Cuì Zhú Lín bergemuruh dalam kegelapan malam, diterangi hanya oleh kilatan api di sekitar Yāo Māo. Percikan pusaran air bercampur dengan angin dingin menusuk, meresap ke dalam tiap hela napas.Huànyǐng menggeliat dalam cengkeraman Yāo Māo. Kuku-kuku tajam makhluk iblis itu menekan kulit lehernya, menciptakan goresan merah yang semakin dalam. Rasa sakit menjalar, disertai darah yang hangat menetes dari luka-luka di leher. Napasnya tersengal, tercekik dalam genggaman kejam itu."Kau... mau apa?" suaranya terputus-putus, berusaha meraih sedikit udara. Tangannya meraba-raba, mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman Yāo Māo begitu kuat, bagaikan belenggu baja yang tak tergoyahkan.Senyuman tipis tersungging di bibir makhluk itu. Namun, sebelum sempat menjawab, denting guqin mendadak menggema, memecah ketegangan. Suara petikan itu melayang lembut, tapi mengandung tekanan yang tidak kasatmata.Yāo Māo mendesis marah. Matanya yang berkilat keemasan beral
Denting senar guqin menggema semakin nyata, membaur dengan desir angin yang menyusup di antara batang-batang bambu hijau di Cuì Zhú Lín. Melodi yang indah sekaligus menusuk jiwa itu mengalun lembut. Diiringi denting lonceng yang semakin kencang, seakan mengiringi sebuah kedatangan yang tak terduga. Sesosok berjubah putih muncul dari balik rumpun bambu yang menjulang. Ujung jubahnya berkibar-kibar tertiup angin, menambah aura agung dan tak terjangkau yang menyelimutinya. Jemarinya yang ramping menyentuh senar guqin dengan anggun, dan dalam sekejap, seberkas cahaya kebiruan melesat tajam ke arah Yāo Māo. Makhluk cantik itu menjerit, cengkeramannya pada leher Huànyǐng terlepas, membuat tubuh pemuda itu ambruk tanpa daya. Sebelum ia jatuh menyentuh tanah, sesosok lain muncul dengan kecepatan luar biasa dan menyambarnya dalam satu gerakan sempurna. Seisi tempat itu mendadak sunyi. "Yīnlǜ Shèngzhě! Wúshuāng Jiàn Shèng!" Para kultivator senior bergumam lirih, seolah tak percaya dengan
Sementara itu, Wúshuāng Jiàn Shèng dan Yīnlǜ Shèngzhě masih berhadapan dengan Yāo Māo. Shēngbō Gōngjí, gelombang suara mematikan dari guqin milik Yīnlǜ Shèngzhě, berpadu dengan Shén Jiàn Pòmiè, serangan pedang Ilahi milik Wúshuāng Jiàn Shèng, menciptakan guncangan dahsyat yang membuat Yāo Māo kalang kabut. Kekuatan yang bergabung memecah udara malam di Cuì Zhú Lín, mengguncang hutan bambu yang tenang.Geraman-geraman kemarahan kucing betina itu melengking, mengisi udara malam yang dingin dengan getaran yang menusuk. Para kultivator hanya bisa menatap dengan kagum sekaligus cemas, merasa ketegangan yang terasa begitu nyata, seolah bisa mempengaruhi siapa saja yang berada di dekat area pertarungan."Kita harus menjauh. Benturan kekuatan mereka dapat melukai siapa saja yang berada di dekat area pertarungan," ucap salah seorang kultivator dengan nada cemas. Dia segera memimpin kelompoknya menjauh, bergabung dengan yang lain yang juga menghindari bahaya."Benar
Langit masih berselimut cahaya fajar ketika matahari mulai merayap naik dari balik perbukitan jauh. Embun pagi menggantung di dedaunan wisteria, menguarkan aroma lembut yang bercampur dengan kesejukan udara. Di dalam Jìng Jū (Griya Hening), sebuah ruangan tenang di Kediaman Aroma Wisteria, tiga pria duduk mengelilingi meja kayu.Asap tipis mengepul dari teko porselen, membawa wangi teh yang hangat dan menenangkan. Di luar, suara burung-burung kecil bersahutan di antara pepohonan, melengkapi kesunyian yang menyelimuti perbincangan mereka.Wúshuāng Jiàn Shèng, Yīnlǜ Shèngzhě, dan He Yun Dàshī duduk diam sejenak, menikmati ketenangan sebelum topik yang lebih berat harus dibahas."He Yun Dàshī, Jiàn Ménzhǔ, apa rencana kalian selanjutnya?" suara lembut He Yun Dàshī memecah kesunyian."Xiōngzhǎng, Jiàn Ménzhǔ, apa rencana kalian selanjutnya?" suara He Yun Dàshī memecah kesunyian, nadanya tenang namun mengandung ketajaman tersembunyi."Untuk sa
"Chénxī!" Suara cempreng Huànyǐng menggema di seluruh Zǐténg Jū, memecah ketenangan kediaman itu.Ia berlarian ke sana kemari, sibuk mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Yue Èr Gōngzǐ, Yue Tiānyin? Dengan riang gembira, ia menggendong makhluk berbulu putih yang bergulung manja di pelukannya, sesekali membelainya dengan penuh kasih sayang."Jangan membuat keributan di Zǐténg Jū," tegur Tiānyin ketika akhirnya melihat pemuda itu dengan segala tingkah absurdnya."Yue Èr Gēge, aku mencarimu ke mana-mana!" seru Huànyǐng tanpa sadar menaikkan nada suaranya, membuat Tiānyin seketika melotot.Namun, panggilan itu justru membuat telinganya memerah. Malu. Meski wajahnya tetap datar seperti biasanya, semburat merah tipis tidak bisa disembunyikan dari pucuk telinganya."Jangan memanggilku seperti itu," gumamnya pelan, segera memalingkan wajah.Huànyǐng terkekeh, menangkap reaksi yang menarik dari pemuda bermata biru itu. "Ah, kau tidak
Huànyǐng tertegun menatap kompleks bangunan di depannya. Meski bentuknya tidak jauh berbeda dari tempat-tempat lain di Kediaman Aroma Wisteria, paviliun yang berdiri di hadapannya memiliki aura yang berbeda—seolah terpisah dari dunia di sekelilingnya."Chénxī, ini kediaman pribadimu?" tanyanya dengan ragu-ragu.Tiānyin hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Mendahului Huànyǐng yang masih terpukau, Tiānyin melangkah ringan di atas jalan setapak yang berlapis batu putih. Shuǐyùn Tíng terletak di tepi air terjun yang selama ini hanya bisa dilihat Huànyǐng dari kejauhan. Sekarang, suara gemuruhnya terdengar begitu dekat. Menggetarkan udara di sekitarnya. Butiran air beterbangan, berkilauan di bawah sinar matahari, membentuk bias pelangi yang samar di antara kabut ungu bunga wisteria. Tempat ini seakan terjalin dari elemen-elemen alam yang hidup. Air, angin, cahaya, dan keharuman lembut wisteria yang melayang di udara."Masuklah!" Suara dalam Tiānyin
Huànyǐng kehilangan kata-kata. Tidak seperti biasanya, di mana ia selalu sigap membalas setiap ucapan yang ditujukan padanya. Namun, perkataan Tiānyin barusan benar-benar membuatnya bingung."Chénxī, apa maksudmu?" tanyanya dengan hati-hati, bibirnya sedikit meringis seolah mencicipi rasa pahit yang tak kasatmata.Sungguh, Huànyǐng tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya jika benar-benar tinggal di Sungai Ungu Gelap bersama Tiānyin. Ia hampir bisa merasakan betapa sepinya tempat itu. Sunyi, seperti air yang mengalir tanpa suara. Mungkin, ia akan mati karena bosan."Tinggallah di sini, bersamaku," ulang Tiānyin, nadanya datar, tetapi sorot matanya tak terbaca."Yue Èr Gēge, bercandamu tidak lucu!" Huànyǐng merajuk. Ekspresi wajahnya menampakkan ketidaksenangan. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan omelannya, sesuatu bergerak di pelukannya."Eh, jangan kabur!" serunya panik saat makhluk berbulu putih yang sedari tadi bergelung nyaman tiba-tiba melompat dan melarikan diri. "Lihat, Shen
Zǐténg Jū (Kediaman Wisteria) diselimuti cahaya senja yang keemasan. Angin sore berembus lembut, menggoyangkan kelopak bunga wisteria yang menjuntai dari pergola kayu, menebarkan aroma samar yang menenangkan. Namun, di halaman dalam, suasana jauh dari ketenangan."Dà Gē! Èr Gē!" Huànyǐng berteriak kesal, suaranya menggema di antara tiang-tiang kayu ungu. Dengan napas memburu, dia berusaha mempertahankan posisinya dalam handstand, sementara tangannya mulai bergetar karena kelelahan. Di sampingnya, Jian Lei juga berjuang keras agar tidak kehilangan keseimbangan.Di bawah tatapan dingin Tiānyin, kedua pemuda itu dipaksa untuk berlatih oleh kedua kakak mereka, Jian Wei dan Jian Xue."Diamlah, Huànyǐng!" Jian Lei mendesis, wajahnya sudah memerah menahan beban tubuh. Meski dia juga kesulitan, dia tidak berani membantah perintah kedua kakak mereka."Lei! Kau belum tahu rasanya berdiri terbalik seperti ini seharian!" Huànyǐng menggerutu dengan nada dramatis.Tentu saja, dia berlebihan. Setid
"Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme
Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa
"Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.
Jian Wei memimpin mereka mendekati lokasi jejak roh terdekat. Langkah-langkah mereka nyaris tak bersuara, seolah menyatu dengan hembusan angin dingin yang menyelusup di antara celah-celah tebing. Beberapa roh dikenal sangat peka terhadap suara, bahkan sekadar desir angin pun bisa membangkitkan kewaspadaan mereka."A Xue, gunakan Bīng Suǒ Shù untuk memperlambat pergerakannya," bisiknya lirih. "Jejak energinya akan lebih lama bertahan dan memudahkan kita melacaknya."Jian Xuě tanpa ragu menghunus pedangnya, Bīng Xīn Shèng Jiàn, pedang suci hati es yang berkilauan di bawah cahaya samar. Dengan satu gerakan ringan, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin. Teknik Bīng Suǒ Shù pun dilepaskan, menciptakan embusan es yang membekukan area sekitar tanpa menimbulkan suara."Dia masih berada di dalam gua sempit itu," ucap Jian Xuě pelan.Jian Wei mengangguk. "Baiklah! Kita harus segera menguncinya!" ujarnya, tetap dalam bisikan. Ia menoleh k
Tiān Bīng Yá, Tebing Langit EsTebing Langit Es adalah salah satu lokasi paling ekstrem di Shén Wù Gǔ. Kabut putih pekat menyelimuti tempat ini, bercampur dengan serpihan es kecil yang melayang di udara, menciptakan suasana dingin dan penuh misteri. Angin berembus kencang, membawa butiran salju yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh membentuk lapisan putih tebal di sepanjang permukaan tebing.Di tengah pemandangan yang memukau sekaligus mematikan ini, Huànyǐng dan saudara-saudaranya berdiri dalam balutan mantel tebal, berusaha menahan hawa menusuk yang merasuk hingga ke tulang."Wow! Dingin sekali!" Seruan itu terdengar dari beberapa orang yang segera mengerahkan energi spiritual mereka untuk menstabilkan suhu tubuh. Namun, meski telah mengenakan pakaian hangat dan melindungi diri dengan energi, hawa dingin di Tebing Langit Es tetap menggigit.Huànyǐng menengadah, menatap tebing-tebing yang menjulang tinggi di hadapannya. Permukaannya yang ter
Di panggung kehormatan yang menjulang di atas arena perburuan, angin berembus lembut, membawa aroma teh dan arak yang disajikan dalam poci giok. Cahaya matahari yang menyaring dari sela-sela tirai sutra tipis menerangi wajah para tamu kehormatan—para ketua sekte, pemimpin klan, tetua berpengaruh, serta pejabat kekaisaran. Dan tentu saja, di pusat segala perhatian, duduk dengan tenang Kaisar Jìng Yǔhàn, mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam keemasan yang memancarkan wibawa.Sementara para peserta perburuan bergegas ke zona pelacakan, para tamu berbincang dengan santai, sesekali menyesap teh atau arak hangat dari cawan mereka."Yīnlǜ Shengzhe, sudah lama dirimu tidak menghadiri Perburuan Roh. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik kali ini?" tanya seorang ketua klan dengan nada penuh rasa ingin tahu.Pria yang dipanggil Yīnlǜ Shengzhe itu hanya tersenyum tipis. Garis ketampanannya jelas menurun pada kedua putranya, tetapi ekspresi tenangnya membuatny
Perburuan Roh Musim Gugur dimulai. Seperti tradisi setiap tahunnya, ada tiga babak yang harus dilalui para peserta sebelum meraih kemenangan dan hadiah istimewa yang selalu dinantikan."Pelacakan, pertempuran strategi, dan penangkapan akhir adalah tiga babak dalam Perburuan Roh. Kita harus melewati babak pelacakan terlebih dahulu sebelum bisa menghadapi tantangan berikutnya," jelas Jian Xue kepada adik-adiknya.Mereka tengah menunggu Jian Wei yang pergi mengambil undian untuk menentukan zona awal perburuan. Penentuan ini bertujuan memisahkan sekte-sekte besar di tahap awal agar pertarungan lebih seimbang. Dengan begitu, sekte kecil memiliki kesempatan untuk bersinar, sementara ketegangan antar sekte besar tetap terjaga hingga pertemuan di babak selanjutnya.Jian Xia, yang sejak tadi terlihat cemas, akhirnya bersuara. "Èr Gē, apakah kau sudah mempelajari zona perburuan kali ini?"Jian Xue menoleh dan mengangkat bahu dengan ekspresi sedikit meringis
“Jian Gūniang!”Seruan menggema dari tribun penonton saat Jian Xia melintasi panggung kehormatan. Pemuda dan gadis-gadis bersorak memanggil namanya, melemparkan bunga dan hadiah ke udara. Namun, Jian Xia hanya membalas dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, seolah kegaduhan itu tak benar-benar menyentuhnya.“Kya! Tiānyù Jiànzhàn! Tampan sekali!” Seruan lain terdengar. Kali ini dari sekumpulan gadis yang mencuri pandang penuh kagum ke arah pria berjubah hitam dan ungu yang duduk tenang, matanya tak bergeming dari jalan di depannya."Jian Èr Gōngzǐ juga tampan!""Eh, itu Jian Si dan Jian Wu Gōngzǐ, bukan?"Teriakan dari tribun semakin riuh.“Tampan seperti kakak mereka!”“Jian Wu Gōngzǐ imut dan menggemaskan!”Kalimat terakhir itu nyaris membuat Jian Xue dan Jian Lei jatuh dari kuda mereka. Mereka saling bertukar pandang sebelum terkikik geli. Imut dan menggemaskan? Itu tentu mengacu pada Huànyǐng, adik mereka y
Shén Wù Gǔ adalah perpaduan luar biasa antara kabut mistis yang melayang di udara, hijaunya pepohonan yang menjulang tinggi, serta sungai berkilauan yang berkelok-kelok di antara tebing-tebing batu. Setiap zona perburuan di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari lembah berkabut yang penuh rahasia, hutan lebat yang dipenuhi makhluk spiritual, hingga air terjun gemuruh yang menyembunyikan tantangan tak terduga. Tempat ini bukan sekadar indah, melainkan sarat dengan aura magis dan bahaya tersembunyi.Itulah kesan pertama yang tertangkap saat para peserta Perburuan Roh menyaksikan Shén Wù Gǔ yang terbentang luas di hadapan mereka."Indahnya! Sungguh sesuai dengan julukannya, Lembah Kabut Dewa!" seruan-seruan kagum terdengar bersahut-sahutan di antara para kultivator muda.Bahkan Huànyǐng dan saudara-saudaranya pun tak bisa mengalihkan pandangan. Langit biru membentang luas, menaungi lautan kabut yang berputar perlahan seakan memiliki nyawa. Pucuk-pu