Sarah langsung pergi ke rumah sakit ketika mendapat kabar sepupunya masuk rumah sakit. Ia mempercepat langkahnya saat manik matanya melihat tantenya yang sedang duduk di depan ruang ICU.
"Tante, Sam kenapa?" tanya Sarah.
"Dia habis menerima panggilan dari Rain, tiba-tiba--" Wanita paruh baya itu bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Sa, Tante takut." Lanjutnya diiringi dengan isak tangis yang kembali pecah. Gadis itu hanya memeluk wanita itu untuk memberikannya kekuatan.
Dewi langsung menghampiri Dokter Leon yang baru saja keluar dari ruang ICU, dia adalah dokter yang menangani Samudra selama ini, sekaligus kakak dari Sarah. Jadi, mereka masih satu keluarga besar.
"Kondisinya masih sangat lemah dan belum sadarkan diri, tapi Tante jangan khawatir, Sam laki-laki yang kuat, dia tidak akan kalah hanya karena ini," tutur Dokter Leon menenangkan wanita yang sedang dilanda kecemasan itu.
***
Baskara sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Bintang dan Angkasa yang menjaganya, sementara Dirgantara pamit untuk mengantar Rain pulang, tapi nanti dia akan kembali dan menginap di rumah sakit.
Baskara beruntung meski ia tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, tetapi pemuda itu memiliki sahabat-sahabat yang sangat menyayanginya lebih dari seorang keluarga. Anak-anak Nature Squad akan menjadi tameng terdepan untuk melindungi dan menjaganya.
"Kok aku jadi sedih, ya?" Tanya Angkasa entah pada siapa seraya melihat sahabatnya yang masih terbaring di ranjang pesakitannya.
Bintang ikut menatap pemuda itu, alis dan dahinya mengernyit kala teringat kondisi memprihatinkan sahabatnya tadi. "Semua orang juga sedih kali."
"Aku merasa menjadi sahabat yang tidak berguna. Kita tuh sahabatan sudah setahun lebih harusnya kita sudah saling tahu satu sama lainnya," ujar Angkasa merutuki ketidaktahuannya.
Bintang berdiri seraya memandangi langit malam dari balik jendela kamar. "Ada kalanya masalah itu cukup dirinya sendiri yang tahu."
"Tapi, kalau sudah seperti ini kan--"
"Sudah semuanya sudah terjadi juga," potong Bintang.
"Kamu tidak sholat?" Tanya Bintang melihat waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam.
Angkasa membuka mulutnya lalu memukul jidatnya pelan, seperti baru teringat sesuatu. "Oh iya, lupa saking paniknya."
"Ya sudah sana sholat dulu! Babas biar aku yang jagain." Bintang mendorong pelan sahabatnya itu untuk segera melaksanakan kewajibannya.
Setelah Angkasa pergi, Bintang kembali menatap luka-luka yang ada di tangan sahabatnya itu, ia bergidik ngeri.
"Aku pikir hanya masalahku yang berat, ternyata kamu punya masalah yang jauh lebih berat dariku," gumam Bintang berbicara pada orang yang bahkan tidak bisa menjawabnya.
Pemuda itu sangat paham apa yang dirasakan oleh Baskara, karena ia juga merasakannya. Hanya saja, meskipun ibunya tidak menyukainya, tidak menganggapnya, setidaknya ia masih mempunyai ayah dan saudara yang sangat sayang dan peduli padanya. Sedangkan Baskara? Dia hanya memiliki neneknya yang bahkan sekarang telah pergi meninggalkannya.
Pemuda itu sebatang kara.
***
"Bintang, si Babas sudah sadar?" Tanya Dirgantara seraya menjatuhkan bokongnya ke sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Ia menghela napas dan membuangnya kasar untuk membuang rasa lelahnya.
"Belum." Pemuda itu ikut mendorong kaki Dirgantara agar memberi bokongnya sedikit ruang untuk ikut bergabung dengannya.
Dirgantara memperhatikan Baskara dengan tatapan kasihan sekaligus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
"Si Angka mana?" tanya Dirgantara, karena hanya Bintang yang ada di ruangan.
"Lagi sholat." Jawab Bintang yang kini sudah beralih dengan koran yang berada di atas meja.
"Oh." Respon Dirgantara meliriknya sekilas lalu menyenderkan tubuh lelahnya seraya memijat pelipisnya ketika terasa berdenyut, pusing memikirkan masalah-masalah yang sedang terjadi.
"Kamu sendiri sudah sholat?" tanya Bintang tanpa mengalihkan pandangannya dari benda favoritnya itu.
"Sudah. Sebelum ke sini aku sholat dulu," jawabnya yang kini sudah memejamkan matanya dan enggan untuk dibuka kembali.
"Sip. Kita minta kesembuhan untuk Babas sama Tuhan kita masing-masing," ujar Bintang, Dirgantara mengangguk setuju.
***
Perlahan mata lelaki itu terbuka, secercah cahaya terang mentari pagi terpancar masuk ke dalam ruang rawatnya, bahkan bau obat-obatan sudah tercium oleh inderanya.
"Bunda," panggilnya dengan volume suara yang pelan. Wajahnya masih sangat pucat dan tubuhnya juga masih terasa sangat lemas.
"Alhamdulilah, kamu sudah sadar Sayang." Senang Dewi. Setelah semalaman Samudra tidak sadarkan dia, akhirnya putranya itu siuman.
"Sebentar, Bunda panggilkan dokter dulu, ya." Wanita itu sedikit berlari untuk memanggil Dokter Leon. Tak lama dia kembali bersama Dokter Leon yang langsung memeriksa keadaanya.
"Bagaimana?" tanya Dewi, berharap bahwa anak lelakinya baik-baik saja.
"Syukurlah keadaannya sudah stabil, dua hari lagi Sam sudah diperbolehkan pulang, tapi harus tetap jaga kesehatan dan obatnya jangan sampai telat," jelas Dokter Leon.
"Jangan dibuang." Lanjutnya dengan berbisik pada sepupunya itu sebelum beranjak dari ruangan tersebut.
Samudra memutar bola matanya malas. "Dokter ngeselin," batinnya.
Dewi tersenyum kepada anak semata wayangnya itu, kemudian wanita itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Meski berusaha kuat, tetap saja hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit?
"Bunda, Sam tidak suka lihat wajah Bunda seperti itu," kata Samudra menarik sudut bibir Dewi agar tersenyum.
"Nah kalau senyum kan cantik." Pemuda itu memberinya senyuman tulusnya.
"Bunda kupaskan pisang, mau?" tawarnya. Sam mengangguk lalu sedetik kemudian pemuda itu langsung menanyakan ponselnya.
"Sayang, kamu baru saja siuman, kok malah mencari ponsel bukannya bertanya Bunda atau ayah," balas Dewi dengan lembut diselingi dengan candaan agar putranya lupa dengan rasa sakitnya.
"Bunda, mana?" Samudra menyodorkan tangannya yang bebas dari infus seraya mengerucutkan bibirnya layaknya anak balita membuat wanita itu lupa bahwa putranya telah remaja.
Ia menghela napasnya kemudian memberikan ponsel Samudra yang sedari tadi disimpan di dalam tas hitamnya.
"Telepon siapa? Rain?" tebaknya. Siapa lagi orang yang bisa membuat anaknya seperti ini kalau bukan gadis itu.
Samudra mengangguk seraya mencari kontak Rain di ponselnya, kemudian mengklik icon panggil. Tanpa harus menunggu lama, suara si penerima panggilan langsung memenuhi gendang telinganya.
"Hallo, Sam, kamu ke mana saja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Kamu tidak apa-apa, kan? Kamu--" kata Rain dalam satu tarikan napas. Suaranya begitu nyaring sampai membuat Sam harus sedikit menjauhkan ponselnya jika tidak ingin pendengarannya rusak akibat suara teriakan gadis itu.
"Nanyanya satu-satu dong, Rain," Sam dibuat gemas olehnya. Andai saja gadis itu ada dihadapannya, mungkin hidung gadis itu sudah menjadi korban kegemasannya.
"Namanya juga khawatir." Terdengar sebuah protes dari Rain, Samudra sedikit terkikik geli membayangkan bagaimana lucunya ekspresi gadis itu sekarang.
"Cie yang khawatir," Pemuda itu semakin gencar menggodanya.
"Kamu ke mana saja sih? Kenapa susah dihubungi?" tanya Rain tidak terpengaruh dengan ledekan yang baru saja Samudra layangkan padanya. Yang gadis itu butuhkan sekarang ini adalah penjelasan.
Sebuah penjelasan kenapa dia mematikan sambungannya begitu saja dan hilangnya dirinya selama tiga hari ini.
"Biasa dihukum sama Bunda tidak boleh keluar rumah, gara-gara ngilangin Tupperwarenya." Alibinya yang terdengar begitu bodoh.
"Bohong! Waktu itu aku dengar tante Dewi teriak manggil om Anton, terus tidak lama kemudian kamu mematikan sambungannya. Sebenarnya apa yang terjadi?" paksa gadis itu meminta penjelasan.
Entahlah. Apa sekarang ini sifat jahil pemuda itu sedang kumat atau tidak, yang jelas Rain tidak mungkin akan percaya dengan alasan konyol seperti itu.
"Oh, itu karena aku tidak sengaja pecahin gelas, biasalah ibu-ibu paniknya suka lebay. Oh iya, sampai saja lupa, gimana keadaan Babas sekarang? Sorry, aku belum bisa jenguk." Samudra menghela napas, dia merasa bersalah entah sudah berapa banyak ia berbohong pada gadis itu hari ini.
"Alhamdulilah, keadaannya sudah berangsur membaik. Kata dokter Babas menderita self-injury," jelas Rain. Nada suaranya berubah sedih.
"Astagfirullah! Kok bisa?" Samudra terkejut, dia mengernyit kala dadanya kembali nyeri.
"Kita juga tidak tahu. Selama ini kita pikir Babas itu sehat-sehat aja, tapi ternyata ...." Bahkan Rain tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Gadis itu benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang dialami salah satu sahabatnya itu.
Sarah sudah berdiri di pintu ruangan memperhatikannya sejak tadi.
"Mmm ... Rain, sudah dulu ya, pulsaku mau habis." Lagi-lagi pemuda itu langsung memutuskan sambungannya secara sepihak.
"Mau sampai kapan? Setidaknya mereka harus tahu," ujar Sarah kepada sepupu tampannya itu.
***
Di pagi yang masih gelap, disaat matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya, pemuda jangkung itu sudah siap dengan pakaian santainya.
"Abang mau ke rumah sakit, mau ikut?" tawarnya.
"Bang Di duluan saja, Rain mau ke rumah Tia dulu." Gadis itu sibuk merapikan buku yang akan ia bawa ke dalam tas ranselnya.
"Nyalin tugas nih pasti," tebak Dirgantara kembali menggoda sang adik.
"Enak saja. Tidak lah!" Rain mendengkus, "aku tuh mau kerja kelompok."
***
Sedari tadi pemuda itu tidak mau berbicara pada siapapun. Ia masih sangat syok ketika melihat tangannya tidak tertutup hoodie yang selalu dipakainya.
"Tinggalkan aku sendiri," pinta Baskara dengan tatapan datarnya.
"Tapi, Bas--"
"Keluar!" Bentak pemuda itu seraya menunjuk pintu dengan telunjuknya.
Angkasa keluar seperti yang diminta sahabatnya, ia ingin membuat sedikit ruang untuk Baskara agar dapat menenangkan pikirannya.
Baskara menatap tangannya nanar, luka-luka itu tidak tertutup dengan hoodie yang selalu ia pakai. Itu artinya teman-temannya sudah tahu dan mungkin mereka juga sudah mengetahui kondisi psikisnya.
“Apakah setelah ini aku akan kembali sendirian?” pikirnya.
"Kok di luar?" tanya Dirgantara pada Angkasa yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya.
"Babas minta ditinggal." Jawab pemuda itu masih fokus pada permainan yang ada di ponselnya.
Dirgantara melotot, tidak habis pikir pada sahabat satunya ini. Kenapa disaat seperti ini dia malah membiarkan pemuda itu seorang diri di dalam sana. Bagaimana jika dia kembali melakukan hal bodoh?
"Terus kenapa kamu malah ikuti kemauan dia? Kalau dia coba ngiris lagi gimana?" Tanya Dirgantara seraya langsung merebut ponsel pemuda itu kesal.
"Aaahh!" Angkasa sedikit berteriak karena ulah pemuda itu permainan yang sebentar lagi akan dimenangkannya justru malah berakhir dengan kekalahan.
"Aku juga tidak akan selalai itu. Aku sudah mengamankan semua barang yang kira-kira berbahaya. Lagi pula apa yang bisa membahayakan di ruangan itu?" Angkasa memutar bola matanya jelak lalu merebut kembali ponselnya, "gara-garamu aku kalah bodoh." Dia mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Dirgantara yang tampak tidak peduli sama sekali.
"Si Bintang belum ke sini?" tanya Dirgantara mengalihkan topik pembicaraan.
"Ini hari Minggu," balas Angkasa masih kesal akibat ulah sahabatnya itu.
Keadaan Samudra sudah mulai membaik. Oleh karenanya pemuda itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. "Sayang, yakin mau sekolah hari ini?" tanya Dewi khawatir ketika melihat putranya sudah siap dengan seragam sekolahnya. "Iya, Sam sudah ketinggalan banyak pelajaran Bun," jawabnya, "kalau kelamaan tidak masuk, nanti Sam jadi bodoh." Jujur, dia sangat merindukan para sahabatnya. Selama hampir satu minggu tidak mendengar dan tidak melihat kekonyolan mereka rasanya ada yang kurang. Pemuda itu juga rindu mengendarai motor kesayangannya. "Ya sudah, tunggu, Bunda bawa kunci mobil dulu." Pinta Dewi hendak mengambil kunci mobil yang tergantung di tempatnya. "Eh, mau ngapain?" tanya Samudra mengernyitkan kening. "Bunda mau antar kamu lah, apa lagi," jawab wanita itu gemas dengan sikap Samudra yang terlihat menggemaskan. "Jangan mulai Bun. Sam tidak suka Bunda memperlakukan Sam seperti anak kecil seperti ini." Pemuda itu mengerucutkan b
"Selamat siang anak-anak," sapa Bu Mita, guru Seni Budaya. "Siang, Bu," jawab mereka serempak. "Baik, materi kali ini tentang seni peran. Hari ini Ibu akan membagi kelompok, satu kelompok terdiri dari dua sampai tiga orang--" "Kelompoknya bebas atau ditentukan sama Ibu?" potong salah satu siswa di kelas XI IPA 1. Bu Mita mendengkus seraya menatap siswa yang memotong ucapannya itu, kesal karena sudah memotong perkataannya saat beliau masih menjelaskan. "Makanya jika Ibu sedang bicara jangan dulu disela. Untuk anggotanya Ibu yang akan menentukan. Di kotak ini sudah ada nomor kelompok, silakan kalian pilih dan bagi siapapun yang nomornya di panggil harap ke depan," jelas Bu Mita kembali serius. "Semoga aku bisa satu kelompok dengan Bintang," harap beberapa siswa di sana. Sementara para siswinya berharap bisa satu kelompok dengan Samudra, siswa yang dijuluki sebagaimostwantedsekolah. "Semoga sama bebeb Sam
"Angka, tunggu!" Teriak Sarah sedikit berlari untuk mengejarnya sampai ke dekat parkiran. "Angkasa!" panggilnya lagi dengan penekanan berharap pemuda itu berhenti. "Apa?" sahut Angkasa sedater dan sedingin mungkin. "Kamu aneh," ujar gadis itu membuat pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu?” tanya pemuda itu. Kenapa kamu tidak pernah peka? Aku tuh suka sama kamu, Angka. Gadis itu mengerjap beberapa kali. "Ya, aneh. Kamu kan marahnya sama Sam, kenapa aku juga kena?" "Padahal, aku ingin ngobrol sama kamu seperti dulu, tapi kamu malah seperti ini." Protesnya seraya mengerucutkan bibirnya seperti anak bebek. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Mungkin lebih baik ia jujur saja pada gadis di depannya ini. Berbohong juga tidak ada gunanya, pikirnya. "Karena kamu terus saja membelanya, terus pakai bentak aku segala lagi," jawab Angkasa dengan sangat jujur. Kening
Setelah sampai rumah, pemuda itu langsung masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya lelahnya ke atas tempat tidur kemudian kembali terperanjat lalu duduk di sisian ranjang. "Si Sam ngeselin banget sumpah. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun." Mulut Bintang terus berkomat-kamit mengeluarkan kekesalannya pada orang yang bahkan tidak sedang bersamanya. "Kenapa lagi?" tanya Bima yang entah masuk sejak kapan. "Astaga Kak membuat kaget saja." Bintang menepuk-nepuk dadanya yang berdebar karena terkejut dengan kedatangan sang kakak yang tiba-tiba. Rasanya dia ingin mencubit ginjal pemuda yang kini sudah duduk di sampingnya. "Mama?" tebak Bima karena biasanya ibunyalah yang membuat mood adiknya berantakan. "Bukan." Jawab Bintang kembali membaringkan tubuh lelahnya. "Terus?" tanya Bima mulai penasaran. "Kepo," timpal Bintang enggan untuk menjawab. Bima berdecak seraya ikut berbaring di tempat tidur adiknya. "Lah, aku ini kak
Tok! Tok! Bianca mengetuk pintu ruangan kerja ayahnya beberapa kali. "Masuk," perintah seseorang dari dalam. "Bianca? Ya ampun Sayang kenapa tidak bilang kalau mau pulang," senang Nugroho karena putri keduanya telah kembali. "Bi mau bicara serius sama Ayah," kata wanita muda itu tidak mengindahkan perkataan ayahnya. Ia tidak suka berbasa-basi. "Bagaimana sekolah kamu di London? Pasti seru banget sampai lupa rumah. Anak Ayah makin cantik saja," Nugroho mengalihkan pembicaraan. Pria itu tahu putri keduanya itu akan membahas ap ajika sudah menatapnya dengan serius seperti ini. "Ayah, Bi mau bicara serius," kekeh Bianca tidak peduli dengan semua pujian yang diberikan oleh sang ayah. Pria dewasa itu mendengkus dan mau tidak mau menurutinya. "Ya sudah, mau bicara apa?" tanyanya. "Ini tentang Babas," jawabnya. Nugroho langsung tersulut emosi ketika nama Baskara disebut, seakan sebuah bakteri jahat yang harus ia jauhi sejauh-ja
Brisia yang sedang fokus menonton acara kesukaannya langsung bangkit saat melihat adiknya lewat di belakangnya. "OMG! Bi, kok tidak bilang-bilang kalau mau pulang? Aku kan bisa jemput kamu di bandara," kata Brisia seraya memeluk Bianca. Wanita muda itu tersenyum seraya membalas pelukan Brisia untuk mengobati rasa rindunya karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Tidak usah repot-repot Kak, lagi pula tadi Bi ke rumah sakit dulu." Jawab Bianca seraya melepaskan pelukannya. "Untuk apa?" tanya Brisia acuh tidak acuh. "Jenguk Babas." Jawab wanita cantik itu seraya menaruh tas yang sedari tadi dijinjingnya. Raut wajah Brisia langsung berubah. Sorot kebencian itu tercetak nyata dalam manik mata bulatnya. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu jauh-jauh deh dari anak pembawa sial itu," pinta Brisia dengan sinis. "Kak!" bentak Bianca tidak terima lagi-lagi adiknya dikatakan yang tidak-tidak. "Kakak apa-apaan sih? Masih saja menyal
Pemuda itu sedang berusaha keras menghafal lirik lagunya, sedari tadi ia terus mendengarkan liriknya seraya di tulis ulang dengan alasan akan lebih mudah untuk menghafalnya. "Den, makan dulu," kata Teti dari luar kamar. "Iya Bi, sebentar lagi tanggung," balas Samudra dari dalam kamarnya. ~Persahabatan sejati tak akan pernah matiKenang hari ini, kawan, cerita yang mengagumkan~ Sepenggal lirik dia nyanyikan seraya membayangkan perjalanan persahabatan mereka. Mulai dari pertemuan pertama, terus sering nongkrong bareng sampai akhirnya membuat sebutan yang terinspirasi dari nama-nama mereka, Nature. ~Sempat kita terhasut oleh ego, tak mau saling menyapaNamun, abaikanmu tak sanggup lamaKu menepuk bahumu~ Kemudian menyanyikan lirik selanjutnya dan teringat permasalahan yang sedang terjadi saat ini. Samudra menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan, berharap bebannya terbuang bersamaan dengan angin malam yang masuk karena pemu
Dengan kemampuan berlarinya, tidak perlu butuh waktu lama untuk sampai ke ruang Kesenian. Bintang langsung membuka pintu ruangan, mengira bahwa Samudra sudah menunggunya di dalam. Namun, dugaannya salah. Tidak ada seorang pun di sana. Bintang mengumpat. "Kampret! ngapain aku sampai lari-lari kalau tau gini." Untungnya tidak lama kemudian lelaki itu datang dengan gitar barunya. Bintang langsung mengeluarkan semua sumpah serapahnya karena telah dibuat menunggu. "Niat latihan gak sih?" Ketusnya. "Temanku galak amat," ujar Samudra tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Gimana rasanya nunggu? Enak gak?" lanjut Samudra membuat kening lelaki itu berkerut sebelum kemudian dia sadar bahwa Samudra sedang membalas perlakuannya tempo hari. Samudra tertawa melihat ekspresi terkejut Bintang. Sebenarnya dia tidak benar-benar sengaja terlambat hanya saja melihat ekspresi kesal sahabatnya itu membuatnya ingin mengerjainya seakan dia sengaja melakukanny.
Setelah pulang dari sekolah, Samudra kembali mengantar gadis itu ke rumah sakit tempat gadis itu dirawat. Lelaki itu mencium tangan ibunya Viola ketika berpapasan di depan ruangan yang gadis itu tempati. Samudra meminta maaf karena mengajak Viola pergi sampai senja seperti ini. Namun, bukannya memarahinya, wanita paruh baya itu jusrtu mengucapkan terima kasih padanya karena telah membuat senyum putrinya kembali. Setelah itu Samudra pamit pulang. Lagi pula gadis itu sebentar lagi harus meminum obatnya dan beristirahat. Saat dilorong rumah sakit tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya ke dinding saat dadanya terasa sakit, napasnya sesak dan pandangannya tampak kabur. Samudra tidak dapat menyangkal bahwa tubuhnya kelelahan, bahkan lelaki itu lagi-lagi melupakan obat yang harus dikonsumsinya. Ia berjalan dengan langkah terseok-seok sembari sebelah tangannya digunakan untuk berpegangan pada apapun yang bisa menahan beban tubuhnya. Namun, semakin lama Samudra me
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka telah sampai ke sebuah bangunan yang tidak asing bagi Samudra, tetapi asing untuk gadis itu. Ya, mereka berdua kini sedang berada di sekolah lelaki itu sekarang. Viola menatap bangunan megah itu dengan mata yang berbinar. Senyuman indah itu tidak pernah luntur dari wajah pucatnya. “Ayo masuk!” Ajak Samudra seraya menggandeng tangannya. Viola menarik tangannya membuat lelaki itu mengerutkan keningnya. Bingung melihat wajah Viola yang terlihat cemas. “Apa mereka tidak akan mengusirku? Aku bukan siswi di sini,” ucap gadis itu menundukkan kepalanya. “Ya ampun aku pikir kenapa,” saut Samudra, “tenang saja ada puluhan siswi yang bersekolah di sini. Mereka tidak mungkin sadar kalau kamu bukan salah satu siswi di sini.” “Kamu yakin?” tanya gadis itu masih cemas akan ketahuan. “Ya,” jawab Samudra seyakin mungkin, “ayo akan aku buktikan.” Lanjutnya kembali menggenggam tan
Setelah pulang sekolah Samudra tidak langsung pulang ke rumahnya ataupun pergi bersama anak-anak Nature Squad seperti yang selalu mereka lakukan. Lelaki itu pergi untuk menemui teman barunya, Viola, gadis yang sempat ia pikir sebagai laki-laki botak yang hendak bunuh diri. Tok tok tok! “Masuk,” ucap seorang wanita paruh baya dari dalam. Samudra menyembulkan kepalanya seperti seorang anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Baik wanita paruh bay aitu ataupun gadis cantik yang sedang duduk di kursi roda sama-sama tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat kelakuannya yang menggemaskan. “Ayo masuk, Nak Sam,” ujar wanita paruh baya itu lagi yang tidak lain adalah ibu dari Viola. Ia sudah cukup tahu siapa lelaki yang mengaku sebagai teman putrinya itu dan ia juga senang karena kehadiran Samudra, putrinya terlihat lebih ceria dan banyak tersenyum. Lelaki itu langsung masuk dan tidak lupa untuk menutup pintunya kembali. Kemudian ia
Sam dan Viola sama-sama menatap ke depan, melihat orang-orang yang berjalan ke sana ke mari. "Kamu serius mau menjadi bapak peri untukku?" tanya gadis itu membuat kening pemuda itu berkerut. “Bapak peri?” tanya Samudra tidak mengerti. “Bukankah kamu tadi mengatakan akan menciptakan memori indah untukku? Kupikir kamu seperti ibu peri dalam cerita dongeng, tapi berhubung kau seorang laki-laki jadi kau bapak, bukan ibu,” jawab gadis itu membuat Samudra membuka mulutnya tidak percaya bisa bertemu dengan gadis sepolos dirinya. “Iya.” Jawab pemuda itu seraya menganggukan kepalanya ke atas dan ke bawah. "Caranya?" tanya Viola lagi. Pemuda itu kembali melangkahkan kakinya seraya mendorong kursi roda Viola, lalu dia duduk di salah satu kursi panjang dan menatap mata gadis itu dengan serius. "Mimpimu apa?" tanyanya. "Hah!" Viola mengerjap beberapa kali ketika mata mereka beradu. Dia merasa sangat gugup di tatap seperti itu.
Hari ini Baskara sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit begitu pun dengan Bianca. Nugroho dengan cekatan menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk kedua anaknya. Bianca yang melihat perubahan dari ayahnya itu merasa sangat bahagia sampai menitihkan air mata karena terharu, sementara Brisia tidak tau entah ke mana. Wanita itu tidak ikut menjemput kedua saudaranya."Kak Brisia mana Yah?" tanya Bianca."Entahlah. Mungkin Kakakmu sedang sibuk dengan urusannya," jawab pria dewasa itu seraya fokus menyetir.Baskara menatap kakaknya dengan tatapan penuh kasih sayang, sedari tadi dia terus menggenggam tangan Bianca tanpa mau melepaskannya."Kak, kepalanya masih sakit?" tanya pemuda itu khawatir."Sedikit," jawab Bianca sembari memegang perban yang terlilit di kepalanya."Jangan cemas! Kakak tidak apa-apa," lanjutnya tidak ingin membuat sang adik cemas.Nugroho yang sedang fokus menyetir, mengintip ke harmonisan kakak beradik itu lewat k
Uhuk! Uhuk!Sedari tadi Rita terus batuk-batuk, dia merasakan seluruh badannya tidak enak dan suhu tubuhnya sedikit hangat, sepertinya wanita itu terserang demam.Bintang yang menyadarinya langsung pergi ke dapur untuk membuatkan sup jagung kesukaan ibunya. Namun, setelah masakannya jadi dan siap untuk di antarkan dia baru menyadari bahwa ibunya tidak mungkin memakannya jika Bintang yang memberikannya.Lantas pemuda itu kembali ke atas untuk meminta bantuan Bima untuk mengantarkannya dan meminta merahasiakan bahwa sup ini Bintang yang membuatnya.Awalnya Bima tidak setuju, tetapi setelah dia melihat sorot mata adiknya, dia pun luluh.Tok tok tok!Bimamengetuk pintu kamar ibunya dengan membawa semangkuk sup jagung yang dibuatkan Bintang. Wanita itu tersenyum ketika melihat putra kebanggaannya datang."Makan dulu, Ma," ucap pemuda itu sembari duduk di pinggir tempat tidur siap menyuapi sang ibu.Wanita itu
"Argh!Apa yang baru saja aku lakukan?" Netranya menerawang jauh ke laut lepas yang membentang kebiruan, membiarkan ombak menyapu kakinya. Pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang diakukannya, membongkar begitu saja rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat.Saat sedang melampiaskan kekesalannya tiba-tiba Samudra melihat seorang pemuda berkepala plontos berjalan ke tengah laut."Woy!!" Cegah Samudra langsung menarik tangannya dan betapa terkejutnya ketika mendengar suara pemuda itu yang terdengar seperti suara perempuan."Lepaskan aku!" bentaknya."Kamu perem--"Gadis berkepala plontos itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca lalu menghempas tangan Samudra dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.Dengan masih keterkejutannya Samudra kembali mengejar gadis itu untuk meminta maaf karena telah menganggapnya seorang laki-laki, Samudra yakin ucapannya itu sudah membuat gadis itu tersinggung.
Maya melihat putra sulungnya sedang membereskan pakaian dan beberapa perlengkapan yang akan pemuda itu bawa."Aa, yakin mau berangkat besok? Bukankah Aa bilang berangkat setelah kelulusan?" tanyanya. Pemuda itu hanya mengangguk dengan lemah."Kenapa terburu-buru sekali?” tanyanya lagi. Wanita paruh bay aitu masih merasa aneh dengan keberangkatan putranya yang tiba-tiba.“Mungkin hanya dengan cara ini aku bisa lupain dia, Bu,” jawab Angkasa dalam batinnya.Tok! Tok! Tok!"Siapa yang bertamu, ya?" pikir Maya. Dia pun pergi dari kamar putranya untuk membukakan pintu."Assalamu'alaikum," ucap seseorang di luar rumah memberi salam."Wa'alaikumusalam," jawab wanita itu, "eh, Nak Sam, silakan masuk.""Angka nya ada Tante?" tanya Samudra dengan ramah.Wanita itu tersenyum memperlihatkan sifat keibuannya. "Sebentar, Tante panggilkan. Silakan duduk, Nak."Maya kembali masuk untuk memanggi
"Sarah, sebenarnya Sam itu siapa kamu?" tanya Angkasa membuat Sarah menaikkan sebelah alisnya, bingung akan pertanyaan pemuda itu. "Lho, kamu juga tau kan dia sepupu aku," jawabnya. "Sepupu ya?" Pemuda itu tersenyum miring, "bohong!" "Bohong? Apa maksudnya Bohong? Kenapa kamu malah nuduh aku bohong? Kamu kenapa sih? Kalau memang tidak mau berteman denganku lagi ya sudah, tapi bukan begini caranya," gadis itu menjadi kesal karena telah dianggap berbohong. "Aku cemburu!" aku Angkasa sudah tidak bisa membohongi perasaannya lagi. Setelah mengatakan itu Angkasa menarik napas Panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku cemburu melihatmu pelukan dengannya. Gak ada sepupu yang memberikan perhatian lebih sampai meluk-meluk gitu. Perhatian kamu tuh seperti seorang wanita kepada lelakinya,bulshitkalau kalian tidak ada hubungan apa-apa," lanjutnya membuat Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu masih terkejut