"Tunggu, aku akan langsung pergi menemui Letnan Odele sekarang juga. Kalian berusahalah untuk bertahan." Mia yang tadi masih mengenakan baju tidur langsung menyambar seragam militernya kemudian bergegas menuju tempat Odele.'Semoga mereka baik-baik saja. Kenapa di saat Martis sedang tidak ada malah kembali terjadi penyerangan?! Ah...! Aku harus cepat!' Pikiran Mia langsung kacau saat ia teringat kalau Martis sempat memberitahunya sedang tidak berada di markas Herupa.Yang membuat Mia semakin khawatir lagi, karena baru kali ini Layla sampai menghubunginya untuk meminta bantuan.Selang beberapa puluh menit kemudian akhirnya Mia tiba di kediaman Odele. Tanpa ragu Mia langsung memencet bel yang ada di pagar depan rumah Odele berulang kali. Karena tidak sabar, Mia akhirnya melompati pagar dan langsung masuk ke halaman rumah Odele.Namun tepat saat Mia ingin menggedor pintu rumah Odele, pintu depan rumah Odele terbuka."Mia? Ada apa? Kenapa malam-malam begini kau datang kemari? Apakah ada s
Nafas Roki semakin terasa berat karena harus terus bergerak menghindari tembakan-tembakan sinar laser dari ketiga musuhnya. Salah satu langkah saja, bisa dipastikan tubuh Roki akan terluka jika terkena sinar laser ini. Sebab, sinar laser ini sama persis dengan yang pernah Roki Lihat seperti milik anaknya.Kali ini, karena ledakan yang dihasilkan sangatlah kerasa, membuat semua warga yang ada disekitar terbangun. Untungnya Herupa sudah bersiaga dan mengarahkan para warga agar mengungsi sementara. Walaupun hati Dehanru sangatlah sedih atas kehilangan Dafantri, namun ia tetap mencoba tegar. Dehanru mengerahkan semua tenaganya untuk membantu mengevakuasi warga. Dehanru tidak mau melihat ada korban lagi yang jatuh.Saat Dehanru dan yang lainnya tengah mengevakuasi warga, mereka melihat ada pasukan Keamanan Pemerintah yang datang. Ternyata itu adalah pasukan elit yang Martanto bawa.Dehanru bergegas ke arah Pemimpin pasukan berseragam militer lengkap ini karena ia mengenalinya."Dehanru? Ba
Nampaknya Cyborg satu mengalami kerusakan yang terbilang sangat parah di sekujur tubuhnya. Peluru meriam jumbo itu bukanlah peluru meriam biasa.Ternyata peluru meriam jumbo ini juga dilengkapi dengan teknologi baru yang sangat canggih, yaitu dilengkapi dengan gelombang suara supersonik bertekanan tinggi saat meledak. Fungsi gelombang suara supersonik adalah untuk mengacaukan sinyal dan jaringan yang ada pada tubuh Cyborg. Oleh sebab itulah Cyborg satu tidak bisa berbuat apa-apa ketika pertama kali peluru meriam jumbo itu mengenai tubuhnya tadi. Dan lagi, peluru meriam jumbo ini memang dirancang secara khusus untuk menghadapi pasukan Cyborg. Jendral Valdo lah orang yang memikirkan tentang inovasi terbaru peluru jenis ini. Karena biaya yang digunakan saat membuatnya sangatlah mahal, Jendral Valdo sengaja tidak mau menggunakan peluru jenis ini kalau bukan dalam keadaan yang sangat mendesak saja. Tapi malam ini, justru Martanto lah yang menggunakannya secara terang-terangan. Yah..., poko
Boom, boom, boom!Tembakan demi tembakan misil kembali mengarah pada Roki."Sialan! Kenapa kau main curang?! Ayolah, kita gunakan otot saja!" Rupanya tembakan misil-misil ini cukup berbahaya. Jika sampai terkena satu tembakan misil saja, tubuh manusia biasa tentu saja akan menjadi seperti kertas yang terbakar oleh api.Sedangkan Martanto, ia terlihat sedang asik memukuli lawannya. Puluhan kali Martanto berhasil memukul Cyborg tiga. Dan hasilnya, tubuh Cyborg tiga mengalami kerusakan yang cukup parah. Roki semakin kagum dengan kekuatan yang Martanto perlihatkan malam ini. Padahal, Martanto hanyalah manusia biasa, tapi kenapa ia bisa melukai Cyborg? Sangat jarang ada orang yang mampu berhadapan dengan Cyborg.***Sedangkan Martis yang jauh di sana, ia masih berbincang ria bersama Reka dan Dion. Reka dan Martis sedang asik menyimak cerita dari Dion tentang kampung halamannya yang terpencil. Rasa tertarik dan penasaran Reka dan Martis semakin tinggi saat Dion mengatakan bahwa Pemimpin des
Martis sempat berpikir untuk mencari cara, bagaimana agar bisa sampai ke markas Herupa tanpa memakan jarak dan waktu yang lama. Namun tentu saja itu hal yang mustahil. Mau berlari secepat apapun, tetap saja akan memakan waktu berjam-jam."Em..., anu, apakah terjadi sesuatu?" Melihat Martis yang raut wajahnya berubah, akhirnya Dion memberanikan diri untuk bertanya."Huft..., sepertinya memang terjadi sesuatu di tempat asalku. Tapi, aku bingung. Dion, bisakah kau membantuku?" Entah kenapa, Martis malah bertanya kepada Dion apakah ia bisa membantunya atau tidak."Yah..., tergantung? Kau katakan saja terlebih dahulu apa yang bisa aku bantu. Jika aku rasa itu bisa, aku pasti akan membantumu Kok." Karena Dion merasakan kebaikan hati yang ada di dalam diri Martis, Dion pun sudah memutuskan bahwa ia akan mencoba membantu Martis. Padahal, ini kali pertamanya mereka bertemu. Sungguh sangat jarang sekali seorang suku pedalaman seperti Dion yang mau membantu orang yang baru saja di kenal."Aku in
Cyborg dua berhasil dipukul mundur oleh Roki.Nging...!Slash!Jediar!Baru saja Roki berniat memukul bagian kepala Cyborg dua dengan kekuatan penuhnya, tubuh Roki melompat ke samping kanan guna menghindari serangan tembakan laser yang ternyata ditembakkan oleh Cyborg tiga.Kali ini, Roki kembali menghadapi dua musuh seorang diri.'Sial! Baru saja aku akan mengalahkan robot sialan ini! Cih! Baiklah, aku harus lebih fokus lagi!' Dalam keadaan hati dan pikiran yang gelisah akan keadaan Martanto, Roki akhirnya mencoba untuk lebih fokus terlebih dahulu. Masalah Martanto ia kesampingkan sejenak sampai ia benar-benar bisa mengalahkan kedua musuhnya ini. Tapi, apakah Roki mampu mengalahkannya seorang diri?Boom!Jediar!Pasukan elit ternyata tidak mau hanya berdiam diri saja. Mereka ikut membantu Roki sebisa mungkin.Boom, boom, boom!Duar, duar, duar!Berbagai macam jenis peluru dan misil ditembakkan ke arah Cyborg dua dan Cyborg tiga agar perhatian mereka berdua teralihkan.Nampaknya temba
Suara Reka yang terdengar nyaring akhirnya berhasil menarik perhatian pak tua.Deg, deg, deg, deg...!Detak jantung Dion berpacu lebih cepat ketika mendengar suara Reka yang terdengar seperti mengejek si pak tua.Dion langsung berlari ke hadapan Reka dan Martis."E..., anu, ma-mafkan Gadis ini, Pak Tua. Dia hanya bercanda kok. I-iya kan, Reka?" Sebisa mungkin Dion memberikan isyarat kepada Reka agar menjaga ucapannya."Siapa yang bercanda? Tidak, aku tidak bercanda kok. Kak Martis, apakah ucapanku tadi salah?" Padahal Dion berniat ingin membantunya, namun Reka malah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dion."Siapa mereka berdua?!" Kedua alis pak tua terangkat seraya bertanya pada Dion."Eh? Maafkan aku, Pak Tua. Perkenalkan, namaku adalah Martis. Dan ini, ia adalah Adikku. Namanya adalah Reka." Dengan cara memaksa, Martis menekan tubuh Reka agar membungkuk ke arah pak tua, dan dengan terpaksa pula Reka melakukannya."Hah?! Siapa namamu? Martis?" Yang tak disangka oleh Dion, setelah
Martis sempat bertanya-tanya di dalam hatinya.Setelah Martis membaca satu pemberitahuan di layar utama sistem miliknya, Martis akhirnya menyetujui permintaan dari pak tua."Pak Tua, aku sungguh mengucapkan banyak rasa terima kasih pada anda. Tenang saja, aku Martis! Aku berjanji akan menepati janjiku untuk datang kemari lagi setelah menyelesaikan urusanku ini. Jadi, apakah kita bisa melakukan teknik teleportasi ini sekarang?" Martis berdiri dari duduknya kemudian ia membungkukkan badannya. Setalah itu Martis meletakkan tangan kanannya di depan dada untuk berjanji pada pak tua. Martis berjanji akan datang lagi kemari.Sebenarnya tanpa diminta pun, Martis memang sudah memiliki niat untuk datang kembali ke tempat pak tua ini. Entah kenapa, hati Martis merasakan gejolak yang tak biasa. Tapi Martis tidak mengerti, gejolak apa itu?"Baiklah, perhatikan ini. Sebenarnya teknik teleportasi adalah salah satu kekuatan elemen." Pak tua mengajak Reka dan Martis ke ruangan yang ada di sebelah."Ap
Tiba-tiba, Martis terpikirkan suatu hal di masa lalu. 'Oh, iya, Sistem, eh, tidak! Ririn..., apakah kau ingat dengan nama itu?' Tring! "Sistem tidak akan pernah lupa dengan apapun yang telah dilakukan oleh User setiap detik pun. Benar, aku adalah Ririn." Martis senang mendengar jawaban dari Ririn. "Apakah Martis masih memiliki pertanyaan dan keluh kesah lainnya? Ririn akan siap membantu mencari solusi terbaik untuk Martis. Karena itu adalah tugas dan kewajiban Ririn sebagai Sistem." Entah kenapa, Martis merasa terharu setelah membaca jawaban balasan dari Ririn. Sepertinya Martis merasa bahwa Ririn adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Tanpa Sistem, Martis tidak akan bisa jadi sepertinya orang yang sampai saat ini terbilang kehidupannya sangat didambakan oleh banyak orang."Em..., Ririn, bisakah kau membuat visualisasi tubuh? Aku akan merasa lebih senang jika kau dapat melakukannya."Permintaan Martis ada-ada saja, ya? Dia sudah dapat berkomunikasi
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setara dengan Raja Iblis? Tapi..., bukankah Raja Kegelapan jauh lebih tinggi dibanding Raja Iblis? Benar, tidak, sih? Ah..., aku jadi penasaran. Bagaimana jika aku masuk dalam dimensi dunia kegelapan? Apakah di sana aku akan dapat pencerahan? Sebab di masa lalu, aku ingat betul, bahwa aku pernah mengalahkan Lord dan blablabla...,' ungkap Martis dalam hatinya yang saat ini sedang berkecamuk. 'Tapi..., jika dipikir lebih jeli lagi, sebenarnya gelar-gelar itu tidaklah sesuai dengan keadaannya.' Martis memuntahkan secangkir teh hangat dan lanjut bertarung dengan pikirannya. 'Kalau begitu..., inilah arti dari pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Kelurahan Raja Kegelapan, aku kira sangatlah kuat
Nampak ada lingkaran cahaya yang makin lama semakin membesar. Lingkaran cahaya itu sangat bulat, dan ada pancaran kehangatan bagi orang di sekitar yang dapat merasakannya. 'Kehangatan itu terasa sangat nyaman,' Bahkan, Martis sekalipun merasakan kenyamanan saat ia akan melakukan Teknik Legendaris ini. Kemudian, Martis yang tengah mengangkat kedua tangannya seperti menadah ke udara, ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Lantas, lingkaran cahaya yang berbentuk bulat dan mengambang di atas kepala Martis tadi itu bergerak, dan gerakannya sesuai dengan apa yang Martis pikirkan. "Hiyat...!" teriak Martis, dengan tubuhnya yang saat ini langsung dibanjiri oleh keringat. "Denki Gama...!" Sekali lagi Martis berteriak dengan keras. Teriakan itu adalah kode, sebagaimana kuatnya usaha Martis dalam melakukan teknik sekuat ini. Lingkaran cahaya bulat yang berwarna kuning keputihan itu kemudian melesat ke arah Raja Kegelapan. "Jurus apa ini?! Selama ratusan tahun ku hidup di dunia ini
Pertarungan Martis melawan Raja Kegelapan masih berlanjut. Tapi kali ini, Martis nampak biasa saja. Karena sekarang sistem miliknya sudah pulih seperti semula. Jadi, semua terasa mudah bagi Martis. "Martis...! Kenapa kekuatanmu jauh berbeda dibanding saat terakhir kali kita bertemu?!" Raja Kegelapan akhirnya sadar, ternyata Martis jauh lebih kuat darinya. "Kenapa? Apakah sekarang kau mulai merasa takut? Hem?" Martis bertingkah santai. Ia sengaja menahan semua serangan dari Raja Kegelapan. "Jangan sembarangan, kau! Aku...? Takut padamu?! Mimpi...!" Raja Kegelapan kali ini benar-benar melupakan seluruh kekuatan dan kemampuan miliknya demi menghadapi Martis. Sudah ratusan tahun Raja Kegelapan hidup, namun baru hari ini ia menghadapi seorang manusia yang seperti Martis. Namun, walaupun ia tahu Martis adalah manusia yang kuat, rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya tak membuatnya takut. Ia berpikir ini mempertaruhkan harga dirinya. Apa kata orang nantinya, jika tahu Raja Kegelapan
Saat Emily dan Phynoglip berbicara, mereka tidak menyadari bahwa Martis sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Martis berjalan ke arah sebuah ruangan yang tersembunyi di balik sebuah pintu rahasia. Di dalam ruangan tersebut, Martis menemukan sebuah perangkat yang sangat canggih. Perangkat tersebut adalah sebuah alat yang dapat mendeteksi keberadaan Raja Kegelapan. Martis telah mencari alat tersebut selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia menemukannya. Martis mengaktifkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat hingga alat tersebut menunjukkan hasilnya. Saat hasilnya muncul, Martis terkejut. Raja Kegelapan ternyata berada di sebuah tempat yang sangat dekat dengan mereka. Martis tidak menyangka bahwa Raja Kegelapan akan berada di tempat yang begitu dekat. Martis segera mematikan alat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera memberitahu Emily dan Phynoglip tentang hasilnya. Saat Martis kembali ke tempat Emily dan Phynoglip, ia melihat bahwa mer
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang
Mia berjalan ke arah Martis, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu ingin lakukan, Mia?" tanya Martis dengan suara yang keras. Mia tetap tersenyum lembut, kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku ingin menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu maksud?!" tanya Martis dengan suara yang keras. Dengan senyum lembutnya, Mia kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita hanya memiliki puisi yang tidak berharga," ucap Mia dengan suara yang masih sama pelannya. Mia kemudian mengambil kertas yang memiliki puisi yang tertulis di dalamnya dari Emily, kemudian memberikannya kepada Martis. Martis menatap kertas tersebut dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang
Mia memimpin mereka ke arah mesin tersebut, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Saat mereka mendekati mesin tersebut, mereka melihat bahwa mesin tersebut memiliki sebuah layar yang besar dan beberapa tombol yang berkilauan. Mia menekan salah satu tombol tersebut, dan layar mesin tersebut langsung menyala. Phynoglip dan Emily terkejut melihat bahwa layar tersebut menampilkan sebuah gambar yang aneh, seperti sebuah peta yang kompleks. "Apa ini?" tanya Phynoglip dengan suara yang penasaran. Mia menjawab, "Ini adalah peta sistem yang kita gunakan untuk mengontrol dunia ini," ucap Mia dengan suara yang pelan. "Dengan peta ini, kita dapat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana kita dapat mengubahnya." Emily kemudian menatap peta tersebut dengan rasa penasaran. "Bagaimana kita dapat mengubahnya?" tanya Emily dengan suara yang pelan. Mia memandang Emily dengan mata yang berbinar. "Kita dapat mengubahnya dengan menggunakan kode yang tepat," ucap Mia
Phynoglip mengangguk, kemudian menatap sekeliling tempat mereka berada. "Tempat ini aneh," ucap Phynoglip dengan suara yang pelan. "Aku merasa seperti berada di dalam komputer atau sesuatu." "Aku juga merasa seperti itu. Sepertinya kita berada di dalam sistem atau dimensi lain." jawab Emily dengan nada yang sama dengan Phynoglip. Keduanya terdiam sejenak, kemudian Phynoglip bertanya lagi. "Kamu pikir apa yang disembunyikan oleh Martis?" Emily memandang Phynoglip dengan serius. "Aku pikir Tuan Martis menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting." Phynoglip mengangguk, kemudian keduanya terdiam lagi. Akan tetapi, kali ini tiba-tiba, Phynoglip berbicara dengan nada yang berbeda. "Emily, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya kita tidak sendirian." Emily menatap Phynoglip dengan heran, kemudian menoleh ke sekeliling. Tiba-tiba, dia melihat bayangan yang bergerak di kejauhan. "Apa itu?" bisik Emily dengan suara yang pelan. Kemudian Phynoglip berjalan menuju bayangan te