat kondisi Kayla yang kini tidak sadarkan diri. Prita menepuk pipi Kayla berulang kali berharap Kayla bangun dan membuka matanya. Ia memanggil Kayla lebih keras seiring tepukan di pipi wanita itu. "Bangun, Kayla! Kayla!" seru Prita menjadi sangat panik. Prita menggerakkan tubuh Kayla yang terbaring di dekat kaki tangga. Prita terus memanggil saudara kembarnya. Prita menangis sejadi-jadinya, karena takut disalahkan atas kecelakaan yang menimpa Kayla. Tidak, Prita tidak merasa ia adalah dalang Kayla jatuh dari tangga! Ia tidak sengaja! Kayla berusaha merampas uang di tangannya. Prita hanya berusaha menyelamatkan uang itu dari Kayla, tapi Kayla tetap tidak mau mengalah sama sekali. Maka dari itu Prita yang geram tidak sengaja mendorongnya. Mana tahu kejadiannya akan seperti ini. "Kayla, kamu mendengar suaraku? Kayla?" panggil Prita. Ia membungkuk dan memeriksa detak jantung Kayla. Kayla masih bernapas walau sangat lemah. Pr
Masuk ke dalam rumah, Renjana langsung mencari keberadaan sang Mama. Tadi Prita menelepon dengan suara gemetar dan seperti tengah menangis membuat Renjana buru-buru pergi dari Kafe. Sepanjang perjalanan tadi, Renjana khawatir dengan mamanya, karena tidak biasa sekali mamanya menelepon sampai menangis seperti tadi. Sekarang sampai di rumah, kondisi rumah begitu sepi sekali. Tidak terlihat asisten rumah tangganya ataupun Kayla, tantenya yang biasa ada di sekitar ruangan tengah atau dapur. Renjana segera menaiki undakan tangga menuju kamar Prita, berpikir kalau mamanya ada di dalam kamar sekarang. Tangannya membuka pintu kamar Prita dan melihat sang Mama sedang duduk di tepi ranjang dengan penuh kegelisahan. Prita yang menyadari seseorang baru saja masuk ke kamar yang ternyata adalah Renjana langsung saja berdiri dan menghampiri anaknya. Sejak tadi Prita sudah sangat ketakutan, karena melihat Kayla yang tergeletak tak sadarkan diri apalagi Sofia sampai marah kepadanya tadi dan bertany
Prita merasa lega, karena sudah menceritakan semuanya pada Renjana. Mereka akan merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi dan sama-sama berharap sesuatu yang buruk terjadi pada Kayla. Sekarang keduanya masih berada di dalam kamar Prita agar tidak ada seorang pun yang mendengarkan percakapan mereka. “Apa Sofia sudah kasih kabar sama Mama?” tanya Renjana. Prita menggeleng. “Belum ada kabar mungkin masih mendapatkan penanganan dari dokternya,” balas Prita. “Kalau begitu kita tunggu saja.” Renjana tidak menghubungi Sofia dan memilih untuk pura-pura tidak tahu saja dengan apa yang terjadi kepada Kayla. Lagipula yang Renjana pikirkan sejak tadi adalah berharap bibinya mengalami hal buruk dan dia bisa memiliki harta yang ditinggalkan oleh Kayla nantinya, Renjana ingin bebas melakukan apapun yang dia inginkan dengan apa yang dia miliki, jujur saja selama masih ada Kayla, hidupnya tidak nyaman sekali. “Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan?” tanya Prita kepa
"Tidak ada yang tahu tentang kebenaran ini, Om, tapi saya yakin yang salah saya lihat tidak salah. Perempuan penjual bunga itu sangat mirip Josefina dan saya rasa mereka bukan hanya sekadar mirip saja," ujar Ginny. "Pasti ada yang menukar bayi Josefina tanpa Om sadari." Ardiyanto menghela napas. Di kamar, ia sedang duduk sendiri sembari mengingat obrolannya bersama Ginny. Jujur saja Ardiyanto tidak berani berharap lebih. Ia menanamkan di pikirannya kalau perempuan yang Ginny lihat mirip dengan Josefina hanya sekadar mirip saja. Ada satu kalimat yang terngiang di telinga Ardiyanto tentang asumsi Ginny. Lelaki tua itu kembali menghembuskan napas. Ardiyanto sulit menerima asumsi itu. Kalau pun bayi Josefina ditukar oleh orang, lalu siapa pelakunya? Apa motifnya? "Pa," panggil Marien mengetuk pintu. "Papa kenapa tidak keluar untuk makan? Mama sudah selesai menata hidangan. Ayo makan dulu, Pa! Nanti Papa bisa sakit," bujuk Marien. "Mama duluan saja. Nanti Papa akan menyusul ke meja
Malam itu, suasana rumah masih dipenuhi ketegangan setelah pengakuan Sofia. Pelangi duduk di sofa dengan ekspresi kosong, sementara Akarsana mondar-mandir, pikirannya kacau."Aku masih tidak percaya " gumam Akarsana, suaranya nyaris berbisik.Sofia menunduk, matanya memerah menahan air mata. "Aku juga tidak ingin mempercayainya. Aku menyesal karena tidak melakukan sesuatu sejak dulu, jika aku berani melawan, mungkin Tante Kayla masih hidup."Pelangi menarik napas dalam-dalam. "Kebenaran akhirnya terungkap. Tapi, lalu apa? Apa kita akan membiarkan ini berlalu begitu saja?"Akarsana menatap adiknya dengan mata berkilat. "Tidak, kita tidak bisa membiarkannya. Apa pun yang terjadi, Ibu harus bertanggung jawab."Sofia menggigit bibirnya, lalu menggeleng. "Tapi Akarsana, Ibu kita... dia bahkan sudah tidak waras sekarang. Dia sudah hidup dalam ketakutan selama enam bulan terakhir. Apa yang bisa kita lakukan selain menyerahkannya pada perawatan?"Akarsana mengepalkan tangannya. Ia marah, kece
Ruangan itu menjadi sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar, seakan menegaskan bahwa ketakutan Prita masih ada, masih mengintai, dan belum benar-benar pergi.Prita masih tersungkur di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah berusaha menepis suara-suara yang hanya bisa ia dengar."Maafkan aku,Kayla! Maafkan aku!" gumamnya berulang kali, suaranya penuh ketakutan.Akarsana, Sofia, dan Pelangi masih berusaha menenangkannya, tetapi tiba-tiba, suara Prita berubah menjadi jeritan histeris."Aku tidak bermaksud membunuhmu!"Hening.Ketiga orang di ruangan itu membeku, tatapan mereka terpaku pada Prita yang masih terisak. Kata-kata itu menggema di kepala mereka, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang mencekam.Akarsana menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Ibu,apa maksudmu?" tanyanya pelan, tetapi suaranya tegas.Prita tidak menjawab. Ia terus meracau, tubuhnya masih bergetar hebat. Seolah kat
Pelangi berdiri di sana, berdampingan dengan seorang pria yang Sofia kenal baik—Akarsana. Namun, perhatiannya langsung terfokus pada Pelangi. Sofia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pelangi, yang dulu selalu tampak sederhana dan jauh dari kesan feminin, kini berubah. Gaun lembut membalut tubuhnya dengan anggun, rambut panjangnya tergerai dengan rapi, dan ada kehangatan baru dalam sorot matanya. Ia tampak begitu cantik, begitu berbeda. Namun, bukan hanya perubahan penampilan Pelangi yang mengejutkan Sofia. Tangannya yang digenggam erat oleh Akarsana seolah menegaskan sesuatu. Sofia mengangkat pandangannya, melihat ekspresi kakaknya—wajah itu, yang selama ini redup dan penuh beban, kini berseri. Akarsana terlihat seperti dirinya yang dulu, sebelum semua kekacauan terjadi. Sofia menelan ludah, masih belum bisa mencerna semuanya. "K-Kak Pelangi?" suaranya bergetar. Pelangi tersenyum lembut. "Hai, Sofia!"" Sofia mengalihkan tatapannya ke Akarsana, mencari jawaban.
Diana masih berdiri di tempatnya, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tidak beraturan. Tatapan Damar yang begitu dalam tadi masih terbayang di benaknya, mengusik perasaannya yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya. Ia menggeleng pelan, mencoba mengabaikan semuanya, lalu menghembuskan napas panjang. Saat itu juga, suara musik dan tawa dari para tamu pesta kembali menyadarkannya akan kenyataan. Malam ini adalah malam pertunangan Pelangi dan Akarsana. Diana melangkah masuk ke dalam ruangan, tepat saat Ardiyanto menaiki podium kecil di tengah aula, mengambil mikrofon dan mengetuknya pelan. Semua tamu segera menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan perhatian ke pria tua itu. "Ladies and gentlemen," Ardiyanto memulai dengan suara penuh wibawa. "Terima kasih telah menghadiri acara malam ini. Malam ini adalah malam yang istimewa bagi keluarga kami, karena cucu saya, Pelangi, akan bertunangan dengan pria yang telah mendapatkan hatinya kembali, Akarsana." Tepuk tangan menggema di
Pelangi mencoba kembali menenangkan pikirannya setelah pertemuannya dengan Akarsana. Hatinya masih berdebar tidak menentu, tapi kali ini bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan besar yang sudah ia buat.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat, disusul suara yang penuh amarah."Pelangi!" suara Diana menggema di ruangan, membuat Pelangi dan Ardiyanto menoleh.Diana berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kemarahan dan di belakangnya, Danurdara—ayahnya—menyusul dengan tatapan yang lebih tenang tapi tak kalah tegas."Kau serius, Pelangi?!" Diana mendekat dengan cepat. "Kau lebih memilih pria yang sudah menghancurkanmu, yang sudah membuatmu menangis selama ini, daripada Damar yang jelas-jelas pria baik?"Pelangi menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi."Diana, dengarkan aku—""Tidak!" Diana memotong dengan suara penuh emosi. "Aku tidak bisa diam saja melihatmu kembali ke dalam lingkaran yang sama! Apa kau tidak takut akan terluka lagi? Apa kau tidak ingat bagaima
"Kalian berdua," suara Damar terdengar datar, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Pelangi merasa bersalah. Akarsana tidak mundur. Ia justru menatap Damar dengan pandangan penuh keyakinan. "Aku tidak akan menyerah," kata Akarsana tegas. "Aku mencintai Pelangi, dan aku yakin dia masih mencintaiku." Pelangi mengerjapkan mata, dadanya berdebar kencang. Damar menatap Pelangi. "Apa yang dikatakannya benar?" Pelangi tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pelangi menatapnya, perasaan bersalah semakin menyesakkan dadanya. "Damar, aku...." Damar mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Pelangi. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri." Pelangi menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, pria ini benar-benar baik. Damar tersenyum lembut. "Jangan memaksakan diri, Pelangi. Aku ingin kau bahagia, dengan atau tanpa aku." Pelangi terisak pelan. Damar menghela napas panjang lalu menatap Akarsana. "Aku harap kau tidak
"Dan kau gagal." Akarsana menatapnya dalam, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Aku tahu kau masih mencintaiku, Pelangi. Aku bisa melihatnya di matamu." Pelangi menggeleng dengan cepat, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. "Tidak," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Akarsana. Akarsana mengulurkan tangannya, ingin menghapus air mata itu, tapi Pelangi mundur selangkah, membuat jarak di antara mereka. "Aku akan bertunangan dengan Damar," katanya dengan suara yang lebih tegas, seakan ia mengatakannya bukan hanya untuk Akarsana, tapi juga untuk dirinya sendiri. Akarsana terdiam, dadanya terasa sesak. "Lalu kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara lirih. Pelangi menggigit bibirnya. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak ingin bertunangan dengan Damar, bahwa hatinya masih terikat pada Akarsana, tapi ia tidak bisa. Ia tidak boleh. Tanpa menjawab, ia berbalik dan membuka pintu, meninggalkan Akarsana yang masih berdiri di sana dengan ekspresi hancur.
Dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Pelangi membeku di tempat. Hatinya berdebar begitu kencang saat matanya bertemu dengan mata Akarsana. Pria itu berdiri di antara kerumunan, mengenakan jas hitam yang tampak sedikit longgar di tubuhnya seperti seseorang yang kehilangan berat badan. Wajahnya lebih tirus dari yang terakhir kali Pelangi lihat. Namun, sorot matanya tetap sama. Penuh luka. Akarsana tidak bergerak, hanya menatapnya dalam diam. Pelangi mengeraskan hatinya dan segera mengalihkan pandangan. Ini tidak seharusnya terjadi. Akarsana tidak seharusnya ada di sini. Tapi pertanyaannya adalah siapa yang mengundangnya? Di tengah kebingungan, Diana tiba-tiba muncul di sampingnya dan berbisik pelan, "Aku tidak mengundangnya, Pelangi. Aku juga terkejut dia datang." Pelangi menelan ludah. Ia tidak ingin menunjukkan kegugupannya. "Aku akan pura-pura tidak melihatnya," katanya lirih. Diana menatapnya ragu, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Namun, masalahnya adalah
Malam itu, Akarsana tidak bisa tidur. Kata-kata Sofia terus terngiang di kepalanya."Jika kau masih mencintainya, pergilah cari dia!"Akarsana tidak bisa menahan keinginan untuk mencari tahu. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan membuka kontak lama yang tak pernah ia hapus.Pelangi.Jari-jarinya gemetar saat hendak menekan tombol panggil.Namun, ia ragu."Bagaimana jika dia tidak mau bicara denganku?""Bagaimana jika dia sudah bersama pria lain?"Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.Akhirnya, ia hanya menatap nama itu di layar ponselnya, sebelum akhirnya menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.Mungkin, Sofia benar. Ia harus menemui Pelangi. Bukan hanya untuk memohon kesempatan kedua, tetapi untuk mengatakan hal yang selama ini tidak sempat ia katakan, bahwa ia mencintainya.Bahwa ia menyesali semuanya. Dan bahwa ia ingin memperbaikinya.Keesokan paginya, Akarsana mendatangi rumah sakit dimana Ardian bekerja. Ardian adalah satu-satunya o