Share

Chapter 27

Penulis: APStory
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-28 14:55:30
Mireya baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Usai melakukan sidik jari sebagai tanda absen pulang, dia melewati pintu keluar karyawan, berhenti di tepi jalan sambil membuka aplikasi taksi online pada ponselnya.

Saat wanita itu masih sibuk berkutat dengan benda pipih di tangannya, sebuah mobil hitam mengkilat dengan deru mesin yang sangat halus tiba-tiba berhenti tepat di depannya.

Mireya mendongak, mengernyit kikuk, bertanya dalam hati, apakah itu taksi yang baru saja dia pesan?

Tapi, bagaimana mungkin?

Jelas-jelas ikon pencarian masih terus berjalan dan belum ada notifikasi bahwa driver telah mengambil orderan. Lantas siapa yang ada di hadapannya sekarang?

“Mau aku antar?” Kaca mobil terbuka, menampilkan sosok Mervyn yang menatap Mireya di balik kacamata gelap yang dia kenakan.

Tubuh Mireya membeku selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar dan dia segera menolak dengan bahasa yang sopan. “Tidak, terima kasih!”

Mervyn menghela napas, membuka kacamata dan m
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 28

    “Bukan!” Mireya langsung menyangkal secepat kilat. “Siapa yang mengatakan kalau ini anak Anda?” tambahnya. “Meskipun dalam keadaan mabuk, tapi aku ingat, malam itu kita melakukannya tanpa pengaman. Bagaimana bisa kamu mengatakan anak itu bukan anakku?” Mireya memegangi perutnya dengan panik, seakan takut seseorang mencuri janin yang tumbuh di kantung rahimnya. “Ini memang bukan anak Anda, Pak!” sangkal wanita yang telapak tangannya kini dibanjiri peluh sebesar biji jagung. Melihat pendar kegelisahan yang begitu besar di balik sorot mata Mireya, Mervyn lantas menghela napas dan mencoba bicara lebih lembut. “Kita sedang berada di luar lingkungan kerja. Jadi, kamu tidak harus memanggilku dengan bahasa formal. Cukup panggil nama saja, seperti aku memanggil nama kamu, Mireya. Bisa, ‘kan?” Setiap kali Mireya menyebutnya dengan kata, ‘Pak’, meskipun dia sudah biasa dipanggil seperti itu, tapi entah kenapa Mervyn merasa panggilan itu terlalu kaku dan membuatnya kurang nyaman. Mervy

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-28
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 29

    Mervyn memejamkan mata sambil mengurut pelipis. Dengkusan kasar terembus dari saluran pernapasannya setelah mendengar pertanyaan sang ibu yang membuatnya hampir frustrasi.Beberapa waktu terakhir, Sarah memang sibuk sekali menjejali indera pendengaran Mervyn dengan rencana perjodohan yang tak pernah diharapkan oleh pria berusia genap tiga puluh tahun tersebut.Saking muaknya, Mervyn sampai menyatakan telah mempunyai calon pilihannya sendiri untuk dinikahi. Kemudian, Sarah meminta dirinya membawa gadis itu ke rumah untuk dikenalkan.Usai mengetahui kebenaran mengenai Felly dan Mireya, mulanya Mervyn berniat menikahi Mireya dan mempertemukannya dengan Sarah—sebelum hari ini datang dan dia baru saja mendengar kabar buruk yang membuatnya kembali kehilangan harapan.Ternyata ... menurut pengakuan Mireya, anak itu bukanlah darah dagingnya.“Aku belum menentukan waktunya, Bu.” Mervyn sedang buntu sekarang. Hanya itu satu-satunya jawaban paling aman yang melintas di kepalanya.Sarah menghela

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-30
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 30

    “Kalian bicara apa? Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Pak David,” sangkal Mireya, membela diri karena tidak merasa melakukan sesuatu yang dituduhkan teman-temannya. “Jangan menyebarkan berita yang tidak benar!”Mireya khawatir gosip itu tersebar dan sampai ke telinga sang manajer. Jika itu terjadi, Mireya tentu akan merasa sangat malu berhadapan dengan David.Diana mendekat, berhenti di depan Mireya, lalu menatapnya dari atas ke bawah sambil bersedekap dada dengan gaya angkuh. “Kalau dilihat-lihat, kamu memang tidak cukup menarik dari segi penampilan. Hanya saja aku penasaran, kenapa Pak David selalu baik padamu? Bahkan saat kamu melakukan kesalahan, Pak David selalu memakluminya.”Mireya bergeming. Meski mulutnya tak banyak mengeluarkan kata-kata, tapi isi kepalanya mulai dipenuhi oleh pertanyaan serupa.Sebelumnya, Mireya tidak merasa ada yang aneh dari sikap manajernya. Namun, setelah mendengar ucapan Diana, dia baru sadar bahwa perlakuan David terhadapnya memang berbeda.Dia

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 31

    Kecurigaan Mireya menjadi semakin kuat saat dihadapkan dengan beberapa hal yang menurutnya janggal. Selain mendengar percakapan David dengan Mervyn melalui telepon, dia juga menemukan fakta baru yang terlalu tidak masuk akal jika dianggap kebetulan. Tiga hari yang lalu, Mireya menemui pemilik kost karena ingin membayar biaya sewa bulanan yang nyaris jatuh tempo. Namun, pemilik kost menolak uangnya dan menjelaskan, “Selama satu tahun ke depan, biaya sewa kamar kost sudah ditanggung oleh seseorang. Jadi, kamu bisa tinggal dengan nyaman tanpa perlu memikirkan biaya sewa bulanan.” Saat Mireya bertanya, “Siapa yang bayar, Bu?” Pemilik kost menjawab, “Katanya, dia teman dekat kamu.” Mireya jelas bingung. Dia tidak punya banyak teman dalam hidupnya. Adapun satu-satunya yang paling dekat hanyalah Bella, tapi rasanya tidak mungkin kalau Bella yang melakukan itu. Sebab, Mireya yakin seratus persen kalau Bella tidak tahu keberadaannya sekarang. Lalu, alasan kedua, pemilik kost juga meng

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-02
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 32

    Mireya menoleh, mendapati sosok pria berkacamata yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. “Apa yang terjadi, Nona?” Pria itu kembali bertanya. Akan tetapi, Mireya tidak berniat menceritakan masalahnya karena mereka tidak saling kenal satu sama lain. Mireya pun hanya menjawab sebagai bentuk formalitas, “Tidak apa-apa.” Pria itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebungkus tisu dan menyodorkannya ke arah Mireya. Sebagai orang asing, pria itu cukup memahami bahwa wanita di sebelahnya mungkin tidak nyaman untuk bercerita kepada orang tak dikenal. Jadi, dia tak akan bertanya lebih banyak lagi. “Terima kasih,” ucap Mireya seraya mengambil selembar tisu dan menepis air mata yang berjejak di pipinya. “Sama-sama.” *** Usai membaca pesan pengunduran diri yang dikirim oleh Mireya, David segera memberitahukannya kepada Mervyn. Kabar itu jelas sangat mengejutkan Mervyn dan mengusik ketenangannya. Kemudian, dia bersama anak buahnya bergegas mendatangi rumah kost yang Mireya tempati.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-02
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 33

    Beberapa tahun kemudian .... Keputusan Mireya untuk meninggalkan kota A tak pernah membuatnya menyesal sedikit pun. Meski harus berjuang keras demi kelangsungan hidup, tapi akhirnya dia mampu melewati masa-masa sulit itu dengan penuh rasa syukur. “Mami, apa aku boleh membuat susu hangat?” Gadis mungil berusia tujuh tahun baru saja menghampiri Mireya yang sedang memasak di dapur. “Kamu bisa melakukannya sendiri, Michelle?” Mireya melirik sejenak ke arah bocah menggemaskan dengan gaya rambut yang diikat tinggi tersebut. “Tentu, Mami! Aku selalu memperhatikan saat Mami membuat susu dan mempelajarinya diam-diam.” Saat Michelle mengangguk, poni tebal sebatas alisnya ikut bergoyang. “Itu bukan hal yang sulit,” katanya. “Benarkah?” Mireya tersenyum bangga mendengarnya. “Kalau begitu, buatlah! Mami ingin mencicipi sedikit susu hangat buatan putri tercinta Mami.” “Aku ingin mencicipinya juga!” Dari arah lain, anak laki-laki dengan tubuh lebih tinggi baru saja bergabung dengan Michel

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 34

    Marcell mengambil tas laptop dan membawanya naik ke atas kasur. Di sampingnya ada Michelle yang sedang duduk dengan kedua kaki diluruskan.Tangan mungil anak laki-laki itu bergerak cepat memainkan mouse, menekan satu ikon yang tertera pada layar monitor, mencari sesuatu yang ingin dia tunjukkan kepada adiknya.Selang beberapa detik, Marcell menghadapkan laptop ke arah Michelle. “Bagaimana menurutmu?”Michelle hampir tidak berkedip saat melihat foto seorang laki-laki dewasa yang tampak tidak asing di matanya. “Kakak, apa kamu menggunakan teknologi AI untuk menciptakan foto di masa depan?”Marcell mengangkat telunjuk, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri sambil menggeleng kecil. “No!” sangkalnya. “Itu foto orang lain.”“Tapi dia terlihat seperti kamu dengan versi lebih besar,” komentar Michelle. Beberapa kali dia memandangi foto yang ditampilkan pada layar, lalu bergantian menatap Marcell demi memastikan seberapa mirip wajah mereka. “Hampir tidak ada bedanya.”Marcell kembali membawa l

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 35

    Michelle tertegun. “Kita tidak pernah bertemu dengannya. Apa kamu yakin itu memang dia?” Marcell mengangguk cepat. Rasa penasaran dan emosi seketika bercampur di dalam dadanya. Mereka melihat pria yang diduga adalah Mervyn itu berjalan santai di sekitar mall. Namun, yang membuat hati terasa hancur adalah kenyataan bahwa pria itu sedang menggandeng seorang wanita di sisinya. Wanita itu tampak elegan dengan mengenakan pakaian bermerk, berpenampilan menarik, rapi, cantik dan terlihat sangat akrab dengan Mervyn—seperti pasangan yang sedang menikmati waktu kencan bersama. Perasaan marah mulai bergemuruh di dalam hati Marcell. “Kenapa dia tidak pernah mencari kita? Kenapa malah pergi bersama wanita lain?” Tanpa sadar, air matanya hampir jatuh, tetapi dia segera menahan diri. Michelle menghela napas dan mencoba menenangkan Marcell. "Mungkin kita hanya salah lihat, Kak. Itu mungkin bukan dia,” ujarnya, mencoba berpikir positif walaupun agak berat. Namun, Marcell tidak bisa menghent

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04

Bab terbaru

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 41

    “Diamlah” Mervyn mengerling gusar, menyembunyikan garis wajahnya yang memerah setelah mendengar ucapan Rayyan. “Belikan mainan dan hadiah untuk Mireya dan anak-anak! Nanti sore aku akan datang ke rumahnya.”Rayyan mengangguk. “Baik, Pak. Bagaimana kalau sebuket bunga untuk Nona Mireya?” tawarnya.“Boleh juga.”“Lalu, mainan seperti apa yang ingin Anda berikan untuk si kembar?”Mendengar pertanyaan itu, Mervyn segera menatap tajam mata Rayyan.“Apa kamu pikir aku cukup berpengalaman tentang ini?” sindir Mervyn sambil terkekeh sinis. “Kamu tanyakan saja pada orang lain! Aku belum pernah membelikan mainan untuk anak-anak!” omelnya.“M–maaf, Pak.” Rayyan langsung menundukkan kepala. “Baiklah, tidak masalah. Saya akan bertanya pada yang lain,” ucapnya sambil tertawa renyah untuk menyembunyikan rasa takut.***Sambil menunggu Mireya pulang, Marcell dan Michelle memutuskan membuat bolu cokelat panggang.Walaupun tidak cukup pandai di bagian dapur, tetapi mereka masih bisa mengandalkan buku r

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 40

    Pertanyaan Julian yang sebetulnya begitu sederhana membuat Mireya terdiam sejenak. Wajahnya memerah dan tenggorokannya terasa kering. Pikiran Mireya kini bercabang, mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk menjelaskan hubungannya dengan Mervyn tanpa membuka terlalu banyak luka lama. Julian menatapnya penuh tanda tanya, masih menunggu satu jawaban pasti. “Iya.” Akhirnya, dengan suara rendah, Mireya mengangguk pelan, memberi jawaban yang terkesan setengah hati. Julian mengamati setiap gerakan kecil Mireya, bagaimana wanita itu terlihat salah tingkah dan bingung. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata itu. Perlahan, Julian mencoba untuk menyusun sendiri potongan teka-teki yang belum lengkap. Kemudian, sebilah dugaan mulai muncul dalam benaknya. “Mungkinkah pria itu adalah dia...?” tanya Julian sedikit mengambang. Mireya hampir tercengang. Kenapa tebakan Julian bisa setepat itu? Julian telah mendengar cukup banyak cerita dari masa lalu Mireya.

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 39

    Mireya berjuang keras melepaskan cengkeraman Mervyn yang menahan tangannya dengan begitu rapat.Namun, setiap kali dia berusaha menarik diri, hanya rasa sakit di sekitar pergelangan tangan yang Mireya rasakan. Membuatnya tak berdaya dan terpaksa menyerah.“Apa mau kamu?” Kalimat itu baru saja keluar dari pita suara Mireya. Dia benar-benar hampir frustrasi.Mervyn, dengan bola mata gelapnya yang tajam, menatap Mireya seperti singa lapar yang sekian lama tidak pernah melihat seonggok daging.“Katakan, kedua bocah kembar itu memang anak-anakku, ‘kan?” Mervyn bicara dengan nada suara yang justru terkesan seperti menegaskan, bukan sedang mempertanyakan sesuatu.“Bukan!” elak Mireya secepat kilat, seolah tak ingin membiarkan Mervyn mencurigai anak-anaknya lebih lama.“Jangan bohong, Mireya!” Urat-urat tangan Mervyn sampai keluar saat dia mencengkeram lengan Mireya lebih erat lagi. “Sudah jelas wajah mereka sangat mirip denganku. Masih mau menyangkal?”Mireya meringis kesakitan. Dia yakin, p

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 38

    Siang itu, Mireya sedang berada di perusahaan tempatnya bekerja. Dia masih ingat akan pertemuan yang tak disengaja dengan seorang laki-laki asing di dalam pesawat, yang telah membawanya masuk ke dunia baru yang—seharusnya—lebih baik. Dalam kenangan, Mireya menemukan bayangan dirinya sedang merenung dan menangis sambil menatap jendela pesawat. Di tengah momen sedih tersebut, Julian, seseorang yang kebetulan menempati kursi penumpang di sebelah Mireya, tiba-tiba bertanya alasan kenapa wanita itu menangis. ‘Apakah rasanya begitu mengerikan duduk di sampingku?’ tanya Julian pada saat itu. Karena tidak saling kenal, Mireya tidak berniat menjelaskan apa pun padanya. Namun, tanpa diduga, Julian menyodorkan selembar tisu dengan senyuman lembut di wajahnya. Mereka tak banyak bicara selama penerbangan. Julian lebih memilih diam, seolah sengaja memberi ruang untuk Mireya menikmati lukanya. Lalu, saat hampir mendarat di bandara, Mireya mengalami kram perut yang membuatnya kesulitan turu

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 37

    “Mami, kenapa orang lain bisa punya ayah yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan aku dan Kakak tidak?” Michelle menunduk, menarik tubuhnya dari pelukan Mireya. Tangan mungil itu saling tertaut diiringi wajah sedih yang sulit diungkapkan. Mireya terbungkam. Seperti ada sekat tebal yang menutup saluran pernapasan saat mendengar pertanyaan Michelle. Melalui pertanyaan itu, Mireya bisa menebak sebesar apa keingintahuan yang selama ini terpendam di hati Michelle. Namun, mungkin anak itu selalu menahan diri untuk menggali informasi lebih detail dan sekarang sudah tidak bisa menahannya lagi. Tanpa sadar, mata Mireya mulai berkaca-kaca. Dia tahu, ada banyak hal yang belum bisa dijelaskan kepada anak-anaknya. Setiap kali Michelle ataupun Marcell bertanya mengenai ayah kandung mereka, Mireya merasa seolah dunia mengimpit rongga dadanya dengan sangat kuat. Sejenak Mireya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tetapi sulit untuk mengelak dari perasaan sedih yang mulai

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 36

    Mervyn berdiri di hadapan Mireya, menahan langkahnya. Ada satu hal yang sangat ingin dia tanyakan. “Mireya ...” panggilnya dengan hati-hati, “aku ingin bicara denganmu.” Mireya segera menepis tangan Mervyn. Wajahnya terlihat buru-buru, seperti ada hal mendesak yang memaksanya menghindar secepat mungkin. “Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang buru-buru,” jawabnya singkat, sambil menarik Marcell dan Michelle menjauh dari hadapan pria jangkung itu. Mervyn bingung. Pertanyaannya masih menggantung di udara, tetapi Mireya sudah terlalu cepat menghilang dari pandangannya. Sebelum dia sempat mengejar, Lisa sudah kembali menggandeng lengannya. “Sayang, ayo kita pergi!” ajak Lisa dengan suara tegas, tapi ada sedikit nada khawatir di baliknya. Meskipun tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi setelah menyimpulkan dari cara Mervyn menatap dan bicara dengan wanita itu, Lisa menyadari bahwa Mervyn memiliki kenangan lama yang mungkin masih belum usai dengan Mireya. Dia takut kenangan itu kemb

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 35

    Michelle tertegun. “Kita tidak pernah bertemu dengannya. Apa kamu yakin itu memang dia?” Marcell mengangguk cepat. Rasa penasaran dan emosi seketika bercampur di dalam dadanya. Mereka melihat pria yang diduga adalah Mervyn itu berjalan santai di sekitar mall. Namun, yang membuat hati terasa hancur adalah kenyataan bahwa pria itu sedang menggandeng seorang wanita di sisinya. Wanita itu tampak elegan dengan mengenakan pakaian bermerk, berpenampilan menarik, rapi, cantik dan terlihat sangat akrab dengan Mervyn—seperti pasangan yang sedang menikmati waktu kencan bersama. Perasaan marah mulai bergemuruh di dalam hati Marcell. “Kenapa dia tidak pernah mencari kita? Kenapa malah pergi bersama wanita lain?” Tanpa sadar, air matanya hampir jatuh, tetapi dia segera menahan diri. Michelle menghela napas dan mencoba menenangkan Marcell. "Mungkin kita hanya salah lihat, Kak. Itu mungkin bukan dia,” ujarnya, mencoba berpikir positif walaupun agak berat. Namun, Marcell tidak bisa menghent

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 34

    Marcell mengambil tas laptop dan membawanya naik ke atas kasur. Di sampingnya ada Michelle yang sedang duduk dengan kedua kaki diluruskan.Tangan mungil anak laki-laki itu bergerak cepat memainkan mouse, menekan satu ikon yang tertera pada layar monitor, mencari sesuatu yang ingin dia tunjukkan kepada adiknya.Selang beberapa detik, Marcell menghadapkan laptop ke arah Michelle. “Bagaimana menurutmu?”Michelle hampir tidak berkedip saat melihat foto seorang laki-laki dewasa yang tampak tidak asing di matanya. “Kakak, apa kamu menggunakan teknologi AI untuk menciptakan foto di masa depan?”Marcell mengangkat telunjuk, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri sambil menggeleng kecil. “No!” sangkalnya. “Itu foto orang lain.”“Tapi dia terlihat seperti kamu dengan versi lebih besar,” komentar Michelle. Beberapa kali dia memandangi foto yang ditampilkan pada layar, lalu bergantian menatap Marcell demi memastikan seberapa mirip wajah mereka. “Hampir tidak ada bedanya.”Marcell kembali membawa l

  • Pahitnya Cinta: Mengandung Benih CEO Dingin   Chapter 33

    Beberapa tahun kemudian .... Keputusan Mireya untuk meninggalkan kota A tak pernah membuatnya menyesal sedikit pun. Meski harus berjuang keras demi kelangsungan hidup, tapi akhirnya dia mampu melewati masa-masa sulit itu dengan penuh rasa syukur. “Mami, apa aku boleh membuat susu hangat?” Gadis mungil berusia tujuh tahun baru saja menghampiri Mireya yang sedang memasak di dapur. “Kamu bisa melakukannya sendiri, Michelle?” Mireya melirik sejenak ke arah bocah menggemaskan dengan gaya rambut yang diikat tinggi tersebut. “Tentu, Mami! Aku selalu memperhatikan saat Mami membuat susu dan mempelajarinya diam-diam.” Saat Michelle mengangguk, poni tebal sebatas alisnya ikut bergoyang. “Itu bukan hal yang sulit,” katanya. “Benarkah?” Mireya tersenyum bangga mendengarnya. “Kalau begitu, buatlah! Mami ingin mencicipi sedikit susu hangat buatan putri tercinta Mami.” “Aku ingin mencicipinya juga!” Dari arah lain, anak laki-laki dengan tubuh lebih tinggi baru saja bergabung dengan Michel

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status