Share

Bab 199

Author: Emilia Sebastian
Setelah Kaisar menurunkan dekret itu, semua orang di ibu kota segera mengetahui kabar bahwa Putri Suci akan berangkat ke Kalika untuk mengadakan upacara permohonan hujan sehari lagi.

Semua orang di ibu kota pun mulai berdiskusi. Tidak peduli apa yang dikatakan para pejabat dan kaum bangsawan, setidaknya rakyat jelata dengan tulus mendoakan Syakia. Mereka berharap Putri Suci Pembawa Berkah yang baik hati itu dapat tiba di Kalika dengan selamat, juga kembali dengan selamat.

Bagaimanapun juga, di mata rakyat jelata, pejabat yang bersedia pergi ke lokasi bencana sangatlah sedikit, apalagi seorang wanita yang lemah. Namun, Putri Suci malah bersedia melakukannya.

Selain menunjukkan keberanian, tindakan itu juga membuktikan bahwa Putri Suci adalah orang yang baik hati. Putri Suci bersedia mengambil risiko seperti itu bukankah karena benar-benar tulus memikirkan rakyat jelata?

Pada saat ini, Syakia yang baik hati di mata rakyat jelata sedang duduk dalam kereta kuda. Wajahnya yang cantik menun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 200

    Ketika memikirkan ada orang lain di balik hal ini, wajah Ayu langsung melintasi benak Syakia. Selain Ayu, dia benar-benar tidak terpikirkan siapa lagi yang mungkin memanfaatkan kesempatan ini untuk menghadapinya, apalagi dengan memanfaatkan Laras.Syakia pun menunduk. Ada kilatan kesuraman yang melintasi matanya.Setelah Syakia kembali ke Kuil Bulani, Shanti buru-buru menemuinya. Shanti yang biasanya bertampang serius terlihat sangat khawatir saat ini.“Sahana, kenapa kamu harus pergi ke Kalika? Bukannya semua upacara permohonan hujan dulu dilakukan di ibu kota?” tanya Shanti. Pertanyaan ini sama persis dengan yang dilontarkan Adika sebelumnya.Syakia pun tersenyum dan menggenggam tangan Shanti. “Yang Mulia Kaisar sudah menjelaskannya. Kekeringan di Kalika kali ini sangat serius. Dengan pergi ke Kalika, hati rakyat baru bisa benar-benar ditenangkan. Tapi Guru nggak perlu khawatir, Yang Mulia Kaisar sudah mengutus Pangeran Adika untuk melindungiku ke sana secara pribadi. Aku nggak akan

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 201

    Dalam perjalanan pulang, Syakia bersandar pada punggung Hala dan memeluknya dengan erat. Kedua orang itu tidak mengucapkan sepatah kata pun mengenai rahasia tadi. Yang satu telah mengungkapkan rahasianya, sedangkan yang satu lagi membantunya menyimpan rahasia itu.Saat tiba di Kuil Bulani, langit sudah terang. Syakia pun tidak lagi tidur, melainkan hanya minum seteguk air spiritual dari ruang giok untuk menyegarkan diri. Sebelum Adika tiba, dia memanggil Hala keluar lagi. Sebab, ada hal penting yang harus diserahkannya pada Hala.“Hala, kamu seharusnya sudah pernah ketemu sama pengawal rahasia Adipati Damar. Kamu rasa kamu bisa menghadapinya?”Hala mengangguk. “Bisa.”“Baguslah kalau begitu. Setelah aku dan Pangeran Adika pergi sehari, bantulah aku menculik seseorang dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan.”“Baik.” Hala bahkan tidak bertanya siapa dan langsung menyetujuinya.Syakia pun tertawa. “Kamu sudah sering ketemu sama orangnya. Yang kumaksud itu Ayu. Sekarang, dia seharusnya c

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 202

    Abista benar-benar merasa cemas dan mengkhawatirkan Syakia yang akan pergi ke Kalika. Namun, dia juga selalu terlalu meremehkan tekad Syakia.“Tuan Abista nggak perlu ngomong lagi. Aku sendiri yang bersedia pergi ke Kalika dan harus pergi ke sana. Nggak akan ada yang bisa mengubah keputusanku.”“Syakia, kamu sudah gila?” Tidak peduli itu dulu maupun sekarang, Abista benar-benar tidak dapat memahami pemikiran Syakia.“Kenapa kamu harus pergi ke tempat yang begitu berbahaya? Dulu, Kakak juga selalu membujukmu, tapi kamu nggak pernah mau dengar bujukan Kakak. Kamu nggak bersedia pulang, juga nggak mau ubah keputusanmu!”“Kamu itu memang putri suci, tapi kamu juga cuma bisa hidup di kuil. Sudah cukup kamu harus jalani kehidupan biksuni yang begitu sulit. Sekarang, masalah ini berkaitan dengan hidup dan mati. Apa kamu tahu betapa kacaunya Kalika saat ini? Syakia, jangan keras kepala lagi. Ikutlah Kakak pulang ke rumah!”Abista tidak ingin Syakia pergi ke Kalika dan berusaha untuk membujukny

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 203

    Berhubung tidak ingin Syakia diganggu oleh orang lain, Adika langsung memberi perintah pada bawahannya untuk mencegat siapa pun yang hendak mencari Syakia. Syakia yang duduk di dalam kereta kuda akan mendengar suara dari luar sesekali.Sepertinya, Abdi sempat datang. Panji yang aneh itu juga. Namun, Syakia tidak tahu bahwa masih ada seseorang yang datang untuk mengantar kepergiannya. Orang itu tidak lain adalah Laras.Melihat kereta kuda dan pasukan yang berjalan makin menjauh, Laras yang membawa dayang pribadinya berdiri di belakang pohon dan menatap kosong ke depan.“Syakia, kamu seharusnya sudah melupakanku, ‘kan? Tapi, mana boleh kamu melupakanku?” Laras menertawakan dirinya sendiri. “Kamu pernah bilang kita akan jadi teman yang paling baik. Sayangnya, dalam hatimu, aku nggak akan bisa dibandingkan dengan Cempaka selamanya,” gumam Laras. Dia bahkan tidak peduli pada jarinya yang sudah berdarah karena tidak berhenti mengorek kulit pohon.Laras hanya memandang ke arah kereta kuda Sy

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 204

    Syakia mengangguk dengan patuh. Setelah Adika keluar dan berbelok ke sebelah kanan untuk masuk ke kamarnya sendiri, Syakia baru menutup pintu kamarnya dan mulai beres-beres. Tidak lama kemudian, Pangeran Pemangku Kaisar itu pun datang dan mengetuk pintunya.“Sahana, sudah selesai beres-beres?”Sangat jelas bahwa Adika ingin mendesaknya untuk turun dan makan. Syakia yang baru selesai merapikan tempat tidur pun tidak bisa berkata-kata.Baiklah, dibandingkan dengan Pangeran Pemangku Kaisar yang sering bepergian untuk berperang, Syakia mengakui gerakannya memang lebih lambat. Dia pun berpikir untuk lanjut beres-beres nanti.“Tunggu sebentar.” Syakia membuka pintu kamar, lalu berjalan keluar. “Ayo jalan. Aku bisa cium aroma wangi dari lantai bawah. Sepertinya, makanannya sudah dihidangkan.”Kebetulan, Syakia memang juga sudah lapar.Adika pun tertawa. “Aku lupa kasih tahu kamu ada camilan di kotak kayu dalam kereta kuda. Kalau lapar, kamu boleh memakannya.”Syakia yang sudah duduk seharian

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 205

    “Kenapa kamu nggak makan daging sedikit pun dan cuma makan sayur?”Adika juga makan sangat cepat. Seusai makan, dia pun tidak berhenti menatap Syakia makan. Namun, dia segera menyadari ada yang aneh. Gadis ini hanya mengambil sayur tanpa makan sepotong daging pun.Adika pun bertanya dengan kening berkerut, “Kamu nggak suka masakan daging yang dimasak tempat ini?”Syakia menggeleng, lalu menjawab sambil tersenyum, “Pangeran sudah lupa? Aku ini seorang biksuni. Biksuni nggak boleh makan daging.”Berhubung yang dikenakan Syakia saat ini adalah pakaian orang biasa dan bukan jubah biksuni, Adika benar-benar lupa. Setelah mendengar jawaban Syakia, dia baru tertegun, tetapi kerutan di dahinya malah menjadi makin dalam.Syakia pada dasarnya memang kurus, juga kecil. Jika tidak makan daging, bagaimana tubuhnya bisa bertumbuh dengan baik?“Nggak boleh makan sedikit pun?”Syakia menggeleng. “Nggak boleh.”Adika membujuknya, “Ini kan bukan di Kuil Bulani, curi makan dikit juga boleh.”Syakia tetap

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 206

    “Baik.”Setelah memberi perintah, Adika pun naik ke lantai atas. Ketika tiba di depan tangga, dia memanggil pelayan pos pemberhentian ini dan berkata, “Bawakan 2 ember air ke kamarku.”“Ba ... baik. Aku akan segera naik! Tunggu sebentar!”Pelayan yang sudah ketakutan dari tadi buru-buru berlari kembali ke dapur.Adika pun naik ke tangga. Dia awalnya berencana untuk terlebih dahulu mandi dan berganti pakaian sebelum mencari Syakia supaya tidak menakuti gadis itu. Tak disangka, baru saja dia tiba di lantai 3, dia sudah melihat Syakia yang duduk menunggu di luar pintu.Adika sontak terkejut. “Kenapa kamu tunggu di luar? Bukannya aku suruh kamu kembali ke kamar dulu?”“Aku tentu saja menunggumu! Kenapa tubuhmu berlumuran darah? Kamu terluka?” tanya Syakia dengan khawatir. Dia buru-buru berdiri dan menghampiri Adika begitu melihat tampangnya.“Aku nggak apa-apa. Ini bukan darahku.” Adika tersenyum tipis. Melihat Syakia yang begitu mengkhawatirkannya, dia pun berkata dengan bangga, “Dengan a

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 207

    Syakia sudah menyadari dari dulu betapa tampannya Pangeran Pemangku Kaisar ini. Namun, dia tidak menyangka ketampanan Adika juga dipenuhi dengan pesona yang sangat memikat.Syakia merasa hatinya mungkin akan tergerak apabila lanjut menatap Adika. Dia pun buru-buru memalingkan wajah, lalu berkata dengan terbata-bata, “Pa ... Pangeran, rambutmu sepertinya agak berantakan. Kamu mau mengikatnya dulu biar nggak kena ke lukamu nanti?”Adika pada dasarnya memang sengaja berpenampilan begini. Jadi, dia tentu saja tidak melewatkan mata Syakia yang dipenuhi dengan ketakjuban. Dulu, Adika tidak pernah peduli pada penampilannya. Saat ini, dia malah terlihat bagaikan burung merak Jantan yang tidak berhenti menonjolkan diri pada musim kawin.“Hmm? Bisa mengganggu? Aku juga nggak tahu. Gimana kalau kamu bantu aku periksa dulu?” tanya Adika sambil berjalan ke depan Syakia.Kemudian, Adika membelakangi Syakia dan menurunkan pakaiannya untuk menunjukkan lengannya yang berotot dan punggungnya yang kekar

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 236

    “Aku nggak peduli kalian itu bawahan siapa, juga nggak peduli untuk apa kalian datang kemari. Sejak kalian menginjakkan kaki ke Kuil Bulani malam ini, kalian sudah ditakdirkan untuk mati.”Adika menancapkan pedangnya di lantai depannya, lalu melirik para pengawal rahasia yang ditahan di atas lantai. Seluruh tubuh mereka telah digeledah. Bahkan racun yang tersimpan di gigi mereka juga dicabut satu per satu. Saat ini, mereka bagaikan ikan yang berada di atas talenan.Adika menatap mereka dengan dingin. Setelah menunggu sesaat, pengawal rahasia yang terakhir akhirnya dibawa keluar.“Bruk!”Hala yang tubuhnya terluka oleh satu sayatan pedang berjalan keluar dengan pelan sambil menyeret seseorang yang berlumuran darah. Kemudian, dia melempar orang itu di hadapan semua pengawal rahasia.Para pengawal rahasia Keluarga Angkola tentu saja mengenal orang itu. Dia adalah Sando, pengawal rahasia kepercayaan Damar. Sekarang, dia sudah sepenuhnya lumpuh.“Bagus, semua orangnya sudah berkumpul.”Adik

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 235

    Saat ini, Adika sangat marah. Setelah mengawal Syakia pergi ke Kalika, dia baru tahu seberapa banyak bahaya yang ada di sisi gadis ini. Jadi, begitu mendengar Kaisar mengatakan ada orang yang ingin membunuh Syakia hari ini, dia langsung teringat pada orang-orang dari Kalika itu.Terutama orang bernama Kingston. Adika tahu bahwa orang itu pasti akan datang lagi. Oleh karena itu, dia baru begitu mengkhawatirkan keselamatan Syakia.“Aku nggak bohong!” Syakia buru-buru menjelaskan, “Aku cuma nggak mau repotin kamu ....”“Kamu rasa ini adalah kerepotan bagiku?”Kali ini, Adika merasa makin marah. Dia menunduk, lalu menatap Syakia lekat-lekat dengan matanya yang berapi-api. Wajahnya yang tampan itu menunjukkan ekspresi yang luar biasa serius.Adika menekankan kata-katanya. “Sahana, dengar baik-baik. Bagiku, urusanmu nggak pernah merepotkanku.”Hati Syakia seketika bergetar. Dia menatap Adika yang berjarak sangat dekat dengannya dengan terkejut. Pada momen ini, dia seperti sudah memahami sesu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 234

    “Pembunuh?” Kaisar bertanya dengan bingung, “Kenapa bisa ada pembunuh yang pergi ke Kuil Bulani untuk membunuhmu? Siapa yang mengutus mereka?”Syakia menunduk dan menjawab, “Aku nggak berani bilang.”“Nggak berani bilang?”Kaisar mengangkat alisnya. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang mengutus para pembunuh itu dari jawaban Syakia. Di seluruh ibu kota, ada siapa saja yang tidak berani dituduh putri sucinya itu?Kaisar langsung tertawa. Setelah upacara permohonan hujan yang dilakukan di Kalika, baik itu kebetulan atau bukan, hujan deras telah turun di Kalika yang sudah mengalami kekeringan selama 3 bulan. Sekarang, Syakia telah menjadi Putri Suci Pembawa Berkah yang sebenarnya di hati rakyat jelata. Bukan hanya reputasi Syakia yang meningkat, bahkan Kaisar yang mengangkat Syakia menjadi putri suci juga dipuji oleh rakyat jelata. Hal ini telah mengokohkan posisi Kaisar yang masih muda ini sehingga tidak ada yang dapat melawannya. Oleh karena itu, kepercayaan para pejabat dan menter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 233

    Orang yang diutus Damar berjumlah sekitar 5 orang. Tak disangka, mereka masih tidak mampu mengalahkan satu orang. Namun, dia makin yakin bahwa Ayu memang diculik oleh Syakia. Bagaimanapun juga, pertahanan Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan juga tidak sederhana. Dengan tempat yang terlindung begitu ketat, penculik itu dapat masuk ke kamar Ayu dan membawanya pergi tanpa diketahui siapa pun. Orang dengan kemampuan yang biasa-biasa saja tidak mungkin mampu melakukannya.“Utus lagi sekelompok orang untuk pergi ke Kuil Bulani. Pokoknya, Ayu harus ditemukan!” perintah Damar setelah terdiam sejenak.“Baik!”Pada malam kedua, ada lagi sekelompok pengawal rahasia yang datang ke Kuil Bulani. Kali ini, kelompok itu berjumlah 10 orang.Damar awalnya mengira misinya kali ini pasti berhasil. Tak disangka, 10 pengawal rahasia itu lagi-lagi gagal. Setelah mendapat kabar ini keesokan harinya, ekspresi Damar terlihat sangat menakutkan.“Bagaimana dia bisa melakukannya!”Meskipun pengawal rahasia Syakia

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 232

    Dalam sekejap, ekspresi Kahar dan Ranjana langsung menjadi sangat suram. “Coba saja kalau dia berani!”“Syakia nggak mungkin berbuat begitu!”Berbeda dengan Kahar yang langsung menyerukan amarahnya, Abista percaya pada Syakia. Dia sontak murka dan membela Syakia.“Syakia memang pernah bersikap keras kepala, juga berbuat salah. Tapi, dia nggak pernah berinisiatif cari masalah, apalagi melakukan hal yang begitu keterlaluan! Ayah, aku tahu kamu lebih sayang sama Ayu. Tapi, memangnya Syakia itu bukan putri kandungmu? Waktu kamu ucapkan kata-kata itu, kamu nggak merasa itu sangat nggak adil bagi Syakia?”“Aku cuma menilai masalah berdasarkan fakta, juga cuma bilang mungkin, nggak bilang pasti,” jawab Damar dengan nada acuh tak acuh sambil menyesap tehnya yang sudah dingin.Abista terlihat sangat tidak percaya. “Menilai masalah berdasarkan fakta? Apa curiga sama putri kandung sendiri termasuk menilai masalah berdasarkan fakta? Ayah, Syakia itu bukan penjahat!”Sampai saat ini, Abista baru p

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 231

    “Ayah berkata begitu karena sudah punya bukti?”Damar menjawab dengan santai, “Aku nggak punya bukti. Tapi, sebelum hilang, Ayu sempat melakukan sesuatu.”“Apa?” tanya Kahar dan Ranjana dengan bingung.Damar memejamkan matanya dan menjawab, “Dia suruh dayangnya bawa Laras Panjalu datang kemari.”Sebelumnya, Ayu mengira tidak akan ada yang tahu mengenai hal ini. Namun, dia tidak tahu bahwa Ratih adalah orang yang ditempatkan Damar di sisinya. Mana mungkin Damar tidak tahu Ayu menyuruh Ratih pergi membawa Laras datang ke kediaman ini?“Laras Panjalu?”Berhubung sudah lama tidak mendengar nama ini, Abista dan kedua adiknya pun tertegun sejenak. Selanjutnya, Kahar terlebih dahulu teringat siapa orang itu dan bertanya dengan kening berkerut, “Orang yang pernah dorong Syakia ke danau itu?”“Benar.”Ekspresi Abista sontak berubah. Dia berkata dengan mata penuh amarah, “Ayu mau apa? Kenapa dia suruh orang itu datang kemari?”Dulu, Laras hampir merenggut nyawa Syakia. Jika bukan karena ada oran

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status