Home / Romansa / My Husband Your Husband / Wanita Di Dalam Hotel

Share

Wanita Di Dalam Hotel

Author: Ayu Kristin
last update Last Updated: 2021-06-14 17:11:22

Part Sebelumnya

 

"Mbak, mbak! Dih malah melamun," panggil mamang ojol membutku tergeragap.

 

"Eh iya Pak maaf! bapak tunggu di sini sebentar ya pak, saya mau ngecek ke hotel sebentar," ucapku dengan suara bergetar dengan tubuh yang terasa menggigil menahan rasa sakit yang meremas hati.

 

Next PART 6

 

Aku berjalan memasuki halaman hotel yang dipenuhi tanaman hijau. Sepanjang jalan setapak berjajar lampu hias dengan bola lampu yang besar berbentuk bulat. Tubuhku semakin bergetar saat aku semakin mendekat ke lobby Hotel. Jantungku seolah berpacu lebih cepat, berkali-kali aku menyeka keringat yang membasahi keningku dengan satu tanganku.

 

'Yah, benar itu motor Mas Bagas.' Kulihat motor itu berada di parkiran hotel.

 

Kini aku sudah memasuki loby hotel. Disambut oleh seorang resepsionis cantik yang tersenyum ramah kepadaku.

 

"Selama pagi, selamat datang di hotel kami. Apakah ada yang bisa kami bantu?" ucapnya padaku dengan ulasan senyum ramah.

 

Aku menarik nafas dalam, mengumpulkan kekuatan untuk menanyakan keberadaan Mas Bagas kepada wanita yang berdiri di bagian resepsionis itu.

 

"Em, mbak bisa tolong kasih tau saya di mana kamar yang di sewa sama mas mas yang pakai baju perhutani tadi? Sekitar dua jam yang lalu dia masuk ke sini," ucapku  dengan suara bergetar.

 

"Oh bapak Bagas," sahut wanita itu seolah hafal betul dengan nama suamiku.

 

Ah, lututku kali ini seolah kehabisan tenaga. Hampir saja aku terjatuh dan tak mampu menopang tubuhku lagi mendengar wanita berwajah oriental itu yang seolah kenal akrab dengan Mas Bagas.

 

"Iya, betul Mbak!" ucapku gugup dengan bibir yang terus bergetar.

 

"Sebentar ya Mbak, saya cek dulu!" ucap resepsionis itu mengalihkan pandangannya pada layar komputer yang berada di depannya.

 

"Mas Bagas!" netraku membulat melihat Mas Bagas yang sedang menuruni anak tangga bersama wanita di sampingnya.

 

Hatiku semakin bergemuruh. Rintik bening itu perlahan jatuh membasahi pipiku. Tubuhku bergetar hebat, amarahku benar-benar sudah tidak mampu kutahan lagi. Yang ada saat ini, hanya rasa benci dan marah.

 

Kulangkahkah kakiku menghampiri Mas Bagas yang mematung di anak tangga bersama wanita itu. Mungkin Mas Bagas terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba muncul di depan matanya.

 

Plak!

 

Tanpa basa-basi kujatuhkan tamparan tepat di pipi wanita muda dengan rambut pajang tergerai itu. Hingga wajahnya seketika berpaling dari tatapanku.

 

 

"Dek?" Teriak Mas Bagas geram manatapku.

 

"He, apa apaan ini?" Wanita itu manatapku kesal, tangan satunya terus mengusap lembut pipinya bekas tamparanku. Pasti pipi itu terasa panas.

 

 

"Sudah Mas, diam. Akhirnya ketahuan juga kelakuan busukmu itu," hardikku pada Mas Bagas yang meraih pergelangan tanganku yang hendak menjambak rambut pelakor itu.

 

"Sudah Dek, sudah! Kamu ini apa-apaan sih. Malu dek, malu!" sergah Mas Bagas menarikku menuruni anak tangga. Sementara wanita simpanan Mas Bagas terus menatapku geram di atas anak tangga.

 

"Malu Mas, Mas bilang malu? Yang harusnya malu itu Mas Bagas bukan adek," balasku dengan emosi yang meledak-ledak. Kutepis kasar tangan Mas Bagas yang hendak meraih tubuhku menghampiri wanita itu.

 

"Satpam, satpam!" teriak wanita itu memanggil satpam yang berada di ruang depan pintu masuk hotel. Sepertinya wanita itu takut jika aku menyerangnya kembali.

 

"Heh, pelakor turun kamu jangan beraninya panggil satpam saj!" celaku tampa rasa malu. Ternyata sesakit ini rasanya dihianati. Andaikan di negara ini tidak ada hukum, aku sudah membunuh wanita itu.

 

"Reza, hentikan kelakuanmu," bentak Mas Bagas dengan melingkarkan tangannya di pinggangku menahan tubuhku yang terus meronta.

 

"Kemari kamu, jalang akan aku uleg kemaluanmu yang murahan itu." Aku terus mencela tidak perduli apapun yang Mas Bagas katakan padaku. Sementara wanita yang berdiri di anak tangga itu hanya terdiam menatapku dengan wajah masam.

 

Kemarahan yang memenuhi dadaku membuat tenagaku semakin kuat hingga Mas Bagas dan satpam itu hampir kualahan mencegahku.

 

"Ada apa ini, ada apa ini?" teriak pria yang baru datang dari pintu masuk hotel. Membuat kami yang berada di ruangan itu menole ke arahnya. Dari seragam yang dikenakannya seorang ia adalah orang penting.

 

"Ada apa ini Pak Bagas?" tanya pria yang menghampiri wanita yang kini berdiri di anak tangga.

 

"Maaf pak, ini kesalahan saya," ujar Mas Bagas melepaskan tangannya dari tubuhku. Wajahnya terlihat begitu canggung dengan raut ketakutan.

 

Namun di situ justru aku yang semakin kebingungan.   Sebenarnya siapa pria ini dan kenapa dia justru memeluk wanita yang memasang muka masam padaku itu.

 

"Sudah biarkanlah saja Mas, ayo kita tinggalkan," sahut wanita itu dengan nada dingin menatap ke arahku. Kemudian berjalan menuruni anak tangga.

 

Plak!

 

"Sekarang kita impas," ucap wanita itu menjatuhkan tamparannya tepat di pipiku yang terasa panas.

 

"Bagas, kita bicara nanti di kantor," celetuk pria bertubuh tegap dengan wajah geram pada Mas Bagas. Kemudian mereka berlalu meninggalkan kami begitu juga dengan satpam itu yang kembali berdiri di depan pintu masuk.

 

Semua orang yang menyaksikan aksi penyeranganku pun membubarkan dirinya.

 

Mas Bagas masih menunduk. Tidak pernah kulihat pria itu sesedih ini.

 

"Mas," ucapku lembut sambil meraih pergelangan tangannya.

 

"Puas kamu?" sahutnya kasar dengan menatapku tajam. Pria itu menepis tanganku dan berlalu meninggalkanku tanpa mengajak aku pulang bersamanya.

 

'Aku masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa wanita itu benarkah, apakah dia adalah simpanan Mas Bagas, atau justru simpanan pria yang baru datang itu.  Jika wanita itu adalah simpanan pria itu, berarti aku salah orang.' Aku masih mengusap lembut pipiku yang terasa sakit, netraku masih memandangi punggung bidang Mas Bagas yang meninggalkanku sendirian di lobby hotel.

 

*****_____*****

 

"Nih Pak ongkosnya," ucapku pada mamang ojol itu dengan menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.

 

"Wah, terimakasih mbak!" sahutnya kegirangan dan kembali manyalakan motornya kemudian pergi.

 

Aku masih terus mantap rumahku pagi ini. Ada motor Mas Bagas yang terparkir di teras rumah. Sepertinya pria itu tidak kembali ketempat kerjanya melainkan pulang kerumah setelah kejadian itu.

 

Kulangkahkan kakiku memasuki halaman rumahku. Jantungku terus berdegup. Ada rasa bersalah kepada Mas Bagas. Aku takut jika pria itu akan marah besar kepadaku. Sepertinya rasa cemburuku sudah membutakanku kacau. Padahal selama delapan tahun pacaran aku sama sekali tidak pernah cemburu dengan pria hitam manis itu ataukah mungkin karena saat itu kami hanya sebatas berpacaran, entahlah.

 

"Mas!" panggilku pada Mas Bagas yang sedang duduk di sofa televisi. Wajahnya terlihat ditekuk dengan netra yang terus berfokus pada layar televisi yang menyala.

 

"Maafkan aku ya Mas, tapi benarkan dia itu bukan selingkuhan Mas?" tanyaku memastikan. Aku masih setia duduk di samping Mas Bagas menatap pria yang terus mengunci mulutnya itu.

 

"Mas jawab." Aku menggoyang pundak Mas Bagas yang mengeras. Sepertinya pria itu sedang meredam amarahnya.

 

"Jawab apa dek, kamu sudah puaskan merusak segalanya. Gara gara kamu aku harus diskors selama satu minggu dan gara-gara kamu kenaikan pangkat ku jadi tertunda. Semua impianku berantakan'dan kamu masih berani-beraninya bertanya siapa wanita itu?" cerca Mas Bagas dengan suara tinggi membuat dadaku bergemuruh ketakutan. Baru kali ini Mas Bagas semarah itu padaku.

 

"Mas, wanita mana yang tidak cemburu jika suaminya di hotel bersama wanita lain. Jika bukan selingkuhannya lalu siapa? Ngak usah khawatir Mas, aku masih bisa mencukupi kebutuhanmu tanpa kamu harus diangkat jadi apapun," ucapku sombong menatap Mas Bagas dengan netra yang merah padam.

 

"Percuma ngomong sama wanita egois sepertimu, dek!" bentak Mas Bagas beranjak dari tempat duduknya.

 

"Aku ngak egois mas, kamu saja yang tidak mengerti aku," sahutku tak mau kalah.

 

BERSAMBUNG ....

Related chapters

  • My Husband Your Husband   Dihantui Perselingkuhan

    Pagi masih begitu berkabut, dingin pun masih terus menghujam hingga meremukkan tulang-tulangku. Netraku harus kubuka paksa ketika tidak aku dapati Mas Bagas tidur di sampingku. Barang kali dia masih marah dengan ucapanku semalam.Aku menuruni ranjang dan bergegas mencari keberadaan Mas Bagas. Baru kali ini sepanjang kami bersama, laki-laki itu merajuk. Mungkin karena ia harus diliburkan beberapa hari dari pekerjaannya karena ulahku di hotel atau karena ia gagal naik pangkat gara-gara kejadian itu. Entahlah aku tidak perduli. Toh, tanpa dia naik pangkat gajiku pun sudah cukup untuk membiayai kehidupan kami."Mas! Mas Bagas!" panggilku menelusuri seluruh ruangan di rumahku. Namun, tidak aku temukan keberadaan pria itu.Kulihat waktu pada jam yang mengantung pada dinding ruang tamu telah menunjukan pukul lima pagi. Apa mungkin Mas Bagas pergi bekerja? Bukankah dia sedang diliburkan.&nbs

    Last Updated : 2021-06-16
  • My Husband Your Husband   Rumah Mas Bagas

    Subuh buta aku telah menyiapkan kebutuhan yang akan aku perlukan di perjalanan. Tas ranselku pun telah aku isi dengan aneka macam oleh-oleh untuk ibu mertuaku. Jika sempat, nanti aku juga akan menambahkan buah tanganku yang lebih banyak lagi untuk ibu mertuaku dan Mas Bagas.Sengaja aku tidak memberi tau Mas Bagas tentang kedatanganku karena aku ingin memberinya kejutan untuknya. Tidak dapat kubayangkan jika Mas Bagas tiba-tiba melihatku di sana, pasti pria itu akan semakin menyayangiku karena etikatku untuk berbaikan dengan ibunya. Ah, entahlah sejak kapan aku menjadi pengemis cinta Mas Bagas seperti ini. Seingatku dulu Mas Bagas lah yang terus memohon kepadaku agar aku mau menikah dengannya. Namun, kini semuanya justru berbalik padaku.Sudah ku isi penuh tangki motor meticku. Sepertinya sudah cukup untuk perjalanan dua jam menuju rumah Mas Bagas. Kalau kecepatan sedang biasanya sampai tiga jam baru sampai ke rumah Mas Bag

    Last Updated : 2021-06-16
  • My Husband Your Husband   Menuntut Nafkah Batin

    Aku masuki halaman rumah berlantai dua yang cukup luas. Netraku beredar dari rumah tinggi itu hingga bagian taman kecilnya yang didominasi dengan bunga mawar dan angrek. Cukup indah dan terawat. Apakah ibu mertuaku sendiri yang merawat semua tanaman ini. Mungkin saja! ternyata orangnya telaten juga."Dek!" panggil Mas Bagas membuatku terhenyak."Eh, iya Mas!" sahutku geragapan. Aku terlalu terkesima dengan rumah ini. Rumah yang sama persis dengan rumah impianku."Ayo masuk!" Pria itu menarik pergelangan tanganku menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah yang berada di lantai dua.Perlahan pintu yang tingginya sekitar dua meter lebih itu terbuka ke dalam. Netraku tidak hentinya berdacak kagum dengan perabotan di rumah itu. Semua begitu unik yang didominasi hasil ukir ukiran dari kayu jati.Namun, kenapa tidak ada

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Lelaki Di Kamar Yasmin

    Tanganku terus meraba keberadaan Mas Bagas di sampingku. Tubuhku terasa dingin tanpa pelukannya disaat tidur. Namun sosok itu telah tidak ada di sampingku.Kuusap lembut netraku yang masih berkabut. Kulirik waktu pada jam yang dinding yang telah menunjukan pukul dua dini hari.Aku menuruni rajang mencari Mas Bagas di kamar mandi. Tapi kamar mandi itu kosong.Kuturuni anak tangga, siapa tau Mas Bagas lapar dan sedang makan di dapur. karena di lantai atas ini hanya ada kamar Mas Bagas dan satu kamar yang terletak di ujung ruangan."Ah, terus Mas!"Suara desahan dari kamar yang terletak di sudut lantai bawah itu terdengar jelas masuk ke dalam telingaku. Membuat langkah kakiku terhenti.Rintihan demi rintihan saling bersahutan. Bahkan desahan menjijikan itu membuat kakiku seolah begitu lemas dan tak bertulang.

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Kekasih Yasmin

    Hari ini Mas Bagas sedang pergi bersama teman sekolahnya dulu. Seharian mengurung diri di dalam kamar ini terasa begitu membosankan.Kuputuskan untuk berjalan-jalan melihat lihat rumah yang ibu Mas Bagas tempati ini. Menurutku rumah ini cukup mewah dan terawat. Sepertinya Yasmin benar-benar merangkap jadi pembantu di sini. Selain menjaga ibu, wanita berkulit sawo matang itu juga rajin membersihkan rumah. Mungkin sebagian tanda balas budi sebagai biaya ganti tinggal gratis di rumah ini.Namun, rumah ini sering sekali sepi. Hanya ada ibu dan Aska. Kata Mas Bagas setiap pagi hingga petang Yasmin baru akan kembali ke rumah setelah berjualan baju.Ah, ternyata dia hanya jualan baju saja toh. Mana mungkin Mas Bagas akan tergoda. Aku kan tau betul selera Mas Bagas. Wanita yang sepadan dengannya tentunya. Berpendidikan dan memiliki title. Dia itu tidak akan berminat dengan wanita yang ecek ecek apalagi

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Ketahuan

    "Dek, sarapanmu udah aku taruh di situ ya!"Suara Mas Bagas terdengar masuk ke dalam telingaku. Netraku yang masih lengket perlahan kubuka paksa. Manangkap sosok pria yang tengah sibuk mengenakan sepatunya di tepi ranjang."Mau kemana sih Mas pagi-pagi begini?" tanyaku malas dengan mengusap lembut kedua netraku yang masih berkabut."Aska badannya panas Dek dari semalam. Jadi Mas harus segera bawa ke rumah sakit," sahutnya terburu-buru."Aska!" sahutku bangkit duduk di atas ranjang dengan pandangan yang semakin jelas melihat Mas Bagas."Tapi kan Mas ...." ucapku terhenti ketika teriakan ibu dari lantai bawah mengema memanggil nama Mas Bagas."Nanti saja ya Dek, Mas buru-buru!" sahut Mas Bagas berlalu secepat kilat meninggalkanku sendirian di kamar."Ah!"Aku mendengus kasar melihat kepergian Mas Bagas keluar dari kamar. Kubanting kasa

    Last Updated : 2021-06-17
  • My Husband Your Husband   Masa Lalu

    Netraku membeliak memanas, air mataku runtuh berjatuhan tanpa mampu kutahan saat melihat sebuah bingkai foto yang berada di dalam kamar Yasmin.Sebuah foto pernikahan terpasang jelas pada dinding kamar Yasmin. Iya, foto Mas Bagas dengan perempuan berkulit sawo matang itu dengan balutan baju pengantin adat daerah Purwodadi.Lututku seketika lamas, jantungku telah melompat dari tempurungnya. Kepalaku teras nyut-nyutan sesaat tatapanku pun menjadi kabur dan tubuhku terhuyun jatuh di atas lantai.'Mas Bagas Setega ini kamu denganku, tenyata benar firasatku selama ini. Kamu telah mengkhianati cinta kita, Mas! 'Aku tergugu dalam tangisan tak bersuara. Hatiku sakit, bahkan sangat sakit sekali.Sepersekian detik aku hanyut dalam lukaku. Seperti orang yang kehilangan akal, aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Aku tidak ingin melepaskan M

    Last Updated : 2021-06-18
  • My Husband Your Husband   Melamar Reza

    "Nak, ibu ingin sekali kamu segera meminang Reza. Ibu rasa kamu sudah saatnya memiliki seorang pendamping," ucap Ibu dengan wajah penuh binar.Tidak bisa aku pungkiri, menginjak usaiku yang ke 28 tahun pasti ibu merasa dilema. Mungkin juga malu karena diriku yang tak kunjung menikah. Karena sudah banyak diantara teman-temanku justru sudah ada yang memiliki anak, bahkan ada yang memiliki anak lebih dari satu."Iya Bu, nanti aku coba bicara sama Reza ya!" hiburku pada Ibu.Ibu menolehkan wajahnya menatapku. "Loh, memangnya selama ini hubungan kalian itu bukan pacaran toh?" tanya ibu dengan netra menyelidik."Ya, kami pacaran Bu. Tapi, sudahlah Bu nanti saja aku ceritanya," ucapku lesu berajak meninggalkan Ibu di meja makan.Kubenamkan tubuhku di atas rajang, menatap langit-langit kamar yang telah dipenuhi rumah laba-laba. Pasti wanita itu t

    Last Updated : 2021-07-05

Latest chapter

  • My Husband Your Husband   Sebuah Pelajaran

    POV author.15 tahun kemudianLangit masih saja sama. Mendung datang bergulung-gulung. Lelaki bertubuh tinggi besar itu mempercepat langkah kakinya menuju sebuah rumah sederhana. Kedua tangannya menutup bagian kepalanya agar rintik hujan tidak membahasi tubuhnya. Menurut mitos hujan pertama kali itu bikin sakit.Cekret!Suara derit pintu yang terbuka menandakan bahwa pintu itu sudah lama tidak diberi pelumas. Seseorang yang duduk pada bangku kursi goyang melihat ke arah kedatangan lelaki tampan berkulit sawo matang yang menenteng sebuah kantong plastik di tangannya."Aska!" suara serak itu menandakan bahwa kini usia lelaki yang duduk di kursi goyang itu sudah tidak lagi muda. Sebuah senyuman tersungging dari bibir lelaki tua itu saat melihat kedatangan Aska."Papa, maaf jika aku terlambat datang ke sini. Tadi hujan turun cukup deras, jadi aku memutuskan untuk tinggal di ka

  • My Husband Your Husband   Karma

    POV Reza"Apa? Bagaimana bisa?" Aku terhenyak saat salah satu karyawan tempatku karaoke melaporkan bahwa ada satu dari karyawanku yang membawa uang kantor."Bodoh!" hardikku kesal pada seorang karyawan yang mengadu kepadaku."Berapa juta uang yang dibawa oleh kariawan itu?" cetusku bersungut-sungut. Dadaku bergemuruh menahan amarah yang membuncah.Gadis muda yang tertunduk lesu di hadapanku itu tak bergeming. Sesekali ia melirik ke arahku dengan wajah' takut. "Sekitar seratus juta, Bu!" lirihnya seraya mengigit bibir bawahnya."Apa?" Seketika kedua bola mataku membulat penuh dan hampir lepas dari cangkangnya. "Seratus juta!" Kepalaku terasa berdenyut. Hampir saja tubuhku jatuh pingsan mendengar kerugian tempat karaoke yang baru saja aku rintis. Bagaimana bisa semua seperti ini."Bu Reza, Bu Reza!" Seseorang membantuku duduk pada bangku sofa saat aku hampir terjatuh. Dadaku

  • My Husband Your Husband   Janji Bagas

    POV Bagas"Apakah kamu yakin Yasmin akan menerima kamu kembali, Bagas?" suara renta itu terdengar meragukanku.Bayangan pantulan wanita yang berada di kursi roda itu dari cermin itu terus mengawasiku. Aku tak bergeming, melihat pantulan diriku pada cermin yang berada di depanku."Aku yakin Bu, Yasmin pasti akan kembali padaku!" sahutku sekilas menoleh ke balik punggung.Aku segera menyelesaikan persiapanku. Meskipun aku bisa melihat dengan jelas keraguan dari wajah Ibu."Bagas!" lirih Ibu saat aku menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas.Wajah sendu itu mengawasiku yang berjalan menghampirinya. "Ada apa ibu?" tanyaku menjatuhkan tubuhku di depan kedua pangkuan ibu."Jangan terlalu mengharapkan Yasmin. Kini Yasmin sudah memiliki kehidupan sendiri. Berhentilah mencintainya, Bagas!"Sorot mata nanar itu menatap lekat padaku. Aku tersenyum k

  • My Husband Your Husband   Kembali Ke Rumah Rasyid

    POV Yasmin."Meskipun aku masih mencintai Mas Bagas. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Bang Rasyid. Karena bagaimanapun juga aku sudah berjanji pada diriku sendiri, apapun yang terjadi aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai kapanpun," batinku."Tidak Bang! Aku sudah mengubur semua kenanganku bersama Mas Bagas," jawabku.Lelaki yang duduk di hadapanku tersenyum bahagia melihat padaku. Sorot matanya nanar namun penuh haru. Perlahan lelaki itu pun bangkit mendekatiku lalu menjatuhkan pelukannya pada tubuhku."Terimakasih, Yas! Terimakasih!" ucap Bang Rasyid menghujani wajahku dengan kecupan. Begitu juga dengan Aska yang berada di pangkuanku. Kami saling berpelukan penuh kasih sayang.Beberapa saat Bang Rasyid tenggelam dalam kesedihan dan rasa haru. Sementara aku, bayangan Mas Bagas sedikitpun tidak beranjak dari benakku meskipun kini Bang Rasyid berada di sampingku.

  • My Husband Your Husband   Uang Rasyid Hilang

    POV Rasyid.Semua sudah terjadi dan tidak mungkin kembali. Dari rekaman CCTV rumah aku bisa tau siapakah yang sudah mencuri hartaku. Dalam rekaman itu terlihat jelas sese"Lihat, sekarang kamu bisa melihat siapakah Reza sebenarnya kan?" cetusku pada Ratih yang duduk di sampingku.Gadis muda itu hanya terdiam, tidak mampu berucap apapun. Wajahnya pun seketika berubah pucat. Tergambar jelas penyesalan dari wajah gadis itu."Maaf Abang!" lirih Ratih. Sesaat kemudian terdengar isakan yang disertai dengan bahu yang bergerak naik turun. Meskipun wajahnya tertunduk, aku bisa melihat jika gadis itu kini sedang menangis."Coba saja kamu mau mendengar nasehat Abang dan Mbak Yasmin, pasti semua tidak akan terjadi seperti ini Ratih!" cetusku benar-benar sangat kecewa pada Ratih. Aku terduduk lesu, menatap iba pada Ratih.Gadis muda itu hanya terisak. Tidak seperti biasanya berani mela

  • My Husband Your Husband   Kemenangan Reza

    POV Reza."Baiklah! Jika kamu memang menolakku Mas. Tidak apa-apa, tapi setidaknya aku harus mengeruk habis semua harta-harta kamu hingga kamu jatuh miskin.""Kak Reza!"Ratih tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya memelukku dengan terisak membuatku tersadar dari lamunan."Ada apa Ratih?" tanyaku bersikap hangat kepada gadis bodoh yang mudah sekali untukku peralat.Beberapa saat Ratih terus menangis sesegukan. Ia menumpahkan semua beban yang berada di dalam dadanya. Tanpa aku tau apa yang sudah membuatnya menangis.Perlahan kulepaskan pelukan Ratih dari tubuhku. "Ada apa Ratih, katakanlah!" bujukku agar gadis itu berhenti menangis.Butiran bening dari dua bola mata itu justru semakin mengalir deras. Satu tangan Ratih menyodorkan sesuatu kepadaku."Astaga! Ratih!" sergahku terkejut saat meraih tespek berga

  • My Husband Your Husband   Pencuri

    POV Rasyid"Karena pasien yang bernama Ratih Wijayanti tidak menggunakan BPJS maka untuk bagian administrasinya sebesar dua ratus juta. Ini perinciannya ya, Pak!" Wanita yang berada di loket administrasi itu memberikan rincian biaya pengobatan Ratih kepadaku."Baik Mbak, hari ini juga akan saya lunasi," ucapku pada wanita itu."Oh, ya Mbak bagaimana dengan tagihan pasien' atas nama Yasmin, apakah sudah dibayar?" imbuhku penasaran.Rasa malu bertemu dengan Yasmin membuatku mengurungkan diri untuk menjenguknya. Terlalu banyak kesalahan yang sudah Ratih lakukan kepada wanita itu begitu juga dengan diriku. Namun, justru Yasminlah yang sudah datang untuk menolong Ratih."Sebentar ya, Pak?" Wanita itu terlihat mengetikkan sesuatu pada keyboard, sesekali sorot matanya melihat pada layar monitor yang menyala."Untuk biaya pengobatan pasien yang bernama Yasmin sudah dilunasi

  • My Husband Your Husband   Pengakuan Bagas

    POV Yasmine"Terima kasih Mas sudah datang di saat yang tepat. Maaf aku sudah membohongi Mas Bagas!"Lelaki itu menyungingkan ulasan senyuman kecil padaku. "Iya Yas, sama-sama!" sahut Mas Bagas terdengar begitu lembut."Lalu bagaimana dengan pemuda itu, Mas!" tanyaku penasaran dengan nasib pacar Ratih yang tega ingin menggugurkan darah dagingnya sendiri."Polisi sudah meringkusnya bersama Dokter abal-abal itu. Semoga saja mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan yang sudah mereka lakukan," sahut Mas Bagas."Lalu ..!""Ratih!" seru Mas Bagas memotong ucapanku. Seolah lelaki itu sudah tahu pertanyaan apalagi yang akan aku lontarkan kepadanya.Aku mengangguk lembut. "Ratih sudah melewati masa kritisnya. Meskipun terjadi luka pada rahimnya dan memungkinkan dia tidak akan bisa memiliki anak lagi.""Astaghfirullahaladzim!" Aku tid

  • My Husband Your Husband   Rasyid Cemburu

    POV RasyidTiba-tiba Reza menghilang bagaikan ditelan bumi. Wanita itu seolah tahu bahwa sebentar lagi keluarga dan suaminya akan datang ke sini untuk mencarinya. Ratih hanya mengatakan bahwa ia sempat mengantarkan Reza menuju terminal sebelum akhirnya nomor ponsel Reza pun tidak dapat dihubungi. Apakah kini aku sedang tertipu? Tidak aku rasa tidak, tapi mengapa Reza melarikan diri dari semua orang.Kuhempaskan tubuhku pada tepi ranjang berukuran king size yang berada di kamar Reza. Semua barang-barang wanita itu sudah raib tak tersisa. Sejenak aku berpikir, sepertinya Reza sudah merencanakan kepergiannya.Aku meraih ponsel yang berada di dalam saku celana. Beberapa kali benda pipi itu bergetar. Sesaat aku menjatuhkan pandanganku pada layar ponsel yang masih berkedip. Sebuah nomor tanpa nama sedang melakukan panggilan padaku."Halo!" sapaku setelah menekan tombol hijau pada layar"Ha

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status