Share

Bab 260

Author: BELLA
Sudut pandang Anastasia:

Ya Tuhan, tidak.

Tidak.

Aku terus mengulang kata-kata itu dalam pikiranku saat air mata jatuh dari mataku ke telapak tangan dan membasahi sela-sela jari-jariku.

Bukan Amie-ku. Bukan dia. Gadisku yang sangat kucintai, yang memiliki tawa yang menular dan energi tanpa batas. Bagaimana ini bisa terjadi?

Aku masih menundukkan kepala ketika dokter mulai berbicara dengan penuh simpati dan secara profesional.

"Aku paham bahwa kabar ini sangat berat, Bu Anastasia. Aku ingin Ibu tahu bahwa kami memiliki tim berdedikasi yang siap membantu dan membimbing Ibu melalui proses perawatan ini."

Pikiranku merasa asing dengan kata-katanya, seolah-olah bahasa yang tidak bisa aku mengerti sedang diucapkan kepadaku. Aku ingin mengangkat kepalaku dan bertanya bagaimana mungkin anak perempuan lima tahunku bisa didiagnosis dengan penyakit seperti ini.

Mungkin ada kesalahan di suatu tempat.

Namun, aku bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Jika aku mencoba berbicara, aku hanya a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 261

    Aku berdengus. "Terima kasih, Dokter." Aku membungkuk sedikit, lalu bertanya lagi, "Lalu, setelah perawatan dan terapi, bagaimana prognosisnya? Apa dia akan baik-baik saja?""Tentu saja, dia akan baik-baik saja. Selama dia mendapatkan perawatan dan pengobatan yang memadai, dia akan baik-baik saja dan sehat total saat perawatannya selesai."Jawaban dokter itu memberiku harapan, tetapi memikirkan Amie harus menjalani semua perawatan dan terapi itu membuat hatiku patah lagi.Setelah beberapa kalimat panjang penuh dorongan dan jaminan bahwa Amie akan baik-baik saja setelah perawatan selesai, aku berterima kasih kepada dokter dan keluar ke lorong.Saat berjalan menuju ruangan Amie, aku tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir di pipiku, juga tidak bisa menghentikan isak tangisku.Aku berhenti di depan pintu kamar Amie dan berusaha menghentikan air mataku. Aku menghabiskan beberapa detik mengusap air mata yang terus mengalir sambil terisak pelan. Akhirnya, aku tidak merasakan lagi jeja

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 262

    Sudut pandang Anastasia:Kami berdua menoleh dan melihat Amie berdiri di pintu di belakang kami. Tangannya memegang pintu yang sedikit terbuka sementara matanya yang penasaran menatapku, lebar dan penuh tanya.Dennis segera melepaskanku dan fokus kepada Amie. Gerakannya lembut dan alami saat dia mengangkat dan menggendong Amie di pelukannya.Aku memperhatikan Dennis yang berpindah dari menenangkanku menjadi mengalihkan perhatian Amie dalam hitungan detik."Nggak kok," katanya sambil sedikit menggelitik Amie.Tawa kecil keluar dari Amie saat dia menggeliat dalam pelukan Dennis."Hentikan, Om Dennis," kata Amie setengah hati, kata-katanya tercampur dengan tawa lebih lanjut."Nggak, aku nggak mau," jawab Dennis dengan geraman dibuat-buat yang hanya membuat Amie tertawa lebih keras.Setelah beberapa saat, Dennis berhenti dan menunggu tawa Amie mereda perlahan. Koridor rumah sakit seolah menghilang, meninggalkan kami bertiga dalam sebuah gelembung normalitas sementara."Amie?" Suara Dennis

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 263

    "Kita juga boleh memasak sendiri. Hari ini, anggap saja aku kokinya. Kamu pelanggan. Jadi, silakan pilih bahan-bahannya, Nona."Aku tidak bisa menahan tawa yang muncul dari tenggorokanku. "Kamu gila." Namun, aku tetap memilih bahan-bahannya."Daging …," gumamku sambil memilih bahan-bahan. "Banyak-banyak. Sayuran, secukupnya ....""Siap, Nona."Aku tersenyum sambil terus memilih bahan pilihanku. "Sausnya .…" Aku menjelaskan seperti apa saus yang aku inginkan. "Dan bumbu!" seruku sambil memilih bumbu dari pilihan yang tersaji dengan gaya prasmanan."Makanan Anda akan siap dalam sepuluh detik!" kata Dennis sambil memindahkan bahan-bahan ke area memasak di mana dia akan memasaknya di atas pemanggang datar besar. Dia mulai bekerja dan membuat pertunjukan dengan melebih-lebihkan setiap gerakannya untuk membuatku terkesan dan tertawa.Aku terkesiap, mataku terbelalak. "Kupikir masakannya akan siap seketika."Dia tertawa. "Kalau aku bisa mewujudkannya hanya untukmu, aku pasti akan melakukannya

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 264

    Sudut pandang Aiden:Itu sangat jelas, tidak bisa disangkal, bahwa adegan itu sengaja diatur.Aku memeriksa dengan lebih teliti dan melihat hasil pekerjaan amatir yang buruk. Perhatian terhadap detailnya bisa dibilang konyol, bahkan sangat memalukan.Hingga hari ini, aku masih ingat bagaimana lipatan gaun dan pakaian dalam yang tampaknya terlempar asal-asalan itu terlihat sangat disengaja pada pandangan lebih dekat, seolah-olah diatur oleh seseorang yang tidak memiliki konsep tentang kekacauan alami.Sepatu yang tergeletak sembarangan itu bahkan memiliki ukuran yang berbeda dan warna yang mirip, sebuah kesalahan pemula dalam mengatur adegan perselingkuhan.Kemeja-kemeja pria itu bukan milikku, juga bukan ukuran atau gayaku. Kemeja-kemeja itu tergantung lemas, seperti properti dalam sebuah drama yang buruk.Bau menyengat yang sepertinya dimaksudkan sebagai parfum pria itu memenuhi ruangan, menyerang indra penciuman dan baunya sama sekali tidak seperti milikku. Jika parfum itu dimaksudka

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 265

    "Aku nggak bisa bilang, tolong lepaskan aku. Aku nggak akan kembali lagi.""Akan kubayar dua kali lipat dari yang kamu terima."Matanya melebar, mungkin dia sedang menghitung dalam pikirannya. "Dua kali lipat?""Tiga kali lipat." Aku tidak akan terkejut jika bola matanya benar-benar keluar pada saat itu.Kemudian, dia tiba-tiba terlihat seperti akan menangis. "Aku sangat ingin memberitahumu, tapi aku nggak tahu."Aku mengernyit. "Bagaimana kamu dibayar?""Aku dibayar secara langsung, tapi aku nggak tahu siapa orangnya dan …."Aku menggelengkan kepala, membersihkan kebingungan yang disebabkannya. "Tunggu, di mana kamu ketemu orang ini?"Dia ragu sejenak dan berani melirikku. "Apa kamu tetap akan membayarku?""Kalau nggak?""Kalau begitu, aku nggak akan bilang," rengeknya. "Lalu, aku akan menelepon polisi setelah kamu melepaskanku."Andai aku tidak baru saja kehilangan cinta seumur hidupku, aku mungkin sudah menghabiskan beberapa menit untuk mentertawakan kelakuan kekanak-kanakan anak it

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 266

    Sudut pandang Anastasia:Setelah beberapa menit sibuk merapikan barang-barangku di dalam tas, aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri."Nggak apa-apa, dia akan baik-baik saja," gumamku pelan sambil memaksakan senyum."Kamu hanya perlu pergi kerja, bertahan beberapa jam, selesaikan pekerjaan, lalu pulang lagi."Bibirku tertarik ke bawah saat aku memikirkan berapa lama aku harus jauh darinya. Ya Tuhan, aku akan jauh darinya selama berjam-jam! Pikiran itu membuat tanganku sedikit gemetar saat aku menggenggam tali tasku.Bagaimana kalau dia butuh sesuatu dan tidak ada orang di sekitarnya?"Tenang, Ana," kataku cepat-cepat pada diri sendiri. "Perawat ada di sini. Dokter sudah memastikan kalau dia akan dirawat dengan baik. Lagi pula, Clara bilang dia akan mampir. Jadi, dia akan baik-baik saja. Dia punya semua bantuan yang dia butuhkan." Aku mengulang-ulang fakta itu, mencoba melawan rasa cemas yang nyaris membuatku kewalahan.Dengan senyum lebar, aku berbalik me

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 267

    "Maaf, aku nggak mengerti maksudmu," koreksiku cepat dengan senyuman kaku lagi."Jumat malam kemarin." Alisnya terangkat. "Keadaan darurat saat kamu di rumah sakit. Gadis kecil itu ... dia kelihatan nggak sehat. Sekarang gimana keadaannya?""Oh," gumamku, agak terkejut. Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya. "Umm, ya." Aku berdeham pelan. "Dia, umm, ya ...." Aku menatapnya sambil mengangkat alis, "Anaknya Clara, 'kan? Dia baik-baik saja. Anaknya sudah sehat. Terima kasih."Aku menyelesaikan ocehanku lalu buru-buru menutup mulut. Seandainya saja lift ini bisa langsung mengusirku keluar. Aku bisa merasakan dia masih punya banyak pertanyaan, tetapi caraku mengakhiri percakapan dengan tegas dan menatap lurus ke depan sepertinya cukup efektif untuk menghentikannya.Aku lega karena taktikku berhasil. Hal terakhir yang aku inginkan adalah tahu apa yang ada di pikirannya dan malah jadi cemas tanpa alasan. Aku sudah punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan.Selama aku membuatnya yakin kalau

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 268

    Sudut pandang Anastasia:Tidak.Bibirku bergetar saat aku melangkah mundur dengan pelan dan gemetar sampai punggungku menyentuh dinding lift. Dingin logam di punggungku membuat tubuhku merinding, memperkuat rasa gelisah yang semakin tumbuh.Beberapa saat aku hanya menatap kosong ke depan, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Kegelapan seolah menekan dari segala arah, mengancam untuk mencekikku. Dadaku mulai sesak, tetapi aku ingat pelatihan tentang cara menghadapi serangan panik dan klaustrofobia. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Pertama, nyalakan cahaya.Aku buru-buru merogoh tas untuk mengambil ponsel, jariku meraba-raba dalam kegelapan. Butuh waktu lama dengan pencarian panik sebelum akhirnya kutemukan benda sialan itu. Saat kutemukan, aku hampir menangis karena ponselnya tidak mau menyala. Jantungku berdetak kencang saat aku menekan tombol power berulang kali, berdoa dalam hati agar bisa berfungsi.Aiden memukul pintu lift, suara tiba-tiba itu

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status