Home / Romansa / My Husband Your Husband / Mas Bagas Berubah

Share

Mas Bagas Berubah

Author: Ayu Kristin
last update Last Updated: 2021-06-13 19:23:09

 

 

Segara kuraih selembar nota pembayaran rumah sakit yang terjatuh sembarang. Kubuka lipatan secarik kertas yang jelas tertulis nama Yasmin yang terletak di ujung nota lengkap dengan tanda tangannya.

 

Di dalam nota itu hanya tertulis rincian biaya perawatan, tanpa nama pasien atau pun penyakit yang diderita. Hanya pada akhir nota tertulis nama Yasmin sebagai pelunas biaya tersebut. 

 

'Kenapa bukan nama Mas Bagas?' Apakah nota ini bukan milik Mas Bagas? Jika bukan kenapa nota ini ada di dalam saku baju Mas Bagas?' 

 

Benakku terus berfikir, namun aku mencoba berfikir sepositif mungkin. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman seperti halnya hari kemarin. 

 

Aku percaya Mas Bagas tidak akan pernah membohongiku. Karena yang aku tau pria itu sangat mencintaiku.

 

Segara kulanjutkan kembali aktifitasku mencuci pagi ini, kemudian lanjut beberes rumah dan disambung dengan aktifitas memasak. Sungguh pekerjaan rumah ini membuat seluruh tenagaku habis terkuras.

 

Malam telah menjelang, Mas Bagas yang sedari sore sudah pulang' memilih menghabiskan waktunya untuk tertidur pulas di kamar. Sepertinya pria bertubuh hitam manis itu kelelahan dengan pekerjaannya seharian berkeliling hutan dengan cuaca yang sangat terik hari ini.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku segara menaikan tubuhku naik ke atas ranjang. Kulihat pria di sampingku itu masih dengan nafasnya yang teratur, sepertinya tidur Mas Bagas sangat pulas sekali. 

 

Kuusap lembut rahang kekarnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, rasanya diriku sangat merindukan belaian pria yang kini sedang terlelap itu. Semenjak Mas Bagas pulang dari Purwodadi belum sempat sekalipun pria itu memberikanku nafkah batin. Padahal seharusnya saat ini ranjang kami sedang panas-panasnya sebagai pengantin baru.

 

"Arhg," Mas Bagas mengerang lembut. Pria itu mungkin kegelian dengan ulahku.

 

Aku masih terus menggodanya, memainkan bulu halus yang tumbuh di sekitar dada bidangnya. Melihatnya terus menggeliat membuatku semakin bernafsu untuk memainkannya.

 

"Apa sih Dek," suara Mas Bagas terdengar malas. Pria itu membuka netranya perlahan manatapku yang sedang berbaring di sampingnya.

 

"Mas capek, ya!" tanyaku manja. 

 

"He'um," Pria itu mencoba menyadarkan dirinya dari rasa kantuk yang terus menyerang.

 

"Adek mau apa?" tanya pria yang kini menarik tubuhku dalam pelukannya.

 

Aku diam tak bergeming, rasanya terlalu tabu jika aku harus mengungkapnya duluan. 

 

"Kamu rindu!" ucapnya dengan mengusap lembut setiap ujung rambutku.

 

Aku masih terdiam, membiarkan Mas Bagas mencerna sendiri kode yang aku berikan. Semenit, dua menit, lima menit, suasana justru semakin hening. Hanya terdengar suara nafas Mas Bagas yang kembali teratur.  

 

Kudongakkan wajahku menatap Mas Bagas yang sudah tertidur kembali. Membuatku merasa kesal dengan pria itu. Apakah dia tidak merindukanku?

 

Andaikan aku marah, rasanya begitu aneh. Hanya gara-gara soal rajang saja aku harus menuntut, pikirku.

 

Kutarik tubuhku dari pelukan Mas Bagas kasar kemudian membaringkan tubuhku memungunginya. Namun, tetap saja tidak ada respon sedikitpun dari pria itu. Apakah selelah itu pekerjaannya hingga membuatnya benar-benar tertidur pulas.

 

**___**

 

Aku masih berdiri di depan pantulan cermin kamar. Kulihat wajahku yang putih bersih berseri. Kuputar tubuhku yang mengenakan seragam kerja berkali-kali. Apakah aku sudah tidak menarik? Aku rasa aku masih cantik kok?

 

"Dek, ngapain?" Tanya Mas Bagas yang baru keluar dari kamar mandi. Membuatku tergeragap dan kembali duduk di kursi depan meja rias.

 

"Eh, engak kok Mas, Ini lagi nyobain seragam baru," sahutku malu.

 

"Oh ...," ucap pria bertubuh tegap yang sedang membuka lemari baju itu.

 

Melihat pantulan tumpukan baju baju di dalam lemari dari kaca riasku, aku kembali teringat dengan nota yang bertuliskan Yasmin kemarin. Segera kuraih nota itu dari dalam laci meja rias yang sengaja aku simpan. 

 

"Mas, kok adek nemuin ini di kantong baju Mas, ya? tanyaku pada Mas Bagas sambil menyodorkan secarik nota tersebut.

 

Pria itu segera meraih nota itu, terlihat wajahnya yang sedang memperhatikan deretan huruf yang berjajar rapi di dalamnya.

 

Pria itu menarik nafas dalam-dalam, kemudahan menghembuskannya dengan lembut. Seolah sedang berpikir keras.

 

"Oh, ini nota pembayaran rumah sakit ibu kemarin," sahut Mas Bagas yang kini menjatuhkan tatapannya padaku.

 

"Tapi kenapa di sini tertulis nama Yasmin? Bukan Mas Bagas? Terus Yasmin itu siapa?" Kuberondong Mas Bagas dengan semua pertanyaan yang telah berjejalan di benaku sambil terus menunjuk pada nama Yasmin yang terletak pada sudut nota.

 

"Sayang, Yasmin itu perempuan yang tinggal bersama ibu. Dia yang merawat ibu di Purwodadi. Kamu kan tau sendiri, sekarang ibu sudah sakit-sakitan. Bagaimana jika tiba-tiba jantung ibu kumat? Sementara Mas ngak bisa selalu berada di dekatnya," ucap Mas Bagas terlihat sedih. Pria itu memegang kedua bahuku dan menatapku lekat.

 

Aku menarik nafas dalam, rasanya dadaku sedikit sasak. Mengingat hubunganku dengan mertuaku yang sedang tidak begitu baik. 

 

"Mas, bagaimana kalau besok kita main ke tempat ibu? Bukankah aku sudah lama tidak berkunjung ke Purwodadi. Bahkan di acara pernikahan kita pun ibu tidak bisa datang," ucapku pada Mas Bagas yang terlihat gugup.

 

"Nanti kita fikirkan lagi ya Dek, Mas mau siap-siap dulu berangkat kerja!" ucap Mas Bagas datar.  Pria itu meninggalkanku setelah meraih baju kerjanya dari dalam lemari. 

 

*_*

 

"Cie cie, Bu Neti! Itu lehernya kanapa di tempel hansaplas?" ledek Bu tari pada wanita muda dengan leher jenjang di hadapannya yang terus memegang hansaplas dengan tersipu malu.

 

"Tuh, kalau main kaya Bu Reza dong, ngak berbekas tapi ngena," ledek Bu Tari padaku yang baru memasuki ruang staf guru.

 

Namun kali ini ucapan Bu Tari justru tak membuatku senang. Yang anda hanya membuat batinku terasa nyeri. Mengingat Mas Bagas hanya menyentuhku sekali saat malam pertama.

 

"Jiah do'i malah melamun aja!" cetus Bu Tari yang mengerakkan tangannya di hadapanku.

 

"Hehe, iya Bu kenapa?" tanyaku geragapan.

 

"Haduh, Bu Reza nih masih pengantin baru udah kaya emak emak banyak anak aja deh," ledek Bu Tari dengan tersenyum meninggalkanku di ruang staf. Sepertinya wanita dengan tubuh gemuk itu sedang ada jadwal pagi ini hingga membuatnya terlihat buru-buru.

 

"Ngak usah didengerin Bu, kaya ngak tau Bu Tari aja. Janda kesepian," seloroh Bu Neti dengan tersenyum padaku. Wanita yang terus memegangi lehernya itu berlalu meninggalkanku.

 

Pagi ini aku benar-benar sangat merindukan Mas Bagas. Tidak pernah sekalipun aku menghubungi pria itu duluan. Selalu dia yang terlebih dulu mengubungiku. Menanyakan kabarku, atau hal hal yang tidak penting lainnya. Bagiku pantang untuk menjatuhkan harga diriku di depan laki-laki, sekalipun itu adalah suamiku.

 

Namun, hari ini aku ingin sekali menghubungi pria itu. Kupaksakan diriku untuk menurunkan sedikit egoku. Segera kuraih ponsel dari dalam tasku. Kemudian menekan tombol hijau pada kontak yang bertuliskan my husband di ponselku.

 

Tut ... Tut ... Tut ... Nomor yang anda tuju sedang sibuk. 

 

Sahut suara operator pada ponsel yang telah kutempelkan dekat telingaku. Berkali-kali aku mencoba namun nomor Mas Bagas sama sekali tidak bisa aku hubungi.

 

Siang telah menjelang. Kuraih kembali benda pipih itu dari saku bajuku. Kuusap lembut pada layar ponsel. Namun, tidak ada satupun jejak panggilan Mas Bagas menghubungiku.

 

Rasa penasaranku semakin menggebu. Kembali kuhubungi Mas Bagas, berharap kali ini pria itu akan menjawab teleponku.

 

Tut ... Tut ... Tut ... Nomor telepon yang anda tuju sedang sibuk.

 

Kembali suara operator wanita itu yang menjawab panggilanku membuatku berdecak kesal.

 

"Bu Reza, Bu Reza, ada kabar penting," ucap pria yang menjatuhkan bokongnya kasar duduk di sampingku.

 

"Pak Aris, ada apa?" tanyaku pada pria yang masih mengatur nafasnya yang naik turun.

 

Pria itu diam sejenak, netranya melihat ke seluruh ruangan staf guru yang masih sepi. Hanya anda Pak Nardi yang sedang sibuk dengan laptopnya di sudut ruangan.

 

"Ada apa sih Pak?" tanyaku penasaran.

 

Stttt,

 

Pak Aris meletakan jari telunjuknya ke dekat bibirnya. Kemudian mendekatkan wajahnya sedikit ke arahku yang duduk di sampingnya.

 

"Bu Reza, tapi jangan marah ya. Tadi aku melihat suami ibu masuk ke hotel bersama seorang wanita," bisik pria itu sesaat membuat pandanganku terasa kabur dengan jantung berdebar kencang.

 

BERSAMBUNG ☺️

Related chapters

  • My Husband Your Husband   Penyelidikan

    Part sebelumnya.Stttt,Pak Aris meletakan jari telunjuknya ke dekat bibirnya. Kemudian mendekatkan wajahnya sedikit ke arah lku yang duduk di sampingnya."Bu Reza, tapi jangan marah ya. Tadi aku melihat suami ibu masuk ke hotel bersama seorang wanita," bisik pria itu sesaat membuat pandanganku terasa kabur dengan jantung berdebar.Next part 5Deg!Benar, jantungku rasanya sedang berhenti mengalirkan darah keseluruh tubuhku. Pria itu menatapku dengan serius, sepertinya Pak Aris benar-benar dengan ucapannya. Segera kunormalkan pikiranku yang hampir limbung oleh cerita yang Pak Aris sampaikan. Namun tubuhku masih saja terasa bergetar."Apa Pak Aris yakin kalau itu adalah Mas Bagas?" tanyaku memastikan apa yang Pa

    Last Updated : 2021-06-13
  • My Husband Your Husband   Wanita Di Dalam Hotel

    Part Sebelumnya"Mbak, mbak! Dih malah melamun," panggil mamang ojol membutku tergeragap."Eh iya Pak maaf! bapak tunggu di sini sebentar ya pak, saya mau ngecek ke hotel sebentar," ucapku dengan suara bergetar dengan tubuh yang terasa menggigil menahan rasa sakit yang meremas hati.Next PART 6Aku berjalan memasuki halaman hotel yang dipenuhi tanaman hijau. Sepanjang jalan setapak berjajar lampu hias dengan bola lampu yang besar berbentuk bulat. Tubuhku semakin bergetar saat aku semakin mendekat ke lobby Hotel. Jantungku seolah berpacu lebih cepat, berkali-kali aku menyeka keringat yang membasahi keningku dengan satu tanganku.'Yah, benar itu motor Mas Bagas.' Kulihat motor itu berada di parkiran hotel.Kini aku sudah memasuki loby hotel. Disambut oleh seorang resepsionis cantik yang tersenyum ramah kepadaku.

    Last Updated : 2021-06-14
  • My Husband Your Husband   Dihantui Perselingkuhan

    Pagi masih begitu berkabut, dingin pun masih terus menghujam hingga meremukkan tulang-tulangku. Netraku harus kubuka paksa ketika tidak aku dapati Mas Bagas tidur di sampingku. Barang kali dia masih marah dengan ucapanku semalam.Aku menuruni ranjang dan bergegas mencari keberadaan Mas Bagas. Baru kali ini sepanjang kami bersama, laki-laki itu merajuk. Mungkin karena ia harus diliburkan beberapa hari dari pekerjaannya karena ulahku di hotel atau karena ia gagal naik pangkat gara-gara kejadian itu. Entahlah aku tidak perduli. Toh, tanpa dia naik pangkat gajiku pun sudah cukup untuk membiayai kehidupan kami."Mas! Mas Bagas!" panggilku menelusuri seluruh ruangan di rumahku. Namun, tidak aku temukan keberadaan pria itu.Kulihat waktu pada jam yang mengantung pada dinding ruang tamu telah menunjukan pukul lima pagi. Apa mungkin Mas Bagas pergi bekerja? Bukankah dia sedang diliburkan.&nbs

    Last Updated : 2021-06-16
  • My Husband Your Husband   Rumah Mas Bagas

    Subuh buta aku telah menyiapkan kebutuhan yang akan aku perlukan di perjalanan. Tas ranselku pun telah aku isi dengan aneka macam oleh-oleh untuk ibu mertuaku. Jika sempat, nanti aku juga akan menambahkan buah tanganku yang lebih banyak lagi untuk ibu mertuaku dan Mas Bagas.Sengaja aku tidak memberi tau Mas Bagas tentang kedatanganku karena aku ingin memberinya kejutan untuknya. Tidak dapat kubayangkan jika Mas Bagas tiba-tiba melihatku di sana, pasti pria itu akan semakin menyayangiku karena etikatku untuk berbaikan dengan ibunya. Ah, entahlah sejak kapan aku menjadi pengemis cinta Mas Bagas seperti ini. Seingatku dulu Mas Bagas lah yang terus memohon kepadaku agar aku mau menikah dengannya. Namun, kini semuanya justru berbalik padaku.Sudah ku isi penuh tangki motor meticku. Sepertinya sudah cukup untuk perjalanan dua jam menuju rumah Mas Bagas. Kalau kecepatan sedang biasanya sampai tiga jam baru sampai ke rumah Mas Bag

    Last Updated : 2021-06-16
  • My Husband Your Husband   Menuntut Nafkah Batin

    Aku masuki halaman rumah berlantai dua yang cukup luas. Netraku beredar dari rumah tinggi itu hingga bagian taman kecilnya yang didominasi dengan bunga mawar dan angrek. Cukup indah dan terawat. Apakah ibu mertuaku sendiri yang merawat semua tanaman ini. Mungkin saja! ternyata orangnya telaten juga."Dek!" panggil Mas Bagas membuatku terhenyak."Eh, iya Mas!" sahutku geragapan. Aku terlalu terkesima dengan rumah ini. Rumah yang sama persis dengan rumah impianku."Ayo masuk!" Pria itu menarik pergelangan tanganku menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah yang berada di lantai dua.Perlahan pintu yang tingginya sekitar dua meter lebih itu terbuka ke dalam. Netraku tidak hentinya berdacak kagum dengan perabotan di rumah itu. Semua begitu unik yang didominasi hasil ukir ukiran dari kayu jati.Namun, kenapa tidak ada

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Lelaki Di Kamar Yasmin

    Tanganku terus meraba keberadaan Mas Bagas di sampingku. Tubuhku terasa dingin tanpa pelukannya disaat tidur. Namun sosok itu telah tidak ada di sampingku.Kuusap lembut netraku yang masih berkabut. Kulirik waktu pada jam yang dinding yang telah menunjukan pukul dua dini hari.Aku menuruni rajang mencari Mas Bagas di kamar mandi. Tapi kamar mandi itu kosong.Kuturuni anak tangga, siapa tau Mas Bagas lapar dan sedang makan di dapur. karena di lantai atas ini hanya ada kamar Mas Bagas dan satu kamar yang terletak di ujung ruangan."Ah, terus Mas!"Suara desahan dari kamar yang terletak di sudut lantai bawah itu terdengar jelas masuk ke dalam telingaku. Membuat langkah kakiku terhenti.Rintihan demi rintihan saling bersahutan. Bahkan desahan menjijikan itu membuat kakiku seolah begitu lemas dan tak bertulang.

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Kekasih Yasmin

    Hari ini Mas Bagas sedang pergi bersama teman sekolahnya dulu. Seharian mengurung diri di dalam kamar ini terasa begitu membosankan.Kuputuskan untuk berjalan-jalan melihat lihat rumah yang ibu Mas Bagas tempati ini. Menurutku rumah ini cukup mewah dan terawat. Sepertinya Yasmin benar-benar merangkap jadi pembantu di sini. Selain menjaga ibu, wanita berkulit sawo matang itu juga rajin membersihkan rumah. Mungkin sebagian tanda balas budi sebagai biaya ganti tinggal gratis di rumah ini.Namun, rumah ini sering sekali sepi. Hanya ada ibu dan Aska. Kata Mas Bagas setiap pagi hingga petang Yasmin baru akan kembali ke rumah setelah berjualan baju.Ah, ternyata dia hanya jualan baju saja toh. Mana mungkin Mas Bagas akan tergoda. Aku kan tau betul selera Mas Bagas. Wanita yang sepadan dengannya tentunya. Berpendidikan dan memiliki title. Dia itu tidak akan berminat dengan wanita yang ecek ecek apalagi

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Ketahuan

    "Dek, sarapanmu udah aku taruh di situ ya!"Suara Mas Bagas terdengar masuk ke dalam telingaku. Netraku yang masih lengket perlahan kubuka paksa. Manangkap sosok pria yang tengah sibuk mengenakan sepatunya di tepi ranjang."Mau kemana sih Mas pagi-pagi begini?" tanyaku malas dengan mengusap lembut kedua netraku yang masih berkabut."Aska badannya panas Dek dari semalam. Jadi Mas harus segera bawa ke rumah sakit," sahutnya terburu-buru."Aska!" sahutku bangkit duduk di atas ranjang dengan pandangan yang semakin jelas melihat Mas Bagas."Tapi kan Mas ...." ucapku terhenti ketika teriakan ibu dari lantai bawah mengema memanggil nama Mas Bagas."Nanti saja ya Dek, Mas buru-buru!" sahut Mas Bagas berlalu secepat kilat meninggalkanku sendirian di kamar."Ah!"Aku mendengus kasar melihat kepergian Mas Bagas keluar dari kamar. Kubanting kasa

    Last Updated : 2021-06-17

Latest chapter

  • My Husband Your Husband   Sebuah Pelajaran

    POV author.15 tahun kemudianLangit masih saja sama. Mendung datang bergulung-gulung. Lelaki bertubuh tinggi besar itu mempercepat langkah kakinya menuju sebuah rumah sederhana. Kedua tangannya menutup bagian kepalanya agar rintik hujan tidak membahasi tubuhnya. Menurut mitos hujan pertama kali itu bikin sakit.Cekret!Suara derit pintu yang terbuka menandakan bahwa pintu itu sudah lama tidak diberi pelumas. Seseorang yang duduk pada bangku kursi goyang melihat ke arah kedatangan lelaki tampan berkulit sawo matang yang menenteng sebuah kantong plastik di tangannya."Aska!" suara serak itu menandakan bahwa kini usia lelaki yang duduk di kursi goyang itu sudah tidak lagi muda. Sebuah senyuman tersungging dari bibir lelaki tua itu saat melihat kedatangan Aska."Papa, maaf jika aku terlambat datang ke sini. Tadi hujan turun cukup deras, jadi aku memutuskan untuk tinggal di ka

  • My Husband Your Husband   Karma

    POV Reza"Apa? Bagaimana bisa?" Aku terhenyak saat salah satu karyawan tempatku karaoke melaporkan bahwa ada satu dari karyawanku yang membawa uang kantor."Bodoh!" hardikku kesal pada seorang karyawan yang mengadu kepadaku."Berapa juta uang yang dibawa oleh kariawan itu?" cetusku bersungut-sungut. Dadaku bergemuruh menahan amarah yang membuncah.Gadis muda yang tertunduk lesu di hadapanku itu tak bergeming. Sesekali ia melirik ke arahku dengan wajah' takut. "Sekitar seratus juta, Bu!" lirihnya seraya mengigit bibir bawahnya."Apa?" Seketika kedua bola mataku membulat penuh dan hampir lepas dari cangkangnya. "Seratus juta!" Kepalaku terasa berdenyut. Hampir saja tubuhku jatuh pingsan mendengar kerugian tempat karaoke yang baru saja aku rintis. Bagaimana bisa semua seperti ini."Bu Reza, Bu Reza!" Seseorang membantuku duduk pada bangku sofa saat aku hampir terjatuh. Dadaku

  • My Husband Your Husband   Janji Bagas

    POV Bagas"Apakah kamu yakin Yasmin akan menerima kamu kembali, Bagas?" suara renta itu terdengar meragukanku.Bayangan pantulan wanita yang berada di kursi roda itu dari cermin itu terus mengawasiku. Aku tak bergeming, melihat pantulan diriku pada cermin yang berada di depanku."Aku yakin Bu, Yasmin pasti akan kembali padaku!" sahutku sekilas menoleh ke balik punggung.Aku segera menyelesaikan persiapanku. Meskipun aku bisa melihat dengan jelas keraguan dari wajah Ibu."Bagas!" lirih Ibu saat aku menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas.Wajah sendu itu mengawasiku yang berjalan menghampirinya. "Ada apa ibu?" tanyaku menjatuhkan tubuhku di depan kedua pangkuan ibu."Jangan terlalu mengharapkan Yasmin. Kini Yasmin sudah memiliki kehidupan sendiri. Berhentilah mencintainya, Bagas!"Sorot mata nanar itu menatap lekat padaku. Aku tersenyum k

  • My Husband Your Husband   Kembali Ke Rumah Rasyid

    POV Yasmin."Meskipun aku masih mencintai Mas Bagas. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Bang Rasyid. Karena bagaimanapun juga aku sudah berjanji pada diriku sendiri, apapun yang terjadi aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai kapanpun," batinku."Tidak Bang! Aku sudah mengubur semua kenanganku bersama Mas Bagas," jawabku.Lelaki yang duduk di hadapanku tersenyum bahagia melihat padaku. Sorot matanya nanar namun penuh haru. Perlahan lelaki itu pun bangkit mendekatiku lalu menjatuhkan pelukannya pada tubuhku."Terimakasih, Yas! Terimakasih!" ucap Bang Rasyid menghujani wajahku dengan kecupan. Begitu juga dengan Aska yang berada di pangkuanku. Kami saling berpelukan penuh kasih sayang.Beberapa saat Bang Rasyid tenggelam dalam kesedihan dan rasa haru. Sementara aku, bayangan Mas Bagas sedikitpun tidak beranjak dari benakku meskipun kini Bang Rasyid berada di sampingku.

  • My Husband Your Husband   Uang Rasyid Hilang

    POV Rasyid.Semua sudah terjadi dan tidak mungkin kembali. Dari rekaman CCTV rumah aku bisa tau siapakah yang sudah mencuri hartaku. Dalam rekaman itu terlihat jelas sese"Lihat, sekarang kamu bisa melihat siapakah Reza sebenarnya kan?" cetusku pada Ratih yang duduk di sampingku.Gadis muda itu hanya terdiam, tidak mampu berucap apapun. Wajahnya pun seketika berubah pucat. Tergambar jelas penyesalan dari wajah gadis itu."Maaf Abang!" lirih Ratih. Sesaat kemudian terdengar isakan yang disertai dengan bahu yang bergerak naik turun. Meskipun wajahnya tertunduk, aku bisa melihat jika gadis itu kini sedang menangis."Coba saja kamu mau mendengar nasehat Abang dan Mbak Yasmin, pasti semua tidak akan terjadi seperti ini Ratih!" cetusku benar-benar sangat kecewa pada Ratih. Aku terduduk lesu, menatap iba pada Ratih.Gadis muda itu hanya terisak. Tidak seperti biasanya berani mela

  • My Husband Your Husband   Kemenangan Reza

    POV Reza."Baiklah! Jika kamu memang menolakku Mas. Tidak apa-apa, tapi setidaknya aku harus mengeruk habis semua harta-harta kamu hingga kamu jatuh miskin.""Kak Reza!"Ratih tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya memelukku dengan terisak membuatku tersadar dari lamunan."Ada apa Ratih?" tanyaku bersikap hangat kepada gadis bodoh yang mudah sekali untukku peralat.Beberapa saat Ratih terus menangis sesegukan. Ia menumpahkan semua beban yang berada di dalam dadanya. Tanpa aku tau apa yang sudah membuatnya menangis.Perlahan kulepaskan pelukan Ratih dari tubuhku. "Ada apa Ratih, katakanlah!" bujukku agar gadis itu berhenti menangis.Butiran bening dari dua bola mata itu justru semakin mengalir deras. Satu tangan Ratih menyodorkan sesuatu kepadaku."Astaga! Ratih!" sergahku terkejut saat meraih tespek berga

  • My Husband Your Husband   Pencuri

    POV Rasyid"Karena pasien yang bernama Ratih Wijayanti tidak menggunakan BPJS maka untuk bagian administrasinya sebesar dua ratus juta. Ini perinciannya ya, Pak!" Wanita yang berada di loket administrasi itu memberikan rincian biaya pengobatan Ratih kepadaku."Baik Mbak, hari ini juga akan saya lunasi," ucapku pada wanita itu."Oh, ya Mbak bagaimana dengan tagihan pasien' atas nama Yasmin, apakah sudah dibayar?" imbuhku penasaran.Rasa malu bertemu dengan Yasmin membuatku mengurungkan diri untuk menjenguknya. Terlalu banyak kesalahan yang sudah Ratih lakukan kepada wanita itu begitu juga dengan diriku. Namun, justru Yasminlah yang sudah datang untuk menolong Ratih."Sebentar ya, Pak?" Wanita itu terlihat mengetikkan sesuatu pada keyboard, sesekali sorot matanya melihat pada layar monitor yang menyala."Untuk biaya pengobatan pasien yang bernama Yasmin sudah dilunasi

  • My Husband Your Husband   Pengakuan Bagas

    POV Yasmine"Terima kasih Mas sudah datang di saat yang tepat. Maaf aku sudah membohongi Mas Bagas!"Lelaki itu menyungingkan ulasan senyuman kecil padaku. "Iya Yas, sama-sama!" sahut Mas Bagas terdengar begitu lembut."Lalu bagaimana dengan pemuda itu, Mas!" tanyaku penasaran dengan nasib pacar Ratih yang tega ingin menggugurkan darah dagingnya sendiri."Polisi sudah meringkusnya bersama Dokter abal-abal itu. Semoga saja mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan yang sudah mereka lakukan," sahut Mas Bagas."Lalu ..!""Ratih!" seru Mas Bagas memotong ucapanku. Seolah lelaki itu sudah tahu pertanyaan apalagi yang akan aku lontarkan kepadanya.Aku mengangguk lembut. "Ratih sudah melewati masa kritisnya. Meskipun terjadi luka pada rahimnya dan memungkinkan dia tidak akan bisa memiliki anak lagi.""Astaghfirullahaladzim!" Aku tid

  • My Husband Your Husband   Rasyid Cemburu

    POV RasyidTiba-tiba Reza menghilang bagaikan ditelan bumi. Wanita itu seolah tahu bahwa sebentar lagi keluarga dan suaminya akan datang ke sini untuk mencarinya. Ratih hanya mengatakan bahwa ia sempat mengantarkan Reza menuju terminal sebelum akhirnya nomor ponsel Reza pun tidak dapat dihubungi. Apakah kini aku sedang tertipu? Tidak aku rasa tidak, tapi mengapa Reza melarikan diri dari semua orang.Kuhempaskan tubuhku pada tepi ranjang berukuran king size yang berada di kamar Reza. Semua barang-barang wanita itu sudah raib tak tersisa. Sejenak aku berpikir, sepertinya Reza sudah merencanakan kepergiannya.Aku meraih ponsel yang berada di dalam saku celana. Beberapa kali benda pipi itu bergetar. Sesaat aku menjatuhkan pandanganku pada layar ponsel yang masih berkedip. Sebuah nomor tanpa nama sedang melakukan panggilan padaku."Halo!" sapaku setelah menekan tombol hijau pada layar"Ha

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status