Siluman Penghisap Darah bangkit berdiri. Meski dengan tubuh terlihat gontai, namun dia terlihat baik-baik saja. Dadanya terlihat biru karena terkena serangan Ajian Bola Iblis. Bima menatap makhluk itu. Pedangnya di angkat ke atas. Aura warna biru muncul dari pedang tersebut. "Aku akan menghajarnya dengan ledakan es beruntun,mungkin akan membuatnya tak sempat memulihkan tubuhnya," kata Bima. "Tapi itu menghabiskan tenaga dalam milikmu, apa kau yakin?" tanya Iblis Es. "Tak perlu dengan kekuatan penuh, aku bisa membaginya dengan empat ledakan, itu sudah cukup untuk menahan garakan tubuhnya," kata Bima. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah itu?" tanya Iblis Es. "Meminjam Iblis Bayangan dan mengakhirinya menggunakan Rantai Tulang Iblis, bukankah itu bagus?" Iblis Es tertawa. "Rencana yang lumayan, tapi jika itu gagal, kau akan mati," kata Iblis Es. "Tenang saja, aku sudah memperhitungkan semuanya dengan tepat, aku rasa timing ku sudah cukup terlatih untuk melawan musuh yang leb
Senjata Rantai Tulang Iblis itu melesat dengan cepat menyambar patung es Siluman Penghisap Darah. Senjata itu pun menembus tubuh Siluman tersebut dengan telak. Bima segera menarik kembali Rantai Tulang Iblis sehingga tubuh Siluman itu meluncur ke arahnya. "Sekarang, gunakan pedang itu!" ucap Iblis Bayangan. Bima menggenggam erat pedangnya. Aura hitam keluar dari pedang tersebut. Namun sebelum tubuh yang membeku itu sampai, sebuah cahaya merah meledakkan patung es tersebut. Bima menutupi wajahnya dengan lengan saat ledakan itu menyebar ke arahnya. "Celaka! Bima! Musuh telah mendapatkan pencerahan swtelah melawanmu! Dia baru saja menemukan wujud sempurnanya!" seru Iblis Bayangan. "Wujud sempurna katamu!?" tanya Bima tak mengerti. "Benar! Aku bisa merasakannya karena senjata Rantai Tulang ini masih terhubung ke arah sana, aku merasakan perubahan yang sempurna! Mungkin dia telah berubah wujud ke bentuk manusia!" kata Iblis Bayangan. Bima masih kurang paham apa itu bentuk sempurna.
Tubuh Bima meluncur ke arah Araca yang siap dengan tinjunya. Dengan cepat Bima memasang perisai pada tubuhnya. Dessshh! Tinju wanita siluman itu menghantam perut Bima. Untungnya tinju itu tertahan perisai es milik Bima. Meski perisai itu hancur dan tubuh Bima terpental beberapa tombak di udara. "Ugghhhh...! Sangat kuat!" seru Bima dalam hati. Dia merasa tubuhnya seperti di hantam godam raksasa. Araca tersenyum sinis. Tubuhnya merunduk sesaat lalu melesat dengan cepat menyusul tubuh Bima yang masih meluncur di udara. "Tak akan ku biarkan kau menginjak tanah!" teriak Araca dengan posisi tubuh berada di bawah Bima. Kaki Araca menendang punggung Bima hingga tubuh pemuda itu terpental ke atas. Bima tak bisa berkutik. Beberapa tulangnya terasa patah oleh pukulan dan tendangan Araca. Namun tidak cukup sampai di situ saja Acara terbang menyusul tubuh Bima ke atas. Tahu-tahu wanita itu sudah berada di atas Bima dengan senyum seringai dan tinju yang siap menghantam. "Rasakan siksaan in
Mata Bima terbuka perlahan. Samar-samar dia melihat sosok gadis cantik tengah menatap wajahnya dengan jarak yang sangat dekat. "Intan...?" lirih Bima. "Kamu sudah sadar... Jangan banyak bergerak dulu, kekuatanmu sangat lemah, dan beberapa tulangmu patah. Butuh berhari-hari untuk sembuh," kata Intan. "Dimana siluman itu...?" tanya Bima menoleh ke kanan dan ke kiri. "Dia kabur dengan luka parah di tubuhnya, sepertinya dia terluka karena benda yang saat ini menempel di tanganmu," kata Intan. Bima langsung mengangkat tangannya. Dia melihat Rantai Tulang Iblis yang menempel bahkan menancap di lengannya tersebut. "Aku tak menyangka dia menjadi patuh terhadapku," kata Bima sambil tersenyum. Tubuhnya masih tergeletak di tempat yang sama sebelum dia tak sadarkan diri. Intan hanya mempunyai merawat seadanya karena dia juga terluka. Apalagi dia juga merawat Rukma yang tergeletak masih tak sadarkan diri. Kekalahan itu sungguh memukul hati Bima. Apalagi dengan tewasnya Sinta, membuatnya m
Bima dan dua gadis Peri itu tiba di sebuah desa Peri yang lumayan ramai meski desa itu berbatasan dengan hutan yang di penuhi siluman. Mereka tiba menjelang sore hari. Intan dan Rukma menyempatkan diri untuk membeli pakaian. Bima memperhatikan alat pembayaran yang mereka pakai. Ternyata dua Peri itu tidak membayar dengan uang atau tail emas seperti yang ada di dunia manusia. Kedua Peri itu membayar dengan membagikan roh yang mereka tangkap selama di hutan sebelumnya. Roh itu bisa berupa roh siluman tingkat tinggi mau pun tingkat rendah. Bima melihat dua gadis itu hanya mempunyai roh kelas rendah yang cukup murah harganya. Sementara kain yang ingin mereka beli cukup mahal harganya. Sehingga terjadi tawar menawar di antara dua gadis peri tersebut dengan sang penjual. Bima tersenyum melihat dua gadis itu cemberut karena tak mendapatkan apa yang ingin mereka beli. "Kalian tunggu di sini, biar aku yang menawar pakaian untuk
Intan dan Rukma memakai pakaian yang mereka inginkan. Bima membebaskan dua gadis itu memilih pakaian yang terbaik. Bima pun memilih pakaian yang baginya paling cocok,yaitu pakaian warna merah. Peri tua yang sebelumnya terlihat sinis hanya bisa tersenyum dan berharap tiga orang itu segera pergi. "Tuan dan nona-nona, hari sudah mulai gelap, kurasa aku akan segera menutup tokonya karena banyak siluman dari perbatasan desa berkeliaran di malam hari," kata Peri tua tersebut. "Kami akan segera selesai pak tua, tenang saja, jika ada siluman, aku akan memburunya," sahut Bima membuat Peri tua tersebut terdiam. Dia baru sadar jika ada pembantai di dalam tokonya. Jadi dia tak perlu merasa khawatir lagi. Setelah gadis-gadis Peri itu selesai, Bima pun mengajak mereka pergi dari toko tersebut. Setelah mereka keluar, pemilik toko segera menutup tokonya dengan terburu-buru. Dan ternyata semua rumah dan kedai yang ada di desa tersebut telah tutup. Bahkan tak ada satu warga desa Peri tersebut yang
Sepuluh kesatria itu menanti di gerbang Desa. Mereka melihat ratusan siluman yang mendatangi desa tersebut. "Sejak puluhan tahun, baru kali ini siluman datang dengan pasukan sebanyak ini," kata pemimpin kelompok. "Ketua Lesmana, apakah kita yakin bisa melawan ratusan siluman ini? Kekuatan kita terbatas," ucap salah satu kesatria. "Hmm, aku tak bisa menjawab. Tapi aku tak peduli kita kalah atau tidak. Yang pasti, nyawa kita adalah untuk kerajaan dan rakyat, untuk apa kita menjadi kesatria agung jika takut pada kematian?" ucap ketua bernama Lesmana. Di depan mereka para siluman mulai mendekat ke arah pagar kayu yang di buat oleh penduduk sekitar. "Waktunya bertempur! Jangan biarkan satu siluman pun masuk ke dalam gerbang!" teriak Lesmana. "Siap ketua!" sahut sembilan kesatria lain. "Berpencar! Kalau bisa, kembali dengan selamat!" perintah Lesmana terkahir kali sebelum melompat ke arah para siluman. Pa
Melihat sosok pemuda yang datang membantu para kesatria peri, mereka langsung bersemangat melanjutkan pertarungan. Gerakan kilat Bima dan tajamnya pedang yang dia bawa membuat para siluman itu tak berkutik. Bima dengan mudah menusuk dan menebas. Setelah ajian Bola Iblis menghantam kerumunan siluman tersebut, Bima dengan cepat memotong semua siluman yang membeku terkena ledakan. Intan dan Rukma datang membantu menyelamatkan satu kesatria yang terluka parah. Kaki kanan dan kedua tangannya buntung. Beberapa tubuhnya juga koyak terkena cabikan dan gigitan siluman beruang Api. Para kesatria tersebut terkejut melihat dua gadis peri yang ikut membantu. Namun mereka tak mempedulikan dua gadis itu. Mereka harus tetap terjaga dari setiap serangan lawan. Jika lengah sedikit saja, nyawa adalah taruhannya. Pertarungan semakin ganas. Perbatasan desa dan hutan itu sudah menjadi lahan es. Banyak siluman mati membeku. Bima benar-benar menikmati saat melihat siluman-siluman itu mati di oleh pedan
Kedua muda mudi itu saling berpelukan cukup lama. Setelah puas mereka berpelukan, Arimbi mengajak Bima untuk masuk ke dalam kamarnya. "Aku dengar, kakang ingin menyampaikan sesuatu, tapi... Sebelum membahas apa yang ingin kakang katakan, bisakah kita berbicara tentang kita lebih dulu? Aku sangat kangen padamu," kata Arimbi sambil bergelayut di leher Bima. "Aku pun sangat merindukan dirimu," kata Bima sambil menatap mata Arimbi. Saat itu Arimbi mengenakan gaun tipis berwarna putih. Pakaiannya sedikit menerawang sehingga beberapa bagian tubuhnya terlihat menonjol dengan jelas. Bima sedikit menahan perasaan nya saat bagian tubuh Arimbi yang lembut menekan dan menggosok kulitnya. "Apakah Ratu Agung tidak ada di sini?" tanya Bima sambil celingukan. Arimbi tertawa. "Dia sudah tahu aku adalah kekasihmu, sudah pasti dia pergi dari sini jika tak ingin melihat orang lain memadu kasih," kata Arimbi sambil tersenyum. "Memadu kasih?" tanya Bima. Arimbi tersenyum. Wajahnya mendekat ke waja
Bima seperti baru tersadar dari mimpinya. Dia menatap ke depan. Pedang Darah milik Bima telah menempel di lehernya sendiri. "Kamu kalah, pendekar..." ucap Ratu Agung sambil tersenyum. Bima menatap Ratu itu dengan tatapan tajam. "Ssjak kapan dia merebut pedang ku? Apakah tadi hanya ilusi...?" batin Bima. Ratu Agung memasukkan kembali pedang Darah itu ke sarungnya lalu melemparkan nya ke arah Bima. "Jangan khawatir, aku bukanlah Ratu yang ingkar janji. Semua yang kamu alami tadi adalah nyata, dan hanya aku dan kamu yang tahu apa yang kita bicarakan tadi," kata Ratu sambil berjalan ke dalam istananya. "Pelayan, siapkan kamar tamu kehormatan untuk dua orang ini, sekarang mereka telah menjadi tamu di Klan kita. Jangan ada yang berani menyentuh mereka, tanpa seijinku!" kata Ratu Agung sambil masuk ke dalam istana. Para siluman Elang membungkuk hormat. Ratu Azalea menatap ke arah Ratu Agung tanpa berkedip. "Pertarungan tadi, sepertinya aku merasa ada yang aneh. Tatapan mata Kakang B
Bima telah berpindah tempat dengan belati petir miliknya. Sasaran yang dia tuju adalah belakang tubuh Ratu Agung yang terbuka. Sementara Ratu Agung sibuk menahan Seribu Duri Es milik Bima, pemuda itu telah menghilang dari tempatnya dan berada di belakang tubuh Ratu Agung. "Mati kau..." batin Bima yang dengan yakin langsung menusuk tubuh Ratu Agung dengan pedang Darah miliknya. Jleb! Pedang Darah menancap di punggung Ratu Agung. Bima menatap dengan aneh karena Ratu Agung tidak berteriak kesakitan atau pun terdorong ke depan oleh tekanan pedang darah miliknya. "Apa yang terjadi...?" batin Bima yang merasa sangat aneh pada sosok Ratu Agung di depannya itu. "Kamu sedang apa?" bertanya satu suara dari atas kepala Bima. Bima segera mendongak ke atas dengan tatapan terkejut. "Sayap Perak!?" seru Bima yang sangat terkejut melihat sayap di belakang tubuh Ratu Agung. "Benar, sayap Perak, sayap milik kekasihmu Arimbi yang telah kamu tinggalkan... Aku merasa sayang dengan kekuatan sejati
Bima berteriak keras. Aura biru di dalam tubuhnya semakin banyak yang keluar membuat gelombang kekuatan yang dahsyat. Semua orang menatap dengan takjub. Bima telah menembus Ranah Tulang Dewa karena amarahnya yang melebihi batas. Mendengar perkataan Ratu Agung sebelumnya membuat Bima menduga Arimbi telah di jatuhi hukuman mati dia bulan yang lalu. Hal itu membuat Bima merasa sangat bersalah karena tidak paham maksud dari Pedang Shang Widi yang ditancapkan di depan goa. "Ternyata begitu... Seandainya aku datang waktu itu, dia bisa selamat... Bodohnya aku malah justru berlatih sayap es dan membiarkan nya mati..." batin Bima dengan tinju terkepal. Namun berkat amarah murni dan rasa bersalahnya, Bima justru melakukan terobosan yang tidak dia sangka sama sekali. Dia naik ke Ranah Tulang Dewa tahap Awal. Sungguh di luar dugaan. "Secara tak langsung, Ratu itu justru membantu dirinya naik Ranah, sungguh satu hal yang jarang terjadi," Kata Iblis Es. "Bakat Bima memang luar biasa, aku sem
Bima dan Ratu Azalea melangkah keluar goa. Long dan Canglong mengantar mereka hingga di mulut goa. "Berhati-hatilah anak muda, setahuku Ratu Agung bukan pendekar biasa, sejauh ini kekuatannya belum pernah muncul. Namun jika yang mengantar pedang itu adalah dia, itu artinya dia adalah pendekar yang sangat kuat," kata Long. Bima mengangguk. "Bisa sampai di pulau ini tanpa di ketahui oleh indra ku saja sudah hebat, itu sudah cukup membuatku harus memperhitungkan kekuatan nya." kata Bima menyahut. "Bagus, kamu juga sudah meningkat pesat dalam beberapa bulan ini, aku yakin pada kekuatan milikmu," Ucap Long sambil tersenyum. Bima mengulurkan tangannya. Jemari lembut Ratu menerimanya. Ratu cantik itu memeluk tubuh Bima. "Pegangan yang erat," kata Bima. Ratu Azalea mengangguk. Mata Bima pun menyala biru. Sayap es dari punggungnya keluar dengan cahaya warna biru indah. Sesaat Bima menoleh kearah Long dan Canglong. "Jaga diri kalian baik-baik, kita akan berjumpa lagi di lain waktu," ka
Bima mendarat di depan goa dan melihat Ratu Azalea yang tengah menatapnya. "Ada apa Ratu? Kamu tidak tidur?" tanya Bima sambil mendekati Ratu. Sayap tulang es miliknya masuk kembali kedalam tubuhnya. Ratu tersenyum manis. Bima tak pernah bosan melihat senyuman itu. Hatinya terasa damai seketika. "Aku sedang melihat kakang berlatih, sekarang kakang sudah mempunyai tulang es, sungguh pencapaian yang luar biasa," puji Ratu. Bima mendekat di depan Ratu Azalea. Diraihnya tangan wanita itu. "Aku ingin kuat dan bisa melindungi dirimu dengan kekuatan ku. Itu adalah janjiku pada guru Tanduk Api," ucap Bima sambil menatap mata Ratu Azalea. Ratu tersipu malu. Selama beberapa bulan ini baru kali ini Bima mendekatinya lagi. Pemuda itu sangat keras berlatih hingga tak peduli waktu sama sekali. Berada di dekat pemuda itu secara langsung membuat Ratu kembali merasakan debaran yang belum pernah dia rasakan. "Aku senang, tapi... Kamu berlatih terlalu keras sehingga tidak menoleh kearahku sama s
Bima bangkit berdiri. Sayap nya bergerak beberapa kali. Dia menatap sayap es miliknya dan terkagum-kagum. "Iblis Es, aku berhasil..." kata Bima girang. "Hmhm,kamu adalah seorang yang jenius. Dalam sejarah dunia ini dan para Iblis, hanya kamu seorang yang berhasil mengganti tulang milikmu dengan tulang es." kata Iblis Es. "Apa!? Hanya aku seorang katamu!?" tanya Bima. "Benar, mereka kebanyakan takut mengambil tindakan. Terlalu berpikir pada akibat dan kegagalan. Mereka tidak mempunyai ketangguhan jiwa sehebat dirimu. Kamu, sama seperti aku, tanpa rasa takut," kata Iblis Es. "Luar biasa jika benar demikian, aku sudah merasakan aura tenaga dalamku semakin meningkat. Sepertinya aku akan naik ke ranah berikutnya," kata Bima. "Hoo? Itu sangat bagus, sekarang cobalah kamu terbang untuk pertama kali. Seharusnya itu mudah bagimu, meski sedikit kesulitan mengendalikan tulang es milikmu untuk pertama kalinya." kata Iblis Es. Bima mengangguk. Dia segera mengepakkan sayap es miliknya. Perla
Bima mulai memasukkan elemen es ke dalam tulang nya secara perlahan. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan raut wajah kesakitan. "Aku harus bertahan... Aku tidak boleh gagal!" batin Bima. "Lakukan secara perlahan dan berkesinambungan, jangan berhenti, kamu akan gagal dan bisa mengakibatkan cacat permanen pada tulang!" kata Iblis Es. Ratu Azalea menatap dari dalam goa. Dia melihat apa yang sedang Bima lakukan. "Penyatuan elemen dan tulang? Di Ranah Keabadian Tahap Akhir seharusnya belum bisa melakukannya, bagaimana kakang bisa mengetahui teknik itu?" batin Ratu Azalea. Bima berteriak keras saat elemen es mulai mengalir di seluruh tulang yang ada pada tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya berteriak setinggi langit. Ratu Azalea hanya bisa melihat sambil menutup matanya. "Aku yang sudah berada di ranah Cakrawala saja tidak pernah berani menyatukan elemen dengan tulang, bagaimana bisa pemuda yang masih berada di Ranah Keabadian ini berani mengambil tindakan senekat ini? Ap
Bima terpaku melihat pedang yang menancap di atas tanah. Pedang yang sangat tidak asing baginya. "Pedang Shang Widi...!?" dengan cepat Bima mendekati pedang tersebut. Bima mencabut pedang itu dan melihat bercak darah di pinggiran pedang. "Darah ini masih baru, mungkin belum jauh dari sini, siapa orang yang membawa pedang ini, apa maksudnya dia menancapkan pedang ini di sini!" Bima menatap tembok pedang es raksasa. "Aku terlalu sering menggunakan kekuatan Iblis Tanduk Api. Hanya dua kali saja sudah membuat beberapa tubuh bagian dalamku sakit, apa yang harus aku lakukan?" batin Bima. Ratu Azalea keluar dari dalam goa bersama Long. Mereka melihat Bima yang terlihat gelisah sambil membawa pedang. "Ada apa kakang?" tanya Ratu Azalea sambil memegang lengan Bima dengan lembut. "Pedang ini adalah pedang yang selalu dibawa Arimbi. Aku meminjamkannya saat kami berpetualang bersama ke Hutan Awan Hitam. Dan setelah pedang ini hilang bersama Arimbi, tiba-tiba dia sudah ada di sini," kata Bi