Hana sudah berdiri di sampingku. Mengajarkan bagaimana cara pengerjaan soal di depan. Dia tampak dengan mudah menjawab soal yang sangat sulit bagiku. Dia memberiku senyuman. “Baiklah. Duduk kalian berdua.” Pak Beni menyuruh kami duduk. “Hana?” Panggil Pak Beni lagi. Hana menoleh. Pak Beni tersenyum lalu berkata, “kau sudah bekerja keras.” Aku menatap Hana yang tampak kebingungan. Kami pun kembali duduk dan Pak Beni terus menerangkan pelajaran bab selanjutnya. Begitu seterusnya hingga pelajaran berakhir. “Kau mau kemana sepulang sekolah?” Hana bertanya. Aku berhenti sejenak dari kesibukan merapikan alat-alat tulis di atas meja. Selama jam pelajaran tadi aku sibuk mengacak-ngacak meja, memainkan pulpen sehingga banyak pulpen yang berserakan di lantai atau menggambar dan mencoret kertas kosong. Jadi banyak sampah di atas meja. “Kenapa?” Aku balik bertanya. Mencoba bersikap ramah. “
Kami kembali ke kelas. Sebentar lagi pelajaran akan segera di lanjutkan. Pelajaran Sastra. Aku selalu bersiap jika nanti akan terjadi sesuatu di luar kendali. Jika ada tombol pause atau delete yang bisa kutekan dimana pun itu, aku sudah pasti akan sangat santai dan mempelajari sastra dengan sungguh-sungguh. Tidak membiarkan siapa pun dan apa pun itu yang bisa memecah fokusku. Aku melirik Hana di samping lalu beralih pada Bu Hani yang baru saja memasuki kelas. Dia juga wali kelasku, jadi sebelum pelajaran di mulai, Bu Hani akan menyampai beberapa informasi atau pengumuman-pengumuman kecil yang mengharuskan setiap murid tahu. “Baiklah. Hari ini ibu mau mengingatkan bahwa dalam sepuluh hari kita akan melaksanakan perjalanan wisata sebagai bagian dari pembelajaran prakter lapangan. Beritahu ibu jika ada yang tidak ikut.” Pelajaran Sastra selalu mengajak murid-muridnya untuk berjalan-jalan sekali dalam satu semester. Jangan kalian pikir kami akan berpikn
Kami berdiri sejajar di depan pintu menunggu ibu Ali keluar dari kamar setelah menyampaikan pesan pada Ali. Aku harap-harap cemas, takut jika dia menolak kunjungan kami. Pasti tidak mudah bagi Ali untuk bertemu seseorang yang sudah membuatnya masuk rumah sakit. Ibu Ali keluar dari kamar. Aku menatapnya penuh harap. “Bagaimana bu?” Wanita paruh baya yang mengenakan switer hitam itu menggeleng pelan. Putranya menolak untuk bertemu kami. Aku menoleh menatap Mino dan Rey yang masing-masing berdiri di sampingku. Mino juga tampak kecewa karena ini, sementara Rey tampak membuang muka seolah tak peduli. Hei! Seharusnya dialah yang paling kecewa mendapatkan penolakan ini. Aku menyikut lengan Rey. Menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu. Rey balas manatapk. Dia melotot padaku. Ouh astaga, dia sama sekali tak membantu. “Maaf bu, bisa kau sampaikan sekali lagi kalau hanya aku yang ingin bertemu dengannya. Jianada. Ya. Tolong sampaikan kalau
Ali berlari-lari cepat karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Namun tetap saja. Pintu gerbang utama baru saja ditutup tepat di depan matanya. Dia terlambat. Ali menghela nafas berat sambl mengusap rambutnya.Sebenarnya sebelum berangkat ibunya sudah berniat ingin mengantarnya tapi Ali kukuh ingin mencoba untuk berangkat menggunakan bus. Dia bilang ingin mencoba sesuatu yang baru. Dan hasilnya tak sebaik yang diperkirakan. Waktu itu baru satu bulan dia bersekolah di sekolah baru. Aku juga belum pindah ke Indonesia. Tentu saja setiap murid berusaha menciptakan citra untuk menjadi anak yang baik dan patuh bagi sekolah. Ali memutar badan dan berbalik. Dia mengelilingi sekolah, apakah ada celah yang bisa dilewatinya agar bisa masuk ke sekolah. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum pelajaran di mulai. Dia sudah seperti maling yang mengendap-endap bersiap untuk masuk. Seketika matanya berbinar ketika menemukan tembok yang agak rendah di bagian belak
Mino dan Rey masih menunggu di luar. Mereka tidak bisa mendengar percakapanku dan Rey di dalam dari luar bukan? Mengingat ruangan ini sudah tampak cukup canggih dan memiliki peredam suara. “Kau..” Rey bersuara lebih dulu. Mino menoleh. “Bagaimana kau mengenalnya?” Rey bertanya dengan wajah datarnya. “Jangan bertingkah seolah kita dekat untuk membicakan ini dan itu.” Mino membalas tak kalah datar darinya. “Tidak. Aku hanya penasaran kenapa kau selalu saja bersamanya. Apa kau menyukainya?” Rey kembali bertanya. Mino kembali menoleh. Dia menegakkan punggung. “Hm. Aku memang menyukainya dan karena itu aku selalu bersamanya. Kenapa? Kau iri karena tidak bisa selalu bersama gadis yang kau sukai?” Rey balas menatap Mino dengan tajam. Pertanyaan Mino tepat mengenai sasaran. Seketika suasana menjadi panas dan mencekam. Tepat saat itu aku membuka pintu dan keluar dari ruangan. “Apa yang kalian lakukan?” Aku meny
Mister Han mengangguk pelan. Sambil tersenyum dia berkata, “kesempatanmu hanya malam ini.” Mister Han menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. Baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tak mungkin datang untuk kedua kali. “Kenapa kau menciptakan sistem kasta seperti ini di sekolah? Untuk apa? Sejujurnya aku tidak bisa mengerti. Bukankah setiap anak memiliki hak yang sama?” Sebenarnya banyak hal yang ingin kutanyakan. Namun kupilih pertanyaan yang paling mewakili semuanya. Mungkin kalian juga bertanya hal yang sama jika diberi kesempatan yang sama bukan? Ya. Kasta. Kenapa itu masih ada di saat negara kita sangat menjunjung tinggi persamaan hak dan derajat setiap orang. Mister Han menghela nafas panjang. Dia tampak memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaanku yang cukup berat baginya. Mungkin aku orang pertama yang bertanya hal ini secara langsung padanya. Jangan tanya Sekretaris Lin, sudah pasti dia hanya mengikuti perinta
Hujan membasuh kota. Petir gemuruh saling sahut menyahut di luar sana. Tidak nampak bulan apalagi bintang di langit gelap di luar sana. Kami menunggu di lobi rumah sakit sambil menunggu Pandi tiba. Dia bilang akan sedikit terlambat karena harus mengurus beberapa masalah yang ada di akademi. “Kau yakin cara itu akan berhasil?” Mino menoleh ke arahku. Kami duduk menghadap dinding yang terbuat dari kaca transparan dengan pemandangan mobil ambulance yang berlalu lalang. Aku menghela nafas. “Kita tak pernah tahu sebelum mencobanya bukan? Kita coba saja cara ini dulu.” Aku balas menatap Mino. “Kita tinggal pergi ke rumahnya besok. Mino masih saja ragu semenjak kami membicarakan masalah ini bersama Ali di kamarnya beberapa menit yang lalu. Aku menarik tirai menutup jendela. Suasana kamar menjadi berisik seiring suara hujan yang turun semakin deras. “Aku sudah memikirkan caranya.” Aku berbalik sambil menatap Ali yang duduk bersandar
Aku berjalan menyusuri lorong sepi menuju kelas. Belum ada yang datang di jam segitu. Aku memutuskan untuk berangkat lebih pagi dari sebelum sebelumnya. Pagi itu benar-benad dingin hingga kaca kaca di kelas berembun. Aku juga menggosok kedua telapak tangan ketika menunggu Mino di belakang sekolah. Setelah sepuluh menit berdiri. Barulah dia muncul tanpa rasa bersalah. “Kenapa lama sekali? Cuacanya dingin sekali.” Aku kembali mengomelinya. Mino langsung membuka jaket hitam yang dikenakannya. Aku menoleh. “Jangan bilang kau akan memakaikannya padaku?” Aku bertanya penuh selidik. Karena situasi kami saat itu persis seperti drama romansa yang kulihat di televisi. Betul saja. Mino langsung memakaikan jaketnya pada badanku. “Pakai saja. Kulitmu terlihat semakin pucat.” Dia tampak peduli lalu memasukkan tangan ke dalam saku. “Tidak usah.” Aku membuka lagi jaket dan memberinya pada Mino. Anak laki-laki itu tersentak karena