Wah, terima kasih kak Ian Pian, kasih Gem tambahan lagi(≧▽≦) oleh karena itu, othor kasih bonus tambah 1 bab lagi hari ini. mungkin sore atau malam. jadi hari ini ada total 3 bab ayo-ayo, yang mau kasih Gem atau Hadiah, othor menerima dengan senang hati, wkwkwkwk. kalau ada tambahan 5 Gem lagi hari ini, othor tambahin bonus satu bab lagi, jadi 4 bab(✷‿✷) kalau tidak, cukup 3 bab aja hari ini. ditunggu saja bab berikutnya, ciao (◠‿・)—☆
Kluster Mutiara Berkilau berdiri angkuh di jantung Golden River, sebuah kawasan perumahan elit yang menjadi simbol kemewahan dan prestise. Rumah-rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan lambang status yang tak sembarang orang bisa miliki. Setiap unit, dengan harga lebih dari 100 miliar Nex, menjadi hunian eksklusif bagi para pewaris kerajaan bisnis dan pemilik perusahaan ternama di Nexopolis. Di salah satu sudut kawasan ini, tepatnya di sebuah unit mewah bernilai 150 miliar Nex, Rindy Snowfield tengah menjalani ritual malamnya. Berendam di bathtub mewah setelah hari yang panjang di kantor telah menjadi kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan. Malam itu, Rindy memejamkan mata rapat-rapat, membenamkan seluruh tubuhnya dalam gelembung-gelembung air dan hanya menyisakan kepalanya di atas permukaan. Ketenangan itu terganggu oleh dering ponsel yang memecah keheningan. Dengan enggan, Rindy mengulurkan tangannya yang lentik untuk mengangkat telepon. "CEO Rindy," suara Ade
Suasana di Paviliun Kejayaan berubah tegang dalam sekejap. Pernyataan Ryan yang menyebut patung berharga itu palsu bagaikan bom yang meledak di tengah kerumunan. Angelica, si gadis muda, adalah yang pertama bereaksi. "Dasar pria kampung!" teriaknya dengan wajah merah padam. "Apa kau tahu apa yang kau katakan? Palsu? Percayalah padaku, aku bisa memenjarakanmu karena kasus pencemaran nama baik!" "Oh aku tahu … kau pasti datang kemari memang sengaja untuk mencari masalah, kan?" lanjutnya. Ryan hanya menatapnya dengan tenang, tak terpengaruh oleh ledakan emosi gadis itu. Sikapnya yang santai justru semakin membuat Angelica naik pitam. "Kau!" Angelica menunjuk Ryan dengan jari bergetar. "Kau hanya sampah yang tidak berpendidikan! Berani-beraninya kau mencoba mencoreng reputasi Paviliun Kejayaan!" Keributan itu menarik perhatian para penjaga keamanan di sekitar mereka. Dengan sigap, mereka mulai bergerak mendekati Ryan, siap untuk menangkapnya. Namun sebelum mereka sempat bertin
"Kau!" Angelica menggeram, matanya berkilat penuh amarah. Dengan gerakan cepat, ia kembali meluncurkan tendangan kuat ke arah Ryan. Ryan, yang sedari tadi hanya diam mengamati, akhirnya bergerak. Dengan santai, ia mengulurkan tangannya dan memberikan dorongan kecil seolah hanya mengusir lalat yang mengganggu. Seketika itu juga, gelombang energi Qi yang tak kasat mata melonjak keluar dari telapak tangannya, memaksa Angelica menjauh dengan kekuatan yang tak terbayangkan Angelica, yang tak siap dengan serangan balik itu, terhempas ke belakang. Untungnya, Ryan telah menekan kekuatannya sehingga gadis itu hanya mendarat dengan pantatnya di lantai marmer Paviliun Kejayaan. "Ugh!" Angelica mengerang, lebih karena terkejut daripada kesakitan. Matanya melebar, menatap Ryan dengan campuran ketakutan dan ketidakpercayaan. "Ma-manipulasi energi Qi! Bagaimana mungkin?!" Frederich Herbald, yang menyaksikan kejadian itu dari dekat, merasakan gelombang kengerian melonjak di kedalaman hatinya.
Frederich Herbald menatap Ryan dengan sorot mata penuh perhitungan. Pikirannya berpacu, menimbang-nimbang situasi yang tak terduga ini. 'Jika keluarga Herbald di Kota Golden River bisa mendapatkan dukungan seorang grandmaster bela diri seperti Ryan, status kami akan meroket!' pikirnya. Bisnis keluarga Herbald di bidang tanaman obat memang tidak terlalu menonjol, bahkan sering mendapat celaan dari cabang utama keluarga Herbald di Provinsi Riviera. Frederich sadar, satu-satunya cara agar keluarganya dapat dianggap serius oleh keluarga inti adalah dengan menjalin hubungan dekat dengan pemuda luar biasa di hadapannya ini."Tuan," Frederich berkata dengan hati-hati, "jika Anda berkenan, bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut tentang kecurigaan Anda terhadap patung ini?"Ryan menatap patung itu sejenak, lalu berkata dengan nada datar, "Jika kau ingin tahu keasliannya, keluarkan patung itu dari lemari kaca dan bawa padaku. Aku akan membuktikannya."Tanpa ragu, Frederich memerintahkan petug
Frederich segera teringat kejadian yang terjadi lima tahun lalu. Ingatannya melayang ke malam berdarah yang mengguncang Kota Golden River, saat keluarga Pendragon dibantai oleh orang berpengaruh dari Ibu Kota. "Ryan..." gumam Frederich pelan, matanya menyipit mengamati pemuda di hadapannya. Bayangan seorang remaja berusia 17 tahun bernama Ryan Pendragon muncul dalam benaknya. Jika masih hidup, usianya sekarang akan hampir sama dengan pemuda yang berdiri di hadapannya ini. Namun, Frederich menggelengkan kepalanya, menepis pikiran itu. Tidak mungkin mereka orang yang sama. "Tuan Ryan," Frederich berkata dengan hati-hati, "boleh saya tahu nama lengkap Anda?" Ryan menatap Frederich dengan tatapan datar. "Ryan Reynald," jawabnya singkat. Frederich mengangguk pelan, sedikit kecewa. Tentu saja, pikirnya, nama Ryan cukup umum. Tidak mungkin pemuda ini ada hubungannya dengan keluarga Pendragon yang malang itu. "Ah, Tuan Reynald," Frederich tersenyum sopan, "maafkan pertanyaan lanc
Ryan tidak menyadari bahwa ia telah menjadi target terbaru keluarga Herbald. Mereka akan berusaha keras menarik Ryan ke sisinya.Akan tetapi, pikirannya Ryan saat ini dipenuhi oleh rencana-rencana kultivasi dan balas dendam yang telah ia susun selama lima tahun terakhir. Saat ini, tidak ada yang lebih diinginkannya selain berkultivasi dengan tenang dan melakukan perjalanan ke Ibu Kota untuk membunuh orang yang telah memusnahkan keluarganya.Setelah keluar dari Paviliun Kejayaan, Ryan awalnya berniat memanggil taksi. Namun, mungkin karena saat itu sedang jam kerja, tidak ada satu pun taksi yang lewat setelah dia menunggu cukup lama."Yah, sepertinya aku harus berolahraga sedikit," gumam Ryan pada dirinya sendiri, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Lagipula, apartemen Adel tidak terlalu jauh dari sini."Sambil menarik tudung hoodie-nya, Ryan mulai berlari dengan langkah mantap. Jika ada yang memperhatikan dengan seksama, mereka mungkin akan melihat energi Qi samar di bawah kakinya,
Entah apa alasannya, pria bertopi itu terus merasa bahwa dirinya sedang diselimuti oleh lapisan udara aneh yang membuatnya berpikir bahwa ia akan mati jika dirinya berbohong! Perasaan ini membuatnya gemetar, keringat dingin membasahi dahinya meski udara siang itu cukup sejuk di bawah awan mendung. "K-keluarga Blackwood!" pria itu tergagap, suaranya bergetar. "Orang yang menyebar kabar ini adalah Jeremy Blackwood! Itu saja yang aku tahu, tolong lepaskan aku!" Ryan mengangkat alisnya, ekspresinya campuran antara terkejut dan geli. "Oh? Tuan Blackwood yang terhormat itu? Menarik sekali." Pria itu, merasa sedikit lega karena Ryan tidak langsung membunuhnya, melanjutkan dengan terburu-buru, "Aku juga mendengar, hari ini Jeremy Blackwood telah mengerahkan banyak orang dalam mencarimu. Kabar yang beredar, dia juga memeriksa seluruh CCTV di setiap kawasan untuk mencarimu…" Ryan mengangguk pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia akhirnya mengerti segalanya. Tiga hari yang
Adel mendengar suara di belakangnya dan tahu bahwa Ryan telah kembali. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan tetap fokus pada cermin di hadapannya.Adel berbalik, memutar matanya pura-pura kesal. Namun Ryan bisa melihat rona merah samar di pipinya. "Dalam mimpimu, Ryan," ujarnya, berusaha terdengar sarkastis meski gagal total.Ryan menyeringai, matanya menelusuri lekuk tubuh Adel yang dibalut pakaian seksi. "Oh, ayolah. Kau tidak bisa menyangkal bahwa kau memang berpakaian seperti ini untukku," godanya.Adel mendengus, tapi senyum kecil tersungging di bibirnya. "Jangan terlalu percaya diri, Ryan . Aku selalu berpakaian seperti ini saat akhir pekan.""Benarkah?" Ryan mengangkat alisnya, pura-pura terkejut. "Kalau begitu, mungkin aku harus lebih sering pulang cepat di akhir pekan."Adel tertawa kecil, lalu bertanya dengan nada menggoda, "Bagaimana menurutmu? Apakah aku terlihat cantik memakai ini?"Ryan terdiam sejenak, matanya tidak bisa lepa
Yordan Panderman berada di depan, memimpin para pengikut Sekte Dao. Mereka bergegas ke sini saat merasakan perubahan energi yang terjadi di ruang kultivasi. Fenomena langit itu, ditambah gelombang energi yang dapat dirasakan bahkan dari luar paviliun, jelas merupakan tanda bahwa harta karun itu telah aktif.Jika harta karun jahat itu benar-benar berhasil disempurnakan oleh orang selain mereka, maka perjalanan mereka ke sini akan menjadi tidak berarti, dan Yordan Panderman pasti akan ditegur oleh ketua sekte saat dia kembali—jika dia masih punya nyali untuk kembali.Shina Walker segera tahu bahwa ada yang tidak beres begitu melihat kumpulan orang asing yang mendekat. Pakaian hitam dengan simbol Sekte Dao terlihat jelas di jubah mereka. Dia belum pernah berhadapan langsung dengan Sekte Dao, tapi reputasi mereka yang kejam dan tidak berperikemanusiaan sudah menjadi rahasia umum.Dia sangat jelas tentang kekuatannya sendiri. Orang-orang ini jauh lebih kuat daripada ayahnya, apalagi d
Ryan memejamkan matanya rapat-rapat, rasa sakit di wajahnya terlihat jelas. Aura hitam yang tak berujung seakan ingin melahap Ryan.Tubuhnya melayang beberapa inci di atas lantai ruang kultivasi, dikelilingi energi gelap yang berputar-putar seperti badai. Setiap beberapa detik, tubuhnya mengejang hebat, menandakan pertarungan sengit yang tengah berlangsung di dalam dirinya.Di satu sisi, manik naga dengan energi jahatnya berusaha mengambil alih, menawarkan kekuatan menakjubkan namun dengan harga yang besar. Di sisi lain, kesadaran Ryan, bersama dengan naga darah dan api abadinya, melawan untuk mempertahankan kendali.Pada saat ini, batu giok naga di saku Ryan tiba-tiba bergetar kuat. Dengan gerakan halus namun pasti, benda itu melayang keluar dengan sendirinya, bercahaya terang di tengah kegelapan. Cahaya lembut berwarna hijau pucat memancar dari permukaannya, menciptakan kontras menarik dengan aura hitam yang menyelimuti ruangan.Begitu batu itu sepenuhnya keluar dari saku Ryan, c
Tirst Walker, yang telah bangkit dari jatuhnya, tidak tahan lagi melihat ayahnya disiksa. Dengan tangisan putus asa, dia bergegas mendekati Yordan, berusaha menghentikan penyiksaan. Namun, belum sempat dia mencapai mereka, telapak tangan Yordan melesat dan menghantam dadanya tanpa dia bahkan melihat ke arahnya."Uhuk!" Tirst terpental beberapa meter, memuntahkan darah saat tubuhnya menghantam pilar di belakangnya. Kesenjangan kekuatan mereka terlalu besar!Puas dengan reaksi yang dia dapatkan, Yordan Panderman menampakkan senyum ganas. Dia berhenti menyiksa Leonard sejenak dan berkata kepada para pengikut Sekte Dao yang selama ini diam mengamati di belakangnya, "Tiga dari kalian tetaplah di belakang untuk menyiksa Leonard Walker sampai ia mati! Sisanya, ikuti aku untuk menemukan sampah dengan akar fana dan harta karun jahat itu!""Baik, Tuan!" jawab para pengikut dengan serempak, penuh kepatuhan.Tiga orang anggota Sekte Dao segera melangkah maju, mata mereka berkilat kejam saat me
Lengan Yordan Panderman bergetar sedikit, dan semua pecahan kayu yang melayang tiba-tiba melesat keluar. Mereka bergerak dengan kecepatan luar biasa, menciptakan percikan api yang hebat saat berderit di udara. Suara siulan tajam terdengar saat pecahan-pecahan itu membelah udara, menuju Leonard dan putrinya.Leonard Walker, meski terluka parah, masih memiliki naluri melindungi yang kuat. Dia cepat-cepat mendorong putrinya menjauh, berusaha menyelamatkannya dari serangan mematikan itu. "Tirst, menyingkir!" teriaknya panik. Pada saat yang sama, dengan gerakan cepat yang dipenuhi determinasi, dia menghunus pedang panjang yang tersampir di pinggangnya, menaruhnya di depan tubuhnya sebagai perisai. Energi qi-nya yang tersisa—sangat terbatas karena luka-lukanya—dia alirkan ke dalam pedang, membuat senjata itu bersinar redup.Tang! Tang! Tang!Suara besi bertemu kayu berulang kali terdengar saat pecahan k
Leonard Walker menatap pecahan kayu yang melayang di depan pemuda itu dengan ekspresi serius, "Ini adalah Slaughter Land. Mungkinkah Sekte Dao begitu sombong hingga bertindak di sini?"Meski seluruh tubuhnya terasa nyeri akibat benturan keras sebelumnya, Leonard masih berdiri tegak. Darah yang mengalir dari sudut bibirnya ia usap dengan punggung tangannya. Matanya berkilat tajam, menunjukkan keberanian seorang mantan anggota Eagle Squad yang telah menghadapi berbagai situasi berbahaya sepanjang hidupnya."Jika sesuatu terjadi padaku, orang di balik Paviliun Angin Segar pasti akan marah. Saat itu, aku ingin melihat apakah kau masih bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!"Ancamannya diucapkan dengan tenang namun penuh keyakinan. Leonard tahu persis bahwa Paviliun Angin Segar berada di bawah perlindungan salah satu faksi terbesar di Slaughter Land. Meski dia hanya pemilik Paviliun, namun dia telah membayar sejumlah be
Seluruh paviliun bergetar hebat, beberapa pilar dekoratif bahkan runtuh ke lantai. Formasi pelindung yang baru saja diperbaiki kembali mengalami kerusakan besar, jauh lebih parah dari sebelumnya."Itu bukan serangan biasa," ucap Leonard Walker dengan wajah pucat. "Mereka menggunakan semacam senjata penghancur formasi!"Tanpa mempedulikan yang lain, Leonard Walker segera mengeluarkan tiga tetes esensi darahnya lagi. Ini adalah pengorbanan besar—tiga tetes saripati darah bisa membuatnya kehilangan satu tingkat kultivasi. Namun, keselamatan keluarganya dan Ryan lebih penting.Namun, belum sempat tetesan saripati darahnya mencapai formasi, benturan keras lainnya—lebih kuat dari sebelumnya—menghantam formasi!WHAM!Susunan formasi Paviliun Angin Segar runtuh sepenuhnya, dan pintu kokohnya yang terbuat dari kayu seribu tahun juga hancur berkeping-keping! Layaknya tsunami energi spiritual, kekuatan serangan menyapu seluruh aula, menghancurkan perabotan dan dekorasi.Leonard Walker, yang b
Di Paviliun Angin Segar, tepat di luar ruang kultivasi tempat Ryan berada, Leonard Walker dan kedua putrinya menunggu dengan cemas.Leonard Walker tampak gelisah, matanya sesekali melirik ke arah pintu ruang kultivasi yang tertutup rapat. Sebagai mantan anggota Eagle Squad, dia bisa merasakan bahaya yang mendekat, dan instingnya mengatakan bahwa mereka semua dalam situasi yang sangat berbahaya.Shina Walker, putri bungsunya, tampak paling khawatir di antara ketiganya. Bagaimanapun, Ryan telah menyelamatkan mereka di Slaughter Forest. Ekspresi kesakitan Ryan sebelum memasuki ruang kultivasi terus menghantui pikirannya."Ayah, apakah sesuatu akan terjadi pada Kakak Ryan?" tanyanya dengan suara pelan, kecemasan jelas terlihat di wajahnya yang cantik.Leonard Walker menggelengkan kepalanya, tidak ingin menambah kekhawatiran putrinya. "Instruktur adalah orang yang kuat," jawabnya singkat, meski di dalam hati dia pun tidak yakin."Kondisinya pasti ada hubungannya dengan manik darah," lanj
Meskipun setan dan iblis dari dunia lain pada akhirnya dapat ditumpas berkat kekuatan gabungan dari banyak kultivator, harga yang harus mereka bayar sangatlah besar! Bagi yang masih hidup dan menyaksikan sendiri pertempuran akhir itu, kenangan akan raungan para iblis, aroma kematian yang memenuhi udara, dan langit yang tertutup darah masih segar dalam ingatan mereka. Bahkan Gunung Langit Biru yang megah kehilangan hampir setengah dari populasi kultivatornya, dan butuh berabad-abad untuk pulih sepenuhnya.Dengan demikian, fenomena saat ini menimbulkan ketakutan dan kepanikan di kalangan mereka yang mengetahui apa yang terjadi saat itu. Kisah-kisah tentang iblis dan kehancuran mereka telah diturunkan dari generasi ke generasi, menjadi legenda yang menakutkan bagi anak-anak, namun juga peringatan akan bahaya nyata bagi para kultivator."Masuk ke dalam rumah dan jangan keluar sampai fenomena ini berlalu!" seorang ibu berteriak pada anaknya yang ketakutan di Pasar Utara Slaughter Land.
Meski Ryan menggunakannya dengan maksimal, namun kombinasi kekuatan naga darah dan api abadi belum cukup untuk menetralisir energi jahat manik naga yang luar biasa kuat."Rune kehidupan, keluarlah!" Ryan tidak kehilangan akal. Dengan satu lagi teriakan keras, rune yang merupakan salah satu kartu trufnya teraktivasi.Petir biru menyambar seluruh tubuhnya, menciptakan jaringan kilat yang indah namun mematikan, lalu mengalir ke dahinya, berkumpul di titik di mana manik naga tersegel.Naga Darah! Api Abadi! Petir Ilahi dari Rune Kehidupan! Energi qi!Empat kekuatan yang sangat berbeda kini mengalir bersamaan ke dahi Ryan, membentuk cahaya empat warna yang menyilaukan—merah dari naga darah, jingga dari api abadi, biru dari petir rune kehidupan, dan keemasan dari energi qi Ryan sendiri. Keempat energi ini membungkus manik naga, menahannya agar tidak meloloskan diri.Di tengah pertarungan energi yang luar biasa ini, manik naga itu bergetar hebat, seolah berteriak dalam kemarahan. Dan pada