"Ohh Gosh! Panggilan tak terjawab dari papa banyak sekali sejak tadi malam. Aku pasti kena omel kali ini!" gumam Celia ketika memeriksa ponselnya setelah berdandan rapi dan berpakaian.
"Celia, breakfast is ready!" panggil Morgan nyaring dari dapur.
Sebuah helaan napas lalu Celia berseru, "Coming, Morgan!" Dia menyimpan kembali handphone itu ke dalam tas tangan lalu melangkah di atas high heels menuju ke dapur.
Chef tampan yang mengenakan kemeja tanpa dikancing dan celana boxer itu duduk di seberang kursi kosong untuk Celia. "Kuharap kau akan suka Yumurtali Pide buatanku!" ucap Morgan.
"Wow, ini makanan dari negara mana? Aku baru sekali melihatnya, Morgan," balas Celia seraya duduk manis di hadapan pria bercambang tipis itu.
"Dari Turki, menu ini biasanya disajikan di warung-warung pinggir jalan dan cita rasanya tak kalah lezat dari pizza Italia. Cobalah, Celia!" jawab Morga
"APA?! Duda beranak empat ... kau yakin tidak salah orang, Alfons?" seru Morgan di ruang kantornya.Sinar matahari musim dingin mengenai rambut cokelat keemasan Morgan dan membuat ketampanannya bertambah jelas sekalipun raut wajah pria berprofesi chef sekaligus CEO waralaba Tasty Guaranted Corporation sedang syok berat."Yes, Master Morgan. Saya tidak salah informasi karena menanyakan langsung ke bagian personalia rumah sakit tempat Dokter Mark Larson bekerja saat ini. Jarak usia keempat anak itu pun agaknya terlalu dekat. Bisa jadi mendiang istri beliau meninggal dunia karena kelelahan melahirkan!" Alfons Boudin menggaruk-garuk kepala dengan jengah."Ini tak bisa dibiarkan. Bagaimana Mister Arnold Richero tidak mengetahui sepak terjang calon suami Celia?" gerutu Morgan. Papa Celia terlalu gegabah bertindak dalam memutuskan calon suami putrinya.Alfons mengendikkan bahu lalu menyahut, "Bisa jad
"Wah ... mempelai wanitanya cantik sekali!" penata rias dari X Salon and Bridal memuji-muji penampilan Celia seusai didandani dan mengenakan gaun pengantin putih bermodel mermaid dress.Tubuh ramping Celia terbalut sempurna dengan rambut panjang bergelombang terurai di punggungnya. Dia cantik paripurna sore ini."Apa artinya kalau setelah Anda dandani dia hingga cantik lantas Celia kabur dari pernikahannya lagi seperti sebelumnya?" Esmeralda mendengkus sinis menatap adik tirinya. Dia tak suka make up artist profesional itu mengagumi Celia seperti tak pernah melihat wanita cantik saja."Ohh ... saya tidak tahu kalau sebelumnya Nona Celia Richero pernah kabur dari pernikahannya. Apakah mempelai pria sama atau berbeda dengan yang dahulu, Nona Esme?" sahut Irish Smith waswas."Beda. Semoga saja Celia bertobat dan tidak mencoba kabur kali ini. Uang pembayaran jasa Anda sudah kutransfer melalui
"Mark, kurasa udaranya begitu dingin dan aku ingin buang air kecil sekarang!" ujar Celia yang terdengar masuk akal.Calon suaminya mengerutkan kening disertai tatapan curiga lalu menjawab, "Kau tak berniat kabur dari pernikahan ini 'kan, Celia?""Kalau kau tidak mengizinkanku ke toilet, aku akan ngompol di tempat. Mana yang lebih baik?" tantang Celia. Dia yakin akan diizinkan oleh Mark."Ckk ... ya sudah, pergilah ke toilet. Dan cepat kembali karena acaranya sebentar lagi mulai!" Mark mengibaskan telapak tangannya dengan gusar.Celia menitipkan buket mawar putih di tangannya ke brides maid lalu meminta tas tangan kecil miliknya yang berisi handphone dan dompet. Dia bergegas masuk ke toilet berisi barang penyamaran yang telah dipersiapkan oleh Dave Sinclair.Bilik toilet wanita nomor dua menyimpan sebuah plastik kemasan warna hitam. Ada rambut palsu sebahu berwarna hitam leg
"Jelaskan apa yang dikatakan oleh Celia di telepon tadi! Apa kau duda beranak empat, Mark? Sungguh bodoh aku—harusnya lamaranmu kutolak mentah-mentah dahulu!" sembur Tuan Arnold Richero yang merasa tertipu oleh sikap simpatik dari dokter spesialis internis itu dulu saat berkunjung ke rumah.Mark bangkit dari lantai dengan wajah merah padam. Dia merasa telah dipermalukan baik oleh Celia maupun papa wanita itu. Belum juga selesai persoalan mempelai wanitanya yang kabur, Mark harus dipukul hingga jatuh di depan umum. Dia tertawa sinis menanggapi ucapan mantan calon ayah mertuanya."Reputasiku sebagai dokter spesialis membuat Anda langsung tertarik, bukan? Lantas kenapa kalau aku punya empat anak di rumah dari hasil pernikahan sebelumnya? Toh aku tidak melakukan pernikahan bigami, istri pertamaku telah wafat setahun yang lalu!" jawab Mark tanpa rasa bersalah."KAU!! Pria sepertimu hanya menyusahkan Celia saja. Ak
"Selamat siang, Sir. Ada Mister Adam Hopkins yang ingin bertemu dengan Anda!" lapor Carlos Peron di ruang kantor kediaman Richero.Tuan Arnold Richero teringat nama pria muda yang sempat menaruh hati kepada Celia dan mencoba meminang putri bungsunya itu belum lama ini. Adam Hopkins berasal dari Kentucky, keluarganya masih termasuk keturunan bangsawan asal Inggris yang membiakkan kuda-kuda ras murni berharga mahal di daerah sekitar Sungai Missisipi."Persilakan dia masuk, Carlos!" sahut papa Celia antusias.Pria berambut cokelat kemerahan seperti warna kayu mahoni itu menghampiri Tuan Arnold dan menjabat tangan dengan senyuman lebar. "Halo, Mister Arnold. Apa kabar?" sapanya sopan."Hai, Adam. Senang bertemu lagi denganmu di Kansas. Kabarku ... tidak terlalu baik. Mungkin kau bisa membantu persoalanku. Bagaimana peternakan kudamu di Kentucky?" ujar Tuan Arnold basa-basi. Dia duduk di sofa berhadapan d
Pramusaji kafetaria ice skating rink menghampiri mereka untuk mengirimkan dua gelas hot chocolate dan dua hotdog yang beraroma lezat. Morgan membiarkan Celia menikmati menu sederhana itu dengan tenang dan tak mengganggunya dengan desakan apa pun.Dalam benak chef tampan itu, dia berpikir untuk membaca buku psikologi dari pakarnya mengenai trauma kejiwaan yang melatar belakangi trust issue. Dia ingin memahami dari sisi Celia saat menjalani hubungan baru dengan pria seperti dirinya. Ada perasaan menyesal karena satu malam panas bersama Celia kemarin. Kesan yang ditimbulkan justru Morgan memanfaatkan situasi mabuk Celia sehingga mereka bercinta."Setelah menghabiskan hotdog, aku ingin berseluncur es lagi, Morgan. Kalau kau sibuk, pergi saja duluan. Toh aku bisa pulang sendiri karena menginap di unit condotel di atas!" ujar Celia sengaja menaruh jarak di antara mereka."Aku tak ada kesibukan lain petang ini sampai mala
Seusai berenang pagi di kolam renang indoor yang ada di condotel, Celia segera berjalan-jalan mencari sarapan di gerai penjual makanan di gedung yang sama. Pilihannya jatuh di masakan oriental, Celia masuk ke restoran itu dan bertanya ke waitress berseragam baju cheongsam merah dengan sulaman gambar naga warna emas, "Selamat pagi, Miss. Apa di sini menyediakan menu sarapan untuk orang sakit?""Selamat pagi juga, Miss. Kami menyediakan menu herbal juga. Kalau boleh tahu sakit apa yang diderita orang yang sedang Anda carikan sarapan pagi ini?" jawab waitress bernama Ching Yan itu."Luka yang didapat semalam karena tebasan pisau di lengan. Dokter sudah menjahit lukanya dan sekarang dalam masa penyembuhan!" cerita Celia agar menu yang dia butuhkan sesuai fungsinya."Sup krim dengan daging kepiting dan jagung manis pipil akan cocok untuk orang setelah operasi yang meninggalkan bekas luka jahitan. Bihun goreng dengan Dag
Berhari-hari rutinitas Celia selama tinggal di luar kediaman Richero adalah mengurusi Morgan. Dia bolak-balik dari condotel ke penthouse chef tampan itu untuk mengurusi segalanya terkait pemulihan luka di lengan Morgan.Pasangan itu tetap bertahan dengan hubungan tanpa status sekalipun ketertarikan di antara Morgan dan Celia terlihat jelas satu sama lain. Mereka mengobrol apa saja dan Celia mulai belajar dasar-dasar memasak dari ahlinya dapur.Siang itu Celia sedang mencoba membuat rice bowl chicken katsu homemade dengan saus barbeque di dapur penthouse Morgan. Selangkah demi selangkah dia dipandu oleh chef tampan yang duduk mengawasinya dari island table."Goreng chicken katsunya hingga berwarna golden brown dengan api sedang. Jangan sampai gosong jadi harus dibalik tepat waktu di wajan, Celia!" ujar Morgan seperti tutor privat memasak.Celia tertawa renyah dan menjawab, "Apa asisten dapurmu p
"Peter, pulanglah duluan ke rumah. Petang ini aku akan diantarkan oleh Dokter Jeffrey Norton!" titah Esmeralda kepada sopir yang menjemputnya di depan pintu keluar Richero Center Building.Dokter tampan itu memang belum tiba di tempat kerja Esmeralda, lalu lintas sore pada jam pulang kantor selalu macet. Maka Esmeralda duduk menunggu di coffee shop yang ada di lantai lobi. Dia memesan segelas Iced Caramel Machiato untuknya dan Caffe Americano untuk Dokter Jeff sembari memeriksa ponselnya.Nampaknya Celia sudah pulang dari perjalanan bulan madu panjangnya bersama Morgan sore ini, Esmeralda mendapat pesan dari papanya. Sejenak memang Esme pernah merasa tertarik dengan Morgan Bradburry. Chef itu sangat tampan dan berkharisma, wanita mana yang tidak jatuh hati. Akan tetapi, hubungannya dengan Celia semakin membaik pasca Emilia Pilscher dijatuhi vonis pidana. Esmeralda memupus rasa suka yang berlebihan di hatinya.Saat dia se
Pesawat yang membawa rombongan kecil itu kembali ke Kansas seusai liburan bulan madu Celia bersama Morgan. Penerbangan dari Asia Tenggara itu menuju Amerika Serikat menghabiskan waktu seharian."Hubby, apa kau tidak kelelahan? Sesampainya di Kansas, kamu harus segera berangkat ke Washington!" ujar Celia cemas. Dia sendiri merasakan badannya begitu letih dan mulai jetlag."Memang pasti melelahkan, tetapi aku harus menjalani pekerjaan itu, Sayang. Yang terpenting, selama kutinggalkan ke luar kota, kamu jaga diri baik-baik ya!" pesan Morgan. Dia tetap akan menempatkan pengawal menjaga Celia, tetapi istrinya juga harus berhati-hati."Iya. Aku janji akan jaga diri baik-baik selama kamu pergi bekerja. Dan tolong beri kabar sesering yang kau bisa selama berada di Washington. Aku pencemburu bila menyangkut pria yang kucintai, ada Elizabeth di sana bersamamu. Sebenarnya aku kurang suka!" Celia mengungkapkan keberatannya, te
"Okay, jadi apa malam ini aku boleh tidur sambil memeluk tubuhmu, Celia?" tanya Morgan seusai mereka menghabiskan menu makan malam berdua.Celia bangkit dari kursinya tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Dia memang sengaja menguji kesabaran Morgan. Tak biasanya Celia bersikap tidak sopan dan acuh begitu kepada orang yang disayanginya. Namun, dia masih belum bisa meredakan api amarah di hatinya.Tiba-tiba kakinya terangkat dari permukaan lantai kamar hotel dan tubuhnya mendarat di dekapan Morgan. "Kau ini membuatku terkena serangan jantung! Apa maumu sih?" omel Celia memukuli dada suaminya."Aku ingin menerkam istriku yang menggemaskan ini!" jawab Morgan sembari terkekeh. Dia langsung membawa Celia menuju ke ranjang dan mengecupi ceruk lehernya yang harum. "Arhh ... hentikan, Morgan!" protes Celia. Namun, bibirnya segera menjadi bulan-bulanan pria yang teramat bergairah mencumbunya. 'Ckk ... dia ini! Aku masih kesal karena kebohongannya ... aakh tapi tubuhku mengkhianatiku!' batin Celi
"TING TONG." Suara bel kamar yang ditekan dari luar berbunyi nyaring memupus keheningan di dalam kamar presidential suite yang dihuni oleh pasangan yang tengah berbulan madu itu.Langkah kaki Morgan terasa berat, itu room service yang mengantarkan menu makan malam pesanannya tadi. Dia juga memesan untuk Celia, tetapi istrinya terdiam di ranjang pura-pura tidur mengabaikannya."Permisi, Sir. Saya mengantarkan menu pesanan Anda!" ucap pemuda berkebangsaan Vietnam bermata monolid bermanik hitam itu seraya mendorong kereta susun tiga."Hidangkan di meja dengan rapi!" sahut Morgan. Dia berdiri di tepi pintu mengawasi pegawai room service hotel itu.Setelah pemuda itu pergi, Morgan menutup pintu lalu menghampiri tempat tidur di sisi istrinya berbaring. "Kamu pasti lapar, bukan? Jangan menyiksa diri kalaupun kamu marah kepadaku, Celia!""Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati, Morgan? A
"Rasanya beberapa hari saja kurang untuk dinikmati di Pulau Lombok. Kuharap kita bisa ke mari lagi suatu hari nanti, Hubby!" ucap Celia saat dia duduk bersama Morgan di ruang tunggu Bandara Lombok, Mandalika.Morgan tertawa kecil. "Setidaknya kunjungan kita ke sini meninggalkan kenangan indah yang tak terlupakan, Celia. Mungkin kita bisa ke mari lagi bersama anak-anak nanti!" "Sepertinya akan lama, seorang bayi dikandung sembilan bulan!" tukas Celia cemberut."Apa belum ada tanda-tanda kehamilan? Aku menantikan kabar gembira darimu, Baby Girl!" Morgan merapikan anak rambut Celia ke balik daun telinganya. Dia memandangi wajah cantik istrinya yang bermata ungu bak batu mulia Amethyst."Aku masih baik-baik saja, tak ada rasa mual atau muntah. Sangat sehat!" jawab Celia.Panggilan boarding penumpang ke kabin pesawat menuju Jakarta sudah terdengar di area tunggu bandara. Pasangan yang sedang berbulan madu itu dijaga enam pengawal naik ke pesawat. Awalnya Celia kurang nyaman, tetapi lama k
"BYUURR!" Suara ceburan keras itu terdengar di tengah area Gili Air yang tenang berair jernih.Celia dan Morgan dalam pakaian menyelam lengkap dengan tangki oksigen dan peralatan lainnya berenang di dasar laut berair jernih, tempat di mana berbagai spesies penghuni lautan Bumi Lombok hidup.Penyu Daun betina bersama anak-anak penyu berukuran kecil melintas di hadapan mereka. Ikan-ikan baik yang berukuran besar seperti ikan pari maupun ikan kecil-kecil warna warni berenang bebas seakan-akan tidak terganggu oleh kehadiran manusia di tengah ekosistem mereka.Terumbu karang ditumbuhi anemon yang bergerak-gerak seperti jemari menjulur nampak menakjubkan, pasangan suami istri itu berfoto selfie berlatar belakang keindahan laut itu. Kemudian mereka terus berenang menjelajahi lingkungan dasar laut yang seolah tanpa batas.Air yang bersih dan bening membuat sinar matahari menembus dengan mud
Pesawat lokal yang membawa Morgan, Celia, dan para pengawal mereka mendarat mulus di Bandara Internasional Lombok, Mandalika, Tanak Awu, Nusa Tenggara Barat. Mereka mengagumi betapa indah pulau kecil yang ada di sebelah timur Pulau Bali itu sejak taksi meluncur dari bandara menuju ke resort tepi pantai yang telah direservasi beberapa kamarnya oleh Morgan melalui booking online."Hubby, tidak percuma kita membelokkan rute liburan bulan madu ke mari sebelum ke Vietnam!" ujar Celia sembari melayangkan pandangan ke luar kaca jendela taksi. Pulau Lombok tidak sepadat Bali penduduknya. Masih banyak sekali daerah yang menyerupai hutan rimbun di kanan kiri jalan raya beraspal yang dilalui rombongan itu. Celia menurunkan kaca jendela untuk menghirup udara beraroma pantai yang dibawa angin yang berhembus dari arah garis pantai yang mengelilingi daratan."Yes, Baby Girl. Kuharap kamu akan puas dengan kunjungan kita karena ini khusus untuk menyelam di beberapa Gili. Apa tidak terlalu melelahkan
Esmeralda tahu mantan suaminya menatapnya terus menerus. Akan tetapi, kisah cintanya bersama Austin telah usai dengan ketok palu hakim di pengadilan negara bagian Kansas. Dia menghela napas perlahan-lahan lalu berjalan sesuai antrean pelayat pemakaman Tuan Brian Robertson untuk menaruh setangkai mawar putih ke atas gundukan tanah merah yang masih basah.Dia tak menyangka mantan ayah mertuanya akan pergi secepat ini semenjak perceraiannya dengan Austin. Setelah itu Esmeralda sengaja melangkah menjauhi kerumunan untuk menuju ke area parkir mobil. Karena langit sangat mendung dan aroma tanah begitu menyengat seolah pasti akan segera turun hujan, Dokter Jeffrey mengambil payung untuk mereka berdua di mobilnya.Pergelangan tangan Esmeralda dicekal erat dari belakang oleh seseorang. Dia pun membalik badannya. Sosok familiar yang memang sengaja dia hindari itu memandangi wajahnya dengan alis tebal berkerut."Apa maumu, Mi
Ricky Eston melirik melalui kaca spion tengah mobil, dia mulai cemas karena majikannya memejamkan mata dalam posisi duduk miring di bangku belakang. Tanpa menunda lagi, sopir keluarga Robertson itu menepikan mobil ke trotoar. Dia keluar dan membuka pintu sisi penumpang untuk memeriksa denyut nadi serta napas Tuan Brian.Namun, saat dia tidak menemukan tanda-tanda vital kehidupan pria berusia 65 tahun itu, Rick segera berseru, "Demi Tuhan! Mister Brian sudah tak bernyawa. Damn! Sudahlah tetap kubawa ke rumah sakit saja!" Dia langsung naik lagi ke bangku pengemudi dan menginjak gas dalam-dalam hingga kecepatan mobil melaju tinggi.Sesampainya di rumah sakit, Ricky Eston meminta paramedis memindahkan Tuan Brian Robertson ke brankar untuk dibawa ke poli IGD. Tak perlu waktu lama, Dokter John Karlson segera muncul menemui Rick lagi."Apa Anda keluarga pasien atas nama Mister Brian Robertson?" tanya dokter dengan wajah serius."Saya sopir beliau, Dok. Bagaimana kondisi Mister Brian?" sahut