Share

Honeymoon

Author: Erna Azura
last update Huling Na-update: 2025-04-04 19:22:28

Udara pagi di Santorini begitu segar, angin laut yang lembut masuk melalui jendela besar yang dibiarkan terbuka semalaman.

Langit masih dihiasi semburat jingga, pertanda bahwa matahari baru saja naik dari peraduannya.

Namun, di dalam vila mewah tempat Ananta dan Zanitha menginap, kehangatan yang berbeda menyelimuti kamar mereka.

Zanitha terbangun karena sesuatu yang menggelitik lehernya. Napas hangat Ananta menyentuh kulitnya, dan sebelum ia bisa sepenuhnya sadar, bibir suaminya sudah menelusuri bahunya dengan lembut dengan banyak kecupan.

"Ta..." Zanitha menggumam pelan, masih mengantuk.

Ananta tidak menjawab. Pria itu terus menciumi bahu hingga ke leher, sementara tangannya yang besar dan hangat mengusap perut Zanitha yang sedikit membuncit dari dalam gaun tidurnya.

“Kamu tidur nyenyak?” bisik Ananta di telinga Zanitha, suaranya rendah dan serak karena baru bangun tidur.

Zanitha hanya mengangguk kecil, tetapi tubuhnya merespons dengan memiringkan kepala, memberi lebih banyak
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Janji

    Keesokan paginya, Zanitha bangun dengan perasaan bahagia. Ia menggeliat di ranjang, lalu menoleh ke samping.Ananta masih tidur.Kening Zanitha mengernyit. Sudah hampir siang, tapi pria itu bahkan belum bangun. Padahal mereka seharusnya pergi berjalan-jalan lagi hari ini.Zanitha duduk, lalu menggoyangkan bahu suaminya. “Ta, bangun. Kita jalan-jalan.”Ananta hanya menggumam pelan, tidak membuka matanya. “Nanti aja.”Zanitha mengerutkan kening. “Nanti kapan? Ini udah hampir siang, kita enggak bisa terus-terusan di kamar.”Ananta menarik selimutnya lebih erat. “Aku lelah, Nitha.”Zanitha mendengus kesal. “Aku ke sini buat jalan-jalan, bukan buat nungguin kamu tidur terus.”Ananta akhirnya membuka matanya, menatap istrinya dengan ekspresi datar. “Aku yang membayar liburan ini, jadi aku juga yang menentukan mau ngapain.”Zanitha terkejut mendengar kata-kata itu. Ia mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, aku jalan sendiri!”Ia beranjak dar

    Huling Na-update : 2025-04-05
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Menangis Diam-Diam

    Pagi di Santorini kembali menyambut dengan angin laut yang hangat dan semilir. Di balkon vila pribadi mereka, meja sarapan sudah tertata rapi.Pancake lembut bertumpuk dengan taburan buah berry segar, yoghurt khas Yunani, roti panggang, telur orak-arik, potongan buah segar dan jus jeruk yang masih mengembun.Zanitha duduk di salah satu kursi, mengenakan gaun santai berbahan linen putih, rambutnya dikuncir longgar, memperlihatkan leher jenjangnya yang terlihat lebih tirus karena kehamilan yang menguras banyak energi. Kedua sikunya bertumpu di atas meja, dagunya diletakkan di atas punggung tangan sambil menatap kosong ke arah laut. Sepiring pancake di depannya masih utuh.Ananta, yang baru saja selesai menuangkan kopi hitam ke cangkirnya, melirik Zanitha dengan satu alis terangkat. Ia meneguk kopinya pelan sebelum menaruhnya kembali di atas meja, lalu menyandarkan punggung di sandaran kursi.“Kamu enggak makan?” tanyanya dengan nada datar, tapi ada sedikit sorot perhatian di matanya

    Huling Na-update : 2025-04-06
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Suami Terbaik

    Ananta mengusap pipinya pelan. “Aku memilih melindungi kamu dengan caraku. Dan, lihat sekarang, kamu jauh lebih aman di sisiku. Kalau kamu nggak jadi pengantinku, kamu mungkin enggak akan mendapatkan semua fasilitas terbaik ini.” Tentu saja Ananta mengatakannya di dalam hati.Dia gengsi untuk mengucapkan cinta dan sayang kepada Zanitha.Zanitha menunduk, pelan-pelan menghapus air matanya sendiri. Ada logika kuat di balik kata-kata Ananta yang sulit untuk ia sangkal.Ananta benar, papinya tidak akan membela dan mami serta kedua kakak tirinya akan bahagia melihat dia masuk penjara.“Tapi tetap aja… kamu jahat,” katanya lirih.Ananta tersenyum tipis. “Aku tahu. Itu kenapa sekarang aku membayar lunas semua kesalahanku… aku mengikuti semua keinginan kamu dan semua tuntutanmu meski enggak masuk akal sekalipun.”Zanitha menyipitkan mata, lalu tersenyum nakal. “Kalau gitu, pijitin kakiku sekarang.”Ananta mendesah, namun menurut. Ia duduk di depan Zanitha, mengambil kakinya lalu memija

    Huling Na-update : 2025-04-06
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Aku Sayang Kamu

    Malam itu…Suara deburan ombak dari kejauhan terdengar lembut, menyatu dengan desir angin yang menyusup masuk melalui jendela balkon vila mereka yang terbuka setengah.Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding kamar memancarkan cahaya temaram, membuat suasana terasa hangat dan menenangkan.Zanitha duduk di atas ranjang, bersandar pada sandaran kayu yang dihiasi ukiran khas Yunani. Ia mengenakan gaun tidur berbahan satin lembut warna gading, rambut panjangnya dibiarkan tergerai melewati bahu. Matanya mengikuti setiap gerakan Ananta yang sibuk membereskan MacBook dan dokumen yang tadi sempat ia baca di balkon.Ananta menutup laptop dengan bunyi klik yang tegas. Pria itu meletakkannya di meja kecil di sudut ruangan, lalu melirik sekilas ke arah Zanitha yang masih memandanginya. “Kenapa lihat-lihat?”Zanitha tersenyum kecil, matanya setengah menyipit. “Enggak boleh lihat suami sendiri?”Ananta mendengus pendek, tapi ia berjalan mendekat, melepaskan kemeja linen tipis yang tadi ia kenakan

    Huling Na-update : 2025-04-06
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Sebuah Tragedi

    Ananta Victor von Rotchchild, CEO blasteran Swiss-Indonesia yang kini menjadi pimpinan tertinggi Helvion Group di Indonesia itu sedang mematut diri di depan cermin sambil menautkan kancing di lengan kemeja, kerutan halus tampak di antara kedua alisnya yang tebal padahal pria itu begitu tampan mengenakan tuxedo di hari pernikahannya ini.Mungkin karena Ananta membenci hari ini lantaran terpaksa menikahi seorang gadis hanya untuk mendapatkan keturunan.Adik sepupunya yang bernama Rafael telah menikah dan memiliki anak laki-laki membuat kakek mereka sang Chairman of the Board di perusahan Helvion Group Swiss merasa senang dan digadang-gadang Rafael akan menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin tertinggi perusahaan melangkahi Ananta.Itu kenapa Ananta mengutus Ryan-sekretarisnya mencarikan seorang gadis untuk dijadikan istri kontrak dan mau melahirkan keturunannya.Namun setelah anak itu lahir, Ananta akan menceraikannya dengan memberikan imbalan yang besar.Ananta tidak pernah me

    Huling Na-update : 2025-01-17
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Hancur

    “Jadi begini Nona … eee, siapa nama Nona? Kita kenalan dulu.” Ryan mengulurkan tangannya melewati meja yang memisahkan dia dengan Zanitha.“Zanitha,” jawab Zanitha melirih.“Saya Ryan … sekretaris tuan Ananta.” Mereka berdua bersalaman.“Tuan Ananta seharusnya menikah hari ini … seluruh keluarganya mengetahui hal tersebut tapi ternyata calon istrinya meninggal karena kecelakaan dan Nona juga terlibat ….” Ryan menjeda kalimatnya.“Aku enggak bermaksud membunuhnya, aku enggak sengaja nabrak dia… dia datang entah dari mana, sumpah! Aku enggak pernah berniat membunuh perempuan itu.” Zanitha keukeuh mempertahankan pendapatnya.Kejadiannya begitu cepat, bahkan awalnya dia tidak tahu kalau telah menghilangkan nyawa seseorang.“Tapi kenyataannya Nona yang menabrak nona Erina dan menyembabkannya meninggal dunia.” Ryan memberikan fakta.Zanitha menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan dan mulai menangis.Kedua kakinya bergetar hebat karena trauma yang masih melingkupinya.Hanya ad

    Huling Na-update : 2025-01-19
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Akting

    Mobil SUV Lexus seharga tiga koma setengah Milyar berwarna hitam itu berhenti di depan lobby gedung kantor milik Damar Wiranata.Sesaat Zanitha ragu, khawatir sang papi tidak mempercayainya tapi dia membawa pria yang akan menikahinya jadi semestinya sang papi percaya.Dan jika dilihat dari harga mobil milik pria itu, pria bernama Ananta ini pasti kaya raya jadi tidak mungkin papi tidak memberikan restu.“Nona … kita sudah sampai.” Ryan memberitahu karena Zanitha malah melamun menatap pintu lobby.“Kamu ikut, kan?” Zanitha bertanya kepada Ananta.“Tentu saja ….” Pria itu menyahut. “Tidak mungkin aku melewatkan momen berharga ini,” sambung Ananta di dalam hati.Zanita membuka pintu mobil, dia keluar diikuti Ryan dan Ananta.Mereka bertiga menyusuri lobby, semua pegawai membungkuk penuh hormat saat mereka lewat yang tentu saja sikap hormat itu ditunjukan untuk Zanitha yang merupakan anak dari pemilik perusahaan ini.Sekretaris Damar Wiranata yang bernama Anton menyambut mereka ke

    Huling Na-update : 2025-01-19
  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Sebuah Rencana

    “Sekali enggak! Tetap enggak, Nitha! Papi enggak akan menikahkan kamu dengan saingan bisnis Papi!” Zanitha menoleh lagi menatap Ananta meminta pria itu setidaknya sedikit saja bicara untuk meyakinkan papi namun malah smirk yang menambah ketampanannya yang Zanitha dapatkan.Dia tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan papi, dia salah perkiraan tadi—tidak tahu kalau calon suami yang dikenalkannya adalah pria yang paling sang papi benci di dunia ini.“Nitha hamil, Pi ….,” kata Zanitha yang akhirnya harus menambah dosis dustanya agar Damar Wiranata berubah pikiran.Ananta menatap takjub dengan kedua alis terangkat. Akting Zanitha sempurna sekali.Tolong siapapun, berikan Zanitha piala Oscar.“Apa?” Plak!Tanpa segan Damar Wiranata menampar Zanitha hingga gadis itu tersungkur ke samping dan terhempas ke lantai.Air mata jatuh bersamaan dengan sisi bokong Zanitha menghantam lantai berkarpet.Sedingin-dinginnya hati Ananta, pria itu refleks bergerak mendekat membantu Zanitha ba

    Huling Na-update : 2025-01-19

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Aku Sayang Kamu

    Malam itu…Suara deburan ombak dari kejauhan terdengar lembut, menyatu dengan desir angin yang menyusup masuk melalui jendela balkon vila mereka yang terbuka setengah.Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding kamar memancarkan cahaya temaram, membuat suasana terasa hangat dan menenangkan.Zanitha duduk di atas ranjang, bersandar pada sandaran kayu yang dihiasi ukiran khas Yunani. Ia mengenakan gaun tidur berbahan satin lembut warna gading, rambut panjangnya dibiarkan tergerai melewati bahu. Matanya mengikuti setiap gerakan Ananta yang sibuk membereskan MacBook dan dokumen yang tadi sempat ia baca di balkon.Ananta menutup laptop dengan bunyi klik yang tegas. Pria itu meletakkannya di meja kecil di sudut ruangan, lalu melirik sekilas ke arah Zanitha yang masih memandanginya. “Kenapa lihat-lihat?”Zanitha tersenyum kecil, matanya setengah menyipit. “Enggak boleh lihat suami sendiri?”Ananta mendengus pendek, tapi ia berjalan mendekat, melepaskan kemeja linen tipis yang tadi ia kenakan

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Suami Terbaik

    Ananta mengusap pipinya pelan. “Aku memilih melindungi kamu dengan caraku. Dan, lihat sekarang, kamu jauh lebih aman di sisiku. Kalau kamu nggak jadi pengantinku, kamu mungkin enggak akan mendapatkan semua fasilitas terbaik ini.” Tentu saja Ananta mengatakannya di dalam hati.Dia gengsi untuk mengucapkan cinta dan sayang kepada Zanitha.Zanitha menunduk, pelan-pelan menghapus air matanya sendiri. Ada logika kuat di balik kata-kata Ananta yang sulit untuk ia sangkal.Ananta benar, papinya tidak akan membela dan mami serta kedua kakak tirinya akan bahagia melihat dia masuk penjara.“Tapi tetap aja… kamu jahat,” katanya lirih.Ananta tersenyum tipis. “Aku tahu. Itu kenapa sekarang aku membayar lunas semua kesalahanku… aku mengikuti semua keinginan kamu dan semua tuntutanmu meski enggak masuk akal sekalipun.”Zanitha menyipitkan mata, lalu tersenyum nakal. “Kalau gitu, pijitin kakiku sekarang.”Ananta mendesah, namun menurut. Ia duduk di depan Zanitha, mengambil kakinya lalu memija

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Menangis Diam-Diam

    Pagi di Santorini kembali menyambut dengan angin laut yang hangat dan semilir. Di balkon vila pribadi mereka, meja sarapan sudah tertata rapi.Pancake lembut bertumpuk dengan taburan buah berry segar, yoghurt khas Yunani, roti panggang, telur orak-arik, potongan buah segar dan jus jeruk yang masih mengembun.Zanitha duduk di salah satu kursi, mengenakan gaun santai berbahan linen putih, rambutnya dikuncir longgar, memperlihatkan leher jenjangnya yang terlihat lebih tirus karena kehamilan yang menguras banyak energi. Kedua sikunya bertumpu di atas meja, dagunya diletakkan di atas punggung tangan sambil menatap kosong ke arah laut. Sepiring pancake di depannya masih utuh.Ananta, yang baru saja selesai menuangkan kopi hitam ke cangkirnya, melirik Zanitha dengan satu alis terangkat. Ia meneguk kopinya pelan sebelum menaruhnya kembali di atas meja, lalu menyandarkan punggung di sandaran kursi.“Kamu enggak makan?” tanyanya dengan nada datar, tapi ada sedikit sorot perhatian di matanya

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Janji

    Keesokan paginya, Zanitha bangun dengan perasaan bahagia. Ia menggeliat di ranjang, lalu menoleh ke samping.Ananta masih tidur.Kening Zanitha mengernyit. Sudah hampir siang, tapi pria itu bahkan belum bangun. Padahal mereka seharusnya pergi berjalan-jalan lagi hari ini.Zanitha duduk, lalu menggoyangkan bahu suaminya. “Ta, bangun. Kita jalan-jalan.”Ananta hanya menggumam pelan, tidak membuka matanya. “Nanti aja.”Zanitha mengerutkan kening. “Nanti kapan? Ini udah hampir siang, kita enggak bisa terus-terusan di kamar.”Ananta menarik selimutnya lebih erat. “Aku lelah, Nitha.”Zanitha mendengus kesal. “Aku ke sini buat jalan-jalan, bukan buat nungguin kamu tidur terus.”Ananta akhirnya membuka matanya, menatap istrinya dengan ekspresi datar. “Aku yang membayar liburan ini, jadi aku juga yang menentukan mau ngapain.”Zanitha terkejut mendengar kata-kata itu. Ia mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, aku jalan sendiri!”Ia beranjak dar

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Honeymoon

    Udara pagi di Santorini begitu segar, angin laut yang lembut masuk melalui jendela besar yang dibiarkan terbuka semalaman.Langit masih dihiasi semburat jingga, pertanda bahwa matahari baru saja naik dari peraduannya.Namun, di dalam vila mewah tempat Ananta dan Zanitha menginap, kehangatan yang berbeda menyelimuti kamar mereka.Zanitha terbangun karena sesuatu yang menggelitik lehernya. Napas hangat Ananta menyentuh kulitnya, dan sebelum ia bisa sepenuhnya sadar, bibir suaminya sudah menelusuri bahunya dengan lembut dengan banyak kecupan."Ta..." Zanitha menggumam pelan, masih mengantuk.Ananta tidak menjawab. Pria itu terus menciumi bahu hingga ke leher, sementara tangannya yang besar dan hangat mengusap perut Zanitha yang sedikit membuncit dari dalam gaun tidurnya.“Kamu tidur nyenyak?” bisik Ananta di telinga Zanitha, suaranya rendah dan serak karena baru bangun tidur.Zanitha hanya mengangguk kecil, tetapi tubuhnya merespons dengan memiringkan kepala, memberi lebih banyak

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Berubah Pikiran

    Udara pagi di Zurich terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik perbukitan, sinarnya yang lembut menerobos tirai jendela kamar utama di mansion Ananta. Di atas ranjang empuk berlapis linen mewah, Zanitha menggeliat pelan, matanya masih setengah tertutup ketika merasakan kehangatan familiar di sampingnya.Ananta.Pria itu masih terlelap, tubuhnya hanya terbungkus selimut hingga pinggang. Napasnya teratur, dada bidangnya naik turun dengan tenang. Sesaat, Zanitha hanya menatapnya, mengingat bagaimana beberapa bulan lalu ia tidak pernah membayangkan akan berbagi tempat tidur dengan pria yang awalnya terasa begitu asing baginya.Zanitha tersenyum kecil, lalu membalikkan tubuhnya, berniat untuk melanjutkan tidurnya lagi. Namun, sebelum ia benar-benar terlelap, suara berat dan serak khas Ananta terdengar di telinganya."Bangun, kita harus bersiap."Zanitha membuka mata dengan malas, masih tidak bergerak. "Hmmm? Buat apa? Ini masih pagi…

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Menggenggam Zanitha Lebih Erat

    Udara di Zurich pagi ini masih dingin, menyisakan embun tipis di kaca jendela ruang kerja Sebastian Von Rotchschild. Langit tampak sedikit gelap meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.Ananta berjalan dengan langkah tegap melewati koridor mewah mansion kakeknya. Suasana di rumah tua itu selalu terasa megah, klasik, tetapi juga mengandung hawa penuh intrik. Ia datang atas panggilan langsung dari Sebastian, sesuatu yang jarang terjadi kecuali ada hal yang benar-benar penting.Seorang pelayan membukakan pintu besar ruang kerja Chairman, memperlihatkan sosok Sebastian Von Rotchschild yang duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi rak buku antik dan perapian yang masih menyala. Pria tua itu mengenakan setelan abu-abu dengan kemeja putih, tampak seperti biasa—tenang, penuh wibawa, dan sedikit mengintimidasi.“Ananta,” panggilnya tanpa menoleh, tangannya masih memegang secangkir kopi.“Kamu tahu ‘kan kenapa Kakek memanggilmu?” Sebastian membuka obrolan saat Ananta baru sa

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Kamu Adalah Duniaku

    Hari sudah malam ketika Ananta dan Zanitha tiba di mansion mereka.Langit Zurich tampak pekat, hanya diterangi oleh beberapa bintang yang terlihat samar di antara awan yang masih tersisa dari hujan yang sempat turun sore tadi.Ananta memarkir mobilnya di depan pintu utama, lalu keluar dengan ekspresi datar, sementara Zanitha masih diam di dalam, enggan turun.Ananta berjalan ke sisi pintu penumpang, membukanya, dan menatap istrinya yang menunduk, memainkan ujung jari di atas paha.“Kita sudah sampai,” katanya singkat.Zanitha menghela napas pelan, lalu akhirnya keluar dari mobil.Langkah Ananta memelan menunggu Zanitha sambil menjaganya, khawatir Zanitha terpeleset mengingat teras mansion yang licin sehabis hujan.Langkah Ananta dan Zanitha akhirnya masuk ke dalam mansion, disambut oleh suasana tenang yang hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki mereka di lantai marmer.Begitu masuk ke ruang tamu, Zanitha tak bisa menahan pikirannya lagi. “Aku enggak habis pikir kenapa Elias

  • Pengantin Dari Sebuah Tragedi   Pria Lain Yang Mencintai Zanitha

    “Enak ‘kan kuenya?” Zanitha bertanya kepada Lena.Lena menganggukan kepala pelan.Detik berikutnya suara sirene ambulan yang menuju ke lantai ansion sebelah membuatnya menoleh.Kening Zanitha mengerut. Kenapa ada ambulans di sana?Dia bangkit dari kursinya diikuti Lena, mereka berdua mengawasi ambulan yang kini terparkir di pintu utama mansion.Saat keduanya masih dilanda tanda tanya besar, Klaus datang membawa satu pizza berukuran besar.“Klaus, siapa yang sakit di mansion sebelah?” tanyanya dengan nada khawatir.Klaus, yang selalu memiliki informasi tercepat, menjawab dengan tenang, “Tuan Elias, Nyonya. Dia… melakukan percobaan bunuh diri barusan.” Raut wajah Klaus tampak datar.Mata Zanitha melebar. “Apa?!”Jantungnya mencelos. Elias mencoba mengakhiri hidupnya?Kenapa?Apa yang membuatnya sampai seperti itu?Petugas medis baru saja keluar dari mansion sambil membawa tandu di mana sudah bisa dipastikan kalau Elias yang ada di atas tandu itu.Zanitha tidak bisa berbuat

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status