Share

Bab 265

Author: BELLA
"Aku nggak bisa bilang, tolong lepaskan aku. Aku nggak akan kembali lagi."

"Akan kubayar dua kali lipat dari yang kamu terima."

Matanya melebar, mungkin dia sedang menghitung dalam pikirannya. "Dua kali lipat?"

"Tiga kali lipat." Aku tidak akan terkejut jika bola matanya benar-benar keluar pada saat itu.

Kemudian, dia tiba-tiba terlihat seperti akan menangis. "Aku sangat ingin memberitahumu, tapi aku nggak tahu."

Aku mengernyit. "Bagaimana kamu dibayar?"

"Aku dibayar secara langsung, tapi aku nggak tahu siapa orangnya dan …."

Aku menggelengkan kepala, membersihkan kebingungan yang disebabkannya. "Tunggu, di mana kamu ketemu orang ini?"

Dia ragu sejenak dan berani melirikku. "Apa kamu tetap akan membayarku?"

"Kalau nggak?"

"Kalau begitu, aku nggak akan bilang," rengeknya. "Lalu, aku akan menelepon polisi setelah kamu melepaskanku."

Andai aku tidak baru saja kehilangan cinta seumur hidupku, aku mungkin sudah menghabiskan beberapa menit untuk mentertawakan kelakuan kekanak-kanakan anak it
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 266

    Sudut pandang Anastasia:Setelah beberapa menit sibuk merapikan barang-barangku di dalam tas, aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri."Nggak apa-apa, dia akan baik-baik saja," gumamku pelan sambil memaksakan senyum."Kamu hanya perlu pergi kerja, bertahan beberapa jam, selesaikan pekerjaan, lalu pulang lagi."Bibirku tertarik ke bawah saat aku memikirkan berapa lama aku harus jauh darinya. Ya Tuhan, aku akan jauh darinya selama berjam-jam! Pikiran itu membuat tanganku sedikit gemetar saat aku menggenggam tali tasku.Bagaimana kalau dia butuh sesuatu dan tidak ada orang di sekitarnya?"Tenang, Ana," kataku cepat-cepat pada diri sendiri. "Perawat ada di sini. Dokter sudah memastikan kalau dia akan dirawat dengan baik. Lagi pula, Clara bilang dia akan mampir. Jadi, dia akan baik-baik saja. Dia punya semua bantuan yang dia butuhkan." Aku mengulang-ulang fakta itu, mencoba melawan rasa cemas yang nyaris membuatku kewalahan.Dengan senyum lebar, aku berbalik me

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 267

    "Maaf, aku nggak mengerti maksudmu," koreksiku cepat dengan senyuman kaku lagi."Jumat malam kemarin." Alisnya terangkat. "Keadaan darurat saat kamu di rumah sakit. Gadis kecil itu ... dia kelihatan nggak sehat. Sekarang gimana keadaannya?""Oh," gumamku, agak terkejut. Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya. "Umm, ya." Aku berdeham pelan. "Dia, umm, ya ...." Aku menatapnya sambil mengangkat alis, "Anaknya Clara, 'kan? Dia baik-baik saja. Anaknya sudah sehat. Terima kasih."Aku menyelesaikan ocehanku lalu buru-buru menutup mulut. Seandainya saja lift ini bisa langsung mengusirku keluar. Aku bisa merasakan dia masih punya banyak pertanyaan, tetapi caraku mengakhiri percakapan dengan tegas dan menatap lurus ke depan sepertinya cukup efektif untuk menghentikannya.Aku lega karena taktikku berhasil. Hal terakhir yang aku inginkan adalah tahu apa yang ada di pikirannya dan malah jadi cemas tanpa alasan. Aku sudah punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan.Selama aku membuatnya yakin kalau

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 268

    Sudut pandang Anastasia:Tidak.Bibirku bergetar saat aku melangkah mundur dengan pelan dan gemetar sampai punggungku menyentuh dinding lift. Dingin logam di punggungku membuat tubuhku merinding, memperkuat rasa gelisah yang semakin tumbuh.Beberapa saat aku hanya menatap kosong ke depan, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Kegelapan seolah menekan dari segala arah, mengancam untuk mencekikku. Dadaku mulai sesak, tetapi aku ingat pelatihan tentang cara menghadapi serangan panik dan klaustrofobia. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Pertama, nyalakan cahaya.Aku buru-buru merogoh tas untuk mengambil ponsel, jariku meraba-raba dalam kegelapan. Butuh waktu lama dengan pencarian panik sebelum akhirnya kutemukan benda sialan itu. Saat kutemukan, aku hampir menangis karena ponselnya tidak mau menyala. Jantungku berdetak kencang saat aku menekan tombol power berulang kali, berdoa dalam hati agar bisa berfungsi.Aiden memukul pintu lift, suara tiba-tiba itu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 269

    "Aku tahu kamu bisa mencari mereka," desaknya. "Tapi, jangan ragu untuk mencariku kalau kamu butuh bantuan ...." Ada jeda singkat sebelum dia menambahkan, "Atau mau aku membantumu."Entah kenapa, aku merasa terdorong untuk menoleh padanya, dan aku melakukannya. Jantungku langsung serasa tersangkut di tenggorokan. Meski cahaya remang-remang, kelembutan di matanya terlihat begitu jelas, intens.Apa maksudnya "mencariku?" pikirku sambil cepat-cepat mengalihkan pandangan. Apa ada makna tersembunyi di balik kata-katanya?Aku menelan ludah saat pikiran lain muncul di kepalaku. Ya, ini pasti karena situasi kami sekarang. Kalau tidak, aku tidak akan berpikir kalau "mencariku" bisa berarti dia minta aku kembali padanya.Aku menggeleng pelan, menutup mata untuk mengusir semua pikiran konyol yang bermunculan. Dia cuma bersikap baik sebagai atasan. Mungkin dia masih merasa bersalah soal caranya mengambil alih perusahaan dulu.Saat aku masih memikirkannya dan kata-katanya mulai masuk akal, tiba-tib

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 270

    Sudut pandang Aiden:Dengan sedikit rasa senang dan juga kehilangan, aku memperhatikan Ana berlari keluar begitu pintu lift terbuka. Dia melesat melewati para pria yang tampak bingung dan naik tangga, suara langkah kakinya bergema di lorong tangga. Kami semua menatap sampai dia menghilang dari pandangan.Seandainya aku tahu dia akan kabur seperti itu, aku pasti sudah menghentikannya. Namun, aku tidak menyangka dia akan melakukannya. Saat aku mencoba menggenggam tangannya, dia sudah terlepas dari jangkauanku.Tanganku tetap mengepal, berusaha keras mempertahankan sensasi sentuhan terakhirnya. Hangatnya kulitnya, lembutnya tangannya.Semua itu sekarang terasa seperti mimpi singkat. Bahkan, kalau saja para pria ini tidak ada di sini, menatapku seperti melihat rusa yang tersorot lampu mobil, aku mungkin sudah menutup mata dan menghirup aromanya, mencoba mengingat setiap detail pertemuan singkat kami.Aku melangkah keluar dari lift dan berhenti di depan para pria itu, pikiranku masih terpus

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 271

    "Acara amal ini akan jadi salah satu yang paling berkesan," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Beberapa mitra kami dari luar negeri akan datang untuk menghadirinya."Suara-suara pelan mulai terdengar saat para perwakilan dari berbagai organisasi amal mengangguk, sama-sama terkesan dan puas dengan rencana yang telah mereka susun."Acara amal mendatang ini akan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat." Pandangannya menyapu ruangan. Aku yakin matanya berkilat, menahan air mata. "Sungguh menginspirasi melihat semua orang berkumpul di sini hari ini, bersatu dalam dedikasi untuk tujuan mulia ini."Suasana dipenuhi antisipasi akan perubahan positif yang akan dibawa oleh kolaborasi ini bagi mereka yang membutuhkan."Itulah yang memberi kami kebahagiaan," timpal salah satu perwakilan. "Beberapa dari kami memang hidup untuk ini, kalian tahu? Melihat senyuman di wajah anak-anak yang nggak berdaya, melihat kelegaan di raut orang tua atau wali mereka. Itu terasa seperti terapi."Ruangan pun dipe

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 272

    Sudut pandang Aiden:Aku menunduk, melihat sosok kecil yang menatapku dengan mata besar penuh kepolosan, sebuah buku cerita anak penuh warna terbuka lebar di lantai di antara kami."Maaf!" katanya sambil melambaikan tangan kecilnya dengan senyuman minta maaf, tangannya melayang ringan di udara seperti kupu-kupu.Aku tak bisa menahan senyum. Senyumannya benar-benar menular, seolah-olah bisa menerangi seluruh lorong."Nggak apa-apa," jawabku sambil membungkuk untuk mengambil buku yang tergeletak di kaki kami, halaman-halamannya yang mengilap sedikit kusut karena terjatuh."Wow." Kudengar dia terkesiap. Aku mendongak, bingung dengan nada antusiasnya yang tiba-tiba."Aku mau pulpen seperti itu," katanya dengan mata memelas, lengkap dengan cemberut kecil yang menggemaskan, cukup untuk meluluhkan hati yang paling dingin sekalipun."Pulpen seperti apa?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi, berdiri tegak, dan membalik-balik buku di tanganku, mencoba mencari tahu di mana dia melihat pulpen."Yang

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 273

    Sudut pandang Clara:Aku berjalan tanpa tujuan di dalam toko. Aku datang untuk membeli beberapa baju buat Amie dan juga untuk diriku sendiri. Aku sudah selesai memilih baju Amie sekitar satu jam yang lalu.Oke, mungkin belum sampai satu jam, tetapi rasanya sudah cukup lama. Semua gaun dewasa di sini sama sekali tidak sesuai dengan seleraku.Pandangan mataku tertuju pada nama toko yang berkilauan di dinding, tepat di dekat pintu masuk. Entah kenapa aku melihatnya berulang kali sambil bertanya-tanya, apakah aku masuk ke toko yang salah?Ini adalah toko favoritku, tempat aku selalu memperbarui isi lemari pakaianku. Biasanya, aku selalu yakin bisa menemukan beberapa baju yang menarik dan sesuai dengan seleraku. Namun sejauh ini, semua gaun di sini lebih mirip baju nenek-nenek."Apa-apaan sih restock nggak jelas seperti ini?" gumamku sambil memainkan ujung atasan wrap warna hijau pucat.Aku menghela napas, lalu mendongak sambil mengerang pelan. "Argh! Mungkin aku harus nyerah saja."Aku ter

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status