Home / Romansa / Pelabuhan Akhir Sang Pewaris / 04 : A - Manhattan Square

Share

04 : A - Manhattan Square

Author: Eunmon
last update Huling Na-update: 2022-08-14 18:35:23

Manhattan Square, USA. | 13.11 PM.

Pusat belanja kota Manhattan begitu banyak akan pengungjungnya. Musik berkelas mengalun menemani pendatang, terasa begitu menenangkan. Di sebelah kanan ada sebuah lift yang akan membawa siapa pun ke lantai atas. Ada juga sebuah eskalator, atau bisa disebut dengan tangga bisa membawa naik atau pun turun.

Sedangkan tangga darurat, posisinya berada di pojok ruangan. Di sebelah barat ada sebuah jalan berputar mengelilingi gedung menuju parkiran yang berada di lantai atas. Jika ke sebuah pusat belanja besar seperti Manhattan Square, dengan membawa sebuah kendaraan roda empat maka parkirannya akan berada di atas.

Hari ini Kate tidak mengabari kepada Liam mengenai rutinitasnya. Lagi pula Liam pasti sibuk di kantor jadi tidak ada waktu untuk meladeni obrolan tidak bermutunya. Perkara kejadia kemarin saja jejaknya masih terekam jelas oleh ingatannya, Kate tidak mudah lupa begitu saja.

Apalagi baru dua hari berada di Manhattan, Kate harus terlibat dengan orang yang merepotkan di kota ini. Jika bukan karena ponsel laki-laki terbut seharga jutaan dolar, Kate tidak akan perlu menunggunya seperti sekarang ini.

Matanya menoleh ke sana ke mari, guna mencari orang yang sedang ditunggunya. Dia dapat melihat orang-orang memasuki ruangan dengan brand ternama di dunia. Sejenis, Christian Dior, Hermes, Gucci, Prada, Louis Vuitton dan masih banyak lagi. Sekiranya hanya itulah yang diketahui oleh Kate.

“Sudah menunggu lama?” Seorang laki-laki mengagetkan Kate begitu datang, membuat perempuan itu memutar bola matanya ketika sudah melihat wajah tampan dan angkuhnya.

Dia tidak pernah berkhayal akan bertemu laki-laki merepotkan seperti ini dalam hidupnya. Meski Liam kalah tampan, tapi Kate tetap teguh pada pendiriannya untuk berusaha agar tidak berpaling dari Liam. Perempuan itu lantas mengangkat pergelangan tangannya guna melihat jam kecil yang melingkar indah di pergelangannya. Pukul satu lebih dua puluh enam, nyatanya dia sudah menunggu selama lima belas menit.

“Anda terlambat, Pak.” Kate menatap Sean yang juga tengah menatapnya, dan buru-buru mengalihkan pandangannya. Tidak ingin terjebak dalam mata biru itu.

“Hanya dua puluh enam menit saja. Itu tidak terlalu parah,” jawab Sean dengan cuek.

Laki-laki itu tetap memasang wajah stay coolnya, tetap terlihat berwibawa meski hatinya berbunga-bunga tetapi harus menahan kedutan bibirnya karena ingin sekali tersenyum. Mengabaikan dengusan Kate yang terdengar begitu ketara.

“Baiklah. Mari ikut saya … toko ponsel berada di lantai atas.” Kate kembali menatap Sean, lantas menggerakan kepalanya sebagai kode untuk naik ke lantas atas.

“Sebelum itu, lebih baik kau ikutlah denganku. Aku belum makan siang,” kata Sean dan hendak mengambil sebelah tangan Kate, namun sebelum itu terjadi Kate sudah membuka suaranya.

“Saya tidak peduli dengan urusan perut anda, Pak. Saya ke sini menemui anda hanya untuk menyelesaikan tanggung jawab saya. Hanya itu, tidak dengan yang lain.” Kate berucap dengan nada suara yang terdengar begitu tegas. Membuar Sean berkedip karena terkejut dengan reaksi yang ditunjukan oleh Kate.

Sean berdeham pelan, matanya menatap Kate dengan tenang. Seolah tidak merasa terusik oleh perkataannya. “Sean Axel William, panggil aku Sean dan berhentilah memanggilku dengan sebutan Pak.” Sean mengenalkan dirinya, dan menekankan kata Pak dalam ucapan terakhirnya.

Tanpa menunggu respon Kate, dengan cepat Sean menarik Kate untuk ikut bersamanya ke sebuah restaurant yang menyediakan makanan Prancis. Kate yang akan mengomel dia urungkan karena menyadari kalau sebagian dari orang-orang menatap ke arah mereka. Terpaksa mengikuti langkah Sean yang menarik tangannya.

Mereka berhenti di sebuah restaurant dengan nuansa Eropa yang begitu kental. Sean mengajaknya duduk di kursi yang berada di tengah-tengah membuatnya bisa melihat ke lantai atas dengan pemandangan para pengunjung.

Lalu seorang waiters laki-laki membawa buku menu yang dipegangnya. Menghampiri mereka berdua dengan sapaan yang begitu hormat menyapa Sean dan Kate. “Welcome back Mr. William and…” Laki-laki itu menatap sekilas ke arah wajah Kate yang tidak dikenalinya.

Sean menyahut, “Katherine Margaretha.”

Waiters itu kembali melanjutkan perkataannya, “Miss. Margaretha. Silakan.” Setelahnya waiters itu tersenyum ramah sembari menyodorkan sebuah buku menu yang sedari tadi dipegangnya.

Sean menyebutkan Boeuf Bourguignon, potongan daging sapi dengan sayuran yang dipadukan dengan saus anggur merah, sebagai menu makan siangnya dan menambah satu botol wine yang menjadi pelengkapnya. Dia menoleh kepada Kate yang terlihat cuek dengan sekitarnya, Sean memesankan Croque monsieur adalah sandwich atau roti lapis yang berasal dari Prancis dan disebut sebagai makanan ringan.

Dengan milkshake rasa coklat, serta menambahkan air putih. Dia tidak tahu apa ini akan sesuai selera Kate atau tidak. Namun, Sean selalu memerhatikan bagaimana Ibunya memesan makanan yang tidak jauh berbeda seperti ini. Dan Sean juga memesan untuk membawakan dua gelas untuk wine.

“Ini terlalu membuang waktu, Pak. William.” Terdengar dengusan Kate setelah mengatakannya.

Sean tersenyum kecil, dia mendadak tertarik dengan perempuan asing di sebelahnya ini. “Tidak sama sekali, Katherine. Kau cukup duduk dan menemaniku makan, mudah bukan?”

Bagi Sean, respon Kate itu terlalu seadanya. Tidak seperti perempuan lainnya yang selalu banyak basa-basi jika sudah bersamanya. Yang ini lain lagi, dia terlihat malas bahkan terkesan tidak peduli.

“Baiklah terserah anda saja, Pak.” Kate kembali mendengus malas, mengabaikan Sean yang mulai menyantap makanannya. Setelah seorang pelayan restaurant mengantarkan pesanannya.

Sean tertawa kecil menyodorkan milkshake yang sudah dipesannya ke hadapan Kate. “Aku tahu kau pasti haus, minumlah selama menungguku selesai makan.”

Kate menoleh, menatap laki-laki itu dengan pandangan menyelidik. Kate tidak akan pernah bosan untuk berpikir kalau laki-laki bernama Sean ini sangatlah tampan. Wajahnya perpaduan Barat dan Eropa, entahlah dia hanya menebak.

“Aku memang tampan, Katherine. Kau tidak harus meneliti wajahku sedetail itu,” ujar Sean. Laki-laki itu meletakkan sendok dan garpunya lantas mengambil selembar tisu.

Perempuan itu mengalihkan tatapannya ke arah lain, malas jika harus menanggapi ujaran Sean yang terlalu narsis. Meskipun itu adalah sebuah kebenaran.

“Kau tunggu sebentar di sini, Kate. Aku harus menyelesaikan pembayarannya.” Sean bangkit dari duduknya untuk menghadap kasir.

Kate tidak menyahut, dia memerhatikan sekelilingnya. Sehingga matanya tidak sengaja menangkap keberadaan sosok manusia yang sangat familiar di matanya. Dilihat dari bentuk tubuh memang terlihat seperti Liam. Siaga satu, lantas Kate mengambil sebuah buku menu guna menutupi setengah wajahnya saat laki-laki yang dia curigai sebagai Liam itu berdiri untuk merogoh sesuatu dari kantong celana bahannya.

Itu benar Liam. lalu siapa perempuan yang duduk di sampingnya? Kate menggeleng dengan gerakan pelan, tidak mungkin Liam bertemu dengan perempuan lain di belakangnya.

“Ayo, setelah ini aku ada rapat dengan klien.” Suara Sean berhasil menyadarkan Kate kembali ke dunianya.

Kate menarik sebelah tangan Sean untuk mengikuti langkahnya. Berjalan dengan tenang seperti seorang pasangan karena takut Liam akan melihat keberadaan Kate di tempat ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   04 : B - Bye, Sugar

    Manhattan Square, USA. | 13.31 PM.Bertemu dengan klien di Manhattan Square adalah opsi yang menarik sekali bagi Liam. Selain berbicang mengenai bisnis dia juga membicarakan kepentingan lainnya, seperti kesenangan yang lainnya misalnya. Kate tidak harus tahu apa saja aktifitasnya selain berkutat dengan berkas dan laptop.Liam tersenyum sambil memerhatikan perempuan yang sedang menyantap makanan yang sudah Liam pesankan. Meski dia tidak secantik kekasihnya, tapi dia juga cukup membuat Liam senang. Apakah Liam mencintainya? Oh tentu saja bisa jadi seperti itu prosesnya. Secara hubungan gelap mereka sudah terjalin selama dua tahun lamanya. “Bertemu denganmu di sebuah tempat makan akan selalu berakhir seperti ini, lebih baik kita bertemu di pantehousemu saja, Li. Kau bisa merusak bentuk tubuhku jika seperti ini ceritanya.” Perempuan cantik itu mendumel setelah menyelesaikan makannya.Liam tertawa kecil. “Apa salahnya memanjakan perut ratamu itu? Lagi pula kau perlu makan,” cibir Liam. La

    Huling Na-update : 2022-08-15
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   05 : A - Membantah

    William’s Group, Manhattan, USA. | 10.46 AM.Setelah selesai dengan rapatnya, laki-laki bertubuh atletis itu kembali ke ruangannya. Di jalan sempat berbincang singkat mengenai masalah proyek baru yang akan digarapnya. Proyek itu terletak di Amerika Serikat, akan ditinjau langsung oleh Luke setiap dua minggu sekali. Mungkin Sean akan sesekali ke sana jika tidak sibuk. Karena sejak dulu Sean bukanlah laki-laki yang santai, dia selalu memilih sibuk bekerja dan bekerja meski belum memiliki istri yang harus diberi nafkah. Dia juga memikirkan keluarganya, terutama adik perempuannya yang masih berkuliah di London.Di waktu senggang ini tidak Sean gunakan untuk bersantai, dia kembali menyalakan komputernya dan mulai meninjau beberapa soft copy berkas-berkas yang sudah dikirimkan oleh sekretarisnya, Mia.Sampai saat ini dia tidak bisa melupakan hal yang terjadi saat di Manhattan Square. Katherine Margaretha, perempuan itu sukses mengalihkan semua pemikirannya tentang pekerjaan menjadi memikir

    Huling Na-update : 2022-08-16
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   05 : B - Yang Disembunyikan Maria

    Manhattan, USA. | 08.02 AM. Lamborghini Veneno Roadster hitam metalik melaju di jalanan kota Manhattan yang ramai dengan kecepatan pelan, dan berhenti total saat lampu merah. Orang-orang hilir mudik melakukan perjalanan mereka sehingga di jam segini kota metropolitan ini begitu macet yang bisa dibilang cukup berkepanjangan. Kerumunan orang-orang pejalan kaki yang menyebrangi zebra cross ketika lampu merah menyala. Polisi yang patroli di jalanan memantau penyebrang dari jarak 2 meter. Mobil mulai melaju dengan begitu perlahan bersamaan dengan suara klakson yang begitu begitu nyaring. Kate lagi-lagi membunyikan klaksonnya saat mobil di hadapannya tak kunjung melaju. Ini salah satu hal yang membuat Kate begitu malas karena kemacetan kota ini lebih parah daripada di Madrid. “Oh Tuhan, mau sampai kapan aku terjebak kemacetan seperti ini.” Perempuan itu menghela napas setelah melihat jam. Lantas dengan cepat menginjak pedal gasnya ketika lampu sudah berubah hijau. Salah satu keburukan

    Huling Na-update : 2022-08-20
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   06 : A - Yakin

    Mansion William’s, Manhattan, USA. | 19.23 PM.Malam menuju wekend ini digunakan oleh Sean untuk menemui Angeline Alfonso, sang ibu. Untuk membahas tentang Zara Mellano dan kesepakatan yang akan mereka lakukan. Sean tentu saja meminta imbalan untuk apa yang dia lakukan meski itu menyangkut keinginan sang Ibu. Sean meminta kalau ini adalah permintaan terakhir mengenai Zara. “Ini yang terakhir kalinya, ya Mom.” Sean berujar dengan sedikit tegas. Sean tidak mau membuat seorang Zara Mellano besar kepala karena hal ini, dia tidak mau membuat Zara memiliki peluang untuk kembali menjeratnya. Dia sudah muak dengan sosok Zara, sudah tidak ingin campur tangan dengan segala hal yang berhubungan dengan Zara.“Baiklah ... lagi pula Zara itu cantik, Sean. Kau terlihat seperti alergi saja dengan Zara,” dengus Angeline. Menatap Sean begitu malas. “Jika dia tidak cantik, dia tidak akan lulus tes modeling, Mom. Aku begitu muak dengan dia,” balas Sean pendek.Mark ikut menyahut, “Hanya karena d

    Huling Na-update : 2022-08-25
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   06 : B - Mencoba Memulai

    William’s Group, Manhattan, USA. | 08.07 AM.Pukul delapan pagi Sean baru tiba di kantor karena terjebak macet saat di perjalanan menuju ke mari. Jalanan Manhattan yang ramai, untung saja macetnya tidak berkepanjangan. Di depan lobi kantor, Luke sudah menyambut kedatangannya seperti biasa. Ini adalah salah satu kebiasaan yang sudah terjadi sejak Sean pertama kali menjadi pengendali William Group setelah Mark memilih untuk berhenti. Tidak sepenuhnya berhenti total, hanya jika ada kepentingan yang begitu mendesak baru Mark akan hadir mendampingi Sean.“Selamat pagi, Pak.”“Ya, pagi, Luke.”“Biodata seseorang yang anda minta tadi malam sudah saya letakan di ruangan, Pak. Anda dapat memeriksa kelengkapannya setelah tiba di sana,” ujar Luke yang sudah berdiri menyambut Sean di depan lobi kantor. “Kerja bagus.” Sean membalas sembari tersenyum tipis. Sebentar lagi dia akan menghubungi Kate. Laki-laki bersetelan jas hitam itu melangkahkan tubuh tegapnya masuk ke dalam gedung William Group.

    Huling Na-update : 2022-08-26
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   07 : A - Siapa Dia?

    St. Louister’s Cathedral, Manhattan, USA. | 09.16 AM.Suara pintu mobil yang ditutup dari luar terdengar begitu nyaring di parkiran yang letaknya berada di sebelah kiri Gereja. Barisan mobil mewah yang terparkir di sana membuat siapa pun bisa memastikan kalau pemiliknya bukanlah orang sembarangan. Apalagi mayoritas orang sini itu lebih dominan mengenakan mobil berbau sport untuk kegiatan sehari-hari mereka.Liam merangkul Kate untuk memasuki pintu utama menuju ke ruangan. Mereka mengambil tempat duduk di barisan ke sembilan dari depan. Pengunjung sudah begitu ramai. Baik Kate maupun Liam mereka tidak banyak mengobrol sampai ibadah mereka selesai. Satu jam setelahnya ketika pemimpin Gereja sudah mengintrupsi bisa bubar, orang-orang mulai meninggalkan tempat duduk mereka sekaligus meninggalkan Gereja.“Setelah ini kau akan ke mana, honey?” tanya Liam. Laki-laki itu duduk setelah membalikan kursinya agar bisa menatap Kate. Kate menyahut, “Aku akan ke tempat Paman Rodrigo, kau mau ikut

    Huling Na-update : 2022-08-27
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   07 : B - Kencan Pertama

    Amoda Park, Manhattan, USA. | 10.26 AM.Suasana Amoda Park tidak begitu ramai akan pengunjung ketika menuju siang. Taman kota ini akan ramai jika sore menjelang malam, akan banyak acara di sini, semacam orkestra, permainan biola.Menyebrangi jalan kecil yang berada di pinggir taman adalah hal yang sedang Sean lakukan bersama Kate. Pemberhentiannya adalah di sebuah taman Amoda yang sering Sean datangi jika bersama Shanice. Matahari sudah mulai meninggi, siang ini dia mengajak Kate yang mukanya terlihat begitu masam namun tetap terlihat cantik di mata Sean. Langkahnya begitu ogah-ogahan saat mengikutinya. Dia mengajak Kate agar mengikutinya menuju kursi taman yang berada di ujung timur. Kursi itu teduh karena terhalang oleh pohon pinus yang begitu besar.“Duduklah Kate,” kata Sean setelahnya dia duduk bersampingan dengan Kate.“Apa maksudnya ini, Sean?” tanya Kate. Dia bingung dengan sikap Sean saat ini, mengajaknya ke taman yang baru dia kunjungi.Label dengan tanda Amoda Park terpampa

    Huling Na-update : 2022-08-28
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   08 : A - Los Angeles

    Airport Internasional, Manhattan, USA. | 18.17 PM.Penerbangan yang dilakukan oleh Sean dan Ken menuju Los Angeles menggunakan pesawat komersial, mereka sengaja tidak mengenakan jet pribadi karena ingin ikut mengantri bersama yang lain. Jika bukan Ken yang memaksa dia tidak akan mau harus mengantri panjang seperti ini.Orang-orang hilir mudik menyeret barang bawaan mereka. Banyak perempuan yang ingin menghampirinya untuk sekedar berfoto atau pun mengajak bersalaman. Para pengawal yang ikut bersamanya mencegat perempuan-perempuan itu yang berbondong-bondong ingin menghampiri Sean. Bayangkan saja, di penjuru New York siapa yang tidak mengetahui sepak terjang Sean Axel William dalam dunia bisnis. Bahkan ketika ada acara perusahaan yang akan mengundangnya, Sean tidak mengambil pasangan dari luar untuk mendampinginya. Melainkan mengajak Shanice atau memboyong Angeline yang sudah paruh baya pun tetap terlihat menawan. Katanya, keluarga perempuannya tidak kalah cantik. Jadi tidak perlu repo

    Huling Na-update : 2022-08-29

Pinakabagong kabanata

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   Pelabuhan Akhir Sang Pewaris

    POV Katherine MargarethaHal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya adalah menua bersama seseorang yang kau cintai dan kau kasihi dengan sepenuh hati, seseorang yang mampu mengubah hidupmu menjadi lebih indah dari sekadar angan-angan yang samar di ujung pikiran. Sean Axel William, pria yang kini menjadi suamiku, telah berhasil menjadikanku perempuan paling beruntung di dunia ini. Dengan kesabaran yang tak pernah goyah, usaha yang tulus dalam setiap langkahnya, dan cinta yang dia tunjukkan melalui tindakan-tindakan kecil yang penuh makna, dia mampu menyentuh diriku dari berbagai sudut yang bahkan aku sendiri tidak pernah sadari sebelumnya. Ada saat-saat ketika aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana mungkin seorang pria seperti Sean—dengan segala kelebihan yang dimilikinya, dengan ketegasan dan kelembutan yang berdampingan—memilih untuk mencurahkan hatinya sepenuhnya kepadaku? Namun, jawaban itu selalu sama: cinta sejati tidak memerlukan alasan yang rumit, hanya ketulusan untuk

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   57 : Gamaliel Nicholas William

    Hospital International, Manhattan, USA | 18.45 PMTiga bulan kemudian, di sebuah rumah sakit besar di pusat New York, suasana ruang bersalin dipenuhi ketegangan sekaligus harapan yang membumbung tinggi di antara dinding-dinding putih steril yang mencerminkan cahaya lampu neon terang. Ruangan itu luas namun terasa sesak oleh emosi yang bergolak, dengan aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan suara monitor detak jantung bayi yang berdengung pelan di latar belakang. Ritme cepat dan teratur dari monitor itu menjadi pengingat bahwa kehidupan baru sedang berjuang untuk hadir ke dunia, sebuah suara yang sekaligus menenangkan dan menegangkan. Kate terbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi namun penuh tekad, rambut cokelatnya yang basah oleh keringat menempel di dahi dan pipinya, membingkai wajahnya yang lelah. Kontraksi datang bertubi-tubi seperti gelombang yang tak kenal lelah, membuatnya menggenggam tangan Sean dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tubuhnya

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   56 : Pregnancy

    William’s Mansion, Manhattan, USA | 07.21 AMPagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah-celah tirai beludru tebal yang menghiasi jendela besar kamar tidur utama di kediaman Sean dan Kate, sebuah rumah mewah bergaya modern yang berdiri di pusat kota dengan pemandangan taman hijau yang luas. Cahaya keemasan itu memantul di lantai marmer putih mengilap, menciptakan pola-pola halus yang menari-nari di sekitar ranjang besar berkanopi kayu mahoni tempat Kate duduk. Dia mengenakan gaun katun longgar berwarna putih yang lembut, kainnya mengalir lembut menutupi perutnya yang kini membuncit di usia kehamilan lima bulan. Beberapa bantal tambahan disusun di punggungnya, memberikan sedikit kenyamanan pada tubuhnya yang terasa semakin berat setiap hari. Udara pagi membawa aroma kopi yang baru diseduh oleh pelayan dari dapur di lantai bawah, bercampur dengan hembusan angin sejuk yang menyelinap melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa serta wangi samar bunga mawar dari taman. Kate

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   55 : Family Reunion

    Mansion William’s, Manhattan, USA | 20.54 PMMalam itu, kediaman keluarga Sean di kawasan pinggiran kota dipenuhi kehangatan yang khas dari reuni keluarga. Rumah besar bergaya Victorian itu berdiri megah dengan dinding bata merah dan jendela-jendela lengkung yang dikelilingi taman kecil penuh bunga mawar. Ruang makan di dalamnya luas, dengan meja kayu mahoni panjang yang sudah berusia puluhan tahun, permukaannya dipoles hingga mengilap. Lampu gantung antik dari kuningan dan kristal bergoyang pelan di langit-langit, menyebarkan cahaya kuning keemasan yang lembut ke seluruh ruangan. Aroma daging panggang yang baru keluar dari oven bercampur dengan wangi kentang tumbuk dan sayuran segar, menciptakan suasana yang menggugah selera sekaligus nostalgia. Angeline sibuk mengatur hidangan di atas meja dan dibantu oleh beberapa pelayan. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu mengenakan gaun biru tua yang sederhana namun elegan, rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi. Mark duduk di ujung m

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   54 : Maria And James

    Manhattan, USA | 09.12 PMPagi itu, sebuah kafe kecil di pinggir kota menjadi saksi pertemuan Maria dan James. Bangunan sederhana dari kayu dengan jendela-jendela besar itu berdiri di tepi jalan yang sepi, dikelilingi pepohonan maple yang daunnya mulai menguning di awal musim gugur. Di dalam, aroma kopi panggang dan roti bakar mengisi udara, bercampur dengan suara mesin espresso yang berdengung pelan di belakang konter. Meja kayu kecil di sudut ruangan, tempat Maria dan James duduk berhadapan, tampak sederhana dengan dua cangkir kopi yang mulai mendingin dan beberapa remah roti di piring kecil. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela menyinari wajah mereka, namun suasana di antara keduanya terasa jauh dari hangat. Maria duduk dengan tangan bertopang di dagu, matanya yang cokelat tua menatap James dengan campuran harap dan frustrasi yang sulit disembunyikan. Rambutnya yang hitam panjang tergerai di bahunya, sedikit berantakan karena dia berkali-kali mengusapnya dengan gelisah. Dia menge

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   53 : Meeting

    William Group’s, Manhattan, USA | 08.00 AMPagi itu, pukul delapan tepat, sinar matahari pagi menyelinap melalui jendela-jendela besar ruang rapat di lantai dua puluh gedung William Group, perkantoran modern yang menjulang di pusat kota. Cahaya keemasan itu memantul di permukaan kaca tempered yang menjadi dinding ruangan, menciptakan kilau lembut yang kontras dengan suasana tegang di dalam. Meja konferensi panjang dari kayu walnut mengilap mendominasi ruang, dikelilingi kursi-kursi kulit hitam yang ergonomis, tempat duduk para karyawan senior perusahaan. Aroma kopi yang baru diseduh menguar dari mesin espresso di sudut, bercampur dengan suara lembut kertas-kertas yang dibolak-balik dan ketukan pelan jari di tablet digital. Sean, direktur operasional berusia tiga puluh empat tahun yang baru menikah tiga bulan lalu, duduk di ujung meja, posisinya mencerminkan otoritas yang telah dia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini. Sean mengenakan setelan abu-abu gelap dengan potongan sem

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   52 : Liam Xaviendra Side

    Xaviendra’ Penthouse, Brooklyn, USA | 01.45 AM Malam itu, setelah meninggalkan pesta pernikahan megah Sean Axel William dan Katherine Margaretha, Liam Xaviendra kembali ke penthouse barunya di Brooklyn. Ruangan itu terasa dingin dan sepi, hanya diterangi lampu meja kecil di sudut yang memancarkan cahaya kuning redup. Liam duduk di sofa tua kesayangannya, setelan abu-abu yang dia kenakan di pesta masih melekat di tubuhnya, namun dasinya telah dilepaskan, tergeletak sembarangan di lantai. Di tangannya, dia memegang segelas wiski, memutar-mutar cairan itu sambil menatap kosong ke arah jendela. Pemandangan kota New York yang biasanya memukau kini terasa hampa baginya. Bayangan Kate dalam gaun pengantin putih terus menghantui pikirannya. Senyum bahagia Kate saat menari dengan Sean, tatapan penuh cinta yang dia berikan pada suaminya, semua itu menusuk hati Liam seperti pisau. Dia tahu, dia tak punya hak atas apa pun lagi. Dua tahun lalu, dia menghancurkan hubungan mereka dengan perselingkuh

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   51 : I Love You More

    Mature content!William’s Mansion, Manhattan, USA | 01.02 AM Malam setelah pesta pernikahan megah, Sean Axel William dan Katherine Margaretha, kini suami-istri, tiba di mansion mewah Sean di Upper East Side, New York, pada pukul satu dini hari. Bangunan bergaya klasik itu telah disulap menjadi tempat istimewa untuk malam pertama mereka. Lampu-lampu redup menerangi fasad luar, sementara di dalam, kelopak mawar merah bertebaran di lantai kayu mengilap, membentuk jalur menuju kamar tidur utama. Lilin-lilin kecil berkelip di sepanjang lorong, memancarkan cahaya hangat yang berpadu dengan aroma lavender dan vanila, menciptakan suasana intim yang memabukkan. Jendela besar di kamar memperlihatkan gemerlap kota New York, menjadi latar sempurna untuk malam yang penuh cinta. Sean membuka pintu depan, tangannya menggenggam tangan Kate dengan erat. Kate, yang telah berganti dari gaun pengantinnya ke gaun satin putih sederhana, melangkah masuk, matanya membelalak kagum. Kelopak mawar membentuk jal

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   50 : Wedding Party

    Malam ini dalam sebuah gedung megah di kota metropolitan Manhattan, New York City berkilau di bawah lampu kota yang tak pernah padam, saat pesta pernikahan Sean Axel William dan Katherine Margaretha berlangsung megah di ballroom The Plaza Hotel. Ruangan itu bagaikan istana modern, dengan chandelier kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke meja-meja berbalut linen putih yang dihiasi rangkaian mawar putih, peony, dan aksen emas. Sean, pewaris William Group, tampak gagah dalam tuksedo hitam beraksen emas. Sementara Kate memukau dalam gaun pengantin berenda halus yang dirancang khusus, memancarkan aura anggun dan memikat. Di luar, media massa berdesakan, kamera berkedip tanpa henti, mencatat momen dengan tagline malam itu: "Sang Pewaris William Group Menemukan Cinta Sejatinya." Ballroom dipenuhi ratusan tamu dari kalangan elit, suara gelas sampanye berdenting bercampur dengan tawa dan obrolan ringan. Orkestra klasik memainkan melodi lembut di sudut ruangan, seme

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status