Home / Pendekar / Pendekar Pedang Naga / 32. Akademi di Serang

Share

32. Akademi di Serang

last update Last Updated: 2025-03-24 22:43:22

Kael dan Arsel berdiri diam di tengah kegelapan, mencoba mencari tanda-tanda kehadiran sosok yang mereka kejar. Namun, bayangan itu benar-benar menghilang—seolah-olah ditelan oleh malam.

"Tidak mungkin," bisik Arsel. "Aku yakin dia ada di sini beberapa detik yang lalu."

Kael menggenggam pedangnya lebih erat. "Ini bukan pertama kalinya seseorang menghilang begitu saja. Kita sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak biasa."

Arsel mengangguk. "Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati."

Mereka berdua mundur perlahan, memutuskan untuk kembali ke kamar sebelum seseorang menyadari keberadaan mereka di luar asrama. Namun, tepat saat mereka berbalik, sesuatu menarik perhatian Kael.

Di tanah, di tempat bayangan itu menghilang, ada secarik kain hitam tersangkut di ranting semak.

Kael berlutut dan mengambilnya. Kain itu terasa kasar, seolah berasal dari jubah berat yang sering digunakan untuk perjalanan jauh atau penyamaran. Namun, yang membuatnya lebih menarik adalah bau samar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pendekar Pedang Naga   33. Ketegangan di Akademi

    Kael menegang. Pertanyaan itu langsung menusuk ke inti pikirannya. Bagaimana Asmar tahu? Dengan sisa tenaganya, Kael mencoba duduk tegak, meski tubuhnya masih terasa lemah. Matanya menatap tajam ke arah lelaki paruh baya itu. "Apa maksudmu?" Asmar hanya tersenyum tipis. "Aku sudah lama mengamati akademimu, Nak. Dan serangan tadi malam bukan sekadar serangan acak. Itu adalah ujian." Kael mengernyit. "Ujian?" Asmar mengangguk. "Para penyerang itu tidak datang untuk menghancurkan akademimu. Mereka datang untuk mengukur kekuatan murid-murid di sana… dan mencari seseorang yang cukup kuat untuk tujuan mereka." Jantung Kael berdegup lebih cepat. "Mereka… sedang mencari seseorang?" "Ya," jawab Asmar dengan tenang. "Dan kau salah satu yang mereka incar." Ruangan terasa semakin sunyi. Kael ingin menyangkal, tapi semuanya mulai masuk akal. Serangan mendadak, cara musuh menghilang begitu cepat, pengkhianat di dalam akademi… semuanya terasa seperti bagian dari rencana yang lebih b

    Last Updated : 2025-03-25
  • Pendekar Pedang Naga   35. Setrategi Kompetisi

    Kael menatap Asmar dengan ragu. BeKael dan Arsel keluar dari aula dengan pikiran yang dipenuhi beban. Mereka harus berlatih sekeras mungkin. Tidak hanya untuk menang, tetapi juga untuk bertahan hidup.Di halaman akademi, murid-murid lain masih sibuk membereskan sisa-sisa pertempuran. Tapi Kael dan Arsel tak bisa ikut membantu—mereka punya tugas yang lebih besar."Kita mulai dari mana?" tanya Arsel, menyandarkan pedangnya ke bahunya.Kael menghembuskan napas dalam. "Kita perlu mengasah teknik bertarung kita, tapi juga strategi. Kompetisi ini pasti lebih dari sekadar duel biasa."Arsel mengangguk. "Baiklah. Kita ke arena latihan sekarang?"Namun sebelum mereka bisa bergerak, seorang murid berlari ke arah mereka dengan wajah panik."Kael! Arsel! Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian di gerbang akademi!"Kael dan Arsel saling berpandangan. Siapa yang datang di saat seperti ini?Dengan langkah cepat, mereka menuju gerbang akademi.Di sana, berdiri seorang pria berjubah gelap denga

    Last Updated : 2025-03-26
  • Pendekar Pedang Naga   35. Serangan Tiba-tiba

    Kael menegang. "Asmar?" gumamnya pelan, nyaris tak percaya pria itu datang ke akademi secara terang-terangan. Arsel segera mengambil posisi waspada, tangannya sudah di gagang pedang. "Kael, siapa orang ini?" Asmar tersenyum tipis. "Teman… atau musuh, tergantung bagaimana kau melihatnya." Kael menelan ludah. Ia tahu Asmar bukan tipe orang yang akan muncul tanpa alasan. Jika dia ada di sini, berarti ada sesuatu yang penting. "Apa yang kau inginkan?" tanya Kael, mencoba terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. Asmar melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang menguping. "Aku datang untuk memperingatkanmu." Kael mengerutkan kening. "Memperingatkanku?" Asmar mengangguk. "Kompetisi yang akan kau ikuti… bukan hanya ajang untuk menguji kekuatan. Ada pihak yang menggunakannya sebagai alat untuk menyingkirkan orang-orang tertentu. Jika kau pergi tanpa persiapan, kau tidak akan kembali." Arsel mendengus. "Kau berharap kami percaya begitu saja? Setelah semua yang

    Last Updated : 2025-03-27
  • Pendekar Pedang Naga   36. Pertarungan Akademi

    Kael terengah-engah. Dadanya terasa nyeri akibat hantaman sihir tadi. Di depannya, penyihir berjubah hitam itu tersenyum tipis. "Kau cukup tangguh. Tapi sayang, ini bukan pertarungan yang bisa kau menangkan." Kael mengepalkan tinjunya. Jika ia tetap diam, ia hanya akan menjadi sasaran empuk. Arsel sudah sibuk menghadapi dua lawan sekaligus. Ia terdesak, tapi masih bertahan. Kael tahu, jika mereka tidak melakukan sesuatu, mereka akan mati di sini. "Arsel, kau tahan yang lain! Aku akan menangani penyihir ini!" seru Kael, meskipun tubuhnya masih terasa sakit. Penyihir itu mendengus. "Kau? Melawanku? Coba saja." Tangan penyihir itu bergerak cepat, membentuk segel sihir lain. BOOM! Sebuah ledakan energi melesat ke arah Kael! Kael melompat ke samping, nyaris terkena ledakan itu. Udara di sekelilingnya bergetar, meninggalkan bekas hangus di tanah. Terlalu cepat! Kael bahkan tidak punya waktu untuk mendekat. Saat penyihir itu hendak melancarkan serangan lain— "ARGH!" Ar

    Last Updated : 2025-03-28
  • Pendekar Pedang Naga   1. Pembantaian

    Malam itu, langit desa Batu terlihat muram. Awan hitam pekat menggantung di atas desa, seakan memberi pertanda buruk. Hembusan angin dingin membawa keheningan yang mencekam, seolah seluruh alam tahu bahwa malam itu akan menjadi malam berdarah. Kael, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, sedang duduk di luar rumah bersama keluarganya. Mereka baru saja selesai makan malam, dan obrolan ringan antara ayahnya, ibu, dan adik perempuannya, mengisi suasana hangat di tengah dinginnya malam. "Besok, kita akan pergi ke ladang lebih pagi," kata ayah Kael, suaranya tenang namun tegas. "Panen kali ini harus maksimal sebelum cuaca benar-benar buruk." Kael mengangguk sambil menatap adiknya yang masih kecil. Lana yang sedang bermain-main dengan boneka jerami buatan ibu mereka. Senyum di wajahnya membuat Kael merasakan kehangatan, meskipun cuaca semakin mendingin. Dia sangat menyayangi Lana. Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari kejauhan. Kael yang sensitif segera berdiri dan mengali

    Last Updated : 2025-02-03
  • Pendekar Pedang Naga   2. Kekuatan Baru

    Pagi hari di dalam hutan terasa dingin, dan ketika Kael membuka matanya, dia mendapati dirinya berada di sebuah gubuk kecil. Rasa sakit di tubuhnya belum hilang, tetapi setidaknya dia bisa bernapas dengan lebih tenang. Di sudut ruangan, seorang kakek tua dengan rambut putih panjang sedang duduk, menatapnya dengan mata penuh perhatian. "Kau sudah bangun," kata kakek itu dengan suara lembut. "Tenanglah, kau aman di sini."Kael ingin berbicara, ingin bertanya siapa kakek ini dan bagaimana dia bisa berada di sini, tetapi mulutnya terasa kering. Kakek itu menyodorkan semangkuk air hangat. "Minumlah. Kau butuh istirahat."Dengan lemah, Kael mengambil mangkuk itu dan meminumnya sedikit demi sedikit. Rasa segar dari air tersebut memberi sedikit kekuatan bagi tubuhnya. Setelah beberapa saat, dia mencoba berbicara. "Siapa... siapa Anda?" suaranya serak dan lemah.Kakek itu tersenyum tipis. "Namaku Ling. Aku menemukanku di tengah hutan, dalam keadaan sekarat. Untung saja aku tiba tepat waktu."

    Last Updated : 2025-02-03
  • Pendekar Pedang Naga   3. Pedang Naga

    Kael memandang Pedang Naga di tangannya, pedang itu tidak lagi tampak seperti benda tua yang berkarat. “Kalau kau tidak yakin kau bisa mencoba untuk menarik pedang itu, jika pedang itu memilihmu maka karat itu akan hilang dengan sendirinya,” kata Kakek Ling melihat Kael yang terus memandangi pedang itu dengan tidak yakin.“Tapi Kek, aku tidak memiliki tekad murni seperti apa yang kakek katkan. Aku hanya ingin kekuatan besar untuk balas dendam,” ucap Kael yang masih saja ragu-ragu.“Aku masih ingat kekejaman para bandit. Aku pasti akan menemukan orang dengan tato kalajengking merah,” sambung Kael dengan penuh keyakinan membuat pedang naga yang ada di tangannya bersinar.Tekat balas dendamnya membangkitkan pedang naga yang sedang tertidur selama ini, Aura kuat keluar dari pedang itu membuat Kael terkejut dan mulai menarik pedangnya.“Pedang itu memilih mu,” Kaka Kakek Ling melihat cahaya pada bilah pedang yang begitu tajam, karat yang sudah menghilang membuktikan kekuatan tekad balas d

    Last Updated : 2025-02-03
  • Pendekar Pedang Naga   4. Pertarungan Dengan Bandit

    Latihan hari itu berlangsung lebih intens daripada biasanya. Kakek Ling membawa Kael melalui serangkaian gerakan yang jauh lebih rumit, menggabungkan teknik pedang dengan pengendalian napas dan konsentrasi batin. Setiap kali Kael mengayunkan pedangnya, dia harus memusatkan seluruh energinya pada satu titik, membiarkan tenaga dalamnya mengalir melalui gagang pedang dan menyatu dengan bilahnya.Awalnya, Kael merasa kesulitan. Tenaga dalamnya tidak selalu mengalir dengan lancar, dan terkadang emosinya masih menghalangi konsentrasinya. Tetapi dengan setiap latihan, ia mulai merasakan perubahan. Perlahan, dia mulai memahami bagaimana mengalirkan energinya ke dalam Pedang Naga. Setiap serangan menjadi lebih kuat, setiap gerakan lebih halus dan tepat. Pedang itu mulai merespons dengan lebih baik, seolah-olah ia dan pedang itu menjadi satu kesatuan.Ujian sesungguhnya datang ketika Kakek Ling memutuskan untuk menyerang Kael secara serius. Tanpa peringatan, Kakek Ling melancarkan serangan cepa

    Last Updated : 2025-02-03

Latest chapter

  • Pendekar Pedang Naga   36. Pertarungan Akademi

    Kael terengah-engah. Dadanya terasa nyeri akibat hantaman sihir tadi. Di depannya, penyihir berjubah hitam itu tersenyum tipis. "Kau cukup tangguh. Tapi sayang, ini bukan pertarungan yang bisa kau menangkan." Kael mengepalkan tinjunya. Jika ia tetap diam, ia hanya akan menjadi sasaran empuk. Arsel sudah sibuk menghadapi dua lawan sekaligus. Ia terdesak, tapi masih bertahan. Kael tahu, jika mereka tidak melakukan sesuatu, mereka akan mati di sini. "Arsel, kau tahan yang lain! Aku akan menangani penyihir ini!" seru Kael, meskipun tubuhnya masih terasa sakit. Penyihir itu mendengus. "Kau? Melawanku? Coba saja." Tangan penyihir itu bergerak cepat, membentuk segel sihir lain. BOOM! Sebuah ledakan energi melesat ke arah Kael! Kael melompat ke samping, nyaris terkena ledakan itu. Udara di sekelilingnya bergetar, meninggalkan bekas hangus di tanah. Terlalu cepat! Kael bahkan tidak punya waktu untuk mendekat. Saat penyihir itu hendak melancarkan serangan lain— "ARGH!" Ar

  • Pendekar Pedang Naga   35. Serangan Tiba-tiba

    Kael menegang. "Asmar?" gumamnya pelan, nyaris tak percaya pria itu datang ke akademi secara terang-terangan. Arsel segera mengambil posisi waspada, tangannya sudah di gagang pedang. "Kael, siapa orang ini?" Asmar tersenyum tipis. "Teman… atau musuh, tergantung bagaimana kau melihatnya." Kael menelan ludah. Ia tahu Asmar bukan tipe orang yang akan muncul tanpa alasan. Jika dia ada di sini, berarti ada sesuatu yang penting. "Apa yang kau inginkan?" tanya Kael, mencoba terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. Asmar melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang menguping. "Aku datang untuk memperingatkanmu." Kael mengerutkan kening. "Memperingatkanku?" Asmar mengangguk. "Kompetisi yang akan kau ikuti… bukan hanya ajang untuk menguji kekuatan. Ada pihak yang menggunakannya sebagai alat untuk menyingkirkan orang-orang tertentu. Jika kau pergi tanpa persiapan, kau tidak akan kembali." Arsel mendengus. "Kau berharap kami percaya begitu saja? Setelah semua yang

  • Pendekar Pedang Naga   35. Setrategi Kompetisi

    Kael menatap Asmar dengan ragu. BeKael dan Arsel keluar dari aula dengan pikiran yang dipenuhi beban. Mereka harus berlatih sekeras mungkin. Tidak hanya untuk menang, tetapi juga untuk bertahan hidup.Di halaman akademi, murid-murid lain masih sibuk membereskan sisa-sisa pertempuran. Tapi Kael dan Arsel tak bisa ikut membantu—mereka punya tugas yang lebih besar."Kita mulai dari mana?" tanya Arsel, menyandarkan pedangnya ke bahunya.Kael menghembuskan napas dalam. "Kita perlu mengasah teknik bertarung kita, tapi juga strategi. Kompetisi ini pasti lebih dari sekadar duel biasa."Arsel mengangguk. "Baiklah. Kita ke arena latihan sekarang?"Namun sebelum mereka bisa bergerak, seorang murid berlari ke arah mereka dengan wajah panik."Kael! Arsel! Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian di gerbang akademi!"Kael dan Arsel saling berpandangan. Siapa yang datang di saat seperti ini?Dengan langkah cepat, mereka menuju gerbang akademi.Di sana, berdiri seorang pria berjubah gelap denga

  • Pendekar Pedang Naga   33. Ketegangan di Akademi

    Kael menegang. Pertanyaan itu langsung menusuk ke inti pikirannya. Bagaimana Asmar tahu? Dengan sisa tenaganya, Kael mencoba duduk tegak, meski tubuhnya masih terasa lemah. Matanya menatap tajam ke arah lelaki paruh baya itu. "Apa maksudmu?" Asmar hanya tersenyum tipis. "Aku sudah lama mengamati akademimu, Nak. Dan serangan tadi malam bukan sekadar serangan acak. Itu adalah ujian." Kael mengernyit. "Ujian?" Asmar mengangguk. "Para penyerang itu tidak datang untuk menghancurkan akademimu. Mereka datang untuk mengukur kekuatan murid-murid di sana… dan mencari seseorang yang cukup kuat untuk tujuan mereka." Jantung Kael berdegup lebih cepat. "Mereka… sedang mencari seseorang?" "Ya," jawab Asmar dengan tenang. "Dan kau salah satu yang mereka incar." Ruangan terasa semakin sunyi. Kael ingin menyangkal, tapi semuanya mulai masuk akal. Serangan mendadak, cara musuh menghilang begitu cepat, pengkhianat di dalam akademi… semuanya terasa seperti bagian dari rencana yang lebih b

  • Pendekar Pedang Naga   32. Akademi di Serang

    Kael dan Arsel berdiri diam di tengah kegelapan, mencoba mencari tanda-tanda kehadiran sosok yang mereka kejar. Namun, bayangan itu benar-benar menghilang—seolah-olah ditelan oleh malam. "Tidak mungkin," bisik Arsel. "Aku yakin dia ada di sini beberapa detik yang lalu." Kael menggenggam pedangnya lebih erat. "Ini bukan pertama kalinya seseorang menghilang begitu saja. Kita sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak biasa." Arsel mengangguk. "Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati." Mereka berdua mundur perlahan, memutuskan untuk kembali ke kamar sebelum seseorang menyadari keberadaan mereka di luar asrama. Namun, tepat saat mereka berbalik, sesuatu menarik perhatian Kael. Di tanah, di tempat bayangan itu menghilang, ada secarik kain hitam tersangkut di ranting semak. Kael berlutut dan mengambilnya. Kain itu terasa kasar, seolah berasal dari jubah berat yang sering digunakan untuk perjalanan jauh atau penyamaran. Namun, yang membuatnya lebih menarik adalah bau samar

  • Pendekar Pedang Naga   31. Pesan Misterius

    Di akademi, persiapan untuk Kompetisi Antar Akademi semakin intens. Setiap tingkat diharuskan mengajukan perwakilan terbaik mereka untuk bertanding dalam berbagai cabang—pertarungan, strategi, dan kecepatan berpikir. Para murid sibuk berlatih, aula utama dipenuhi suara dentingan senjata, percikan energi sihir, serta diskusi serius tentang taktik dan strategi.Kael, yang sebelumnya terganggu oleh pikirannya tentang para bandit, mencoba fokus. Ia tahu bahwa kompetisi ini adalah kesempatan besar—bukan hanya untuk membuktikan kemampuannya, tetapi juga untuk menjadi lebih kuat."Baiklah, semua berkumpul!" suara Guru Besar menggema di halaman akademi, memanggil para murid terbaik dari setiap tingkat. "Kami akan mengumumkan siapa saja yang terpilih untuk mewakili akademi dalam kompetisi tahun ini!"Kerumunan langsung hening. Semua menahan napas, menunggu pengumuman itu.Kael mengepalkan tangannya. Apakah ia cukup layak untuk dipilih? Atau justru harus menonton dari pinggir lapangan?Guru Bes

  • Pendekar Pedang Naga   30. Pencarian Yang Sia-sia

    Malam itu, mereka kembali ke asrama. Mereka tidak banyak bicara, hanya beristirahat setelah hari yang melelahkan. Kael berdiri di dekat jendela, menatap bulan. Pertandingan Antar Akademi sudah dekat. Latihan mereka mungkin telah berakhir, tetapi pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.Guru besar memberikan waktu untuk bersiap. Kael memanfaatkan waktu luang untuk kembali mencari informasi tentang para bandit. Sudah lama ia tidak pergi ke tempat itu, dan pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran. Saat ia bersiap untuk pergi, Arsel, sahabatnya, memperhatikannya dengan curiga. "Kau mau ke mana, Kael?" tanyanya, menyilangkan tangan di dada. "Ke tempat kemarin, di gang dekat pasar," jawab Kael sambil menyesuaikan sarung pedangnya. Arsel mengerutkan kening. "Apa kau masih menyelidiki para bandit?" Kael mengangguk. "Iya. Aku penasaran, jadi aku akan kembali ke sana." Arsel mendesah, lalu tersenyum tipis. "Aku ikut." Tanpa menunggu persetujuan, ia sudah menyambar senjatanya

  • Pendekar Pedang Naga   29. Persiapan Pertandingan

    Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Kael dan timnya. Setiap pagi, mereka harus berlari melintasi gunung di belakang akademi. Siang hari dihabiskan dengan latihan fisik brutal, mengangkat batu besar, menahan postur bertarung selama berjam-jam, dan serangan tanpa henti ke balok kayu hingga tangan mereka mati rasa. Sore harinya, latihan teknik dimulai. Guru Besar menghadapkan mereka pada berbagai skenario pertempuran—melawan banyak musuh, menghadapi tekanan tanpa istirahat, bahkan pertarungan dalam kegelapan. "Dalam Pertandingan Antar Akademi, tidak ada yang akan menyesuaikan diri dengan kelemahan kalian," kata Guru Besar. "Jika ingin menang, kalian harus bisa bertarung dalam kondisi apa pun." Di hari kelima, Kael mulai merasakan batas fisiknya. Kakinya nyaris tidak bisa berdiri, tangannya gemetar, dan napasnya terasa berat. Guru Besar tidak membiarkannya berhenti. "Bangun, Kael. Lawanmu belum tumbang." Kael terhuyung, tetapi ia memaksa tubuhnya berdiri. Lawan di depa

  • Pendekar Pedang Naga   28. Latihan dibawah Guru Besar

    Saat sorakan kemenangan masih menggema, Guru Besar berdiri dari tempat duduknya. Tatapannya terfokus pada Kael dan timnya. Para murid lain mungkin hanya melihat sekelompok anak berbakat yang memenangkan kompetisi, tetapi Guru Besar melihat lebih dari itu. Mereka bukan hanya kuat—mereka memiliki potensi yang luar biasa. Terutama Kael. "Aku harus mengawasi mereka lebih dekat," gumamnya. Tanpa menunggu lama, Guru Besar turun ke arena. Kael dan timnya baru saja selesai merayakan kemenangan mereka ketika suasana tiba-tiba menjadi hening. Semua murid menunduk hormat saat Guru Besar berjalan mendekati mereka. Kael menegakkan tubuhnya, bersiap menghadapi apa pun yang akan dikatakan. "Kael. Arsel. Rael. Daren." Suara Guru Besar menggema di seluruh arena. "Kalian telah menunjukkan sesuatu yang tidak dimiliki murid lain—kerja sama, strategi, dan tekad yang kuat." Kael dan yang lainnya saling berpandangan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini. Lalu, Guru Besar menatap me

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status