Diwana berlari menuju apartemennya, ia melangkah masuk dengan perasaan tak terdefinisikan.
“Kandi...?” panggilnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah.
“Nilakandi?” pangilnya lagi.
Tak ada jawaban, jantung Diwana mulai berdegup kencang. Ia tak menemukan Nilakandi di rumahnya, tapi juga tak ada tanda-tanda mencurigakan apapun di sana. Ia kembali menelepon nomornya dengan ponsel Jovyan yang ia bawa, tapi nihil tak ada jawaban. Begitu pula dengan nomor Nilakandi, ponselnya mati.
Diwana segera bergegas ke rumah Nilakandi. Ia meracau dalam hati, berharap perempuan itu ada di sana.
“Nilakandi... Aku mohon,” racaunya dengan gusar.
Ketakutan Diwana bertambah saat mendapati ruangan itu benar-benar kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tangannya masih sibuk berusaha menelepon nomornya, tapi tetap tak ada jawaban.
Sebuah telepon pun masuk, tapi bukan dari orang yang ia tunggu, melainkan
Jantung Nilakandi berdegup kencang saat ia hendak melangkahkan kaki ke kamar 1103 seperti yang tertulis di surat dari kekasihnya. Ia penasaran dengan kejutan apa yang tengah menunggunya di dalam sana. Ia melangkahkan kaki pelan, sambil melihat ke sekeliling kamar hotel mewah yang menyilaukan mata itu. Benar, kamar itu adalah kamar suite room dengan harga tak masuk akal per malamnya. “Hmm, kenapa tirainya warna gelap, sih,” gerutu Nilakandi begitu melihat tirai berwarna hitam menutupi jendela. “Its okay, nggak papa asal ada Kak Diwana,” ucapnya seraya menyibak tirai menjulang itu hingga menampakkan pemandangan di baliknya. Pemandangan dari Hotel Zeus memang terkenal akan indahnya. Hotel tidak terletak di tengah hiruk pikuk pusat industri, melainkan di pinggir kota yang tenteram tepat di balik sebuah bukit menjulang, sekitar tiga puluh menit dari pusat kota. Pemandangan pepohonan hijau yang membentang terlihat begitu indah dari lantai sebelas. A
“Kalau sesuatu yang buruk terjadi, aku nggak akan maafin Kak Diwana,” ujar Nana yang duduk di kursi tengah.Diwana hanya membisu, bukan hanya Nana yang tak akan memaafkannya. Tapi ia juga tak kan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Nilakandi“Aku harap kalian bisa fokus hanya untuk cari Nilakandi aja hari ini. Aku nggak peduli kalian mau berantem kaya gimana, tapi lakukan nanti, nanti setelah semua masalah ini clear,” sanggah Tama sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam.“Kamar 1103 itu lantai 11. Hanya ada 4 kamar di sana, dan hanya VVIP atau hotelier yang bisa akses. Karena itu, kalian harus pakai tangga darurat. Begitu sampai, kalian berdua langsung ke TKP, aku akan urus manager dan ngumpulin keamanan hotel. Aku ada kenalan di sana,” jelas Tama.Tama memang sudah sering mengunjungi hotel eksklusif itu untuk kunjungan bisnis atau bertemu dengan VVIP lainnya. Beruntung,
Bau obat-obatan menyeruak di setiap sudut ruangan. Bunyi alat-alat medis yang menggema terdengar begitu mencekam.Diwana bangun dari lelapnya dengan nafas memburu. Ia berharap semua yang terjadi adalah mimpi. Namun sayang, pemandangan di sekelilingnya mengatakan tidak.“Ta...” lirihnya begitu mengenali sosok Tama yang duduk di kejauhan.“Diwana? Kamu udah sadar? Istirahat dulu, kamu cukup lemah sekarang,” ucap Tama saat Diwana hendak memaksakan diri untuk bangun.“Dimana Nilakandi?” tanya Diwana tanpa basa-basi.“Ada di ICU. Kamu juga perlu pemulihan, jantungmu cukup shock karena kejadian kemarin,”“Aku mau ketemu Nilakandi sekarang, aku mohon,” pinta Diwana memelas.“Tapi Diw-“Ada sesuatu yang nampak janggal dari raut wajah Tama, dan Diwana menyadari hal itu. Diwana meremat selimutnya, bersiap untuk apapun yang akan keluar dari bibir Tama.“A
Diwana kini duduk terdiam di kursi roda di samping kanan kasur pasien. Bukan, bukan Nilakandi lagi, melainkan Nana yang terlihat masih terlelap dalam tidur pulasnya.“Makasih, ya? Untuk selalu ada di sisi Nilakandi. Dan maaf, aku udah ingkar janji untuk yang ke sekian kali,” lirih Diwana dengan menunduk.“Kamu kalau mau bilang maaf dan makasih harusnya waktu dia bangun nggak, sih?” sahut Tama yang masih berdiri di belakang kursi rodanya dengan setia.Diwana hanya malu, sekaligus mungkin malas untuk berdebat dengan Nana yang menurutnya kadang menyebalkan. Namun belum sempat Diwana membalas Tama, sosok yang sedari tadi ia kita terlelap tau-tau menyahutnya terlebih dahulu.“Ya, sama-sama. Maafnya juga diterima,” lirih Nana yang ternyata sedari tadi terjaga meski dengan mata tertutup.Lelaki itu langsung memiringkan tubuhnya ke arah kiri, membelakangi Diwana dan Tama yang masih terkejut.“K-kamu ternyata
Satu bulan berlalu bak satu kedipan mata. Nana sudah sepenuhnya pulih, ia kembali mengurus pekerjaannya di luar kota dengan terpaksa, meskipun hatinya sebetulnya berat meninggalkan Nilakandi.Sedangkan Diwana masih setia berada di rumah sakit. Bukan, shock pasca tragedinya sudah membaik, ia di sana untuk Nilakandi. Lelaki itu tak mau kekasihnya sadarkan diri tanpa ada ia di sisinya. Diwana bahkan sudah mengurus sisa pekerjaannya, dan mengajukan cuti hingga dua bulan kedepan.Semuanya sudah kembali seperti semula, kecuali Nilakandi. Perempuan malang itu masih terbaring lemah dengan alat-alat medis di sekelilingnya."Ayo, bangun," bisik Diwana lirih tepat di telinga kekasihnya yang masih terlelap. Diwana yakin, Nilakandi mendengarnya."Masih banyak wish list kita yang perlu di checklist. Nanti kita realisasikan satu-satu."Tangan kanan Diwana menggenggam erat jemari Nilakandi, sedang tangan kirinya tak berhenti membelai surai dan pipi kekasihnya itu.
“Apa anda masih di sana? Halo? Korban kami bawa ke Rumah Sakit Alhambra.”Begitulah kalimat terakhir yang sayup-sayup aku dengar dari seberang telepon. Detik berikutnya, aku hanya bisa terduduk di lantai karena kakiku melemas tak bertenaga.Bukan, bukan kabar itu yang ingin aku dengar. Aku menampar pipiku berkali-kali, sakit. Aku masih berharap semua ini tak nyata, aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.Tapi begitu aku mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu dengan suara jarum jam di tengah kesunyian, aku pun sadar, aku harus kecewa karena mimpi buruk itu adalah kenyataan.Aku meremas gaunku untuk mengumpulkan kekuatan, meskipun tanganku masih bergetar hebat. Taksi melaju dengan kecepatan hampir 90 km/jam atas pintaku. Di perjalanan, air mataku tak berhenti mengalir, tanganku menyatu dan memanjatkan do’a entah pada Tuhan atau pada semesta.“Tolong, selamatkan kedua orang tuaku,” lirihku.Sesampainy
Aku kembali bangun dengan infus yang tertancap di tangan kiri di IGD. Saat aku mencoba bangun, aku merasa ada yang berbeda dariku, sakit. Tangan dan kakiku penuh lebam membiru, pipiku kaku dan membengkak, bahkan aku mengecap rasa darah di dalam mulutku. Perawat intern yang menyadari sadarku langsung berlari mendekat, mungkin ia khawatir aku akan melakukan hal bodoh seperti sebelumnya. Ia pun menghampiriku dan memasang muka kesal bercampur... mungkin kasihan. “Kamu kenapa bisa jatuh dari tangga?” tanyanya, yang lebih terdengar seperti omelan di telingaku. “Jatuh? Saya?” tanyaku kebingungan. Perawat itu pun menunjuk ke arah luka-luka di tubuhku dengan dagunya. “Kamu pingsan di tangga darurat, ceroboh sekali,” omelnya lagi. Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa ada di tangga darurat dalam keadaan penuh luka. Sampai akhirnya aku ingat, siapa yang aku temui terakhir kali sebelum tak sadarkan diri, Kak Ten, kekasih Luna. “Ah, iya, seperti
Hujan masih turun dengan deras dari luar sana, membangunkanku yang terlelap selama beberapa saat. Kulihat jam dari ponsel, tenyata sudah tengah malam tepat. Aku semakin membalut tubuhku di balik selimut beraroma ayah dan ibu, dan mencoba untuk memejamkan mata sekali lagi.Namun tiba-tiba, terdengar suara dobrakan pintu utama rumahku berkali-kali. Aku ketakutan, tentu saja. Tapi badanku yang sudah remuk ini tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa ketakutan di balik selimut.Dobrakan pintu itu terus berlanut, berpacu dengan petir menggelegar di luar sana. Aku bergidik ngeri, tapi lebih ketakutan lagi saat dobrakan itu berhenti dan digantikan dengan sebuah suara langkah kaki perlahan terdengar mendekat.Aku tak punya siapa-siapa lagi, tak mungkin ada orang lain yang mengunjugiku selarut ini, kecuali…Pintu kamarku yang memang tak aku kunci pun terbuka, menampakkan siluet sosok laki-laki yang berdiri sambil memegang tongkat baseball di tangannya. Ak