Share

Chapter 38

Author: APStory
last update Last Updated: 2025-02-05 14:37:18
Siang itu, Mireya sedang berada di perusahaan tempatnya bekerja. Dia masih ingat akan pertemuan yang tak disengaja dengan seorang laki-laki asing di dalam pesawat, yang telah membawanya masuk ke dunia baru yang—seharusnya—lebih baik.

Dalam kenangan, Mireya menemukan bayangan dirinya sedang merenung dan menangis sambil menatap jendela pesawat.

Di tengah momen sedih tersebut, Julian, seseorang yang kebetulan menempati kursi penumpang di sebelah Mireya, tiba-tiba bertanya alasan kenapa wanita itu menangis.

‘Apakah rasanya begitu mengerikan duduk di sampingku?’ tanya Julian pada saat itu.

Karena tidak saling kenal, Mireya tidak berniat menjelaskan apa pun padanya. Namun, tanpa diduga, Julian menyodorkan selembar tisu dengan senyuman lembut di wajahnya.

Mereka tak banyak bicara selama penerbangan. Julian lebih memilih diam, seolah sengaja memberi ruang untuk Mireya menikmati lukanya.

Lalu, saat hampir mendarat di bandara, Mireya mengalami kram perut yang membuatnya kesulitan turu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 39

    Mireya berjuang keras melepaskan cengkeraman Mervyn yang menahan tangannya dengan begitu rapat.Namun, setiap kali dia berusaha menarik diri, hanya rasa sakit di sekitar pergelangan tangan yang Mireya rasakan. Membuatnya tak berdaya dan terpaksa menyerah.“Apa mau kamu?” Kalimat itu baru saja keluar dari pita suara Mireya. Dia benar-benar hampir frustrasi.Mervyn, dengan bola mata gelapnya yang tajam, menatap Mireya seperti singa lapar yang sekian lama tidak pernah melihat seonggok daging.“Katakan, kedua bocah kembar itu memang anak-anakku, ‘kan?” Mervyn bicara dengan nada suara yang justru terkesan seperti menegaskan, bukan sedang mempertanyakan sesuatu.“Bukan!” elak Mireya secepat kilat, seolah tak ingin membiarkan Mervyn mencurigai anak-anaknya lebih lama.“Jangan bohong, Mireya!” Urat-urat tangan Mervyn sampai keluar saat dia mencengkeram lengan Mireya lebih erat lagi. “Sudah jelas wajah mereka sangat mirip denganku. Masih mau menyangkal?”Mireya meringis kesakitan. Dia yakin, p

    Last Updated : 2025-02-05
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 40

    Pertanyaan Julian yang sebetulnya begitu sederhana membuat Mireya terdiam sejenak. Wajahnya memerah dan tenggorokannya terasa kering. Pikiran Mireya kini bercabang, mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk menjelaskan hubungannya dengan Mervyn tanpa membuka terlalu banyak luka lama. Julian menatapnya penuh tanda tanya, masih menunggu satu jawaban pasti. “Iya.” Akhirnya, dengan suara rendah, Mireya mengangguk pelan, memberi jawaban yang terkesan setengah hati. Julian mengamati setiap gerakan kecil Mireya, bagaimana wanita itu terlihat salah tingkah dan bingung. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata itu. Perlahan, Julian mencoba untuk menyusun sendiri potongan teka-teki yang belum lengkap. Kemudian, sebilah dugaan mulai muncul dalam benaknya. “Mungkinkah pria itu adalah dia...?” tanya Julian sedikit mengambang. Mireya hampir tercengang. Kenapa tebakan Julian bisa setepat itu? Julian telah mendengar cukup banyak cerita dari masa lalu Mireya.

    Last Updated : 2025-02-06
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 41

    “Diamlah” Mervyn mengerling gusar, menyembunyikan garis wajahnya yang memerah setelah mendengar ucapan Rayyan. “Belikan mainan dan hadiah untuk Mireya dan anak-anak! Nanti sore aku akan datang ke rumahnya.” Rayyan mengangguk. “Baik, Pak. Bagaimana kalau sebuket bunga untuk Nona Mireya?” tawarnya. “Boleh juga.” “Lalu, mainan seperti apa yang ingin Anda berikan untuk si kembar?” Mendengar pertanyaan itu, Mervyn segera menatap tajam mata Rayyan. “Apa kamu pikir aku cukup berpengalaman tentang ini?” sindir Mervyn sambil terkekeh sinis. “Kamu tanyakan saja pada orang lain! Aku belum pernah membelikan mainan untuk anak-anak!” omelnya. “M–maaf, Pak.” Rayyan langsung menundukkan kepala. “Baiklah, tidak masalah. Saya akan bertanya pada yang lain,” ucapnya sambil tertawa renyah untuk menyembunyikan rasa takut. *** Sambil menunggu Mireya pulang, Marcell dan Michelle memutuskan membuat bolu cokelat panggang. Walaupun tidak cukup pandai di bagian dapur, tetapi mereka masih bisa me

    Last Updated : 2025-02-06
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 42

    Sebelum Mervyn sempat menjawab pertanyaan Michelle, Marcell sudah lebih dulu menyikut lengan adiknya. “Michelle, jangan bicara sembarangan!” ucapnya dengan nada tegas, mengingatkan bahwa mereka harus berhati-hati pada orang baru. Interaksi lucu kedua bocah itu membuat Mervyn sangat gemas. Dia tidak bisa menahan tawa melihat betapa spontan dan polosnya mereka. Ada sekelumit perasaan haru yang perlahan mengalir dalam rongga dada Mervyn—saat melihat kedua anak itu tumbuh besar dengan penuh rasa ingin tahu dan kekhawatiran yang tulus. “Anak Pintar, di mana ibu kalian?” tanya Mervyn yang masih memasang senyuman ramah di wajahnya. “Mami belum pulang, Pap—” “Hush!” Marcell kembali menegur Michelle dengan menepuk mulutnya pelan. “Jangan panggil dia ‘Papi’, sebelum Mami mengizinkannya.” Mervyn mengerutkan alis sambil menahan senyum di ujung bibir. Marcell mungkin mengira kalau suaranya sudah sangat kecil dan Mervyn tidak akan mendengarnya. Padahal, Mervyn masih mampu menangkap j

    Last Updated : 2025-02-08
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 43

    Kini Michelle menatap Marcell penuh tanda tanya, menunggu arahan apakah dia boleh menjawab pertanyaan Mervyn atau tidak. Lalu, Marcell mengangguk setuju, mengizinkan adiknya untuk memberitahu nama mereka. “Aku Michelle, bisa dipanggil Elle. Kalau ini namanya Marcell,”—sesaat Michelle menunjuk ke arah sang kakak—“tapi kamu juga bisa memanggilnya Acell, supaya lebih singkat.” Mervyn tersenyum, mengangguk paham. “Baiklah, Marcell dan Michelle, senang berkenalan dengan kalian,” ungkapnya, lalu menambahkan, “Namaku Mervyn.” Usai bertukar nama, Marcell dan Michelle mengajak Mervyn langsung masuk ke dalam rumah, menuju ruang tamu yang bersih, rapi dan nyaman. Meskipun tempat tinggalnya sangat sederhana, tetapi sepertinya Mireya dan kedua anaknya tampak nyaman dan selalu menjaga kebersihan rumah itu—seolah sudah sangat bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang. Mervyn meletakkan tas hadiah di dekat sofa, dikawal oleh Michelle yang sejak tadi mengikutinya dengan raut wajah antu

    Last Updated : 2025-02-09
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 44

    Mireya terpaku dengan tubuh bergetar saat melihat keberadaan Mervyn. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Hanya ada kecemasan yang tidak terkendali di dalam dirinya. Selama ini, setelah memutuskan menjauh dari hidup Mervyn, Mireya selalu berpikir bahwa dunianya akan baik-baik saja bersama anak-anak. Marcell dan Michelle bisa menjalani hari-hari dengan tenang, aman dan nyaman. Tanpa perlu khawatir akan bertemu lagi dengan ayah biologis mereka. Tapi ... pemandangan apa yang dia lihat saat ini? “Mami!” Kedua anak itu langsung bangkit dan berlari menghampiri Mireya, melupakan sejenak mainan baru yang dibelikan oleh Mervyn. Tangan-tangan mungil itu melingkari pinggang Mireya—memeluknya dengan begitu erat dan penuh cinta. Namun, Mireya sama sekali tidak membalas. Raganya seperti terlepas dari tubuh dan melayang jauh entah ke mana. Sambil mengepalkan kedua tangan kuat-kuat, Mireya menatap Mervyn dengan emosi yang memenuhi dada. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Mervyn,

    Last Updated : 2025-02-10
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 45

    Punggung Mervyn benar-benar menghilang di balik daun pintu, meninggalkan Mireya yang masih berdiam diri di ruang tamu.Hening ....Tidak ada suara selain detak jantungnya yang terasa begitu keras di telinga. Mireya merasa tubuhnya sangat lemah, seakan seluruh energi yang dia miliki telah terkuras habis setelah berbicara dengan Mervyn.Dengan langkah terseok-seok, wanita itu berjalan menuju sofa dan duduk, berusaha menstabilkan perasaan.Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri, tapi yang datang justru air mata yang mulai menetes.Ketakutan yang luar biasa merasuki setiap sudut hatinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?Tanya demi tanya terus berputar dalam pikiran. Bagaimana dia akan menjelaskan semuanya pada Marcell dan Michelle?Jika kedua anak itu tahu kebenaran ini, apakah mereka akan membenci Mireya dan berpaling ke sisi Mervyn?Di tengah kesunyian itu, tanpa Mireya sadari, ada dua sosok yang sejak tadi menyaksikan semuanya, menguping percakapan Mireya dan Mervyn secara d

    Last Updated : 2025-02-10
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 46

    Setelah menjalani serangkaian prosedur tes DNA dengan mengambil sampel darah, Mervyn, Mireya, Marcell dan Michelle kembali masuk ke dalam mobil. Mereka harus menunggu hasil tes keluar hingga besok atau lusa.“Mami, sekarang kita mau pergi ke mana?” tanya Michelle penasaran.Dibandingkan Marcell yang lebih banyak diam dan hanya membicarakan yang penting-penting saja, Michelle memang termasuk anak yang aktif dalam berkomunikasi.“Kita akan langsung pulang ke rumah,” jawab Mireya yang sedang duduk di dekat kaca sebelah kanan. Hari ini rasanya dia sangat lelah dan butuh lebih banyak waktu untuk istirahat.Michelle mengerucutkan bibir saat mendengar jawaban Mireya. Padahal, dia berharap mereka bisa pergi ke tempat hiburan yang asyik dan menyenangkan.“Paman, apakah Paman juga akan langsung pulang?” Kali ini Michelle menatap ke arah pria dewasa yang duduk di sampingnya.Mervyn sedikit menunduk, mengimbangi tatapan Michelle. “Aku harus kembali ke kantor, tapi tenang saja, kita masih punya ba

    Last Updated : 2025-02-11

Latest chapter

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 107

    Mireya pun menjelaskan kejadian mengenai Felix yang membohonginya dengan mengatakan bahwa Henry, ayah mereka, sedang mengalami kritis di rumah sakit. Namun, ternyata Felix malah membawanya ke tempat asing dan menjadikannya jaminan utang.“Felix?” Mervyn mengerutkan dahi saat mendengar nama yang tak dia kenal. “Siapa dia?”“Dia kakak laki-lakiku. Kami lahir dari ibu yang berbeda, tetapi masih satu ayah,” terang Mireya.“Kalau begitu, artinya dia juga kakaknya Felly?” tebak pria itu.Lantas Mireya mengangguk. “Ya, mereka satu ibu,” tambahnya.Mervyn manggut-manggut paham, lalu terdiam setelahnya. Akan tetapi, isi kepalanya terus bekerja memikirkan sosok Felix yang telah membuat istri kesayangannya hampir menjadi korban pemerkosaan.Mervyn bersumpah, suatu saat Felix pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya!“Mervyn, kenapa melamun?” Mireya menyentuh sebelah pipi Mervyn dan membuatnya sedikit terkejut.Mervyn menunduk, menatap ke dalam mata cantik istrinya, lalu ter

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 107

    “Hey ... apa yang kamu pikirkan?” Mervyn menyelipkan anak rambut Mireya ke belakang telinga wanita itu. “Aku tidak pernah menganggap kamu pembawa sial. Sebaliknya, aku justru merasa lebih bahagia setelah bertemu kembali dengan kamu dan anak-anak. Siapa bilang kalau kamu pembawa sial?”Mireya merasa sedikit lebih lega. Namun, perasaan sedih dan bersalah itu masih belum hilang sepenuhnya dari dalam diri. Melihat kondisi Mervyn yang tidak berdaya seperti saat ini membuatnya sangat sedih.“Mervyn, apa boleh aku menceritakan alasan yang sebenarnya?” tanya Mireya seraya mendongak, menatap mata sang suami dengan lebih serius dan dalam.Cup!Mervyn mengecup pelipis Mireya lekat-lekat. “Ceritakanlah,” balasnya.Mireya menghela napas sejenak. “Sebenarnya ... saat tiba di rumah sakit, aku duduk menunggu kamu di luar ruangan. Aku terus mendoakan untuk keselamatan kamu. Kemudian, tiba-tiba Ibu datang bersama Lisa. Aku menjelaskan pada Ibu mengenai apa yang terjadi dengan kamu, lalu Ibu menyalahkan

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 106

    Setelah menjalani rawat inap selama hampir satu minggu di rumah sakit, Mervyn akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Akan tetapi, dia tetap membutuhkan banyak istirahat di rumah, supaya proses penyembuhan luka di perutnya lebih cepat selesai.Malam itu, di saat Marcell dan Michelle sedang belajar bersama di kamar mereka, Mireya membuatkan segelas susu hangat untuk Mervyn.Mireya menghampiri Mervyn yang berbaring di atas kasur, meletakkan sejenak gelas di atas meja. Kemudian, membantu Mervyn mengubah posisi menjadi duduk dengan kedua kaki diluruskan serta punggung yang bersandar pada kepala kasur.“Minumlah ...” ucap Mireya sembari menyodorkan kembali susu di dalam gelas berbahan kaca ke arah Mervyn.“Terima kasih,” ucap Mervyn seraya mengambil alih benda itu dan mulai meneguk minumannya pelan-pelan.“Mireya, aku mau tanya sesuatu.” Mervyn meletakkan gelas di atas meja, lalu menatap istrinya dengan serius.“Tanyakan saja,” kata Mireya yang tengah duduk di tepi kasur, menun

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 105

    Lisa tercengang saat Mervyn mengusirnya secara terang-terangan di hadapan Mireya dan kedua anaknya. “Mervyn, kamu—” “Aku bilang, keluar!” Suara Mervyn terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeret kamu pergi dari sini!” Sungguh, Lisa terbungkam dibuatnya. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain mengalah, lalu melangkah keluar dengan wajah diselimuti amarah. Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata apa pun untuk membalas ucapan Mervyn. Bruk! Pintu dibanting lumayan keras oleh Lisa. Saking kesalnya, mungkin dia ingin menunjukkan kepada Mervyn dan yang lain mengenai suasana hatinya. Saat ini hanya tersisa Mervyn, Mireya dan kedua anak kembar mereka di dalam ruangan. Lalu, Mireya mendekat, berdiri di samping ranjang pasien, mengambil posisi di seberang Marcell dan Michelle. Melihat wajah cantik sang istri yang tampak dipenuhi kecemasan, Mervyn lantas tersenyum lembut. “Hai ...!” Mireya ikut tersenyum, sadar bahwa kondisi suami

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 104

    “Tidak mau!” Anak-anak itu menggeleng dengan kompak sambil bergerak mundur satu langkah.Mereka menatap Lisa seolah sedang berhadapan dengan penyihir jahat.Lisa sebenarnya cukup tersinggung dan kesal melihat reaksi Marcell dan Michelle. Namun, dia segera menghela napas, mencoba bersikap tenang.“Tidak perlu takut, Sayang!” ujar wanita yang diketahui merupakan mantan tunangan Mervyn tersebut. “Aku tidak akan menyakiti kalian. Sebaliknya, aku akan menjaga kalian lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh ibu kalian,” lanjutnya.Mireya mendelik gusar. Dia menangkap adanya niat terselubung di balik perkataan Lisa yang sepertinya sedang berusaha menghasut pikiran kedua anak kembarnya.“Mami adalah yang terbaik bagi kami! Tante hanyalah orang asing. Bagaimana bisa menjadi yang lebih baik dari Mami?!” protes Marcell sambil menggenggam telapak tangan Mireya yang berdiri di sampingnya.“Ya, tentu saja aku bisa.” Lisa terkekeh pelan dengan ekspresi wajah yang tampak menyebalkan di mata kedua ana

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 103

    “Papi ... sedang dirawat di rumah sakit.” Mireya memutuskan untuk mengungkapkan fakta—meskipun keadaan Mervyn yang sebenarnya jauh lebih buruk dari yang dia ungkapkan. Marcell dan Michelle terdiam seketika. Wajah mereka berubah, mencerminkan kesedihan yang dalam.Mireya bisa melihat betapa khawatirnya mereka, walaupun anak-anak itu masih kecil.Mereka tidak bisa disalahkan jika merasa bingung dan cemas mendengar kabar buruk tentang Mervyn.“Apa Papi sakit parah, Mi?” Suara Michelle terdengar bergetar seiring air mata yang memenuhi pelupuknya.Tidak bisa dipungkiri, gadis kecil itu sangat menyayangi ayahnya. Kabar ini jelas membuatnya merasa takut.Mireya merasakan hatinya semakin sakit saat melihat reaksi anaknya. Namun, dia berusaha tetap tenang.Sebagai seorang ibu, Mireya sadar, dia harus memberikan penjelasan yang bisa menenangkan hati kedua anaknya tanpa membebani lebih banyak.“Papi kecelakaan, sayang,” ucap Mireya, mulai menjelaskan dengan hati-hati. Dia berusaha memilih kata-

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 102

    Mervyn perlahan membuka mata. Cahaya terang dari lampu rumah sakit menyilaukan, tetapi dia masih bisa merasakan udara dingin ruangan yang menyentuh permukaan kulit.Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan dunia yang tampak kabur di sekitarnya. Perlahan wajah-wajah yang familiar mulai muncul satu per satu.Sarah yang semula duduk di samping ranjang, seketika bangkit saat tahu kalau Mervyn sudah sadar. Lantas dia menghampiri anak lelakinya.“Mervyn, akhirnya kamu sadar juga,” ucapnya dengan wajah antusias. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat melontarkan kalimat itu.Di sebelah Sarah, Lisa duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya tidak bisa lepas dari Mervyn seakan memastikan pria itu baik-baik saja.Mervyn tidak peduli. Dia hanya mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Mireya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan.Tidak ada tanda-tanda kehadiran istri dan kedua anaknya di sini. Hanya ada dua wajah yang dia kenal, tetapi tanpa melihat wajah Mireya dan si

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 101

    Mireya menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang melangkah semakin dekat ke arahnya.“Julian ...?”“Apa yang kamu lakukan di sini?” Pria itu duduk di samping Mireya tanpa meminta izin, seakan mereka memiliki hubungan yang sudah cukup dekat dan tidak perlu lagi basa-basi.Mireya tidak menjawab. Sebab, dia juga tak tahu harus mengatakan apa.“Mireya, apa kamu menangis?” Melihat sudut mata Mireya yang berair, Julian merasa khawatir. ”Kamu sedang ada masalah, ya?”“Sedikit,” jawab Mireya setengah ragu, membuat Julian mengerutkan kening saat mendengarnya.“Apa ini ada kaitannya dengan Mervyn?” tanya Julian, mencoba menggali informasi lebih dalam.Mireya bimbang, antara harus menjawab jujur atau tidak. Di sisi lain, dia merasa tidak memiliki kepentingan apa pun untuk menceritakan masalahnya kepada Julian—apalagi ini tentang masalah pribadi dalam rumah tangganya.Melihat reaksi Mireya yang hanya diam, Julian tahu bahwa dugaannya memang benar. Dia pun merasa kalau ini merupakan peluan

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 100

    “Ibu, izinkan aku menjelaskan semuanya ...” pinta Mireya dengan ekspresi merasa bersalah, tetapi mencoba tetap tenang menghadapi emosi Sarah yang tidak terkontrol.“Memangnya apa lagi yang bisa kamu jelaskan, hah?!” Sarah terkekeh sinis, merasa tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari bibir sang menantu.“Tadi aku hampir menjadi korban pemerkosaan, tapi kemudian Mervyn datang menyelamatkanku dan ... pada akhirnya dia ditusuk oleh salah satu anak buah dari pria itu,” ujar Mireya dengan nada gugup yang begitu kental.Mendengar itu, alih-alih iba atau basa-basi menanyakan bagaimana keadaan Mireya, seperti apa kondisi mentalnya, apakah Mireya baik-baik saja dan sebagainya, Sarah justru semakin naik pitam. Matanya jelas menunjukkan amarah yang melimpah.“Kamu tahu, Mireya? Bertemu dengan kamu adalah suatu kesialan terbesar dalam hidup Mervyn!” Sarah berbicara dengan nada tajam dan penuh tekanan di setiap kata yang dia lontarkan.Hati Mireya terasa perih mendengarnya. Sebelum bertemu dengan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status