“Kalian bicara apa? Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Pak David,” sangkal Mireya, membela diri karena tidak merasa melakukan sesuatu yang dituduhkan teman-temannya. “Jangan menyebarkan berita yang tidak benar!”Mireya khawatir gosip itu tersebar dan sampai ke telinga sang manajer. Jika itu terjadi, Mireya tentu akan merasa sangat malu berhadapan dengan David.Diana mendekat, berhenti di depan Mireya, lalu menatapnya dari atas ke bawah sambil bersedekap dada dengan gaya angkuh. “Kalau dilihat-lihat, kamu memang tidak cukup menarik dari segi penampilan. Hanya saja aku penasaran, kenapa Pak David selalu baik padamu? Bahkan saat kamu melakukan kesalahan, Pak David selalu memakluminya.”Mireya bergeming. Meski mulutnya tak banyak mengeluarkan kata-kata, tapi isi kepalanya mulai dipenuhi oleh pertanyaan serupa.Sebelumnya, Mireya tidak merasa ada yang aneh dari sikap manajernya. Namun, setelah mendengar ucapan Diana, dia baru sadar bahwa perlakuan David terhadapnya memang berbeda.Dia
Kecurigaan Mireya menjadi semakin kuat saat dihadapkan dengan beberapa hal yang menurutnya janggal. Selain mendengar percakapan David dengan Mervyn melalui telepon, dia juga menemukan fakta baru yang terlalu tidak masuk akal jika dianggap kebetulan. Tiga hari yang lalu, Mireya menemui pemilik kost karena ingin membayar biaya sewa bulanan yang nyaris jatuh tempo. Namun, pemilik kost menolak uangnya dan menjelaskan, “Selama satu tahun ke depan, biaya sewa kamar kost sudah ditanggung oleh seseorang. Jadi, kamu bisa tinggal dengan nyaman tanpa perlu memikirkan biaya sewa bulanan.” Saat Mireya bertanya, “Siapa yang bayar, Bu?” Pemilik kost menjawab, “Katanya, dia teman dekat kamu.” Mireya jelas bingung. Dia tidak punya banyak teman dalam hidupnya. Adapun satu-satunya yang paling dekat hanyalah Bella, tapi rasanya tidak mungkin kalau Bella yang melakukan itu. Sebab, Mireya yakin seratus persen kalau Bella tidak tahu keberadaannya sekarang. Lalu, alasan kedua, pemilik kost juga meng
Mireya menoleh, mendapati sosok pria berkacamata yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. “Apa yang terjadi, Nona?” Pria itu kembali bertanya. Akan tetapi, Mireya tidak berniat menceritakan masalahnya karena mereka tidak saling kenal satu sama lain. Mireya pun hanya menjawab sebagai bentuk formalitas, “Tidak apa-apa.” Pria itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebungkus tisu dan menyodorkannya ke arah Mireya. Sebagai orang asing, pria itu cukup memahami bahwa wanita di sebelahnya mungkin tidak nyaman untuk bercerita kepada orang tak dikenal. Jadi, dia tak akan bertanya lebih banyak lagi. “Terima kasih,” ucap Mireya seraya mengambil selembar tisu dan menepis air mata yang berjejak di pipinya. “Sama-sama.” *** Usai membaca pesan pengunduran diri yang dikirim oleh Mireya, David segera memberitahukannya kepada Mervyn. Kabar itu jelas sangat mengejutkan Mervyn dan mengusik ketenangannya. Kemudian, dia bersama anak buahnya bergegas mendatangi rumah kost yang Mireya tempati.
Beberapa tahun kemudian .... Keputusan Mireya untuk meninggalkan kota A tak pernah membuatnya menyesal sedikit pun. Meski harus berjuang keras demi kelangsungan hidup, tapi akhirnya dia mampu melewati masa-masa sulit itu dengan penuh rasa syukur. “Mami, apa aku boleh membuat susu hangat?” Gadis mungil berusia tujuh tahun baru saja menghampiri Mireya yang sedang memasak di dapur. “Kamu bisa melakukannya sendiri, Michelle?” Mireya melirik sejenak ke arah bocah menggemaskan dengan gaya rambut yang diikat tinggi tersebut. “Tentu, Mami! Aku selalu memperhatikan saat Mami membuat susu dan mempelajarinya diam-diam.” Saat Michelle mengangguk, poni tebal sebatas alisnya ikut bergoyang. “Itu bukan hal yang sulit,” katanya. “Benarkah?” Mireya tersenyum bangga mendengarnya. “Kalau begitu, buatlah! Mami ingin mencicipi sedikit susu hangat buatan putri tercinta Mami.” “Aku ingin mencicipinya juga!” Dari arah lain, anak laki-laki dengan tubuh lebih tinggi baru saja bergabung dengan Michel
Marcell mengambil tas laptop dan membawanya naik ke atas kasur. Di sampingnya ada Michelle yang sedang duduk dengan kedua kaki diluruskan.Tangan mungil anak laki-laki itu bergerak cepat memainkan mouse, menekan satu ikon yang tertera pada layar monitor, mencari sesuatu yang ingin dia tunjukkan kepada adiknya.Selang beberapa detik, Marcell menghadapkan laptop ke arah Michelle. “Bagaimana menurutmu?”Michelle hampir tidak berkedip saat melihat foto seorang laki-laki dewasa yang tampak tidak asing di matanya. “Kakak, apa kamu menggunakan teknologi AI untuk menciptakan foto di masa depan?”Marcell mengangkat telunjuk, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri sambil menggeleng kecil. “No!” sangkalnya. “Itu foto orang lain.”“Tapi dia terlihat seperti kamu dengan versi lebih besar,” komentar Michelle. Beberapa kali dia memandangi foto yang ditampilkan pada layar, lalu bergantian menatap Marcell demi memastikan seberapa mirip wajah mereka. “Hampir tidak ada bedanya.”Marcell kembali membawa l
Michelle tertegun. “Kita tidak pernah bertemu dengannya. Apa kamu yakin itu memang dia?” Marcell mengangguk cepat. Rasa penasaran dan emosi seketika bercampur di dalam dadanya. Mereka melihat pria yang diduga adalah Mervyn itu berjalan santai di sekitar mall. Namun, yang membuat hati terasa hancur adalah kenyataan bahwa pria itu sedang menggandeng seorang wanita di sisinya. Wanita itu tampak elegan dengan mengenakan pakaian bermerk, berpenampilan menarik, rapi, cantik dan terlihat sangat akrab dengan Mervyn—seperti pasangan yang sedang menikmati waktu kencan bersama. Perasaan marah mulai bergemuruh di dalam hati Marcell. “Kenapa dia tidak pernah mencari kita? Kenapa malah pergi bersama wanita lain?” Tanpa sadar, air matanya hampir jatuh, tetapi dia segera menahan diri. Michelle menghela napas dan mencoba menenangkan Marcell. "Mungkin kita hanya salah lihat, Kak. Itu mungkin bukan dia,” ujarnya, mencoba berpikir positif walaupun agak berat. Namun, Marcell tidak bisa menghent
Mervyn berdiri di hadapan Mireya, menahan langkahnya. Ada satu hal yang sangat ingin dia tanyakan. “Mireya ...” panggilnya dengan hati-hati, “aku ingin bicara denganmu.” Mireya segera menepis tangan Mervyn. Wajahnya terlihat buru-buru, seperti ada hal mendesak yang memaksanya menghindar secepat mungkin. “Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang buru-buru,” jawabnya singkat, sambil menarik Marcell dan Michelle menjauh dari hadapan pria jangkung itu. Mervyn bingung. Pertanyaannya masih menggantung di udara, tetapi Mireya sudah terlalu cepat menghilang dari pandangannya. Sebelum dia sempat mengejar, Lisa sudah kembali menggandeng lengannya. “Sayang, ayo kita pergi!” ajak Lisa dengan suara tegas, tapi ada sedikit nada khawatir di baliknya. Meskipun tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi setelah menyimpulkan dari cara Mervyn menatap dan bicara dengan wanita itu, Lisa menyadari bahwa Mervyn memiliki kenangan lama yang mungkin masih belum usai dengan Mireya. Dia takut kenangan itu kemb
“Mami, kenapa orang lain bisa punya ayah yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan aku dan Kakak tidak?” Michelle menunduk, menarik tubuhnya dari pelukan Mireya. Tangan mungil itu saling tertaut diiringi wajah sedih yang sulit diungkapkan. Mireya terbungkam. Seperti ada sekat tebal yang menutup saluran pernapasan saat mendengar pertanyaan Michelle. Melalui pertanyaan itu, Mireya bisa menebak sebesar apa keingintahuan yang selama ini terpendam di hati Michelle. Namun, mungkin anak itu selalu menahan diri untuk menggali informasi lebih detail dan sekarang sudah tidak bisa menahannya lagi. Tanpa sadar, mata Mireya mulai berkaca-kaca. Dia tahu, ada banyak hal yang belum bisa dijelaskan kepada anak-anaknya. Setiap kali Michelle ataupun Marcell bertanya mengenai ayah kandung mereka, Mireya merasa seolah dunia mengimpit rongga dadanya dengan sangat kuat. Sejenak Mireya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tetapi sulit untuk mengelak dari perasaan sedih yang mulai
Mireya pun menjelaskan kejadian mengenai Felix yang membohonginya dengan mengatakan bahwa Henry, ayah mereka, sedang mengalami kritis di rumah sakit. Namun, ternyata Felix malah membawanya ke tempat asing dan menjadikannya jaminan utang.“Felix?” Mervyn mengerutkan dahi saat mendengar nama yang tak dia kenal. “Siapa dia?”“Dia kakak laki-lakiku. Kami lahir dari ibu yang berbeda, tetapi masih satu ayah,” terang Mireya.“Kalau begitu, artinya dia juga kakaknya Felly?” tebak pria itu.Lantas Mireya mengangguk. “Ya, mereka satu ibu,” tambahnya.Mervyn manggut-manggut paham, lalu terdiam setelahnya. Akan tetapi, isi kepalanya terus bekerja memikirkan sosok Felix yang telah membuat istri kesayangannya hampir menjadi korban pemerkosaan.Mervyn bersumpah, suatu saat Felix pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya!“Mervyn, kenapa melamun?” Mireya menyentuh sebelah pipi Mervyn dan membuatnya sedikit terkejut.Mervyn menunduk, menatap ke dalam mata cantik istrinya, lalu ter
“Hey ... apa yang kamu pikirkan?” Mervyn menyelipkan anak rambut Mireya ke belakang telinga wanita itu. “Aku tidak pernah menganggap kamu pembawa sial. Sebaliknya, aku justru merasa lebih bahagia setelah bertemu kembali dengan kamu dan anak-anak. Siapa bilang kalau kamu pembawa sial?”Mireya merasa sedikit lebih lega. Namun, perasaan sedih dan bersalah itu masih belum hilang sepenuhnya dari dalam diri. Melihat kondisi Mervyn yang tidak berdaya seperti saat ini membuatnya sangat sedih.“Mervyn, apa boleh aku menceritakan alasan yang sebenarnya?” tanya Mireya seraya mendongak, menatap mata sang suami dengan lebih serius dan dalam.Cup!Mervyn mengecup pelipis Mireya lekat-lekat. “Ceritakanlah,” balasnya.Mireya menghela napas sejenak. “Sebenarnya ... saat tiba di rumah sakit, aku duduk menunggu kamu di luar ruangan. Aku terus mendoakan untuk keselamatan kamu. Kemudian, tiba-tiba Ibu datang bersama Lisa. Aku menjelaskan pada Ibu mengenai apa yang terjadi dengan kamu, lalu Ibu menyalahkan
Setelah menjalani rawat inap selama hampir satu minggu di rumah sakit, Mervyn akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Akan tetapi, dia tetap membutuhkan banyak istirahat di rumah, supaya proses penyembuhan luka di perutnya lebih cepat selesai.Malam itu, di saat Marcell dan Michelle sedang belajar bersama di kamar mereka, Mireya membuatkan segelas susu hangat untuk Mervyn.Mireya menghampiri Mervyn yang berbaring di atas kasur, meletakkan sejenak gelas di atas meja. Kemudian, membantu Mervyn mengubah posisi menjadi duduk dengan kedua kaki diluruskan serta punggung yang bersandar pada kepala kasur.“Minumlah ...” ucap Mireya sembari menyodorkan kembali susu di dalam gelas berbahan kaca ke arah Mervyn.“Terima kasih,” ucap Mervyn seraya mengambil alih benda itu dan mulai meneguk minumannya pelan-pelan.“Mireya, aku mau tanya sesuatu.” Mervyn meletakkan gelas di atas meja, lalu menatap istrinya dengan serius.“Tanyakan saja,” kata Mireya yang tengah duduk di tepi kasur, menun
Lisa tercengang saat Mervyn mengusirnya secara terang-terangan di hadapan Mireya dan kedua anaknya. “Mervyn, kamu—” “Aku bilang, keluar!” Suara Mervyn terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeret kamu pergi dari sini!” Sungguh, Lisa terbungkam dibuatnya. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain mengalah, lalu melangkah keluar dengan wajah diselimuti amarah. Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata apa pun untuk membalas ucapan Mervyn. Bruk! Pintu dibanting lumayan keras oleh Lisa. Saking kesalnya, mungkin dia ingin menunjukkan kepada Mervyn dan yang lain mengenai suasana hatinya. Saat ini hanya tersisa Mervyn, Mireya dan kedua anak kembar mereka di dalam ruangan. Lalu, Mireya mendekat, berdiri di samping ranjang pasien, mengambil posisi di seberang Marcell dan Michelle. Melihat wajah cantik sang istri yang tampak dipenuhi kecemasan, Mervyn lantas tersenyum lembut. “Hai ...!” Mireya ikut tersenyum, sadar bahwa kondisi suami
“Tidak mau!” Anak-anak itu menggeleng dengan kompak sambil bergerak mundur satu langkah.Mereka menatap Lisa seolah sedang berhadapan dengan penyihir jahat.Lisa sebenarnya cukup tersinggung dan kesal melihat reaksi Marcell dan Michelle. Namun, dia segera menghela napas, mencoba bersikap tenang.“Tidak perlu takut, Sayang!” ujar wanita yang diketahui merupakan mantan tunangan Mervyn tersebut. “Aku tidak akan menyakiti kalian. Sebaliknya, aku akan menjaga kalian lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh ibu kalian,” lanjutnya.Mireya mendelik gusar. Dia menangkap adanya niat terselubung di balik perkataan Lisa yang sepertinya sedang berusaha menghasut pikiran kedua anak kembarnya.“Mami adalah yang terbaik bagi kami! Tante hanyalah orang asing. Bagaimana bisa menjadi yang lebih baik dari Mami?!” protes Marcell sambil menggenggam telapak tangan Mireya yang berdiri di sampingnya.“Ya, tentu saja aku bisa.” Lisa terkekeh pelan dengan ekspresi wajah yang tampak menyebalkan di mata kedua ana
“Papi ... sedang dirawat di rumah sakit.” Mireya memutuskan untuk mengungkapkan fakta—meskipun keadaan Mervyn yang sebenarnya jauh lebih buruk dari yang dia ungkapkan. Marcell dan Michelle terdiam seketika. Wajah mereka berubah, mencerminkan kesedihan yang dalam.Mireya bisa melihat betapa khawatirnya mereka, walaupun anak-anak itu masih kecil.Mereka tidak bisa disalahkan jika merasa bingung dan cemas mendengar kabar buruk tentang Mervyn.“Apa Papi sakit parah, Mi?” Suara Michelle terdengar bergetar seiring air mata yang memenuhi pelupuknya.Tidak bisa dipungkiri, gadis kecil itu sangat menyayangi ayahnya. Kabar ini jelas membuatnya merasa takut.Mireya merasakan hatinya semakin sakit saat melihat reaksi anaknya. Namun, dia berusaha tetap tenang.Sebagai seorang ibu, Mireya sadar, dia harus memberikan penjelasan yang bisa menenangkan hati kedua anaknya tanpa membebani lebih banyak.“Papi kecelakaan, sayang,” ucap Mireya, mulai menjelaskan dengan hati-hati. Dia berusaha memilih kata-
Mervyn perlahan membuka mata. Cahaya terang dari lampu rumah sakit menyilaukan, tetapi dia masih bisa merasakan udara dingin ruangan yang menyentuh permukaan kulit.Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan dunia yang tampak kabur di sekitarnya. Perlahan wajah-wajah yang familiar mulai muncul satu per satu.Sarah yang semula duduk di samping ranjang, seketika bangkit saat tahu kalau Mervyn sudah sadar. Lantas dia menghampiri anak lelakinya.“Mervyn, akhirnya kamu sadar juga,” ucapnya dengan wajah antusias. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat melontarkan kalimat itu.Di sebelah Sarah, Lisa duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya tidak bisa lepas dari Mervyn seakan memastikan pria itu baik-baik saja.Mervyn tidak peduli. Dia hanya mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Mireya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan.Tidak ada tanda-tanda kehadiran istri dan kedua anaknya di sini. Hanya ada dua wajah yang dia kenal, tetapi tanpa melihat wajah Mireya dan si
Mireya menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang melangkah semakin dekat ke arahnya.“Julian ...?”“Apa yang kamu lakukan di sini?” Pria itu duduk di samping Mireya tanpa meminta izin, seakan mereka memiliki hubungan yang sudah cukup dekat dan tidak perlu lagi basa-basi.Mireya tidak menjawab. Sebab, dia juga tak tahu harus mengatakan apa.“Mireya, apa kamu menangis?” Melihat sudut mata Mireya yang berair, Julian merasa khawatir. ”Kamu sedang ada masalah, ya?”“Sedikit,” jawab Mireya setengah ragu, membuat Julian mengerutkan kening saat mendengarnya.“Apa ini ada kaitannya dengan Mervyn?” tanya Julian, mencoba menggali informasi lebih dalam.Mireya bimbang, antara harus menjawab jujur atau tidak. Di sisi lain, dia merasa tidak memiliki kepentingan apa pun untuk menceritakan masalahnya kepada Julian—apalagi ini tentang masalah pribadi dalam rumah tangganya.Melihat reaksi Mireya yang hanya diam, Julian tahu bahwa dugaannya memang benar. Dia pun merasa kalau ini merupakan peluan
“Ibu, izinkan aku menjelaskan semuanya ...” pinta Mireya dengan ekspresi merasa bersalah, tetapi mencoba tetap tenang menghadapi emosi Sarah yang tidak terkontrol.“Memangnya apa lagi yang bisa kamu jelaskan, hah?!” Sarah terkekeh sinis, merasa tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari bibir sang menantu.“Tadi aku hampir menjadi korban pemerkosaan, tapi kemudian Mervyn datang menyelamatkanku dan ... pada akhirnya dia ditusuk oleh salah satu anak buah dari pria itu,” ujar Mireya dengan nada gugup yang begitu kental.Mendengar itu, alih-alih iba atau basa-basi menanyakan bagaimana keadaan Mireya, seperti apa kondisi mentalnya, apakah Mireya baik-baik saja dan sebagainya, Sarah justru semakin naik pitam. Matanya jelas menunjukkan amarah yang melimpah.“Kamu tahu, Mireya? Bertemu dengan kamu adalah suatu kesialan terbesar dalam hidup Mervyn!” Sarah berbicara dengan nada tajam dan penuh tekanan di setiap kata yang dia lontarkan.Hati Mireya terasa perih mendengarnya. Sebelum bertemu dengan