Share

Bab 101

Author: Emilia Sebastian
“Apa maksud Master?” tanya Adika dengan pura-pura tidak mengerti.

Shanti menunduk dan menjawab, “Pangeran Adika seharusnya mengerti maksudku. Kuil Bulani adalah tempat ibadah umat Budhem. Semua orang yang jalani hidup di kuil ini harus putuskan ikatan duniawi mereka. Sahana juga sama.”

Adika bertanya dengan ekspresi datar, “Maksud Master, aku ganggu latihan Sahana?”

Shanti tidak membantah. Keheningan pun melanda kedua orang itu.

Setelah sesaat, Adika baru berkata, “Ada sesuatu yang selalu ganggu pikiranku. Master seharusnya juga tahu. Kebetulan, ada Master hari ini. Aku mau minta Master pecahkan kebingungan ini.”

Shanti tidak menolak. “Silakan katakan, Pangeran.”

“Aku pernah baca buku yang bilang, Tuhan hanya menolong mereka yang berjodoh. Menurutmu, apa Tuhan Buddha bisa menolong orang sepertiku?”

Adika mengangkat tangan kanannya yang telah lama menggenggam pedang. Jari-jarinya panjang dan ramping, tetapi penuh dengan luka. Sama seperti luka-luka di tubuhnya yang tersembunyi di balik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 102

    Kehidupan para biksuni di Kuil Bulani sangatlah keras. Biasanya, mereka memang sangat jarang dapat makan kue-kue seperti ini.Setelah Shanti setuju, Syakia segera pergi membagikan beberapa bungkus kue itu kepada kakak seperguruannya. Ketika kembali lagi, hanya tersisa setengah bungkus kue di tangannya. Saat melihat Adika, dia tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah ....”Syakia lupa menyisakan kuenya untuk Adika ....Adika tahu apa yang dipikirkan Syakia. Dia pun hendak mengatakan dirinya tidak menyukai kue-kue seperti ini dan menyuruh Syakia menghabiskannya sendiri. Namun, dia tiba-tiba berubah pikiran dan berkata dengan alis terangkat, “Gimana ini? Kuenya cuma sisa sedikit. Aku bahkan nggak dapat sepotong pun.”Begitu mendengar ucapan itu, Syakia bertambah malu. Ini adalah kue yang dibeli Adika, tetapi dia hanya teringat pada para kakak seperguruannya dan lupa menyisakannya untuk Adika. Dia pun menyodorkan setengah bungkus kue yang tersisa itu dan bertanya, “Masih ada sisa sedikit. Pangeran

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 103

    Ternyata begitu. Pantas saja Adika hanya menyuruhnya untuk membacakan sutra sebagai bentuk balas budi. Setelah memahami hal ini, Syakia pun menghela napas lega.“Pangeran Adika sudah berjasa dalam memberikan kedamaian bagi rakyat. Sekarang, Pangeran merasa tersiksa. Sudah seharusnya aku menolong Pangeran sebisaku.” Syakia tersenyum dengan tulus dan melanjutkan, “Kalau sutra yang kubaca bisa buat Pangeran merasa baikan, aku justru merasa terhormat.”Dapat dikatakan bahwa dewa perang ini memainkan peran yang sangat penting dalam perdamaian dan kemakmuran yang dimiliki Dinasti Minggana saat ini. Jadi, Syakia tentu saja tidak akan menolak permintaannya, apalagi ini hanyalah permintaan kecil.Melihat Syakia yang menyetujui permintaannya, Adika tersenyum makin lebar.“Kalau Pangeran merasa nggak enak badan, carilah aku kapan pun itu. Pangeran juga nggak perlu bawakan apa-apa untukku.”Syakia mengira Adika memberikannya begitu banyak barang karena ingin menyuapnya. Setelah mengetahui faktanya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 104

    “Cih! Kami menindasmu?” Ike langsung tertawa, lalu berkata dengan nada meremehkan, “Syakia, jangan sok suci! Kamu tahu jelas apa yang kamu curi dariku. Apa aku perlu membeberkannya lagi?”“Nggak usah main teka-teki sama aku!” Syakia menjawab tanpa sungkan, “Kalau kamu menuduhku curi barangmu, langsung katakan dengan jelas di depan semua orang!”“Oke. Aku awalnya masih mau jaga harga dirimu demi Kak Damar. Berhubung kamu begitu nggak tahu malu, aku juga nggak perlu peduli lagi,” ujar Ike. Kemudian, dia memberi isyarat pada dayangnya.Dayang itu segera melangkah maju dan berkata dengan sombong, “Beberapa hari lalu, Master Shanti bawa Putri Suci ke Kediaman Pangeran Darsuki untuk menemui Nyonya Juwita. Tapi setelah kalian pergi, 3 botol krim pelembap Yui di gudang kami tiba-tiba hilang.”Ike mendengus, “Selain kalian, nggak ada orang lain yang datang ke Kediaman Pangeran Darsuki selama beberapa hari itu. Kalau bukan kalian yang curi, siapa lagi?”“Krim pelembap Yui? Apa itu? Bukannya itu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 105

    Jelas-jelas, Ike adalah bibi kandung Syakia. Namun, Ike malah begitu membencinya. Hati Syakia benar-benar terasa dingin. Anggota Keluarga Angkola selalu tahu bagaimana cara menyakitinya.“Kamu pada dasarnya adalah orang berhati kejam, pencemburu, dan berhati sempit!” Ike langsung memaki Syakia tanpa ragu, “Kamu nggak hormat pada seniormu dan kakakmu, juga selalu halalkan berbagai cara untuk melukai Ayu. Nggak heran anak yang nggak punya didikan ibu sepertimu terjerumus ke jalan sesat!”“Sudah cukup?” Syakia menatap Ike dengan penuh amarah dan berseru, “Anak yang nggak punya didikan ibu? Benar, aku memang nggak punya didikan ibu. Tapi, siapa yang mengucapkan kata sekasar dan menusuk itu terhadap juniornya? Kamu itu nyonya rumah Kediaman Pangeran Darsuki, juga putri Adipati Pelindung Kerajaan dulunya. Memangnya kamu punya pendidikan!”“Diam! Beraninya kamu melawanku!” Ike sontak bangkit dari kursinya. Amarah yang melandanya membuatnya melupakan statusnya dan Syakia saat ini. Dia langsung

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 106

    Setelah Syakia mengempaskan tangan Ike, dayang Ike buru-buru memapah Ike. Ike menunjuk Syakia dengan tangan gemetar dan berseru, “Baik! Tunggu saja kamu! Masalah hari ini masih belum selesai!”Kemudian, Ike yang awalnya datang dengan arogan pun pergi dengan tampang menyedihkan.Syakia memalingkan wajah, lalu langsung masuk kembali ke kuil. Sementara itu, sekelompok orang yang berkumpul di samping merasa kebingungan.“Jadi, sebenarnya Putri Suci memang mencuri klim pelembap Yui Nyonya Ike atau nggak?”“Apa masih perlu ditanya? Bukannya hasilnya sudah sangat jelas? Nyonya Ike curiga Putri Suci mencuri krim pelembap Yui, tapi nggak punya bukti. Lagian, Putri Suci juga sama sekali nggak takut. Aku rasa, dia nggak mencurinya.”“Nggak bisa bilang begitu juga. Menurutku, rasa curiga Nyonya Ike sangat beralasan. Reputasi Putri Suci dulu memang nggak bagus. Aku rasa, mungkin saja dia melakukan hal seperti ini untuk balas dendam pada Nyonya Ike.”“Kamu bodoh? Kalau Putri Suci benar-benar mencur

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 107

    Begitu mendengar ucapan Kama, suasana dalam rumah menjadi hening. Ekspresi Ayu juga menegang sejenak. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja terkepal erat, dia diam-diam merasa kesal pada Kama yang tiba-tiba mengungkit hal ini.Sebelumnya, Syakia itu jelas-jelas sudah membuat nyawa Kama hampir melayang. Kenapa sekarang si bodoh ini makin peduli pada wanita jalang itu? Apa otak Kama bermasalah? Makin orang membencinya, dia justru makin ingin menyanjung orang itu?Selain Kama, Abista juga tertegun sejenak sebelum bereaksi.“Ini memang hari ulang tahun Syakia,” ucap Abista dengan perasaan campur aduk. Dia tiba-tiba merasa agak bersalah. Jika bukan karena Kama mengungkit hal ini, dia nyaris melupakan hal ini.Kahar berkata dengan kening berkerut, “Buat apa Kak Kama tiba-tiba ungkit tentang dia? Sekarang, dia bukan lagi anggota Keluarga Angkola. Apa hubungannya hari ulang tahunnya dengan kita?”Ranjana mengambil teh dari meja dan menyesapnya dengan acuh tak acuh tanpa bersuara.Abista te

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 108

    Intinya, Kahar tidak mengerti isi hati Abista dan Kama. Sekarang, mereka menjadi begitu perhatian pada Syakia. Sebelumnya, Abista jelas-jelas tidak pernah peduli pada Syakia, sedangkan Kama juga selalu memukul Syakia. Ada apa dengan mereka sebenarnya? Apa Syakia sudah menyantet mereka sehingga mereka lupa sekejam apa Syakia dulunya?“Kak Kahar, jangan ngomong begitu. Kalau kedengaran Kak Syakia, dia pasti sedih.”Ayu memang berkata begitu, tetapi malah diam-diam merasa puas dalam hati. Untungnya, Kahar masih berada dalam cengkeramannya. Bagaimanapun juga, pemuda yang emosinya terlihat tidak stabil ini adalah orang yang paling keras kepala di antara empat saudara ini.Selama Kahar menganggap Syakia berhati busuk, pemikirannya tidak akan mudah diubah siapa pun. Jadi, Ayu dapat memanfaatkan Kahar dengan sangat mudah.“Jangankan dia nggak bisa mendengarnya sekarang, meski dia berdiri di hadapanku, aku juga berani mengatakannya.” Nada Kahar terdengar tidak berperasaan. Sebelum pergi, dia me

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 109

    “Apa?” Adika mengerutkan keningnya dan bertanya, “Upacara kedewasaan waktu itu bukan hari ulang tahun Sahana?”“Paman juga terkejut, ‘kan?” Kaisar menghela napas dan berujar, “Aku juga baru tahu rupanya hari ini barulah hari ulang tahun Putri Suci. Adipati Damar sepertinya juga baru teringat. Makanya, dia baru datang minta izin padaku lewat jam makan siang.”Sejak Anggreni meninggal, Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan benar-benar makin tidak teratur. Meskipun Damar mengumumkan bahwa Ayu adalah putri dari penyelamatnya dan dia hanya mengangkatnya menjadi putri asuh, Kaisar tentu saja dapat menyelidiki hal ini dengan mudah. Jadi, dia tahu bahwa Ayu adalah putri haram Damar.Awalnya, Kaisar merasa hal ini sudah cukup tidak masuk akal. Tak disangka, seorang Adipati Pelindung Kerajaan malah melakukan hal yang lebih tidak masuk akal lagi demi putri haram ini. Selain tidak menyelenggarakan upacara kedewasaan di hari ulang tahun putri sahnya, dia malah membuat putri sahnya menjadi penyokong p

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 245

    Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 244

    “Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 243

    Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 242

    “Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 241

    Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 240

    “Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status