Beranda / Romansa / PACAR RAHASIA SANG CEO / 03. WANITA BERNAMA MAYANG

Share

03. WANITA BERNAMA MAYANG

Penulis: Kim_Lin
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-31 10:41:47

"Bisa bantu saya bawakan ini?"

Aluna mengangguk lalu meraih satu kantong kresek berwarna putih yang berisi banyak snack dan camilan. Aluna tidak ikut Dirga masuk ke minimarket dan lebih memilih untuk menunggu di luar. Sampai saat ini pikirannya masih belum bisa berpikir jernih. Entah obat apa yang pria itu beli. Entah untuk siapa obat itu. Mengingat mungkin saja hari ini mereka berdua akan melakukan aktivitas yang memerlukan sebuah obat.

"Argh …." Aluna mengusak rambutnya.

"Kamu kenapa?" tanya Dirga bingung.

"Nggak."

"Kamu nggak lagi sakit, 'kan?" tanya Dirga sekali lagi.

"Nggak, Om."

"Bagus kalau begitu. Ayo, kita pergi."

Dirga meraih tangan Aluna lalu mengaitkan pada lengannya. Hal yang membuat Aluna mengernyitkan dahi. Terlebih saat melihat Dirga sedang mengedipkan sebelah mata.

"Gandeng tangan saya, ya. Sekarang 'kan kamu pacar saya," goda Dirga.

Aluna menghela napas, pasrah saat Dirga sudah menggandeng tangannya. Mereka berdua mulai berjalan menuju ruang hotel yang Dirga pesan. Kata Dirga, ruangan yang akan mereka tempati ada di lantai atas.

Aluna cukup terkesima dengan hotel pilihan Dirga. Hotel bintang lima yang berada di Jakarta Pusat. Mengusung tema classic british, hotel ini terkesan mewah dan berkelas. Tentu saja, karena yang ada disini adalah orang-orang berduit seperti Dirga.

"Resepsionisnya ada di lantai 20. Saya belum reservasi," tutur Dirga.

"Bagaimana, hotelnya bagus, bukan?" cecarnya lagi.

"Iya, bagus," jawab Aluna.

"Nanti kita pesan kamar yang Deluxe Cityscape saja, ya. Biar kamu juga nyaman. Kita nginep dua hari."

"Dua hari?" Seketika mata Aluna terbelalak.

"Iya, dua hari. Kamu boleh pergi ke kampus. Tapi kamu harus kembali ke sini lagi." Pintu lift terbuka.

Aluna tidak menjawab, pikirannya semakin kacau. Apa yang akan mereka berdua lakukan di hotel selama dua hari? Aluna menoleh ke arah Dirga, memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya. Sudah tua, tetapi pikiran pria itu hanya tentang kesenangan dunia. Aluna sampai menggelengkan kepala melihat raut wajah Dirga yang begitu bersemangat. Dasar pria mesum!

"Deluxe Cityscape, untuk dua hari." Dirga berbicara dengan resepsionis.

"Baik. Ada tiga kamar kosong."

"Pilih yang paling bagus."

Setelah memilih, Dirga kemudian melakukan pembayaran dan sekarang kunci kamar sudah ada di tangan. Aluna semakin gusar, itu artinya sebentar lagi mereka akan sampai di kamar hotel dan melakukan hal gila bersama. Meskipun Dirga pria yang tampan, tetapi Aluna masih belum siap untuk menyerahkan hal yang paling berharga itu pada pria yang tidak ia cintai. Jika bukan karena uang semester dan pria kampung gila itu, mungkin Aluna sudah lari saat ini juga.

"Ngelamun apa?" tanya Dirga.

"Si-siapa yang ngelamun?" Aluna mendadak gugup.

"Kalau begitu, ayo! Saya sudah tidak sabar ingin segera berbaring."

Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Dirga selalu berhasil membuat Aluna berpikir kotor. Aluna yang kembali menggandeng tangan Dirga terus mengutuk diri dalam hati atas pikiran kotornya. Mereka berdua kembali naik lift. Kamar yang Dirga pesan berjarak dua lantai dari tempat resepsionis tadi.

"Jangan tegang. Rileks saja." Dirga terkekeh melihat tingkah kaku Aluna.

"Hmm …." Aluna malas menanggapi.

Pintu lift terbuka, kamar dengan nomor 303 menjadi tujuan mereka. Tidak ada percakapan setelah mereka keluar dari lift. Dirga fokus pada langkahnya sedangkan Aluna sedang sibuk menata hati yang sudah gelisah tidak karuan.

"Eh, berhenti!"

Aluna kaget saat tiba-tiba Dirga menariknya dan mengajak Aluna untuk bersembunyi di balik tembok. Aluna menurut meskipun ia masih bingung. Dirga menaruh jari telunjuk di bibir. Aluna paham, pria itu memberi kode pada Aluna agar diam dan tidak keluar dari persembunyian.

"Sedang apa dia di sini?"

Dirga menajamkan pandangan, seseorang berhasil menarik perhatian sang CEO tampan itu. Dirga terus mengintip dan seketika dadanya bergemuruh hebat. Tidak salah lagi, orang yang baru saja dia lihat adalah Mayang sang istri.

"Kurang ajar!"

Tanpa sadar Dirga meninju tembok cukup kencang. Amarah seketika menyelimuti, hatinya sakit melihat sang istri sedang bergandengan tangan dengan pria lain. Mayang dan pria itu terlihat sedang berdiri di depan pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar yang dipesan Dirga.

"Ada apa, Om?"

Dirga menoleh ke belakang. Saking marah, Dirga sampai melupakan presensi Aluna yang ada di belakangnya. Dirga menarik napas dalam, mencoba menetralkan pikiran yang berkecamuk hebat. Terlebih saat melihat wajah Aluna yang ketakutan, Dirga berusaha mengulas senyum agar gadis itu tidak khawatir.

"Sebentar, ya," ucap Dirga.

Aluna mengangguk dan kembali diam seperti tadi. Demi apa dia takut setengah mati saat Dirga tiba-tiba meninju tembok. Tatapan nyalang pria itu terlihat sangat menyeramkan. Aluna bahkan refleks meremas ujung jas Dirga saking terkejut.

Dirga kembali mengintip, kali ini dia mengeluarkan ponsel dan memotret Mayang bersama selingkuhannya. Setelah selesai, Dirga mengirim foto itu pada seseorang. Belum mendapat balasan, Dirga kembali menaruh ponsel itu ke dalam saku jas.

"Kita ke bagian resepsionis sebentar."

"Ada apa, Om?" tanya Aluna penasaran.

"Ikut saja!"

Suara Dirga mulai meninggi. Dirga segera berjalan ke arah lift tanpa menggandeng tangan Aluna. Pria itu terlihat sangat tergesa-gesa, Aluna bahkan sampai harus mengambil langkah besar untuk menyusul Dirga. CEO tampan itu terlihat sedang marah besar.

Tidak ada percakapan selama di lift. Saat pintu lift terbuka, Dirga berjalan cepat menuju meja resepsionis tanpa memperdulikan Aluna yang setengah berlari mengejar Dirga. Entah apa yang Dirga bicarakan, tapi terlihat pria itu sedang menggebrak meja.

"Cepat beritahu saya. Atau saya bisa buat kekacauan di tempat ini."

"Ba-baik. Tunggu sebentar."

Aluna yang sudah berada di samping Dirga mencoba mengatur napas karena lelah setelah berjalan cepat tadi. Sang resepsionis terlihat sedang mengetik sesuatu dengan raut wajah yang ketakutan. Sementara Dirga, wajah pria itu terlihat merah padam dengan tangan yang mengepal. Aluna sampai mengernyitkan dahi karena bingung apa yang membuat sang CEO tiba-tiba marah besar.

"Kamar itu dipesan atas nama Krisna Wiguna. Reservasi dua hari yang lalu dan akan check out besok pagi," papar resepsionis.

"Kurang ajar! Dia sudah membohongiku!"

Dirga segera mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Tidak mendapat jawaban, Dirga kembali mencoba menghubungi lagi. Umpatan dan sumpah serapah terus ia lontarkan selama menunggu panggilan telepon diangkat.

"Kenapa lama sekali, hah?" teriak Dirga saat panggilannya diangkat.

"Maaf, Bos. Tadi ada klien." Terdengar suara seorang pria dari ponsel.

"Cari tahu pria yang bernama Krisna Wiguna. Aku sudah kirim fotonya." Nada bicara Dirga penuh penekanan.

"Baik, Bosku. Kamu bisa ngandelin sahabatmu ini. Percayakan pada Bagas si mata-mata." Terdengar gelak tawa dari seberang sana.

"Oke. Nanti malam aku tunggu kabar dari kamu."

Panggilan telepon ditutup, Dirga kembali menaruh ponselnya dalam saku jas. Dirga mengusap wajah dengan kasar seraya melemparkan kata umpatan. Pria itu frustasi, kabar tentang perselingkuhan sang istri ternyata benar. Dirga sudah melihat dengan mata kepala sendiri.

"Om kenapa? Om baik-baik saja, 'kan?"

Aluna memberanikan diri untuk bertanya pada Dirga. Dirga menoleh lalu menghela napas kasar. Karena tersulut emosi Dirga sampai melupakan keberadaan Aluna yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

"Kamu bisa pulang sendiri, 'kan?"

Suasana mendadak berubah tegang. Dirga mengeluarkan dompet lalu menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah pada Aluna. Aluna hanya menatap lembaran uang itu dengan tatapan bingung.

"Ini, ambilah. Kamu pulang pakai taksi. Makanannya buat kamu saja. Saya mau pulang. Mau istirahat."

Dirga segera pergi setelah menyerahkan uang dan makanan yang tadi dia beli pada Aluna. Tanpa permintaan maaf, pria itu sekali lagi meninggalkan Aluna seorang diri setelah memberi Aluna sejumlah rupiah. Aluna menatap nanar lembaran uang itu juga dua kantong kresek berisi makanan. Gadis itu mulai mengasihani diri.

"Sehina inikah aku?" Seketika air mata luruh dari sudut matanya.

Bab terkait

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   04. BERTENGKAR HEBAT

    Seminggu setelah kejadian itu, Dirga dan Aluna tidak saling menghubungi satu sama lain. Hal yang Aluna syukuri karena sampai saat ini mahkotanya masih terjaga dengan baik. Walau jauh dari dalam lubuk hati, Aluna masih sedih dengan perlakuan Dirga tempo hari. Gadis dengan rambut diikat bun itu kembali mengetik. Mengerjakan tugas kuliah yang sempat terbengkalai. Namun, pikirannya tidak bisa fokus. Entah kenapa, wajah Dirga terus terbesit dalam isi kepala. "Dia mirip serigala," celetuknya. Dirga Aryatama, dua kali bertemu dan pria itu seperti memiliki dualitas yang berbeda di mata Aluna. Sikap ramah yang sempat membuat Aluna nyaman dan tidak takut sekalipun mereka baru saling kenal. Akan tetapi, di sisi lain sifat dingin yang ditunjukkan pria itu mampu membuat Aluna bergidik ngeri. Sorot mata tajam dengan tatapan mengintimidasi, hanya sekali ucap siapapun akan dibuat takut oleh CEO tampan itu. "Kenapa aku peduli? Kamu pasti sudah tidak waras, Aluna." Gadis itu memukul dahi pelan, lal

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-02
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   05. SALAH PAHAM

    "Dasar gila!"Dirga tertawa kecil mendengar umpatan dari Bagas. Sejak semalam Bagas tak henti mengoceh karena tindakan Dirga yang menurut Bagas sangat di luar nalar. Kebiasan buruk Dirga, pria itu tak segan menghamburkan uang jika sedang mengalami tekanan atau masalah. Seperti malam tadi, pria berpangkat CEO itu membeli sebuah penthouse mewah di salah satu apartemen terkemuka di kawasan Jakarta Pusat dan membayar cash malam itu juga. Lebih gilanya lagi, Dirga mengatakan pada Bagas jika dia memiliki seorang pacar seorang mahasiswi. Hal yang membuat Bagas tercengang tidak percaya, sejak kapan Dirga menjadi seliar itu? "Udah ngapain aja?" tanya Bagas penasaran. "Apanya?" Dirga masih fokus mengecek berkas laporan keuangan bulanan. "Iya, udah ngapain aja sama pacar kamu itu? Pelukan? Ciuman? Atau …." Bagas semakin tidak sabar. "Belum aku apa-apain. Masih segel," jawab Dirga asal. "Yakin masih segel? Kalau udah bobol?" Pertanyaan Bagas mendapat delikan mata dari Dirga. Takut, Bagas s

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-06
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   06. DEEP TALK

    Aluna menelan saliva saat pria itu meloloskan kemeja putih dari tubuh atletisnya. Dirga sudah duduk membelakangi Aluna. Menyodorkan punggung putih mulus tersebut untuk mendapatkan terapi dari sang pacar rahasia. "Aku mulai, ya, Om."Aluna membalur minyak angin yang baru dia beli beberapa saat lalu pada punggung Dirga. Secara perlahan ia mengolesi minyak angin agar terbalur dengan rata. Tanpa Aluna sadari sentuhan lembut yang dia lakukan menimbulkan desiran asing pada aliran darah pria itu.. "Kalau sakit bilang, ya."Dirga mengangguk paham dan Aluna mulai mengerok punggung sang CEO dengan koin. Garis merah kini menghiasi punggung Dirga. Pria itu benar-benar sedang sakit. "Istri saya sudah mengakui kalau dia selingkuh. Kami berdua bertengkar."Aluna berhenti sejenak saat Dirga membuka suara. Pria itu tiba-tiba saja menceritakan permasalahannya dengan sang istri. Aluna tidak menanggapi, dia kembali mengerok punggung Dirga. "Sampai saat ini, kami belum dikaruniai seorang anak. Dia men

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-04
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   07. HADIAH UNTUK ALUNA

    Sudah cukup lama Dirga berdiri di depan pintu kamar mandi. Menggedor secara berulang sambil memanggil nama Aluna. Hampir satu jam Aluna berada di dalam dan sampai saat ini gadis itu masih enggan keluar. "Teman saya sudah pulang. Apa kamu nggak bosan diam di dalam terus?""Sebentar lagi, Om," teriak Aluna dari dalam. "Kamu lagi ngapain, sih? Udah satu jam kamu di dalam."Dirga mendengus, semua ini gara-gara Bagas. Gadis itu pasti malu setengah mati karena kepergok hendak berbuat mesum. Sekali lagi Dirga mengetuk pintu, membujuk Aluna agar keluar dari sana. "Saya hitung sampai tiga. Kalau tidak keluar, saya dobrak pintunya." Dirga mulai berhitung. "Satu … dua … ti …."Handle pintu bergerak, Aluna perlahan membuka pintu kamar mandi dengan wajah tertunduk. Sumpah demi apa wajahnya kini sudah semerah tomat. Aluna berharap jika saat ini dia menjadi butiran debu saja yang tertiup hembusan angin. Dia tidak punya muka untuk menatap wajah Dirga saat ini. "Jalan-jalan, yuk. Saya bosan."Sat

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-05
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   08. NASIB SEORANG SIMPANAN

    Hari berlalu begitu cepat, tak terasa malam sudah tiba. Aluna dan Dirga tengah duduk berhadapan menunggu pesanan mereka datang. Seharian bermain di pantai ternyata menyenangkan dan cukup menguras energi. Mereka tengah makan malam berdua di salah satu restoran yang ada di kawasan pantai Ancol. "Bagaimana laptopnya, sudah kamu coba?" "Sudah. Bagus, Om. Terima kasih. Saya tinggal pindahin semua filenya." Aluna nampak sumringah. "Papi, Papi Dirga. Jangan panggil Om lagi, oke!" Dirga mengingatkan. "Iya, Papi."Dirga tersenyum melihat sikap patuh Aluna. Tidak pernah sekalipun gadis itu menolak apapun yang Dirga minta. Jika diperhatikan lebih teliti lagi, Aluna cukup cantik, tidak kalah cantik dengan Mayang semasa muda dulu. Gadis berpenampilan sederhana itu terlihat menggemaskan dengan kedua lesung pipi. Menambah kesan manis apalagi ketika Aluna sedang tersenyum."Bagaimana kabar pria itu? Pria yang dijodohin sama kamu itu, apa dia datang lagi?" Dirga kembali membuka percakapan."Nggak

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-06
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   09. PRIA BERNAMA KRISNA

    Dirga berjalan cepat setelah sampai di rumah sakit yang dituju. Setelah beberapa saat akhirnya Dirga sampai di ruangan tempat Mayang dirawat. Terlihat sang istri tengah terbaring dengan tangan di gips dan perban di kepala. "Mayang, kamu baik-baik saja? Kenapa bisa seperti ini?"Dirga sudah tidak bisa membendung lagi perasaan khawatir. Meraih sebuah kursi yang ada di sana, Dirga segera mengambil tempat di samping ranjang milik Mayang. Pria itu meraih tangan sang istri lalu mengusap punggung tangan mulus itu dengan lembut. "Pak Ilham tadi mengantuk. Jadi, ya gitu, deh. Seperti yang kamu lihat sekarang."Mayang sama sekali tidak berminat melihat kehadiran Dirga. Andai saja sebelah tangannya tidak di gips, mungkin dia akan mengambil posisi memunggungi sang suami. Meski mendapat perlakuan dingin dari sang istri, Dirga tetap berusaha memasang senyum dihadapan wanita terkasihnya. "Kamu udah makan? Mau aku belikan sesuatu?" bujuk Dirga. "Tidak usah. Aku nggak lapar," jawab Mayang seperlun

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-08
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   10. PEMBALASAN ALUNA

    "Sudah sadar, Bro? Syukurlah."Bagas yang baru saja membuka curtain jendela bernapas lega saat melihat sang sahabat sudah sadarkan diri. Bagas berbalik, terlihat Dirga sedang membenahi posisi bersandar di punggung ranjang seraya mengurut pelipis. Melihat itu Bagas langsung mengambil segelas air kemudian memberikannya kepada Dirga. "Ini, Bro. Diminum dulu. Pak Bos kalau lagi patah hati nyusahin," keluh Bagas. "Terima kasih."Air tersebut habis dalam sekali teguk, pria itu kemudian menaruh gelas kosong tersebut di atas nakas. Dirga kembali bersandar, kepalanya masih terasa pusing. Mungkin ini akibat karena dia mabuk semalam. "Kamu yang antar saya balik ke apartemen, Gas?" tanya Dirga. "Menurutmu, siapa lagi?" cebik Bagas. Pria itu melipat tangan di dada. "Untung aja aku aktifin GPS, kalau nggak kamu bakal habis digerayangi sama cewek-cewek gatel disana." Bagas terlihat kesal. "Kamu kenapa, Bro? Ada masalah?"Dirga terlihat menghela napas, kejadian semalam masih teringat jelas dalam

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-08
  • PACAR RAHASIA SANG CEO   11. TIPU DAYA KRISNA

    Aluna dan Rere terlihat tergesa. Bagaimana tidak, hari ini si dosen killer mengajar di jam pertama dan mereka sudah terlambat lima menit. Salahkan Aluna yang bangun kesiangan. Bahkan mereka berdua tidak mandi, hanya gosok gigi setelah itu memakai minyak wangi yang banyak agar bau tubuh mereka tersamarkan. "Loh?"Keduanya melongo, kelas ternyata belum dimulai. Aluna dan Rere lekas duduk di bangku masing-masing. Dengan napas terengah Aluna menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, detik selanjutnya dia mulai mengeluarkan buku catatan di atas laptop yang ditaruh di atas meja. "Wow!!"Salah satu mahasiswi berjalan menuju tempat duduk Aluna dengan mulut menganga. Aluna memicingkan mata, terlebih saat mahasiswi itu meraih laptop Aluna. Memutar-mutar benda tersebut, memastikan jika ia tidak salah lihat. "Nggak salah, Lun? Ini punya kamu?" tanya mahasiswi yang bernama Rosi. "Iya, memangnya kenapa?" "Dapat uang darimana kamu? Jual diri, ya? Ini 'kan laptop keluaran terbaru. Aku aja nggak m

    Terakhir Diperbarui : 2023-05-10

Bab terbaru

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   22. CUPID

    "Papi takut?""Ng-nggak! S-siapa yang takut?""Buktinya ini!"Aluna mengangkat tangannya yang digenggam erat oleh Dirga. Sejak tadi Aluna tak henti tertawa saat melihat Dirga yang terus menutup mata bahkan menggenggam kuat-kuat tangannya saat sosok makhluk astral muncul di layar lebar. Mereka berdua sedang menonton film horor."Aku tidak takut." Dirga segera melepaskan cengkramannya."Kalau takut juga gak apa-apa, Pi. Jangan malu," kekeh Aluna. "Sudah aku bilang, aku tidak takut."Tidak mau kalah, Dirga lekas melipat tangannya di dada. Pandangannya serius menatap lurus ke depan. Bertepatan dengan itu, sosok menyeramkan muncul kembali di layar. Seketika Dirga berteriak seperti anak kecil. "Aku tidak takut, ya. Cuma kaget saja sama musiknya," kilah Dirga segera karena gengsi. "Iya, iya. Papi emang pemberani." Aluna kembali tertawa. Aluna kembali fokus melihat ke depan. Menonton dengan seksama sembari memasukan beberapa berondong jagung ke dalam mulutnya. Gadis itu memang sangat men

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   21. HARI PERTAMA MENJADI TEMAN

    Senyum simpul itu tak henti terpancar dari wajah Aluna. Di tengah kesibukannya mengerjakan tugas dari sang dosen killer, pikirannya dibuat sibuk dengan rencananya bersama Dirga malam nanti. "Kelas saya cukupkan sampai disini. Jangan lupa kerjakan tugas yang saya berikan. Saya tidak akan menerima alasan apapun jika tidak ada yang mengerjakan tugas."Sang dosen killer itu lekas keluar dari dalam kelas. Masih dengan senyum yang belum luntur, Aluna membereskan semua buku juga laptopnya. Tanpa Aluna sadari, sejak tadi Rere memperhatikan gelagat aneh Aluna. "Senyum-senyum terus. Dapat hadiah baru dari Papi-mu, ya?" tanya Rere dengan nada mengejek. "Apaan, sih. Kepo!" cebik Aluna. "Mentang-mentang punya orang baru, sahabat lama dilupain." Rere tak jalah kesal. "Siapa yang lupain kamu, Rere Naima …."Aluna mencubit gemas pipi Rere seperti anak kecil. Jelas Rere langsung berontak. Aluna yang melihat itu langsung tertawa karena tidak tahan melihat wajah kesal Rere. "Nanti sore aku ada ac

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   20. SI BODOH DAN SI PARASIT

    Wanita itu menutup pintu mobil dengan kasar. Dengan jalan yang dihentakkan, Mayang segera memasuki lift. Dadanya bergemuruh hebat, suara wanita di telepon tadi sukses membuatnya murka luar biasa. "Krisna!"Tidak ada kata-kata sayang. Tidak ada nada yang lemah lembut dan manja. Mayang lekas masuk ke dalam lalu mencari pria itu ke segala arah. Hingga terakhir dia berada di depan pintu kamar. Dia tidak langsung masuk, tangannya tertahan di handle pintu. Suara cekikikan dan tawa seorang wanita nyaring terdengar. Disusul dengan suara menjijikan yang Mayang yakin itu adalah suara Krisna. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia yakin Krisna sedang berbuat mesum dengan seorang wanita. "Br*ngsek!"Kata itu yang pertama keluar dari mulut Mayang saat netranya menyaksikan sesuatu yang luar biasa di hadapannya. Dimana Krisna sedang berada di atas tubuh seorang wanita muda yang pakaian atasnya sudah tanggal. Begitupun Krisna yang sudah bertelanjang dada. Semua mata dibuat terbelalak."D

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   19. SEBAB

    "Suami kamu memang sudah gila, Sayang.""Makanya, kamu jangan seperti suamiku. Sudah sibuk, sekalinya ketemu bikin emosi," cebik wanita itu. Mayang duduk bersandar di bahu Krisna."Percaya sama aku. Kamu bakalan jadi wanita paling bahagia jika bersamaku." Krisna mengelus lembut kepala Mayang."Kalau begitu, bagaimana kalau secepatnya kita menikah? Aku sudah tidak tahan terus terjebak dengan pria menyebalkan itu."Krisna menghela napas dalam, ini yang tidak ia sukai dari Mayang. Terus mendesaknya menikahi wanita itu. Padahal sedikitpun Krisna tidak memiliki niat untuk menikahi Mayang. Dia hanya ingin bersenang-senang saja."Kita baru saja memulai bisnis kita, Mayang. Bahkan kita belum memulai. Aku mohon sabar sebentar, ya. Aku janji setelah bisnis kita lancar aku akan segera menikahimu," bujuk Krisna. Tentu itu hanya bohong belaka. "Baiklah. Tapi janji, ya. Secepatnya kamu harus nikahin aku." Mayang menoleh, menatap sang kekasih dengan tatapan memelas. "Tentu saja, Honey. Sekarang ak

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   18. BERTEMAN

    Aluna dan Dirga sedang duduk berdua di sofa yang ukurannya lumayan besar. Cukup bagi mereka untuk berbaring dengan posisi saling berpelukan. Sekarang sudah jam tujuh malam dan Aluna masih berada di apartemen Dirga. "Jadi mulai sekarang, perjanjian kita berakhir"Satu kalimat itu terlontar dari mulut Dirga. Aluna tersenyum senang, Bagaimana tidak, hal yang dia takutkan tidak terjadi. Bahkan saat ini Dirga sudah setuju jika perjanjian mereka sudah berakhir. "Mulai sekarang, saya adalah teman kamu. Kamu mau 'kan punya teman seperti saya yang sudah tua bangka?" Dirga terkekeh. "Asal jangan pakai minyak angin, nggak akan ada yang tau kalau Papi sudah tua." Aluna ikut tertawa. Keduanya saling menertawakan lalu saling mengeratkan pelukan. Setelah apa yang terjadi, semua berakhir dengan baik. Walau setelah ini Aluna harus bertemu dengan Bagas dan mengatakan jika ia tidak akan melepaskan Dirga untuk saat ini. Flashback .... Dirga meraih bibir kecil Aluna dengan bibirnya, mulai mencumbui

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   17. LINGERIE MERAH

    Aluna bukan anak 15 tahun yang tidak tahu benda apa yang sedang ia pegang. Dia hanya bingung, bagaimana pakaian seksi ini ada di kamar Dirga. Baju tipis yang begitu menerawang dengan warna menantang. Lingerie merah, tidak mungkin jika itu hadiah untuknya,'kan? Aluna bahkan menelan ludah saking tidak percaya."I-itu …." Dirga garuk-garuk kepala. Dia mulai kikuk karena malu. "Ini hadiahku? Lingerie ini? Buatku?" ucap Aluna dengan penuh penekanan dan tatapan mengintimidasi. Dirga semakin gelagapan. Dia semakin malu mendapati kenyataan pakaian itu memang sebenarnya untuk Aluna. Namun, melihat ekspresi Aluna yang seperti itu, Dirga ragu jika harus memberikan lingerie merah itu pada sang kekasih rahasianya itu. "Atau buat istri Papi? Kalau buat istri Papi harusnya Papi bungkus, bukan ditaruh sembarangan seperti ini. Biar aku yang-,""Itu memang buat kamu!"Hening, mendadak suasana menjadi canggung saat pria itu dengan gamblang mengatakan kebenaran. Aluna terdiam bak patung, tetapi wajahn

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   16. "PAPI, INI APA?"

    "Kamu terlambat. Kamu saya pecat!"Semua pandangan mengarah pada Dirga dan salah satu HRD yang terlambat datang selama dua menit. Tidak ada angin tidak ada hujan pria itu langsung memecat sang karyawan tanpa alasan. Karyawan itu memohon dan memberi alasan jika keterlambatannya akibat motornya yang mogok."Saya bilang, kamu dipecat. Tidak ada tawar menawar. Pak Hasan, bawakan kopi ke ruangan saya."Dirga lekas berlalu setelah memberi perintah kepada salah satu office boy. Meninggalkan karyawan yang terduduk lemas setelah dipecat oleh sang bos. Dirga yang sudah sampai segera duduk dan menyalakan laptop. Memeriksa laporan mengenai tender barunya."Permisi, Pak. Ini kopinya," ucap pak Hasan. "Taruh saja disitu."Pak Hasan segera menaruh secangkir kopi di atas meja lalu cepat-cepat pergi dari ruangan. Takut nasibnya akan sama seperti karyawan tadi. Raut wajah Dirga sangat tidak bersahabat hari ini. Hal itu juga disadari oleh Bagas yang baru saja masuk ke dalam ruangan Dirga. "Kenapa, Bro

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   15. MAYANG SADARKAN DIRI

    Tubuhnya menggeliat pelan seraya mata yang terbuka perlahan. Rasa pusing spontan membuatnya segera mengurut pelipis. Pandangan masih sedikit kabur, tetapi Mayang yakin jika ia masih berada di dalam kamar. "S*alan!"Kata umpatan yang pertama kali terlontar dari mulut Mayang saat netranya mendapati sosok sang suami tengah terlelap di sampingnya. Tidur dengan kepala terantuk pada lipatan tangan. Bukan tersentuh melihat sang suami yang setia menunggunya, tatapan bencilah yang Mayang layangkan pada pria itu. "Gara-gara dia aku jadi tidak bisa bertemu Mas Krisna."Samar-samar suara Mayang terdengar, Dirga segera bangun dari tidurnya. Ia begitu senang melihat sang istri yang sudah sadarkan diri. Dengan cepat Dirga meraih satu tangan Mayang lalu mengelusnya dengan lembut. Namun, Mayang malah menepisnya dengan kasar. Tak suka jika tangan indahnya disentuh oleh pria yang masih berstatus suaminya itu. "Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang. Aku sangat khawatir." Dirga tersenyum meski sempat mend

  • PACAR RAHASIA SANG CEO   14. TERKENANG

    Semangat yang sempat menggebu kini berubah menjadi sebuah kebingungan. Dirga masih memandangi lingerie merah yang dia beli tempo hari. Baju tipis menggoda yang terhampar di atas ranjang ia tatap lekat-lekat. Dia sudah pulang dan hari ini ia berada di apartemen. "Bagaimana aku memberikannya? Dia pasti menyebutku pria mesum."Menggaruk kepala yang tak gatal, Dirga masih belum mengalihkan pandangannya. Hari ini Dirga berniat memberikan semua hadiah yang dia beli pada Aluna termasuk pakaian itu. Namun, tiba-tiba saja dia menjadi ragu, bingung apakah baju itu harus dia berikan atau tidak. "Tapi aku penasaran. Apa yang kamu pikirkan, Dirga!"Bingung, akhirnya Dirga memutuskan untuk pulang kerumah tanpa membereskan pakaian yang tergeletak di atas kasur. Dia hampir saja lupa tentang Mayang yang ia sekap di kamar saking sibuk memikirkan perkara baju tipis itu. Ini sudah hari ketiga sejak Mayang ia sekap dengan paksa. Siang ini jalanan tidak terlalu macet mungkin karena akhir pekan. Tidak me

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status