“Apa?” Adika mengerutkan keningnya dan bertanya, “Upacara kedewasaan waktu itu bukan hari ulang tahun Sahana?”“Paman juga terkejut, ‘kan?” Kaisar menghela napas dan berujar, “Aku juga baru tahu rupanya hari ini barulah hari ulang tahun Putri Suci. Adipati Damar sepertinya juga baru teringat. Makanya, dia baru datang minta izin padaku lewat jam makan siang.”Sejak Anggreni meninggal, Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan benar-benar makin tidak teratur. Meskipun Damar mengumumkan bahwa Ayu adalah putri dari penyelamatnya dan dia hanya mengangkatnya menjadi putri asuh, Kaisar tentu saja dapat menyelidiki hal ini dengan mudah. Jadi, dia tahu bahwa Ayu adalah putri haram Damar.Awalnya, Kaisar merasa hal ini sudah cukup tidak masuk akal. Tak disangka, seorang Adipati Pelindung Kerajaan malah melakukan hal yang lebih tidak masuk akal lagi demi putri haram ini. Selain tidak menyelenggarakan upacara kedewasaan di hari ulang tahun putri sahnya, dia malah membuat putri sahnya menjadi penyokong p
Namun, Syakia tidak peduli pada Ayu.Melihat Syakia yang mengabaikan mereka semua, Kahar yang pada dasarnya merasa tidak senang sontak merasa jengkel. “Kenapa? Habis jadi biksuni, kamu juga belajar jadi orang bisu?”“Kahar,” tegur Abista untuk mengisyaratkannya menenangkan diri.Kama memandang Syakia yang berdiri di tengah ladang. Sekarang, dia tidak lagi segegabah dulu. Sebaliknya, Kahar yang pendiam malah berubah makin mirip dengannya yang dulu. Setelah terdiam sejenak, Kama melangkah maju dan mengambil sebuah ember yang terletak di halaman sambil berkata, “Mari kubantu.”“Nggak usah.” Syakia akhirnya berbicara. Namun, ucapan pertamanya malah merupakan penolakan. Dia berdiri, lalu menatap Kama dan orang lainnya dengan dingin sambil berujar, “Halamanku ini kotor dan kecil, juga nggak cocok untuk menampung tokoh hebat seperti kalian. Kalau kalian nggak punya urusan, sebaiknya jangan tinggal berlama-lama di sini.”Namun, Kama bersikap seperti tidak mendengar penolakan Syakia. Dia bersi
Sekarang, entah apa yang salah dengan Kama. Selain tidak bertindak, Kama malah membantu Syakia menyiram tanaman? Hal ini benar-benar memalukan!“Kahar, jangan bertindak gegabah. Ayah juga ada di sini.” Abista menatap Kahar dengan penuh peringatan sebelum melepaskannya.Kahar pun menoleh ke arah Damar. Meskipun Damar tidak mengatakan apa-apa, Kahar tetap menutup mulutnya dengan patuh.“Syakia, kamu nyesal?”Pada saat ini, Damar tiba-tiba bersuara. Sejak masuk ke halaman ini, dia tidak berhenti mengamati semua yang ada di tempat ini dengan tampang sombong, termasuk putrinya yang berdiri di tengah ladang dan terlihat berbaur sempurna dengan tempat ini.Syakia balik bertanya, “Nyesal? Kenapa aku harus nyesal?”“Kamu jelas-jelas bisa menikmati hidup mewah dan terhormat sebagai putri sah Adipati Pelindung Kerajaan. Sekarang, kamu malah hidup seperti ini. Memangnya kamu nggak nyesal?”“Heh! Status tinggi putri sah Adipati Pelindung Kerajaan?” Syakia tidak dapat menahan tawa. Tawanya juga dipe
Ranjana memperingati Abista, “Kita bicarakan lagi semuanya nanti. Jangan lupa tujuan kedatangan kita hari ini.”Abista yang hendak bertanya jelas pada Damar tertegun sejenak. Benar juga, hari ini, mereka datang untuk merayakan ulang tahun Syakia. Sebaiknya, mereka tidak menunda-nunda waktu lagi.“Nggak perlu, aku nggak terburu-buru kok.” Syakia tersenyum dan melanjutkan, “Kalau ada yang perlu kalian katakan, katakan saja yang jelas sekarang juga.”Kebetulan, Syakia juga bisa menonton pertunjukan bagus.Di sisi lain, Ayu tidak ingin dirinya ditertawakan oleh Syakia. Jika tidak dicegah, Abista mungkin akan benar-benar akan terlepas dari cengkeramannya. Dia pun segera berkata sambil tersenyum “Apa pun itu, itu nggak sepenting hari ulang tahun Kak Syakia. Benar nggak, Kak Abista?”Abista mengangguk secara refleks. “Iya, yang dikatakan Ayu benar.”“Oke.” Berhubung tidak dapat menonton pertunjukan bagus, Syakia langsung merentangkan tangannya ke arah Damar dan yang lain sambil berkata, “Beri
“Ayu, yang dikatakan Kahar benar.” Abista juga tidak setuju Ayu mempersembahkan hadiah ulang tahunnya.“Tapi, ini hari ulang tahun Kak Syakia. Kalau nggak terima satu hadiah pun, dia pasti sedih banget!” Ayu mengucapkan kata-kata yang terkesan khawatir, tetapi malah diam-diam melirik Syakia dengan penuh tantangan.“Lagian, ini bukan yang pertama kalinya, apa yang perlu disedihkan? Waktu di upacara kedewasaan sebelumnya, bukannya dia nggak terima sekuntum bunga pun?” cibir Kahar. Dia melontarkan ucapan yang menyakitkan itu tanpa ragu.“Syakia, sebaiknya kamu patuh dikit. Selama kamu patuh, Ayah dan kami pasti akan belikan kamu hadiah ulang tahun,” tambah Kahar.Syakia menjawab dengan kesal, “Sudah kubilang, aku nggak su ....”“Ternyata waktu merayakan ulang tahun orang lain, anggota Keluarga Angkola datang dengan tangan kosong, juga mengancam orang lain dulu sebelum kasih hadiah?”Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara rendah seseorang yang familier dari luar.Damar dan yang lai
Di dalam kotak itu, terdapat satu set hiasan rambut yang sangat mewah. Hiasan rambut itu terbuat dari emas murni yang dipadukan dengan giok, juga lebih mewah daripada hiasan rambut yang dipersiapkan kakak-kakak Syakia untuknya dulu. Jadi, bukan hanya Syakia, bahkan para anggota Keluarga Angkola juga tercengang begitu melihatnya. Terlebih lagi Ayu, dia langsung menggertakkan gigi dengan cemburu. Jika dia adalah Putri Suci, hadiah itu seharusnya adalah miliknya! Sekarang, hadiah itu malah didapatkan Syakia. Memangnya wanita jalang itu layak menerimanya?Namun, Ayu tidak menyangka bahwa hadiah berikutnya akan membuatnya lebih iri lagi.“Coba buka yang ini,” ucap Adika sambil menyodorkan kotak di tangannya kepada Syakia.Syakia dengan hati-hati meletakkan satu set hiasan rambut yang mewah itu ke samping, lalu membuka hadiah dari Adika. Begitu kotak itu terbuka, sebuah gaun sutra bersulam kupu-kupu yang indah dan mewah langsung terpampang di hadapan semua orang. Hal yang paling mengejutka
Syakia memandang bunga plum itu dan akhirnya mengerti maknanya. Matanya pun berkaca-kaca lagi dan dia berkata dengan suara rendah, “Terima kasih atas doa Pangeran.”“Tak disangka, Pangeran Adika begitu mengerti tentang bunga. Bunga plum memang cocok dengan Kak Syakia.”Tiba-tiba, suara seseorang yang mentel merusak suasana di antara Syakia dan Adika.Ayu berjalan ke hadapan Syakia, lalu berdiri di antara kedua orang itu dan berkata dengan berlagak polos, “Tapi, bunga plum yang mekar sebelum waktunya sangat langka. Ayu juga suka. Kak Syakia boleh perlihatkan pada Ayu?”“Nggak boleh,” tolak Syakia tanpa ragu. Ekspresinya juga langsung kembali dingin.“Ya sudah deh. Ternyata Kak Syakia masih sangat membenciku. Kak Syakia, jangan marah, ya. Kalau kamu keberatan, aku nggak akan melihatnya,” ujar Ayu dengan ekspresi sedih. Kemudian, Ayu berbalik untuk menghadap Adika dan melanjutkan dengan penuh harap, “Pangeran, apa Pangeran punya bunga plum lebih? Ayu nggak mau berebut sama Kak Syakia, ta
“Pangeran Adika mungkin nggak tahu.” Damar berkata dengan perlahan, “Ulang tahun Ayu sebenarnya bukanlah ulang tahunnya yang sebenarnya, melainkan hari peringatan kematian ibunya.”“Oh?” Adika mengangkat alisnya. Dia jelas tidak percaya. Kemudian, dia melanjutkan, “Kalau itu hari peringatan kematian, kenapa harus disamakan dengan hari ulang tahun?”“Biar Ayu nggak melupakan hari kematian ibunya. Makanya, hari ulang tahun Ayu diganti jadi 2 bulan lalu. Lagian, kalau dihitung menurut ulang tahun asli Ayu, dia memang sedikit lebih kecil dari Syakia dan seharusnya jadi adik Syakia.”“Hanya karena itu?”“Hanya karena itu,” jawab Damar dengan ekspresi datar.Ayu juga buru-buru mengangguk dan menambahkan, “Benar. Ayah mempertimbangkan hal ini demi Ayu. Tak disangka, Pangeran Adika jadi salah paham. Tapi, hari ulang tahun asliku masih beberapa saat lagi.”Setelah mendengar Ayu membenarkannya, Abista dan yang lain pun saling memandang. Hari ini, mereka baru tahu bahwa ada hal seperti ini di bal
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “
Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya
Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau
“Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement